Gejala dan Tanda Penyakit

I. Gejala Penyakit

Kelainan/penyimpangan dari keadaan normal tanaman akibat adanya gangguan penyebab penyakit, dan gejala dapat dilihat dengan mata telanjang.

Berdasarkan sifatnya, ada 2 tipe gejala:

a). Gejala lokal -> Gejala yang dicirikan oleh perubahan struktur yang jelas dan terbatas. Biasanya dalam bentuk bercak  atau kanker.gejalanya terbatas pada bagian-bagian tertentu dari tanaman (pada daun, buah, akar)

1

Gambar 1. bercak daun disertai dengan hallo

b). Gejala sistemik -> Kondisi serangan penyakit yang lebih luas, bisanya tidak jelas batas batasnya. Contohnya adalah serangan oleh virus mosaic, belang maupun layu.gejalanya terdapat di seluruh tubuh tanaman (layu, kerdil)

2                        3

Gambar 2. Tanaman layu                            Gambar 3. Belang Pada Daun

 

BERDASARKAN BENTUKNYA GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN DIBAGI MENJADI GEJALA MORFOLOGI & GEJALA HISTOLOGI

A. Gejala Morfologi : gejala luar yang dapat dilihat & dapat diketahui melalui bau diketahui melalui bau, rasa dan raba; dapat ditunjukkan oleh dapat ditunjukkan oleh seluruh tumbuhan atau tiap organ dari  dari tumbuhan.

B. Gejala Histologi : gejala yang hanya gejala yang hanya dapat diketahui lewat pemeriksaan pemeriksaan mikroskopis dari jaringan yang sakit jaringan yang sakit.

Gejala histologi dapat dibedakan menjadi 3 tipe gejala:yaitu nekrosis,  hipoplasia dan hiperplasia.

1. Gejala nekrotik  : gejala  penyakit yang  ditandai dengan degenerasi protoplas diikuti dengan  matinya sel sel, jaringan, organ & seluruh  tumbuhan.(bercak, bintik, noda, hawar)

a. Gejala plesionekrotik : gejala nekrotik yang diekspresikan sebelum terjadi kematian protoplas

b. Gejala holonekrotik  : gejala nekrotik yang diekspresikan sesudah protoplas mati, misalnya busuk  umbi, busuk biji, dan rebah kecambah.

2. Gejala hipoplasia  : gejala timbul karena adanya hambatan atau kegagalan dari  tanaman/organ untuk berkembang secara penuh.   Gejala umum dari hipoplasia yaitu ukuran dibawah  normal dan warna yang pucat, misalnya kerdil , roset,  mosaik,  albinasi.

3. Gejala hiperplasia : gejala yang timbul karena  hasil  pertumbuhan  yang luar biasa ukuran atau perkembangan dini yang abnormal dari organ tumbuhan misalnya keriting, membengkoknya tajuk atau menggulungnya daun karena pertumbuhan yang berlangsung pada satu sisi, puru, kudis

Contoh gejala Nekrosa

Bercak daun -> lesio setempat karena kerusakan/kematian sel (berwarna coklat, hitam atau abu-abu keputihan)

Bentuk bercak: bulat, lonjong, bintik garis-garis, bilur, lingkaran-lingkaran sepusat (bercak papan sasaran)

Kadang-kadang bercak dikelilingi oleh jalur klorotik/kuning yang disebut halo (kalang)

Hawar -> perubahan warna dan mengering serta meluas dengan cepat pada daun, tunas, dahan, ranting, bunga dan lai-lain

4

Gambar 4. Hawar daun

 

Kanker -> luka setempat, mengering dan cekung yang dikelilingi kalus pada kulit batang, cabang, dahan dan akar (umumnya pada tanaman berkayu)

5                                      6

Gambar 5. Kanker leher batang                               Gambar 6. Kanker batang

 

Mati ujung/pucuk (Dieback) -> kematian secara intensif pada ranting dan cabang yang dimulai dari ujung-ujungnya menuju ke pangkal-pangkalnya.

Busuk akar/pangkal batang -> Disintegrasi/pembusukan pada sistem perakaran/pangkal batang

Rebah kecambah (Damping-off) ->Kematian sangat cepat pada kecambah yang sangat muda di pesemaian (umumnya akibat serangan jamur tular tanah)

7

Gambar 7. Rebah kecambah ( Damping off )

Bila kecambah mati setelah muncul di permukaan tanah disebut rebah kecambah pasca tumbuh

Bila kecambah mati sebelum uncul dipermukaan tanah disebut rebah kecambah pratumbuh

 

Klorosis -> Kerusakan/kematian kloroplas menyebabkan warna hijau berubah warna kuning

klorosis

Gambar 8. klorosis

 

Contoh-contoh gejala hiperplasia

Akar gada -> pembesaran pada bagian-bagian tertentu dari akar akibat terjadinya bintil-bintil yang saling menyatu (penyakit akar gada pada akar kubis oleh jamur Plasmodiophora brassicae )

Kelenjar (galls) -> pembengkakan setempat berupa bisul-bisul atau bintil-bintil pada batang, ranting atau daun (penyakit kelenjar pada batang tanaman berupa matahari/crown galls oleh bakteri Agrobacterium tumefaciens )

Akar Gada (Plasmodiphora brassicae) Gall (Agrobacterium tumefaciens)

9

Gambar 9. Puru Akar

 

Sapu setan (Witches’s broom) -> timbulnya banyak tunas tidur pada ketiak sehingga merupakan ranting-ranting yang rapat seperti sapu

10

Gambar 10. Sapu setan pada kacang tanah

 

Kutil (Warts) -> kutil-kutil yang menonjol (jendul) pada akar-akar umbi

Contoh-contoh gejala hipoplasia

Kerdil (atropi/stunt) -> terhambatnya pertumbuhan pada bagian-bagian tumbuhan (bagian-bagian tersebut ukurannya lebih kecil dari biasanya)

Katai (dwarf) -> ukuran seluruh tanaman mengecil tanpa perubahan proporsi dari bagian-bagian tumbuhan

Klorosis -> tidak tebentuk/kurang berkembangnya klorofil sehingga daun-daun menjadi kuning atau terjadi mosaik dengan warna campuran hijau, hijau muda, kuning agak putih (penyakit-penyakit virus)

11

Gambar 11. mosaik

 

Vein banding -> bila pada daun hanya bagian-bagian sekitar tulang daun yang berwarna hijau

Vein clearing -> bila hanya bagian-bagian daun di sekitar tulang daun yang menguning

Etiolasi -> bila tumbuhan kekurangan cahaya, tumbuhan tumbuh memanjang (kurus) dengan daun-daun sempit dan pucat

 

Penamaan penyakit tumbuhan

Nama umum penyakit banyak diberi nama sesuai dengan gejalanya -> penyakit karat, penyakit layu, penyakit kudis, penyakit kanker dan lain-lain

 

II. Tanda Penyakit

Semua struktur patogen yang terdapat pada permukaan tanaman yang dapat dilihat secara makroskopis (khusus pada penyakit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri)

Tanda penyakit meliputi:

Miselia, kumpulan konidia dan konidiofor, sklerotia, basidiokarp dan lendir bakteri

 

Contoh-contoh tanda penyakit

Misilea

Jamur Sclerotium rolfsii pada kacang-kacangan (kacang tanah) membentuk miselia seperti bulu/kapas putih pada permukaan akar, pangkal batang dan permukaan tanah seputar tumbuhan terinfeksi atau berupa anyaman miselia pada permukaan daun

12

Gambar 12. busuk buah oleh fungi

 

Sklerotia

Gumpalan/bulatan massa hifa yang menebal dan menempel pada batang atau pada permukaan tanah atau terapung di permukaan air di sekitar tumbuhan yang terinfeksi (sklerotia pada batang padi yang terserang jamur Rhizoctonia solani)

 

Basidiokarp

Pada serangan lanjut, jamur Ganoderma & Rigidoporus membentuk baidiokarp (berbentuk kipas tebal dan banyak pori-porinya) pada permukaan akar /pangkal batang tumbuhan berkayu

 

Kumpulan konidia dan konidiofor (pada penyakit karat/tepung)

Kumpulan konidia dan konidiofor terlihat seperti karat atau tepung pada permukaan daun.

Penyakit karat pada daun jagung yang disebabkan oleh jamur Puccinia polysora

Penyakit embun tepung pada daun jagung (bulai ) yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis

Konidia dan konidiofor Puccinia polysora Konidia dan konidiofor Peronosclerospora maydis

 

Diagnosis Penyakit Tumbuhan

Diagnosis penyakit tanaman: untuk menentukan macamnya penyakit tanaman dengan tepat dan cermat

 

DIAGNOSIS

Diagnosis penyakit tanaman didasarkan kepada Tanda: miselia, kumpulan konidia/konidiofor, sklerotia, lendir bakteri Gejala Luar Dalam Umumnya langsung dapat menentukan penyebab penyakit, sifat-sifat dan pengendaliannya

Alat bantu diagnosis penyakit tanaman menular : ? Loop ? Mikroskop ? Media biakan (untuk patogen non-obligat) ? Buku indeks penyakit tanaman ? Buku seri kompendium ? Buku-buku mikologi, bakteriologi, virologi dll . Diagnosis Penyakit menular (biotik) Penyakit tidak menular (abiotik)

13

Gambar 13. busuk buah oleh bakteri

 

Diagnosis penyakit tanaman tidak menular dilakukan dengan cara berikut:

Memakai buku-buku manual/bergambar tentang gejala kekurangan/kelebihan unsur hara, cahaya, polusi dll.

Untuk kekurangan unsur hara dilakukan dengan analisa kimia tanah/tanaman

Meniru faktor lingkungan yang dicurigai sebagai penyebab penyakit

Penetuan patogen penyebab utama penyakit pada tanaman dilakukan dengan Postulat Koch.

 

Langkah-langkah Kerja Postulat Koch

1. Patogen harus selalu didapatkan berasosiasi dengan tanaman yang sakit

2. Patogen dari tanaman sakit harus dapat diisolasi dan ditumbuhkan pada media biakan murni.

3. Patogen yang tumbuh pada biakan murni harus dapat direinokulasikan pada tanaman sejenis dan sehat, serta gejala yang timbul harus sama dengan tanaman sakit terdahulu (tanaman pada no.1)

4. Patogen pada tanaman sakit akibat reinokulasi harus dapat direisolasi dan dapat ditumbuhkan pada biakan murni. Patogen yang dapat tumbuh pada biakan murni ini harus memiliki karakteristik yang tepat sama dengan patogen pertama yang diisolasi.

 

Pengukuran penyakit tumbuhan

Berat-ringannya suatu penyakit pada tumbuhan dapat diukur dengan cara-cara sebagai berikut (sesuai kebutuhan)

1. Keterjadian penyakit (Disease incidence)

KP = A X 100 %

——————

A + B

 

KP : Keterjadian Penyakit

A: Jumlah tumbuhan atau bagian tumbuhan yang sakit

B: Jumlah tumbuhan atau bagian tumbuhan yang sehat

 

2. Keparahan Penyakit (Disease Severity)

n

S = S (?i x ?i)

i=0

N x Z x 100 %

Keterangan :

S: keparahan penyakit

?i: jumlah tanaman atau bagian tanaman dengan kategori ke-i

?i: skala kategori serangan ke-i, yaitu:

_________________________________________________________

Skala Skor penyakit *)

0 = tidak ada serangan

1 = 0 –25%       permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang

2 = >25 –50 %  permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang

3 = >50 –75%   permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang

4 = >75 –100% permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang

_________________________________________________________

N : jumlah seluruh tanaman atau bagian tanaman yang diamati

Z : nilai skala kategori serangan tertinggi.

*) : besarnya skor penyakit dapat dibuat sesuai kebutuhan

Kehilangan hasil (yield loss)

KH = P- Y x 100 %

P

KH : Kehilangan hasil

P : Potensi hasil sebenarnya

Y: Hasil yang didapat

 

Bagaimana Menemukan Kehadiran Patogen

Kehadiran patogen menjadi sesuatu yang sangat penting sebagai bukti. Kehadiran patogen dapat diketahui secara langsung dan tidak langsung. Patogen-patogen yang berukuran makroskopis di permukaan jaringan seperti badan buah jamur berukuran besar. Dalam beberapa hal diperlukan lup kecil untuk melihat kehadiran struktur patogen. Dalam banyak kasus patogen berukuran mikroskopis, sehingga untuk melihat kehadirannya mikroskop seperti kebanyakan jamur dan bakteri. Jamur dan bakteri sebelum dilihat dibawah mikroskop sering harus diisolasi terlebih dahulu. Virus dan viroid, kehadirannya dilihat dibawah mikroskop elektron. Dalam perkembangannya deteksi patogen memanfaatkan hasil penemuan pada berbagai bidang ilmu dasar sebagai contoh adalah serologi dan uji DNA

 

1. Langsung pada Permukaan Tanaman

Beberapa patogen yang makroskopis strukturnya dapat dilihat secara langsung pada permukaan tanaman. Golongn gulma seperti tali putri yang menginfeksi banyak tanaman pagar seperti teh-tehan; gulma setan yang menginfeksi tanaman jagung; dan benalu yang banyak menginfeksi pepohonan merupakan contah yang jelas. Beberapa jamur juga menampakan struktur makroskopis pada permukaan pangkal batang pohon yang diserang seperti jamur akar putih pada karet dan jamur lingsi pada pangkal batang kelapa sawit dan berbagai jenis pepohonan

 

2. Menggunakan Lup / Kaca Pembesar

Beberapa patogen seperti penyebab penyakit karat pada daun dengan cara langsung hanya akan terlihat sebagai tonjolan-tonjolan kecil pada permukaan daun. Pada pengamatan dengan menggunakan lup, maka strukturnya akan tampak lebih jelas. Dengan menggunakan lup struktur patogen dapat diperbesar 10X. Hal ini cukup membantu dalam melihat struktur badan buah yang berukuran kecil.

 

3. Menggunakan Mikroskop cahaya

 

Kebanyakan patogen berukuran sangat kecil sehingga untuk pengamatannya perlu bantuan mikroskop. Patogen dapat secara lngsung diambil dari permukaan inang kemudian dilihat di bawah mikroskop. Pada permukaan tanaman yang bergejala ditempeli dengan selotip berwarna bening kemudian dilihat di bawah mikroskop. Dalam banyak hal sering digunakan cairan supaya benda tampak lebih jelas. Pada gelas preparat diberi setetes air. Dengan menggunakan jarum yang runcing bagian yang bergejala dikorek-korek, hasil korekan diletakkan pada tetesan air dan ditutup dengan gelas preparat, kemudian diamati di bawah mikroskop. Sering untuk menemukan patogen, jaringan tanaman perlu diperlakukan secara khusus sehingga patogen dapat hadir. Kebanyakan patogen golongan jamur memerlukan kelembapan yang tinggi, untuk itu jaringan perlu dilembabkan terlebih dahulu, baru kemudian diambil struktur patogennya untuk diamati. Sering struktur yang dijumpai hanya misellium, untuk itu perlu digunakan vitamin atau mineral tertentu supaya jamur dapat membentuk struktur yang dikehendaki dalam diagnosis. Misellium jamur Phytophthora akan dapat membentuk sporangium apabila diletakkan dalam liset tanah.

 

Dalam banyak kasus, pada jringan yang bergejala sulit dijumpai, baik miselium maupun struktur lain. Apabila hal ini terjadi, maka diperlukan langkah isolasi. Isolasi perlu difahami merupakan langkah untuk mendapatkan struktur patogen secara murni. Dengan demikian apabila ternyata yang diperoleh hanya koloni yang berupa misellium saja, maka diperlukan langkah-langkah perlakuan khusus sehingga struktur yang dikehendaki dapat muncul.

 

4. Menggunakan Mikroskop Elektron

Jasad sub-mkroskopis seperti virus dan viroid kehadirannya dapat diketahui dengan menggunakan mikroskop elektron. Mikroskop elektron dapat memperbesar obyek sampai ratusan ribi kali. Bagian-bagian jamur dan bakteripun akan nampak sangat jelas dengan menggunakan mikroskop elektron.

 

5. Menggunakan Reaksi Serologi

Reaksi serologi merupakan reaksi antara antigen dan antibodi. Antigen adalah semua zat (dapat merupakan bagian patogen) yang dapat mengimbas terbentuknya antibodi dalam tubuh mamalia. Antibodi hanya dapat bereaksi dengan antigen sehingga dapat terjadi koagulasi atau presipitasi. Saat ini dikenal ada dua tipe antibodi, yaitu antibodi poliklonal dan monoklonal. Antibodi monoklonal dapat secara sensitif mendeteksi kehadiran strain patogen tertentu. Dengan memiliki antibodi yang diimbas oleh antigen yang berasal dari patogen tertentu, maka kehadiran patogen pada suatu bahan dapat dideteksi secara cepat dan akurat. Saat ini tehnik eliza banyak digunakan dalam reaksi serologi.

 

Dasar Dasar mendiagnosa suatu penyakit tanaman harus dipahami

• Penyebab penyakit/patogen yang berbeda dapat  menimbulkan gejala yang sama pada inangnya.

• Tanda penyakit dapat menambah kepastian suatu diagnosis, tetapi perlu dipertimbangkan pula kemungkinan adanya patogen sekunder atau saprofit yang menyerang bagian tanaman yang terinfeksi. Sehingga kesalahan diagnosa dapat diminimalisir

 

Reference :

desyrahayuningsihyahoocoid.blogspot.com

fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-3.htm

hutdopi08.blogspot.com

mukegile08.wordpress.com

student.ut.ac.id/repository/index.php?act

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>