PARADIGMA EKONOMI KELEMBAGAAN #1

September 11th, 2018

Disini saya akan menjelaskan bagaimana paradigma ekonomi kelembagaan dapat hadir di dunia ini.

Aliran ini menggunakan pendekatan multidisipliner dalam mengkaji fenomena ekonomi dengan menggabungkan seluruh aspek social. Sehingga ilmu ini parallel dengan sifat asasi dari ilmu social. Yakni memiliki dua dimensi yang harus dipahami yaitu berkaitan dengan persoalan negara dan berkaitan dengan urusan masyarakat.

A.  Perilaku teknologis dan ideologis

Analisis ilmu ekonomi bisa dibagi dalam empat cakupan yakni (Miller, 1988:50-51), (a) alokasi sumber daya, (b) tingkat pertumbuhan kesempatan kerja, pendapatan, produksi, dan harga; (c) distribusi pendapatan, dan (d) struktur kekuasaan.

Pandangan ekonomi klasik lebih banyak menggunakan 3 instrumen pertama dalam menjelaskan setiap persoalan ekonomi. Sehingga banyak sekali kebijakan ekonomi yang didasari oleh 3 instrumen tersebut.

Sebaliknya  pendekatan kelembagaan lebih menekankan kepada piranti yang terakhir untuk menganallisis fenomena ekonomi. Dimana ahli kelembagaan (institusionalist) mempunyai kepedulian terhadap evolusi struktur kekuasaan dan aturan main, proses penciptaan dan penyelesaian konflik di mana aktivitas ekonomi terjadi.

Ide inti dari paham kelembagaan adalah mengenai kelembagaan, kebiasaan, aturan, dan perkembangannya. Ekonomi kelembagaan ini bersifat evolusioner, kolektif interdisipliner, dan nonprediktif. Sehingga ahli ekonomi pada umumnya fokus pada konflik daripada keharmonisan, lalu pada pemborosan dibandingkan efisiensi, dan pada ketidakpastian dibandingkan pengetahuan yang sempurna. Namun mereka secara konsisten tetap merawat persepsinya pada perbedaan antara biaya/manfaat privat dan sosial.

Pikiran dan tindakan teknologis meliputi penjelasan dari sebab akibat. Tindakan ini bukan bersifat kekerasan/paksaan dan menjadi oijij dari verifikasi empiris namun tentang kemampuannya untuk mencapai tujuan tertentu.

B.  Realitas dan Evolusi

Filsafat kontemporer tentang ilmu pengetahuan digunakan untuk memahami bagaimana metodologi ahli kelembagaan dan bagaimana kelembagaan ini berbeda dari ekonomi konvensional. Tentu saja, dalam pandangan ini, tugas utama dari seorang ilmuwan modern adalah untuk memahami, menginterpretasi, dan menjelaskan kenyataan yang ada di sekitarnya.

Ekonomi kelembagaan telah mengenal pentingnya perilaku manusia “nonrasional” (nonrational human behaviour) dalam pembuatan keputusan ekonomi. Perilaku manusia yang haus kepada kekuasaan dan petualangan, rasa kemerdekaan, sifat mementingkan orang lain, keinginan tahu, adat dan kebiasaan semuanya bisa menjadi motivasi yang kuat dari perilaku ekonomi individu.

Sehingga Ahli kelembagaan telah menemukan konsep yang menyeluruh untuk mempertimbangkan tentang kekuasaan, konflik, distribusi, hubungan sosial, kelembagaan dan proses nonpasar, dan yang lain daripada model-model formal. Menyangkut pendekatan holisme ternyata terdapat beberapa kekurangan. Sehingga Disinilah ekonomi kelembagaan menjadi ilmu yang sangat penting dalam melakukan analisis terhadap proses ekonomi yang terus berubah-ubah, karena cara pandang ekonomi kelembagaan bersifat holistik, sistematis dan evolusioner. Sehingga, realitas sosial tidak hanya dipandang sebagai seperangkat relasi yang spesifik, melainkan adalah sebuah proses perubahan yang inheren, atau kemudian dapat disebut sebagai sistem ekonomi.

C.  Metode Kualitatif : Partikularitas dan Subyektifitas

Metode penelitian kualitatif dan kuantitatif secara tradisional sering dibedakan menurut pendekatan epistemologinya. Jika metode kualitatif bersandar pada pendekatan interpretif, maka metode kuantitatif bertopang pada positivistik. Apabila pendekatan dirubah menjadi interpretif dan dikaitkan dengan pelaku penelitian maka fokusnya adalah persoalan subyektivitas. Namun, jika pendekatan interpretif dihubungkan dengan obyek penelitian, maka fokusnya adalah masalah partikularitas. penelitian kualitatif tidak terlalu bersemangat untuk memproyeksikan suatu tindakan dalam jangka panjang, tetapi lebih tertarik mencari penjelasan mengapa individu atau kelompok melakukan sesuatu dalam latar belakang sosial tertentu. Karena penjelasan inilah yang menjadi menu utama penelitian kualitatif sehingga keberadaannya tetap eksis dan bernilai ilmiah.

D.  Nonprediktif : Nilai Guna dan Liabilitas Data

Penelitian kuantitatif biasanya berujung kepada peramalan tentang kemungkinan peristiwa-peristiwa yang bakal terjadi akibat adanya pemantik yang diberikan. Misalnya, peneliti bisa memperkirakan berapa jumlah orang miskin yang akan berkurang jumlahnya apabila subsidi pendidikan dan kesehatan diberikan kepada masyarakat.

Sebaliknya, penelitian kualitatif tidak tertarik untuk menyodorkan daya ramal tersebut, tetapi justru berkonsentrasi untuk menyajikan karakter sebuah masalah atau fenomena. Sebagai contoh, peneliti lebih tertarik untuk meminta pendapat kaum miskin tentang relevansi subsidi untuk peningkatan kesejahteraan mereka.

Masalah utama dalam penelitian kualitatif adalah apa,bagaimana, kapan, dan dimana atas suatu fenomena yang lebih merujuk pada pemaknaan, konsep, definisi, karakteristik, metafora, simbol, dan deskripsi atas sesuatu. Sebaliknya, penelitian kuantitatif berkonsentrasi untuk menghitung dan mengukur sesuatu. Sifat non prediktif  akibat keraguan yang terjadi antara obyektif dan subyektivis dengan sendirinya menjadi ukuran sampai sejauh mana penelitian kualitatif sanggup untuk memfungsikan dirinya. jika penelitian kualitatif tidak mampu memberikan gambaran bagi masyarakat (atau pemerintah) tentang efek suatu kebijakan maka keberadaannya masih bisa dimaklumi, namun apabila penelitian kualitatif gagal memberikan makna atau kesadaran atas peristiwa sosial yang menjadi obyek penelitian maka eksistensinya boleh diakatakan telah runtuh.

Source :

Yustika, Ahmad Erani. 2012. Ekonomi Kelembagaan : Paradigma, Teori, dan Kebijakan. Jakarta. Erlangga.