MENCIPTAKAN TAMAN KOTA BERSTANDAR DUNIA

Posted: 2nd November 2010 by Alia Fibrianingtyas in Uncategorized
Comments Off on MENCIPTAKAN TAMAN KOTA BERSTANDAR DUNIA

Taman kota sebagai bagian dari ruang publik, sering tidak disadari oleh masyarakat kota akan peranannya di dalam menyelaraskan pola kehidupan kota yang sehat. Pemanfaatan ruang taman kota cenderung rnenyimpang dari fungsinya, adanya perubahan aktivitas di dalam taman menunjukan kekurang-pahaman masyarakat kota di dalam memanfaatkan taman kota terhadap keseimbangan kehidupan lingkungan kota. Makna yang sangat dalam mengenai kota yang berwawasan lingkungan adalah selalu menghadirkan taman yang hijau menjadi elemen utama yang tidak dapat ditinggalkan begitu saja.

Kepadatan penduduk di Negara-Negara besar dan padatnya bangunan dapat ”memakan” korban bernama RTH (ruang terbuka hijau), termasuk taman kota di dalamnya. Saat ini memang belum ada standar luas lahan terbuka hijau bagi suatu daerah atau kota, kecuali luas taman. Itu pun tidak baku dan tidak bersifat universal.

Berikut disajikan beberapa standar minimal taman kota yang berlaku di dunia :

1. Taman kota yang merupakan lahan terbuka hijau, dapat berperan dalam membantu fungsi hidroorologi dalam hal penyerapan air dan mereduksi potensi banjir. Pepohonan melalui perakarannya yang dalam mampu meresapkan air ke dalam tanah, sehingga pasokan air dalam tanah (water saving) semakin meningkat dan jumlah aliran limpasan air juga berkurang yang akan mengurangi terjadinya banjir. Diperkirakan untuk setiap hektar ruang terbuka hijau, mampu menyimpan 900 m3 air tanah per tahun. Sehingga kekeringan sumur penduduk di musim kemarau dapat diatasi. Sekarang sedang digalakan pembuatan biopori di samping untuk dapat meningkatkan air hujan yang dapat tersimpan dalam tanah, juga akan memperbaiki kesuburan tanah. Pembuatan biopori sangat sederhana dengan mengebor tanah sedalam satu meter yang kemudian dimasuki dengan sampah, maka di samping akan meningkatkan air tersimpan juga akan meningkatkan jumlah cacing tanah dalam lubangan tadi yang akan ikut andil menyuburkan tanah.

2. Taman kota yang mempunyai fungsi kesehatan. Taman yang penuh dengan pohon sebagai jantungnya paru-paru kota merupakan produsen oksigen yang belum tergantikan fungsinya. Peran pepohonan yang tidak dapat digantikan yang lain adalah berkaitan dengan penyediaan oksigen bagi kehidupan manusia. Setiap satu hektar ruang terbuka hijau diperkirakan mampu menghasilkan 0,6 ton oksigen guna dikonsumsi 1.500 penduduk perhari, membuat dapat bernafas dengan lega.

3. Taman kota yang mempunyai fungsi ekologis, yaitu sebagai penjaga kualitas lingkungan kota. Bahkan rindangnya taman dengan banyak buah dan biji-bijian merupakan habitat yang baik bagi burung-burung untuk tinggal, sehingga dapat mengundang burung-burung untuk berkembang. Kicauan burung dipagi dan sore akan terdengar lagi.

4. Taman yang dapat digunakan sebagai tempat berolah raga dan rekreasi yang mempunyai nilai sosial, ekonomi, dan edukatif. Tersedianya lahan yang teduh sejuk dan nyaman, mendorong warga kota dapat memanfaatkan sebagai sarana  berjalan kaki setiap pagi, olah raga dan bermain, dalam lingkungan kota yang benar-benar asri, sejuk, dan segar sehingga dapat menghilangkan rasa capek. Taman kota yang rindang mampu mengurangi suhu lima sampai delapan derajat Celsius, sehingga terasa sejuk. Bahkan dari ramainya pengunjung tidak menutup kemungkinan banyak penjual jajanan untuk menyidiakan makanan.

5. Memiliki nilai estetika. Dengan terpeliharanya dan tertatanya taman kota dengan baik akan meningkatkan kebersihan dan keindahan lingkungan, sehingga akan memiliki nilai estetika. Taman kota yang indah, dapat juga digunakan warga setempat untuk memperoleh sarana rekreasi dan tempat anak-anak bermain dan belajar. Bahkan taman kota indah dapat mempunyai daya tarik dan nilai jual bagi pengunjung. Solo merupakan kota budaya yang memiliki  daya tarik peninggalan budaya seperti kraton kasunanan dan kraton mangkunegaran. Jika lingkungan kotanya sehat dengan taman kotanya tertata indah akan menambah daya tarik bagi wisatawan.

Kita sadari menciptakan taman kota perlu proses yang panjang, namun perlu terus diupayakan, dengan mempertahankan yang sudah ada dan mebangun yang baru. Program penghijauan kota perlu terus digalakan sebagai suatu gerakan dan pemilihan tanaman hendaknya disesuaikan dengan fungsinya.

ALUN-ALUN KOTA MALANG “ICON KOTA”

Posted: 29th October 2010 by Alia Fibrianingtyas in Uncategorized
Comments Off on ALUN-ALUN KOTA MALANG “ICON KOTA”

alun-alunku, jantung kotaku
Alya, namun sangat akrab disapa dengan nama Acil
🙂 Saya dilahirkan di Kota Gresik yang keadaan lingkungannya sangat tandus dan kurang akan zona hijau dalam penataannya. Sudah kurang lebih dua tahun saya meninggalkan Kota Gresik dan singgah di Kota Malang untuk meneruskan studi S1 Agribisnis Universitas Brawijaya. Selama kurun waktu tersebut banyak area yang saya rasa dapat menentramkan jiwa karena lingkungannya yang menyediakan banyak zona hijau. Salah satu dari beberapa taman kota yang saya kagumi adalah Alun-Alun Kota Malang.


A. SEJARAH PERKEMBANGAN ALUN-ALUN

Perkembangan alun-alun sangat tergantung dari evolusi pada budaya masyarakatnya yang meliputi tata nilai, pemerintahan, kepercayaan, perekonomian dan lain-lain. Zaman Hindu-Budha, alun-alun telah ada (Buku Negara Kertagama, menyatakan di Trowulan terdapat alun-alun) asal-usulnya ialah dari kepercayaan masyarakat tani yang setiap kali ingin menggunakan tanah untuk bercocok tanam, maka haruslah dibuat upacara minta ijin kepada “dewi tanah”. Yaitu dengan jalan membuat sebuah lapangan “tanah sakral” yang berbentuk “persegi empat” yang selanjutnya dikenal sebagai alun-alun.

Alun-Alun Kerajaan MataramMasa kerajaan Mataram, di alun-alun depan istana secara rutin rakyat Mataram “seba” menghadap Penguasa (lihat Keraton Yogyakarta). Alun-alun pada masa ini sudah berfungsi sebagai pusat administratif dan sosio-cultural bagi penduduk pribumi. Fungsi administratif : masyarakat berdatangan ke alun-alun untuk memenuhi panggilan ataupun mendengarkan pengumuman atau melihat unjuk kekuatan berupa peragaan bala prajurit dari penguasa setempat. Segi Sosiokultural dapat dilihat dari kehidupan masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain, apakah dalam perdagangan, pertunjukan hiburan ataupun olah raga. Untuk memenuhi seluruh aktivitas dan kegiatan tersebut alun-alun hanya berupa hamparan lapangan rumput yang memungkinkan berbagai aktivitas dapat dilakukan.

Alun-Alun Kerajaan IslamMasa masuknya Islam, bangunan Masjid dibangun di sekitar alun-alun. Alun-alun juga digunakan sebagai tempat kegiatan-kegiatan hari besar Islam termasuk Sholat Idul Fitri. Pada saat ini banyak alun-alun yang digunakan sebagai perluasan dari masjid seperti Alun-alun Kota Bandung. Pada periode berikutnya kehadiran kekuasaan Belanda di Nusantara, ikut memberi warna bentuk baru dalam tata lingkungan alun-alun. Hal ini terlihat dengan didirikannya bangunan penjara pada sisi lain alun-alun, termasuk di Alun-alun Yogyakarta. Pendirikan bangunan-bangunan untuk kepentingan Belanda sekaligus mengurangi fungsi simbolis alun-alun, kewibawaan penguasa setempat (penguasa pribumi). Periode zaman Kemerdekaan, Banyak alun-alun yang bertransformasi/berubah bentuk. Salah satunya Alun-alun Malang. Faktor pendorong perubahan/pertumbuhan ini macam-macam diantaranya Kebijakan Pemerintah, Aktivitas Masyarakat, Perdagangan dan Pencapaian (Dadang Ahdiat, 1993).

B. MENGENAL BUDAYA MASYARAKAT KOTA MALANG

Jumlah penduduk Kota Malang 768.000 (2003), dengan tingkat pertumbuhan 3,9% per tahun. Sebagian besar adalah Suku Jawa, serta sejumlah suku-suku minoritas seperti Madura, Arab, dan Tionghoa. Agama mayoritas adalah Islam, diikuti dengan Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Kong Hu Chu. Bangunan tempat ibadah banyak yang telah berdiri semenjak jaman kolonial antara lain Masjid Jami (Masjid Agung), Gereja Hati Kudus Yesus, Gereja Kathedral Ijen (Santa Maria Bunda Karmel), Klenteng di Kota Lama serta Candi Badut di Kecamatan Sukun dan Pura di puncak Buring. Malang juga menjadi pusat pendidikan keagamaan dengan banyaknya Pesantren, yang terkenal ialah Ponpes Al Hikam pimpinan KH. Hasyim Muhsyadi, dan juga adanya pusat pendidikan Nasrani berupa Seminari Alkitab yang sudah terkenal di seluruh Nusantara.

Bahasa Jawa dengan dialek Jawa Timuran adalah bahasa sehari-hari masyarakat Malang. Kalangan minoritas Suku Madura menuturkan Bahasa Madura. Malang dikenal memiliki dialek khas yang disebut Boso Walikan, yaitu cara pengucapan kata secara terbalik, misalnya Malang menjadi Ngalam, bakso menjadi oskab, dan contoh lain seperti saya bangga arema menang-ayas bangga arema nganem. Gaya bahasa masyarakat Malang terkenal egaliter dan blak-blakan, yang menunjukkan sikap masyarakatnya yang tegas, lugas dan tidak mengenal basa-basi. Kekayaan etnis dan budaya yang dimiliki Kota Malang berpengaruh terhadap kesenian tradisonal yang ada. Salah satunya yang terkenal adalah Wayang Topeng Malangan (Topeng Malang), namun kini semakin terkikis oleh kesenian modern. Gaya kesenian ini adalah wujud pertemuan tiga budaya (Jawa Tengahan, Madura, dan Tengger). Hal tersebut terjadi karena Malang memiliki tiga sub-kultur, yaitu sub-kultur budaya Jawa Tengahan yang hidup di lereng gunung Kawi, sub-kultur Madura di lereng gunung Arjuna, dan sub-kultur Tengger sisa budaya Majapahit di lereng gunung Bromo-Semeru. Etnik masyarakat Malang terkenal religius, dinamis, suka bekerja keras, lugas dan bangga dengan identitasnya sebagai Arek Malang (AREMA) serta menjunjung tinggi kebersamaan dan setia kepada malang.

Budaya BantenganDi kota Malang juga terdapat tempat yang merupakan sarana apresiasi budaya Jawa Timur yaitu Taman Krida Budaya Jawa Timur, di tempat ini sering ditampilkan aneka budaya khas Jawa Timur seperti Ludruk, Ketoprak, Wayang Orang, Wayang Kulit, Reog, Kuda Lumping, sandra tari, saat ini bertambah kesenian baru yang kian berkembang pesat di kota Malang yaitu kesenian “BANTENGAN”. Kesenian ini merupakan hasil dari kreatifitas masyarakat asli malang, sejak dahulu sebenarnya kesenian ini sudah dikenal oleh masyarakat malang namun baru sekaranglah “BANTENGAN” lebih dikenal oleh masyarakat tidak hanya masyarakat lokal namun juga luar daerah bahkan mancanegara khususnya di Malang sering diadakan pergelaran bantengan hampir setiap perayaan hari besar baik keagamaan maupun peringatan hari kemerdekaan. Hal ini sangat perlu mendapat apresiasi dari seluruh masyarakat. Belajar pada pengalaman-pengalaman yang sebelumnya agar tidak diakui oleh pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab.

C. DESAIN / TATA LETAK ALUN-ALUN

1


2

2                                                 3                                                 2

2


4                                                                                                      5

§ Keterangan :

NO KETERANGAN GAMBAR


1. Masjid Jami’ Masjid Jami' Malang
2. Area Bebas Apa Saja Bisa Dilakukan Di Sini
3. Air Mancur Air Mancur sebagai Pusat Alun-Alun
4. Pusat Informasi Pusat Informasi
5. Lahan Parkir Area Parkir

§ Elemen Pembentuk :

  1. Elemen KerasElemen Batu Pembentuk Jalan
  2. Pagar sebagai Elemen Keras

2.   Elemen Lunak

Bunga sebagai Elemen Lunak

Burung sebagai Elemen Lunak

D. LINGKUNGAN SEKITAR ALUN-ALUN

a)      Fasilitas Perkantoran

  • Kantor Kabupaten Malang
  • Kantor Pos dan Giro
  • Kantor Inspeksi Pajak
  • Kantor Kas Negara
  • Kantor Bank Indonesia
  • Kantor Bank Bumi Daya
  • Kantor Bank Lippo

b)   Fasilitas Perdagangan dan Jasa

  • Pertokoan Sarinah
  • Pertokoan Ramayana
  • Hotel Pelangi

c)      Fasilitas Peribadatan

  • Masjid Agung Jamik
  • GPIB Immanuel

d)      Fasilitas Pendidikan

  • SDN Kauman

E. AKTIVITAS SEKITAR ALUN-ALUN

Aktivitas di sekitar alun-alun sangat beranekaragam. Hal tersebut sangat ditunjang dengan keadaan sekitar dan tata letak alun-alun yang menyediakan tempat bagi para pedagang, tempat bermain anak, tempat untuk melepas penat dan sebagainya. Berikut keterangannya :

1.      Aktivitas pengunjung yang sedang meluangkan waktu bersama teman dekat (pacar)

Bersantaipun Bisa Dilakukan di Alun-Alun

2.      Tempat berekreasi bersama keluarga

Alernatif Tempat Rekreasi Keluarga

3.  Aktivitas para pedagang

Nenek Penjual Nasi Goreng

cilok .. cilok ..

4.  Kegiatan bebas

Pengamen Alun-Alun-an

Sini buruuung .. Makan dulu ..

1.      Aktivitas pengunjung yang ingin meluangkan waktu bersama teman dekat (pacar)

Hello world!

Posted: 26th October 2010 by Alia Fibrianingtyas in Uncategorized

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!