browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

“SHALAT “

Posted by on 23 May 2014

images (2)BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
Shalat merupakan tiang dari agama Islam, yang berarti shalat merupakan ibadah pokok yang HARUS kita jalani. Karena dengan shalat lah, jiwa seorang muslim/muslimah akan terbentuk. Namun pada zaman seperti ini, banyak insan yang masih belum mengetahui seberapa pentingnya shalat dan bagaimana fiqih-fiqihnya. Sedangkan kita semua tahu, dalam pelakasanaan shalat tidak boleh sembarangan. Ada cara-cara dan ketentuannya, yang mana apabila tidak ditaati shalat kita menjadi tidak sah atau malah menjadi dosa buat kita. Maka dari itu, mengingat pentingnya ibadah shalat ini kami memutuskan untuk membuat makalah yang berjudul “Shalat” ini.

Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk membantu para muslim dan muslimah memahami arti shalat yang sesungguhnya. Seperti memahami kedudukan shalat dalam Islam, hukum meninggalkan shalat, syarat wajib shalat, syarat sah shalat, rukun shalat dan sunnah-sunnah shalat. Selain dari itu, kami berharap dengan adanya makalah ini dapat membantu kita semua untuk menyempurnakan ibadah shalat kita. Sehingga, shalat yang kita laksanakan setiap harinya dapat diterima oleh Allah SWT.

BAB II PEMBAHASAN
A. Kedudukan Shalat dalam Islam
Shalat adalah ibadah yang diawali dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam dan dilakukan dengan tertib. Bagaimana kedudukan shalart dalam Islam? Kedudukan shalat dalam kaca mata Islam, diantaranya:
a)     Shalat sebagai tiang agama, tidak ada bangunan yang berdiri kokoh  tanpa tiang. Maka shalat sangatlah penting.
b)     Shalat adalah ibadah pertama yang Allah SWT wajibkan atas seorang muslim. Pensyari’atannya dimulai sejak malam peristiwa isra’ mi’raj tanpa perantara
c)     Shalat merupakan perkara yang dihisab pertama kali saat hari kiamat nanti. Apabila shalatnya baik dan benar, maka seluruh perbuatannya juga baik dan benar, tetapi jika shalatnya rusak, maka rusak pula seluruh perbuatannya.
d)      Shalat merupakan wasiat terakhir Rasulullah SAW sebelum menginggalkan dunia ini menuju Pemilik seluruh jiwa.
e)     Shalat merupakan perkara terakhir yang hilang dari agama. Apabila shalatnya telah hilang, maka hilang pula agamanya[1]
 
B. Hukum Meninggalkan Shalat
Shalat merupakan salah satu kewajiban seorang muslim terhadap Rabb-nya. Barang siapa yang meninggalkan shalat dengan pengingkaran dan penyangkalan di dalam hatinya, maka hukumnya adalah kufur dan keluar dari agama islam (menurut ijma’ muslimin), dan apabila seorang muslim meninggalkan shalat karena kemalasan dari dalam dirinya serta karena kesibukannya dengan urusan dunia atau alasan lainnya yang tidak dikatakan udzur dalam islam, maka jatuhlah hukum  kufur atasnya dan wajib dibunuh.[2] Sebagaimana dalam sebuah hadits dikatakan:
Dari Jabir berkata, Rasulullah SAW bersabda,

بين الرجلِ والكُفر تركُ الصَّلاة

“Jarak antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat”.(HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).
Adapun hadist yang menerangkan tentang kewajiban untuk membunuh orang yang meninggalkan shalat adalah:
Dari Ibnu Umar, bahwa Nabi SAW bersabda, “Saya diperintahkan untuk membunuh manusia sampai ia bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, dan mendirikan shalat, serta mengeluarkan zakat……”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Pandangan sebagian ulama:
Menurut ulama salaf dan khalaf, diantaranya Abu Hanifah, Malik, dan Syafi’i, mereka berpendapat bahwa hukum orang yang meninggalkan shalat itu bukan kufur, tetapi fasik dan dianjurkan untuk bertaubat. Dan apabila ia belum bertaubat, maka wajib dibunuh menurut Malik, Syafi’i dan ulama lainnya, tetapi tidak bagi Abu Hanifah, ia berpendapat bahwa orang yang semacam di atas tadi tidak dibunuh, melainkan dikurung (dipenjara) sampai ia shalat[3]
 

C. Syarat Wajib Shalat
Hukum mengerjakan shalat adalah wajib bagi:

  1. Muslim
  2. Orang yang telah baligh baik laki-laki maupun perempuan
  3. Orang yang berakal (tidak gila, stres atau pingsan sampai ia sadar)[4]

D. Syarat Sah Sholat
Shalat seseorang dikatakan belum sah, jika ia belum memenuhi syarat-syarat berikut ini:

  1. Islam
  2. Tamyiz[5]
  3. Berakal
  4. Telah masuk waktu shalat
  5. Suci dari hadats kecil dan besar
  6. Tempat dan pakaiannya suci dari najis
  7. Menutup aurat, (dari pusar sampai lulut bagi ikhwan, dan seluruh anggota tubuh kecuali muka dan telapak tangan bagi akhwat)
  8. Menghadap kiblat
  9. Niat
  10. Tertib dalam menjalankan shalat
  11. Muwalat dalam pelaksanaannya (shalat)
  12. Meninggalkan perkataan-perkataan yang tidak berkaitan dengan ibadah shalat
  13. Meninggalkan perbuatan/gerakan-gerakan anggota tubuh yang tidak disyari’atkan dalam shalat
  14. Meninggalkan makan dan minum[6]

E. Rukun Shalat
Rukun shalat merupakan hal-hal yang harus dilakukan dalam pelaksanaan shalat secara tertib. Terdapat 13 rukun shalat yang harus dilakukan, yaitu:

  1. Berdiri, jika tidak mampu maka duduk, jika tidak kuasa duduk, maka berbaringlah, dan jika tidak mampu maka dengan isyarat.
  2. Niat
  3. Takbiratul ihram[7]
  4. Membaca al-Fatihah
  5. Ruku’ dengan thuma’ninah[8]
  6. I’tidal dengan thuma’ninah
  7. Sujud dua kali
  8. Duduk di antara dua sujud
  9. Duduk akhir dan tasyahud akhir
  10. Salam
  11. Tertib[9]

F. Sunnah Shalat
Menurut Imam Syafi’i sunnah sholat terbagi menjadi 2, yaitu:
a.     Sunnah Ab’ad
Sunnah ab’ad adalah sunnah yang apabila ditinggalkan, maka harus diganti dengan sujud sahwi.

  • Tasyahud awal
  •  Duduk tasyahud awal
  • Bershalawat atas Rasulullah SAW setelah tasyahud awal
  •  Bershalawat atas kerabat Rasulullah setelah tasyahud akhir
  • Qunut dalam shalat subuh dan shalat witir pada bulan ramadhan
  • Berdiri untuk qunut
  • Bershalawat atas Nabi SAW
  • Dan bershalawat atas kerabatnya setelah qunut

b.     Sunnah Haiat
Sunnah haiat adalah sunnah yang apabila ditinggalkan, maka tidak diganti dengan sujud sahwi.
Menurut Imam Syafi’i, yang termasuk sunnah haiat adalah tasbihat dan lain-lain.
Secara umum, sunnah shalat yang lain adalah:

  1. Mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, hendak ruku’, bangun dari ruku’ dan saat berdiri setelah duduk tahiyyat awal.
  2. Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri di dada, atau di bawahnya, atau di bawah pusar. Semua ini bersumber dari Rasulullah SAW. Sebagaimana melepaskan kedua tangan itu.
  3. Membaca do’a iftitah setelah takbiratul ihram.
  4. Membaca ta’awudz (أعوذُ بِالله من الشيطانِ الرجيم) sebelum membaca al-Fatihah.
  5. Membaca “aamiin” setelah membaca surat al-Fatihah baik sebagai ma’mum, imam, atau shalat munfarid (jangan mendahului imam saat membaca aamiin dan tidak pula terlalu ketinggalan).
  6. Membaca surat setelah membaca surat al-Fatihah pada rakaat pertama dan ke-2 saja.
  7. Mengucapkan takbir pada setiap perpindahan gerakan, tetapi tidak pada saat bangun dari ruku’.
  8. Membaca “سَمع الله لمن حَمِده” saat bangun dari ruku’ dan membaca      ”للّهمّ ربَّنا ولكَ الحمد “ sudah berdiri tegak.
  9. Mendahulukan lutut sebelum tangan ketika hendak bersujud, menempelkan hidung, dahi dan kedua telapak tangan ke tanah (alas shalat) dengan menjauhkan kedua tangannya dari lambung, meletakkan kedua telapak tangan sejajar dengan telinga atau punggung, membuka jari-jari tangannya dan menghadapkanya ke kiblat. Minimal yang dibaca dalam sujud adalah  (سبحانَ ربي الأعلى)  dan dperbolehkan menambah tabih, dzikir, dan do’a khusus yang bersumber dari Rasulullah saw, seperti:
  10. - اللّهمّ لك سجدتُ وبك آمنت، ولك أسلمت وأنت ربي، سَجد وجهي للذي خَلقه وصوَّره فأحسَن صوره، وشقَّ سَمعه وبصره فتباركَ الله أحسنُ الخالقين. رواه مسلم
  11. Duduk di antara dua sujud dengan iftirasy
  12. Duduk tawaruk saat tasyahud akhir dan bersalawat atas Nabi setelah tasyahud akhir dengan shalawat Ibrahimiyyah.
  13. Memperbanyak dzikir setelah salam dengan dzikir ma’tsur, diantaranya:

- « اللَّهم أنتَ السلام ومنك السلام، تَباركت يا ذا الجلال والإِكرام »، رواه مسلم.

- « من سَبَّح في دُبر كلِّ صلاةٍ ثلاثاً وثَلاثين، وحَمد الله ثلاثاً وثلاثين، وكبَّر الله ثلاثا وثلاثين، فتلك تِسعة وتِسعون، وقال تمام المائة: لا إله إلا الله وَحده لا شَريك له، لَه الملك ولَه الحمد وهو على كلِّ شيء قَدير، غُفرت خطاياه وإن كَانت مثل زَبد البَحر»، رواه مسلم.

- « اللهمّ أعنِّي على ذِكركَ وشُكرِكَ وحسنِ عبادَتك »، رواه أحمد وأبو داود والنّسائي.

- «لا إله إلا الله وَحده لا شَريكَ له، له المُلك ولَه الحَمد وهو على كلِّ شيءٍ قَدير، اللهم لا مانِع لما أَعطيت، ولا مُعطِي لما مَنَعت، ولا يَنْفَع ذا الجَدِّ مِنكَ الجَدُّ». رواه الشيخان
G. Ancaman Bagi yang Meninggalkan Shalat
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا
Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.[10]
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ (4) الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ (5)
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,[11]
 

BAB III PENUTUP
Kesimpulan
Shalat merupakan salah satu kewajiban seorang muslim kepada Rabb-nya. Shalat ini menjadi media seorang hamba berkomunikasi dengan Sang Maha Pencipta alam semesta. Shalat juga menjadi penentu seorang muslim, apabila shalatnya baik, maka baik pula perbuatan dan perkataannya, dan apabila shalatnya buruk, maka buruk pula perbuatan dan perkataannya.

DAFTAR PUSTAKA
Az-zuhaily. 1985. Al-Fiqhu Al-Islamiy wa Adillatuhu.  Darul Fikr. Syuria.
Sabiq, Sayyid. 1945. Fiqh As-Sunnah. Daru Mishrin Li At-Taba’ah. Mesir.

Penyusun makalah :
Ana Amanah, Dystie Anggun R, Jessica,  dan Saka Dwi Hanggara

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>