Manajemen Kesehatan dan Biosecurity System pada Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Latar belakang

Banyak ditemukan kasus pada ikan mas (Cyprinus carpio) di Pulau Jawa. Selain itu kematian ikan dengan jenis yang sama juga mengalami kematian yang diperkirakan adanya serangan virus terjadi di Sulawesi. Tingkat budidaya perlahan menurun dengan munculnya kasus tersebut. Teknik budidaya ikan tawar dirasa lebih mudah daripada penanganan suatu penyakit. Bahkan kasus ini menyebabkan kematian dalam jumlah besar di Sulawesi. Wawasan yang masih minim dalam diagnosa dan penanganan penyakit ini membuat kerugian semakin besar. Berdasar Epidemiologic Triad, adanya suatu penyakit dipengaruhi oleh faktor – faktor berikut meliputi host (inang), agen (patogen) dan lingkungan.

Untuk menekan angka kejadian penyakit pada suatu daerah diperlukan suatu manajemen kesehatan dan biosecurity yang baik. Manajemen kesehatan bisa dilakukan dengan pencegahan dan pengobatan.

 

Pembahasan

Manajemen kesehatan akuakultur adalah suatu cara untuk mengelola biota perairan agar biota tersebut dapat tumbuh dan berkembang biak dengan baik. Salah satu caranya yaitu dengan manajemen kesehatan. Manajemen kesehatan dapat dilakukan dengan tindakan pencegahan dan pengobatan. Kesehatan yang baik merupakan pencegahan terhadap penyakit yang ideal. Oleh sebab itu, pencegahan lebih baik daripada pengobatan dan hal tersebut dapat dilakukan dengan manajemen kesehatan (Ghufran, 2004).

Menurut Suseno (2007) biosecurity adalah tindakan perlindungan dari efek yang merugikan dari organisme seperti agen penyakit dan hama yang membahayakan bagi manusia, hewan, tanaman, dan lingkungan. Kendala yang dihadapi biosecurity di lapangan yaitu, proses biosecurity membutuhkan waktu yang lama dikarenakan proses ini berkelanjutan dan memiliki berbagai tahap sehingga dapat dikatakan tidak praktis. Selain itu, peran pemerintah dalam sosialisasi mengenai biosecurity masih kurang akibat sumber daya pemerintah yang terbatas sehingga penyampaian di lapangan kurang mendapat respon dari masyarakat tentang pentingnya biosecurity ini. Kemudian diperlukan biaya yang besar untuk melakukan biosecurity sehingga tidak ekonomis akibat proses yang bertahap dan berkelanjutan.

Penyakit – penyakit parasiter yang menyerang ikan mas umumnya disebabkan oleh virus, bakteri, jamur, protozoa dan cacing. Kasus yang ditemukan di Jawa yaitu penyebaran KHV (Koi Herpes Virus). Virus ini dapat menyebabkan kematian. KHV merupakan golongan virus DNA, famili Herpesviridae. Virus ini menyerang pada berbagai umur ikan. KHV sendiri merupakan salah satu penyakit diantara beberapa penyakit yang ditimbulkan oleh virus. KHV ditemukan menyerang ikan mas dan ikan koi konsumsi. Ikan yang terserang virus ini dapat bersifat carrier. Penyebarannya dapat terjadi karena kontak langsung dengan ikan yang terinfeksi dan secara tidak langsung bisa akibat air dari ikan yang terinfeksi.

Kerugian yang dialami petani akibat kasus ini membuat mereka beralih usaha dari budidaya ikan mas ke komoditi lain. Sebab tentu saja, kasus ini memberikan kerugian yang besar. Di Pulau Jawa sendiri terdapat beberapa Strain ikan mas. Apabila tidak dilakukan pembudidayaan secara intensif dan komprehensif maka bisa mengurangi jumlah plasma nutfah. Untuk itu daerah lain yang tidak terserang KHV dapat dijadikan sumber plasma bagi suatu sistem budidaya agar dapat menghasilkan ikan mas yang bebas KHV melalui penerapan teknik Biosecurity.

Biosecurity tergolong sebagai suatu teknik yang baru dalam masyarakat. Untuk mencapai optimalisasi, perlu dilakukan sosialisasi dari pemerintah terlebih dahulu. Prinsip utama dari biosecurity yaitu melakukan isolasi dan desinfeksi. Program ini dapat berjalan efektif apabila ada keseimbangan antara jumlah pengeluaran (aspek ekonomi), managerial dan faktor teknis. Biaya yang besar dibutuhkan untuk melakukan teknik biosecurity ini, sehingga dirasa tidak ekonomis akibat proses yang bertahap dan berkelanjutan dalam pelaksanaannya. Sifatnya yang tidak praktis inilah yang memerlukan kematangan perencanaan dalam penetapan managemen biosecurity yang akan diterapkan. Sehingga apa yang telah diusahakan akan sebanding dengan hasil yang akan didapat yakni dalam rangka pencegahan masuk, perkembangan dan penyebaran pathogen tertentu yang sangat berbahaya.

Hal – hal yang perlu diketahui sebelum melakukan biosecurity diantaranya adalah mengetahui jenis penyakit apa yang akan dicegah, mengetahui daftar penyakit apa saja yang dapat dicegah agar tidak masuk, tersedia metode dan / atau peralatan khusus, mengontrol lingkungan, mengamati pencegahan penyakit serta pembasmian penyakit bila terjadi wabah. Berkaitan dengan KHV, hingga saat ini belum ditemukan obat yang cocok untuk mengobati penyakit tersebut sehingga penelitian – penelitian masih terus dikembangkan. Salah satu metode biosecurity terhadap KHV yang diterapkan yaitu dengan uji PCR secara dini terhadap ikan mas sebelum didistribusikan ke daerah lain.

Metode QPCR yang diterapkan untuk ikan yang mengalami fase karantina sangat penting. Metode ini secara dini dilakukan karena sebagai deteksi awal identifikasi suatu penyakit  dalam waktu yang singkat dari satu tempat lokasi. Metode QPCR memiliki tingkat sensitivitas yang cukup tinggi. Penerapan metode ini dapat menekan angka kematian pada suatu populasi dan menghindari dari patogen yang ada. Selain itu dengan metode ini dapat diketahui perjalanan virus secara vertical, mendeteksi awal penyerangan penyakit pada iakn tahap juvenile, kematian sampling yang dibawa sedikit, kesesuaian deteksi patogen dalam kualitas kualitas air dan lingkungan, secara kuantitatif pengumpulan data dilakukan secara cepat dan sederhana, serta dapat membedakan jenis ikan akan terserang parasit atau antibiotik.

Dalam memproduksi ikan yang sehat harus menciptakan keseimbangan antara kesehatan ikan, nutrisi yang diberikan, kesehatan lingkungan dan memperhatikan genetiknya. Tujuan dari manajemen kesehatan ikan adalah mencegah pengenalan penyakit pada kesehatan hewan, mencegah penyebaran adanya agen penyakit serta ikan yang sehat akan memiliki kualitas yang tinggi. Prinsip mempertahankan kesehatan ikan adalah dengan mempertahankan kondisi yang telah dirancang untuk optimalisasi pertumbuhan, perubahan pemberian pakan, reproduksi dan kelangsungan hidup. Peningkatan kekebalan tubuh secara alami dapat dilakukan dengan manajemen yang baik terhadap sistem kekebalan tubuh. Dalam penerapan baik itu manajemen kesehatan hewan maupun teknik biosecuritynya harus selalu dilakukan dengan pengawasan intensif.

Kepadatan ikan yang meningkat pada budidaya ikan biasanya menyebabkan ikan cepat stress dan menurunkan ketahan tubuh. Kekebalan tubuh pada ikan sederhana dan hampir tidak memiliki immunoglobulin kelas Ig G. Ig G kapna penting dalam anti bakteri, anti virus dan anti toksin. Imunoglobulin pada ikan hanya menyerupai Ig M. Kekebalan tubuh ikan terdiri atas kekebaln spesifik dan non spesifik. Untuk menambah ketahanan tubuh ikan dari suatu penyakit dapat diberikan vaksin. Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu secara oral (melalui pakan), perendanan dan injeksi.

Dalam manajemen kesehatan pada ikan perlu memperhatikan aspek kesehatan ikan itu sendiri dan kesehatan lingkungannya. Aspek – aspek yang harus diperhatikan diantaranya adalah menghindarkan ikan dari stress, mengatur kepadatan, menggunakan air dengan kualitas yang baik, memastikan sumber air yang bebas dari cemaran dan bibit penyakit, setiap melakukan pengendalian dan / atau penanganan dilakukan dengan asas kehati – hatian, serta dapat menambahkan kekebalan baik itu spesifik maupun non-spesifik.

Deplesi / kekurangan oksigen merupakan salah satu faktor lingkungan yang sering menyebabkan kematian ikan terutama di kolam yang banyak mengandung bahan organik. Secara tidak langsung kekurangan oksigen menyebabkan ikan stress sehingga daya tahan tubuh menurun, akibatnya ikan mudah diserang organisme patogen. Faktor utama yang mempengaruhi konsentrasi oksigen dalam kolam adalah fotosintesis, respirasi dan difusi oksigen dari udara ke dalam air. Suhu juga memegang peranan penting dalam ketersediaan oksigen dalam air. Suhu air yang meningkat berpengaruh pda nafsu makan ikan mas. Ikan mas yang dipelihara pada suhu 24 – 26ºC akan segera mati bila dipindahkan ke dalam perairan bersuhu 38,2ºC secara tiba-tiba tanpa aklimatisasi.

Penggunaan obat – obatan untuk ikan boleh dilakukan apabila memang harus diberikan. Namun obat tersebut harus aman baik terhadap ikan itu sendiri, lingkungan maupun manusia; obat yang diberikan harus sudah terdaftar di Dirjen Kesehatan Lingkungan; penggunaannya harus sesuai aturan; pemberian dosis harus tepat serta dianjurkan dengan obat – obatan herbal (alami).

 

Kesimpulan

Manajemen kesehatan dan biosecurity pada ikan penting dilakukan dalam penciptaan iklim yang sehat baik bagi ikan maupun, manusia dan lingkungan. Dalam penetapan manajemen yang akan diterapkan harus dengan kajian lebih dalam agar hasil yang diharapkan dapat tercapai. Ikan sehat akan memiliki kualitas yang tinggi. Pada kasus Koi Herpes Virus untuk menekan angka kematian perlu dilakukan biosecurity dengan uji PCR (Metode QPCR) lebih dini. Hal tersebut juga untuk mempertahankan plasma nutfah agar tidak punah meskipun dilakukan di daerah yang berbeda.

 

Saran

Pemerintah diharapkan melalukan sosialisai mengenai teknik biosecurity sejak kini sehingga kedepannya teknik ini dapat diterapkan secara maksimal dan bersamaan oleh pihak – pihak yang terkait di dalamnya.

 

Referensi

Anonymous. 2000. Fish Health. Primary Industries and Resources SA.

Balon, E. K. (2004). About the oldest domestication among fishes. Journal of Fish Biology, 1–27.

Biosecurity Committee. 2004. Report of the Biosecurity Committee of the Waikato Regional Council held in the Council Chamber, Environment Waikato (Waikato Regional Council) office, 401 Grey Street, Hamilton East at 1.00 pm on Tuesday 14 September 2004. Doc # 945376

Fournier, Guillaume; et.al. 2010. Feeding Cyprinus carpio with infectious materials mediates cyprinid herpesvirus 3 entry through infection of pharyngeal periodontal mucosa.

Ghufran, M. 2004. Penanggulangan Hama dan Penyakit Ikan. Jakarta : Rineka Cipta.

Gilad O., Yun S., Andree K.B., Adkison, M.A., Zlotkin A., Bercovier H., Eldar A. and Hedrick R.P., 2002: Initial characterization of koi herpesvirus and development of a polymerase chain reaction assay to detect the virus in koi, Cyprinus carpio koi. Dis. Aquat. Org., 101-108.

Rukyani A., 2002. Koi herpesvirus in Indonesia: Suspicion. Report of KHV epidemic to OIE. OIE,France (http://www.oie.int).

Supriyadi, H. Manajemen Kesehatan Ikan Secara Terpadu. Pusat Riset Perikanan Budidaya.

Haynes, G. D, et.al. 2010. Brief Communications: Population genetics of invasive common carp Cyprinus carpio L. in coastal drainages in eastern Australia. Journal of Fish Biology.

Kohlmann, K., Kersten, P. & Flajshans, M. (2005). Microsatellite-based genetic variability and differentiation of domesticated, wild and feral common carp (Cyprinus carpio L.) populations. Aquaculture 253–256.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>