ANALISIS BERITA PADA PRAKTISI PUBLIC RELATIONS

March 31st, 2020

Nama   : Aldi Aditya

NIM    : 195120207111031

Kelas   : Dasar-Dasar Public Relations D- 2 / 09.40.12.10

ANALASISIS WACANA PANDEMI VIRUS CORONA:

STUDI KASUS PEMBERITAAN ONLINE KASUS VIRUS CORONA DI INDONESIA

Media massa merupakan salah satu unusr penting dalam komunikasi massa, dimana media massa berpearan sebagai saluran/alat penyebaran suatu informasi secara massal dan diakses oleh masyarakat secara massal pula. Informasi yang dimuat dalam media massa diperuntukkan kepada massal dan bukan informasi yang hanya dapat dikonsumsi secara pribadi. Selain itu media massa juga dapat berupa sebuah forum yang merepresentasikan berbagai informasi pada khalayak sehingga memungkinkan terjadinya umpan balik. Lebih jauh media massa bukan hanya sebagai tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga memungkinkan untuk terjadinya komunikasi yang interaktif. Media massa juga memiliki posisi sebagai alat distribusi informasi dalam ruang publik yang dimana media massa berperan sebagai perekat kepentingan yang berjalan dalam ruang publik serta sebagai perpanjangan tangan dari manusia.

Berita merupakan sajian utama yang ada dalam media massa. Mencari bahan berita kemuadian menyajikannya merupakan tugas pokok dari wartawan dan bagian redaksi dari sebuah institusi pers. Menurut (Kriyantono, 2016) berita yang baik merupakan berita yang Objektif dan meliputi elemen faktualis serta imparsialitas, selain itu berita haruslah memiliki narasumber yang kredibel agar pastin kebenarannya, kemudian yang terakhir berita juga harus memiliki nilai/value.

Dalam menganalisa berita (CNN, 2020) berita yang disajikan merupakan berita yang tidak sepenuhnya menggambarkan realitas sosial yang ada menegnai wacana pandemi virus corona, dimana dalam berita tersebut tidak disebutkan dengan jelas usia dari penderita virus corona yang sembuh dan penderita virus corona yang meninggal. Dalam perspektif (Kriyantono, 2016) berita yang ditampilkan merupakan berita yang objektif  serta faktual namun kurang imparsialitas, hal ini dibukrikan dengan narasi narasi yang lebih menekankan pada bahaya virus corona sehingga dapat mempersuasi masyarakat yang mengkonsumsi berita dan melakukan perilaku kolektif “panik”. Selain itu dalam pemberitaan kasus virus corona 2020 pada bulan Maret, sumber yang digunakan merupakan sumber yang kredibel yaitu data dari setiap institusi kesehatan yang dijadikan sebagai satgas darurart virus corona. Kemudian elemen terkahir yaitu nilai, dalam berita yang telah ditampilkan berita tersebut memiliki nilai dimana masyarakat harus hati-hati dan menjaga kebersihan diri.

 

DAFTAR PUSTAKA

CNN. (2020). Update Corona 31 Maret: 1.528 Kasus, 136 Meninggal, 81 Sembuh. Jakarta: CNN.

Kriyantono, R. (2016). Public Relation Writing. Jakarta: Kencana.

 

 

BERITA & PUBLIC RELATIONS

March 31st, 2020

Nama   : Aldi Aditya

NIM    : 195120207111031

Kelas   : Dasar-Dasar Public Relations D- 2 / 09.40.12.10

Berdasarkan video Bapak Rachmat Kriyantono yang telah memaparkan penjelasan mengenai Public Relations dan Berita, dapat saya simpulkan  bahwa kegiatan atau praktisi PR sangatlah berkaitan erat dengan berita. Hal itu dikarenakan 75% kegiatan komunikasi pada bidang PR adalah menulis dan sebagian besar menghasilkan sebuah berita yang dimana berita tersebut dapat diakses atau didapatkan dari berbagai media baik itu media massa konnvensional (tv, radio, koran) maupun media massa online seperti internet dan media sosial. Seperti yang diketahui, salah satu tugas praktisi Public Relation (PR) yaitu menyebarkan infromasi yang dibutuhkan oleh masyarakat yang memiliki kebutuhan akan informasi yang lebih mengani suatu realitas yang ada atas sebuah organisasi/perushaan. Maka dari itu, penyampaian pesan atau hal-hal mengenai media dan berita sangatlah penting bagi praktisi PR dalam menghasilkan produk berita yang berkualitas baik itu dari wartawan ataupun tim produksinya selain itu praktisi PR menjadi salh satu penyebar informasi yang baik kepada publik. Dimana dalam kasus ini berita itu sendiri memiliki pengertian sebagai kegiatan jurnalistik yang mengedepankan prinsip faktualitas, kaidah jurnalistik dan media relations. Seperti yang diketahui, salah satu tugas dari praktisi PR yaitu menghasilkan produk berita yang berkualitas agar berita yang dihasilkan layak muat dalam media massa dan bukan cuman sekedar news value selain itu wacana yang harus dibawakan oleh suatu berita haruslah memenuhi prinsip-prinsip objektivitas. Jadi, berita yang dihasilkan oleh praktisi PR harus mencapai prinsip-prinsip objektivitas agar dapat menghasilkan berita yang berkualitas tinggi. Terdapat 4 dimensi objektivitas berita, yaitu (Kriyantono, 2016):

  1. Faktualitas

Nyata (faktual), yakni informasi tentang sebuah fakta (fact), bukan fiksi atau karangan. Fakta dalam dunia jurnalistik terdiri dari kejadian nyata (real event), pendapat (opinion), dan pernyataan (statement) sumber berita. Dalam unsur ini terkandung pula pengertian sebuah berita harus merupakan informasi tentang sesuatu dengan keadaan sebenarnya atau laporan mengenai fakta sebagaimana adanya. Faktual atau biasa kita sebut benar (truth). Berita harus benar karena pristiwa yang diberitakan harus benar nyata terjadi atau bersifat faktual yang berarti terdapat fakta-fakta yang mendukung kebenaran berita tersebut. Sebuah berita juga harus memisahkan antara fakta dan opini wartawan agar tidak adanya subjektivitas yang terdapat pada berita tersebut. Selain itu, berita yang disampaikan juga harus lengkap atau mengandung 5W+1H (what, who, when, why, where dan how). Berita juga harus relevan yang berarti dampak yang dihasilkan kepada masyarakat dari berita tersebut perlu diperhatikan, apakah berita tersebut memiliki aspek yang negatife atau memiliki aspek yang lebih informatif.

  1. Imparsialitas

tidak semua berita dapat berbicara sendiri. Sering terjadi, berita yang diliput dan dilaporkan media, hanya serpihan-serpihan fakta yang belum berbicara. Tugas media adalah membuat fakta yang seolah membisu itu menjadi dapat berbicara sendiri kepada khalayak pembaca, pendengar, atau pemirsa dalam bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. Untuk ini, redaksi menyajikan analisis berita, menyelenggarakan wawancara dengan para ahli, berbagai fenomena sama halnya dengan imparsialoitas dimana berarti berita harus bersifat seimbang (balance), tidak subjektif, bersifat netral, berita yang disampaikan jelas

  1. Sumber Kredibel

Sebuah berita yang didapatkan memiliki sumber yang valid dan dapat dipercaya agar semua informasi dapat bernilai benar. Sumber-sumber yang kredibel dapat terdiri dari sumber informasi primer (sumber informasi yang didiapatkan secara langsung dilapangan melalui indera pendengaran, penglihatan, penciuman, dan perasa). Kemudian sumber sekunder berupa studi literatur dan pustaka yang sudah terjamin sumbernya.

  1. News Values

Suatu berita haruslah memiliki sebuah nilai atau pesan yang ingin disampaikan dengan menggunakan struktur Bahasa yang benar dan tepat. Berita harus dapat menarik perhatian agar para pembaca dapat menikmati isi atau informasi-informasi yang disampaikan dalam berita tersebut. Contohnya ketika tren fashion sedang trend maka orang-orang akan lebih senang membaca sebuah berita mengenai trend fashion tersebut.

Dalam hal ini dimana terjadi perubahan sosial terutama dari segi pola komunikasi dan setiap orang dapat menjadi sumber informasi, sehingga dapat diketahui bahwa praktisi Publik Relations merupakan sumber berita. Hubungan Publik Relations dan media sangatlah berkaitan karena saling menguntungkan (symbiosis mutualisme). PR membutuhkan media dalam menyampaikan informasi sedangkan media membutuhkan praktisi PR dalam mendapatkan informasi-informasi yang dibutuhkan sesuai dengan 4 dimensi objektivitas agar berita yang disampaikan berkualitas. Secara sederhana fungsi PR dapat dianalogikan dengan tujuan komunikasi dalam berita. tujuan PR dapat terjadi apabila adanya Saling pengertian dimulai dari saling mengenal atau mengetahui satu sama lain. Baik mengenal kebutuhan, kepentingan, harapan, maupun budaya masing-masing dan hal ini dapat dituangkan dalam sebuah berita. Dengan demikian, aktivitas public relations harus menunjukkan adanya usaha untuk saling mengenal dan mengerti antara publik dan institusi berita. Sifat komunikasinya cenderung informatif yaitu dengan memberikan informasi kepada publik tentang organisasi, baik menyangkut isu-isu ataupun kegiaatan yang diadakan organisasi. Dan Untuk mencapai tujuan saling percaya, seorang PR harus menerapkan prinsip-prinsip komunikasi persuasif. Dengan ketulusan/kebaikan, seorang PR harus mampu mempersuasi publik untuk percaya kepada organisasi, sebaliknya juga organisasi untuk percaya kepada publiknya. Misalnya, hubungan dengan pers, seorang humas memberikan informasi kepada organisasi dan pers. Seorang humas harus mampu meyakinkan kedua belah pihak untuk dapat menerima dan menghormati kepentingan masing-masing. Selain itu juga harus mampu meyakinkan bahwa publisitas yang buruk merupakan suatu halangan bagi pihak organisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Kriyantono, R. (2016). Public Relation Writing. Jakarta: Kencana.

 

 

ANALISIS PUBLIC RELATIONS

March 26th, 2020

Nama: Aldi Aditya

NIM: 195120207111031

Kelas: D-2 Dasar-Dasar Public Relations

ANALISIS PUBLIC RELATIONS

1. Jelaskan mengapa PR mesti lebih fokus pada publisitas daripada iklan.

Secara umum periklanan bertujuan untuk memperkenalkan produk dan perusahaan. periklanan bersifat “one too mass” (satu arah dan nonpersonal), sulit memengaruhi secara personal.  iklan juga dinilai mempunyai kredibilitas rendah dibanding publisitas. hal ini disebabkan iklan yang bersifat menjual, dan mengutamakan sifat persuasif agar masyarakat tertarik untuk melakukan pembelian produk. Iklan juga tidak bersifat detail, karena ia tidak dapat menjelaskan produk dengan jelas dan lengkap, karena keterbatasan waktu dan ruang. dalam iklan juga tidak dijelaskan secara detail kelebihan dan kekurangan ataupun kecacatan suatu produk. publisitas bertujuan untuk menjadi sarana memperkenalkan produk dan perusahaan dengan cara mendukung fungsi marketing. ada juga strategi yang menggunakan konsep bercerita. ini kita jumpai dalam iklan “advetorial”, “testimoni”, dan iklan “adib” di radio. iklan testimoni adalah iklan yang menampilkan seseorang yang bercerita, seperti artis terkenal, tentang pengalamannya mengonsumsi prodyk yang diiklankan. iklan advertorial (adevrtising-editorial/advertising informasi) adalah iklan yang berbentuk cerita seperti berita pada umumnya. terkenal publisitas merupakan andalan public relation, namun bukan berarti public relation terbatas hanya pada aktivitas publik. publisitas hanyalah alat yang digunakan public relations untuk mendukug tujuan manajemen. (hal 49-52)

2. Iklan yang bagaimana yg mestinya dibuat PR? Jelaskan disertai contoh!

Dalam kegiatan Public Relations,  aktivitas yang dilakukan kerap kali menggunakan stratergi periklanan. Hal ini dilakukan seorang Public Relations dalam memelihara hubungan baik dan melakukan promosi sebuah organisasi/perushaaan yang dipegang. Sedangkan periklanan yang dilakukan oleh praktisi marketing yang menjual produk secara langsung dalam mencapai target. Dalam hal ini, dikenal dengan dua macam iklan, hard-selling dan seft-selling. Hard-selling yang merupakan penjualan produk secara langsung (product selling). Iklan ini terkadang dapat kita jumpai di banyak penjualan produk dan dapat dilihat dalam tampilannya yang biasanya bersifat persuasif. Contohnya seperti “belilah makanan ini”, “produk kami yang terbaik”, “segera dapatkan hadiah setelah membeli produk kami”.  Misalnya lagi seperti universitas yang beriklan tentang penerimaan mahasiswa baru atau produsen jamu yang menawarkan bermacam jamu yang bermanfaat untuk orang-orang.

Iklan soft-selling merupakan iklan yang memiliki tujuan yang berfokus pada kesan umum (image) yang akan diraih atau menjual citra korporat (corporate image selling). Meskipun yang diketuhui, pada akhirnya tujuannya ialah keuntungan, tetapi melalui penanaman citra korporat yang positif. Cara publikasi iklan beginilah yang seharusnya dipakai praktisi public relations. Meski iklan public relations ini tidak secara langsung merangsang konsumen, iklan public relations ini berfungsi mendukung streategi pemasaran perusahaan. (Riantono, 2016)

 

3. Prinsip utama PR adalah tell the truth. Jelaskan disertai contoh kaitan prinsip ini dg prinsip lainnya bahwa PR based on fact.

Biarkan publik tahu apa yang terjadi dan sediakan gambar yang akurat dari karakter ideal dan praktek lembaga. Segala kejadian maupun peritiwa yang terjadi di dalam lembaga pemerintahan, merupakan obyek perhatian publik. Mengapa? Karena lembaga pemerintahan merupakan lembaga yang berkedudukan di ruang publik. Artinya, setiap kegiatan maupun pekerjaan yang dilakukan, dilakukan atas nama publik dan demi kepentingan publik. Oleh sebab itu, publik memiliki hak tersendiri untuk mendapatkan informasi sedalam-dalamnya terkait dengan lembaga

Dengan tersampaikannya informasi kepada publik, diharapkan publik menjadi tahu pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan lembaga, sehingga kemudian dapat sampai pada tahap mendukung kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh lembaga tersebut..

Adapun kegiatan yang dapat dilakukan, melalui penyampaian informasi yang akurat dan sebenar-benarnya terkait dengan suatu isu atau peristiwa atau kejadian, bahkan kegiatan operasional sehari-hari. Berikan gambaran yang tepat, dan sediakan informasi yang dibutuhkan kepada publik. Dengan demikian, publik mengetahui apa yang terjadi, dengan sebenar-benarnya tanpa ada yang ditutupi. Kebutuhan mereka akan informasi yang benar terpenuhi, dan hubungan baik antara lembaga dengan publiknya dapat dijaga.

Informasi yang dimaksud, dapat berupa data statistik, dokumentasi atau apapun yang dapat berguna bagi publik luas. Informasi tersebut, kemudian disampaikan kepada publik, tanpa ditutupi, atau dengan kata lain, sampaikan informasi dengan sejujur mungkin. Untuk mendapatkan dukungan dari publik, karena publik dapat menangkap apabila lembaga melakukan kebohongan. Akibatnya, akan lebih fatal bila publik dapat menemukan kebenaran dari pihak lain, dan bukan dari lembaga itu sendiri. Kepercayaan publik terhadap lembaga akan luntur, mengarah pada hilangnya dukungan publik kepada lembaga. Hilangnya dukungan publik, akan menimbulkan kesulitan bagi lembaga pada saat harus melakukan kegiatan-kegiatan yang bersifat publik

 

4. PR harus mampu menulis berita. Jelaskan prinsip menulis berita berdasarkan prinsip objektivitas secara lengkap, disertai contoh!

Berita bersifat objektif, yang berarti baik tidaknya sebuah berita sesuai kaidah-kaidah jurnalistik. Objektivitas berita mencakup dua hal, yaitu:

a. Faktualisasi, berita harus berdasarkan fakta bukan karangan opini. Berita yang mengandung kebenaran (truth). Fakta dalam berita harus tetap dikonfirmasi ulang atau dicek kembali sebelum melakukan publikasi. Tidak mencamputi antara fakta dan opini wartawan dan berita yuang dipublikaiskan harus lengkap. Dalam berita, terkandung 5W+1H (what, when, why, where, dan who). Berita juga harus relevan dengan kondisi saat berita tersebut disebarkan .

b. Imparsialitas, berita tidak harusnya berpihak pada golongan tertentu dan harus lengkap dalam memberitakan sebuah berita atau peristiwa. Berita harus seimbang dalam pemberitaanya dan menceritakan sesungguhnya, tidak sepotong-sepotong. Berita harus netral yang dimaksudkan tidak memihak salah satu pihak yang memberikan opini pribadi wartawan.

Contoh: Anda bertanya apakah Ibu pulang, dan kakak menjawab pulang jam 1 padahal kakak belum tahu ibu akan pulanng jam 1 atau tidak. Konsep ini pertama kali dikenalkan oleh Westerthal. Konsep ini juga dikutip oleh Denis McQuail dalam buku Mass Communication Theory, 2000, Sage Publication, hlm. 200. 119

 

5. Agar publisitas sukses, perlu win the editior’s heart melalui media relations. Jelaskan strategi2 media relations yang bisa dilakukan PR!

Publisitas menjadi peluang bagi Public Relations untuk memanfaatkan media massa sebagai penyebar informasi dengan gratis. Namun juga menjadi tantangan. terdapat 2 faktor penentu publisitas, yaitu:

a. Faktor penulisan materi publisitas

Produk-produk public relations digunakan untuk sarana publikasi dan publisitas media. Materi publikasi informasi yang ditulis public relations adalah informasi yang akan dikirim ke media agar dimuat. Jika dimuat oleh media, maka disebut produk jurnalistik.

b. Kualitas hubungan media

Semakin baik kualitas hubungan antara public relations dan mdia, maka semakin besar peluang informasi dimuat. Pada dasarnya, sinergi antara public relations dan media bersifat simbiosis mutualisme, di mana media membutuhkan bahan-bahan informasi dari public relations dan sebaliknya.

DAFTAR PUSTRAKA

Kriyantono, Rachmat. (2016). Public Relations Writing. Jakarta: Kencana.

Lattimore, dkk. (2010). Public Relations: The Profession & The Practice. New York: Mc-Graw Hill.

Cutlip, Scott. M., Center Allen H. & Broom. Glen. M. (2011). Effective Public Relations. Jakarta: Kencana.

Hello world!

March 24th, 2020

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!