Jun

03

Posted by : ai | On : 3 June 2017

Seringkali kita mendengar istilah “backlink” dalam dunia internet marketing. Lalu, apa sih pengertian backlink bagi pemula di dunia website?

Backlink bisa diibaratkan sebagai rekomendasi dari suatu website ke website lainnya. Backlink akan berpengaruh terhadap nilai SEO (Search Engine Optimization) pada suatu website. Memang tidak ada patokan yang jelas berapa kekuatan backlink terhadap nilali SEO. Namun demikian, para penggiat SEO sangat yakin bahwa backlink yang bagus akan mendongkrak posisi SERP (Search Engine Result Position).

Bentuk backlink adalah berupa tautan atau link atau hyperlink dari website asal. Tautan ini diarahkan ke website yang direkomendasikan.

Kriteria Backlink Bagus

Tidak semua backlink akan memberikan nilai yang tinggi ke suatu website. Bahkan, backlink dengan tipe Spam backlink bisa merontokkan posisi SERP suatu website.

Nah, berikut ini beberapa kriteria backlink yang bagus:

  1. Bersumber dari authority website
    Authority website adalah situs web yang sudah mendapat kepercayaan di mata mesin pencari (eg. Google, Yahoo, Bing). Contoh dari authority website ini antara lain: Detik.com, Kapanlagi.com, Kompas.com, ugm.ac.id, ub.ac.id. Mudahnya, authority website bisa diartikan sebagai website besar yang terpercaya.
    Adapun ciri-ciri dari authority website antara lain (bisa tunggal atau gabungan ciri ini):

    1. Memiliki usia yang cukup tua
    2. Memiliki konten terindeks yang cukup banyak
    3. Memiliki banyak konten yang menempati posisi SERP yang bagus
    4. Terkadang domain berupa domain pendidikan (.edu, ac.id) atau pemerintah (.gov, .go.id)
    5. Memiliki pengunjung yang banyak
  2. Memiliki niche yang sama
    Niche bisa diartikan sebagai jenis atau tema pembahasan. Backlink dari website yang memiliki niche atau pembahasan yang sama, dipercaya memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan backlink dari website tidak se-niche.
    Misalnya jika website Anda berupa website pertanian, silakan cari backlink yang berasal dari website yang membahas masalah pertanian lainnya.
  3. Terletak di artikel
    Posisi penempatan backlink di website perekomendasi juga dipercaya mempengaruhi nilai suatu backlink. Backlink yang terletak di artikel atau content, dipercaya memiliki nilai yang bagus dan lebih natural dibandingkan di tempat lain.
  4. Bersifat natural
    Backlink yang terlihat natural di mata mesin pencari akan memberikan efek aman dari penalti oleh mesin pencari. Jika backlink yang diberikan sangat banyak dalam waktu singkat (siram backlink), akan  memicu alarm dari mesin pencari dan bisa terindikasi spam. Oleh karena itu, bijaksanalah dalam memilih strategi backlink untuk website Anda.
  5. Keragaman anchor text
    Anchor text bisa diartikan sebagai teks di mana tautan diberikan. Dengan menggunakan anchor text yang beragam, akan membuat backlink lebih terlihat natural.
    Jenis anchor text ini ada yang berupa naked url, brand, keyword, atau lainnya. Jika ada kesempatan, kapan-kapan kita akan bahas jenis anchor text ini.

Adapun beberapa hal lain yang harus dipahami oleh pemula internet marketing mengenai backlink adalah:

Lokasi atau Tempat Backlink

Lokasi backlink dipercaya memiliki pengaruh yang berbeda terhadap nilai SEO. Kita akan bahas nanti ya.

Jenis dan Persentase Anchor Text yang Bagus

Kita akan bahas nanti juga (nunggu ada waktu, hehe)

Jasa Backlink yang Bagus dan Terpercaya

Kita akan bahas lain kali juga.

 

Jun

04

Posted by : ai | On : 4 June 2014

 

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH

UJI MUTU FISIK

logo FP

Oleh:

 

Nama             : Annisa Istiqomah

NIM               : 125040200111179

Kelompok      : Senin, 11.00 WIB

Asisten           : Intan Ratri Prasundari

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

 

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

a. Tabel Hasil Uji Kemurnian Benih

Komponen

Berat (g)

Presentase (%)

Gandum

Kedelai

Gandum

Kedelai

Benih Murni (BM) 27,66 28,02 92 % 92%
Benih Tanaman Lain (BTL) 0,05 1,12 0,1% 3%
Kotoran Benih (KB) 2,11 1,17 7% 3%
Total 29,82 30,31    

 

b. Tabel Hasil Berat 1000 Butir Benih

  • Ulangan A
  • Gandum
Metode A
Berat Benih Timbang (Y) 45,43
Jumlah Benih Timbang (X) 1000
Berat 1000 Butir (Z) 45,43

 

  • Kedelai
Metode A
Berat Benih Timbang (Y) 79,58
Jumlah Benih Timbang (X) 1000
Berat 1000 Butir (Z) 79,58

 

  • Ulangan B
  • Gandum
Metode B2
Ulangan 1 4,13
Ulangan 2 4,09
Ulangan 3 4,20
Ulangan 4 4,1
Berat 1000 Butir (Z) 41,375

 

  • Kedelai
Metode B2
Ulangan 1 8,25
Ulangan 2 8,1
Ulangan 3 8,4
Ulangan 4 8,28
Berat 1000 Butir (Z) 82,575

 

DOKUMENTASI

4.2 PEMBAHASAN

4.2.1 Uji Kemurnian Benih

Benih yang baik dan bermutu akan sangat menunjang dalam peningkatan produknya baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Pada umumnya benih yang sehat merupakan benih yang tidak terdapat penyakit. Biji hasil produk pertanian mempunyai dua fungsi yaitu untuk kebutuhan benih dan untuk kebutuhan pemenuhan kebutuhan pangan atau yang dikonsumsi. Dalam setiap biji yang masuk atau dapat digolongkan sebagai benih dan yang dikonsumsi harus memenuhi persyeratan tertendu dan harus dilakukan pengujian terhadap kelayakan biji tersebut (Kuswanto, 1997).

Pengujian kemurnian benih adalah pengujian yang dilakukan dengan memisahkan tiga komponen benih murni, benih tanaman lain, dan kotoran benih yang selanjutnya dihitung presentase dari ketiga komponen benih tersebut. Tujuan analisis kemurnian adalah untuk menentukan komposisi benih murni, benih lain dan kotoran dari contoh benih yang mewakili lot benih ( Sutopo, 1998).

Berdasarkan data tabel hasil pengamatan pada uji kemurnian benih dapat diketahui bahwa pada biji gandum, benih murni yaitu sebesar 27,66 gram dengan memiliki presentase 92%. Untuk benih tanaman lain yaitu sebesar 0,05 gram dengan memiliki presentase 0,01%. Untuk kotoran benih memiliki berat yaitu sebesar 2,11 gram dengan presentase 7%. Sehingga total berat gandum secara keseluruhan yaitu sebesar 29,82 gram.

Sedangkan pada biji kedelai , memiliki benih murni yaitu sebesar 28,02 gram dengan memiliki presentase 92%.Untuk benih tanaman lain yaitu sebesar 1,12 gram dengan memiliki presentase 3%. Untuk kotoran benih 1,17 gram dengan memiliki presentase 3%. Sehingga total berat gandum secara keseluruhan yaitu sebesar 30,31 gram.

Dari data diatas dapat diketahui bahwa pada kedua biji, kedelai maupun gandum memiliki presentase yang sama yaitu sebesar 92 %. Sehingga kedua biji belum dapat dikategorikan sebagai benih murni yang baik, sebab benih murni yang baik tersebut harus memiliki persentase sebesar 98 %. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Madison (2000), We have paid little attention to Pure Live Seed (PLS) in the Midwest because we have generally had high quality seed (greater than 90% germ and 98% purity). But the short forage seed supply has caused some low quality seed to come on the market. To avoid being caught paying market price for low quality seed take special care to check the seed tag and compare PLS among lots of seed to be purchased.

4.2.2        Berat 1000 Butir Benih

Uji bobot 1000 butir merupakan salah satu pengujian khusus yang mempengaruhi mutu fisik benih, benih yang diuji tersebut berasal dari benih murni. Penentuan berat untuk 1000 butir benih dilakukan karena karakter ini merupakan salah satu ciri dari suatu jenis benih yang juga tercantum dalam deskripsi varietas. Benih dapat dihitung secara manual dengan menggunakan sebuah spatula dan diletakkan pada sebuah tempat dengan warna permukaan kontras terhadap berwarna benih, kemudian jumlah benih tersebut ditimbang. Pekerjaan menghitung jumlah benih akan lebih mudah dengan alat penghitung automatik. Bila alat tersebut digunakan secara benar maka tingkat ketepannya adalah sekitar + 5 % (Sutopo, 2002).

Pada uji dengan metode bobot 1000 butir terdapat  dua ulangan, Metode A dan B. Berdasarkan data tabel hasil pengamatan pada metode A biji gandum memiliki berat yaitu sebesar 45,43 gram dan pada kedelai 79,58 gram. Sedangkan pada metode B biji gandum memiliki berat yaitu sebesar 41, 375 gram dan kedelai 82,572 gram. Dari data hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa pada biji kedelai memiliki berat benih yang lebih besar daripada biji gandum baik pada metode A maupun metode B, yaitu sebesar 79,58 gram dan 82,572 gram. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kadar air benih itu sendiri dan faktor human error (peneliti yang melakukan penimbangan berat).

Menurut Okiyo (2009) Varietal purity is also defined using 1000-grain weight. If the 1000-grain weight calculated from the sample departs from this, it may be an indication that the sample contains a mixture of varieties.

 

5. KESIMPULAN

            Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa pada uji mutu fisik biji kedelai maupun gandum memiliki presentase yang sama yaitu sebesar 92 % yang masih belum memenuhi kriteria untuk menjadi benih murni yang baik. Sedangkan untuk uji bobot 1000 butir pada biji kedelai memiliki berat benih yang lebih besar daripada biji gandum baik pada metode A maupun metode B, yaitu sebesar 79,58 gram dan 82,572 gram.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kuswanto, H. 1997. Analisis Benih. Andi, Yogyakarta.

Madison. 2000. Pure live Seed. University of Wiconsin – Agronomy Departement

Okiyo, Teresa. 2009. Seed Quality. Rice Bank Company.

Sutopo, L. 1998. Teknologi Benih cetakan ke empat. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

 

Jun

04

Posted by : ai | On : 4 June 2014

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH

KADAR AIR

logo FP

Oleh:

 

Nama             : Annisa Istiqomah

NIM               : 125040200111179

Kelompok      : Senin, 11.00 WIB

Asisten           : Intan Ratri Prasundari

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL

  1. Tabel Pengamatan Metode Konvensional (Oven)

Benih

Ulangan 1 (%)

Ulangan 2 (%)

1 jam

1 jam

Gandum

49

37

Kedelai

15

22

 

b. Tabel Pengamatan Metode GMT

Benih

Ulangan 1 (%)

Ulangan 2 (%)

Gandum

15,41

15,4

Kedelai

13,1

13,2

 

DOKUMENTASI

 

4.2 PEMBAHASAN

4.2.1 Metode Oven

Kadar air adalah kandungan air yang ada pada benih. Kadar air dapat dicari dengan menghitung jumlah air yang hilang dari sample setelah dikeringkan. Kadar air benih merupakan salah satu komponen yang harus diketahui baik untuk tujuan pengolahan, maupun penyimpanan benih. telah diketahui bahwa kadar air mempunyai dampak besar terhadap benih selama penyimpanan. Kadar air benih merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap mutu benih. Kadar air benih sangat berkait erat dengan mutu fisik, fisiologis, dan patologis.

Berdasarkan data tabel hasil pengamatan untuk  uji kadar air benih pada metode oven dapat diketahui bahwa pada biji gandum ulangan pertama yaitu sebesar 49% dan ulangan kedua yaitu 37%. Pada biji kedelai ulangan pertama yaitu sebesar 15% dan ulangan kedua yaitu 22%.  Hal ini kemungkinan terjadi karena pada metode oven benih mengalami fluktuasi kadar air. Benih bersifat higroskopis sehingga dapat menyerap kembali uap air dari lingkungan pada saat pendinginan sampai kondisinya seimbang dengan lingkungan luar.

4.2.2 Metode GMT ( Grain Moisture Tester)

Sedangkan hasil pengamatan uji kadar air benih untuk metode GMT pada biji gandum ulangan pertama yaitu sebesar 15,41% dan ulangan kedua yaitu 15,4%. Pada biji kedelai ulangan pertama yaitu sebesar 13,2% dan ulangan kedua yaitu 13,1%. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa nilai kadar air untuk metode GMT pada ulangan pertama dan kedua memiliki hasil yang tidak berberda nyata. Hal ini dapat dipengaruhi oleh tingkat interaksi antara benih dengan lingkungan rendah sehingga pengaruh lingkungan dapat diminimalkan dan nilai kadar air menjadi leih rendah.

Menurut P.K Agrawal (2006), The use of moisture meters is a very convenient and rapid way for determining seed moisture content. The moisture meters should be calibrated for each species which should be carried out against the air-oven method. The calibrated meters are suitable for approximate determination of the moisture content. The meters work on the following: (1) Moisture meters where the seed is weighed by a built-in-balance and heated by an infra-red lamp or electric heating elements.(2) Moisture meters where the seed moisture is determ ined by their coductivity because moisture content is directly proportional to resistance (lIC) and the dielectric constant of the sample.

 

4.2.3 Perbandingan Metode Oven dengan Metode GMT

Berdasarkan data hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa nilai kadar air pada metode oven memiliki nilai lebih tinggi daripada metode GMT. Namun untuk akurasi dari kedua metode tersebut berbeda. Pada metode GMT diasumsikan memiliki akurasi lebih besar daripada metode oven. Karena pada metode oven memiliki selisih nilai kadar air yang besar pada tiap ulangan yang berbeda, sedangkan pada metode GMT selisih nilai kadar airnya tak jauh berbeda.

Hal ini sesuai dengan pendapat P.K. Agrawal (2006), oven method: In this method, seed moisture is removed by drying at a specified temperature for a specified duration. the moisture content is expressed as a percentage of the original weight (wet weight basis), It is the most common and standard method for seed moisture determination.

5. KESIMPULAN

Dari hasil praktikum dapat disimpulkan bahwa pada uji kadar air benih pada metode oven dapat diketahui bahwa pada biji gandum ulangan pertama yaitu sebesar 49% dan ulangan kedua yaitu 37%. Pada biji kedelai ulangan pertama yaitu sebesar 15% dan ulangan kedua yaitu 22%. Sedangkan untuk metode GMT pada biji gandum ulangan pertama yaitu sebesar 15,41% dan ulangan kedua yaitu 15,4%. Pada biji kedelai ulangan pertama yaitu sebesar 13,2% dan ulangan kedua yaitu 13,1%. Berdasarkan data hasil pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa nilai kadar air pada metode oven memiliki nilai lebih tinggi daripada metode GMT.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agrawal, P.K. 2006. Moisture Determination.  Dr J E Egleton Tel: 01775 711800 Lavender Lodge 81 Pinchbeck Road Spalding, LincsPE11 1QF

Sutopo, L. 1998. Teknologi Benih cetakan ke empat. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

 

 

 

May

30

Posted by : ai | On : 30 May 2014

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH

“Kultur Jaringan”

 

 logo FP

 

Oleh:

 

Nama           : Annisa Istiqomah

NIM             : 125040200111179

Kelas            : C

Kelompok   : Senin, 11.00

Asisten         : Intan Ratri Prasundari

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kultur  jaringan atau yang biasa disebut kultur in vitro merupakan suatu metode untuk mengisolasi bagian tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ serta menumbuhkannya dalam kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman utuh kembali. Dasar pemikiran teknik kultur jaringan adalah teori totipotensi sel, yaitu kemampuan sel tumbuhan membentuk tanaman lengkap bila ditempatkan dalam lingkungan yang sesuai. Umumnya sifat totipotensi lebih banyak dimiliki oleh bagian tanaman yang masih muda dan banyak dijumpai pada daerah meristematik. Keunggulan dari sistem kultur jaringan tanaman adalah dapat menghasilkan tanaman dalam jumlah yang banyak dalam waktu yang singkat, bebas hama dan penyakit serta identik dengan induknya.

Tanaman mawar merupakan salah satu tanaman hias yang banyak diminati masyarakat. Permintaan konsumen terhadap bunga mawar yang terus meningkat, telah memacu para petani dan pengusaha bunga hias terutama mawar terus meningkatkan produksinya. Permintaan tersebut ternyata tidak hanya tertuju pada kuantitas saja, melainkan juga jenis dan kualitas bunga. Kendala petani mawar dalam sistem produksi mawar yaitu kurang tersedianya bibit bermutu, rendahnya daya adaptasi varietas introduksi terhadap kodisi lingkungan fisik indonesia serta keterbatasan penggetahuan tentang teknik budidaya. Perbanyakan tanaman mawar secara vegetatif dengan teknik kultur jaringan menggunakan batang tanaman yang dipotong sesuai dengan nodus. Dalam praktikum ini akan dibahas mengenai kultur jaringan, mulai dari pembuatan media hingga inokulasi batang tanaman mawar.

1.2  Tujuan

–             Mengetahui dan mempraktekkan cara pembuatan media perbanyakan

–             Mengetahui dan mempraktekkan isolasi dan inokulasi eksplan

–             Mengidentifikasi masalah-masalah dalam inokulasi ekplan

 

 

 

  1. II.    TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1  Pembuatan Larutan Induk

Media kultur merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perbanyakan tanaman secara kultur jaringan. Beberapa macam media yang digunakan adalah Murashige and Skoog, Knudson dan Vacin and Went. Berbagai komposisi media kultur telah diformulasikan untuk mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang di kulturkan. Media yang di gunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu di perlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Media yang digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.

Larutan induk adalah larutan yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan dasar media tanam in vitro yang terdiri dari senyawa makro, senyawa mikro, senyawa besi, vitamin, serta zat pengatur tumbuh (ZPT). Larutan induk yang digunakan adalah media MS atau Murashige dan Skogg yang terdiri dari beberapa unsur, antara lain, makronutrien, mikronutrien, vitamin, dan zat besi.

(Suryowinoto 1991)

2.2       Jenis-jenis media pada kultur jaringan

Media biakan pada kultur Jaringan tidak berbeda jauh dengan media tanah untuk media konvensional. Media yang akan dipergunakan harus mengandung unsur unsur yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman yakni unsur makro, unsur mikro, unsur vitamin dan zat pengatur tumbuh. Media kultur jaringan sangat banyak jenisnya, dimana tiap tiap jenis media tersebut cocok bagi jenis tanaman tertentu pula. Jenis media kultur jaringan :

  1. Media Knop : Untuk menumbuhkan kalus, kultur kalus biasanya ditumbuhkan pada media konsentrasi garam yang rendah seperti kultur akar.
  2. Media White : Dikembangkan Kuldeprant untuk keperluan kultur jaringan tumor bunga matahari, unsur tersebut lebih tinggi daripada yang dibutuhkan oleh kultur tembakau.
  3. Media Knudson dan Media Vaan and Went : Media ini dikembangkan untuk kultur anggrek. Penambahan 7,6mm NH4+ disamping 8,5mm NO3- sangat baik untuk perkecambahan dan pertumbuhan.

d. Media MS : Perbaikan komposisi media skoog terutama kebutuhan garam organik yang mendukung pertumbuhan optimum pada kultur.

  1. Media BS : Untuk kultur jaringan kalus kedelai dengan konsentrasi nitrat dan amonium lebih rendah dari media MS.
  2. Media Schenk dan Hildebrant (SH) : Media yang cukup terkena, untuk kultur kalus tanaman monokotil dan dikotil.

(Wardiyanti, 1998)

2.3  Penanaman/Isolasi dan Inokulasi Eksplan

Isolasi eksplan adalah pemisahan bahan yang akan ditanam pada media kultur. Isolasi eksplan merupakan perlindungan atau penyekata yang dilakukan pada bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan tanam pada sebuah media tanam atau plantlet (Hikka, 2011).

Inokulasi adalah kegiatan penanaman eksplan ke dalam botol kultur atau penanaman ulang eksplan pada media dengan jenis yang sama atau tahap pertumbuhan selanjutnya. Inokulasi bisa dilakukan  di dalam  laminar air flow cabinet  (LAFC). Sebelum digunakan, semua peralatan harus disterilisasi terlebih dahulu.  Tujuan utama dari tahap ini adalah mengusahakan kultur yang aseptic berarti bebas dari mikroorganisme (Prihandana dan Hendroko, 2006).

 

 

2.4  Aklimatisasi

Aklimatisasi bertujuan untuk mengadaptasikan tanaman hasil kultur terhadap lingkungan baru (di luar botol kultur) sebelum ditanam di lahan yang sebenarnya.  Pada tahap ini, plantlet atau tunas mikro dipindahkan ke lingkungan di luar botol, misalnya rumah kaca. Tahap ini merupakan tahap kritis karena kondisi iklim mikro di rumah kaca, sangat jauh berbeda dengan kondisi iklim mikro di dalam botol. Kondisi di luar botol berkelembaban nisbi jauh lebih rendah, tidak aseptik  dan tingkat intensitas cahayanya jauh lebih tinggi daripada kondisi di dalam botol. Sehingga planlet akan mengalami  hardening  yaitu  penyesuaian secara bertahap dari tanaman yang ditumbuhkan secara  in vitro  ke kondisi eksternal (Prihandana  dan Hendroko, 2006).

 

III. PEMBAHASAN

3.3  Pembuatan Media Perbanyakan (inokukasi penanaman)

3.3.1  Metode

12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3.2     Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai media yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa dari 10 botol media kultur tersebut tidak ada yang terkontaminasi. Hal ini ditunjukkan dengan media yang tidak berubah warna, berlendir maupun memiliki benang-benang halus (hifa).  Sehingga dapat diketahui bahwa media tersebut masih dalam keadaan steril. Hal ini dapat disebabkan pada saat pembuatan media semua peralatan dalam keadaan steril begitu juga dengan praktikan. Sebelum memulai pembuatan media, telapak tangan harus menggunakan alkohol agar kuman, debu, bakteri hilang sehingga media tidak akan terkontaminasi oleh bakteri. Dan juganya alat steril yaitu autoklaf yang digunakan untuk mensterilkan berbagai macam alat dan bahan yang digunakan dalam mikrobiologi menggunakan uap air panas bertekanan.

Menurut Rahardja (1995) yang menyatakan bahwa keberadaan kontaminan yang berasal dari spora maupun mikroba lainnya sangat sulit dihindari termasuk juga di dalam ruang kultur. Sterilisasi lingkungan penyimpanan juga sangat mempengaruhi. Oleh karena itu keberadaan botol tersebut dalam ruangan penyimpanan harus benar-benar diperhatikan dan juga dijaga.

Sedangkan menurut Ameeta Sharma danVasha Argawal (2012), berdasarka npenelitian dari India, unsur hara makro yang terdapat pada media MS yang digunakan antara lain (NH4)SO4, NH4NO3, KNO3, CaCl2.2H2O, MgSO4.7H2O, KH2PO4, dan NaH2PO4H3O; unsur hara mikro terdiri dari H3BO3, MnSO4H2O, ZnSO4.7H2O, KI, NaMoO4.2H2O, CuSO4.5H2O, CoCl2.6H2O; Fe khelat yang terdiri dari Na2 EDTA.2H2O dan FeSO4.7H2O; serta vitamin yang terdiri dari asam nikotinat, piridoksin HCl, tiamin HCl, glisin, Myo-inositol, sukrosa, dan BAP

 

 

 

 

 

3.4  Penanaman Isolasi dan Inokulasi

3.4.1         Metode

11

 

3.4.2        Hasil dan Pembahasan

3.4.3

Dokumentasi

% Eksplan yang hidup

% Kontaminasi

Keterangan

8 Mei 2014

100 %

0 %

 

Kondisi eksplan dan media masih sehat

9 Mei 2014

100 %

0 %

 

Kondisi eksplan dan media masih sehat

12 Mei 2014

0 %

100 %

Kondisi eksplan dan media terkontaminasi.

13 Mei 2014

0 %

100 %

Kondisi eksplan dan media terkontaminasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Perbanyakan tanaman mawar secara vegetatif dengan teknik kultur jaringan menggunakan batang tanaman yang dipotong sesuai dengan nodus. Batang yang digunakan adalah batang yang berada di dekat pucuk karena batang tersebut merupakan jaringan muda, sehingga aktif membelah. Pensterilan eksplan dilakukan tiga kali, yaitu dengan mengunakan detergen 15 %, fungisida Benlate, dan Bayclin 10 %. Eksplan yang telah diisolasi dibilas dengan air bersih yang mengalir. Untuk inokulasi atau penanaman eksplan dilakukan di dalam LAFC atau Laminar Air Flow Cabinet, dan sebelum ditanam pada media agar dibilas terlebih dahulu pada aquades steril, dan bagian yang terkena kontak dengan bahan-bahan kimia tersebut dipotong, dengan harapan media dan eksplan nantinya tidak terjadi kontaminasi.

Pengamatan dilakukan setiap 2 hari selama 7 hari dimulai sejak praktikum dilakukan pada tanggal 7 Mei 2014 sehingga pengamatan dilakukan pada 8 Mei, 9 Mei, 13 Mei dan 13 Mei. Pada tanggal 9 dan 10 Mei 2013 merupakan hari sabtu dan minggu sehingga laboratorium ditutup dan tidak dapat melakukan pengamatan.  Dari empat hari pengamatan, pada hari pertama dan kedua eksplan masih terlihat baik-baik saja, tetapi belum menunjukkan gejala-gejala tumbuhnya tunas dan akar, dan kontaminasi sebesar 0 %. Namun pada hari ketiga, eksplan terlihat roboh atau ambruk, dan menunjukkan gejala busuk karena bakteri. Pada hari keempat, keadaan eksplan makin parah karena kondisi ambruk dan busuk bakteri. Sedangkan untuk inisiasi pertumbuhan tunas dan akar tidak mengalami pertumbuhan hingga akhir pengamatan. Berbeda dengan pendaapat Stone (2006) yang menyatakan bahwa inisiasi tunas terjadi pada hari ketiga. Hal ini kemungkinan dikarenakan perbedaan komposisi media dan perbedaan nodus yang digunakan. Kemungkinan komposisi media yang dibuat terlalu encer, dan terjadi kesalahan dalam menginokulasi eksplan ke media tanam dalam botol kultur. Sehingga, kondisi eksplan yang ambruk atau roboh juga turut mempengaruhi penyebab hal tersebut terjadi. Selain itu kontaminasi ini juga bisa disebabkan oleh kesterilan alat yang kurang steril dan juga bisa disebabkan oleh bahan tanam yang juga kurang steril. Hal tersebut diketahui dengan perbandingan literatur (Thorpe, 1996) yang menyatakan bahwa ciri-ciri eksplan yang terkontaminasi adalah apabila kontaminan berupa jamur, akan terlihat koloni jamur, biasanya berwarna putih, abu-abu atau hitam, berbentuk seperti serabut, benang, atau kapas. Apabila kontaminan berupa bakteri, terlihat cairan berupa lendir berwarna putih atau merah. 

 

3.3 Pembuatan Stok Media MS

 

Pembuatan stok media yang telah digunakan adalah media Murashige dan Skogg. Media MS yang telah dibuat menggunakan unsur hara makro dan mikro, Fe-EDTA, vitamin, sukrosa 7.5 gr, casein hydrosilate 0.02 gr, dan agar 1.625 gr. Hal ini berbeda dengan Marlina dkk (2009), yang menggunakan bahan-bahan pembuatan media, seperti unsur hara makro dan mikro, vitamin, sukrosa, Fe khelat, ZPT sitokinin, agar 7 gr/ liter, sukrosa 30 gr/ liter.

 

3.4 Aklimatisasi

 

Setelah dihasilkan tanaman kecil (plantlet) yang cukup kuat untuk tumbuh, plantlet siap dikeluarkan, dipisahkan dan ditanami pada pot-pot penanaman.Selanjutnya pot dipindahkan ke green house agar terjadi proses penyesuaian secara bertahap pada kondisi alam (aklimatisasi).

Aklimatisasi adalah kegiatan pemindahan plantlet (tanaman kecil) dari media in vitro ke media in vivo (lingkungan sebenarnya). Proses pemindahan ini memerlukan keadaan yang mendukung agar plantlet tidak mengalami stress lingkungan. Eksplan yang telah disimpan pada ruang 3 selama kurang lebih 7 hari disterilkan terlebih dahulu dengan fungisida kemudian diaklimatisasi pada media tanah, pasir, dan kompos.

 

 

 

  1. IV.    KESIMPULAN

 

Kultur jaringan adalah kegitan kultur tanaman dengan menggunakan jaringan tanaman sebagai eksplan. jaringan tanaman yang dapat digunakan hampir dari semua bagian tanaman. Pada kegitan praktikum kali ini bagian tanaman yang dipakai adalah batang mawar yang ditanam pada media MS.

Faktor yang mempengaruhi kontaminan pada media kultur diantaranya adalah suhu, kondisi ruangan, teknik sterilisasi dan lain sebagainya sehingga mendukung dalam pembuatan media tersebut sehingga tidak terjadi kontaminasi. Kesimpulan dari praktikum kultur jaringan ini dengan eksplan tanaman mawar adalah kultur jaringan tersebut dinyatakan gagal. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

  • Terjadi kesalahan dalam pembuatan media, sehingga media terlalu encer
  • Dengan keadaan media yang terlalu encer, dapat mempersulit memposisikan eksplan dalam inokulasi ke media tanam dalam botol kultur jaringan sehingga kondisi eksplan tidak tegak miring yang tepat sesuai yang disarankan asisten
  • Kondisi posisi eksplan yang tidak tegak miring sesuai yang disarankan asisten menyebabkan eksplan roboh pada hari kedua HST
  • Robohnya eksplan menyebabkan busuk yang disebabkan oleh bakteri

 

 

  1. V.    DAFTAR PUSTAKA

Ameeta Sharma and Varsha Agrawal, 2012. TISSUE CULTURE ASPECTS OF ORNAMENTAL PLANTS, CIBTech Journal of Biotechnology ISSN: 2319–3859 (Online) An Online International Journal Available at http://www.cibtech.org/cjb.htm 2012 Vol. 1 (1) April-June 12, pp.40-48/Ameeta and Agrawal. India

Hikka. 2011. Kultur Jaringan Tumbuhan [Online], http:// hikkas favorites.blogspot.com . Diakses tanggal 22 Mei 2014

Marlina, dkk. 2009. Tissue Culture techniques for Horticultural Crops. Von Hostrand Reinheld. New York

Prihandana, R. dan R. Hendroko.  2006. Petunjuk budi daya jarak pagar. Jakarta : PT. Agromedia Pustaka.

Rahardja, 1995. Plant Cell Culture. New York: BIOS Science Publishers.

Suryowinoto, M. 1991. Budidaya Jaringan dan Manfaatnya. Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Stone, M. 2006.Propagation of miniature roses by plant tissue culture. Pages 239-263, inTested Studies for Laboratory Teaching, Volume 27 (M.A. O’Donnell, Editor). Proceedings of the 27th Workshop/Conference of the Association for Biology Laboratory Education (ABLE), 383 pages.

Thorpe. 1996. Plant Hormones and Plant Growth Regulators in Plant Tissue Culture. In Vitro Cell Dev. Biol. Plant 32: 272-289

Wardiyati, Titik dkk. 2013. Modul Pembiakan Vegetatif Tanaman Secara Kultur Jaringan. Malang : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

May

22

Posted by : ai | On : 22 May 2014

 

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH

“EKSTRAKSI BENIH”

 

logo FP

 

Oleh:

Nama               : Annisa Istiqomah

 NIM                : 125040200111179

Kelompok       : Senin, 11.00-12.40

    Asisten            : Intan Ratri Prasundari

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

 

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Perhitungan Kadar Air Benih

 

Tabel Hasil Pengamatan

Ulangan

Parameter Pengamatan

Kimia

Fermentasi

Ekstraksi kering Cabai 1

Ekstraksi kering Cabai 2

Mentimun

Tomat

Mentimun

Tomat

1

Bobot basah

1,17 gr

0,69 gr

0,81 gr

1,10 gr

1,26 gr

18,32 gr

Bobot kering

0,00 gr

0,09 gr

0,00 gr

0,04 gr

0,9 gr

0,13 gr

KA

100 %

86,96%

100 %

96,36%

28,57%

99,29%

2

Bobot basah

1,18 gr

0,63 gr

1,29 gr

15,13 gr

Bobot kering

0,03 gr

0,00 gr

1,04 gr

0,09 gr

KA

97, 46%

100%

19,38%

99,41%

 

4.2 Pembahasan

4.2.1    Pembahasan hasil ekstraksi kering

Pada ekstraksi kering, bahan yang digunakan yaitu biji cabai dengan jenis biji yang berbeda dan ulangan sebanyak dua kali. Berdasarkan hasil dari pengamatan diperoleh kadar air pada cabai 1 untuk ulangan pertama yaitu 28,57% dan ulangan kedua yaitu 19,38%. Sedangkan pada cabai 2 memiliki kadar air untuk ulangan pertama yaitu 99,29%dan ulangan kedua yaitu 99,41%. Peningkatan dan penurunan  kadar air pada bijicabai dipengaruhi oleh fluktuasi kelembaban relatif pada ruang simpannya.  Menurut Agrawal (1980), daerah tropis memiliki kelembaban relatif sekitar 65-100%, fluktuasi ini akan memberikan pengaruh negatif terhadap viabilitas benih pada periode penyimpanan. Disamping itu kelembaban relatif secara tidak langsung juga mempengaruhi mutu benih karena kelembaban relatif dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan cendawan penyimpan yang merupakan penyebab terbesar dalam penurunan mutu benih.

Mechlouch et al, (2012) menyatakan bahwadrying process using three methods: direct solar dryer (DSD), Open Sun Air Drying (OASD) and Microwave (MW) with three output power density (1w/g, 2w/g, 3w/g) and at different temperatures (57°C, 67°C) have a significant impact on the physico-chemical properties.

4.2.2    Pembahasan hasil ekstraksi basah metode kimia dan fermentasi

Pada ekstraksi basah, bahan yang digunakan yaitu biji mentimun dan tomat dengan metode yang berbeda, yaitu metode kima dan fermentasi, serta dilakukan pengulangan sebanyak dua kali.Berdasarkan hasil dari pengamatan diperoleh kadar air padaekstraksi basah perlakuan bahan kimia untuk biji mentimun pada ulangan pertama yaitu 100 % dan ulangan kedua yaitu 97, 46%. Untuk biji tomat pada ulangan pertama yaitu 86,96%. Sedangkan pada ekstraksi basah perlakuan fermentasi untuk biji mentimun pada ulangan pertama yaitu 100 % dan ulangan kedua yaitu100 %. Untuk biji tomat pada ulangan pertama yaitu  96,36%. Kondisi ini dipengaruhi oleh temperatur udara saat pengeringan dan kelembaban relatif udara. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Warianto (2011) bahwa temperatur udara, semakin tinggi temperatur udara makin cepat pengeringan. Sebaiknya temperatur untuk pengeringan benih diatur antara 950-1040C, temperatur yang terlalu tinggi akan merusak benih. Kelembaban nisbi udara, makin tinggi kelembaban nisbi udara makin lama pengeringan berlangsung. Aliran udara, angin mengangkut uap air dari benih sehingga mempercepat proses pengeringan.

Menurut Sutopo (1990), penentuan kadar air benih dari suatu kelompok benih sangat penting dilakukan. Karena laju kemunduran suatu benih dipengaruhi oleh adanya kadar airnya. Di dalam batas tertentu, makin rendah kadar air benih makin lama daya hidup benih tersebut. Kadar air optimum dalam penyimpanan bagi sebagian besar benih adalah antara 6% – 8%. Kadar air yang terlalu tinggi dapat menyebabkan benih berkecambah sebelum ditanam. Sedang dalam penyimpanan menyebabkan naiknya aktivitas pernapasan yang dapat berakibat terkurasnya habisnya bahan cadangan makanan dalam benih. Selain itu merangsang perkembangan cendawan patogen di dalam tempat penyimpanan. Tetapi diingat bahwa kadar air yang terlalu rendah akan menyebabkan kerusakan pada embrio.

Menurut Delouche (1974) bahwa pada suhu yang konstan tetapi kelembaban relatif berbeda maka kadar air keseimbangan akan menyesuaikan diri dengan udara sekitarnya, karena adanya perbedaan tekanan uap antara benih dan udara sekitar. Jika kadar air benih lebih rendah dari pada tingkat keseimbangannya dengan kelembaban relatif maka benih akan mengabsorbsi uap air dari udara sekitarnya, sebaliknya akan terjadi proses desorpsi jika kadar air benih lebih tinggi dari tingkat kelembaban relatifnya., sehingga uap air akan bergerak dari benih keudara sekitarnya

Sedangkan McComark (2004) menyatakan bahwa fermentation is a natural process that occurs to a small extent as fruits decompose. When fermentation is done in a controlled manner, the microorganisms, principally yeast, break down the gel thus releasing the seed while killing bacteria and fungi that cause most seed-borne diseases.  The temperature and length of fermentation are important. If the mash is not fermented long enough, seedborne diseases will not be eliminated, but if fermented too long, the seeds may sprout prematurely.  The length of the fermentation is dependent on temperature and typically last three days at a temperature of Length of fermentation may also depend on the variety itself. Soft fruits such as tomatoes are cut up, mashed, and then fermented.  Cucumbers and melons are cut in half, the seed scraped out along with the fruit pulp surrounding the seed, and then fermented.

4.2.3    Pembahasan perbandingan ekstraksi kering dan basah

Berdasarkan hasil kadar air pada ekstraksi kering dan ekstraksi basah, perbandingan antara keduanya yaitu pada ekstraksi basah dapat menurunkan berat biji lebih baik daripada ekstraksi kering baik dengan menggunakan metode kimia maupun metode fermentasi. Hal ini dapat dilihat dari pengurangan kadar air pada masing-masing perlakuan. Pengurangan kadar air dalam biji rata-rata mencapai >90% yang menunjukan jumlah kadar air dalam biji sebelum dilakukan proses ekstraksi. Sebab pada ekstraksi basah ini menggunakan biji dengan kadar air yang dikatakan tinggi dan biji masih diselimuti oleh lendir, yang mengindikasikan bahwa biji memerlukan perlakuan khusus yaitu dengan menggunakan ekstraksi kimia dan fermentasi. Dalam ekstraksi kimia atau fermentasi terdapat proses perendaman dengan HCl/KNO3dan perendaman dengan air yang bertujuan untuk memperlunak tesla biji masih tebal.Sedangkan untuk ekstraksi kering menggunakan biji kering tanpa ada lendir yang menyelimuti biji. Hal ini menunjukan bahwa tidak perlu perlakuan khusus dan langsung dapat dijemur setelah dicuci atau biasa disebut metode ekstraksi kering. Dengan biji yang digunakan tergolong kering dan sedikit kadar airnya maka berat biji dan dan kadar airnya hanya mangalami penurunan yang sedikit setelah proses ekstraksi kering. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gutie ´rrez et al.(2008)drying methods have different effects on microstructure and quality of dehydrated products.

 

 

5. PENUTUP

5.1       Kesimpulan

Dari hasil praktikum ekstraksi benih dengan menggunakan biji cabai, biji mentimun dan biji tomat didapat hasil perhitungan kadar air pada ekstraksi kering yaitu pada cabai 1 untuk ulangan pertama yaitu 28,57% dan ulangan kedua yaitu 19,38%. Sedangkan pada cabai 2 memiliki kadar air untuk ulangan pertama yaitu 99,29%dan ulangan kedua yaitu 99,41%. Sedangkan pada ekstraksi basah dengan perlakuan bahan kimia untuk biji mentimun pada ulangan pertama yaitu 100 % dan ulangan kedua yaitu 97, 46%. Untuk biji tomat pada ulangan pertama yaitu 86,96%. Sedangkan pada ekstraksi basah perlakuan fermentasi untuk biji mentimun pada ulangan pertama yaitu 100 % dan ulangan kedua yaitu100 %. Untuk biji tomat pada ulangan pertama yaitu  96,36%. Hal ini dipengaruhi oleh temperatur udara saat pengeringan dan kelembaban relatif udara.

5.2       Saran dan Kritik

Seharusnya jurnal yang digunakan untuk membandingkan hasil praktikum yaitu jurnal nasional (berbahasa Indonesia) saja, sebab jurnal internasional (berbahasa inggris) sangat sulit diperoleh. Secara keseluruhan proses belajar mengajar selama kegiatan praktikum telah berlangsung dengan baik. Mbak asistenya dapat membimbing kami dengan sangat baik, terima kasih banyak mbak Intan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Agrawal, R. L. 1980. Seed Technology. Oxford and IBH Publishing Co. New Delhi –

Bombay – Calcuta.

Delouche, J. C. 1974. Seed quality and Storage of Soybean. In . Soybean Production,

Protection, and Utilization. Proc. Of a Conference of Scientist of Africa, the Midle East and South Asia. Addis Ababa, Ethiopia.

McCormack, J. 2004. SEED PROCESSING AND STORAGE : Principles and practices of seed harvesting, processing, and storage: an organic seed production manual for seed growers in the Mid-Atlantic and Southern U.S. Garden Medicinals and Culinaries. Earlysville, USA.

Mechlouch, Ridha Fethi; Elfalleh, Walid; Ziadi, Manel; Hannachi, Hédia; Chwikhi, Mabrouka; Ben Aoun, Amira; Elakesh, Ismail; and Cheour, Foued (2012) “Effect of Different Drying Methods on the Physico-Chemical Properties of Tomato Variety ‘Rio Grande’,” International Journal of Food Engineering: Vol. 8: Iss. 2, Article 4. DOI: 10.1515/1556-3758.2678

Sutopo L, 1990. Teknologi Benih. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta

Warianto, C. 2011. TEKNIK PENYIAPAN BENIH TOMAT (Solanum lycopersicum).Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian Balai Litbang Teknologi Perbenihan Bogor.

May

22

Posted by : ai | On : 22 May 2014

 

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH

“PENGENALAN ANATOMI DAN MORFOLOGI BIJI TANAMAN DAN TIPE PERKECAMBAHAN”

 

logo FP

Oleh:

                        Nama               : Annisa Istiqomah

                        NIM                : 125040200111179

                         Kelompok       : Senin, 11.00-12.40

                              Asisten            : Intan Ratri Prasundari

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

 

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Materi I. Pengenalan Anatomi dan Morfologi Biji Tanaman (Berisi dokumentasi hasil pengamatan)

Materi II. Tipe Perkecambahan

Tabel 1. Panjang Tunas

Tipe Biji Hari
1 2 3 4 5 6 7
Monokotil 0 cm 0 cm 0 cm 0,3 cm 0,8 1,6 2,3 cm
Dikotil 0 cm 0 cm 0 cm 0 cm 0 cm 0 cm 0 cm

 

Tabel 2. Panjang Akar (diamati setelah 7 hari pengamatan)

Tipe Biji

Panjang akar (cm)

Monokotil (Jagung)

0,2 cm

Dikotil (Kacang tanah)

0 cm

 

Tabel 3. Dokumentasi Tipe Perkecambahan

4.2 Pembahasan

 

4.2.1 Struktur benih (Perbedaan masing-masing struktur benih dibandingkan dengan jurnal)

Dari hasil praktikum, terlihat bahwa terdapat perbedaan struktur benih antara benih monokotil dengan benih dikotil. Sampel subkelas monokotil pada praktikum kali ini adalah benih jagung, dimana terlihat morfologi jagung yang memiliki bentuk hilum yang lonjong dan berlokasi di bagian pangkal biji dan posisinya menonjol. Selain itu terlihat perbedaan warna yang membedakan antara embrio, endosperm, dan epicarp benih jagung, ketika benih jagung dibelah. Pada benih jagung terlihat ada endosperma berwarna putih yang menunjukkan memiliki kandungan pati lebih tinggi daripada endosperma yang berwarna kuning. Endosperm merupakan bagian terbesar yang berfungsi sebagai cadangan makanan bagi biji jagung. Posisi embrio terletak berdekatan dengan posisi hilum.

Hal ini sesuai dengan pendapat dari (MASISH, 2010) bahwa pada benih jagung terdapat seed coat, endosperm, koleoptil, plumule, radicle, coleorhiza dan embrio. Embrio tersebut terdiri atas kotiledon (skutellum) dan embryonic axis. Embryonic axis terdiri atas koleoptile, plumule, seminal roots (seperti jagung), radicle dan koleorhiza. Pada beberapa spesies yang termasuk serealia dan rumputan monocot seperti padi, gandum, sorgum, oats dan barley tidak terdapat seminal roots dan endosperm merupakan bagian yang terbesar. Endosperm dan embrio dibungkus oleh kulit biji

Sedangkan pada subkelas dikotil, benih kacang tanah merupakan sampelnya. Pada benih kacang tanah terlihat jelas selaput benih dan plumula yang menjadi bakal daun serta radikula yang menjadi bakal akar. Endosperm pada benih kacang tanah nampak sangat kecil, sedangkan kotiledonnya terlihat memiliki bagian paling besar. Hal ini menunjukkan bahwa kotiledonlah yg berperan sebagai cadangan makanan pada benih kacang tanah. Menurut Schadel (1983) the peanut seed cotyledon  contains three kinds of tissue: (1) epidermis (2) vascular and parenchyma. The epidermis consits of a layer of cells which covers the surface of the cotyledon. This epidermal layer is united by a thick cutin which is most abundant in the rounded, outer surface.

 

4.2.2 Tipe Perkecambahan (Perbandingan dengan Literatur)

Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan selama 7 hari, didapatkan data pertumbuhan pada masing-masing benih yang berbeda. Pada praktikum kali ini digunakan benih jagung sebagai sampel subkelas monokotil, sedangkan benih kacang tanah dipakai untuk sampel subkelas dikotil. Pada benih kacang tanah belum terlihat adanya proses perkecambahan mulai hari pertama hingga hari ketujuh.  Benih kacang tanah tersebut hanya mengalami perubahan warna yaitu, semula benih yang berwarna putih menjadi agak kekuningan. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu ketersediaan air, media tanam yang digunakan, gen dan nutrisi dalam benih tersebut. Media tanam yang digunakan dalam proses perkecambahan kali ini yaitu tanah dengan tekstur dominan pasir yang memiliki porositas besar sehingga tanahnya sulit menyimpan air. Kondisi tersebut dapat menyebabkan ketersediaan air dalam tanah semakin sedikit, apalagi jika benih tersebut jarang diberi air selama proses perkecambahan. Faktor di dalam benih tersebut juga mempengaruhi proses perkecambahan yang berangsung, seperti gen yang terkandung dalam benih tersebut serta nutrisi yang terdapat dalam benih itu. Menurut Pratiwi (2006), Di dalam gen terkandung faktor-faktor sifat keturunan yang dapat diturunkan pada keturunannya dan berfungsi untuk mengoontrol reaksi kimia di dalam sel, misalnya sintesis protein yang merupakan bagian dasar penyusun tubuh tumbuhan,dikendalikan oleh gen secara langsung.

Sedangkan Azhari (1995) menyatakan bahwa persediaan makanan dalam biji, hormon dan ukuran dan kekerasan biji juga mempengaruhi proses perkecambahan. Fungsi utama cadangan makanan dalam biji adalah memberi makanan kepada embrio maupun tanaman yang masih muda sebelum tanaman tersebut mampu memproduksi zat makanan sendiri. Memberikan kemampuan dinding sel untuk mengembang sehingga sifatnya menjadi elastis. Elastisitas dinding sel memungkinkan dinding sel bersifat permeable sehingga mempermudah imbibisi.Semakin besar dan semakin keras bijinya maka air akan sulit untuk masuk ke dalam biji sehingga imbibisi teerhambat.

Untuk tipe perkecambahan pada benih kacang tanah yaitu epigeal. Ciri-ciri benih kacang tanah yang normal yaitu kecambah utuh, bagian akar sekunder terlihat jelas, batang berkembang dengan baik dan  kotiledonya sempurna.

Sedangkan pada benih jagung mulai terlihat adanya proses perkecambahan saat hari keempat. Pada hari pertama hingga hari ketiga belum ada tanda-tanda perkecambahan dari benih jagung. Hal ini karena benih jagung tersebut masih mengalami proses fisiologis, seperti proses imbibisi. Hal ini sesuai dengan pendapat Sutopo (2002), bahwa benih akan mengalami proses imbibisi selama 4 jam pada awal-awal hari. Setelah itu terjadi proses respirasi hingga 8 jam kemudian akan mengalami puncaknya. Menurut Henderson (2006) bahwa biji dapat mengalami suatu perubahan morfologis seperti pembentukan akar/radikula, daun/plumula dan batang/hipokotil. Secara teknis, perkecambahan merupakan permulaan munculnya tumbuhan aktif yang menghasilkan pecahnya kulit atau permunculan semai/pucuk.

Pada hari keempat, terlihat adanya  proses perkecambahan pada benih jagung yang ditandai dengan tumbuhnya tunas sebesar 0,3 cm. Sedangkan pada hari kelima hingga hari ketujuh terlihat adanya  proses perkecambahan yang berupa pemanjangan tunas hingga sebesar 2,1 cm, sedangkan kotiledonnya tetap berada didalam tanah. Hal inilah yang menunjukkan bahwa tipe perkecambahan pada benih jagung yaitu hipogeal.

Tanaman jagung memiliki tipe perkecambahan hipogeal dimana munculnya radikel diikuti dengan pemanjangan plumula, hipokotil tidak memanjang ke atas permukaan tanah sedangkan kotiledon berada di dalam kulit biji di bawah permukaan tanah. Sewaktu perkecambahan pada jagung, kotiledon yang di sini disebut scutellum, tetap tinggal di dalam tanah. Scutellum berfungsi sebagai organ penyerap makanan dari endosperma dan menghantarkannya kepada embryonic axis yang sedang tumbuh (food-absorbing and food-transporting organ). Sewaktu perkecambahan, yang pertama kali keluar adalah radikel. Selanjutnya pada radikel ini keluar akar-akar cabang (lateral roots), bersama-sama dengan akar primer membentuk sistem akar primer. Sistem akar primer ini biasanya hanya berfungsi untuk sementara, dan kemudian mati. Fungsi sistem akar primer ini kemudian digantikan oleh akar-akar adventif yang keluar dari nodus batang yang pertama dan beberapa nodus di atasnya. Sistem akar adventif (akar serabut) inilah yang menjamin kehidupan tanaman teresbut selanjutnya dalam hal penyerapan air dan bahan makanan dari tanah dan sebagai alat penambat pada tanah.

Penyerapan air oleh benih dipengaruhi oleh sifat benih itu sendiri terutama kulit pelindungnya dan jumlah air yang tersedia pada media di sekitarnya, sedangkan jumlah air yang diperlukan bervariasi tergantung kepada jenis benihnya, dan tingkat pengambilan air turut dipengaruhi oleh suhu. Saat berlangsungnya perkecambahan, proses respirasi akan meningkat disertai dengan meningkatnya pengambilan oksigen dan pelepasan CO2, air dan energi panas. Terbatasnya oksigen yang dapat dipakai akan menghambat proses perkecambahan benih. Selain itu, faktor medium yang baik untuk perkecambahan haruslah memiliki sifat fisik yang baik, gembur, mempunyai kemampuan menyerap air dan bebas dari organisme penyebab penyakit terutama cendawan. Benih akan terhambat perkecambahannya pada tanah yang padat, karena benihakan berusaha keras untuk dapat menembus ke permukaan tanah.  Selain mediumnya, tingkat kedalaman penanaman benih juga dapat mempengaruhi perkecambahan benih (Ludwig, 2007).

 

KESIMPULAN

  1. Terdapat perbedaan antara struktur benih tanaman dikotil dan tanaman monokotil. Yang pada praktikum kali ini menggunakan sampel tanaman jagung untuk tanaman monokotil dan kedelai, kacang tanah dan kacang hijau untuk tanaman dikotil.
  2. Terdapat bagian-bagian calon/bakal tanaman di dalam benih, baik benih monokotil maupun dikotil, dimana terdapat pula endosperm yang mendukung kelangsungan embrio sebagai cadangan makanannya.
  3. Ada terdapat dua tipe perkecambahan yakni hipogeal dan epigeal. Jagung termasuk dalam hipogeal sedangkan kacang tanah termasuk dalam epigeal.
  4. Terdapat benih yang tidak berkecambah hal ini bisa disebabkan karena benih keras, benih hampa, benih tak berembrio dan benih rusak

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ashari, Sumaru.1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI Press ; Jakarta

Henderson, F.M. 2006. Morphology and Anatomy of palm seedling. The Botanical Review. New York.

Ludwig-Maximilians. 2007. Seedling Diversity and the Homologies of Seedling Organs in the Order Poales (Monocotyledons) Faculty of Biology, Institute of Systematic Botany, Menzingerstr. 67, D-80638 Munich, Germany

MASISH: Maize Seeds In Situ Hybridization Database.2010.(http://masish.uab.cat/masish/) diakses pada 23 Maret 2014

Pratiwi. 2000. Biologi. Erlangga; Jakarta

Sutopo, L. 2002. Teknologi Benih. Malang: Fakultas Pertanian UNBRAW.

 

 

 

Nov

21

Posted by : ai | On : 21 November 2013

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN

Pengolahan Lahan pada Tanaman Semangka (Citrullus  vulgaris)

 logo-FP-UB-dengan-dasar-hitam_emas

 

 

OLEH :

Annisa Istiqomah          (125040200111179)

Aris Muntiari Dewi        (125040201111113)

Alviani Tresna Putri U.  (125040201111332)

 

KELAS : C (AGROEKOTEKNOLOGI) 2012

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG

MALANG

2013

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

 

Buah yang banyak di gemari salah satunya adalah buah Semangka,selain rasanya yang segar dan banyak mengandung air,semangka juga mempunyai banyak khasiat,salah satunya yaitu dapat membersihkan dan menjaga kesehatan kulit. Namun umumnya semangka yang ada di masyarakat atau di pasaran rasanya kurang manis, mudah busuk, dan bentuknya pun kurang menarik (biasa).

Saat ini pembudidayaan buah semangka masih sedikit di lakukan oleh para petani di Indonesia. Padahal pada daerah-daerah maju,selain membudidayakan buah  yang unggul, semangka juga telah memiliki berbagai variasi rasa dan bentuk. Mereka telah menerapkan budidaya buah semangka, sehingga semangka yang di hasilkan menjadi lebih unggul,baik dari segi buahnya maupun dari segi penghasilan (ekonomi) yang di dapatkan. Hal pertama yang dilakukan dalam budidaya tanaman semangka yaitu pengolahan lahan. Untuk itu penulis ingin mengetahui bagaimana cara pengolahan lahan yang benar pada budidaya buah semangka tersebut. Sehingga dapat di harapkan kepada para petani Indonesia agar menerapkan cara pengolahan lahan yang benar pada budidaya buah semangka ini, demi kesejahteraan hidupnya dan masyarakat lainnya.

 

BAB II

          PENGOLAHAN LAHAN    

Berdasarkan literatur yang kami peroleh, cara pengolahan lahan yang benar adalah sebagai berikut :

  1. 1.      Persiapan Lahan

Bila areal bekas kebun, perlu dibersihkan dari tanaman terdahulu yang masih tumbuh.  Bila bekas persawahan, dikeringkan dulu beberapa hari sampai tanah itu mudah dicangkul, kemudian diteliti pH tanahnya.

 

  1. 2.      Pembukaan Lahan

Lahan yang ditanami dilakukan pembalikan tanah dan perataan tanah untuk menghancurkan tanah hingga menjadi bongkahan-bongkahan yang merata. Tahap penghalusan dan perataan bongkahan tanah pada sisi bedengan pada tempat penanaman semangka dilakukan dengan cangkul. Tunggul bekas batang/jaringan perakaran tanaman terdahulu dibuang keluar dari areal, dan juga segala jenis batuan yang ada dibuang, sehingga tidak mempengaruhi perkembangan tanaman semangka yang akan ditanam di areal tersebut.

 

  1. 3.      Pembentukan Bedengan

Tanaman semangka membutuhkan bedengan supaya air yang terkandung di dalam tanah mudah mengalir keluar melalui saluran drainase yang dibuat. Jumlah bedengan tergantung jumlah baris tanam yang dikehendaki oleh si penanam (bentuk bedengan baris tanaman ganda, bedengan melintang pada areal penanaman). Lebar bedengan 7-8 meter, tergantung tebal tipis dan tinggi bedengan (tinggi bedengan minimum 20 cm). Dengan jarak tanam untuk system tunggal yaitu 90-100 cm x 300 cm dan untuk system ganda yaitu 90-100 cm x 6-7 m (2 baris tanaman). Bila menanam pada musim hujan, maka jarak tanam maupun tinggi bedengan harus diambil yang paling besar. Terutama untuk tanah yang tak berpasir. Jarak antar tanaman minimal 100 cm, dengan lebar bedengan 3 m (tanam tunggal) dan 6-7 m (tanam ganda) dengan tinggi bedengan minimal 50 cm.

 

  1. 4.      Pengapuran

Pengapuran dilakukan memberikan kapur kapur pertanian yang mengandung unsur Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg) yang bersifat menetralkan keasaman tanah dan menetralkan racun dari ion logam yang terdapat di dalam tanah,  seperti kapur karbonat atau kapur dolomit. Penggunaan kapur pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit per 1000 m2, untuk pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH > 6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.

 

  1. 5.      Pemupukan

Pupuk yang dipakai adalah pupuk organik dan pupuk buatan. Pupuk kandang yang digunakan adalah pupuk kandang yang berasal dari hewan sapi/kerbau dan dipilih pupuk kandang yang  sudah matang. Pemberian pupuk kandang dilakukan setelah pengapuran atau sekitar dua minggu sebelum tanam. Kebutuhan pupuk kandang sekitar 12 ton/ha atau 1,5 kg/tanaman. Pupuk kandang berguna untuk membantu memulihkan kondisi tanah yang kurang subur.  Pupuk kandang yang digunakan harus sudah matang (jadi), sebab kalau masih mentah tanaman akan kerdil atau bahkan layu. Caranya, setelah bedengan betul-betul siap dan telah disebari pupuk kandang, maka bedengan dapat diairi (sebaiknya dileb), tapi jangan terlalu basah. Selanjutnya pupuk buatan disebar secara rata pada bedengan kemudian diaduk rata. ditaburkan disekeliling baris bedengan  secara merata. Pemberian pupuk dasar untuk semangka tanpa biji, kebutuhan pupuk per tanaman adalah 85 g ZA, 50 g urea, 30 g SP-36, 85 g KCl dan 2 g Borate. Sedangkan untuk semangka berbiji, kebutuhan pupuk per tanaman adalah 80 g ZA, 40 g urea, 30 g SP-36, 70 g KCl dan 2 g Borate.

 

  1. 6.      Lain-lain

Tahap penghalusan dan perataan bongkahan tanah pada sisi bedengan pada tempat penanaman semangka dilakukan  dengan cangkul. Di bagian tengah, sebagai landasan buah pada bedengan, diratakan  dan diatas lapisan ini diberi jerami kering untuk perambatan semangka dan peletakan buah. Bedengan perlu disiangi, disiram dan dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm dan plastik mulsa dengan lebar plastik 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuh tanaman liar. Pemakaian plastik lebih menguntungkan karena lebih tahan lama, sampai 8-12 bulan pada areal terbuka (2 – 3 kali periode penanaman). Bedengan ditutup dengan plastik hitam-perak. Warna hitam menghadap ke bawah sedang warna peraknya menghadap ke atas. Untuk mendapatkan hasil yang baik, plastik dipasang pada waktu mendapatkan sinar matahari secara penuh (09.00 – 14.00) dan plastik ditarik sampai benar-benar rapat. Plastik berwarna perak akan memantulkan sinar matahari sehingga mengurangi serangan hama yang bersembunyi di bawah daun tanaman.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 kesimpulan

Dari semua uraian isi makalah yang telah di susun, maka penulis berkesimpulan bahwa untuk memperoleh buah semangka yang selain rasanya yang segar dan banyak mengandung air, maka diperlukan budidaya tanaman semangka yang baik. Hal pertama yang dilakukan dalam budidaya semangka yaitu pengolahan lahan. Dengan cara pengolahan lahan yang benar maka akan mempengaruhi hasil dari budidaya semangka itu sendiri. Sedangkan cara pengolahan lahan yang benar antara lain yaitu:

  1. Persiapan Lahan
  2. Pembukaan Lahan
  3. Pembentukan Bedengan
  4. Pengapuran
  5. Pemupukan
  6. Lain-lain yang berupa pemasangan mulsa, perataan bedeng, dan sebagainya.

 

 

Daftar Pustaka

 

Arif.2007.Dasar-dasar Bercocok Tanam.Jakarta: Bumi Aksara

Djafaruddin.2007.Hama Tanaman Masalahnya Dan Solusinya. Jakarta: Kanisius

Djafaruddin.2007.Dasar-dasar Perlindungan Tanaman (Umum). Jakarta: Bumi Aksara

Prahasta,A.2008.Budidaya Usaha Pengolahan Agribisnis Semangka. Bandung : CV.Pustaka Grafika

http://kebunwhy.8m.com/semangka.html diakses pada 2 Oktober 2013

http://estaadri.blogspot.com/2012/05/makalah-mata-kuliah-biologi-umum.html diakses pada 2 Oktober 2013

 

 

Jun

13

Posted by : ai | On : 13 June 2013

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan dunia yang terpenting, selain gandum dan padi. Sebagai sumber karbohidrat utama di Amerika Tengah dan Selatan, jagung juga menjadi alternatif sumber pangan di Amerika Serikat. Penduduk beberapa daerah di Indonesia (misalnya di Madura dan Nusa Tenggara) juga menggunakan jagung sebagai pangan pokok. Selain sebagai sumber karbohidrat, jagung juga ditanam sebagai pakan ternak (hijauan maupun tongkolnya), diambil minyaknya (dari bulir), dibuat tepung (dari bulir, dikenal dengan istilah tepung jagung atau maizena), dan bahan baku industri (dari tepung bulir dan tepung tongkolnya). Tongkol jagung kaya akan pentosa, yang dipakai sebagai bahan baku pembuatan furfural. Jagung yang telah direkayasa genetika juga sekarang ditanam sebagai penghasil bahan farmasi.

Dalam perkembangbiakannya, terdapat suatu pola pewarisan genetik yang dapat diketahui melalui materi genetiknya. Untuk itu dalam praktikum lapang ini bertujuan untuk mempelajari tentang pola pewarisan sifat jagung.

1.2 Tujuan

  • Mempelajari pola pewarisan sifat pada jagung
  • Mempelajari cara perkembangbiakan pada jagung
  • Mempelajari genetika kelamin pada jagung
  • Mempelajari cara penanaman dan perawatan jagung

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Biologi Bunga Jagung

Bunga jantan terletak dipucuk yang ditandai dengan adanya rambut atau  tassel dan bunga betina terletak di ketiak daun dan akan mengeluarkan stil dan stigma (Idris, Zainal, Mohammad, Lassim, Norman dan Hashim, 1982).  Bunga jagung tergolong bunga tidak lengkap karena struktur bunganya tidak mempunyai petal dan sepal dimana  organ bunga jantan (staminate) dan organ bunga betina (pestilate) tidak terdapat dalam  satu bunga disebut berumah satu (Sudjana, Rifin dan Sudjadi, 1991).

Bunga betina, tongkol, muncul dari axillary apices tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik tumbuh apikal di ujung tanaman. Pada tahap awal, kedua bunga memiliki primordia bunga biseksual. Selama proses perkembangan, primordial stamen pada axillary bunga tidak berkembang dan menjadi bunga betina. Demikian pula halnya primordia ginaecium pada apikal bunga, tidak berkembang dan menjadi bunga jantan (Palliwal 2000)

2.2 Genetika Jagung

2.3 Pola Pewarisan Sifat

2.4 Genetika Kelamin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

METODOLOGI

 

3.1 Alat, Bahan dan Fungsi

Alat

  • Kamera            : Mendokumentasikan objek pengamatan
  • Alat tulis         : mencata pertumbuhan jagung

Bahan

  • Biji jagung       : Sebagai bahan pengamatan
  • Pupuk              : Untuk mempercepat pertumbuhan jagung

3.2 Metode

3.2.1 Genetika Kelamin

Biji jagung ditanam

Pemberian pupuk, ditutup dengan tanah

 

Disiram

Melakukan penyulaman pada jagung yang mati

Melakukan penyiangan

Menutup bunga jagung (jika ada)

Meneliti genetika kelamin jagung pada bunganya

Dokumentasikan hasil

3.2.2 Pewarisan Sifat Warna Biji Jagung

Biji jagung ditanam

Pemberian pupuk, ditutup dengan tanah

 

Disiram

Melakukan penyulaman pada jagung yang mati

 

Melakukan penyiangan

Menutup bunga jagung (jika ada)

Meneliti sifat pewarisan warna pada biji jagung

Dokumentasikan hasil

 

3.3 Fungsi Perlakuan

Perawatan jagung dilakukan tiap hari dengan pemberian air. Pemberian pestisida dilakukan pada saat jagung berumur kurang lebih 21 HST. Untuk mengetahui bahwa jagung tersebut homozigot atau heterozigot, dapat dilakukan dengan cara bunga betina dan jantan jagung ditutup menggunakan plastik atau kertas. Lalu bunga jantan dserbukkan pada bunga betina dalam satu pohon setiap hari sampai jagung di panen. Agar jagung tersebut tidak menyerbuki dan diserbuki jagung lainnya.

 

 

 

 

 

BAB IV

HASIL

 

4.1 Data Awal Warna Biji Jagung dan Tongkol

4.2 Gambar denah

 

4.3 Data Hasil Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB V

PEMBAHASAN

 

5.1 Genetika Kelamin

Dalam praktikum lapang kelompok F1 tidak bisa diketahui genetika kelamin tiap objek pengamatan. Hal ini disebabkan karena tanaman tidak tumbuh sempurna. Hampir semua tanaman mengalami kekerdilan, parahnya lagi beberapa tanaman yang ada mati karena kondisi lingkungan ataupun kesalahan dari peserta praktikum sehingga tanaman tidak diteliti.

5.2 Pewarisan Sifat Warna Pada Biji

Dalam praktikum lapang, pewarisan sifat warna pada biji pada jagung tidak bisa diteliti. Hal ini dikarenakan semua objek pengamatan tidak menghasilkan tongkol jagung. Karena jagung tidak menghasilkan bunga jantan dan betina, sehingga proses fertilisasi dalam satu tanaman tidak bisa dilakukan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB VI

PENUTUP

6.1 Kesimpulan

Genetika kelamin dapat diketahui melalui bunga jantan dan betina pada jagung. Namun dalam praktikum lapang tidak bisa dikietahui genetika kelamin pada jagung dikarenakan bunga tidak tumbuh dengan sempurna.

Pola pewarisan sifat hanya dapat diketahui jika terdapat tongkol pada jagung. Tetapi, praktikan tidak dapat menentukan pola pewarisan sifat pada jagung,  dikarenakan tidak terdapat tongkol jagung.

6.2 Saran

Objek pengamatan praktikum lapang, sebaiknya dirawat dengan baik setiap hari. Agar hasil pengamatan dapat ditentukan dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonymous 2010 a, http://wapedia.mobi/id/Jagung

Anonymous 2010 b, http://makalahdanskripsi.blogspot.com/2010/11/tanaman-jagung.html

 

Jun

12

Posted by : ai | On : 12 June 2013

I. Gejala Penyakit

Kelainan/penyimpangan dari keadaan normal tanaman akibat adanya gangguan penyebab penyakit, dan gejala dapat dilihat dengan mata telanjang.

Berdasarkan sifatnya, ada 2 tipe gejala:

a). Gejala lokal -> Gejala yang dicirikan oleh perubahan struktur yang jelas dan terbatas. Biasanya dalam bentuk bercak  atau kanker.gejalanya terbatas pada bagian-bagian tertentu dari tanaman (pada daun, buah, akar)

1

Gambar 1. bercak daun disertai dengan hallo

b). Gejala sistemik -> Kondisi serangan penyakit yang lebih luas, bisanya tidak jelas batas batasnya. Contohnya adalah serangan oleh virus mosaic, belang maupun layu.gejalanya terdapat di seluruh tubuh tanaman (layu, kerdil)

2                        3

Gambar 2. Tanaman layu                            Gambar 3. Belang Pada Daun

 

BERDASARKAN BENTUKNYA GEJALA PENYAKIT TUMBUHAN DIBAGI MENJADI GEJALA MORFOLOGI & GEJALA HISTOLOGI

A. Gejala Morfologi : gejala luar yang dapat dilihat & dapat diketahui melalui bau diketahui melalui bau, rasa dan raba; dapat ditunjukkan oleh dapat ditunjukkan oleh seluruh tumbuhan atau tiap organ dari  dari tumbuhan.

B. Gejala Histologi : gejala yang hanya gejala yang hanya dapat diketahui lewat pemeriksaan pemeriksaan mikroskopis dari jaringan yang sakit jaringan yang sakit.

Gejala histologi dapat dibedakan menjadi 3 tipe gejala:yaitu nekrosis,  hipoplasia dan hiperplasia.

1. Gejala nekrotik  : gejala  penyakit yang  ditandai dengan degenerasi protoplas diikuti dengan  matinya sel sel, jaringan, organ & seluruh  tumbuhan.(bercak, bintik, noda, hawar)

a. Gejala plesionekrotik : gejala nekrotik yang diekspresikan sebelum terjadi kematian protoplas

b. Gejala holonekrotik  : gejala nekrotik yang diekspresikan sesudah protoplas mati, misalnya busuk  umbi, busuk biji, dan rebah kecambah.

2. Gejala hipoplasia  : gejala timbul karena adanya hambatan atau kegagalan dari  tanaman/organ untuk berkembang secara penuh.   Gejala umum dari hipoplasia yaitu ukuran dibawah  normal dan warna yang pucat, misalnya kerdil , roset,  mosaik,  albinasi.

3. Gejala hiperplasia : gejala yang timbul karena  hasil  pertumbuhan  yang luar biasa ukuran atau perkembangan dini yang abnormal dari organ tumbuhan misalnya keriting, membengkoknya tajuk atau menggulungnya daun karena pertumbuhan yang berlangsung pada satu sisi, puru, kudis

Contoh gejala Nekrosa

Bercak daun -> lesio setempat karena kerusakan/kematian sel (berwarna coklat, hitam atau abu-abu keputihan)

Bentuk bercak: bulat, lonjong, bintik garis-garis, bilur, lingkaran-lingkaran sepusat (bercak papan sasaran)

Kadang-kadang bercak dikelilingi oleh jalur klorotik/kuning yang disebut halo (kalang)

Hawar -> perubahan warna dan mengering serta meluas dengan cepat pada daun, tunas, dahan, ranting, bunga dan lai-lain

4

Gambar 4. Hawar daun

 

Kanker -> luka setempat, mengering dan cekung yang dikelilingi kalus pada kulit batang, cabang, dahan dan akar (umumnya pada tanaman berkayu)

5                                      6

Gambar 5. Kanker leher batang                               Gambar 6. Kanker batang

 

Mati ujung/pucuk (Dieback) -> kematian secara intensif pada ranting dan cabang yang dimulai dari ujung-ujungnya menuju ke pangkal-pangkalnya.

Busuk akar/pangkal batang -> Disintegrasi/pembusukan pada sistem perakaran/pangkal batang

Rebah kecambah (Damping-off) ->Kematian sangat cepat pada kecambah yang sangat muda di pesemaian (umumnya akibat serangan jamur tular tanah)

7

Gambar 7. Rebah kecambah ( Damping off )

Bila kecambah mati setelah muncul di permukaan tanah disebut rebah kecambah pasca tumbuh

Bila kecambah mati sebelum uncul dipermukaan tanah disebut rebah kecambah pratumbuh

 

Klorosis -> Kerusakan/kematian kloroplas menyebabkan warna hijau berubah warna kuning

klorosis

Gambar 8. klorosis

 

Contoh-contoh gejala hiperplasia

Akar gada -> pembesaran pada bagian-bagian tertentu dari akar akibat terjadinya bintil-bintil yang saling menyatu (penyakit akar gada pada akar kubis oleh jamur Plasmodiophora brassicae )

Kelenjar (galls) -> pembengkakan setempat berupa bisul-bisul atau bintil-bintil pada batang, ranting atau daun (penyakit kelenjar pada batang tanaman berupa matahari/crown galls oleh bakteri Agrobacterium tumefaciens )

Akar Gada (Plasmodiphora brassicae) Gall (Agrobacterium tumefaciens)

9

Gambar 9. Puru Akar

 

Sapu setan (Witches’s broom) -> timbulnya banyak tunas tidur pada ketiak sehingga merupakan ranting-ranting yang rapat seperti sapu

10

Gambar 10. Sapu setan pada kacang tanah

 

Kutil (Warts) -> kutil-kutil yang menonjol (jendul) pada akar-akar umbi

Contoh-contoh gejala hipoplasia

Kerdil (atropi/stunt) -> terhambatnya pertumbuhan pada bagian-bagian tumbuhan (bagian-bagian tersebut ukurannya lebih kecil dari biasanya)

Katai (dwarf) -> ukuran seluruh tanaman mengecil tanpa perubahan proporsi dari bagian-bagian tumbuhan

Klorosis -> tidak tebentuk/kurang berkembangnya klorofil sehingga daun-daun menjadi kuning atau terjadi mosaik dengan warna campuran hijau, hijau muda, kuning agak putih (penyakit-penyakit virus)

11

Gambar 11. mosaik

 

Vein banding -> bila pada daun hanya bagian-bagian sekitar tulang daun yang berwarna hijau

Vein clearing -> bila hanya bagian-bagian daun di sekitar tulang daun yang menguning

Etiolasi -> bila tumbuhan kekurangan cahaya, tumbuhan tumbuh memanjang (kurus) dengan daun-daun sempit dan pucat

 

Penamaan penyakit tumbuhan

Nama umum penyakit banyak diberi nama sesuai dengan gejalanya -> penyakit karat, penyakit layu, penyakit kudis, penyakit kanker dan lain-lain

 

II. Tanda Penyakit

Semua struktur patogen yang terdapat pada permukaan tanaman yang dapat dilihat secara makroskopis (khusus pada penyakit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri)

Tanda penyakit meliputi:

Miselia, kumpulan konidia dan konidiofor, sklerotia, basidiokarp dan lendir bakteri

 

Contoh-contoh tanda penyakit

Misilea

Jamur Sclerotium rolfsii pada kacang-kacangan (kacang tanah) membentuk miselia seperti bulu/kapas putih pada permukaan akar, pangkal batang dan permukaan tanah seputar tumbuhan terinfeksi atau berupa anyaman miselia pada permukaan daun

12

Gambar 12. busuk buah oleh fungi

 

Sklerotia

Gumpalan/bulatan massa hifa yang menebal dan menempel pada batang atau pada permukaan tanah atau terapung di permukaan air di sekitar tumbuhan yang terinfeksi (sklerotia pada batang padi yang terserang jamur Rhizoctonia solani)

 

Basidiokarp

Pada serangan lanjut, jamur Ganoderma & Rigidoporus membentuk baidiokarp (berbentuk kipas tebal dan banyak pori-porinya) pada permukaan akar /pangkal batang tumbuhan berkayu

 

Kumpulan konidia dan konidiofor (pada penyakit karat/tepung)

Kumpulan konidia dan konidiofor terlihat seperti karat atau tepung pada permukaan daun.

Penyakit karat pada daun jagung yang disebabkan oleh jamur Puccinia polysora

Penyakit embun tepung pada daun jagung (bulai ) yang disebabkan oleh jamur Peronosclerospora maydis

Konidia dan konidiofor Puccinia polysora Konidia dan konidiofor Peronosclerospora maydis

 

Diagnosis Penyakit Tumbuhan

Diagnosis penyakit tanaman: untuk menentukan macamnya penyakit tanaman dengan tepat dan cermat

 

DIAGNOSIS

Diagnosis penyakit tanaman didasarkan kepada Tanda: miselia, kumpulan konidia/konidiofor, sklerotia, lendir bakteri Gejala Luar Dalam Umumnya langsung dapat menentukan penyebab penyakit, sifat-sifat dan pengendaliannya

Alat bantu diagnosis penyakit tanaman menular : ? Loop ? Mikroskop ? Media biakan (untuk patogen non-obligat) ? Buku indeks penyakit tanaman ? Buku seri kompendium ? Buku-buku mikologi, bakteriologi, virologi dll . Diagnosis Penyakit menular (biotik) Penyakit tidak menular (abiotik)

13

Gambar 13. busuk buah oleh bakteri

 

Diagnosis penyakit tanaman tidak menular dilakukan dengan cara berikut:

Memakai buku-buku manual/bergambar tentang gejala kekurangan/kelebihan unsur hara, cahaya, polusi dll.

Untuk kekurangan unsur hara dilakukan dengan analisa kimia tanah/tanaman

Meniru faktor lingkungan yang dicurigai sebagai penyebab penyakit

Penetuan patogen penyebab utama penyakit pada tanaman dilakukan dengan Postulat Koch.

 

Langkah-langkah Kerja Postulat Koch

1. Patogen harus selalu didapatkan berasosiasi dengan tanaman yang sakit

2. Patogen dari tanaman sakit harus dapat diisolasi dan ditumbuhkan pada media biakan murni.

3. Patogen yang tumbuh pada biakan murni harus dapat direinokulasikan pada tanaman sejenis dan sehat, serta gejala yang timbul harus sama dengan tanaman sakit terdahulu (tanaman pada no.1)

4. Patogen pada tanaman sakit akibat reinokulasi harus dapat direisolasi dan dapat ditumbuhkan pada biakan murni. Patogen yang dapat tumbuh pada biakan murni ini harus memiliki karakteristik yang tepat sama dengan patogen pertama yang diisolasi.

 

Pengukuran penyakit tumbuhan

Berat-ringannya suatu penyakit pada tumbuhan dapat diukur dengan cara-cara sebagai berikut (sesuai kebutuhan)

1. Keterjadian penyakit (Disease incidence)

KP = A X 100 %

——————

A + B

 

KP : Keterjadian Penyakit

A: Jumlah tumbuhan atau bagian tumbuhan yang sakit

B: Jumlah tumbuhan atau bagian tumbuhan yang sehat

 

2. Keparahan Penyakit (Disease Severity)

n

S = S (?i x ?i)

i=0

N x Z x 100 %

Keterangan :

S: keparahan penyakit

?i: jumlah tanaman atau bagian tanaman dengan kategori ke-i

?i: skala kategori serangan ke-i, yaitu:

_________________________________________________________

Skala Skor penyakit *)

0 = tidak ada serangan

1 = 0 –25%       permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang

2 = >25 –50 %  permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang

3 = >50 –75%   permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang

4 = >75 –100% permukaan tanaman atau bagian tanaman terserang

_________________________________________________________

N : jumlah seluruh tanaman atau bagian tanaman yang diamati

Z : nilai skala kategori serangan tertinggi.

*) : besarnya skor penyakit dapat dibuat sesuai kebutuhan

Kehilangan hasil (yield loss)

KH = P- Y x 100 %

P

KH : Kehilangan hasil

P : Potensi hasil sebenarnya

Y: Hasil yang didapat

 

Bagaimana Menemukan Kehadiran Patogen

Kehadiran patogen menjadi sesuatu yang sangat penting sebagai bukti. Kehadiran patogen dapat diketahui secara langsung dan tidak langsung. Patogen-patogen yang berukuran makroskopis di permukaan jaringan seperti badan buah jamur berukuran besar. Dalam beberapa hal diperlukan lup kecil untuk melihat kehadiran struktur patogen. Dalam banyak kasus patogen berukuran mikroskopis, sehingga untuk melihat kehadirannya mikroskop seperti kebanyakan jamur dan bakteri. Jamur dan bakteri sebelum dilihat dibawah mikroskop sering harus diisolasi terlebih dahulu. Virus dan viroid, kehadirannya dilihat dibawah mikroskop elektron. Dalam perkembangannya deteksi patogen memanfaatkan hasil penemuan pada berbagai bidang ilmu dasar sebagai contoh adalah serologi dan uji DNA

 

1. Langsung pada Permukaan Tanaman

Beberapa patogen yang makroskopis strukturnya dapat dilihat secara langsung pada permukaan tanaman. Golongn gulma seperti tali putri yang menginfeksi banyak tanaman pagar seperti teh-tehan; gulma setan yang menginfeksi tanaman jagung; dan benalu yang banyak menginfeksi pepohonan merupakan contah yang jelas. Beberapa jamur juga menampakan struktur makroskopis pada permukaan pangkal batang pohon yang diserang seperti jamur akar putih pada karet dan jamur lingsi pada pangkal batang kelapa sawit dan berbagai jenis pepohonan

 

2. Menggunakan Lup / Kaca Pembesar

Beberapa patogen seperti penyebab penyakit karat pada daun dengan cara langsung hanya akan terlihat sebagai tonjolan-tonjolan kecil pada permukaan daun. Pada pengamatan dengan menggunakan lup, maka strukturnya akan tampak lebih jelas. Dengan menggunakan lup struktur patogen dapat diperbesar 10X. Hal ini cukup membantu dalam melihat struktur badan buah yang berukuran kecil.

 

3. Menggunakan Mikroskop cahaya

 

Kebanyakan patogen berukuran sangat kecil sehingga untuk pengamatannya perlu bantuan mikroskop. Patogen dapat secara lngsung diambil dari permukaan inang kemudian dilihat di bawah mikroskop. Pada permukaan tanaman yang bergejala ditempeli dengan selotip berwarna bening kemudian dilihat di bawah mikroskop. Dalam banyak hal sering digunakan cairan supaya benda tampak lebih jelas. Pada gelas preparat diberi setetes air. Dengan menggunakan jarum yang runcing bagian yang bergejala dikorek-korek, hasil korekan diletakkan pada tetesan air dan ditutup dengan gelas preparat, kemudian diamati di bawah mikroskop. Sering untuk menemukan patogen, jaringan tanaman perlu diperlakukan secara khusus sehingga patogen dapat hadir. Kebanyakan patogen golongan jamur memerlukan kelembapan yang tinggi, untuk itu jaringan perlu dilembabkan terlebih dahulu, baru kemudian diambil struktur patogennya untuk diamati. Sering struktur yang dijumpai hanya misellium, untuk itu perlu digunakan vitamin atau mineral tertentu supaya jamur dapat membentuk struktur yang dikehendaki dalam diagnosis. Misellium jamur Phytophthora akan dapat membentuk sporangium apabila diletakkan dalam liset tanah.

 

Dalam banyak kasus, pada jringan yang bergejala sulit dijumpai, baik miselium maupun struktur lain. Apabila hal ini terjadi, maka diperlukan langkah isolasi. Isolasi perlu difahami merupakan langkah untuk mendapatkan struktur patogen secara murni. Dengan demikian apabila ternyata yang diperoleh hanya koloni yang berupa misellium saja, maka diperlukan langkah-langkah perlakuan khusus sehingga struktur yang dikehendaki dapat muncul.

 

4. Menggunakan Mikroskop Elektron

Jasad sub-mkroskopis seperti virus dan viroid kehadirannya dapat diketahui dengan menggunakan mikroskop elektron. Mikroskop elektron dapat memperbesar obyek sampai ratusan ribi kali. Bagian-bagian jamur dan bakteripun akan nampak sangat jelas dengan menggunakan mikroskop elektron.

 

5. Menggunakan Reaksi Serologi

Reaksi serologi merupakan reaksi antara antigen dan antibodi. Antigen adalah semua zat (dapat merupakan bagian patogen) yang dapat mengimbas terbentuknya antibodi dalam tubuh mamalia. Antibodi hanya dapat bereaksi dengan antigen sehingga dapat terjadi koagulasi atau presipitasi. Saat ini dikenal ada dua tipe antibodi, yaitu antibodi poliklonal dan monoklonal. Antibodi monoklonal dapat secara sensitif mendeteksi kehadiran strain patogen tertentu. Dengan memiliki antibodi yang diimbas oleh antigen yang berasal dari patogen tertentu, maka kehadiran patogen pada suatu bahan dapat dideteksi secara cepat dan akurat. Saat ini tehnik eliza banyak digunakan dalam reaksi serologi.

 

Dasar Dasar mendiagnosa suatu penyakit tanaman harus dipahami

• Penyebab penyakit/patogen yang berbeda dapat  menimbulkan gejala yang sama pada inangnya.

• Tanda penyakit dapat menambah kepastian suatu diagnosis, tetapi perlu dipertimbangkan pula kemungkinan adanya patogen sekunder atau saprofit yang menyerang bagian tanaman yang terinfeksi. Sehingga kesalahan diagnosa dapat diminimalisir

 

Reference :

desyrahayuningsihyahoocoid.blogspot.com

fp.uns.ac.id/~hamasains/dasarperlintan-3.htm

hutdopi08.blogspot.com

mukegile08.wordpress.com

student.ut.ac.id/repository/index.php?act

Jun

01

Posted by : ai | On : 1 June 2013

LAPORAN PRAKTIKUM DASAR BUDIDAYA TANAMAN
“TANAM DAN POLA TANAM BESERTA PEMULSAAN”

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan daerah kondisi dan ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang menguntungkan minimal bagi pribadi yang menanam. Pola tanam adalah usaha penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah dan masa baru atau tidak ditanam selama periode tertentu. Sedangkan pemulsaan adalah suatu teknik untuk menjaga tetapnya suhu tanah di sekitar akar tanaman, menahan uap air dalam tanah, mencegah erosi, dan menghilangkan tumbuhnya gulma dan penyakit. Didalam pola tanam terdapat berbagai jenis yaitu tumpangsari, monokultur dan pola tanam bergilir. Tetapi di Indonesia sendiri, banyak petani yang tidak tahu tentang pola tanam itu sendiri, apa fungsi dari pola tanam itu.

Oleh karena i tu, dalam praktikum dasar budidaya tanaman yang membahas tentang pola tanam serta pemulsaan sangat penting bagi kita untuk mengetahuinya. Diharapkan dengan adanya laporan ini, petani dapat mengaplikasikannya dalam berbudidaya tanaman yang dilakukan.

1.2 Tujuan

Untuk mengetahui pengertian tanam
Untuk mengetahui pengertian pola tanam
Untuk mengetahui pengertian pola tanam monokultur
Untuk mengetahui pengertian pola tanam polikultur
Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pola tanam
Untuk mengetahui syarat yang harus diperhatikan dalam pola tanam
Untuk mengetahui pengertian mulsa
Untuk mengetahui fungsi mulsa
Untuk mengetahui macam-macam mulsa
Untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan bahan jenis mulsa
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Tanam
Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media tanam baik media tanah maupun media bukan tanah dalam suatu bentuk pola tanam(Vincent, 1996).
Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan daerah kondisi dan ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasil kan sesuatu yang menguntungkan minimal bagi pribadi yang menanam( Setjanata, 1983 ).

2.2 Pengertian pola tanam
Pola tanam adalah penyusunan cara dan saat tanaman dari jenis-jenis tanaman yang akan ditanam berikutnya pada waktu-waktu kosong pada sebidang lahan tertentu (Novitan, 2002).
Pola tanam adalah usaha penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu, termasuk masa pengolahan tanah dan masa baru atau tidak ditanam selama periode tertentu (Campbell, 2002).

2.3 Pola Tanam Monokultur
Pertanaman tunggal atau monokultur adalah salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal. Kekurangan pola tanam ini adalah pola tanam monokultur memiliki pertumbuhan dan hasil yang lebih besar daripada pola tanam lainnya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya persaingan antar tanaman dalam memperebutkan unsur hara maupun sinar matahari, akantetapi pola tanam lainnya lebih efisien dalam penggunaan lahan karena nilai LER lebih dari 1. Kelebihan pola tanam ini yaitu teknis budidayanya relatif mudah karena tanaman yang ditanam maupun yang dipelihara hanya satu jenis. Namun, di sisi lain, Kelemahan sistem ini adalah tanaman relatif mudah terserang hama maupun penyakit( Setjanata, 1983 ).

2.4 Pola Tanam Polikultur
Polikultur adalah penanaman serentak dua jenis tanaman atau lebih dalam barisan berseling-seling pada sebidang tanah. Kelebihan dari pola tanam ini salah satunya yaitu dapat mengurangi serangan OPT (pemantauan populasi hama), karena tanaman yang satu dapat mengurangi serangan OPT lainnya. Misalnya bawang daun dapat mengusir hama aphids dan ulat pada tanaman kubis karena mengeluarkan bau allicin. Sedangkan kekurangannya yaitu terjadi persaingan unsur hara antar tanaman(Semeru, 1995).

2.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pola Tanam
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pola tanam , yaitu :
Iklim , dimana pada keadaan musim hujan dan kemarau akan berpengaruh pada persediaan air untuk tanaman dimana pada msim hujan maka persediaan air untuk tanaman berada dalam jumlah yang besar, sebaliknya pada musim kemarau persediaan air akan menurun.
Topografi , merupakan letak atau ketinggian lahan dari permukaan air laut yang berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban udara dimana keduanya mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
Debit Air yang Tersedia , dimana debit air pada musim hujan akan lebih besar dibandingkan pada musim kemarau, sehingga haruslah diperhitungkan apakah debit saat itu mencukupi jika akan ditanam suatu jenis tanaman tertentu.
Jenis tanah , yaitu tentang keadaan fisik , bioligis dan kimia tanaman.
Sosial ekonomi , dalam usaha pertanian faktor ini merupakan faktor yang sulit untuk dirubah sebab berhubungan dengan kebiasaan petani dalam menanam suatu jenis tanaman.
( Setjanata, 1983 )

2.6 Syarat yang harus diperhatikan dalam Pola Tanam
Beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam penyusunan pola tanam atau usahatani yaitu :
Ketersediaan air yang menyangkup waktu dan lamanya ketersediaan yang tergantung padakinerja air irigasi serta pola distribusi dan jumlah hujan.
Keadaan tanah yang meliputi sifat fisik, kimia serta bentuk permukaan tanah.
Tinggi tempat dari permukaan laut, terutama sehubungan dengan suhu udara, tanah dan ketersediaan air.
Eksistensi hama dan penyakit tanaman yang bersifat kronis dan potensial.
Ketersediaan dan aksesibilitas bahan tanaman yang meliputi jenis dan varietas menurut agroekosistem dan toleransi terhadap jasad pengganggu.
Aksesibilitas dan kelancaran pemasaran hasil produksi dengan dukungan infrastruktur dan potensial yang memadai.
(Beets, 1982)

2.7 Pengertian Mulsa
· Mulsa adalah bahan atau material penutup tanah pada tanaman budidaya yang banyak digunakan petani pada area yang terbatas maupun perkebunan dengan areal yang luas (Tim Dosen, 2013).

· Mulsa adalah material penutup tanaman budidaya yang dimaksudkan untuk menjaga kelembaban tanah serta menekan pertumbuhan gulma dan penyakit sehingga membuat tanaman tersebut tumbuh dengan baik.

.Mulch is protective cover, protective covering, protection – a covering that is intend to protect from damage or injury; “they had no protection from the fallout”; “wax provided protection for the floors”. (Mulsa adalah sebuah pelindung yang menutupi membusuk materi sayuran menyebar untuk mengurangi penguapan dan erosi tanah tutup pelindung, pelindung, perlindungan – penutup yang berniat untuk melindungi dari kerusakan atau cedera; “mereka tidak memiliki perlindungan dari kejatuhan”; “lilin memberikan perlindungan untuk lantai”) (Farlex, 2010 ).

2.8 Fungsi Mulsa
Mulsa digunakan untuk menjaga kelembaban tanah, mengurangi fluktuasi suhu tanah, menekan pertumbuhan gulma yang dapat mengganggu tanaman budidaya, dan untuk mencegah buah agar tidak langsung menyentuh tanah karena apabila menyentuh tanah buah akan busuk sehingga produksi menurun (Acquaah, 2005 ).

2.9 Macam-macam Mulsa
Mulsa dibedakan menjadi dua macam dilihat dari bahan asalnya, yaitu mulsa organik dan anorganik.
1. Mulsa organik berasal dari bahan-bahan alami yang mudah terurai seperti sisa-sisa tanaman seperti jerami dan alang-alang. Mulsa organik diberikan setelah tanaman /bibit ditanam. Keuntungan mulsa organik adalah dan lebih ekonomis (murah), mudah didapatkan, dan dapat terurai sehingga menambah kandungan bahan organik dalam tanah. Contoh mulsa organik adalah jerami, ataupun cacahan batang dan daun dari tanaman jenis rumput-rumputan lainnya.
2. Mulsa anorganik terbuat dari bahan-bahan sintetis yang sukar/tidak dapat terurai. Contoh mulsa anorganik adalah mulsa plastik, mulsa plastik hitam perak atau karung. Mulsa anorganik dipasang sebelum tanaman/bibit ditanam, lalu dilubangi sesuai dengan jarak tanam. Mulsa anorganik ini harganya relatif mahal, terutama mulsa plastik hitam perak yang banyak digunakan dalam budidaya cabai atau melon. fungsi mulsa plastik ini dapat memantulkan sinar matahari secara tidak langsung untuk menghalau hama tungau, thrips dan apahid, selain itu mulsa plastik digunakan dengan tujuan menaikkan suhu dan menurunkan kelembapan di sekitar tanaman serta dapat menghambat munculnya penyakit yang disebabkan oleh bakteri.
(Acquaah, 2005 )

2.10 kekurangan dan kelebihan bahan jenis mulsa

  1. Mulsa organik
           Kelebihan :
           a. Dapat diperoleh secara bebas/gratis
           b. memiliki efek menurunkan suhu tanah
           c. mengonservasi tanah dengan menekan erosi
           d. dapt menghambat pertumbuhan gulma dan menambahkan unsur hara organik untuk tanah
           e. Mengurangi dampak lingkungan (global warming)
           Kelemahan :
           a. tidak dapat tersedia setiap saat (hanya pada saat panen padi)
           b. hanya tersedia di sekitar tempat budidaya padi,tebu,dan sebagainya
           c. untuk sekali musim tanam
     2. Mulsa anorganik
           Kelebihan :
a. dapat diperoleh setiap saat
          b. memiliki efek yang beragam terhadap suhu tanah tergntung jenis plastik
          c. dapat menekan erosi
          d. mudah diangkut, sehingga mudah untuk dibawa
          e. menekan pertumbuhan gulma
          f. dapat digunakan lebih dari satu kali musim tanam (tergantung perawatan)
          Kekurangan :
          a. tidak memiliki efek menambah unsur hara karena sifat yang susah terurai
          b. harga relatif mahal
          c. potensi untuk menaikan suhu sekitar (global warming) tinggi.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Tanam adalah menanam sesuatu yang bisa hidup yang disesuaikan dengan daerah kondisi dan ligkungan serta keadaan sehingga dapat menghasil kan sesuatu yang menguntungkan minimal bagi pribadi yang menanam. Sedangkan pola tanam adalah penyusunan cara dan saat tanaman dari jenis-jenis tanaman yang akan ditanam berikutnya pada waktu-waktu kosong pada sebidang lahan tertentu. Pola tanam ada tiga yaitu pola tanam monokultur, pola tanam campuran, pola tanam bergilir. Faktor-faktor yang mempengaruhi pola tanam yaitu ketersediaan air dalam satu tahun, prasarana yang tersedia dalam lahan tersebut, jenis tanah setempat, kondisi umum daerah tersebut, dan kebiasaan dan kemampuan petani setempat. Sedangkan syarat yang harus dipenuhi dalam pola tanam adalah awal tanam dan jenis tanaman.
5.1 Kesimpulan

Tanam adalah menempatkan bahan tanam berupa benih atau bibit pada media tanam baik media tanah maupun media bukan tanah dalam suatu bentuk pola tanam. Pola tanam adalah usaha yang dilakukan dengan melaksanakan penanaman pada sebidang lahan dengan mengatur susunan tata letak dari tanaman dan tata urutan tanaman selama periode waktu tertentu termasuk masa pengolahan tanah dan masa tidak ditanami selama periode tertentu. Sedangkan pemulsaan adalah suatu teknik untuk menjaga tetapnya suhu tanah di sekitar akar tanaman, menahan uap air dalam tanah, mencegah erosi, dan menghilangkan tumbuhnya gulma dan penyakit. Macam-macam pola tanam yaitu monokultur dan polikultur, dimana monokultur merupakan salah satu cara budidaya di lahan pertanian dengan menanam satu jenis tanaman pada satu areal sedangkan polikultur adalah menanam lebih dari satu jenis tanaman pada lahan dan waktu yang sama. Dalam bercocok tanam pada pola tanam yang dilakukan dilahan juga memiliki syarat yang harus diperhatikan dalam usahatani tersebut.

Dari hasil pengamatan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa perlakuan pada pola tanam dapat dilihat dari perbedaan fisik pada tanaman serta sekaligus dapat dilihat dari perbedaan biologisnya yand dapat dilihat pada bab pembahasan.

5.2 Kritik dan Saran
Dalam praktikum berjalan dengan lancar dan sangat menyenangkan. Mohon maaf apabila selama ini banyak kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja. Terima kasih atas bimbingannya selama ini.

DAFTAR PUSTAKA
Acquaah, G. 2005. Horticulture: Principles and Practices. Marcel Dekker, Inc. New York.
Beets, W,C. 1982. Multiple cropping and tropical faring system growth pusb. Co. Ltd. Aldersho
Campbell, V.A. 2002. Biology. Erlangga. Jakarta
Farlex.2010. Random House Kernerman Webster’s College Dictionary. K Dictionaries Ltd. Random House, Inc.
Novitan. 2002. Petunjuk Pemupukan yang Efektif. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Semeru,1995.Hortikultura dan Aspek Budaya. UI Press. Jakarta
Setjanata, S.1983.Perkembangan Penerapan Pola Tanam dan Pola Usahatani dalam Usaha Intensifikasi.
Vincent, H. R,1998.Agriculture Fertilizer and Envisement.CO.BI Publishing.New York