RSS
 

tugas perilaku konsumen : artikel faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian

17 Dec

nama : Agata Rahmi Pertiwi

NIM : 105020203111003

kelas : BB

Ringkasan Artikel

“Pengaruh Atmosfer Toko Terhadap Keputusan Pembelian”

Menurut Solomon (2000), perilaku konsumen adalah studi yang meliputi proses ketika individu atau kelompok tertentu membeli, menggunakan atau mengatur produk, jasa, ide atau pengalaman untuk memenuhi kebutuhan dan  hasrat. Dalam keputusan pembeliannya, konsumen dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor-faktor ini yang nantinya akan mempengaruhi konsumen dalam mengkonsumsi suatu barang atau jasa. salah satu faktor yang sering diabaikan dan tidak disadari dapat mempengaruhi keputusan pembelian atau konsumsi adalah atmosfer toko (store atmosphere). Store atmosphere merupakan salah satu komponen penting dalam retail mix yang mampu mempengaruhi proses keputusan pembelian konsumen, karena dalam proses keputusan pembeliannya konsumen tidak hanya memberi respon terhadap barang atau jasa yang ditawarkan oleh pengecer, tetapi juga memberikan respon terhadap lingkungan pembelian yang mampu diciptakan oleh pengecer. Banyak orang membentuk ekspresinya pada toko sebelum memasuki toko atau sesudah memasuki toko. Atmosfer toko mempengaruhi seorang konsumen untuk menikmati saat berbelanja, menghabiskan waktu untuk melihat-lihat barang, menggunakan waktu berbelanja dengan mengobrol dengan orang lain, dan menggunakan fasilitas seperti ruang untuk mencoba pakaian. Mereka cenderung mengeluarkan uang lebih banyak daripada yang direncanakan dengan adanya atmosfer toko yang menarik.

 

SUMBER :

  1. Bonnin, Gael and Alain Goudey. (2012). The Kinetic Quality of Store Design : An Exploration of its Influence on Shopping Experience. Journal of Retailing and Consumer Services Volume 19 Issues 6, 637-643.
  2. Kusumowidagdo, Astrid. (2010). Pengaruh Desain Atmosfer Toko Terhadap Perilaku Belanja. Jurnal Manajemen Bisnis Vol.3 No.1, 17-32.
  3. Maretha, Vitta and Achmad Kuncoro, Engkos (2011) PENGARUH STORE ATMOSPHERE DAN STORE IMAGE TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN KONSUMEN PADA TOKO BUKU GRAMEDIA PONDOK INDAH. Jurnal Binus Business Review, 02 (02). ISSN 2087-1228
  4. Mattila, Anna S and Jochen Wirtz. (2001) Congruency of Scent and Music as a Driver of in-Store Evaluations and Behavior. Journal of Retailling 77, 273-289.
  5. Mattila, Anna S. dan Jochen Wirtz. 2008. “The role of store environmental stimulation and social factors on impulse purchasing.” Journal of Service Marketing, pp.562-567.
  6. Michael Morrison, Sarah Gan, Chris Dubelaar, Harmen Oppewal. (2011). In-store music and aroma influences on shopper behavior and satisfaction . Journal of Business Research, Volume 64, Issue 6, 558-564
  7. Mohan , Geetha, Bharadhwaj Sivakumaran and Piyush Sharma. (2012). Store environment’s impact on variety seeking behavior . Journal of Retailing and Consumer Services, Volume 19,  419-428
  8.  Raharjani, Jeni. (2005). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Pemilihan Pasar Swalayan Sebagai Tempat Berbelanja. Jurnal Studi Manajemen&Organisasi Vol 2 No 1.
  9.  Saryadi, Adutya Yudatama, dan Hari Susanto. (2012). Pengaruh Store Image, Store Atmospherics, Store Theatrics, dan Social Factors Terhadap Pembelian Tidak Terencana (Studi Kasus Pada Luwes Pasar Swalayan Ungaran). Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis.
  10. Sean Sands, Harmen Oppewal, Michael Beverland.  (2009). The effects of in-store themed events on consumer store choice decisions . Journal of Retailing and Consumer Services, Volume 16, Issue 5, 386-395

 

 BENTUK PDF :

artikel perilaku konsumen

 
 

tugas perilaku konsumen : World Class Entrepreneurial University

27 Nov

World Class Entrepreneurial University

 nama : agata rahmi pertiwi

nim 105020203111003

kelas BB

World Class Entrepreneurial University. Sebenarnya apa makna dari pernyataan singkat tersebut? Banyak orang mengklaim dirinya seorang enterpreneur, atau gampangnya seorang wirausaha, namun bahkan beberapa diantaranya tidak mengerti bagaimana menjadi wirausaha. Tidak mengerti apa itu berwirausaha dan tidak mengerti mengapa harus berwirausaha. Sama seperti pelajaran bahasa Indonesia dasar yang saya dapatkan waktu SD, dalam menjawab sebuah pertanyaan dasar yang ada di bacaan, atau dalam membuat sebuah paragraf, saya harus mencantumkan 5W+1H. Yah pastinya bukan ungkapan yang asing lagi. Maka sama dengan menjawab semua pertanyaan mengenai berwirausaha atau mengenai universitas yang berstandart internasional dan menjadi sebuah universitas enterpreneur, maka seluruh aspek 5W 1H haruslah terjawab menurut saya.

Apa? (what) : World Class Entrepreneurial University itu apa? Artinya apa? Universitas yang mandiri kah? Universitas yang berjalan sendiri sampai mencapai gelar internasional? Atau universitas yang malang melintang di dunia internasional sendirian? Semaunya sendiri dan tanpa dasar? Tentu saja jawabannya TIDAK (biar kelihatan). World Class Entrepreneurial University, bagi saya kalimat tersebut menunjukkan komitmen dan keinginan yang besar dari universitas Brawijaya untuk mampu mengajarkan atau paling tidak memberikan contoh kepada mahasiswanya yang ribuan bahwa UB mengajak mereka semua untuk berpikir sebagai seorang wirausaha. Wirausahawan yang mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Wirausahawan yang mengerti betul bagaimana me manage diri mereka sehingga dapat menjadi seorang pengusaha yang tetap beretika baik. Yaah.. kata-kata tersebut adalah cita-cita. Semua berhak memiliki cita-cita kan?

Kapan? (When) : kapan sih UB bisa menjadi Universitas yang World Class Entrepreneurial? Tentu saja dimulai dari sekarang. Proses yang selalu dibenahi setiap tahunnya dan upaya untuk meningkatkan kualitas tentu dilakukan. Baik dengan mengusahakan akreditasi ISO atau apapunlah itu, semua itu adalah langkah awal untuk menunjukkan pada dunia internasional bahwa UB bukan Universitas biasa yang mau menjadi biasa dan standart-stadart saja. Lalu kapan semua mahasiswanya biasa berpikir mandiri alias berpikir jadi wirausahawan? Itu pertanyaan yang sulit, karena yang bisa menjawab hanya pribadi masing-masing. Tapi satu hal yang pasti, segala sesuatu yang dimulai lebih cepat maka memiliki lebih banyak waktu untuk memperbaiki diri dan berproses lebih baik dari waktu ke waktu.

Dimana? (where) : dimana apa hanya berkaitan dengan dimana pelaksanaan World Class Entrepreneurial University ya? Kalau cuma sebatas itu sih jawabannya mudah sekali. Ya jawabannya di Universitas Brawijaya dong, di mana lagi coba? Tapi kalau kita lihat lebih jauh, pertanyaan dimana ini lebih mengarah pada dimana kita akan menanamkan pengetahuan mengenai World Class Entrepreneurial University? Hanya ke dunia internasional saja kah? Lalu mengabaikan pandangan orang lokal yang lebih dekat dengan kita? Tentu saja tidak. Penanaman nilai World Class Entrepreneurial University harus dilakukan di mana saja dengan cara yang efektif dan efisien.

 

Kenapa? (Why) : kenapa sih harus jadi World Class Entrepreneurial University? Kenapa nggak yang biasa biasa aja? Yang National University mungkin? Nah ya karena biasa itu mangkanya nggak dipilih. Lagipula dari data yang saya dapatkan, wirausaha atau usaha mandiri itu memiliki pengaruh cukup besar bagi perekonomian negara kita lo. Sebagian bear ekonomi di dunia juga dipengaruhi oleh bisnisnya masing-masing. Jadi yaah.. sudah jelas lah ya kenaapa harus jadi World Class Entrepreneurial University.

Siapa? (who) dan bagaimana? (how) : pihak yang dapat menjadikan Brawijaya sebagai World Class Entrepreneurial University tentu bukan hanya pihak universitas, tetapi semua stakeholder atau pemegang kepentingan di dalamnya. Termasuk kita para mahasiswa ini. Kalau tidak bersama sama mana bisa? Kalau caranya bisa kita mulai dengan hal sederhana. Mungkin yang ada sekarang dengan memasukkan mata kuliah enterpreneurship?

Demikian tulisan singkat saya, saya berharap Brawijaya dnegan usahanya menjadi World Class Entrepreneurial University mampu memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh kalangan. Khususnya di bidang infrastruktur yang yaah tau sendiri Brawijaya macetnya gimana. Sebagai pihak yang ingin mendulang sukses di dunia internasional, say aberharap UB bisa lebih bijaksana dalam menopang para mahasiswanya yang ingin berkarya di bidang usaha mandiri. Di dukung terus. Karena apa gunanya skill tanpa keinginan? Dan apa gunanya keinginan tanpa dukungan? Sekian dan terima kasih.

 
 

tugas perilaku konsumen : pengaruh kelas sosial terhadap keputusan pembelian

27 Nov

Socio-economic status, delay of gratification, and impulse buying

Michael Wood *

Department of Sociology, Hunter College, City University of New York, 695 Park Avenue,

New York, NY 10021, USA

Received 14 March 1997; accepted 2 January 1998

 

Abstraksi  :

Tingginya tingkat hutang konsumen dan kerugian yang dialami konsumen menimbulkan hipotesis atau dugaan akan terjadinya atau adanya penundaan kepuasaan pada konsumen kelas menengah.  Teori mengenai self identitiy pada kelompok post industrial menunjukkan bahwa norma-norma yang mendukung pengontrolan impuls atau rangsangan dan penundaan terhadap kepuasan telah melemahkan rekasi yang timbul dari impuls yang diberikan. Penelitian sebelumnya pada status socio economic, penundaan kepuasan, pembelian impulsif atau tidak terncana telah dilakukan dan sebuah konsep yang menyajikan perbedaan antara pembelian impulsif dan pembelian kompulsif juga telah disajikan atau ditemukan. survey terhadap sampel yang terdiri dari orang dewasa di US telah dilakukan dan menyajikan data atau informasi yang sesuai dengan model yang telah dirancang sebelumnya. namun hasil dari survey tersebut tidak sesuai dengan model yang menyatakan bahwa penundaan kepuasan mempengaruhi kelas kalangan menengah kebawah. Level pembelian impulsif yang lebih tinggi ditemukan memiliki keterkaitan terhadap beberapa pengalaman menempuh pendidikan baik di perguruan tinggi atau jenjang pendidikan yang lain. Selain itu, ditemukan juga bahwa umur yang dimiliki konsumen dan jenis kelamin juga mempengaruhi impulsif buying yang dilakukan. Namun keadaan sosial ekonomi tidak mempengaruhi keterkaitan atau pengaruh terhadap impulsif buying.

Kesimpulan :

Berbagai kemungkinan mengenai spekulasi yang berkaitan dengan hasil ada tidaknya pengaruh socio economic dan perubahan budaya telah memberikan gambaran mengenai hubungan dasar antara status sosial ekonomi dan kepuasan yang tertunda. Setelah perang dunia yang ke II, perkembangan ekonomi dan perubahan pada institusi keuangan telah mulai memberikan pengaruh yang signifikan bagi penundaan kepuasan pada kalangan sosial menengah kebawah bahkan sebelum perubahan budaya sempat memberikan pengaruh. Namun seiring berkembangnya zaman pada er tersebut, perubahan budaya yang terjadi sedikit demi sedikit memberikan pengaruh terhadap peningkatan keinginan membeli secara impulsif. Mka dapat disimpulkan dari survey yang telah dilakukan bahwa, pembelian impulsif banyak dilakukan oleh masyarakat kelas menengah kebawah dimana umur, jenis kelamin, status sosial ekonomi atau keadaan ekonomi mempengaruhi seringnya pembelian impulsif yang terjadi. Selain itu, tingkat pendidikan dan budaya juga mempengaruhi pembelian impulsif. Namun tidak ditemukan kecocokan bahwa penundaan kepuasan selalu dialami oleh kelas menengah kebawah karena penundaan kepuasan ini dipengaruhi oleh banyak aspek diluar aspek status sosial.

 
 

jurnal perilaku konsumen : pengaruh keluarga dalam keputusan pembelian (bagian 2)

21 Nov

nama : agata rahmi pertiwi

nim : 105020203111003

kelas BB

 

Jurnal 1 :

Exploring Latin American family decision-making

using correspondence analysis

 untuk menetapkan posisi di pasar, penting bagi seorang pemasar untuk memiliki pengertian dan pemahaman yang baik mengenai pola perilaku konsumen dalam melakukan pembelian, khususnya ketika pemasar melakukan kegiatan di pasar global. Memahami perilaku pembelian pada konteks budaya merupakan dimensi yang penting pada riset konsumen. Pada artikel ini dibahas mengenai tiga society Latin Amerika yang mempelajari mengenai perbandingan antara budaya yang berbeda dari suami dan istri dalam melakukan keputusan pembelian terhadap sejumlah barang dan jasa pada lingkungan yang berbeda. Terdapat kesamaan yang cukup tinggi dalam keputusan pembelian yang dilakukan keluarga berbeda di tiga negara. Penelitian yag dilakukan mengungkapkan atau membahas megenai pembuatan public policy dan keputusan manajerial yang dibuat sebagai implikasi dari kemiripan yang terjadi pda penelitian cross cultural dan perbedaan yang timbul dari keputusan pembelian. penelitian sendiri terbagi dari enam bagian. Dua bagian awal membahas mengenai pengenalan dan review tentang literatur keputusan pembelian konsumen. Bagian tiga dan empat membahas mengenai deskripsi dan penjelasan mengenai metodologi dan desain penelitian yang digunakan dalam penelitian. Bagian lima dan enam membahas mengenai kedalaman analisis, diskusi dan kesimpulan dari penemuan. Sedangkan bagian ke tujuh membahas mengenai keterbatasan dalam melakukan penelitian dan implikasi manajerial.

www.sciencedirect.com

 

Jurnal 2 ::

Adolescent influence in family purchase decisions: An update and cross-national extension

Sijun Wang, Betsy B. Holloway, Sharon E. Beatty and William W. Hill

Penelitian ini menyajikan update dan lanjutan dari pekerjaan atau penelitian sebelumnya mengenai pengaruh dalam keputusan pembelian sebuah keluarga dengan mengukur atau menilai pengaruh fase keputusan menggunakan sample dari remaja dari dua negara, Amerika dan China. Berdasarkan dari penemuan sebelumnya, peneliti menemukan bahwa remaja memberikan pengaruh pada tahap pengambilan keputusan dengan level yang tidak lebih rendah dari orang dewasa pada negara US dan China. Berdasarkan tanggapan atau pendapat tersebut, maka peneliti menganggap atau menyimpulkan bahwa remaja memiliki pengaruh yang cukup penting dalam pengambian keputusan dalam suatu keluarga. Peneliti juga menemukan bahwa pengaruh yang dikemukakan secara pribadi oleh remaja memiliki konsistensi atau kesamaan dengan persepsi orangtua mereka mengenai pengaruh yang ditimbulkan oleh anak-anak mereka. Lebih jauh agi, peneliti menemukan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh yang ditimbulkan leh remaja, baik remaja US maupun China sebagai sample dalam tahapan pengambilan keputusna pembelian dalam keluarga, sama seperti tidak adanya pengaruh gender atau jenis kelamin pada kedua sample tersebut.

 

http://econpapers.repec.org/article/eeejbrese/v_3a60_3ay_3a2007_3ai_3a11_3ap_3a1117-1124.htm

 

Jurnal 3 :

 

Anne Martensen (Denmark), Lars Grønholdt (Denmark)

Children’s influence on family decision making

Peneliti menemukan indikasi bahwa anak-anak memiliki pengaruh yang cukup kuat pada pengambilan keputusan keluarga dan keterkaitannya dengan pembayaran, umumnya pada kasus dimana produk yang dibeli berkaitan dengan mereka (seperti sereal, jus, minuman ringan, dan ponsel) dan masa pertumbuhan. Pengaruh anak tentu saja berbeda-beda bergantung pd tahap dimana mereka sedang tumbuh. Sedangkan jenis kelamin anak tidak memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap keputusan pembelian atau persepsi orangtua terhadap pengaruh anak mereka dalam melakukan konsumsi atau pembelian barang.

Berdasar kepada persepsi atau pandangan orangtua, meningkatnya pengaruh anak memiliki hubungan yang signifikan dengan umur anak, dimana anak yang lebih tua memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap keputusan pembelian keluarga dibandingkan dengan anak yang lebih muda. Lebih jauh lagi, permulaan atau awal kemunculan dari seorang anak atau anak pertma memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak melakukan permulaan.  Pada akhirnya, penelitian menunjukkan bahwa anak mempengaruhi dalam pengambilan keputusan pembelian dan penting untuk mengetahui peran anak dalam proses pembelian keluarga oleh orangtua.

 businessperspectives.org/journals…/im_en_2008_04_Martense

 

Jurnal 4 :

Exploring the ‘ethical everyday’: An ethnography of the ethics

of family consumption

 

dengan menggunakan penelitian etnografi terhadap enam keluarga di Barat Daya Inggris (2007-2009), penelitian ini membuka black box dari konsumsi sehari-hari dengan menambahkan warna dan pola tersendiri kepada pengalaman sehari-hari mereka. Ketika literatul geografis yang terbaru telah menyadari dan mempertimbangkan etika yang tergambar secara sekilas dalam praktek konsumsi sehari-hari, namun tetap saja tidak ada penelitian yang menekankan dan mencari tahu secara mendetail mengenai periaku etis dari konsumen individu dan keluarga. Dengan mencari tahu mengenai etika uang sehari-hari, pilihan yang benar maupun salah dari praktek konsumsi dalam keluarga, maka peelitian ini menceriterakan kasus untuk menyadari atau menimbulkan kesadaran mengenai etika alami dari kegiatan konsumsi sehari-hari dalam keluarga.

www. Sciencedirect.com

 

Jurnal 5 :

 Heterogeneous effect of ethnic networks on international trade of Thailand: The role of family ties and ethnic diversity

 Hubungan etnik telah ditemukan dan dipercaya menjadi efek pro-trade atau mendukung perdagangan pada penelitian sebelumnya. Bagaimanapun juga, efek yang berbeda dari etnik atau budaya yang berbeda sedang dalam penelitian lebih lanjut. Bersumber dari literatur pada struktur sosial, penelitian ini mencoba menguraikan mengenai efek yang heterogen atau yang berbeda-beda dari hubungan etnik pada perdagangan internasional dengan menggunakan data perdagangan di Thailand. Peneliti menemukan bahwa hubungan etnik memiliki dampak positif secara keseluruhan pada perdagangan, mennaggapi hasil dari studi sebelumnya. bagaimanapun juga,  besarnya efek bergantung pada etnik-etnik yang berbeda antara dua dimensi. Yang pertama, kekuatan dari ikatan keluarga pada budaya asli yang memberikan pengaruh pada dukungan efek perdagangan positif pada hubungan etnik. Berdasarkan pada etnik yang ada tersebut, dengan kuatnya hubungan keluargamemiliki ketergantungan atau kecenderungan untuk berdagang dengan komunitas etnik mereka sendiri. Jika dibandingkan, pembedaan etnik ini mampu melemahkan efek positif dari hubungan perdagangan ,berdasarkan pada nilai informasional dari etnik yang berbeda da kemampuannya mempromosikan perdagangan antara etnik ini.

www.sciencedirect.com

 
 

jurnal pengaruh reference group terhadap keputusan pembelian (bagian 1)

21 Nov

nama : Agata Rahmi Pertiwi

nim : 105020203111003

kelas BB

 

jurnal 1 :

Constructing and reconstructing gender: Reference group effects and women’s demand for entrepreneurial capital

 

Program kredit yang menarget konsumen wanita berdasarkan pada argumentasi penawaran yang dilakukan. Bagaimanapun juga, sisi pembatasan permintaan  tentu juga dapat mempengaruhi pendapatan wanita wirausahawan daerah pedesaan pada negara berkembang. Peneliti berpendapat bahwa pendapatan pada komunitas wanita pedesaan tersebut dipengaruhi oleh norma sosial atau faktor sosial yang melarang para wanita untuk melakukan pekerjaan yang bukan seharusnya dilakukan oleh wanita. Seorang wanita yang bekerja atau memiliki lapangan kerja sendiri (wirausaha)  dan terikat dengan aktivitas berbasis pasar memiliki kemungkinan untuk menjadi tantangan bagi peraturan sosial yang berlaku di negara atau lingkungannya. Dengan menyelipkan secara eksplisit mengenai efek atau pengaruh sosial di dalam model pengambilan keputusan oleh wanita pedesaan, peneliti menghasilkan sebuah framework yang mampu menjelaskan lebih detail mengenai faktor yang membatasi pendapatan perkapital meskipun mereka (para wanita) memiliki pendapatan yang meadai atau cukup. Model pengambilan keputusan tersebut memungkinkan pendapatan wanita enterpreneur untuk lebih terstruktur. Pada level empiris, peneliti berhasil mengidentifikasikan efek positif dari pengaruh sosial. Dengan menggunakan strategi econometric yang mengontrol berbagai efek terkait yang mungkin menstimulasi hubungan antara perilaku wanita dan social grup mereka, peneliti menemukan bahwa pendapatan wanita pedesaan di Paraguay yang bekerja sebagai wirausaha dipengaruhi oleh perilaku grup referensi mereka secara signifikan dan positif. Wanita lebih suka menghasilkan pendapatan mandiri lebih besar ketika mereka memiliki lebih banyak teman atau ember uyang besar dan berlaku ecara kooperatif pada grup referensi mereka. Ketika pengaruh sosial tersebut mampu merefleksikan pembelajaran sosial, ketidakberadaan dari pengaruh sosial cross-gender (partner pria tidak mempengaruhi perilaku grup referensi wanita) mampu mensupport norma sosial.

Sumber : http://www.sciencedirect.com

 

jurnal 2 :

Determinants of pro-environmental consumption: The role of reference groups and routine behavior

  Pada jurnal ini dicari tahu mengenai faktor yang menentukan konsumsi pro lingkungan, berfokus pada peran dari grup referensi dan perilaku sehari-hari. Para peneliti mempelajari faktor-faktor yang menjelaskan apakah orang-orang telah melakukan instalasi perabotan energi solar di rumah mereka atau telah terlibat dalam program green-electricity, dan faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas pembelian makanan organik. Dengan bercermin pada karakteristik demografi dan perilaku terhadap lingkungan, para peneliti mempertimbangkan beberapa kategori yang digunakan untuk mengukur, yakni :

  1. Faktor ekonomi dan kognitif (pendapatan, harga premium yang diestimasikan, level dari informasi yang diperoleh dari benda-benda ramah lingkungan)
  2. Pola konsumsi dari orang pada grup referensi
  3. Pola konsumsi pribadi di masa lalu.

Dengan menggunakan sekumpulan data khusus dari survey yang telah dilakukan di wilayah Hanover, Jerman, peneliti menemukan bahwa :

  1. Faktor ekonomi dan faktor kognitif memiliki keterkaitan secara signifikan terhadap keseluruhan atau ketiga macam konsumsi peduli lingkungan. Pengaruh dari faktor-faktor tersebut merupakan pengaruh terkuat dalam green electricity.
  2. Pola konsumsi dari orang pada grup referensi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketiga macam konsumsi peduli lingkungan, khususnya pada perilaku mengkonsumsi makanan organik
  3. Sedangkan intensitas pembelian makanan organik merupakan kegiatan peduli lingkungan yang paling banyak dilakukan dan paling lama dilakukan oleh masyarakat.

Sumber : http://www.sciencedirect.com

jurnal 3 :

You Are What They Eat: The Influence of Reference

Groups on Consumers’ Connections to Brands

  Sekumpulan asosiasi konsumen menganggap bahwa brand atau merek adalah komponen penting dari ekuitas merk. Pada artikel ini, para peneliti berfokus pada grup referensi sebagai sumber dari asosiasi atau kelompok brand/merek, dimana dapat menghubungkan antara representasi pribadi dengan gol verivikasi atau peningkatan pribadi. Para peneliti membuat konsep mengenai hubungan tersebut pada level tinggi dengan tujuan untuk mengetahui hubungan brand pribadi dimana hal tersebut dikaitkan dengan konsep pribadi individu mengenai brand atau merek tertentu. Pada dua studi yang telah dilakukan, para peneliti menunjukkan bahwa brand atau merek yang digunakan oleh anggota grup atau kelompok dan grup aspirasi dapat menimbulkan hubungan dengan mental konsumen mengenai pandangan mereka. Dimana dalam hal ini, konsumen beranggapan bahwa mereka menggunakan produk tersebut sebagai bentuk penciptaan konsep pribadi mereka terhadap produk atau brand yang bersangkutan. Hasil dari percobaan satu menunjukkan bahwa ukuran mengenai kelompok mana yang digunakan untuk mempengaruhi hubungan brand secara pribadi dengan konsumen bergantung pada keinginan konsumen untuk menjadi bagian dari member group atau aspiration group tertentu. Sedangkan pada percobaan ke dua menunjukkan bahwa, untuk individu yang memiliki tujuan pribadi terhadap brand, mereka mendapatkan pengaruh yang sangat besar dari aspiration group untuk menciptakan keterkaitan antara brand dengan konsumen tersebut. Sedangkan efek yang lebih besar dirasakan oleh individu yang memiliki self-verification goals.

Sumber : http://www.sciencedirect.com

jurnal 4 :

 Reference Group Influence on Product and Brand Purchase Decisions

Penelitian yang dilakukan menunjukkan atau menemukan tiga tipe dari pengaruh grup referensi pada keputusan pembelian produk dengan brand tertentu dimana produk tersebut digolongkan menjadi empat kategori. Bourne’s (1957) mendefinisikan hipotesis framework yang kuat mengenai pengaruh grup referensi terhadap produk mewah dan pemilihan brand  serta pengaruh yang dapat diabaikan pada produk kebutuhan pribadi dan pemilihan brand. Pengaruh yang berbeda tersebut disusun dalam hipotesis mengenai produk mewah dan produk kebutuhan sehari-hari. Penelitian ini mempelajari mengenai masalah yang biasa terjadi dengan melakukan model mail survey dan menggunakan respon proyektif. Beberapa masalah tentu timbul berkaitan dengan beberapa variabel seperti resiko yang dihadapi, dan pemahaman tentang produk. Ketika konsumen dihadapkan pada pilihan tunggal, faktor pengabilan keputusan hanya signifikan untuk mempengaruhi grup informasi. Berkaitan dengan framework yang disusun Bourne’s, kebutuhan akan barang mewah dan dimensi barang kebutuhan sehari-hari memiliki hubungan yang konsisten dengan faktor subjek di studi yang telah dilakukan. Penemuan ini menggambarkan mengenai perbedaan yang timbul dari empat kategori produk, yaitu barang mewah, barang kebutuhan sehari-hari, private luxuries, dan private necessities.

Sumber : http://www.sciencedirect.com

jurnal 5 :

To Be or Not Be? The Influence of Dissociative

Reference Groups on Consumer Preferences

Penelitian yang dilakukan mempelajari mengenai efek yang ditimbulkan oleh dissociative grup referensi pada preferensi konsumen. Para pria memiliki evaluasi yang lebih negatif dan lebih sedikit untuk melakukan pemilihan terhadap produk yang memiliki grup referensi yang disosiatif dibandingkan dengan produk normal atau netral. Penemuan ini didasarkan pada kemungkinan apakah produk tersebut dikonsumsi secara pribadi ataukah publik dan kesadara publik. Para peneliti memperkirakan bahwa mekanisme yang tmbul merupakan hasrat yang menggambarkan potret pribadi terhadap orang lain. Sedangkan peran dari grup referensi yang disosiatif pada komunikasi pemasaran akan didiskusikan lebih lanjut.

Sumber : http://www.sciencedirect.com

 

 

 

 

 

 

 
 

tugas perilaku konsumen : sikap dan intensitas pembelian (3)

07 Nov

nama : agata rahmi pertiwi

nim : 105020203111003

kelas BB

 

jurnal 4 :

Impact of interpersonal influences, brand origin and brand image on luxury purchase intentions: Measuring interfunctional interactions and a cross-national comparison

contoh materi kuisioner dengan hasil :

 

Metode yang digunakan untuk mengukur

  1. Berpegang pada rekomendasi Gerbing and Hamilton’s (1996)skala yang ada diukur menggunakan exploratory factor analysis (EFA) untuk megidentifikasi item yang buruk atau kurang bauk
  2. Sedangkan confirmatory factor analysis (CFA) digunakan untuk pengukuran murni yang lebih jauh dan lengkap.
  3. Hasil disajikan pada tabel 2 diatas

Sumber :

www.elsevier.com/locate/jwb

 

jurnal 5 :

Indian consumers’ purchase intention toward a United States versus local brand

 

Item pada kuisioner :

Metode yang digunakan untuk mengukur

  1. Analisis data yang dilakukan menggunakan Structural Equation Modellin (SEM) dengan AMOS graphics version 5.0.
  2. Parameter yag ada diestimasi menggunakan maximung likelihood method.
  3. Two-stage analysis digunakan untuk memvalidasi atau menentukan dan memastikan ke valid an dari model penghitungan dan the proposed hypothesis.
  4. Sedangkan Confirmatory Factor Analyses (CFA) digunakan sebagai alat untuk menggambarkan model struktur hubungan antar variabel yang diestimasikan

Submber : www.sciencedirect.com

 
 

tugas perilaku konsumen : sikap dan intensitas membeli (2)

07 Nov

nama : agata rahmi pertiwi

nim 105020203111003

kelas BB

jurnal 3 :

The Influence of Environmental Knowledge and Concern on Green Purchase Intention the Role of Attitude as a Mediating Variable

Abstraksi :

Informasi yang kurang berkaitan dengan green purchase intention yang dilakukan oleh konsumen telah menjadi rintangan bagi pemasar lokal maupun luar negeri dalam mengembangkan bisnis dan strategi pemasaran pada green product. Namun di Malaysia telah menjadi tren baru bahwa sangat penting untuk mengetahui atau memahami pola perilaku konsumen terhadap green product. Berdasarkan pengetahuan terhadap fenomena yang ada, penelitian ini mencari tahu tentang pengaruh pemahaman lingkungan dan berfokus pada green purchase intention pada konsumen dan secara menilai secara simultan efek dari perilaku sebagai mediator.  The Theory of Reasoned Action digunakan sebagai standart ukur intensi pembelian konsumen terhadap green product. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa pengetahuan lingkungan dan kepedulian lingkungan mempengaruhi secara signifikan intensitas pembelian konsumen terhadap green product. Lebih penting lagi, ditemukan bahwa perilaku memiliki pengaruh sebagai mediasi terhadap hubungan antara kepedulian lingkungan denga intensitas pembelian green product.  Sedangkan di sisi yang lain, pemahaman tentang lingkungan tidak dapat mempertimbangkan perilaku namun perilaku itu sendiri  ditemukan agar tidak ada efek mediasi yang terjadi pada hubungan antara pemahaman lingkungan dan intensitas pembelian green product.

 

Cara mengukur dan metode yang digunakan beserta hasil :

Kuisioner yang disajikan memiliki lima tahapan atau lima bagian di mana setiap bagian memiliki hasil sendiri sendiri

Bagian 1 : respondent profile

Bagian 2 : factor analysis for green purchase intention

Merupakan variabel terikat dan diukur menggunaka Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) dengan hasil 0,634 dan hasil dari Bartlett Test of Sphericity memiliki hasil signifikan pada p=0.000 (pada tabel 2).

Bagian 3 : Factor Analysis for Environmental Knowledge

Merupakan variabel bebas. Diukur menggunaka Kaiser-Meyer-Olkin (KMO). Pada tabel 3 menunjukkan pemahaman lingkungan telah memenuhi kriteria dari Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) >0,60 dan hasil dari Bartlett Test of Sphericity telah signifikan dengan Eigenvalues untuk faktor yang lebih dari satu.

Bagian 4 : Factor Analysis for Environmental Concern

Merupakan variabel bebas. menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan telah memenuhi kriteria dari Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) >0,60 dan hasil dari Bartlett Test of Sphericity telah signifikan dengan Eigenvalues untuk faktor yang lebih dari satu. Hasil dapat dilihat pada tabel 4.

Bagian 5 : Factor Analysis for Attitude

Merupakan variabel mediasi. diukur menggunaka Kaiser-Meyer-Olkin (KMO) dengan hasil 0,707 dan hasil dari Bartlett Test of Sphericity memiliki hasil signifikan pada p=0.000 (pada tabel 5).

Reliability Analysis and Descriptive Analysis

Hasil pada tabel 6 menunjukkan bahwa nilai Cronbach Alfa ada diantara 0.623 sampai dengan 0.814 dimana dapat disimpulkan bahwa seluruh item yang dipelajari telah dapat diterima setelah mengalami uji atau analisis faktor. Sedangkan skala likert yang ada digunakan untuk mengukur keseluruhan variabel. Dari hasil penghitungan skala likert diketahui bahwa sebagian besar oini mengarah pada “setuju” hingga “sangat setuju”.  sedangkan standart deviasi dari seluruh variabel menunjukkan hasil antara 0.589 sampai 0.840 yang menunjukkan bahwa seluruh jawaban telah terdistribusi normal.

Hasil Kuisioner terhadap Indikator yang diukur              :

Sumber :

http://conferences.anzmac.org/ANZMAC2007/papers/M%20Yeoh_1a.pdf

 
 

tugas perilaku konsumen : sikap dan intensitas pembelian (1)

07 Nov

nama : agata rahmi pertiwi

nim 105020203111003

kelas BB

jurnal 1 :

A Survey of the Effect of Consumers’ Perceived Risk on Purchase Intention in E-Shopping

Abstraksi :

Penelitian ini menyajikan informasi mengenai perbandingan antara level resiko yang dirasa antara Internet dan Store Shopping dan mengetahui hubungan antara pengalaman baik di masa lalu, level resiko yang dirasakan, dan intensi pembelian di masa yang akan datang dalam lingkungan pembelian di internet. Untuk menerima atau mendapatkan hasil dari penelitia dan hipotesis, peneliti menggunakan sample t-test untuk menganalisis perbedaan utama dari level resiko yang dirasakan individual maupun keseluruhan dalam dua situasi pembelian. Sedangkan untuk menganalisis hubungan antara pengalaman berbelanja, resiko yang diterima, dan variabel intensi pembelian digunakan analisis pearson correlation  dan regresi linear. Penelitian mengungkapkan bahwa konsumen menerima lebih banyak resiko dari internet dibandingkan dengan toko. Semakin baik  pengalaman berbelanja yang dirasakan pelanggan secara online  maka semakin kecil level resiko pembelian yang dirasakan di internet.  Sama halnya jika semakin tinggi level resiko yang diterima konsumen maka intensi pembelian dari internet di masa depan akan berkurang.

Cara mengukur dan metode yang digunakan:

  1. Kuisioner menggunakan skala likert
  2. Untuk menerima atau mendapatkan hasil dari penelitia dan hipotesis, peneliti menggunakan sample t-test untuk menganalisis perbedaan utama dari level resiko yang dirasakan individual maupun keseluruhan dalam dua situasi pembelian
  3. Sedangkan untuk menganalisis hubungan antara pengalaman berbelanja, resiko yang diterima, dan variabel intensi pembelian digunakan analisis pearson correlation  dan regresi linear

contoh kuisioner :