RSS
 

Archive for the ‘Dasar Perlindungan Tanaman’ Category

Laporan Praktikum DPT Penyakit Tanaman

02 Jun

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

 

Penyakit tumbuhan menimbulkan kerugian melalui beberapa jalan. Penyakit pada tanaman dapat menyebabkan kerugian langsung pada petani atau penanam. Hal ini disebabkan karena penyakit dapat mengurangi kualitas maupun kuantitas, meningkatkan biaya produksi, dan mengurangi kemampuan usaha tani. Kerugian yang dirasakan oleh petani dapat secara langsung maupun tidak langsung

Dalam bidang pertanian, mempelajari dasar perlindungan tanaman sangat diperlukan untuk mengolah tanaman budidaya. Hal ini dimaksudkan agar dapat menghindari atau mencegah suatu tanaman budidaya tersebut dari adanya segala penyakit atau pathogen yang ada disekitarnya.

 

1.2  Tujuan

 

-          Mengetahui pengertian penyakit

-          Mengetahui tentang segitiga penyakit

-          Mengetahui tentang macam-macam gejala dan contoh gejala yang ditimbulkan

-          Mengetahui karakteristik dari jamur, bakteri, virus, nematoda dan tumbuhan tinggi parasit

-          Mengetahui perbedaan penyakit yang disebabkan oleh jamur, bakteri, virus, dan nematoda

-          Mengetahui nama umum, nama latin, jenis pathogen dan klasifikasi dari suatu penyakit

-          Mengetahui inang utama dan inang alternative dari suatu penyakit

-          Mengetahui tipe gejala suatu pathogen

-          Mengetahui gejala yang ditimbulkan oleh penyakit

-          Mengetahui cara pengendalian suatu penyakit

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Pengertian Penyakit

 

Plant disease is an importan of the normal stete of palnt that interrupt of modifies its vital function.

“Penyakit tanaman adalah salah satu kerusakan yang mengubah fungsi vital suatu organ”

                                                                                    (anonymous,2010)

Penyakit adalah kelainan proses fisiologi tumbuhan yang disebabkan oleh faktor abiotik atau biotik atau keduanya yang mengakibatkan perubahan morfologi  tumbuhan (disebut gejala) sampai menimbulkan kerusakan ekonomis.

                                                                                    ( Muhidin, 1993)

Pentyakit adalah gangguan fisiologi pada tumbuhan yang disebabkan oleh penyebab penyakit seperti patogen yang mengakibatkan hilangnya koordinasi pada tanman inangnya.

                                                                                    (anonymous, 2010)

2.2 Gambar Segitiga Penyakit dan Pembahasan

 

Penyakit akan terjadi apabila ada :

Patogen yang ganas menyerang tanaman yang rentan, di dukung lingkungan yang mendukung patogen untuk menyerang tanaman yang rentan tersebut.

                                                                                                      (Tjahjadi, 1989)

2.3 Macam-macam Gejala dan Contohnya

 

  • ·         Nekrotik

Kematian sel atau sekelompok sel pada jaringan tertentu.

Contoh : bercak (pada daun, batang, dan akar)

  • ·         Hipoplastis

Terhambatnya pembentukan sel atau menghasilkan sel yang jumlah dan ukuranya kecil.

Contoh : kerdil, klorosis, ukuran bagian tanaman menjadi kecil.

  • ·         Hiperplastis

Pembentukan sel yang berlebihan jumlah atau ukurannya.

Contoh : sapu setan, bengkak, kutil, udema dan gigantisme.

                                                                                         

                                                                                          (Rukmana, 1997)

 

2.4 Karakteristik dari Jamur, Bakteri, Virus, Nematoda dan Tumbuhan Parasit

 

a.       Jamur

è Morfologi

Sebagian  jamur mempunyai tubuh vegetatif yang terdiri dari filamen (benang) memanjang, bersambungan, bercabang, mikroskopis, mempunyai dinding sel yang jelas.

 

è Reproduksi

Sebagian besar jamur berkembang biak dengan spora

 

è Ekologi dan Penyebaran

Hampir semua jamur patogen tumbuhan menghabiskan sebagian hidupnya pada tumbuhan inang dan sebagian didalam tanah atau sisa tumbuhan dalam tanah.

 

                                                                                         (agrios, 1995)

b.      Virus

è Morfologi

Virus tumbuhan berbeda bentuk dan ukuran tetapi umumnya digambarkan dengan bentuk memanjang (batang yang kaku atau benang yang lentur)

 

è Komposisi

Setiap virus tumbuhan sedikitnya terdiri atas satu asam nukleat dan protein. Beberapa virus terdiri lebih dari satu ukuran asam nukleat dan protein.

                                                                                                 

                                                                                                (agrios, 1995)

c.       Bakteri

è Morfologi

Hampir semua bakteri patogenik, tumbuhan berbentuk batang kecuali stetomyces yang berbentuk benang. Panjang 0,6 – 3,5 μm dan diameter 0,5 – 1 μm

 

è Reproduksi

Berkembang biak melalui proses aseksual yang dikenal sebagai Ginnary fision atau fision.

 

è Ekologi dan Penyebarannya

Sebagian besar bakteri berkembang dalam tubuh inangnya sebagai parasit dan sebagian kecil. Pada sisa tumbuuhan atau di dalam tunasnya sebagai sarofit.

                                                                                                  (agrios, 1995)

d.      Nematoda

è Morfologi

Berukuran kecil 300-1000 μm, kadang panjangnya mencapai 4 μmdan lebar 15-35 μm, diameternya sangat kecil.

 

è Anatomi

Tubuhnya bersifat transparan, ditutupi kutikula yang tidak berwarna

 

è Daur hidup

Telur – larva – dewasa

 

è Ekologi dan Penyebarannya

Hampir semua nematoda patogenik –tumbuhan hidup dalam tanah.

                                                                                                (agrios, 1995)

 

e.       Tumbuhan Parasit

  • ·         Memiliki kemampuan mengambil makanan berupa bahan organik dan anorganik dari inangnya.
  • ·         Parasit yang menggantungkan sebagai energi dari inang disebut parasit fakultatif, sedangkan yang sepenuhnya disebut parasit obligat.

 

                                                                                                ( Muhidin, 1993)

2.5 Perbedaan Penyakit yang Disebabkan Jamur, Bakteri, Virus dan Nematoda

 

a.       Jamur

  • ·         Adanya bercak kuning pucat/kuning kecoklatan dan bentuknya bervariasi
  • ·         Adanya bercak daun pada kedua sisi permukaan daun
  • ·         Tanaman tampak lunak, basah serta berlendir

 

b.      virus

  • ·         Terjadi penurunan laju pertumbuhan
  • ·         Penurunan hasil
  • ·         Menyerang batang, daun dan akar
  • ·         Daun mengerut dan tampak seperti terbakar

 

c.       bakeri

  • ·         Pembusukan yang berair dan busuk karena kerusakan jaringan
  • ·         Permukaan berair dan bau tak sedap
  • ·         Terjadi gejala yang hyperplasma

 

d.      nematoda

  • ·         Mengakibatkan kerusakan yang berat, mematikan inang saat populasi tinggi
  • ·         Mengurangi kemampuan tanaman untuk menginkubasi jamur

 

(semangun, 1989)

BAB III

PEMBAHASAN

 

 

3.1 Bioekologi dari 10 Spesimen dan Keterangan

 

  1. Meloidogyne sp

a.       Nama latin                         : Meloidogyne sp

b.      Nama umum                      : bisul akar atau puru akar

c.       Jenis pathogen                   : Nematode

d.      Klasifikasi

Kingdom                        : Animalia

Filum                              : Aschelmintes

Kelas                              : Nematoda

Ordo                               : Tyrentida

Family                            : Hetero deniaceae

Genus                             : Meloidogyne

Spesies                           : Meloidogyne sp

                                                                                                (Anonymous,2010)

e.       Inang utama                      : jagung, tomat

f.       Inang alternatif                 : tebu, kentang, tembakau

g.      Bagian yang diserang        : akar

h.      Tipe gejala                         : hipertropy

i.        Gejala yang ditimbulkan

-    Berdasarkan pengamatan

  • ·         Akar serabut menjadi banyak jumlahnya
  • ·         Timbul bisul pada akar

 

-   Berdasarkan literature

  • ·         Daun menjadi lekas masak dan gugur
  • ·         Akar serabut sekunder menjadi abnormal jumlahnya
  • ·         Timbul bisul pada akar

(Muhidin, 1993)

j.        Cara pengendalian

-      Menggunakan benih bebas nematode dari tanaman yang sehat

-      Rotasi tanaman

-      Penggunaan nematisida kimia

-      Biji yang diragukan kesehatannya di rendam dengan air panas

 

Gambar literature dan tangan

 

(anonymous, 2010)

 

2. CMV (Cucumber Mozaik Virus)

a.       Nama latin                         : CMV (Cucumber Mozaik Virus)

b.      Nama umum                      : keriting pada cabai

c.       Jenis pathogen                   : virus

d.      Klasifikasi

Kingdom                        : Virus

Filum                              : Virus RNA

Kelas                              : Virus RNA

Ordo                               : Bromoviridas

Genus                             : Cucumovirus

Spesies                           : Cucumber mozaik virus

                                                                                                (Anonymous,2010)

e.       Inang utama                      : cabai, tomat

f.       Inang alternatif                 : tembakau

g.      Tipe gejala                         : nekrotik hipoplastik

h.      Bagian yang diserang        : daun

i.        Gejala yang ditimbulkan

-    Berdasarkan pengamatan

  • ·         Daun berwarna kuning kehijaun
  • ·         Agak sedikit mengkerut

-   Berdasarkan literatur

  • ·         Daun berubah warna dan menampilkan warna hijau dan bercak tidak rata
  • ·         Tanaman kerdil, mengkerut dan terjadi pembengkakan jaringan

(Muhidin, 1993)

j.        Cara pengendalian

-     Menanam bibit yang resitan

-     Tanaman yang telah terinfeksi dicabut dan dibakar

-     Membersihkan gulma

-     Sterilisasi tanah

-     Rotasi tanaman 

k.      Gambar literature dan tangan 

(anonymous, 2010)

3. Colletotrichum capsici

 

a.       Nama latin                         : Colletotrichum capsici

b.      Nama umum                      : antraknosa atau patek

c.       Jenis pathogen                   : jamur (Gloeosporium piperatum)

d.      Klasifikasi

Kingdom                        : Fungi

Filum                              : Ascomycota

Kelas                              : Sodariomycates

Ordo                               : Phyllachorules

Family                            : Phyllachoraceae

Genus                             : Colletotrichum

Spesies                           : Colletotrichum capsici

                                                                                                (Anonymous,2010)

e.       Inang utama                      : cabai

f.       Inang alternatif                 : tembakau

g.      Bagian yang diserang        : buah

h.      Tipe gejala                         : nekrotik

i.        Gejala yang ditimbulkan

-    Berdasarkan pengamatan

  • ·         Adanya bercak basah pada buah

-   Berdasarkan literatur

  • ·         Membentuk bintik-bintik kecil berwarna kehitaman dan berlekuk pada buah yang masih hijau atau sudah masak, bahkan bisa menyebabkan mati ujung.
  • ·         Bintik-bintik itu akan membesar dan memanjang, tepinya berwarna kuning dan bagian tengahnya menjadi semakin gelap.
  • ·         Pada serangan berat, buah akan menjadi kering dan keriput.

(Anonymous, 2010)

j.        Cara pengendalian

-     Menanam benih yang tahan penyakit

-     Sebelum disemai benih di rendam air hangat

-     Buah cabai yang diserang segera dipanen dan dibakar

-     Mengelola air dan system draenase

-     Membersihkan gulma

k.      Gambar literature dan tangan 

(anonymous, 2010)

 

  1. 4. Erwinia carotovora




a.       Nama latin                         : Erwinia carotovora

b.      Nama umum                      : Busuk lunak pada wortel

c.       Jenis pathogen                   : Bakteri Erwinia

d.      Klasifikasi

Kingdom                        : Bacteria

Filum                              : Preobacteria

Kelas                              : Gamma protobacteria 

Ordo                               : Enterubacteriales

Family                            : Enterubacteriaceae

Genus                             : Erwinia

Spesies                           : Erwinia carotovora

                                                                                                (Anonymous,2010)

e.       Inang utama                      : Wortel

f.       Inang alternatif                 : Kentang, tomat

g.      Bagian yang diserang        : Buah atau umbi

h.      Tipe gejala                         : nekrotik

i.        Gejala yang ditimbulkan

-    Berdasarkan pengamatan

  • ·         Umbi mengalami pembusukan
  • ·         Gejala berwarna hitam

-   Berdasarkan literatur

  • ·         Terjadi busuk basah
  • ·         Berwarna coklat atau kehitaman
  • ·         Bercak membesar atau mengendap, bentuk tidak beraturan, warna coklat
  • ·         Munculnya serangan bakteri menjadi berbau busuk yang khas dan menyengat.

(Anonymous, 2010)

j.        Cara pengendalian

-     Sanitasi, menjaga kebersihan kebun

-     Menanam dengan jarak tanam tidak terlalu dekat

-     Menghindari terjadinya luka pada tanaman

-     Penggunaan insektisida untuk mengendalikan lalat buah

k.      Gambar literature dan tangan

http://databank.groenkennisnet.nl/Imagesaantastingen/Bewaarrot_peen_2_rdax_250x187.jpg

 

 

  1. 5. Phytophthora infestans


a.       Nama latin                         : Phytophthora infestans

b.      Nama umum                      : busuk daun kentang

c.       Jenis pathogen                   : jamur

d.      Klasifikasi

Kingdom                        : Chromalveolata

Filum                              : Herokontophyta

Kelas                              : Oomycetes 

Ordo                               : Peronosporales

Family                            : Phythiaceae

Genus                             : Phytophthora

Spesies                           : Phytophthora infestans

 

                                                                                                (Anonymous,2010)

e.       Inang utama                      : Kentang

f.       Inang alternatif                 : melon, tomat

g.      Bagian yang diserang        : daun, umbi

h.      Tipe gejala                         : nekrotik

i.        Gejala yang ditimbulkan

-    Berdasarkan pengamatan

  • ·         Daun mempunyai bercak hijau kelabu

-   Berdasarkan literatur

  • ·         Daun yang sakit memiliki bercak-bercak nekrotik pada tepi daun dan ujung daun serta akarnya yang meluas dan cepat sehingga mematikan daun.
  • ·         Bercak yang berwarna hijau kelabu kebasahan meluas menjadi bercak. Dengan bentuk dan ukuran tertentu.

(Muhidin, 1993)

j.        Cara pengendalian

-     Waktu tanam yang tepat pada musim kemarau karena kurang mendapat serangan

-     Penggunaan fungisida

k.      Gambar literature dan tangan 

 

http://farm1.static.flickr.com/81/281344513_74bbffe5fe_z.jpg

  1. 6. Xanthomonas campestris

 

a.       Nama latin                         : Xantomonas campestris 

b.      Nama umum                      : busuk pada kubis

c.       Jenis pathogen                   : bakteri

d.      Klasifikasi

Kingdom                     : Bacteria

Filum                           : Preobacteria

Kelas                           : Gamma protobacteria 

Ordo                            : Xanthonmonadales

Family                         : Xanthonmonadaceae

Genus                          : Xantomonas

Spesies                         : Xantomonas campestris

                                                                                   

                                                                                                (Anonymous,2010)

e.       Inang utama                      : Kubis

f.       Inang alternatif                 : Sawi, brokoli

g.      Bagian yang diserang        : Daun

h.      Tipe gejala                         : Nekrotik

i.        Gejala yang ditimbulkan

-    Berdasarkan pengamatan

  • ·         Daun mempunyai bercak kecoklatan

-   Berdasarkan literatur

  • ·         Adanya bercak kebasahan yang ditimbulkan yang selanjutnya meluas dan bentuk yang tidak teratur, agak mengendap dengan  warna kecoklatan atau tua.
  • ·         Busuk mula-mula tidak berbau, kemudian menjadi berbau khas yang sangat menyengat

(Anonymous,2010)

j.        Cara pengendalian

-     Sanitasi

-     Pengaturan jarak tanam

-     Menghidari terjadinya luka

-     Pengendalian pasca panen

k.      Gambar literature dan tangan 

 

http://www.agroatlas.ru/content/diseases/Cucurbitae/Cucurbitae_Xanthomonas_campestris_pv_cucurbitae/Cucurbitae_Xanthomonas_campestris_pv_cucurbitae.jpg

7. Fusarium oxysporum

a.       Nama latin                         : Fusarium oxysporum

b.      Nama umum                      : layu fusarium

c.       Jenis pathogen                   : jamur

d.      Klasifikasi

Kingdom                     : Fungi

Filum                           : Deuteromycota

Kelas                           : Deuteromycetes 

Ordo                            : Moniliales

Family                         : Tuberculariaceae

Genus                          : Fusarium

Spesies                         : Fusarium oxysporum

                                                                                   

                                                                                                (Anonymous,2010)

e.       Inang utama                      : Tomat

f.       Inang alternatif                 : Pisang

g.      Bagian yang diserang        : Tangkai daun, Tulang daun

h.      Tipe gejala                         : Nekrotik-hipoplastik

i.        Gejala yang ditimbulkan

-    Berdasarkan pengamatan

  • ·         Tulang daun pucat
  • ·         Layu atau tangkai daun merunduk

-   Berdasarkan literatur

  • ·         Tulang daun pucat, terutama daun sebelah atas, diikuti dengan merunduknya tangkai, akhirnya tanaman layu
  • ·         Tanaman menjadi kerdil dan tumbuhan merana

(Muhidin,1993)

j.        Cara pengendalian

-     Menggunakan varietas yang tahan

-     Memberikan mulsa palstik untuk menaikan suhu tanah

-     Penggunaan fungisida

k.      Gambar literature dan tangan 

http://www.broadinstitute.org/files/news/images/2010/fusarium-031810.jpg

8. Plasmodiophora brassicae

a.       Nama latin                         : Plasmodiophora brassicae

b.      Nama umum                      : akar gada kubis

c.       Jenis pathogen                   : jamur

d.      Klasifikasi

Kingdom                     : Fungi

Filum                           : Myxomicota

Kelas                           : Myxomicetes 

Ordo                            : Plasmodiophorales

Family                         : Plasmodiophoraceae

Genus                          : Plasmodiophora

Spesies                         : Plasmodiophora brassicae

                                                                                   

                                                                                                (Anonymous,2010)

e.       Inang utama                      : Kubis

f.       Inang alternatif                 : Caisin

g.      Bagian yang diserang        : Akar

h.      Tipe gejala                         : Hiperplastik

i.        Gejala yang ditimbulkan

-    Berdasarkan pengamatan

  • ·         Daun hijau kelabu
  • ·         Akar membengkak
  • ·         Bintil-bintil dan terdapat kelenjar

-   Berdasarkan literatur

  • ·         Akarnya mengalami reaksi pembelahan dan pembesaran sel
  • ·         Berbentuk bintil-bintil atau kelenjar yang tidak teratur, bintil-bintil tersebut bersatu membentuk bengkakan seperti gada.
  • ·         Daun menjadi hijau kelabu dan cepat layu karena jaringan pengangkutnya rusak

(Muhidin,1993)

j.        Cara pengendalian

-     Pemberian abu atau kapur akan mengurangi infeksi

-     Menyediakan binit yang bebas pathogen

-     Penggunaan fungisida

k.      Gambar literature dan tangan 

http://www.umassvegetable.org/soil_crop_pest_mgt/disease_mgt/images/broccoli_club_root.jpg

8. Xanthomonas oryzae

a.       Nama latin                         : Xanthomonas oryzae

b.      Nama umum                      : Penyakit hawar daun

c.       Jenis pathogen                   : Bakteri

d.      Klasifikasi

Kingdom                     : Bacteria

Filum                           : Proteobacterium

Kelas                           : Gammaproteibacteriun

Ordo                            : Xanthomonadales

Family                         : Noctuidae

Genus                          : Xanthomonas

Spesies                         : Xanthomonas oryzae

                                                                                   

                                                                                                (Anonymous,2010)

e.       Inang utama                      : Padi

f.       Inang alternatif                 :

g.      Bagian yang diserang        : Daun  

h.      Tipe gejala                         : Nekrotik

i.        Gejala yang ditimbulkan

-    Berdasarkan pengamatan

  • ·         Terdapat bercak kuning pada daun
  • ·         Bercak kuning tersebur menghasilkan serabut

-   Berdasarkan literatur

  • ·         Daun pucat hijau
  • ·         Bibit terinfeksi akan layu dan daun menggulung
  • ·         Bibit akan mati

(Anonymous, 2010)

j.        Cara pengendalian

-     Menyediakan bibit yang bebas pathogen

-     Rotasi tanaman

-     Mencabut tanaman yang telah terserang

k.      Gambar literature dan tangan

http://www.shigen.nig.ac.jp/rice/rgn/vol22/image/22_23_1.jpg

  1. Puccinia sorghi

a.       Nama latin                         : Puccinia sorghi

b.      Nama umum                      : Penyakit hawar daun

c.       Jenis pathogen                   : Bakteri

d.      Klasifikasi

Kingdom                     : Fungi

Filum                           : Basicliomycota

Kelas                           : Pucci

Ordo                            : Pucciniales

Family                         : Pucciaceae

Genus                          : Puccinia

Spesies                         : Puccinia sorghi

                                                                                   

                                                                                                (Anonymous,2010)

e.       Inang utama                      : Jagung

f.       Inang alternatif                 :

g.      Bagian yang diserang        : Daun 

h.      Tipe gejala                         : Nekrotik

i.        Gejala yang ditimbulkan

-    Berdasarkan pengamatan

  • ·         Terdapat bercak karat
  • ·         Terdapat serbuk kecoklatan

-   Berdasarkan literatur

  • ·         Terdapat titik noda yang berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk yang berwarna kecoklatan

(Anonymous, 2010)

j.        Cara pengendalian

-     Mengatur kelmbapan pada area tanaman

-     Menanam varietas unggul

-     Sanitasi

-     Menggunakan pestisida

k.      Gambar literature dan tangan

 

 

http://www.omafra.gov.on.ca/IPM/images/sweet-corn/diseases/common-rust/comonrust_rust_01_zoom.jpg

 

BAB IV

PENUTUP

4.1  Kesimpulan

 

  • ·      Penyakit bisul akar (Meloidogyne sp) yang disebabkan oleh pathogen nematode yang sering dijumpai menyerang jagung atau tomat. Bagian yang diserang yaitu akar dan gejala yang ditimbulkan antara lain yaitu :

-     Daun menjadi lekas masak dan gugur

-     Akar serabut sekunder menjadi abnormal jumlahnya

-     Timbul bisul pada akar

Cara pengendaliannya yaitu

-          Rotasi tanaman

-          Penggunaan nemasida kimia

 

  • ·      Penyakit keriting pada cabai (CMV) yang disebabkan oleh virus CMV yang sering di jumpai menyerang cabai atau tomat. Bagian yang diserang yaitu daun dan buah dan gejala yang ditimbulkan adalah

-          Daun menggulung dan buah mengkerut

Cara pengendalian

-          Rotasi tanaman

-          Sterilisasi tanah

 

  • ·      Penyakit patek (Colletotricum capsici) yang disebabkan jamur yang menyerang cabai. Bagian yang diserang yaitu buah dan gejla yang ditimbulkan yaitu:

-          Bercak basah pada buah

Cara pengendaliannya :

-          Menanam benih yang than penyakit

-          Buah yang terserang segera dipanen dan dibakar

 

  • ·         Penyakit busuk lunak pada wortel (Erwinia carotovora) yang disebabkan oleh bakteri yang sering menyerang tanaman wortel. Bagian yang diserang yaitu pada umbi dan gejalanya yaitu :

-          Umbi mengalami pembusukan

-          Berwarna coklat kehitaman

Cara pengendalian

-          Sanitasi

-          Menghindari terjadinya luka

 

  • ·         Penyakit busuk daun kentang (Phytoptora infestan) yang disebabkan oleh jamur yang sering menyerang kentang. Bagian yang diserang adalah daun dan gejala yang ditimbulakan yaitu :

-          Daun memiliki bercak hijaunkelabu

 Cara pengendaliannya:

-          Penggunaan fungisida

 

 

 

  • ·         Penyakit busuk hitam pada kubis (Xanthomonas campestris) disebabkan bakteri yang sering menyerang kubis. Bagian yang diserang yaitu daun. Cara pengendaliannya :

-          Sanitasi

-          Pengaturan jarak tanaman

Gejala yang ditimbulkan :

-          Adanya bercak kecoklatan pda daun

 

  • ·         Penyakit layu (Fusarium oxyporum) disebabkan oleh jamur yang sering menyerang tomat. Bagian yang diserang adlah tangkai dan daun. Gejala yang ditimbulkan yaitu :

-          Tulang daun pucat

-          Tangkai daun merunduk

Cara pengendaliannya

-          Memberikan mulsa plastic

-          Menggunakan varietas tahan

 

  • ·         Penyakit akar gada kubis (Plamodiophora brassicae) disebabkan oleh jamur yang sering menyerang kubis. Bagian yang diserang adalah akar. Gejala yang ditimbulkan :

-          Akar membengkak

-          Daun berwarna hijau kelabu

Cara pengendaliannya

-          Pemberian abu atau kapur

-          Penggunaan fungisida

 

4.2 Saran

ada aja :-D

 

DAFTAR PUSTAKA

Agrios, 1995, Ilmu Penyakit Tumbuhan. UGM Press : Yogyakarta

Anonymous. 2010. http://ardian.blogspot.com/ . diakses tanggal 10 november 2010

Anonymous. 2010. http://en.wikipedia.org/ . diakses tanggal 10 november 2010

Anonymous. 2010. http://hortikultura.utbagdeptan.go.id/ . diakses tanggal 10

november 2010

Anonymous. 2010. http://google.co.id/imglanding/meloidogyne-akar/.  diakses

tanggal 10 november 2010

Anonymous. 2010. http://google.co.id/imglanding/CMV/. diakses tanggal 10

november 2010

Anonymous. 2010. http://google.co.id/imglanding/erwinia+kentang/.   diakses tanggal

10 november 2010

Anonymous. 2010. http://google.co.id/imglanding/pucciniasorghi/.diakses tanggal 10

november 2010

Anonymous. 2010. http://google.co.id/imglanding/xanthomonasc/. diakses tanggal 10

november 2010

Anonymous. 2010. http://google.co.id/imglanding/antraknosacabe/. diakses tanggal

10 november 2010

Anonymous. 2010. http://google.co.id/imglanding/Xanthomonaso/. diakses tanggal 10

november 2010

Anonymous. 2010. http://google.co.id/imglanding/hawarkentang/diakses tanggal 10

november 2010

Anonymous. 2010. http://google.co.id/imglanding/layufusarium/diakses tanggal 10

november 2010

Anonymous. 2010. http://google.co.id/imglanding/akargada/diakses tanggal 10

november 2010

Muhidin. 1993. Dasar Hama dan Penyakit Tumbuhan. Universitas Muhammadiyah.

Malang

Rukmana, Rahmat. 1997. Penyakit Tanaman Pengendalian. Kanisus. Yogyakarta

Tjahyadi, Nur.1989. Hama dan Penyakit Tanaman. Kanisus. Yogyakarta

 

Laporan Fieldtrip

02 Jun

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Tumbuhan merupakan komponen biotik terpenting dalam kehidupan makhluk hidup di Bumi. Tumbuhan adalah sumber makanan bagi makhluk hidup lainnya. Pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan sangat dipengaruhi oleh faktor abiotik. Tumbuhan akan berkembang dan tumbuh dengan baik apabila faktor-faktor abiotik disekitarnya cocok dan mendukung.

 

Di zaman modern ini, kemajuan teknologi yang berkembang pesat utamanya di bidang pertanian membuat para petani hanya mementingkan hasil produksi yang maksimal demi mendapatkan pendapatan lebih dengan pengeluaran yang sedikit. Juga untuk memuaskan kebutuhan konsumen yang semakin lama berragam. Keinginan konsumen ini seperti warna sayur-sayuran yang menarik, tidak berlubang, besar dan segar. Untuk memenuhi hal tersebut, petani melakukan segala cara mulai dari varietas tahan, musuh alami, intensifikasi, pagar tanaman, hingga penggunaan pestisida yang berlebihan tanpa memperhatikan dampaknya pada lingkungan dan organisme sekitarnya.

 

Dalam laporan hasil fieldwork ini, akan dibahas mengenai lahan sawah budidaya hortikultura petani setempat sehubungan dengan kondisi lahan budidaya dan sosial ekonomi petani, keberadaan hama penyakit dan musuh alami, dan pelaksanaan metode Pengendalian Hama Terpadu.

 

1.2  Tujuan

1.2.1      Tujuan Umum

  • Mengetahui kondisi lahan budidaya hortikultura.
  • Mengamati langsung organisme pengganggu tanaman pada lahan.
  • Mempererat tali silaturrahmi antar praktikan.

 

1.2.2      Tujuan Khusus

  • Mengetahui kondisi lahan dan sosial ekonomi petani hortikultura.
  • Mengetahui kendala petani budidaya tanaman hortikultura.
  • Mengetahui jenis-jenis organisme penggangu tanaman pada lahan budidaya hortikultura.
  • Mengetahui keberadaan musuh alami pada lahan budidaya hortikultura.
  • Mengetahui jenis dan kebutuhan pestisida yang digunakan pada lahan budidaya petani.

 

1.3  Manfaat

  • Lebih memahami kondisi di lahan budidaya petani hortikultura secara langsung.
  • Membagi wawasan pengetahuan kepada pembaca mengenai kondisikomponen abiotik dan biotik.
  • Diharapkan data yang diperoleh dari hasil pengamatan maka dapat meminimalisir kegagalan dalam usaha pertanian.

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1  Pengertian Pengendalian Hama Terpadu.

Pengendalian Hama Terpadu merupakan suatu kebijakan pengendalian hama dan penyakit yang diterapkan dalam setiap program perlindungan tanaman.

(Suyanto, 1994)

2.2  Pengertian OPT

Organisme pengganggu tanaman adalah semua organisme yang dapat menyebabkan penurunan potensi hasil yang secara langsung karena menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara terhadap tanaman budidaya.

(Tjahjadi, 1989)

2.3  Pengertian Ekosistem

Ekosistem adalah suatu sistem biologi yang kompleks dan tersusun oleh organism (termasuk hama) pada suatu tempat yang saling berinteraksi dengan organism lainnya dan dengan lingkungan fisiknya.

(Suyanto, 1994)

2.4  Komponen PHT

Meskipun PHT mencakup beberapa teknik pengendalian hama standar, empat komponen PHT jelas terpisah dari yang khas pengendalian hama praktek-praktek yang hanya mengandalkan perangkap dan keracunan. Keempat komponen tersebut adalah :

-   Inspeksi         :  Pemeriksaan area indoor dan outdoor untuk mengidentifikasi apa, di mana, dan mengapa hama yang aktif. Sebuah inspeksi yang dilakukan pada awal dari program PHT; inspeksi ringan terjadi sepanjang program PHT.

-   Pemantauan  :  Verifikasi kehadiran atau tidak adanya hama. Pemantauan meliputi pengamatan langsung dari hama; pengamatan langsung dari kotoran hama, noda, kerusakan, dll, dan koleksi hama dalam perangkap.

-   Pengobatan   :  Tindakan korektif atau intervensi untuk mengurangi jumlah hama. Pendidikan untuk mengubah perilaku masyarakat adalah bagian paling penting dari program PHT yang efektif. Membersihkan, sanitasi, dan menjaga hama keluar yang efektif dalam jangka panjang.

-   Evaluasi         :  Tindak lanjut untuk menentukan apakah pengobatan yang berhasil dan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Evaluasi adalah salah satu komponen paling penting dari rencana PHT.

(anonymousa,2011)

 

2.5  Komponen Ekosistem

 

Komponen ekosistem dibagi dua,yaitu komponen dari segi biotik dan abiotik. Komponen biotik meliputi :

  1. Komponen Biotik
  • Produsen      :  makhluk hidup yg mampu menghasilkan makanan sendiri.

Contoh           :  tumbuhan yg mampu fotosintesis

  • Konsumen       :  makhluk hidup yg tdk mampu membuat makanan sendiri. Terdiri dari konsumen tingkat 1 (memakan langsung tumbuhan), konsumen tingkat 2 (memakan konsumen tingkat 1), dan konsumen tingkat 3 (memakan konsumen tingkat 2)

Contoh            :  hewan dan manusia

 

  • Pengurai          :  makhluk hidup yg menguraikan zat-zat yg terkandung dalam sampah dan sisa makhluk hidup mati.
  1. Komponen Abiotik
  • Air
  • Tanah
  • Udara
  • Cahaya matahari

(Anonymousb, 2011)

2.6  Peran PHT Dalam Ekosistem Pertanian

 

Penggunaan pestisida untuk membunuh hama dan penyakit seringkali juga membunuh organisme lain di dalam ekosistem. Bila organisme yang mati adalah organisme yang menguntungkan bagi pengendalian hama, maka bisa terjadi serangan hama yang lebih hebat. Keadaan ini dapat terjadi karena terganggunya keseimbangan ekosistem yang ada. Sayangnya, penumpukan pestisida dalam ekosistem menimbulkan pencemaran lingkungan yang tidak dapat dilihat dan dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

 

Sehingga PHT merupakan perwujudan anjuran pembangunan pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang berwawasan lingkungan dengan mengandalkan keterpaduan teknologi teruji dan keterampilan serta kemampuan para petani itu sendiri

(Novizan, 2002)

 

 

2.7  Faktor Penyebab Timbulnya Peledakan Hama dan Penyakit

 

Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi ledakan populasi suatu hama tanaman. Faktor pertama adalah kondisi cuaca yang menguntungkan. Cuaca dan iklim memiliki pengaruh langsung terhadap laju pertumbuhan dan kematian suatu jenis serangga. Faktor kedua adalah budi daya yang intensif dan monokultur. Budi daya yang intensif  menjadikan lahan pertanian jenuh pemakaian dan monokultur mengakibatkan suatu spesies tanaman tumbuh pada areal yang luas. Dampaknya sangat menguntungkan bagi pertumbuhan hama tanaman tersebut.

Faktor ketiga adalah musnahnya lingkungan alami. Kegiatan ekstensifikasi pertanian dan aktivitas pembangunan sektor lainnya dapat menghilangkan areal alami seperti hutan yang merupakan habitat alami serangga beserta musuh alaminya. Faktor keempat Pemakaian insektisida yang intensif untuk memusnahkan hama tanaman tertentu dapat mengakibatkan musuh alami dari hama tersebut turut terbunuh. Dengan hilangnya musuh alami, kemampuan hidup dari hama menjadi lebih tinggi hingga mencapai tingkat epidemik.

(Untung, 1984)

2.8  Metode Pengendalian OPT

  1. Pengendalian Kultur Teknik

 

Cara pengendalian ini mudah dikerjakan dan tidak mencemari lingkungan. Tujuannya untuk mengelola lingkungan tanaman agar tidak sesuai untuk hidup dan perkembangbiakkan hama. Pengendalian kultur juga merupakan salah satu upaya meningkatkan fungsi musuh-musuh alami hama dalam menekan peningkatan populasi hama.

 

 

 

  1. Penggunaan Varietas Tahan

 

Teknik pengendalian ini memiliki banyak keuntungan karena caranya cukup praktis, murah, hama yang akan dikendalikan tertentu, sifat tahan hama tersebut dapat berlangsung lama, mudah dipadukan dengan teknik pengendalian lainnya sehingga hasil pengendalian yang diperoleh optimal.

 

  1. Pengendalian Fisik dan Mekanik

 

Pengendalian fisik dan mekanik merupakan tindakan yang ditujukan baik secara langsung atau tidak langsung mematikan, mengganggu aktivitas, dan mengubah keadaan lingkungan sehingga tidak sesuai untuk hama. Pengendalian fisik dan mekanik tidak menimbulkan pengaruh negative terhadap lingkungan.

 

  1. Pengendalian Hayati

 

Teknik pengendalian melalui pemanfaatan dan penggunaan musuh alami hama untuk mengendalikan populasi hama yang merugikan. Musuh alami yang berperan penting dalam mengendalikan populasi hama yaitu parasitoid, predator, dan pathogen.

 

  1. Pengendalian Kimiawi

 

Pengendalian yang dimaksudkan adalah penggunaan pestisida untuk mengendalikan populasi hama sehingga tidak menimbulkan kerugian. Keuntungan pengendalian kimiawi adalah cepat menurunkan populasi hama, mudah pemakaiannya, dan murah. Pengendalian ini berdampak negatif terhadap lingkunganseperti reistensi, resurjensi, letusan hama kedua, dan pencemaran lingkungan lainnya.

 

 

  1. Perpaduan Teknik Pengelolaan Hama yang Optimal

 

PHT merupakan pengendalian bersifat multilateral yang memadukan berbagai teknik pengendalian hama yang kompatibel. Perpaduan teknik pengendalian yang optimal tidak hanya tertuju pada satu jenis hama saja, tetapi diusahakan untuk semua organisme pengganggu pada ekosistem.

(Suyanto, 1994)

2.9  Konsep Ambang Ekonomi

Ambang ekonomi atau ambang pengendalian sering juga diistilahkan sebagai ambang toleransi ekonomik. Ambang ini merupakan ketetapan tentang pengambilan keputusan, kapan harus dilaksanakan penggunaan pestisida. Apabila ternyata populasi atau kerusakan hama belum mencapai aras tersebut, penggunaan pestisida masih belum diperlukan.

Perumusan ambang ekonomi ditentukan oleh petani sendiri, seperti melakukan pengamatan serangan pada tanaman budidayanya yang hasil perolehan hama sejumlah batas-batas tertentu seperti yang telah disarankan dari hasil penelitian.

(Arief, 1994)

BAB III

METODOLOGI

 

 

3.1  Waktu dan Tempat

3.1.1      Waktu Pengamatan

Hari                      :  Rabu

Tanggal    :  14 Desember 2011

Jam                     :  13.00

Narasumber        :  Bpk. Sukardi

 

3.1.2      Tempat Pengamatan

 

Lokasi pengamatan dilakukan di daerah Mbocek, Kecamatan Karang Ploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

 

3.2  Langkah Kerja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

Hasil Dan Pembahasan

 

4.1  Hasil

4.1

4.1.1    Kondisi lahan

 

Lahan pertanian pada daerah ini pada awalnya berupa Berdasarkan hasil pengamatan di lahan pertanian yang ada di Desa Bocek, Kecamatan Sukorejo. Kondisi lahan pada dserah ini sudah tercemar hala ini terlihat dari banyaknya petani yang menggunakn pupuk kimia pada lahan pertanian mereka.

 

4.1.2    Sistem Budidaya Yang Dijadikan Petani

 

Pada lahan pertanian yang kami amati, petani menggunakan sistem pertanian tumpang sari, yaitu dalam satu lahan terdapat banyak jenis tanaman. Antara lain jagung, terong, dan cabe. Sebenarnya jenis tanaman yang diproduksi adalah jenis cabe dan terong, jagung hanya sebagai tanaman pelengkap. Penanaman seperti ini menurut petani hasil yang didapatkan lebih maksimal.

4.1.3    Hama Yang Ditemukan Dilapang

  1. Kepik Hijau

Klasifikasi  :

Kingdom          :  Animalia

Filum               :  Arthropoda

Kelas               :  Insecta

Ordo                :  Hemiptera

Famili               :  Pentatomidae

Genus              :  Nezara

Spesies            :  Nezara viridula

Ciri-ciri :

Panjang kepik hijau sekitar 16 mm. Telur diletakkan berkelompok pada permukaan bawah daun. Nimfa terdiri-dari 5 instar. Instar awal hidup bergerombol di sekitar bekas telur, kemudian menyebar. Siklus hidup: 4 – 8 minggu. Telur 5 – 7 hari. Larva: 21 – 28 hari.

(Kartasapoetra, 1987)

  1. Ulat Grayak

Klasifikasi  :

Kingdom          :  Animalia

Filum               :  Arthropoda

Kelas               :  Insekta

Ordo                :  Noctuidae

Famili               :  Lepidoptera

Genus              :  Spodoptera

Spesies            :  Spodoptera litura

Ciri-ciri :

Pada ruas perut yang keempat dan kesepuluh terdapat bentuk bulan sabit berwarna hitam yang dibatasi garis kuning pada samping dan punggungnya. Telur diletakkan berkelompok 100 – 300 butir/kelompok. Kelompok telur biasanya berbentuk oval dan ditutupi rambut-rambut (sisik) berwarna cokelat. Larva terdiri-dari 6 instar. Imago berwarna cokelat dan aktif pada malam hari. Siklus hidup: lebih kurang 4 – 5 minggu. Telur: 3 – 6 hari. Larva: 15 – 21 hari. Pupa: lebih kurang 12 hari.

(Samadi, 1997)

 

  1. Lalat Buah

Klasifikasi :

Kingdom            :  Animalia

Phylum              :  Arthropoda

Class                 :  Insekta

Ordo                  :  Diptera

Family               :  Drosophilidae

Genus               :  Drosophila

Spesies             :  Drosophila melanogaster

Ciri-ciri :

Lalat buah mempunyai tubuh yang berbuku-buku, baik ruas tubuh utama maupun alat tambahan. Lalat buah hanya mempunyai dua buah sayap. Sayap yang berkembang adalah sayap bagian depan. Sayap belakang mengecil dan berubah bentuk menjadi alat keseimbangan yang disebut halter. Lalat buah mengalami perubahan bentuk tubuh atau metamorfosis secara sempurna. Alat mulut tipe lalat buah dewasa bertipe penjilat-penyerap. Lalat dewasa memiliki bercak-bercak atau bintik-bintik hiasan berwarna hitam, putih, atau kekuningan pada sayapnya. Sayapnya sendiri transparan. Badannya pada beberapa bagian berwarna hitam, kemerah-merahan, atau kekuning-kuningan. Pada ruas belakang badan terdapat alat peletak telur atau ovipositor sama seperti serangga lain, namun bentuknya pipih.

(Samadi, 1997)

  1. Kutu Daun

Klasifikasi :

Kingdom            :  Animalia

Phylum              :  Arthropoda

Class                 :  Insekta

Ordo                  :  Hemiptera

Family               :  Aphididae

Genus               :  Myzus

Spesies             :  Myzus persicae

Ciri-ciri :

Mulut berbentuk jarum dan tidak mengalami metamorfosis sempurna. badan berukuran kecil (1-2 mm). Warna badannya bervariasi yaitu hijau tua (gelap) sampai hitam, kuning dan kuning kemerah-merahan. Badannya berselaput seperti tepung lilin. Perkembangbiakan kutu daun secara pertenogenesis, yaitu dapat menghasilkan telur tanpa pembuahan.

(Samadi, 1997)

 

 

  1. Belalang Kayu

Klasifikasi :

Kingdom           :  Animalia

Phylum                         :  Arthropoda

Class                 :  Insecta

Ordo                 :  Orthoptera

Family               :  Acrididae

Genus               :  Valanga

Spesies             :  Valanga nigricornis

(Kartasapoetra, 1987)

4.1.4    Penyakit yang ditemukan dilapang

  1. Layu daun (Fusarium)

Klasifikasi :

Kingdom          :  Fungi

      Filum               :  Ascomycota

Kelas               :  Sordariomycetes

Ordo                :  Hypocrales

      Famili              :  Nectriaceae

      Genus                         :  Fusarium

                        Gejala             :   Daun menjadi kuning dan layu. Tulang tanaman layu dan terkulai. Batang terdapat lingkaran coklat.

( Samadi,1997)

  1. Busuk daun (Phytophthora infestans)

Klasifikasi :

Kingdom : Chromalveolata

Filum               :  Heterokontophyta

Kelas               :  Oomycota

Ordo                :  Peronosporales

Famili               :  Pythiaceae

Genus              :  Phytophthora

Gejala              :   Daun dan buah timbul bintik-bintik hitam tak beraturan. Tanaman mengering dan mati

( Samadi,1997)

 

  1. Busuk Buah (Colectroticum sp.)

Klasifikasi :

Kingdom          :  Fungi

Filum               :  Ascomycota

Kelas              :Sordariomycetes

Ordo                : Glomerellales

Famili              : Glomerellaceae

Genus             : Colletotrichum

Gejala              : Bercak coklat pada buah

Buah mengering dan busuk

( Samadi,1997)

 

4.1.5 Musuh alami yang ditemukan dilapang

a.   Kumbang Kubah Spot M

      Klasifikasi

      Kingdom          : Animalia

      Phylum            : Arthropoda

      Class               : Insekta

      Ordo                 : Coleoptera

      Family             : Carabidae

      Genus             : Menochllus

      Spesies           : Menochillus sexmaculatus

                                           ( Suyanto,1994)

  1. Semut Rang-rang

Klasifikasi        :

Kingdom          : Animalia

Phylum            : Arthropoda

Class               : Insekta

Ordo                : Heminoptera

Family                         : Kamilidae

Genus                         : Solenopsis

Spesies           : Solenopsis sp.       

( Suyanto,1994 )

  1. Laba-laba

Klasifikasi        :

Kingdom           : Animalia

Phylum             : Arthropoda

Class               : Arachnidae

Ordo                : Aroneceae

Family             : Lycosidae

Genus               : Lycosa

Spesies             : Lycosa sp.

 

( Suyanto,1994 )

 

 

4.1.6      Kendala Budidaya Oleh Petani

 

Kendala budidaya pertanian yang di alami  petani adalah perawatan tanaman dan cuaca yang tidak menentu. Banyak dari tanaman petani terserang oleh hama  seperti lalat buah dan keadaan cuaca yang tidak menentu menyebabkan tanaman menjadi kerdil, hal ini terlihat pada jenis tanaman timun dan kacang yang tidak dapat tumbuh dengan normal. Selain itu banyak dari buah cabe yang rontok karena busuk.

 

4.1.7      Penyebab OPT menurut petani

 

Menurut data yang kami dapat dari petani, petani menyatakan bahwa petani juga belum mengetahui seara pasti apa sebenarnya penyebab dari munculnya OPT . Kemungkinan timbulnya OPT adalah adanya cuaca yang tidak menentu.

 

4.1.8      Kebutuhan Pestisida yang digunakan dalam teknis pengunaan pestisida oleh petani

 

Berdasarkan data yang kami dapat dari petani, pestisida yang mereka gunakan adalah jenis  adesis, pamuton dan Cariton. Pemberian pestisida dilakukan setiap 3 hari sekali dilakukan pada pagi hari atau sore hari.

 

4.1.9      Kondisi sosial Ekonomi Petani

 

Lahan pertanian ini milik bapak Sareh yang kemudian dikelola oleh bapah Sukardi. Dalam 1 lahan kira-kira hasil yang didapatkan Rp. 1.000.000,00. Petani sudah mendapatkan keuntungan dari hasil produksi, namun keuntungan yang diperoleh tidak banyak belum lagi keuntungan tersebut harus dibagi antara pemilik lahan dan pengelola lahan.

 

4.2  PEMBAHASAN

4.2.1      Penjelasan Ekosistem Yang Ditemukan

 

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi.

 

Pada fieldwork ini praktikan melakukan pengamatan pada ekosistem lahan hortikultura yaitu cabai. Pada ekosistem lahan hortikultura cabai ini dipengarui oleh 2 faktor yaitu faktor abiotik dan faktor biotic.

 

Faktor abiotik pada lahan pengamatan ini adalah :

  1. Suhu

Proses biologi dipengaruhi suhu. Setiap tanaman memiliki kisaran suhu tersendiri untuk dapat mempertahankan idupnya, begitu pula pada cabai yang dapat bertahan hidup pada kisaran suhu 24-27oC

  1. Air

Ketersediaan air sangat penting untuk pertumbuhan tanaman,air berfungsi dalam proses fotosintesis, transpirasi dan lain-lain

  1. Garam

Konsentrasi garam memengaruhi kesetimbangan air dalam organisme melalui osmosis.

  1. Cahaya matahari

Intensitas dan kualitas cahaya memengaruhi proses fotosintesis. Air dapat menyerap cahaya sehingga pada lingkungan air, fotosintesis terjadi di sekitar permukaan yang terjangkau cahaya matahari.

  1. Tanah dan batu

Beberapa karakteristik tanah yang meliputi struktur fisik, pH, dan komposisi mineral membatasi penyebaran organisme berdasarkan pada kandungan sumber makanannya di tanah.

  1. Iklim

Iklim adalah kondisi cuaca dalam jangka waktu lama dalam suatu area. Tanaman cabai sabgat cocok untuk iklimdi daerah datarn tinggi karena daerahnya yang dingin dan beersuhu rendah.

 

Faktor biotik pada lahan pengaman meliputi vegatasi dan artropoda. Vegetasi pada lahan hortikultura meliputi:

  1. Vegetasi utama          :  Tanaman cabai
  2. Tumpang sari             : Tanaman jagung dan papaya

Sedangkan untuk arthropodanya ada:

  1. Hama                        : kepik, belalang hijau
  2. Musuh alami  : kumbang kubah spot M

 

Dalam setiap ekosistem selalu ada rantai makanan. Rantai makanan yang terjadi pada lahan hortikultura cabai ini adalah:

Tanaman cabai -> kepik -> kumbang kubah spot M

 

4.2.2      Analisis Penyebab Tumbuhnya Gejala Serangan OPT Pada Lahan

Penyebab tumbuhnya gejala serangan OPT pada lahan ada 3 :

  1. Lingkungan
  2. Phatogen yang mengganas
  3. Tanaman yang rentan

Patogen dapat menyerang tanaman budidaya jika lingkungan dia hidup mendukung untuk tumbuh dan berkembang biaknya pathogen. Lingkungan yang mendung meliputi suhu yang sesuai, radiasi matahari, iklim dan lain-lain. Selain lingkungan yang mendukung faktor tanaman juga mempengaruhi. Pathogen akan menyerang tanaman budidaya yang rentan terhadap serangan penyakit. Jadi jika ketiga unsure tersebut adapada suatu lahan pertanian sudah dapat dipastikan tanaman bududaya di lahan tersebut akan terserang penyakit. Namun jika salah satu unsur diatas tidak memenuhi maka pathogen tidak akan menyerang tanaman budidaya.

 

4.2.3    Analisis Kendala Pengendalian OPT pada Lahan

 

Kendala pengendalian OPT yang dialami adalah, yang pertama para petani di perkebunan  hortikultura yaitu pada lahan cabai, mereka terlalu bergantung pada pestisida, mereka belum mengetahui dampak – dampak yang terjadi akibat menggunakan pestisida. Dampak yang terjadi bukan hanya merusak system ekosistem tetapi juga dapat mengganggu kesehatan manusia. Pestisida memang menguntungkan namun kurang baik pada kelangsungan ekosistem. Apalagi sangat mudah untuk saat ini mendapatkan pestisida, karena pestisida sangat mudah diperjual belikan. Kurangnya pengetahuan terhadap pengendalian OPT mungkin juga nenjadi salah satu kendalanya, mereka hanya mengetahui cara-cara pengendalian pada oknum-oknum yang menjual pestisida bukan pada Badan Penyuluh Pertanian. Hanya sebagian orang yang mengetahui pengendalian OPT dengan menggunakan konsep PHT. Dilema yang dihadapi para petani saat ini adalah disatu sisi cara mengatasi masalah OPT dengan pestisida sintetis dapat menekan kehilangan hasil akibat OPT, tetapi menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Di sisi lain, tanpa pestisida kimia sintetis akan sulit menekan kehilangan hasil akibat OPT, apalagi jika dilihat kebutuhan pangan yang semakin meningkat.

 

4.2.4   Solusi Pengendalian OPT yang Dapat Diterapkan di Lahan Observasi Berdasarkan Konsep PHT dengan Pertimbangan Keadaan Aspek Lingkungan Sosek Petani.

 

Beberapa solusi yang dapat ditawarkan untuk mengendalikan OPT pada petani yaitu penggunaan system tumpang sari dapat pula digunakan sebagai pengendaliian OPT. Misalnya pada saat menanam cabai kita dapat menanam tanaman lain yang tidak sejenis untuk mengalihkan perhatian hama pada tanaman utama sehingga hama tersebut tidak terpacu pada tanaman cabai saja, dan mengundang datangnya musuh alami untuk mengendalikan hama pada tanaman cabai tersebut. Tanaman tumpang sari tersebut  juga harus merupakan tanaman yang disukai musuh alami, agar musuh alami tersebut dapat memangsa hama pada tanaman utama, sehingga jalannya rantai makanan akan terus berlangsung dan ekosistem pun akan seimbang. Keuntungan lainnya yaitu dapat mengurangi pengeluaran biaya. Untuk mencegah penyebaran penyakit melelui tanah dapat pula membuat parit agar penyakit tidak makin menyebar, selain itu dapat pula membuat batas atau pagar hama tidak masuk pada lahan hortikultura. Pengendalian hayati didasarkan pada pemahaman siklus hidup OPT dan mencegah perkembangan OPT tersebut. Keanekaragaman dari mikrooragnisme yang antagonistik dan kekayaan sumberdaya alam di Indonesia, sebenarnya menjanjikan peluang yang cukup besar untuk dimanfaatkan dalam pengendalian hayati penyakit tanaman.

Pestisida merupakan alat pengendali organisme pengganggu yang sangat penting perannya karena mempunyai spectrum yang luas, namun seringkali berdampak merugikan karena pestisida dapat membunuh organisme penting lainnya.

Seharusnya para petani juga harus berkonsultasi pada penyuluh pertanian agar tindakan yang dilakukan tepat dan tidak mengganggu keseimbangan  ekosistem.


 

BAB V

 

PENUTUP

 

 

5.1 Kesimpulan

 

OPT merupakan Organisme Penggangu Tanaman faktor pembatas tanaman di Indonesia baik tanamn pangan maupun hortikultura.  OPT dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Untuk pengendalian OPT ini dapat dilakukan dengan pengendalian secara hayati yaitu pengendalian dengan cara memanfaatkan musuh alami untuk penggendalian OPT termasuk memanipulasi inang , lingkungan atau musuh alami itu sendiri.

 

Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan pada lahan hortikultura. Petani tidak menggunakan musuh alami dalam megendalikan OPT. Petani menggunakan pestisida dalam mengendalikan OPT, hal ini tentunya sangat merugikan lingkungan karena keragaman organisme pada daerah tersebut berkurang.

 

5.2 Saran (Rekomendasi untuk petani)

 

Untuk pengolahan lahan selanjutnya diharapkan petani menerapkan konsep ambang ekonami sehingga dapat memperhatikn lingkungan pertanian demi mencapai sistem pertanian berkelanjutan

 

5.3 Kesan Selama Praktikum

Kesan selama praktikum memiliki banyak teman karena berasal dari berbagai kelas yang berbeda, kebersamaan saat mencari spesimen dan fieldtrip dan mengulang praktikum karena tidak membawa spesimen.

 

 

 

 

5.4. Saran untuk Asissten dan Kesan Terhadap Assiten

 

Semoga kakak asisten tetap  semangat dalam menyampaikan materi dalam praktikum, dan tetap sabar dalam menghadapi praktikannya yang sering tidak membawa spesimen dalam praktikum.

Trimakasih kakak…..

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Anonymousa, 2011. http://dimesijayapestag.indonetwork.co.id/2763867/components-ipm-komponen-pengendalian-hama-terpadu.htm. diakses pada 24 Desember 2011

Anonymousb, 2011. http://id.wikipedia.org/wiki/Ekosistem. diakses pada 24 Desember

Arief, arifin. 1994 . Perlindungan Tanaman Hama Penyakit dan Gulma. Surabaya : Usaha Nasional.

Kartasapoetra, A.G. 1987. Hama tanaman dan perkebunan. Bina aksara. Jakarta

Samadi, budi. 1997. Budidaya cabai merah secara komersial.yayasan pustaka nusatama. Yogyakarta

Suyanto, agus. 1994. Seri PHT HAMA SAYUR DAN BUAH. PT Penear Swadaya. Jakarta.

Tjahjadi, nur.1989.Hama da Penyakit Tanaman. Yogyakarta:Kanisius.

Untung, kasumbogo.1984. Pengantar Analisis Ekonomi Pengendalian Hama Terpadu. Penerbit Andi Offset. Yogyakarta.