Review NCI Bookman

NCI Bookman adalah image software yang dibuat untuk membantu pustakawan dalam mengolah dan mengelola perpustakaan. Software ini dilengkapi dengan aplikasi web sehingga memungkinkan pustakawan untuk penelusuran via internet. Selain itu, software NCI BOOKMAN didesign dan dikembangkan dengan fasilitas untuk memberikan kemudahan, kecepatan dan keakuratan proses administrasi perpustakaan. Softawe NCI BOOKMAN telah dikembangkan selama 10 tahun dan telah digunakan lebih dari 100 perpustakaan.

NCI Bookman merupakan perangkat lunak yang dirancang khusus, untuk membantu manajemen perpustakaan dalam pengelolaan bahan pustaka. NCI Bookman didesain dan dikembangkan dengan berbagai fasilitas untuk memberikan kemudahan, kecepatan, dan kekurangan proses administrasi perpustakaan. perangkat lunak ini dirancang menggunakan bahasa Indonesia dan memberikan daftar menu pilihan, yang memudahkan operator menjalankan program. NCI Bookman menerapkan berbagai teknologi (barcode, RFID, dll) yang membuat
proses sirkulasi menjadi mudah, cepat, dan akurat.

Keunggulan NCI BOOKMAN:

  1. Fasilitas optional untuk menelusuri koleksi perpustakaan melalui internet.
  2. Teknologi barcode memudahkan pencarian, pengelompokan, dan pendataan koleksi
  3. Fasilitas pengelolaan Koleksi Majalah atau Jurnal dan Denda.

Modul yang terdapat pada NCI :

  • Under Windows
  • Database SQL
  • Kapasitas Database unlimited sesuai dengan kapasitas harddisk
  • Proses upload lebih cepat
  • Auto backup dan restore
  • Teknologi Barcode dan RFID
  • Web OPAC
  • Fasilitas pencetakan lengkap
  • Laporan dan Statistik
  • Tersedia Bahasa Indonesia
  • after sales terjamin
  • Jaminan produk terimplementasi dengan baik

 

Daftar Pustaka :

NCI BOOKMAN

Categories: Uncategorized | Comments Off on Review NCI Bookman

PEMANFAATAN PERANGKAT LUNAK PADA ORGANISASI INFORMASI DEWASA INI

1. Pemahaman anda bagaimana dan sejauh mana perangkat lunak aplikasi digunakan oleh organisasi-organisasi informasi (perpustakaan, lembaga kearsipan, museum, dsb.) saat ini

Menurut saya perangkat lunak aplikasi OPAC (Online Public Access Catalog) ini sudah sangat baik dan ideal karena penggunaannya yang mudah dan responnya cepat sehingga membuat pemustaka tidak kesusahan dalam mencari koleksi yang diinginkan. Untuk permasalahan dari OPAC ini sebenarnya hampir tidak ada, yang membuat bermasalah adalah pada komputernya. Apabila komputer yang dipakai abal-abal maka akan mempengaruhi dari kinerja OPAC tersebut. Selain itu ada pula permasalahan yang bisa jadi fatal apabila mengalami kerusakan yaitu pada server di perpustakaan tersebut, apabila server mengalami gangguan makan juga akan berpengaruh pada OPAC (Online Public Access Catalog), karena OPAC (Online Public Access Catalog) mengambil data dari server tersebut. Untuk aplikasi OPAC (Online Public Access Catalog) nya sendiri sebenarnya tidak ada masalah hanya dari faktor lainnya saja.

2b. Bila yang anda anggap dominan sudah ideal/tidak ada permasalahan

Disini menurut saya OPAC (Online Public Access Catalog) memang sudah sangat ideal tanpa adanya masalah dari internal aplikasi tersebut. Hasil keberhasilan dari OPAC (Online Public Access Catalog) ini bisa kita lihat dibanyaknya perpustakaan yang menggunakan aplikasi OPAC (Online Public Access Catalog) tersebut. Semua yang menggunakan OPAC (Online Public Access Catalog) akan memberikan kepuasan lebih terhadapa pemustaka. Dikarenakan sistem kerjanya yang mudah dan cepat serta dicantumkan secara rinci atau detail.

Organisasi-organisasi yang mengalami keberhasilan ini adalah tentunya perpustakaan-perpustakaan yang telah menggunakan aplikasi OPAC (Online Public Access Catalog) ini. Saya ambil sampel dari perpustakaan Universitas Brawijaya, pada perpustakaan Universitas Brawijaya ini dapat dilihat sendiri bagaimana ke-efektifan dan ke-efisiennya dalam pencarian suatu koleksi. Hasil yang didapat pun selalu rinci dan benar adanya.

Keberhasilan ini tentunya merupakan suatu kebanggaan terhadap organisasi-organisasi penyedia layanan informasi seperti contohnya yaitu perpustakaan. Keberhasilan ini tidak lepas dari keinginan para pustakawan untuk menyediakan pelayanan yang terbaik untuk para pemustakanya. Dengan hadirnya OPAC (Online Public Access Catalog) ini tidak hanya memanjakan pemustaka saja, namun berlaku juga pada para pustakawannya. Pekerjaan yang melelahkan dapat terbantu dengan bantuan dari aplikasi ini.

Strategi yang digunakan dalam menjaga dan mempertahankan kondisi dari perangkat lunak ini adalah dengan cara rutin melakukan pengecekan dan perawatan dari setiap server-server yang tersedia dalam perpustakaan tersebut. Karena apabila server mengalami gangguan, dampaknya akan sangat berpengaruh dalam berjalannya perangkat lunak tersebut. Misal data yang ditampilkan tidak ada isinya atau dalam pencarian koleksinya respon dari OPAC (Online Public Access Catalog) sangat lama.

Categories: Uncategorized | Comments Off on PEMANFAATAN PERANGKAT LUNAK PADA ORGANISASI INFORMASI DEWASA INI

Kerjasama dan Jaringan Informasi

Nama : Muhammad Alwan Bramanugraha

NIM : 165030707111012

 

Kerja Sama dan Jaringan Informasi Perpustakaan

A. Pendahuluan

Masyarakat modern memerlukan tersedianya informasi yang dapat menunjang segala kegiatan pendidikan, penelitian dan perkembangan kebudayaan, ekonomi serta sosial yang diselenggarakan oleh masyarakat itu sendiri. Informasi yang dimaksud disini adalah informasi yang bersumber pada literatur dalam berbagai bentuk maupun tingkatan teknologi dan pengetahuan. Penyediaan informasi literatur ini diselenggarakan melalui badan-badan pengelola informasi seperti : perpustakaan, pusat dokumentasi, pusat analisis informasi, pusat referal, badan arsip dan lain sebagainya. Masing-masing badan ini mempunyai fungsi dan tugasnya sendiri yang sedikit banyak berbeda antara satu dengan lainnya.

Penting sekali bahwa semua jenis badan pengelola informasi khususnya yang berada dalam suatu negara, berusaha membentuk jaringan informasi dan bekerjasama dalam suatu koordinasi yang bersama-sama merupakan suatu infrastruktur, suatu sistem nasional guna penyediaan dan penggunaan informasi.

Di Indonesia dapat dikatakan bahwa informasi belum dikelola secara terpadu, masing-masing badan pengelola informasi mengerjakan dengan cara tersendiri informasi literatur yang dimilikinya terpisah dari yang lain. Hal ini menyulitkan pengguna (masyarakat) untuk memperoleh informasi yang diperlukan. Meskipun sejak tahun 1971 pembentukan jaringan cukup banyak di Indonesia ( kurang lebih 32 sistem jaringan informasi), tetapi didalam perkembangannya kebanyakan diantaranya hampir tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

Bergabungnya suatu perpustakaan kedalam jaringan adalah suatu keharusan, oleh karena tidak satupun perpustakaan di dunia yang mampu berswasembada akan informasi. Jumlah terbitan baik di dalam negeri maupun luar negeri sudah sedemikian besar dan berkembang pesat, spesifikasi dan kwalitas informasi yang dibutuhkan pengguna juga semakin tinggi dan bervariasi, sementara di sisi lain perpustakaan mempunyai kemampuan yang sangat terbatas.

B. Pembahasan

Konstruksi Sosial Teknologi

Ketika era reformasi digulirkan oleh kalangan mahasiswa di Jakarta dan diikuti oleh kampus-kampus dikota yang lain, ada satu hal yang membedakan secara signifikan gerakan mahasiswa 1998 ini dengan apa yang dilakukan oleh senior-senior mereka di tahun-tahun sebelumnya. Faktor penting tersebut adalah penggunaan internet. Secara fungsional internet adalah media pertukaran informasi yang tidak berbeda fungsinya dari sebutlah itu telepon, koran, faksimil. Tetapi internet memiliki empat karakteristik yang membuatnya menjadi superior dibanding media komunikasi lainnya. Pertama adalah biaya penggunaan yang relatif murah. Kedua adalah sifatnya yang real time. Ketiga adalah sifatnya yang borderless. Tidak ada sekat-sekat ruang di media ini yang memungkinkan tiap orang dapat saling terkoneksi dengan baik. Keempat, dan ini yang paling penting, internet menyediakan ruang-ruang publik yang tidak dapat ditembus oleh otoritas penguasa. Ketika Tempo dibredel oleh Harmoko atas nama penguasa Orde Baru, bukan berarti kematian bagi Tempo. Internet lalu menjadi alternatif yang sangat jitu dalam penyebaran berita-berita politik aktual oleh Tempo.

Tentunya internet bukanlah satu-satunya faktor teknologis yang bermain. Telepon selular dan televisi adalah faktor teknologis yang berperan cukup penting dalam akselerasi momentum politik gerakan reformasi 1998. Tetapi internetlah yang saya kira memberikan suatu kesempatan yang baru bagi para pelaku refromasi untuk saling berinteraksi secara lebih intensif.

Berkembanganya suatu teknologi adalah hasil dari konstruksi sosial (socially constructed). Suatu teknologi berkembang sebagai suatu hasil bentukan sosial (social shaping) di mana teknologi tersebut berada. Ahli teknik dan ahli desain yang merancang suatu produk teknologi “hanyalah” agen-agen teknis yang “tunduk” pada proses sosial antara produk teknologi dan masyarakat pengguna. Teknologi bukanlah suatu entitas vakum dan bebas nilai. Ketika berinteraksi dengan masyarakat pengguna, teknologi mengalami proses appropriation (diterjemahkan secara bebas sebagai penyesuaian). Appropriation adalah suatu proses pemberian makna oleh kelompok-kelompok masyarakat berdasarkan nilai-nilai serta kepentingan yang ada pada masyarakat tersebut terhadap suatu produk teknologi Pemberian makna yang beragam, baik antar individu maupun anta kelompok, menjadikan proses perkembangan (evolusi) teknologi menjadi multikultural.

Kerjasama Pelayanan Pemustaka

Kerja sama pelayanan terhadap pemustaka menjadi tren yang belum membudaya di Indonesia. Namun setidaknya kegiatan semacam ini telah menjadi diskusi yang sudah dibicarakan di sejumlah tempat dengan melihat berbagai masalah-masalah yang menuntut penyelesaian. Misalnya saja adalah terbatasnya koleksi yang dimiliki, tuntutan pemustaka terhadap pemenuhan kebutuhan informasi, terbatasnya anggaran untuk mengadakan koleksi, dan lain-lain. Ada beberapa kerjasama pelayanan pemustaka yang penting yaitu

  1. Kerjasama silang layan
  2. Kerjasama penyediaan fasilitas
  3. Kerjasama pendidikan dan pelatihan

Pelayanan perpustakaan dapat dilakukan dengan berbagai cara, di antaranya adalah dengan melakukan kerja sama perpustakaan sebagai upaya pemaksimalan pemanfaatan koleksi dan perpustakaan itu sendiri. Karena dapat dikatakan bahwa tidak ada satu pun perpustakaan yang ada di dunia ini yang dapat memenuhi semua permintaan informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya.

Jaringan kerja sama ini dalam kegiatannya mencakup pula pada pelayanan terhadap pemustaka yang dapat digolongkan dalam pelayanan teknis serta pelayanan pemustaka. Pelayanan ini termasuk di dalamnya adalah sistem silang layan memiliki arti pemberian jasa perpustakaan dan informasi yang diberikan oleh sebuah perpustakaan kepada perpustakaan lain. Silang layan mencakup pemberian jasa antara dua perpustakaan atau lebih; jasa ini dapat berupa membantu penelusuran, pencarian materi perpustakaan, menyediakan fasilitas untuk anggota perpustakaan lain, elektronik maupun digital. Untuk merencanakan kongsi sumber daya antara berbagai lembaga, perlu mempertimbangkan kesediaan masing-masing peserta, ketersediaan anggaran, kebutuhan dominan pemakai, infrastruktur penunjang dan kemampuan politik khususnya pada tingkat rektor untuk perguruan tinggi, agar kerja sama dapat berjalan.

Perpustakaan Hibrida

Perpustakaan hybrid atau sering disebut perpustakaan hibrida adalah perpustakaan yang menggunakan dua cara yaitu cara elektronik dan tercetak, dipadukan untuk saling menunjang satu dengan yang lainnya. Perpustakaan hybrid sering juga disebut perpustakaan campuran, yaitu bercampurnya koleksi elektronik dengan koleksi non elektronik.

Sistem perpustakaan hybrid masih banyak yang menggunakannya di Indonesia, mulai perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, sampai perpustakaan umum. Alasannya karena perpustakaan pada umumnya masih mengoleksi atau mengadakan pembelian koleksi tercetak dan koleksi berbasis elektronik.

Ciri-ciri perpustakaan hybrid:

  1. Perpustakaan hybrid memadukan antara perpustakaan berbasis elektronik dengan perpustakaan berbasis cetak
  2. Koleksinya perpustakaan hybrid biasanya terdiri atas bahan cetak dan bahan noncetak
  3. Perpustakaan hybrid memiliki koleksi tercetak yang setara dengan koleksi digitalnya
  4. Perpustakan hibrida memiliki konsep cakupan jasa informasi yang mendukung ke arah koleksi elektronik atau digital tetapi tetap berbasis cetak.

Perpustakaan hybrid memiki memiliki tujuan sesuai dengan tujuan perpustakaan pada umumnya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Perpustakaan hybrid masih menerapkan sistem semi elektronik, sehingga perpustakaan masih sangat sulit untuk temu balik koleksi cetak, membutuhkan waktu baik dalam pencarian, pengolahan, maupun penemuannya di rak, bahkan pustakawan sering sulit untuk mengontrol koleksi tercetaknya, dan perlu sering-sering melakukan stock opname. Perpustakaan hybrid senantiasa menyiapkan koleksi berbasis elektronik dan berbasis cetak. Koleksi ini dipadukan dalam perpustakaan sehingga memperluas cakupan jasa informasi. Alasan bertahannya perpustakaan hybrid adalah karena masih banyak pemustaka yang mencari literatur berdasarkan sumber aslinya.

Cloud Computing

Cloud computing adalah gabungan pemanfaatan teknologi komputer (‘komputasi’) dan pengembangan berbasis Internet (‘awan’). Cloud computing adalah sebuah konsep pemahaman dalam rangka pembuatan kerangka kerja komputasi secara online lokal (LAN) maupun global (internet) dimana terdapat beragam aplikasi maupun data  dan media penyimpanan yang dapat diakses dan digunakan secara berbagi (shared service) dan bersamaan (simultaneous access) oleh para pengguna yang beragam, mulai dari perseorangan sampai kepada kelas pengguna korporasi atau perusahaan.

Cloud computing dapat berkembang disebabkan oleh segi “kemudahan” penggunaan dimana pengguna akhir dengan “cukup relatif” mudah menggunakan media LAN atau Internet melalui browser untuk mengakses dan berkolaborasi secara bersamaan tanpa melalui proses yang “cukup” rumit. Cloud Computing tidak harus menggunakan Internet public. Teknologi ini dapat di operasikan di LAN di IntraNet. Cloud Computing di infrastruktur Internet biasa di sebut public cloud. Cloud Computing di LAN / IntraNet biasa di sebut private cloud.

Digital Natives

Marc Prensky menciptakan istilah digital native pada tahun 2001, dan kemudian menguraikan konsepnya pada tahun 2009, pada kesempatan yang lain. Dia mengatakan digital native  adalah generasi muda yang semua “pembicara asli” dari bahasa digital komputer, video game dan internet. Digital native  adalah seorang individu yang lahir setelah adopsi teknologi digital. Istilah  digital native tidak mengacu pada generasi tertentu. Sebaliknya, itu adalah predikat yang diberikan untuk  semua kategori  anak-anak yang telah dewasa menggunakan teknologi seperti internet, komputer dan perangkat mobile. Pengungkapan teknologi ini  di tahun-tahun awal diyakini untuk memberikan digital native keakraban yang lebih besar pemahaman  pemahaman teknologi dari orang yang lahir sebelum itu meluas.

Tidak semua anak yang lahir saat ini adalah digital native  secara bawaan, tetapi karena berinteraksi secara reguler dengan teknologi pada umur yang sangat muda adalah faktor yang menentukan Banyak yang mengatakan anak-anak sekarang lebih mungkin untuk menjadi akrab dengan dunia  terminologi  digital. Ini bukan untuk mengatakan bahwa mereka secara intuitif akan mengerti pemrograman komputer atau bagaimana sebuah jaringan mentransmisikan data. Mereka akan, cepat dan mudah  untuk memahami teknologi ini karena mereka,  melihat dan bertindak  berkali-kali dalam kehidupannya)

Dengan kata lain, mereka adalah generasi pertama yang tumbuh dengan teknologi baru, setelah menjalani seluruh hidup mereka dikelilingi oleh dan menggunakan alat-alat dan mainan dari era digital. E-mail, ponsel dan pesan instan tidak hanya bagian dari kehidupan mereka, tetapi merupakan bagian integral dari kehidupan mereka. Digital natives didefinisikan sebagai pemuda, berusia 15-24 inklusif, dengan lima tahun atau pengalaman lainnya menggunakan Internet, mobiles dan lainnya. Digital natives telah dikondisikan oleh lingkungan teknologi mereka untuk mengharapkan tanggapan langsung.Mereka lebih memilih akses non-linear acak untuk informasi (yaitu hyperlink), dan memiliki preferensi lebih untuk konten gambar berbasis teks.

Sistem Perpustakaan Terintegrasi

Sistem ini merupakan sistem perencanaan sumber daya perpustakaan yang digunakan untuk melacak bahan perpustakaan yang dimiliki, pesanan yang dibuat, tanggungan yang dibayar, dan pemustaka (pengguna perpustakaan) yang meminjam koleksi.

Sejarah perkembangan otomasi perpustakaan dimulai seiring dengan kemampuan komputer dalam mendukung penerapan aplikasi untuk perpustakaan, bahkan sistem otomasi perpustakaan untuk sirkulasi telah dimulai sejak diterapkannya penggunaan kartu berlobang (punched card) pada dasawarsa 1940an dan 1950an. Seiring dengan perkembangan teknologi komputer yang semakin maju pada decade 1960an dan 1970an, mucullah sistem perpustakaan terintegrasi. Sistem ini mengubah secara drastis tata kelola atau operasional perpustakaan.

Pada awalnya sistem otomasi perpustakaan bertumpu pada sistem komputer besar (mainframe). Secara bertahap digantikan oleh micro computer kemudian personal computer. Meskipun sistem otomasi pada masa permulaan telah mengurangi secara signifikan terhadap tenaga yang diperlukan dalam mengelola perpustakaan, sistem otomasi tersebut masih terbatas untuk menangani sebagian kecil dari beban kerja di perpustakaan. Perkembangan selanjutnya muncul format MARC yang memungkinkan membuat cantuman katalog terbacakan mesin. Tidak lama setelah itu muncullah sistem perpustakaan terintegrasi.

Digitalisasi dan Simpan Pengetahuan Bersama

Perkembangan dunia internet menyebabkan para teknolog menyadari bahwa sistem komputer harus dapat melayani populasi dengan berbagai kepentingan. Selain itu juga, pengetahuan tidak harus berbentuk satu paket yang rapi dan jelas batas-batasanya. Salah satu isyu terpenting di masa awal fenomena Knowledge Managemen adalah kesulitan mengakuisisi dan menyimpan pengetahuan di dalam organisasi. Isu ini antara lain juga menyebabkan ketertarikan baru pada diskusi tentang apa yang sebenarnya dimaksud pengetahuan. Definisi-definisi tersebut justru semakin memperlihatkan problematika penyimpanan dan mengelola pengatahuan, sebab pengetahuan bukanlah entitas yang mudah direkam.

Perkembangan pemikiran tentang pengetahuan akhirnya mengarahkan teknologi komputer dan sistem pakar ke tujuan yang berbeda: bukan untuk membuat sistem yang dapat menyimpan sepenuhnya pengetahuan, melainkan sistem yang dapat mendukung manusia menciptakan dan menggunakan pengetahuan untuk kegiatan mereka. Terlebih lagi, pemikiran tentang manajemen penegetahuan berbantuan teknologi komputer juga semakin menyadarkan semua orang bahwa pengetahuan tersebut digunakan bersama-sama di dalam sebuah komunitas, baik berbentuk organisasi yang tertata rapi, maupun dalam bentuk masyarakat yang lebih terbuka. Komunitas ini semakin lama semakin banyak berbentuk komunitas online, mengadalkan jaringan telekomunikasi dan internet untuk saling berhubungan. Di dalam situasi seperti itulah, pada era 1990 an, orang mulai bicara perpustakaan digital.

CKesimpulan

                Kerjasama jaringan informasi ini sangatlah penting bagi perpustakaan terutama pada pustakawannya karena lebih mempermudah dalam pekerjaan dalam pengumpulan informasi-informasi yang ada. Selain pustakawan, pemustaka pun turut diuntungkan dengan adanya kerjasama jaringan informasi ini karena pemustaka akan mendapatkan informasi yang sesuai dengan apa yang diinginkannya lebih detail atau rinci.

Dengan adanya kerjasama jaringan informasi ini diharapkan perpustakaan menjadi lebih maju dalam peningkatan koleksi serta informasi-informasi yang disediakan yang mana hal ini merupakan hal yang paling krusial pada suatu perpustakaan. Oleh karena itu hal ini alangkah lebih baik apabila terus dikembangkan hingga nantinya tercapai hasil yang paling maksimal. Hal ini akan mempermudah seluruh elemen masyarakat untuk mengakses informasi yang valid dan benar.

 

Daftar Pustaka

Usu, Repository. Jaringan Informasi dan Kerjasama Perpustakaan. Diakses 11 Oktober 2018.

http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/17393

Soekartono. Konstruksi Sosial Teknologi. Diakses 11 Oktober 2018.

https://tonz94.com/2009/12/20/konstruksi-sosial-teknologi-2/

Cloud, Datacomm. Definisi Cloud Computing. Diakses 11 Oktober 2018.

https://cloud.datacomm.co.id/blog/definisi-cloud-computing/

Binus. Digital Natives. Diakses 11 Oktober 2018.

https://sis.binus.ac.id/2016/12/16/digital-natives/

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on Kerjasama dan Jaringan Informasi

Hello world!

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!

Categories: Uncategorized | 1 Comment