Cintailah Produk-produk Indonesia!

Awalnya tidak terbersit sedikitpun keinginan untuk membeli perangkat satu ini. Berhubung tugas akhir mensyaratkan untuk upgrade hardware, akhirnya mau nggak mau nebus juga satu unit Xiaomi Redmi 3S rakitan pabrik lokal Indonesia. Benar sekali, Xiaomi kini telah bekerjasama dengan salah satu ritel penjualan telpon genggam terkemuka di Indonesia untuk merakit produknya di Batam. Demi memenuhi unsur Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) sebesar 30% yang rencananya mulai diterapkan di tahun 2017 ini.

Xiaomi Redmi 3S Rakitan Indonesia

Xiaomi Redmi 3S Rakitan Indonesia

20170315_222104

Akhirnya “Made in Indonesia”

Penting nggak sih sebenarnya TKDN ini? Harus diakui, TKDN itu penting banget, terutama bagi masyarakat pengguna ponsel cerdas yang diprediksi totalnya 103 juta orang di tahun 2018 nanti (Survey eMarketer 2014), supaya tidak hanya sekedar menjadi konsumen saja. TKDN nantinya berperan sebagai “wasit” yang mengatur supaya pabrikan ponsel cerdas yang ingin memasuki pasar Indonesia agar berperan dalam mentransfer ilmu manufaktur, teknologi yang mereka gunakan, bahkan bisa berinvestasi dalam skala besar di Tanah Air.

Semoga lancar dipakai nge-VR

Semoga lancar dipakai nge-VR

Balik lagi ke soal Redmi 3S yang baru saja ditebus. Dengan mahar yang cukup terjangkau (ciri khas Xiaomi), smartphone satu ini menghadirkan fitur yang lumayan mumpuni. Karena sudah memenuhi unsur TKDN yang ditentukan, Redmi 3S bisa mengakses jaringan 4G yang disediakan operator dalam negeri. RAMnya 3GB dan ROMnya sebesar 32GB. Disokong CPU Snapdragon 430 dan GPU Adreno 505, semoga aja nggak pake acara ngelag pas ngejalanin program VR yang mau dibuat. hehehehe…

Semoga kedepannya TKDN bukan menjadi “batu” sandungan buat pabrikan ponsel cerdas di luar sana, tetapi menjadi “jembatan” kemitraan antara pemerintah dengan pabrikan ponsel cerdas yang ingin memasarkan produknya di Indonesia. Sehingga bangsa kita tidak hanya sekedar menjadi konsumen, tapi juga merasakan manfaat yang lain seperti mendapat ilmu manufaktur, teknologi dan juga harga produk yang lebih murah karena diproduksi di dalam negeri..mantap tho?

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tutorial Membuat Marker Menggunakan ARToolkit

Kali ini saya akan berbagi tutorial mengenai cara membuat marker menggunakan ARToolkit dan bagaimana cara menampilkan obyek 3D pada marker tersebut. Tutorial ini sebenarnya merupakan tugas akhir untuk melengkapi nilai UAS mata kuliah Augmented dan Virtual Reality yang saya ambil pada semester lalu. Daripada hanya tersimpan di hardisk, akan lebih bermanfaat jika dibagikan secara luas. Langsung saja kira praktikkan tutorialnya.

  1. Buat marker yang digunakan untuk menampilkan obyek augmentednya. Disini saya menggunakan Adobe Photoshop, apabila ingin menggunakan aplikasi editing gambar lainnya tidak masalah, selama marker yang dibuat ukurannya presisi seperti ukuran persegi dan warna yang digunakan dua jenis saja yaitu hitam dan putih.
    Gambar 1. Contoh Marker yang dibuat menggunakan Photoshop

    Gambar 1. Contoh Marker yang dibuat menggunakan Photoshop

    2. Setelah marker selesai dibuat, maka cetaklah marker tersebut pada selembar kertas putih

    Gambar 2. Marker yang telah berhasil dicetak

    Gambar 2. Marker yang telah berhasil dicetak

    3. Pastikan anda telah menginstall aplikasi ARToolkit pada PC/laptop anda. Jika sudah terinstall, langsung saja menuju ke folder C:\ARToolkit\bin, lalu jalankan file mk_patt.exe

    Gambar 3. Cari file mk_patt.exe yang terdapat pada folder ARToolkit

    Gambar 3. Cari file mk_patt.exe yang terdapat pada folder ARToolkit

    4. Setelah file mk_patt.exe dijalankan, arahkan marker yang telah dicetak ke kamera PC/laptop anda. Arahkan hingga muncul garis merah dan hijau pada pinggiran marker. Apabila sudah muncul garis merah dan hijau pada pinggiran marker, klik marker tersebut pada layar tampilan mk_patt.exe

    Gambar 4. Proses peng-capture-an marker yang telah dibuat

    Gambar 4. Proses peng-capture-an marker yang telah dibuat

    5. Selanjutnya simpan marker yang sudah di-capture pada jendela command prompt mk_patt.exe. Beri nama marker anda dengan format patt.nama_marker, dalam tutorial ini saya menggunakan nama patt.markerirfan. Tekan enter saja sampai muncul tulisan “saved” pada jendela command prompt mk_patt.exe

    Gambar 5. Proses penyimpanan hasil capture marker

    Gambar 5. Proses penyimpanan hasil capture marker

    6. Kemudian cari berkas tersebut di folder “bin”, yang terdapat di dalam folder ARToolkit. Lalu pindahkan marker yang telah anda buat tadi ke dalam folder C:\ARToolkit\bin\Data

    Gambar 6. Nama marker yang berhasil disimpan

    Gambar 6. Nama marker yang berhasil disimpan

    7. Untuk menguji marker yang kita buat tadi, buka folder C:\ARToolkit\bin\Data lalu edit file object_data_vrml menggunakan text editor untuk pemrograman seperti Sublime atau Notepad++. Ganti tulisan Data/patt.hiro dengan nama marker yang telah kita buat, menjadi seperti ini misalnya Data/patt.markerirfan. Kemudian kita simpan filenya.

    Gambar 7. Proses pengeditan kode untuk uji marker

    Gambar 7. Proses pengeditan kode untuk uji marker

    8. Langkah terakhir untuk menguji marker yang telah kita buat adalah dengan menjalankan file simpleVRML.exe dan Voila! Muncullah objek augmented pada marker kita.

    Gambar 8. Obyek 3D muncul pada marker

    Gambar 8. Obyek 3D muncul pada marker

    9. Tutorial sebelumnya adalah tutorial menampilkan obyek augmented default bawaan dari ARToolkit. Bagaimana jika kita ingin membuat obyek kita sendiri? Pertama-tama kita harus membuat obyek berformat .wrl yang digunakan untuk menampilkan obyek tersebut. Dibawah ini adalah potongan dari kode obyek yang telah saya buat dan saya beri nama avr_roketfilkom.wrl

    Gambar 9. Potongan kode obyek WRL

    Gambar 9. Potongan kode obyek WRL

    10. Tampilan dari file wrl tersebut apabila dijalankan pada aplikasi freeWRL akan tampak seperti ini.

    Gambar 10. Obyek WRL berupa Roket

    Gambar 10. Obyek WRL berupa Roket

    11. Langkah selanjutnya adalah mengcopy file .wrl yang telah kita buat tadi ke dalam folder C:\ARToolkit\bin\Wrl, lalu kita buat juga file .dat yang berfungsi untuk menjadi obyek yang akan ditampilkan pada marker yang telah kita buat di awal tadi.

    Gambar 11. File WRL dan DAT yang berhasil dibuat

    Gambar 11. File WRL dan DAT yang berhasil dibuat

    12. Jangan lupa untuk untuk membuat file .dat. File ini penting untuk bisa menampilkan obyek kita pada marker

    Gambar 12. Proses pembuatan kode untuk file DAT

    Gambar 12. Proses pembuatan kode untuk file DAT

    13. Lakukan modifikasi lagi pada file object_data_vrml. Sesuaikan dengan nama file .dat yang telah kita buat tadi. Pada contoh ini saya menggantinya menjadi Wrl/avr_roketfilkom.dat

    Gambar 13. Kode untuk memanggil obyek WRL yang dibuat

    Gambar 13. Kode untuk memanggil obyek WRL yang dibuat

    14. Untuk menguji apakah obyek augmented yang telah kita buat tadi telah sukses, jalankan lagi file simpleVRML.exe. Walah! Obyek augmented yang telah kita buat berhasil muncul diatas marker!

    Gambar 14. Obyek WRL muncul pada marker

    Gambar 14. Obyek WRL muncul pada marker

    Sekian tutorial mengenai cara membuat marker menggunakan ARToolkit. Kita dapat berkreasi dengan menggunakan marker lainnya dan menampilkan objek augmented yang berbeda-beda pula. Apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam tutorial ini, saya mohon maaf. Semoga tutorial yang singkat ini dapat menambah wawasan kita dalam bidang Augmented dan Virtual Reality. Salam.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Prosedur PKL di FILKOM UB

Salah satu “cerita” yang paling berkesan selama setahun kemarin adalah praktik kerja lapangan (PKL) yang dulu dikenal dengan nama KKN-P di Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Brawijaya. Saya akan berbagi pengalaman mengenai proses pengajuan PKL di FILKOM. Supaya para pembaca, terutama mahasiswa/i FILKOM yang akan mengambil mata kuliah PKL dapat mengerti alurnya secara umum.

Bahasan PKL atau magang menjadi trending ketika saya dan teman-teman memasuki awal semester 6. Kebingungan akan memilih tempat magang menjadi isu yang segera ngehits di kampus. Awalnya saya berkeinginan untuk bisa magang di kantor ayah atau ibu saya, ya hitung-hitung bisa magang di kantor perusahaan elit dan dekat rumah juga. Tapi karena keadaan tidak mendukung, akhirnya rencana magang di kantor ayah atau ibu di Kalimantan pun urung terlaksana. Strategi berubah, tempat magang dipilih yang dekat dengan kampus. Alasannya? Saat itu saya dan teman magang masih menjalani semester pendek. Alasan lainnya supaya administrasi dengan kampus lebih lancar karena lokasi magang masih dapat dijangkau dari kampus. Pilihan tempat magang berikutnya yaitu Dinas Pendidikan Kota Malang, namun urung terlaksana pula karena ketidakcocokan objek magang. Dan akhirnya, kami berhasil mendapatkan tempat magang di sebuah software house lokal di daerah Sawojajar yang sesuai dengan objek magang kami. Alhamdulilah

Secara umum proses pengajuan PKL atau magang di FILKOM dimulai dengan mengisi form I yang berisi surat pengajuan untuk pelaksanaan PKL kepada akademik. Pada form ini terdapat nama, nim, kemudian jumlah SKS, nama tempat PKL yang akan dituju serta objek PKL apa yang akan dikerjakan. Setelah form I sukses, maka kita akan mendapatkan form II yang harus ditandatangani oleh Wakil Dekan Bidang Akademik untuk selanjutnya menjadi surat pengantar kita pada tempat PKL yang akan dituju. Apabila proses administrasi PKL pada fakultas dan tempat PKL kita berhasil dan dinyatakan diperbolehkan untuk magang, jangan lupa untuk segera mengurus form III yang berisi permintaan pengajuan dosen pembimbing PKL. Dosen pembimbing ini yang berperan membimbing kita dan menjadi tempat konsultasi apabila kita menemui kesulitan ketika proses PKL atau pada saat pembuatan laporan PKL. Sederhana saja proses pengajuannya, kita cukup menyerahkan form III kepada ketua program studi, untuk selanjutnya beliau yang menentukan dosen pembimbing sesuai objek PKL kita. Kemudian serahkan form tersebut kepada dosen pembimbing yang telah ditentukan.

Form I-III menandai fase awal proses administrasi PKL. Setelah menyelesaikan ketiga form tersebut, kita melakukan proses kegiatan PKL yang umumnya diselenggarakan selama minimal dua bulan. Selama dua bulan proses kegiatan PKL disarankan untuk menyicil laporan PKL, karena laporan PKL akan diberi tenggat waktu pengumpulan maksimal satu bulan setelah pelaksanaan PKL. Selebihnya harus mengajukan surat pernyataan untuk pengunduran pengumpulan laporan PKL.

Ketika kita dinyatakan selesai melaksanakan PKL atau magang, jangan lupa untuk meminta pengisian form penilaian yaitu form V dan form VI dari pembimbing PKL kita. Pastikan semua administrasi penilaian dari tempat PKL kita berlangsung dengan lancar. Kenapa form IV dilewati pada fase ini? Form IV sendiri adalah form penilaian dari dosen pembimbing dan hanya dapat dilakukan jika laporan PKL kita telah selesai dan form penilaian pembimbing dari tempat PKL telah diisi dan ditandatangani. Setelah form IV-VI serta laporan PKL di-acc oleh dosen pembimbing dan ketua jurusan, kita dapat mengisi form terakhir yaitu form VII yang berisi rincian nilai dari tempat PKL serta dosen pembimbing kepada ketua program studi untuk ditandatangani. Fase terakhir PKL adalah pengumpulan form II-VII serta laporan PKL kepada pihak akademik dan ruang baca. Hal ini diperlukan supaya nilai yang telah kita dapatkan selama proses PKL dapat diunggah ke Sistem Informasi Akademik Mahasiswa (SIAM) dan laporan PKL yang telah kita buat dapat diarsipkan di ruang baca.

Kira-kira seperti itulah gambaran umum prosedur pengajuan PKL atau magang di FILKOM. Sistemnya mungkin sedikit berbeda dengan fakultas atau universitas lain, tapi setidaknya bisa memberi gambaran bagi adik-adik mahasiswa/i FILKOM yang ingin mengambil mata kuliah PKL.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ada Apa di 2017 ?

2016 berlalu dengan cepat dan tanpa disadari tahun mulai berganti 2017. Tahun lalu jarang ngeblog, tapi sekalinya ngeblog bahasannya berat. Mungkin tahun ini lebih sering ngeblog dengan tulisan yang santai, sesekali diselingi tulisan mengenai perkuliahan juga. Masak blog mahasiswa tapi nggak ada sharing tulisan soal perkuliahan? hehehe

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Review Sepatu Signore Choco Tan Black Sole By Brodo

Selamat tahun baru 2016! Akhirnya tanggalan di kalender berganti dari 2015 menjadi 2016. Semoga di tahun yang baru ini semangat kita semakin bertambah untuk mencapai segala cita-cita yang ingin kita raih. Ngomong-ngomong soal semangat, kali ini saya bersemangat sekali untuk mereview suatu produk yang sering kita pakai sehari-hari. Yup, bener banget, sepatu. Di awal tahun yang baru ini, di hari ke 2 dari 366 hari pada kalender, saya akan mereview sepatu boots yang lagi nge-trend di kalangan anak muda masa kini, yaitu Brodo.

Brodo sendiri adalah merek sepatu asli Bandung yang didirikan oleh mahasiswa ITB bernama Yukka Harianda yang kesulitan mencari sepatu sesuai ukurannya yaitu 46. Senasib dengan saya yang juga kesulitan mencari sepatu dengan ukuran besar. Untunglah Brodo bisa memahami permasalahan tersebut dengan menyediakan sepatu berukuran besar. Hatur nuhuun Brodo! :D

Singkat cerita Yukka yang kesulitan mencari sepatu berukuran besar, memutuskan untuk terjun ke bisnis pembuatan sepatu bersama temannya dan pada tahun 2010 mendirikan Brodo Footwear. Dengan banderol harga Rp 500.000,00 – Rp. 700.000,00, Brodo mengukuhkan diri sebagai brand sepatu premium dengan harga yang terjangkau.

Saya pertamakali mengenal Brodo di tahun 2013, ketika iseng mencari model sepatu boots yang keren serta ramah bagi dompet mahasiswa. Ketika asyik browsing di internet, saya menemukan model sepatu yang terlihat cukup kokoh dan keren untuk dipakai berkuliah dan itu adalah Brodo. Sayangnya, karena saat itu mama selaku “investor” tidak menyetujui pembelian boots tersebut, akhirnya proses order yang sudah saya lakukan terpaksa saya cancel. Sedih ya?

Dua kali order, akhirnya bisa nebus sepatu idaman juga.

Dua kali order, satu kali batal, akhirnya bisa nebus sepatu idaman juga.

Di penghujung tahun 2015, memanfaatkan momen Hari Belanja Online Nasional dan promo voucher diskon yang “bergentayangan” di timeline, saya memutuskan ini saat yang tepat untuk menebus kegagalan order yang dulu saya lakukan. Alhamdulilah, setelah melalui proses pemilihan, pembayaran dan verifikasi, saya bisa memboyong satu pasang Signore Choco Tan Black Sole dengan hanya Rp. 514.000,00 termasuk ongkos kirimnya. Warbiasaah saudara saudari!

Om Bro kalau ngasih voucher banyak kok, jangan khawatir kantung jebol, hahaha.

Om Bro kalau ngasih voucher banyak kok, jangan khawatir dompet kering, hahaha.

Packaging bagian pertama nih. Dijamin barang aman selama pengiriman.

Packaging bagian pertama nih. Dijamin barang aman selama pengiriman.

Packaging bagian kedua, logo khas Brodo nongol di bagian atas.

Packaging bagian kedua, logo khas Brodo nongol di bagian atas.

Langsung saja kita membahas mengenai kualitas sepatunya. Untuk model Signore Choco Tan Black Sole yang saya punya memakai kulit jenis CH leather pada bagian outside uppernya. Bahan ini sendiri cukup kokoh dan memiliki karakteristik dimana tekstur kulitnya jika terkena sentuhan benda akan terlihat seperti efek tergores. Efek goresan tersebut justru memiliki nilai seni bagi orang yang lama menekuni dunia sepatu boots. Kesannya terlihat seperti sepatu ini telah menjelajah kemana-mana dan melewati berbagai medan yang berbeda-beda.

Tampak depan sepatu Signore Choco Tan Black Sole. Keren, Bro!

Tampak depan sepatu Signore Choco Tan Black Sole. Keren, Bro!

Selanjutnya untuk bagian insole menggunakan bahan fabric dan polyfoam. Bahan pabric dan polyfoam ini menjadi bahan standar yang digunakan oleh banyak pembuat sepatu boots di Indonesia. Saya kurang begitu menyukai model insole yang digunakan pada sepatu ini, karena bahannya dijahit menjadi satu dengan dasar sol. Karena dijahit menjadi satu dengan sol akan terasa susah ketika harus dibersihkan dan dicuci. Tapi itu bukan masalah besar bagi saya, selama pemilihan bahan yang digunakan adalah bahan yang terbaik di kelasnya.

Penampakan samping kiri sepatu Signore Choco Tan Black Sole

Penampakan samping kiri sepatu Signore Choco Tan Black Sole

Penampakan samping kanan sepatu Signore Choco Tan Black Sole

Penampakan samping kanan sepatu Signore Choco Tan Black Sole

Brodo mempertegas identitas sebagai merek sepatu asli Indonesia justru di bagian sol dasar dari sepatunya. Jika dicermati anda akan menemukan motif batik parang dan motif peta nusantara di model sepatu yang dikeluarkan oleh Brodo. Khusus model Signore Choco Tan Black Sole ini yang digunakan pada sol dasarnya adalah motif batik parang. Inilah yang menjadi pembeda Brodo dengan merek-merek boots premium lainnya. Brodo seakan memberi pesan bahwa sebagai generasi muda kita harus bangga dengan produk buatan dalam negeri. Salut, Bro!

Secara keseluruhan, model Signore Choco Tan Black Sole yang saya review memiliki kualitas yang baik. Mungkin bagi pecinta sepatu akan beranggapan bahwa model ini tidak cukup kokoh mengingat sol dasarnya tidak memiliki jahitan luar. Tapi Brodo tidak hanya memiliki lini produk sepatu boots kasual saja, selain itu ada model seperti seri Mandalika, Ventura, Birawa dan Epsilon bahkan melalui Brodo Performance turut meluncurkan lini sepatu olahraga. Kembali ke selera masing-masing, sesuaikan kebutuhan pemakaian anda dengan model sepatu yang ingin anda gunakan. Terakhir, untuk menjaga anda tetap nyaman dan tenang dalam menggunakan produk Brodo, Brodo melengkapi setiap produk sepatunya dengan garansi jika ukurannya kekecilan atau terdapat cacat produk. Bahkan jika dalam penggunaan sehari-hari kemudian dasar sol anda rusak atau pecah, Brodo memberikan garansi repair sol yang rusak tersebut. Wah, bener-bener ngertiin pelanggan banget ya Bro! :D

Dalam packaging sepatu dilengkapi panfuan perawatan, form return, form garansi sol sepatu dan stiker Brodo.

Dalam packaging sepatu dilengkapi panduan perawatan, form return, form garansi sol sepatu dan stiker Brodo.

Cukup sampai disini review saya, semoga bermanfaat bagi pembaca. Akhir kata, salam #TosJantan dan sukses selalu bagi Brodo. Selalu jadi yang terdepan dan bisa menjadi kebanggaan Indonesia. Sampai jumpa di review selanjutnya!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Review Jam Tangan Casio Edifice EF-550D

Setelah selama ini hanya berakhir sebatas obrolan di grup atau percakapan sehari-hari, saya memberanikan diri untuk menuangkan tulisan review ini ke blog pribadi saya. Semoga review ini bisa memberi kemudahan dalam menentukan pilihan.

Kali ini yang akan saya review adalah jam tangan Casio Edifice seri EF-550D yang pembeliannya saya lakukan di Carolina Watch, MOG. Carolina Watch di Malang merupakan cabang dari Carolina Watch yang terdapat di Surabaya. Untuk reputasi tokonya sendiri, cukup baik, bahkan di Surabaya memiliki beberapa cabang toko seperti di Tunjungan Plaza dan Plaza Marina.

Awalnya saya ingin langsung membeli jam tangan ini langsung di Surabaya, di cabang Casio yang terdapat di daerah Manyar., mengingat keterbatasan model yang dimiliki di Malang, namun akhirnya niat itu saya urungkan karena “donatur” segera mendesak saya untuk membeli jam tangan yang juga “merangkap” sebagai kado ulang tahun saya yang jatuh pada 2 Desember yang lalu. Hahaha

Setelah menyepakati budget bersama “donatur” yang tak lain adalah ibu saya, kemudian saya meluncur ke Carolina Watch yang terdapat di MOG. Disana saya dilayani dengan cukup ramah oleh salesgirlnya dan ditunjukkan beberapa model Casio Edifice dan potongan diskon senilai 20%. Merasa kurang puas dengan koleksi Carolina Watch, saya putuskan untuk mencoba mensurvey koleksi Carolina Watch yang terdapat di Matos. Kurang lebih koleksinya memang sama, tapi saya amati untuk Carolina MOG, edisinya lebih baru.

Selang beberapa hari kemudian, akhirnya saya putuskan untuk menebus model yang saya inginkan di Carolina Watch MOG. Sebuah Casio Edifice seri EF-550D yang dibanderol Rp 3.878.000,00 dan setelah didiskon 20% turun menjadi Rp 3.103.000,00. Kepada salesgirl yang melayani, saya lalu meminta untuk dipotongkan di bagian gelangnya sebanyak dua besi supaya muat di pergelangan tangan.

Packaging Casio Edifice EF-550D

Packaging Casio Edifice EF-550D

Dari segi kemasan dan kelengkapan, seperti pada jam tangan umumnya. Hanya saja di bagian kemasan cukup mengecewakan karena hanya berupa kotak berbahan dasar kertas, pemilihan material ini tidak menggambarkan keekslusifan Edifice yang selama ini digadang-gadang Casio. Untuk kelengkapan seperti manual guide, kemudian kartu garansi, pihak Casio sudah melengkapinya di dalam kotak kemasan.

Kelengkapan: 1. Nota Penjualan 2. Kartu Garansi CASIO Indonesia 3. Kartu Garansi CASIO Internasional 4. Manual Guide 5. Warning Card 6. Sisa Potongan Band Stainless Steel

Kelengkapan: 1. Nota Penjualan 2. Kartu Garansi CASIO Indonesia 3. Kartu Garansi CASIO Internasional 4. Manual Guide 5. Warning Card 6. Sisa Potongan Band Stainless Steel

Berlanjut ke bagian fisik jam sendiri. Dari segi material, dengan harga yang lumayan mahal, bahan stainless steel yang digunakan cukup kokoh. Penggunaan sistem triple lock, membuat saya cukup aman ketika beraktivitas menggunakan jam tangan ini. Rasa waswas muncul ketika lis hitam yang berfungsi sebagai tachymeter pernah tidak sengaja terkena spion mobil. Entah hanya sengaja dicat atau memang materialnya berwarna dasar hitam, untungnya lis tersebut tidak menunjukkan lecet, pudar atau terkelupas ketika saya amati. Untuk fiturnya standar sesuai model yang ditawarkan, yaitu tanggal dan stopwatch. Yang menarik adalah pada bagian jarum jamnya. Uniknya jarum jam yang berfungsi sebagai penanda detik pada model EF-550D tidak berdetak sebagaimana jam tangan pada umumnya, ia hanya berfungsi sebagai komponen dari stopwatch. Bagi saya yang terbiasa dengan jarum detik yang berdetak, mungkin cukup aneh. Tapi ini adalah sebuah inovasi Casio yang patut diacungi jempol. Good job!

Casio Edifice EF-550D

Casio Edifice EF-550D

Dari ulasan diatas, Casio Edifice seri EF-550D layak bagi anda yang mencari jam tangan dengan tampilan manly dengan harga menengah. Penggunaannya sendiri cukup mudah, tidak banyak tombol yang memusingkan. Fiturnya standar bagi anda yang mengutamakan kesederhanaan dari sebuah jam tangan. Materialnya yang kokoh sehingga anda tidak perlu waswas ketika beraktivitas. Oya, jam ini dapat menyala dalam gelap di beberapa bagian dalamnya dan sanggup diajak “menyelam” hingga 10 bar atau kira-kira kedalaman 100 meter.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Future and Past: Olimpiade Brawijaya 2014

Olimpiade Brawijaya 2014 adalah turning point bagi karir basket seorang Irfan Noor Agdhian. Pada cabang olahraga bola basket Olimpiade Brawijaya 2014 yang diselenggarakan di GOR Pertamina UB tersebut, sedikit banyak membuka kenangan masa lalu ketika ia masih digadang-gadang menjadi a new rising star di kancah perbasketan kota Malang.

Pas foto ini diambil oleh Weddy untuk syarat pendaftaran UB Cup 2009

Pas foto ini diambil oleh Weddy untuk syarat pendaftaran UB Cup 2009

Hari dimulai seperti biasanya, Rabu 2 Desember 2009. Masuk sekolah dan menjalani kegiatan belajar layaknya hari-hari sebelumnya. Ada dua hal yang menjadikan hari itu hari yang istimewa, pertandingan UB Cup dalam rangka peresmian GOR Pertamina UB dan juga hari ulang tahun saya yang ke 17. Kita skip saja bagian belajar mengajar yang sudah pasti membosankan untuk dibaca. Akhirnya sampailah kita ke bagian surprise ulang tahun. Bersiasatlah teman-teman sekelas saya dengan pak Adi, guru kimia saya, untuk memberi kejutan di ulang tahun saya. Dengan sedikit bujuk rayu pak Adi, tak disangka teman-teman sekelas menyergap saya dari belakang dan dengan wajah yang ceria menjeburkan saya ke kolam ikan di dekat kantin sekolah. Basah kuyup itu pasti, tapi bukan itu sejatinya yang saya nanti, tapi pertandingan UB Cup yang sudah lama saya tunggu sebagai ajang pemanasan menuju DBL 2010.

Setelah berganti jersey basket, saya beserta tim dan pelatih telah siap untuk memasuki lapangan pertandingan. Disana kami menjadi saksi betapa megahnya lapangan GOR Pertamina UB yang baru saja selesa dibangun itu. Kejutan bagi kami, ternyata tim yang akan menjadi musuh adalah SMK Nasional yang sering menjadi lawan sparing ketika akan persiapan turnamen. Disini saya diwanti-wanti oleh pelatih agar mengendalikan emosi mengingat para pemain SMK Nasional bermain cukup keras. Benar dugaan pelatih saya, bahwa pertandingan berlangsung dengan body contact yang menjurus ke foul-foul yang tidak sportif. Puncaknya terjadi di kuarter ketiga, ketika salah satu pemain SMK Nasional melakukan pemukulan ke arah perut saya dan terbaca oleh wasit. Dengan tegas wasit mengeluarkan pemain tersebut dari lapangan. Setelah kejadian itu saya merasa ada yang tidak beres dengan otot di perut, tapi saya abaikan dan tetap melanjutkan pertandingan.

Sesuai dengan prediksi awal, pertandingan akan berjalan kasar dan timpang di satu sisi. Tim sekolah saya akhirnya kalah. Tak cukup sampai disitu, ternyata ketidakberesan otot di perut saya, merupakan “sinyal” buruk bahwa beberapa bulan kemudian saya divonis dokter menderita tumor tulang belakang yang menjepit syaraf. Dengan adanya sakit tersebut, praktis keberadaan saya di kancah perbasketan Malang turut “mati suri” seiring dengan sakit yang saya derita.

Saya memakai jersey #6 berdiri paling pojok kiri

Saya memakai jersey #6 berdiri paling pojok kiri :D

Setelah cukup lama “mati suri” di kancah perbasketan kota Malang. Akhirnya saya mendapatkan kesempatan untuk kembali mencicipi atmosfer pertandingan basket yang selama ini mungkin akan susah saya rasakan, mengingat usia yang tak lagi muda serta jam terbang yang tak lagi banyak. Kali ini momennya spesial, Olimpade Brawijaya 2014. Ajang dimana para mahasiswa baru berkompetisi mewakili fakultasnya masing-masing di berbagai cabang olahraga dan seni yang terdapat pada event Olimpiade Brawijaya. Cukup kaget dan bersyukur saya, ketika pelatih basket kami waktu itu, Mas Dedi Arief Wibisono, berkenan memasukkan nama saya ke roster tim yang akan diturunkan pada Olimpiade Brawijaya. Dengan usia yang bisa dibilang “veteran” serta skill sebagai bigman yang pas-pasan, tentu saya berterimakasih sekali diberi kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali.

Hari pembukaan Olimpiade Brawijaya pun dimulai. Opening yang cukup megah diikuti seluruh atlet dan pendukung dari masing-masing fakultas. GOR Pertamina UB terasa sesak, untungnya panitia Olimpade Brawijaya sigap dalam mengatur keluar masuknya peserta. Diawali dengan sambutan dari wakil Rektor dan ketua pelaksana, opening tersebut diakhiri dengan pembacaan sumpah atlet yang diikuti seluruh atlet dari cabang olahraga dan seni yang ada.

Tepat beberapa hari setelah opening Olimpiade Brawijaya, pertandingan cabang olahraga basket dilaksanakan di GOR Pertamina UB. Lawan kami adalah Fakultas Ilmu Administrasi (FIA). Layaknya pertandingan pada umumnya, lagu kebangsaan dinyanyikan di awal-awal dan pemanggilan pemain serta melakukan prosesi salaman menjadi hal yang lazim dilakukan. Ketika memasuki lapangan, perasaan saya terkenang kembali ketika menginjak lantai lapangan yang sama lima tahun yang lalu. Bedanya kali ini dukungan luar biasa dari teman-teman kampus memotivasi saya untuk mengharumkan PTIIK di ajang Olimpiade Brawijaya. Pertandingan dimulai dengan tip off dari wasit. Sesuai strategi pelatih, saya disimpan di bench untuk membackup pemain inti apabila mulai kelelahan. Saling kejar mengejar angka terjadi di awal kuarter hingga memasuki kuarter ketiga. Tampak pemain tim kami mulai kelelahan dan skornya mulai dikejar oleh FIA.  Pelatih akhirnya menurunkan saya di kuarter akhir, hanya bermain 15 detik dan raihan satu foul, pelatih memutuskan untuk menarik kembali saya ke bench. Kami pun harus puas menelan pil pahit pada pertandingan pembuka kali ini, menyerah pada FIA dengan skor yang tipis dan tidak dapat melanjutkan ke fase berikutnya.

Bersama jersey #24 dan nickname "Bontang"

Bersama jersey #24 dan nickname “Bontang” yang sempat melegenda

Sejak 2008 aktif di perbasketan kota Malang, alhamdulilah saya sudah mengalami pahit manisnya pengalaman bertanding dengan orang yang berbeda, lapangan yang bermacam-macam, serta gaya bermain yang dimiliki setiap orang. Saya melihat ada peningkatan dalam skill dan gaya bermain pada generasi yang berbeda tiap tahunnya, sangat disayangkan peningkatan tersebut tidak diikuti attitude dan komunikasi yang baik. Tak jarang pemain sekaliber tingkat universitas ketika ia dihadapkan dengan kompetisi tingkat internal kampus mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Catatan saya untuk basket PTIIK paska berakhirnya Olimpiade PTIIK 2014 yang lalu, harus diadakan perubahan mulai tingkat dasar. Pembinaan pemain agar tidak terfokus hanya pada pembentukan pemain yang sudah mahir. Pemain yang belum mahir tapi memiliki passion tinggi sebaiknya dirangkul dan diberi porsi latihan ekstra, karena kita tidak tahu pemain yang “underdog” ini kelak akan menjadi tulang punggung dari tim tersebut. Yang kedua adalah peningkatan chemistry antar pemain tanpa membeda-bedakan satu sama lain, komunikasi yang sehat juga berperan penting dalam suksesnya suatu tim. Basket adalah permainan tim yang menuntut komunikasi yang sehat dari individu-individu yang bermain di dalamnya. Terakhir adalah perbaikan di bidang kepengurusan. Jika menuntut sebuah tim bermain profesional, maka seharusnya pengurus tim juga bersikap professonal dalam menangani tim yang bersangkutan. Jangan karena demi urusan gengsi semata, akhirnya tim yang malah menjadi korban. Dengan adanya perbaikan di tiga lini tersebut, saya yakin tim apapun itu, berhak menjadi juara.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Let Me Take You to The Quick Escape: Cangar

Berjumpa lagi di tulisan saya, setelah sekian lama absen ngeblog. Catatan kali ini saya akan mengulas perjalanan singkat saya bersama Tiur ke sebuah “surga tersembunyi” yang letaknya tidak begitu jauh dari kota Malang, Cangar.

Salah satu sudut pemandangan di jalur menuju Cangar

Salah satu sudut pemandangan di jalur menuju Cangar

Perjalanan dimulai dari Malang pada hari minggu, 17 Mei 2015 sekitar pukul 8 pagi. Sesuai dengan plan yang ada, perjalanan akan dimulai sekitar pukul 7 pagi untuk mengantisipasi macet yang mungkin terjadi di daerah kota Batu. Di luar dugaan, co-driver kita kali ini, sista Tiur, baru bangun jam 7.30 dan dengan segala keriwehan dandan dan persiapan ala-ala perempuan masa kini, akhirnya kami baru bisa berangkat jam 8 pagi. Bermodalkan nekat dan GPS “alami” akhirnya kami menyusuri jalan menuju Cangar. Jujur, bagi saya ini adalah pengalaman pertama kali menyusuri rute menuju cangar, buta akan kondisi jalan dan tempat yang dituju. Dengan bermodalkan informasi patokan arah dari teman-teman semasa sekolah, kami kemudian melalui jalur utara Selecta-Arboretum yang jalannya berkelak-kelok untuk mencapai Cangar. Setelah kurang lebih perjalanan 1,5 jam, akhirnya kami memasuki komplek Taman Hutan Raya R. Soeryo dimana lokasi pemandian air panas Cangar terletak.

Selamat datang di wisata air panas Cangar

Selamat datang di wisata air panas Cangar

Ketika memasuki komplek pemandian air panas Cangar, hal pertama yang kami cari adalah penjual bandrek yang katanya menjadi primadona di tempat ini. Ternyata penjual bandrek dan ketan hitam banyak berkumpul di dalam pemandian. Daripada membuang waktu lama-lama, kami memutuskan untuk masuk ke dalam pemandiannya. Dengan membayar Rp. 5.500,00 per kepala, kami berkeliling komplek yang dikelola oleh Perhutani Jatim ini. Selain terdapat pemandian air panas, di Cangar juga terdapat suaka margasatwa Owa-owa Hitam, kemudian ada Goa yang merupakan peninggalan dari jaman perang, serta tempat pembiakan bibit yang sedikit terbengkalai. Untuk memenuhi hasrat makan, tidak perlu risau, karena di komplek pemandian akan sering ditemui penjaja makanan dan minuman yang harganya cukup terjangkau. Fasilitas parkir yang ada juga cukup memadai untuk menampung kendaraan para pengunjung.

Gudang-gudang yang terbengkalai dengan latar belakang pegunungan

Gudang-gudang yang terbengkalai dengan latar belakang pegunungan

Cangar dan daerah di sekitarnya banyak menyajikan keindahan pemandangan alam, selain tempat wisata berupa pemandian air panas. Di sepanjang perjalanan yang kami tempuh, tak jarang kami berhenti sejenak untuk mengabadikan pemandangan alam yang ada. Hamparan ladang sayuran, kemudian gudang-gudang dan pabrik jamur terbengkalai menambah keragaman pemandangan alam di daerah tersebut. Segarnya udara perbukitan juga menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara untuk berkunjung ke daerah ini.

Selfie dulu sebelum turun dari Cangar :D

Selfie dulu sebelum turun dari Cangar :D

Setelah puas menjelajahi daerah Cangar dan sekitarnya, sekitar pukul 13.30 kami turun dari Cangar menuju ke kota Batu untuk mengisi perut. Pilihan utama kami jatuh pada Hotplate Sate Kelinci. Sebenarnya sudah dari lama pengen ngajakin Tiur makan disini, secara sate kelinci merupakan kuliner andalan khas kota Batu. Satu porsi sate kelinci beserta minumannya kami pesan sembari menunggu di lesehan yang asri yang terdapat di dalam restoran. Disana kami melepas lelah, sekaligus mereview foto-foto yang diambil selama menjelajahi Cangar. Tak terasa jarum jam menunjukkan pukul 15.30 sore. Setelah membayar makanan, kami meluncur turun kembali ke kota Malang. Kembali ke rumah masing-masing dan menikmati sisa akhir pekan sebelum menghadapi rutinitas hari esok.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pak Sabar dalam Kenangan Seorang Anak Kosan

Tulisan ini sedianya akan menjadi seri dari tema kuliner Malang yang ditujukan untuk mempromosikan wisata kuliner di kota Malang..

Bicara soal sate, siapa sih yang nggak kenal kuliner satu ini? Potongan daging ayam, kambing atau sapi yang ditusuk menggunakan lidi atau bambu, kemudian dipanggang dan diberi pelengkap bumbu kacang. Indonesia sendiri memiliki banyak variasi dalam mengolah sate. Sewaktu saya studi di Surabaya, sate klopo yang berbahan daging sapi menjadi primadona kuliner khas Kota Pahlawan. Bergeser ke tengah pulau Jawa, ada sate klatak di Jogjakarta yang terkenal karena tusuk satenya menggunakan jeruji sepeda. Kemudian melompat ke pulau Sumatera tepatnya di tanah Minang, Sumatera Barat, ada olahan sate Padang disana. Layak dikatakan bahwa orang Indonesia adalah “penemu” sate yang kemasyhurannya tidak kalah bila dibandingkan dengan barbecue dan saudara-saudaranya.

Di Malang sendiri banyak ditemui warung sate, tapi ada satu yang spesial di kalangan mahasiswanya..

Warung Super Madura Pak Sabar, itulah nama warung sate yang berhasil “mencuri” penikmat kuliner sate di kota Malang. Sebenarnya warung pak Sabar ini tidak mengkhususkan pada sate saja, juga terdapat olahan seperti gulai yang lazim disajikan warung sate pada umumnya. Warung sate ini biasanya beroperasi mulai jam 5 sore dan tutup sekitar jam 10 malam. Lokasinya yang terletak di sebelah SDK Sang Timur, jalan Bandung, sangat mudah dikenali bila dilewati dari arah Mayjen Panjaitan maupun jalan Bandung sendiri.

Warung hijau itu bertahan dari gempuran zaman, mencari pahala dengan mengisi perut pelanggannya..

Pertamakali saya mencoba sate pak Sabar ketika kelas 1 MAN atau sekitar tahun 2008-2009. Saat itu saya masih pelajar ingusan yang indekos di sebuah kosan di gang bernama Batujajar. Lokasinya memang tidak terlalu jauh dari warung pak Sabar, sekitar 50 meteran jika ditempuh dengan berjalan kaki. Pertemuan saya dengan sate pak Sabar diawali dari ketidaksengajaan. Setelah dikirimi ATM oleh ayah, saya iseng ingin mencari variasi makanan anak kosan. Maklum, anak kosan dimanapun ia berada, identik dengan tiga macam kuliner, nasi goreng, lalapan dan mi instan. Sesekali saya ingin makan enak, yang bisa mengobati kelu lidah saya yang terlalu lama dicekoki tiga macam kuliner idola mahasiswa itu. Tak disengaja saya menemukan sebuah warung sate yang cukup ramai di pojokan dekat SDK Sang Timur. Segeralah saya beranjak kesana dan memesan seporsi sate. Setelah mengecek isi dompet, tampaknya beberapa lembar duit biru ini bisa membeli lebih dari seporsi sate. Akhirnya saya putuskan untuk memesan 10 tusuk sate ayam, seporsi gulai dan seporsi nasi untuk dibungkus pulang. Ketika itu bu Sabar yang melayani pesanan saya, dipanggilah saya dengan sebutan “nak”. Sebagai anak kosan yang berjarak ribuan kilometer jauhnya dari orangtua, dipanggil “nak” rasanya seperti berada di tengah keluarga sendiri dan betapa mengejutkannya lagi, ketika semua pesanan saya hanya dibanderol Rp. 12.500,00 saja, itu pun masih diberikan nasi ekstra oleh bu Sabar, Subhanallah. Mungkin naluri keibuan beliau mengerti bahwa saya hanyalah anak kosan yang kelaparan, jauh dari orang tua dan memiliki uang yang terbatas. Benar-benar mulia bu Sabar, semoga dimanapun bu Sabar berada, selalu diberi keberkahan oleh Allah SWT. Amiin..

Membeli kenangan dalam setiap tusuk satenya..

Paska kepulangan dari studi “singkat” di Surabaya, saya memang sempat bermukim di kawasan Batujajar lagi, namun interaksi saya dengan warung sate pak Sabar sudah tidak sehangat dulu. Faktor keberadaan warung nasi di depan kos dan ditambah teman-teman kos yang lebih gemar makanan instan turut mempengaruhi “keharmonisan” saya dengan sate pak Sabar. Bahkan ketika saya dan adik pindah ke rumah keluarga kami di daerah Sigura-gura, sate kembali menjadi makanan favorit kami. Sayang bukan pak Sabar kali ini, melainkan sate keliling dan sate depan kampus ITN. Menyedihkan memang, tapi itulah kenyataan yang terjadi. Warung pak Sabar yang menjadi bagian dari awal perjalanan hidup saya di Malang perlahan-lahan mulai terlupakan. Sampai akhirnya di bulan Mei kemarin, kenangan bersama warung sate pak Sabar terobati lagi. Adalah seorang sahabat dekat saya, Tiur namanya, yang membangkitkan kenangan indah bersama sate pak Sabar. Kejadiannya lucu juga, setelah nonton film Divergent di bioskop 21 Mandala kami terjebak hujan yang cukup lama. Kami berdua sepakat untuk menunggu hujan reda sembari mengobrol di pelataran plaza. Tak terasa kami mengobrol, Tiur iseng ngajakin buat cari makan, mungkin karena sudah waktunya makan malam juga. Sempat terjadi perdebatan soal pilihan tempat makan, akhirnya saya nyerah dan ikut pilihannya mbak Tiur. Ha..ha..ha Pilihan pun jatuh ke sate dan warung pak Sabar yang menjadi tujuan untuk mengisi perut. Awalnya saya sempat salah arah dan nyasar, saya mengira lokasi warung pak Sabar ini terletak di pertigaan Dinoyo ke arah pabrik keramik ternyata warung pak Sabar ini dekat dengan SDK Sang Timur. Ketika sampai di warung sate yang dituju, ndilalah, selama ini saya baru menyadari bahwa warung sate pak Sabar langganan mbak Tiur ini ternyata warung sate favorit saya selama bersekolah dan saya salah mengingatnya sebagai warung sate pak Subur, klop!

1428070192480

Mbak Tiur makan sate dulu yaa :D

Pak Sabar dulu, sekarang dan di masa depan..

Ketika menginjakkan kaki lagi di warung sate pak Sabar, ada perubahan yang terasa, meskipun tidak terlalu banyak. Ketidakhadiran bu Sabar, serta membesarnya potongan daging satenya masih belum bisa melengkapi kepingan kenangan saya. Memang pak Sabar ketika awal saya “berkenalan” dengan satenya, identik dengan “sate lalat” yang memiliki potongan daging kecil-kecil, tetapi yang paling berkesan tentu kehangatan khas keluarga yang ditunjukkan oleh pasangan pak Sabar dan bu Sabar. Kalimat “nothing lasts forever” seakan terbukti kebenarannya. Bahwa dengan seiring berjalannya waktu akan ada hal-hal baru yang muncul dan juga hilang, bahwa keabadian itu hanyalah milik Tuhan penguasa alam raya, bahwa perubahan itu cepat atau lambat pasti akan terjadi. Sebagai manusia yang berjalan di dalam cerita-Nya, saya hanya bisa bersyukur masih diberi kesempatan untuk merasakan nikmatnya sate serta kehangatan khas keluarga di setiap tusuk sate yang disajikan di Warung Super Madura Pak Sabar. Doa dan harapan saya selalu mengiringi warung pak Sabar semoga tetap mempertahankan ciri khasnya dan bertahan hingga tak ada lagi asap sate mengepul dari warungnya nanti. Settong tossok, settong kaluarghe satarossa!

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Tuhan Punya Blog Gak Sih?

Kata alim ulama, berdoa bisa disampaikan dengan cara yang universal. Seandainya saya berdoa di blog melalui tulisan, apakah termasuk doa juga? Wallahualam, kalaupun boleh, cukup saya dan Tuhan yang tahu apa isi doa saya. :)

Posted in Uncategorized | Leave a comment