TUGAS MANAJEMEN OPERASIONAL AGROINDUSTRI

Posted: 7th April 2013 by ade kurniawan in kuliah

DENDY SATYABIMA (0911020036)

KRISNA DIPAYANA (0911020054)

 

KAPASITAS PRODUKSI

BISKUIT DI PT. GARUDAFOOD PUTRA PUTRI JAYA

GRESIK – JAWA TIMUR

Sekilas tentang garudafood, PT Garudafood Putra Putri jaya merupakan pabrik pembuat biskuit wafer, dan wafer stick. Di perusahaan ini terdapat 2 plan yaitu plan 1 dan plan 2, yang masing masing plant memiliki kapasitas produksi dan produk yang dihasilkan masing masing. Luas pabrik ini sekitar 8400 m2. Yang akan kita bahas disini produksinya ada di plan 2 yang khusus memproduksi biskuit bismart.

Produk ini terhitung produk baru yang diluncurkan untuk menyaingi produk biskuit yang sudah ada seperti “biskuat” produk dari Danone. GarudaFood cukup jeli melihat pasar yang dibidik pada misi ini. Pasar anak-anak merupakan tunggangan bagus memasuki pasar biskuit, GarudaFood menggunakan jurus-jurus yang berbeda sama sekali dari Biskuat. Pertama, mengemas produknya dalam ukuran yang lebih kecil ketimbang Biskuat. Untuk itu, GarudaFood menawarkan produknya pada harga ekonomis yaitu Rp 500. Kedua, memperkenalkan Gery sebagai burung kecil berwarna biru lincah dan lucu. Gery diposisikan sebagai sahabat anak-anak dalam bentuk cerita kartun mencapai 10 seri yang diterbitkan di televisi. Dan ketiga, GarudaFood sengaja membuat marketing gimmick yang merangsang anak-anak tertarik mencobanya. Terobosan pemasaran GarudaFood ini serta-merta memperlihatkan hasilnya. Penjualan Gery tumbuh secara signifikan. Tahun pertama setelah diluncurkan (2001-2002), angka pertumbuhannya mencapai 179% tahun 2003, tumbuh 300% tahun 2004, tumbuh 60% tahun 2005, tumbuh 60% dan tahun 2006, tumbuh 50%.

Strategi berikutnya adalah menawarkan nilai lebih kepada para peritel, baik itu berupa bonus maupun tawaran margin yang lebih tinggi. Tapi untuk hal ini perlu adanya pengawasan dan menjaga di saluran perdagangannya. Edukasi pun terus dilakukan. Salah satunya, dengan mencari konsumen baru atau menambah tingkat konsumsi. Dan ini dilakukan dengan Komunikasi langsung, karena komunikasi merupakan komponen brand building yang berpengaruh kuat dalam meningkatkan top of mind merek, khususnya untuk produk yang bersifat massal. Komunikasi above the line harus digunakan karena erat kaitannya dengan meningkatkan omset, sales, dan top of mind brand. Yang akhirnya GarudaFood melakukan promosi ke media. GarudaFood pun tak ragu merogoh koceknya dalam-dalam untuk menggelar komunikasi pemasaran di berbagai media.

PT. Garuda Food membuat atau memakai system ERP (Enterprise Resource Planning) untuk perencanaan kapasitas produksi termasuk untuk produk biskuitnya yang bertujuan untuk mengintegrasikan dan mengoptomasikan proses bisnis yang berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi di perusahaan bersangkutan. ERP sendiri adalah sistem lintas fungsi perusahaan yang digerakkan oleh modeul software suite terintegrasi yang mendukung proses bisnis dasar internal perusahaan.

Pada prinsipnya, dengan sistem ERP PT. Garuda Food dapat dijalankan secara optimal dan dapat mengurangi biaya-biaya operasional yang tidak efisien seperti biaya inventory (slow moving part, dll.) dan biaya kerugian akibat ‘machine fault’. Dinegara-negara maju yang sudah didukung oleh infrastruktur yang memadaipun, mereka sudah dapat menerapkan konsep JIT (Just-In-Time). Di PT. Garuda Food, segala sumberdaya untuk produksi benar-benar disediakan hanya pada saat diperlukan (fast moving). Termasuk juga penyedian suku cadang untuk maintenance, jadwal perbaikan (service) untuk mencegah terjadinya machine fault, dan inventory.

PT. Garuda Food memerlukan efisiensi dan komputerisasi dari segi penjualan, maka ada tambahan bagi konsep ERP yang bernama Sales Force Automation (SFA). Sistem ini merupakan suatu bagian penting dari suatu rantai pengadaan (Supply Chain) ERP. Pada dasarnya, Sales yang dilengkapi dengan SFA dapat bekerja lebih efisien karena semua informasi mengenai suatu pelanggan atau produk yang dipasarkan ada di databasenya.

PT. Garuda Food bersifat assemble-to-order atau make-to-order, sistem ERP dapat juga dilengkapi dengan Sales Configuration System (SCS). Dengan SCS, Sales dapat memberikan penawaran serta proposal yang dilengkapi dengan gambar, spesifikasi, harga berdasarkan keinginan/pesanan pelanggan.

tugas presentasi Teknik Penanganan Pasca Panen

Posted: 9th October 2012 by ade kurniawan in kuliah

RANCANG BANGUN MESIN PERONTOK PADI BERMOTOR TIPE LIPAT

Posted: 7th June 2012 by ade kurniawan in kuliah

ARTIKEL BUDIDAYA TANAMAN TEBU SECARA MEKANIS

 

Tebu merupkan komoditas yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu dibutuhkan perawatan yang baik. Selain perawatan tanaman tebu, pemanenan juga merupakan hal yang tidak kalah pentingnya juga. Pemahaman tentang mesin panen tebu (cane harvester) sangat penting dalam pengelolaan pertanian modern.  Dengan memahami bagian atau komponen mesin dan cara kerja serta kinerja, maka pengelolanya akan dapat merencanakan dan mengatur penggunaan mesin panen tebu dan jagung secara efektif dan efisien (ekonomis).  Dengan demikian akan mendukung proses budidaya keseluruhan secara mekanis.

Pemanenan tebu secara mekanis dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: (1) menggunakan wholestalk harvester, dan (2) menggunakan chopper harvester.

1. Wholestalk harvester

Wholestalk harvester, juga dikenal sebagai mesin pemanen, metode ini adalah salah satu cara yang paling populer panen gula di Louisiana sampai 1992, ketika para “chopper harvester” itu melampaui popularitas. Metode ini pada dasarnya menyangkut memotong tebu seluruh batangnya , memotong bagian atas, dan menempatkan batang ke dalam baris tumpukan. Deretan batang tersebut kemudian dibakar untuk menghilangkan sampah dan daun dan beban bel loader ambil mereka ke sebuah trailer yang akan diangkut ke pabrik gula.

Metode ini tidak sepenuhnya sempurna karena termasuk sejumlah kekurangan, termasuk tidak mampu menangani batang diajukan dan tebu lebih dari 120 ton. Metode ini tidak bekerja pada lereng yang terbalik dengan kemiringan 10 persen atau lebih. Kelebihan pemotong dikenal lebih murah untuk dipekerjakan daripada sistem baling pemotong, mudah dilakukan, dan kerugian lebih jarang dikaitkan dengan itu.

2. Chopper harvester.

Metode ini mirip dengan panen tangkai utuh bahwa seluruh tebu dipotong, atasnya, dan disimpan ke dalam mesin, bawah-berakhir. Batang dipotong menjadi billet berukuran 656 kaki (200 m) panjang dengan rol mesh atau pisau rotor dan kemudian dibakar. Kotoran akan dihapus dari dengan mekanisme ekstraksi. Para billet perjalanan sebuah konveyor, yang mengirimkan mereka melalui ekstraktor sekunder.

Manfaat dari metode ini adalah bahwa baling pemotong merupakan peralatan kombinasi dan ada peralatan tambahan yang diperlukan, dan kekuatan yang diperlukan untuk kerja fisik dinilai minimal. Karena baling pemotong adalah mesin penggabungan, berarti bahwa jika satu bagian gagal, proses pemanenan seluruh tertunda. Selain itu, keterampilan teknis dan operasional tinggi diperlukan untuk menangani mesin sebesar ini

Proses yang terjadi di dalam suatu unit mesin panen tebu chopper harvester secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :

(1)    Mengarahkan batang-batang tebu dalam suatu barisan ke dalam bagian pemotong batang tebu

(2)    Memotong pucuk batang tebu

(3)    Memotong batang tebu di permukaan tanah

(4)    Menggoncang batang tebu supaya terlepas dari tanah dan pasir yang menempel

(5)    Memotong batang-batang tebu menjadi billet

(6)    Membawa billet menggunakan conveyer

(7)    Membuang sampah (trash) dan material yang ringan

(8)    Memuat billet ke kendaraan angkut.

 

Penerapan luas dari kultivar menghasilkan lebih tinggi LCP 85-384 serta adopsi yang cepat dari billet (batang bagian) menggabungkan pemanen tebu berubah secara signifikan tebu produksi dan panen di Louisiana. Dua perkembangan ini sangat erat terkait, sebagai pemanen menggabungkan cocok untuk menangani bidang tonase yang lebih tinggi terkait dengan kultivar LCP 85-384. Negara areal total LCP 85-384 meningkat dari 43 persen dari jumlah negara tebu areal pada tahun 1998 menjadi 88 persen pada tahun 2003 (Legendre dan Gravois, 2004).

Luas areal LCP 85-384 tahun 2004 mendekati 90 persen dari areal keseluruhan negara tebu. Penerapan combine harvester telah melacak sangat erat dengan penerapan LCP 85-384. Dengan beralih ke panen billet, telah ada bunga tumbuh di Louisiana gula industri mengenai potensi penanaman billet dari tebu. Beberapa petani memiliki dibeli pekebun billet dan menanam beberapa atau semua hasil panen mereka dari tebu bibit billet. Kedua penelitian tentang stasiun dan on-pertanian telah dilakukan selama beberapa tahun terakhir untuk menentukan kelayakan penanaman billet di Louisiana (Hoy et al, 2002;… Hoy et al, 2003, Hoy et al, 2004).

Faktor-faktor yang dievaluasi dalam tes ini telah menyertakan panjang billet optimal, tanggal tanam, penggunaan fungisida, serta tingkat tanam. Di sebagian besar percobaan, hasil gula per hektar dari keseluruhan-tangkai penanaman telah lebih tinggi selama tanaman tanaman tebu, tetapi perbedaan hasil yang tidak lagi signifikan dalam tanaman ratoon. Hasil dari seluruh tangkai dan penanaman billet telah sebanding secara keseluruhan sepanjang siklus tanaman. Namun, hasil menunjukkan bahwa, secara umum, hasil tertinggi dari waktu ke waktu akan diperoleh dengan metode tangkai tanam. Tebu bibit Billet lebih sensitif terhadap masalah penanaman, seperti cuaca yang terlalu basah atau kering ataupun kerusakan benih tebu dari seluruh batang bibit tebu.

Empat berbeda metode penanaman tebu yang saat ini sedang digunakan di Louisiana untuk berbagai metode. Metode ini adalah: (1) seluruh tangkai tangan tanaman, (2) satu seluruh baris-tangkai mesin, (3) satu baris billet tanaman dan (4) tiga baris tanaman billet. Empat metode tanam ini mengacu pada jenis bahan perkebunan dan penanaman tebu digunakan untuk benih pertama dan kedua.

Penanaman awal jaringan benih kultur tebu biasanya ditanam secara keseluruhan tangkai. Setelah dipanen, jaringan bibit kultur tebu ini biasanya diperluas dua kali (dipanen dan ditanami kembali). Penanaman perluasan tebu unggulan kedua adalah tanaman tebu yang akan dikirim ke pabrik untuk grinding.

Metode umum penanaman ekspansi benih tebu tebu di Louisiana, saat ini, adalah mesin penanaman seluruh batang tebu bibit, satu baris pada satu waktu. Beberapa petani mulai menggunakan satu baris perkebunan tebu pabrik billet untuk benih dan billet tiga baris pada operasi. Data yang dikumpulkan selama beberapa tahun terakhir telah menunjukkan bahwa penanaman rasio (hektar tebu ditanam/ hektar tebu bibit dipanen) berbeda secara signifikan dari metode yang satu dengan metode yang lain. Pengamatan dengan hasil petani telah menunjukkan bahwa penanaman rata-rata rasio untuk ditanam seluruh batang tebu adalah sekitar 7,5 / 1. Rasio tanam untuk satu baris mesin ditanam seluruh batang tebu adalah sekitar 5,5 / 1. Penanaman rasio untuk kedua baris satu dan tiga baris billet pekebun secara substansial kurang, pada sekitar 3,0 / 1.

Kedua penelitian lapangan dan hasil panen petani telah menunjukkan bahwa rasio tanam (hektar tebu ditanam per hektar benih tebu panen) secara substansial berbeda antara metode tanam seluruh-tangkai dan menanam billet. Mengingat bertahun-tahun proses perluasan benih tebu tebu dimanfaatkan di Louisiana, masalah muncul tentang kemungkinan perbedaan dalam biaya penanaman billet dibandingkan penanaman seluruh bibit batang tebu. Informasi telah dikumpulkan dari para petani menggunakan penanaman billet metode mengenai waktu, tenaga dan biji tanam tebu persyaratan, serta sebagai faktor yang terkait dengan penggunaan pekebun billet.

Estimasi Biaya Perbedaan Metode Tanam Whole-Stalk And Billet Tebu

Artikel ini menyajikan beberapa, awal awal perkiraan perbedaan biaya yang mungkin ada antara penanaman seluruh batang tebu bibit dibandingkan menanam tebu billet benih untuk Louisiana. Perkiraan biaya yang disajikan di sini didasarkan pada serangkaian tertentu operasi lapangan dan tanam. Biaya penanaman yang sebenarnya di peternakan mungkin berbeda dengan jumlah yang memperkirakan karena perbedaan operasi lapangan khusus yang dilakukan, serta beberapa faktor lainnya. Fokus utama dari artikel ini adalah untuk menunjukkan tingkat relatif dari biaya penanaman untuk berbagai metode penanaman dan mengidentifikasikan faktor-faktor berpengaruh signifikan pada tingkat biaya ini.

Artikel ini menyajikan perkiraan dari total biaya penanaman tebu di Louisiana selama empat ada penanaman metode: (1) sisi tanaman, (2) satu seluruh aris-tangkai tanaman mesin, (3) satu-baris billet mesin pabrik, dan (4) tiga baris tanaman billet mesin. Untuk memperkirakan total investasi dalam penanaman biaya per hektar tebu ditanam pabrik, anggaran dikembangkan untuk memperkirakan biaya yang berkaitan dengan setiap tahapan operasi penanaman seluruh tebu. Ini anggaran merupakan biaya produksi tebu diproyeksikan untuk musim panen 2004 (Breaux dan Salassi, 2004). Ringkasan biaya-biaya, baik biaya variabel dan tetap, ditunjukkan pada Tabel 1. Variabel,biaya tetap, dan total sembilan kategori operasi penanaman terdaftar, bersama dengan singkat deskripsi tentang apa masing-masing perkiraan biaya merupakan disajikan

Jumlah yang dibutuhkan benih tebu berbeda secara substansial antara seluruh tangkai dan billet tanam (Tabel 2). Pabrik tangan dan pabrik seluruh mesin-tangkai metode yang diperlukan 1,8 hektar dan 3,3 hektar, masing-masing, tebu jaringan benih awal berbudaya dalam rangka untuk menghasilkan 100 hektar tanaman tebu setelah dua ekspansi benih tebu. Pada rasio tanam yang lebih rendah, satu baris dan tiga baris billet pekebun dibutuhkan 11,1 hektar tebu jaringan benih budidaya untuk menghasilkan jumlah yang sama tanaman tebu setelah dua ekspansi

Mesin Pemanen Tebu (Chopper Harvester)

Kegiatan tebang muat dan angkut tebu di industri pergulaan di dunia selalu menjadi bottle neck penyelesaian produksi produksi gula. Begitu banyak permasalahan yang dihadapi sehingga memerlukan penanganan dan solusi yang terbaik dalam penyelesaiannya.

Didalam pelaksanaannya pada saat panen, tebu masih banyak belum tertebang, sisa tunggul masih tinggi, tebu lasahan banyak terhampar menginap dikebun, tercecer dijalan, terbuang begitu saja. Hal tersebut sangat ironis seakan semua usaha yang dilakukan sebelumnya untuk menjadikan pertumbuhan tebu yang optimaldari mulai pengolahan tanah, penanaman , perawatan, pemupukan seakan sia-sia begitu saja. Belum lagi kapasitas pabrik gula yang tidak terpenuhi pasokannya, akan menambah permasalahan baru yang pada akhirnya akan semakin menambah kerugian operasional pabrik gula.

Alat dan mesin pemanen tebu ini dibahas tentang bagaimana pemanenan yang cepat dan efisien waktu dan pemanenan tebu secara mekanis menggunakan mesin chooper harvester. Pengertian tebu itu sendiri merupakan tanaman yang ditanam untuk bahan baku gula dan vetsin. Tanaman ini hanya dapat tumbuh di daerah beriklim tropis. Tanaman ini termasuk jenis rumput-rumputan. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencapai kurang lebih 1 tahun.

Untuk pembuatan gula, batang tebu yang sudah dipanen diperas dengan mesin pemeras (mesin press) di pabrik gula. Kemudian, nira atau air perasan tebu tersebut disaring, dimasak, dan diputihkan sehingga menjadi gula pasir yang kita kenal. Dari proses pembuatan tebu tersebut akan dihasilkan gula 5%, ampas tebu 90% dan sisanya berupa tetes (molasse) dan air.

Pemanenan secara mekanis menggunakan chooper harvester

Faktor-faktor yang menyebabkan dilakukannya pemanenan tebu secara mekanis mengunakan mesin penen tebu ( sugarcane harvester) adalah kesulitan tenaga kerja tebang tebu karena adanya persaingan memperoleh tenaga kerja tebang tebu,tenaga kerja tebang tebu hanya bekerja rata – rata 8 jam dan kapasitas panen tebu jauh lebih besar dibanding menggunakan tenaga kerja tebang tebu sehinnga dibutuhkan mesin alat panen tebu chooper harvester yang dirasa cocok untu pemanenan.Alat ini memotong tebu berupa potongan potongan berukuran pendek. Tebu yang sudah dipotong pada pangkal batangnya akan dipotong lagi menjadi potongan lebih pendek dengan ukuran 20-40 cm.

Proses yang terjadi di dalam suatu unit mesin panen tebu chopper harvester secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut:

(1)     Mengarahkan batang-batang tebu dalam suatu barisan ke dalam bagian  pemotong batang tebu

(2)    Memotong pucuk batang tebu

(3)    Memotong batang tebu di permukaan tanah

(4)    Menggoncang batang tebu supaya terlepas dari tanah dan pasir yang menempel

(5)    Memotong batang-batang tebu menjadi billet

(6)    Membawa billet menggunakan conveyer

(7)    Membuang sampah (trash) dan material yang ringan

(8)    Memuat billet ke kendaraan angkut.

Chooper harvester  memotong tebu berupa potongan potongan berukuran pendek. Tebu yang sudah dipotong pada pangkal batangnya akan dipotong lagi menjadi potongan lebih pendek dengan ukuran 20-40 cm.

 

Pengaruh Tingkat Penanaman Billet dan Posisi Produksi Tebu

Efek dari posisi penanaman di TRS dan hasil gula tidak konsisten antara percobaan. Dalam percobaan pertama, TRS terbesar diperoleh dengan pemerataan dan terendah dengan distribusi dua baris, meskipun perbedaan tersebut tidak signifikan. Dalam uji coba kedua, TRS untuk dua jalur distribusi secara signifikan lebih besar daripada untuk distribusi tiga baris.

Di percobaan pertama, gula hasil untuk distribusi dua baris secara signifikan lebih rendah dari distribusi yang sama, dan dalam percobaan kedua tidak ada perbedaan. Ada penelitian terbatas menunjukkan bahwa secara khusus membahas pengaruh geometri billet atau posisi dalam alur penanaman pada tebu atau hasil gula. Shukla dan Lal (2003) menunjukan bahwa, ketika penanaman vertikal menghasilkan jumlah yang lebih tinggi babit batang tebu millable dari penanaman horisontal. Dalam penelitian ini, distribusi yang sama, akan menjadi iniovasi yang paling dekat dengan metode penanaman mekanis saat ini, TRS tertinggi dan hasil gula atau secara statistik tidak berbeda dengan hasil tertinggi di kedua percobaan. Hasil ini akan menunjukkan bahwa metode saat ini untuk  mendistribusikan billet dalam alur tanam secara memuaskan.


          Pengaruh Tanggal Dan Laju Tanam Terhadap Hasil Billet Tebu

Billet tanaman tebu di Louisiana diinginkan karena ketersediaan  tenaga kerja berkurang. Manfaat potensial yang diimbangi dengan peningkatan biaya dan potensi untuk berkembang. Penanaman Billet mungkin mengalami masalah karena billet lebih rentan terhadap setiap tanaman stres dari tangkai utuh.

Penanaman dengan seedcane adalah salah satu faktor tidak di bawah kendali

petani yang dapat memerlukan penanaman billet. Untuk memaksimalkan peluang keberhasilan dengan billet penanaman, petani perlu mengoptimalkan penanaman dan praktek budaya lainnya untuk meminimalkan stres tanaman. Tanggal dan laju penanaman dua faktor yang jelas yang perlu dipertimbangkan.

Penanaman pada  musim tanam pertengahan Agustus untuk akhir September tidak memiliki pengaruh besar pada kinerja penanaman billet untuk LCP 85-384. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa tanggal tanam sangat awal dan akhir dapat menyebabkan produktivitas berkurang.Pada tingkat penanaman billet, faktor biaya yang paling penting dengan metode penanaman ini, tidak memiliki efek pada hasil potensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju penanaman rata-rata enam billet berjalan alur tanam yang dibutuhkan untuk memaksimalkan hasil.

 

 

Oleh :
Ade Kurniawan (0911020022)
Keteknikan Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian

Designing lavender plantations in relation to the mechanized harvesting of lavender blossom
(Desain pekebunan lavender dalam hubungannya dengan mekanisasi pemanenan bunga lavender)

Pada saat perkebunan akan dimulai seperti halnya perkebunan lavender, sejumlah persyaratan harus diperhatikan. Saat ini kebutuhan dasar adalah mekanisasi dalam semua proses pemeliharaan dan pemanenan lavender. Berkenaan dengan pengelolaan di lapangan pada saat tanaman baru dimulai, persoalan yang paling bermasalah adalah memperhitungkan teknologi panen dengan pertimbangan mekanis..

Dalam melakukan pemanenan bunga lavender yang efisien dalam mengumpulkan hasil panen dan kebutuhan transportasi pengangkutan adalah diperlukan sebelumnya dengan perancangan penanaman tanaman lavender dengan mempertimbangkan parameter-parameter perkebunan lavender yang baik. Dua pendekatan yang dipertimbangkan dalam merancang penanaman tanaman lavender adalah penggunaan minimum dari jumlah sarana angkut tanaman didalam lahan dan jumlah minimum jalan kebun dalam kegiatan penenaman meliputi kegiatan perantara untuk membongkar tanaman muda ke lahan.

Pendekatan pertama yang diaplikasikan dimana bagian panjang yang terkecil dimana lahan dibagi dalam kaitannya dengan mengisi kebutuhan tanaman ke mesin hopper dalam dua kali langkah.Dengan cara tersebut dapat dilakukan pengeluaran dari hopper pada bagian sisi akhir hanya dan memerlukan satu sarana angkut saja. Kemudian bagian pendekatan yang kedua memerlukan jumlah sarana transportasi yang lebih besar. Pembongkaran dilaksanakan pada bagian akhir kedua-duanya dan dua sarana transportasi yang menunggu diperlukan, tetapi jumlah jalan perantara transportasi yang digunakan lebih kecil dan lahan yang digunakan lebih secara efisien.

Hubungan yang telah diaplikasikan untuk mendeskripsikan besar dan panjangnya bagian yang mana bidang harus dibagi ketika menetapkan perkebunan tanaman lavender. Suatu metode yang telah dikenali untuk menghitung panjangnya daya kinematik pengolahan tanah dan lebar berbagai lavender yang dikumpulkan saat dipanen. Non-simestris dan simetris dan korelasinya untuk mengukur panjang berbagai putaran yang dilakukan saat pengumpulan hasil panen, seperti halnya lebar jalur memutar pada traktor untuk mengumpulkan bunga lavender pada ujung bagian akhir lahan.

Dalam beberapa tahun terakhir penggunaan mesin panen telah berkembang di perkebunan di mana kelemahan yang tidak sesuai dengan parameter perkebunan dengan parameter mesin panen lavender bisa menjadi suatu obyek pengamatan. Masalah yang muncul diantaranya:
– Garis-garis pengembalian sempit di ujung lahan tidak sesuai dengan kebutuhan area untuk manuver mesin panen lavender
– Ketidaktepatan dari panjang plot lapangan dengan kapasitas hopper mesin panen sehingga harus mengisi hopper sebelum akhir plot.
– Lokasi untuk bongkar muat yang tidak efisien akan menghasilkan alokasi dan penggunaan lebih banyak kendaraan yang menunggu atau manuver ekstra kendaraan.
– Jumlah plot pada lahan telah dibagi lagi sangat besar oleh sejumlah besar jalan kebun, sehingga tidak efisien dalam pemanfaatan lahan pertanian.

Desain sebuah perkebunan lavender baru harus sesuai dengan teknologi panen mekanik. Dua pendekatan yang mungkin: penggunaan jumlah minimum kendaraan menunggu dan pembentukan dari jumlah minimum jalan perantara bongkar. Korelasi telah diamati atas dasar yang panjang dan jumlah petak lapangan dari dua pendekatan untuk merancang perkebunan lavender sudah ditetapkan untuk menjamin efisiensi penggunaan mesin panen. Ketika menentukan lebar dari garis balik parameter С – jarak antara sumbu longitudinal dari alat kekuasaan dan sumbu longitudinal unit harus digunakan ketika panen adalah dengan unit non-simetris

Cara yang dilakukan dalam mengatasi masalah oleh mesin untuk mengisi hopper telah ditentukan sesuai dengan volume hopper, besar volume hasil panen, hasil per hektar dan lebar operasi. Menentukan cara oleh mesin untuk pengisi lavender. Pengamatan studi dengan dipasang mesin panen lavender dengan hopper tunggal dan juga diri didorong dan dipasang mesin dengan trailer terpasang.

Kewirausahaan di Korea Selatan

Posted: 4th April 2012 by ade kurniawan in kuliah

oleh Ade Kurniawan

0911020022

Kewirausahaan di Korea Selatan

 

Korea Selatan memiliki perekonomian maupun industri raksasa yang sudah dapat dibilang sebagai perusahaan internasional yang memiliki jangkauan pasar ke seluruh dunia semisal Samsung, LG, Daewoo, Hyundai, KIA, dan perusahaan raksasa lainnya.. Dilihat dari besarnya perusahaan- perusahaan yang berasal dari korea selatan yang awalnya bermula dari kegiatan berwirausaha, maka dapat dikatakan wirausahawan Korea Selatan sudah memiliki kemampuan dan kematangan dalam mengelola dan mengembangkan bisnis (kegiatan wirausaha) sampai menjadi sebesar sekarang ini.

Secara umum perkembangan kewirausahaan di Korea Selatan dapat dilihat dari aspek dasar yaitu kultur berwirausaha, edukasi dan pelatihan, akses untuk mengembangkan usaha baru, dan dukungan oleh pemerintah. Pesatnya kemajuan kewirausahaan di Korea Selatan dapat dilihat dengan indikator ekonomi negaranya seperti tingkat pendapatan rakyatnya dan tingkat perputaran uang di negara tersebut.

Budaya Berwirausaha

Pemikiran masyarakat Korea Selatan yang menjadi dasar dalam budaya berwirausaha salah satunya adalah mind-set bahwa dengan berwirausaha akan dapat meningkatkan kesempatan bekerja dalam pemenuhan kebutuhan. Hal ini dapat dikaitkan dengan ketegangan politik dan keamanan yang terjadi antara negara Korea Selatan dan Korea Utara, sehingga potensi usaha sangat terbuka karena sedikit perusahaan asing yang masuk kesana. Dari usaha yang berskala dalam negeri hingga akhirnya dapat memperluas jaringannya ke seluruh dunia.

Hal lainnya adalah wirausahawan di Korea Selatan memiliki inovasi dalam mengembangkan produknya yang memiliki kelebihan dibandingkan dengan produk yang sudah ada sebelumnya. Sehingga produk yang dihasilkan dapat bersaing dan diterima oleh pasar

Pendidikan dan Pelatihan dalam Berwirausaha

Inovasi dan penciptaan usaha baru di Korea Selatan didukung oleh program yang spesifik di universitas dan sekolah bisnis, program pelatihan, konferensi dan seminar yang dapat membuka wawasan pelajar menjadi calon-calon wirausahawan baru. Jika sebelumnya pendiri usaha sudah memiliki perusahaan, maka penerusnya akan berimprovisasi membuat seperti usaha tersebut atau mengembangkan (inovasi) pada perusahaan terdahulu.

Akses dalam Mengembangkan Usaha

Korea Selatan memiliki kondisi yang baik dalam mendukung penciptaan produk baru bagi wirausahawan, khususnya wirausahawan kecil dan menengah. Peminjaman modal di Bank dapat dilakukan secara mudah tetapi terkontrol. Selain itu, dari pengalaman masyarakat Korea Selatan dalam berwirausaha, dapat menjadi faktor utama dalam akses penciptaan produk baru selain faktor lainnya semisal modal.

Dukungan Pemerintah

Dukungan pemerintah Korea Selatan dalam menciptakan suasana yang baik dalam berwirausaha dilakukan dengan pemberian modal insentif bagi usahawan kecil dan menengah melalui bank. Selain itu regulasi pemerintah dan pajak impor maupun ekspor dalam perekonomiannya menciptakan lingkungan yang baik dalam pengembangan usaha dan akhirnya dapat menguntungkan wirausahawan baru.

Salah satu contoh dari keberhasilan wirausaha di Korea Selatan adalah Perusahaan Otomotif KIA. KIA merupakan perusahaan mobil terbesar kedua di Korea. Perjuangan dalam perkembangan perusahaan mobil Korea ini patut dicontoh.

kia

Dari awal yang sangat sederhana sebagai produsen bagian sepeda dengan tangan di pinggiran kota Seoul, Korea, Kia Motors telah muncul sebagai kekuatan pendorong di belakang kendaraan bermotor Korea selama enam dekade terakhir, meletakkan klaim ke produksi mobil pertama di negara serta ekspor mobil pertama Korea. Perusahaan dibuka untuk pertama kalinya pada bulan Desember 1944 oleh grup usaha Kyungsung Precision Industry.

Satu dekade kemudian, pada bulan Oktober 1961, Kia meluncurkan sepeda motor, dan industri otomotif Korea lahir. Laju pembangunan itu mengejutkan. Hanya tiga bulan setelah memproduksi sepeda motor pertama Korea, KIA kemudian memproduksi truk tiga roda. Truk empat roda Titan, yang dikembangkan pada tahun 1971, begitu populer di Korea. Hyundai Motor Company  sebagai saingan terbesar memulai bisnis dengan memproduksi kendaraan di bawah lisensi dari Ford, yang juga memproduksi mobil dari komponen US Army, dan Asia Motors.

Pengalaman menjadi perusahaan perakitan membuat KIA semakin berkembang sampai kemudian pada tahun 1984 memiliki Pusat Riset dan Pengembangan. Dua tahun kemudian KIA menggandeng Ford untuk membuat perusahaan patungan.

Di tahun 1997, sebagai imbas dari krisis ekonomi di Asia, KIA jatuh bangkrut. Hyundai, saingan KIA membeli perusahaan ini. Walapun pada akhirnya Hyundai melepaskan sebagian dari saham KIA. Saat ini Hyundai memiliki 40% saham KIA. JointVenture antara KIA dengan Hyundai menghasilkan perluasan produk mereka terhadap pasar internasional. Supaya posisi mereka dapat tetap terjaga. Selain itu Joint Venture dilakukan untuk melakukan riset dan pengembangan teknologi dan menghadapi persaingan baik domestik ataupun internasional dan pengembangan profit bagi kedua belah pihak yang melakukan kerjasama.

 

FIELDTRIP EXERCISE

Posted: 30th December 2011 by ade kurniawan in kuliah
Tags: , ,
By Ade Kurniawan
0911020022


1.I think YAKULT is big company which base on processing of product agriculture which can improve agriculture product (especially milk) added value with refer to process use modern equipments related to agriculture engineering. And the reason of me chosen PUSLITBANG because there is research center concerning natural resources especially about problem of water, where we earn to study management of correct water in its relation with agriculture irrigation and also other amount of water required (in general reason)

 

2. what we can learn from YAKULT one of them is the process of pasteurization with the modern technology and machine, handling of bacteria L. Casei Sirota Strain with a good method, processing bacterium with special treatment to be can yield product which good product for health. L. Casei Sirota Strain bacterial strains that can survive at the time of storage, production and packaging operation with massive amount to fulfill order, and handling of wastes effectively with utilizing waste Yakult production, so that waste doesn’t contamination of environment.

 

3. Development of bacterial strains include income L. Casei Sirota Strain raw material mixture, after which the process of pasteurization, then performed the fermentation process as well as the development of bacterial L. Casei Sirota Strain. later processing, including entry into the bottle, gift labels, packaging, and packing. then ready to be sent to the entire Indonesia

 

4. Type of hydrology, which in use to determine rainfall to know cycle of hidrologi so that we earn to maximize potency of water resources at one particular area, planning and arranging management of amount of water required for irrigation and other purpose.

Win a meter, which is in use to measure wind speed, so that we predicted rain, weather, and also develop new technology base on wind power.

Type of Climatology, that is in use to measure weather which can useful in arranging crop type which is compatible to be developed at one particular region utilize to avoid failure.

This type of water system, as a miniature irrigation and dams to manage water resources so can be channelled and used as maximum

 

5. for my next year suggest that to take place needn’t be too far from university if the place or company using same method or same product that nearer from university, so that energy and time which is castaway is not useless in road.

Jurnal Mesin Tanam Hortikultura [komentar]

Posted: 12th December 2011 by ade kurniawan in kuliah

Oleh : Ade Kurniawan (0911020022)

“Determination of Energetic and Ergonomic Parameters of a

Semi-automatic Sugar-beet Steckling Transplanter”

Proses penanaman benih gula-bit  maupun tanaman holtikultura pada umumnya adalah kegiatan yang sangat membutuhkan tenaga dan memakan waktu yang besar. Untuk mengatasi masalah tersebut dan meningkatkan hasil dari penanaman serta mengurangi biaya operasi, dirancang suatu transplanter (alat tanam) benih untuk meringankan beban tenaga kerja. Penggunaan mesin tanam ini sendiri bertujuan untuk menanam benih secara seragam pada lahan yang luas. Untuk itu perlu dipelajari kesesuaian transplanter benih terhadap syarat teknis dan syarat tumbuh benih gula-bit maupun pengukuran kinerja mesin tanam. Mengenai pentingnya dan manfaatnya alat tanam yang sedikit menggunakan tenaga manusia tergantung pada luas lahan, jenis tanaman yang akan ditanam, serta kemajuan teknologi dan ekonomi suatu negara tersebut.

Penggunaan mesin tanam justru akan meningkatkan biaya jika hanya digunakan pada lahan yang tidak besar karena pengadaan dan pengembangan alat tanam ini terhitung tidak murah, begitu pula jika jenis tanaman yang akan ditanam memiliki nilai jual yang tidak tinggi  maka penggunaan alat ini akan tidak efektif. Selain itu dalam kontrolnya alat tanam ini ada yang bekerja otomatis yang sepenuhnya dikontrol oleh mesin menggunakan sensor, maupun alat tanam semi-otomatis dimana tugas operator untuk mengendalikan mesin maupun hanya mengawasi dan menjalankan alat. Hal ini bergantung pada kondisi perekonomian negara pengguna tersebut, untuk negara maju yang memiliki teknologi memadai serta tenaga kerja yang mahal dan jumlahnya yang sedikit, penggunaan mesin tanam full otomatis sudah banyak dilakukan, sedangkan untuk negara berkembang dimana tenaga kerja masih terbilang banyak dan murah, pengembangan mesin tanam semi-otomatis lebih mungkin dilakukan.

Parameter yang menjadi fokus penelitian dalam jurnal penentuan kelayakan mesin tanam semi-otomatis ini meliputi kesesuaian mesin tanam terhadap syarat tumbuh tanaman bit, daya (tenaga) yang dibutuhkan mesin tanam, serta parameter ergonomis operator yang mengendalikan mesin tanam. Parameter ergonomis pada mesin tanam semi-otomatis perlu dikaji karena operator memiki peran yang penting dalam penggunaan alat ini, sehingga rancangan alat harus dibuat seaman dan senyaman mungkin bagi operator.

Rancangan alat seperti alat tanam pada umumnya yang terdiri dari roda transportasi, hopper (untuk menyimpan benih sementara), dua pembuka alur, metering disk (pengatur keluaran benih) dengan dua grippers (pencengkram benih), meliputi perangkat yang terdiri dari dua ridgers jenis disk (piringan) untuk membuat alur tanam, dua roda tekan, dan dua kursi operator (satu untuk mengendarai traktor dan yang lainnya untuk mengatur dan menempatkan benih pada grippers).  Roda penguruk / penekan tanah dikontrol melalui mekanisme metering bertenaga mesin. Oleh karena itu, dalam setiap jarak baris dari alur tanam benih, mekanisme penanaman tidak tergantung dari kecepatan maju traktor.

 

Pada mesin tanam semi-otomatis, operator duduk di kursi transplanter serta mengambil benih dari hopper, memasukkan benih ke dalam grippers dengan saluran ke bawah. Gerakan grippers diatur dari stasioner cam. Benih ditempatkan secara kuat diantara rahang gripper. Ketika benih berada di posisi terendah di alur, rahang gripper dibuka. Benih yang ditanam ditutupi dengan tanah dengan menutup perangkat dan gundukan tanah dibentuk. Sepasang roda pembuat alut bergerak dalam posisi miring, diikuti perangkat pengubur dan pemadat tanah di sekitar stecklings (benih ditanam).

 

Dalam jurnal ini dilakukan percobaan kelayakan pengaplikasian alat tanam meliputi penentuan jarak baris tanaman, kedalaman tanam, keseragaman tinggi gunduk-an, penyimpangan jarak benih sepanjang baris dan dalam arah tegak lurus ke baris. Termasuk didalamnya penentuan kebutuhan daya transplanter yang dibutuhkan dengan berbagai parameter meliputi rancangan mesin, kecepatan maju transplanter, kekuatan tarik dan konsumsi bahan bakar yang diukur dengan laboratorium lapangan.

Hasil yang dianalisa dari jurnal penelitian ini bahwa keseragaman jarak tanam serta faktor teknis penanaman benih sudah baik karena deviasi (kesalahan) cukup kecil, daya yang dibutuhkan traktor terbilang tidak terlalu besar (0,8 kW), kesesuaian kapasitas mesin dengan kinerja operator sudah baik (14 bibit per operator /menit), dan rancangan ergonomis yang masih perlu ditingkatkan untuk menjaga keamanan dan kenyamanan operator

Selain faktor teknis dari spesifikasi alat, dalam efektifitas penggunaan mesin tanam semi-otomatis ini faktor yang berperan besar adalah keahlian operator dalam mengatur keluaran penanaman benih pada lahan, sehingga dibutuhkan skill dari operator dan pengaruh kecepatan serta kesalahan manusia mempunyai andil besar, dan alasan itulah yang menjadi kekurangan dari mesin tanam semi-otomatis ini.

Sumber : K. Kazmeinkhah, Agricultural Research Center, East Azarbaijan, Tabriz, Islamic Republic of Iran

Energi Terbarukan dalam Aplikasinya pada Mesin

Posted: 12th December 2011 by ade kurniawan in kuliah

KINERJA BIODIESEL BERBAHAN BAKU ALGA SEBAGAI BAHAN BAKAR ALTERNATIF MESIN DIESEL

Oleh :   Ade Kurniawan    (0911020022)

Dendi Satyabima  (0911020036)

Anung Nugroho J (0911023024)

 

PENDAHULUAN

Pertumbuhan ekonomi dikombinasikan dengan meningkatnya populasi telah menyebabkan peningkatan yang stabil dalam tuntutan energi global. Pada saat ini, hanya biodiesel dan bioetanol yang diproduksi pada skala industri. Mereka adalah minyak pengganti untuk mesin pembakaran internal, dan berasal dari tanaman pangan seperti tebu, gula bit, jagung (jagung), sorgum dan gandum, walaupun bentuk-bentuk lain dari biomassa dapat digunakan, dan mungkin akan lebih baik.  Perhatian yang paling signifikan adalah inefisiensi dan keberlanjutan dari generasi pertama biofuel. Sebaliknya, generasi kedua biofuel yang berasal dari non-makanan bahan baku. Mereka diekstrak dari mikroalga dan sumber mikroba lainnya, ligno-selulosa biomassa, jerami padi dan bio-eter, dan merupakan pilihan yang lebih baik untuk mengatasi ketahanan pangan dan energi dan masalah lingkungan.

POTENSI MIKROALGA

Mikroalga, menggunakan proses fotosintesis mirip dengan tanaman lebih tinggi dan dapat menyelesaikan seluruh siklus tumbuh setiap beberapa hari. Bahkan, dua kali lipat biomassa mikroalga hanya membutuhkan waktu selama pertumbuhan eksponensial dapat sesingkat 3.5 jam. Beberapa mikroalga tumbuh heterotrophikal pada sumber karbon organik. Namun, produksi heterotrofik tidak efisien dengan menggunakan fotosintesis mikroalga, karena sumber karbon organik yang diperlukan terbarukan pada akhirnya diproduksi oleh fotosintesis tanaman.

Mikroalga yang dikembangkan dari pabrik biokimia,  lebih efisien dibandingkan tanaman darat dan sekaligus pemecah masalah CO2 . Kemampuan alga untuk memperbaiki CO2 telah diusulkan sebagai metode untuk menghilangkan CO2 dari gas buang dari pembangkit listrik, dan dengan demikian dapat digunakan untuk mengurangi emisi. Banyak ganggang sangat kaya akan minyak, yang dapat dikonversi ke biodiesel. Kandungan minyak beberapa jenis mikroalga melebihi 80% dari berat kering biomassa alga itu sendiri.

EFISIENSI PENGGUNAAN ALGA SEBAGAI BAHAN BAKU BIODIESEL

Goudriaan et al  mengklaim efisiensi termal (didefinisikan sebagai rasio nilai-nilai pemanasan bio-mentah produk dan bahan baku ditambah masukan panas eksternal) untuk proses upgrade hidrotermal dari biomassa dari berat kering 10 kg h-1 pabrik percontohan setinggi 75%. Produk utama dari proses ini adalah bio-mentah dari perhitungan untuk berat 45% dari bahan baku yang bebas abu kering, dengan nilai kalor rendah dari 30-35 MJ kg-1, yang kompatibel dengan solar fosil dan dapat ditingkatkan lebih lanjut karena dapat menggantikan minyak solar di boiler dan mesin pembakaran internal tanpa penyesuaian besar, hanya penurunan kecil dalam penelitian.

Meskipun biodiesel memiliki banyak keuntungan, ia masih memiliki beberapa sifat-sifat yang perlu ditingkatkan, seperti rendah nilai kalor, tenaga mesin yang lebih rendah dan kuarang efektif, emisi NOx yang lebih tinggi , dan sensitivitas yang lebih besar pada suhu rendah.

KINERJA BIODIESEL PADA MESIN DIESEL

Alasan lebih praktis dan menguntungkan mendorong pengembangan terobosan bahan bakar alter-natif saat ini lebih diarahkan ke bahan bakar bentuk cair. Bahan bakar cair  yang sedang pesat diteliti dan dikembangkan sekarang ini adalah bahan bakar cair pengganti solar. yang dikenal dengan istilah Biodiesel. Biodiesel merupakan bahan bakar cair yang diproses dari lemak hewan atau minyak nabati. Biodiesel adalah bahan bakar cair dari hasil proses transesterifikasi minyak atau lemak.

Proses transesterifikasi tersebut pada prinsipnya dilakukan dengan maksud mengeluarkan gliserin dari minyak dan mereaksi-kan asam lemak bebasnya dengan alkohol menjadi  alcohol ester. Dalam prakteknya transesterifikasi dilakukan dengan mencampur minyak nabati/hewani dengan alcohol (methanol, etanol dan  lain sebagainya) dengan menggunakan katalisator KOH atau NaOH. Proses transesterifikasi dilakukan selama ½ sampai 1 jam pada suhu kamar atau pada suhu yang lebih tinggi, campuran yang terjadi didiamkan sehingga terbentuk dua lapisan, yaitu lapisan bawah (gliserin) dan lapisan atas adalah metil ester.

Meskipun nilai kalori minyak biodiesel lebih rendah dari solar, namun karena proses pembakarannya lebih sempurna, maka kekuatannya sama besar dengan bahan bakar berbasis mineral. Pembuatan biodiesel dari minyak nabati dilakukan dengan mengkonversi trigliserida (komponen utama minyak nabati) menjadi metil ester asam lemak, dengan memanfaatkan katalis pada proses metanolisis/esterifikasi.  Beberapa katalis telah digunakan secara komersial dalam memproduksi biodiesel. Selain itu, juga diupayakan katalis katalis dari sisa produksi alam seperti, janjang sawit, abu sekam padi dan sebagainya.

Penelitian karakteristik pembakaran injeksi langsung mesin turbocharged  diesel menggunakan campuran metil, isopropil dan winterized metil ester dari biodiesel sebagai bahan bakar. Mereka menemukan  bahwa bahan bakar campuran kecuali semua telah sama reaksi pembakaran isopropil ester, pengapian untuk ester / solar campuran lebih pendek daripada solar sebagai bahan bakar. Hasil yang sama dilaporkan oleh  McDonald et al. Mereka menyelidiki metil  ester biodiesel sebagai bahan bakar pada mesin diesel injeksi langsung dan menemukan bahwa karakteristik pembakaran secara keseluruhan cukup sama seperti untuk solar kecuali keterlambatan pengapian yang lebih pendek untuk biodiesel metil ester.

BSFC (Brake Spesific Fuel Consumption) dengan B100 ( biodiesel murni 100%) adalah menurun dari 0,93 kg / kWh pada beban rendah untuk 0,44 kg / kWh di beban penuh. Pada kondisi beban rendah, BSFC dengan B20 (campuran biodiesel sekitar 20%) adalah sekitar 23% dan dengan B100 adalah sekitar 33% lebih tinggi dari solar. Pada kecepatan rendah, kondisi beban rendah, suhu silinder yang rendah, volatilitas biodiesel yang lebih rendah dibandingkan solar, silinder rendah temperatur tidak mendukung pembakaran yang tepat. Hal ini mungkin alasan BSFC lebih tinggi dengan B100 dan B20. Akibat pada BSFC adalah menurun menjadi hanya 2,5% untuk B20 dan 13% untuk B100 pada beban penuh operasi. Pada kondisi beban rendah, BSFC dengan B20 adalah sekitar 4% dan dengan B100 adalah sekitar 15% lebih tinggi dari bahwa dari diesel. Karena kandungan energi yang lebih rendah dari BSFC biodiesel meningkat secara signifikan dengan B100. Meskipun B20 dan B100 mengandung energi sekitar 2,5% dan 12% lebih sedikit dari solar, mesin diesel mengkonsumsi 6% dan bahan bakar 18% lebih tinggi dari solar yang berarti bahwa efisiensi mesin dengan bahan bakar biodiesel lebih boros.

Sebuah penyelidikan eksperimental dilakukan untuk mengeksplorasi kinerja biodiesel dan campuran sebagai pengganti diesel pada mesin diesel kecil. Hasil yang diperoleh menunjukkan kesimpulan konsumsi bahan bakar rata-rata dengan B20 dan B100 lebih tinggi
dari solar. Pada beban rendah dan kecepatan rendah, beban penuh, kecepatan tinggi operasi, konsumsi bahan bakar dengan biodiesel adalah jauh lebih tinggi daripada diesel dibandingkan dengan kondisi lain.

Pada kecepatan mesin tinggi dan kondisi beban berat, efisiensi termal biodiesel 100% dan campuran sebagus solar. Namun, ketika kecepatan mesin dan beban terlalu rendah atau kandungan biodiesel terlalu tinggi dan campuran memiliki kekurangan yang lebih besar dibandingkan dalam efisiensi  dengan solar. Secara keseluruhan peningkatan NOx dengan B20 adalah sekitar 2% dan bahwa dengan B100 adalah sekitar 10% dari solar. Namun, pada kecepatan rendah – kondisi tidak berbeban dimana ada banyak kelebihan udara, tidak ada peningkatan emisi NOx dengan biodiesel dan campuran dibandingkan dengan solar. Produksi CO didominasi oleh kondisi campuran lokal bukan dari kondisi campuran secara keseluruhan.

Hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar motor diesel, baik sebagai campuran dengan minyak solar atau 100% biodiesel berbahan dasar alga. Beberapa tumbuhan penghasil lemak yang dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel sangat beragam, namun dalam perkembangannya kebutuhan tersebut berbenturan dengan kebutuhan produksi dan pangan masyarakat.

Bahan bakar mesin diesel sebagian besar terdiri dari senyawa hidrokarbon dan senyawa nonhidrokarbon. Senyawa hidrokarbon yang dapat ditemukan dalam bahan bakar diesel antara lain parafinik, naftenik, olefin  dan aromatik. Untuk senyawa nonhidrokarbon terdiri dari senyawa yang mengandung unsur non logam, yaitu S, N, O dan unsur loga m seperti vanadium, nikel dan besi. Beberapa karakteristik bahan bakar motor diesel yang paling utama diantaranya adalah: Berat Jenis  (Specific Gravity), Viskositas  (Viscosity),  Nilai Kalori  (Calorific Value), Kandungan Sulfur (Sulphur Content), Daya Pelumasan, Titik Tuang (Pour Point), Titik Nyala (Flash point), Angka Cetane (Cetane Number),  Kandungan Arang, Kadar Abu (Ash Content)

Komposisi gas buang mesin diesel secara umum diambil rata-rata dengan kondisi kerja mesin normal. Gas buang mesin diesel sangat banyak mengandung partikulat karena banyak di-pengaruhi oleh faktor bahan bakar yang tidak bersih. Apabila di-kelompokkan secara keseluruhan, gas buang mesin diesel terdiri dari partikulat yang merupakan residu karbon, pelumas yang tidak terbakar, sulfat yang terkandung dalam bahan bakar dan lain-lain. Faktor lain yang sangat dominan dalam memberikan sumbangan zat pencemar ke udara adalah faktor campuran udara kompresi dengan bahan bakar yang disemprotkan. Pencampuran yang tidak sebanding (terlalu banyak bahan bakar) menghasilkan gas buang yang mengandung partikulat berlebihan.

Pengujian gas buang mesin diesel (asap) dimaksudkan untuk mengukur kepekatan asap yang dihasilkan oleh pembakaran dalam mesin. Kepekatan asap adalah kemampuan asap untuk meredam cahaya, apabila cahaya tidak bisa menembus asap maka kepekatan asap tersebut dinyatakan 100 persen (%), apabila cahaya bisa melewati asap tanpa ada pengurangan intensitas cahaya maka kepekatan asap tersebut dinyatakan sebagai 0%  (nol persen). Kepekatan asap disebut juga opasitas, yang dinyatakan dalam satuan berbeda-beda.

Sebagai suatu bahan bakar yang akan diaplikasikan pada sebuah mesin, maka bahan bakar harus memenuhi beberapa kriteria yang disebut dengan karakteristik bahan bakar yang dibandingkan dengan bahan bakar standar melalui beberapa pengujian yang telah ditentukan berdasarkan standar mutu internasional bahan bakar yaitu dari  American Standard and Testing Material.

Besarnya daya motor yang dihasilkan oleh pembakaran bahan bakar pada berbagai fraksi biodiesel memiliki karakteristik yang lebih baik dari pada minyak diesel murni (100%) terutama pada campuran biodiesel sekitar 20%. Pada fraksi ini tampak bahwa besarnya daya pada poros untuk semua variasi rpm memiliki karakteristik yang lebih baik  daripada solar murni maupun beberapa fraksi lainnya.

Pengujian menunjukkan penggunaan biodiesel dalam hasil mesin diesel di substansial pengurangan hidrokarbon tidak terbakar, karbon monoksida, dan partikel. Knalpot emisi Total hidrokarbon (faktor kontribusi dalam pembakaran) asap dan ozon berada pada rata-rata 67 persen lebih rendah untuk biodiesel daripada bahan bakar solar. Knalpot emisi karbon monoksida (gas beracun) dari biodiesel pada rata-rata 48 persen lebih rendah dari emisi karbon monoksida dari solar.

Bahan bakar alternatif untuk masa depan harus memenuhi kriteria ketersediaan (sumber yang banyak dan/atau terbarukan), rendah/tidak menghasilkan emisi gas buang yang berbahaya, murah dan mudah didapat dimanapun.

Penelitian lebih lanjut tentang pengembangan biodiesel berbahan baku alga sangat diperlukan. Pendekatan secara keseluruhan akan mengadopsi produksi biomassa terintegrasi sistem konversi. Ini termasuk produksi mikroalga di pembangkit listrik tenaga termal untuk eksekusi CO2, pengolahan air limbah dan kontrol emisi, integrasi dari sebuah penukar panas internal jaringan dan pemanfaatan tekanan tinggi dan suhu tinggi dari reaktor dan konversi untuk daya. Jadi, biofuel mikroalga adalah sumber daya energi yang berkelanjutan, tantangan menjadi produksi skala besar.

 

REFERENSI

F. Halek, A. Kavousi, and M. Banifatemi. Biodiesel as an Alternative Fuel for Diesel Engines. World Academy of Science, Engineering, and Technology. 2009. 57

Vishwanath, Patil; Tran, Khanh-Quang; and Giselrød, Hans Ragnar. Towards Sustainable Production of  Biofuels from Microalgae. International Journal of Molecular Sciences . 2008, 9, 1188-1195.

Roy,  Murari M. Performance and Emissions of a Diesel Engine Fueled by Diesel biodiesel Blends with Special Attention to Exhaust Odor. Canadian Journal on Mechanical Sciences and Engineering. 2011. Vol. 2, No. 1.

Hello world!

Posted: 5th December 2011 by ade kurniawan in kuliah

Selamat datang di Student Blogs. Ini adalah posting pertamaku!