TUGAS TERSTRUKTUR TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBER DAYA LAHAN Makalah Tentang Teknologi Konservasi Sumber Daya Lahan Secara Vegetatif

BAB I

PENDAHULUAN

Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan pada suatu tempat lain. Pengangkutan atau pemindahan tanah tersebut terjadi oleh media alami yaitu antara lain air atau angin. Erosi oleh angin disebabkan oleh kekuatan angin, sedangkan erosi oleh air ditimbulkan oleh kekuatan air. Konservasi tanah adalah penempatan tiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Pemakaian istilah konservasi tanah sering diikuti dengan istilah konservasi air. Meskipun keduanya berbeda tetapi saling terkait. Perlakuan atau tindakan-tindakan yang diberikan manusia terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan di atasnya akan menentukan kualitas lahan tersebut. Berbagai langkah konservasi lahan kritis telah dilakukan pemerintah antara lain dengan reboisasi dan penghijauan. Tetapi keberhasilan program reboisasi baru sekitar 68% sedangkan penghijauan hanya 21%. Hal ini terjadi karena tiga kemungkinan yaitu kurang tepatnya teknologi yang diterapkan, kondisi lahan kurang dipelajari secara cermat dan tidak diterapkannya teknologi secara sepenuhnya.

Data pusat penelitian tanah dan agroklimat menyebutkan pada tahun 2005 terdapat lahan kritis yang mencapai luasan 52,5 hektar. Lahan kritis sebagian besar terdapat di hulu DAS yang bentuk wilayahnya berbukit dengan curah hujan sangat tinggi sehingga dalam pemanfaatannya harus berhati-hati karena dengan kondisi seperti itu dapat memicu erosi yang berakibat pada degradasi lahan. Lahan kering umumnya menjadikan air sebagai faktor pembatas yang utama dalam pengelolaannya, oleh karena itu ketersediaan air menjadi sesuatu yang sangat penting dalam pengelolaaan lahan kritis. Untuk dapat menjamin adanya ketersediaan air baik dimusim penghujan dan musim kemarau diperlukan teknologi yang applicable dan hemat biaya karena pada umumnya petani lahan kering hidup dalam garis kemiskinan. Beberapa penelitian konservasi air dan lahan kritis telah dilakukan dan diujicoba untuk dapat memaksimalkan simpanan air hujan dan mengoptimalkan manfaat sumberdaya air terutama pada musim kemarau. Ketiga teknik konservasi tanah secara vegetatif, mekanis dan kimia pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu mengendalikan laju erosi, namun efektifitas, persyaratan dan kelayakan untuk diterapkan sangat berbeda. Oleh karena itu pemilihan teknik konservasi yang tepat sangat diperlukan.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Teknik konservasi tanah secara vegetatif adalah setiap pemanfaatan tanaman/vegetasi maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi, penghambat laju aliran permukaan,peningkatan kandungan lengas tanah, serta perbaikan sifat-sifat tanah, baik sifat fisik, kimia maupun biologi. (Agus., 1999). Metode vegetatif yaitu metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. (Arsyad, 1976). Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah, penutupan lahan oleh seresah dan tajuk yang akan mengurangi evaporasi dan dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah sehingga memperbesar jumlah infiltrasidan mencegah terjadinya erosi. Metode vegetatif juga memiliki manfaat dari segi vegetasi tanaman kehutanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga dapat menambah pendapatan petani.

2.2 Aplikasi Metode Konservasi Sumber Daya Lahan Secara Vegetatif

Beberapa metode konservasi sumber daya lahan secara vegetatif dapat diaplikasikan dengan beberapa cara sebagai berikut :

  1. A.    Sistem Pertanaman Lorong

Sistem pertanaman lorong adalah suatu sistem dimana tanaman pangan ditanam pada lorong diantara barisan tanaman pagar. Sistem ini sangat bermanfaat dalam mengurangi laju limpasan permukaan dan erosi dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama unsur N untuk tanaman lorong. Teknologi budidaya lorong telah lama dikembangkan dan diperkenalkan sebagai salah satu teknik konservasi lahan kritis untuk pengembangan sistem pertanian berkelanjutan pada lahan kritis/kering di daerah tropika basah namun belum diterapkan secara luas oleh petani.

Pada budidaya lorong konvensional tanaman pertanian ditanam pada lorong-lorong diantara barisan tanaman pagar yang ditanam menurut kontur. Barisan tanaman pagar yang rapat diharapkan dapat menahan aliran permukaan serta erosi yang terjadi pada areal tanaman budidaya, sedangkan akarnya yang dalam dapat menyerap unsur hara dari lapisan tanah yang lebih dalam untuk kemudian dikembalikan ke permukaan melalui pengembalian sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar. (Abujamin S.,1978).

 

  1. B.     Sistem Pertanaman Strip Rumput

Konservasi lahan kritis dengan sistem pertanaman strip rumput hampir sama dengan pertanaman lorong tetapi tanaman pagarnya adalah rumput. Strip rumput dibuat mengikuti kontur dengan lebar strip 0,5 meter atau lebih. Semakin lebar strip semakin efektif mengendalikan erosi. Sistem ini dapat diintegrasikan dengan ternak. Penanaman rumput pakan ternak di dalam jalur strip. Penanaman dilakukan menurut garis kontur dengan letak penanaman dibuat selang seling agar rumput dapat tumbuh baik dan usahakan penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Selain itu tempat jalur rumput sebaiknya di tengah antara barisan tanaman pokok.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. C.    Tanaman Penutup Tanah

Tanaman ini merupakan tanaman yang ditanam tersendiri atau bersamaan dengan tanaman pokok. Manfaat tanaman penutup antara lain untuk menahan atau mengurangi daya perusak bulir-bulir hujan yang jatuh dan aliran air diatas permukaan tanah, menambah bahan organik tanah (melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh), serta berperan melakukan transpirasi yang mengurangi kandungan air tanah. Peranan tanaman penutup tanah adalah mengurangi kekuatan disperasi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah sehingga mengurangi erosi.

Penyiangan intensif dapat menyebabkan tergerusnya lapisan atas tanah. Untuk menghindari persaingan antara tanaman penutup tanah dengan tanaman pokok pada konservasi lahan kritis dengan teknik ini dapat dilakukan dengan penyiangan melingkar (ring weeding). Tanaman penutup tanah yang digunakan dan sesuai untuk sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat diantaranya harus mudah diperbanyak (sebaiknya dengan biji), memiliki sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok tetapi memiliki sifat mengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun, toleransi terhadap pemangkasan, resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya, sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah dan tidak memiliki sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti berduri atau sulur yang membelit.

Lima jenis tanaman penutup yang dapat digunakan yaitu :

a.      Tanaman Penutup  Tanah Rendah

Tanaman penutup tanah rendah terdiri dari jenis rumput-rumputan  dan tumbuhan merambat atau menjalar:

  • Dipakai dalam pola pertanaman rapat : Calopogonium muconoides Desv, Centrocema pubescens Benth, Mimosa invisa Mart, Peuraria phaseoloides Benth.
  • Digunakan dalam pola pertanaman barisan: Eupatorium triplinerve Vahl (daun panahan, godong, prasman, jukut prasman), Salvia occidentalis Schwartz (langon, lagetan, randa nunut), Ageratum mexicanum Sims.
  • Digunakan untuk penguat teras dan saluran-saluran air: Althenanthera amoena Voss (bayem kremah, kremek), Indigofera endecaphylla jacq (dedekan),  Ageratum conyzoides L (babandotan),  Erechtites valerianifolia  Rasim (sintrong), Borreria latifolia Schum (bulu lutung, gempurwatu),  Oxalis corymbosa DC,  Brachiaria decumbens, Andropogon zizanoides (akar wangi), Panicum maximum (rumput benggala), Panicum ditachyum (balaba, paitan, Paspalum dilatum (rumput Australia), Pennisetum purpureum (rumput gajah).

b.      Tanaman Penutup Tanah Sedang (Perdu)

Dipakai dalam pola pertanaman teratur di antara baris tanaman pokok: Clibadium surinamense var asperum baker, Eupatorium pallessens DC (Ki Dayang, Kirinyuh)

  • Digunakan dalam pola pertanaman pagar : Lantana camara L (tahi ayam, gajahan, seruni), Crotalaria anagyroides HBK, Tephrosia candida DC, Tepherosia vogelii, Desmodium gyroides DC (kakatua, jalakan), Acacia villosa Wild (lamtoro merah), Sesbania grandiflora PERS (turi), Calliandra calothyrsus Meissn (kaliandra merah), Gliricidia maculata (johar cina, gamal), Flemingia congesta Roxb, Crotalaria striata DC., Clorataria juncea, L. Crotalaria laurifolia Poir (urek-urekan, kacang cepel),  Cajanus cajan Nillst (kacang hiris, kacang sarde)  dan Indigofera arrecta Hooscht.
  • Penggunaan di luar areal pertanaman utama dan merupakan sumber pupuk hijau dan mulsa,  untuk penghutanan dan perlindungan dinding jurang: Leucaena glauca (L) Benth (pete cina, lamtoro, kemelandingan), Tithonia tagetiflora Desp, Graphtophyllum pictum Gries (daun ungu, handeuleum), Cordyline fruticosa Backer,Eupatorium riparium REG.

 

 

 

 

 

 

 

c.       Tanaman Penutup Tanah Tinggi Atau Tanaman Pelindung

  • Digunakan dalam pola teratur di antara baris tanaman utama: Albizia falcata (sengon laut, jeunjing), Grevillea robusta A Cum, Pithecellobium saman benth (pohon hujan), Erythrina sp (dadap), Gliricidia sepium
    • Dipakai dalam barisan: Leucaena glauca atau Leucaena leucocephala
    • Penggunaan untuk melindungi jurang, tebing atau untuk penghutanan kembali: Albizia falcate dan Leucaena glauca, Albizia procera Benth, Acacia melanoxylon, Acacia mangium, Eucalyptus saligna, Cinchona succirubra, Gigantolochloa apus (bamboo apus), Dendrocalamus asper, Bambusa bambos

 

d.      Tumbuh-Tumbuhan Bawah (Undergrowth) Alami Pada Perkebunan

Banyak usaha telah dilakukan pada beberapa perkebunan, terutama perkebunan karet, dalam memanfaatkan tumbuh-tumbuhan bawah alami untuk melindungi tanah.

e.       Tumbuhan Yang Tidak Disukai

Banyak tumbuhan  yang termasuk dalam tumbuhan pengganggu atau tidak disukai yang dapat berfungsi sebagai penutup tanah atau pelindung tanah terhadap ancaman erosi. Tumbuh-tumbuhan itu tidak disukai karena sifat-sifatnya yang merugikan tanaman pokok dan sulit diberantas atau dibersihkan  dari lahan usaha pertanian: Imperata cylindrica, Panicum repens (lampuyangan), Leersia hexandra (kalamento), Saccharum spontaneum (gelagah), Anastrophus compressus dan Paspalum compressum (tumput pahit).

  1. D.    Mulsa

Mulsa adalah bahan-bahan (sisa panen, plastik dan lain-lain) yang disebar atau digunakan untuk menutup permukaan tanah. Bermanfaat untuk mengurangi penguapan serta melindungi tanah dari pukulan langsung butir-butir air hujan yang akan mengurangi kepadatan tanah. Mulsa dapat berupa sisa tanaman, lembaran plastik dan batu. Mulsa sisa tanaman terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi, batang jagung), pangkasan dari tanaman pagar, daun-daun dan ranting tanaman. Bahan tersebut disebarkan secara merata di atas permukaan
tanah setebal 2 s/d 5 cm sehingga permukaan tanah tertutup sempurna.

 

Pada sistem agribisnis yang intensif dengan jenis tanaman bernilai ekonomis tinggi sering digunakan mulsa plastik untuk mengurangi penguapan air dari tanah, menekan hama penyakit dan gulma. Lembaran plastik dibentangkan di atas permukaan tanah untuk melindungi tanaman. Di pegunungan batu-batu cukup banyak tersedia sehingga bisa digunakan sebagai mulsa untuk tanaman pohon-pohonan. Permukaan tanah ditutup dengan batu yang disusun rapat dengan ukuran batu berkisar antara 2 s/d 10 cm.

Dalam pedoman praktek konservasi tanah dan air lahan kritis BP2TPDAS-IBB ditunjukan peranan yang signifikan dari mulsa terhadap aliran permukaan, infiltrasidan erosi pada lahan dengan kemiringan 5%. Penelitian yang dilakukan oleh Thamrin dan Hanafi (1992) juga menunjukkan bahwa pemberian mulsa seresah tanaman dapat menghemat lengas tanah dari proses penguapan sehingga kebutuhan tanaman akan lengas tanah terutama musim kering dapat terjamin. Selain itu pemberian mulsa seresah juga dapat menghambat pertumbuhan gulma yang mengganggu tanaman sehingga konsumsi air lebih rendah.

  1. E.     Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape)

Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape) mengikuti kebutuhan air yang sama sehingga irigasi dapat dikelompokkan sesuai kebutuhan tanaman. Teknik konservasi lahan kritis seperti ini dilakukan dengan cara mengelompokkan tanaman yang memiliki kebutuhan air yang sama dalam satulandscape. Pengelompokkan tanaman tersebut akan memberikan kemudahan dalam melakukan pengaturan air. Air irigasi yang dialirkan hanya diberikan sesuai kebutuhan tanaman sehingga air dapat dihemat.

  1. F.     Penyesuaian Jenis Tanaman Dengan Karakteristik Wilayah

Teknik konservasi ini dilakukan dengan cara mengembangkan kemampuan dalam menentukan berbagai tanaman alternatif yang sesuai dengan tingkat kekeringan yang dapat terjadi dimasing-masing daerah. Sebagai contoh tanaman jagung yang hanya membutuhkan air 0,8 kali padi sawah akan tepat jika ditanam sebagai pengganti padi sawah untuk antisipasi kekeringan. Pada daerah hulu DAS yang merupakan daerah yang berkemiringan tinggi penanaman tanaman kehutanan menjadi komoditas utama.

  1. G.    Penentuan Pola Tanam Yang Tepat

Baik untuk areal yang datar maupun berlereng penentuan pola tanam disesuaikan dengan kondisi curah hujan setempat untuk mengurangi devisit air pada musim kemarau. Hasil penelitian Gomez (1983) menunjukkan bahwa pada lahan dengan kemiringan 5% dengan pola tanam campuran ketela pohon dan jagung akan dapat menurunkan run off dari 43% menjadi 33% dari curah hujan dibandingkan dengan jagung monokultur. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan besar kebutuhan air tiap jenis vegetasi. Besarnya kebutuhan air beberapa jenis tanaman dapat menjadi acuan dalam membuat pola tanam yang optimal. (Kurnia,dkk. 1997)

2.3 Jenis-Jenis Konservasi Tanah Secara Vegetatif

Teknik konservasi tanah secara vegetatif yang akan diuraikandalam monograf ini adalah: penghutanan kembali (reforestation),wanatani (agroforestry) termasuk didalamnya adalah pertanamanlorong (alley cropping), pertanaman menurut strip (strip cropping), striprumput (grass strip) barisan sisa tanaman, tanaman penutup tanah(cover crop), penerapan pola tanam termasuk di dalamnya adalahpergiliran tanaman (crop rotation), tumpang sari (intercropping), dantumpang gilir (relay cropping).

Dalam penerapannya, petani biasanya memodifikasi sendiriteknik-teknik tersebut sesuai dengan keinginan dan lingkunganagroekosistemnya sehingga teknik konservasi ini akan terusberkembang di lapangan. Keuntungan yang didapat dari system vegetatif ini adalah kemudahan dalam penerapannya, membantumelestarikan lingkungan, mencegah erosi dan menahan aliranpermukaan, dapat memperbaiki sifat tanah dari pengembalian bahanorganik tanaman, serta meningkatkan nilai tambah bagi petani darihasil sampingan tanaman konservasi tersebut.

  1. 1.      Penghutanan kembali

Penghutanan kembali (reforestation) secara umum dimaksudkan untuk mengembalikan dan memperbaiki kondisi ekologi dan hidrologi suatu wilayah dengan tanaman pohon-pohonan. Penghutanan kembali juga berpotensi untuk peningkatan kadar bahan organic tanah dari serasah yang jauh di permukaan tanah dan sangat mendukung kesuburan tanah. Penghutanan kembali biasanya dilakukan pada lahan-lahan kritis yang diakibatkan oleh bencana alam misalnya kebakaran, erosi, abrasi, tanah longsor, dan aktivitas manusia seperti pertambangan, perladangan berpindah, dan penebangan hutan. Hutan mempunyai fungsi tata air yang unik karena mampu menyimpan air dan meredam debit air pada saat musim penghujan dan menyediakan air secara terkendali pada saat musim kemarau (sponge effect). Penghutanan kembali dengan maksud untuk mengembalikan fungsi tata air, efektif dilakukan pada lahan dengan kedalaman tanah >3 m. Tanah dengan kedalaman <3 m mempunyai aliran permukaan yang cukup tinggi karena keterbatasan kapasitas tanah dalam menyimpan air (Agus et al., 2002). Pengembalian fungsi hutan akan memakan waktu 20-50 tahun sampai tajuk terbentuk sempurna. Jenis tanaman yang digunakan sebaiknya berasal dari jenis yang mudah beradaptasi terhadap lingkungan baru, cepat berkembang biak, mempunyai perakaran yang kuat, dan kanopi yang rapat/rindang.

  1. 2.      Wanatani

Wanatani (agroforestry) adalah salah satu bentuk usaha konservasi tanah yang menggabungkan antara tanaman pohon-pohonan,atau tanaman tahunan dengan tanaman komoditas lain yang ditanam secara bersama-sama ataupun bergantian.
Penggunaan tanaman tahunan mampu mengurangi erosi lebih baik daripada tanaman komoditas pertanian khususnya tanaman semusim.Tanaman tahunan mempunyai luas penutupan daun yang relatif lebih besar dalam menahan energi kinetik air hujan, sehingga air yang sampai ke tanah dalam bentuk aliran batang (stemflow) dan aliran
tembus (throughfall) tidak menghasilkan dampak erosi yang begitu besar. Sedangkan tanaman semusim mampu memberikan efek penutupan dan perlindungan tanah yang baik dari butiran hujan yangmempunyai energi perusak. Penggabungan keduanya diharapkan dapat memberi keuntungan ganda baik dari tanaman tahunan
maupun dari tanaman semusim. Penerapan wanatani pada lahan dengan lereng curam atau agak curam mampu mengurangi tingkat erosi dan memperbaiki kualitas tanah, dibandingkan apabila lahan tersebut gundul atau hanya ditanami tanaman semusim.

Pada Gambar 1 disajikan hubungan proporsi tanaman tahunan dan semusim yang ideal pada lereng yang berbeda pada sistem wanatani.Secara umum proporsi tanaman tahunan makin banyak pada lereng yang semakin curam demikian juga sebaliknya. Tanaman semusim memerlukan pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman yang lebih intensif dibandingkan dengan tanaman tahunan. Pengolahan tanah pada tanaman semusimbiasanya dilakukan dengan cara mencangkul, mengaduk tanah,maupun cara lain yang mengakibatkan hancurnya agregat tanah,sehingga tanah mudah tererosi. Semakin besar kelerengan suatulahan, maka risiko erosi akibat pengolahan tanah juga semakin besar. Penanaman tanaman tahunan tidak memerlukan pengolahan tanahsecara intensif.Perakaran yang dalam dan penutupan tanah yangrapat mampu melindungi tanah dari erosi.Tanaman tahunan yang dipilih sebaiknya dari jenis yang dapatmemberikan nilai tambah bagi petani dari hasil buah maupunkayunya.Selain dapat menghasilkan keuntungan dengan lebih cepatdan lebih besar, wanatani ini juga merupakan sistem yang sangat baikdalam mencegah erosi tanah.

Sistem wanatani telah lama dikenal di masyarakat Indonesia dan berkembang menjadi beberapa macam, yaitu pertanaman sela, talun hutan rakyat, kebun campuran,pekarangan.

  1. a.      Pertanaman sela

Pertanaman sela adalah pertanaman campuran antaratanaman tahunan dengan tanaman semusim. Sistem ini banyak dijumpai di daerah hutan atau kebun yang dekat dengan lokasi permukiman.Tanaman sela juga banyak diterapkan di daerah perkebunan, pekarangan rumah tangga maupun usaha pertanian tanaman tahunan lainnya.Dari segi konservasi tanah, pertanaman sela bertujuan untuk meningkatkan intersepsi dan intensitas penutupan permukaan tanah terhadap terpaan butir-butir air hujan secara langsung sehingga memperkecil risiko tererosi.Sebelum kanopi tanaman tahunan menutupi tanah, lahan di antara tanaman tahunan tersebut digunakan untuk tanaman semusim. Di beberapa wilayah hutan jati daerah Jawa Tengah, ketikapohon jati masih pendek dan belum terbentuk kanopi, sebagian lahannya ditanami dengan tanaman semusim berupa jagung, padigogo, kedelai, kacang-kacangan, dan empon-empon seperti jahe (Zingiber officinale), temulawak (Curcuma xanthorrizha), kencur(Kaemtoria galanga), kunir (Curcuma longa), dan laos (Alpiniagalanga). Pilihan teknik konservasi ini sangat baik untuk diterapkan oleh petani karena mampu memberikan nilai tambah bagi petani, mempertinggi intensitas penutupan lahan, membantu perawatan tanaman tahunan dan melindungi dari erosi. Penanaman tanaman semusim bisa berkali-kali tergantung daripertumbuhan tanaman tahunan. Sebagai tanaman pupuk hijausebaiknya dipilih dari tanaman legum seperti Leucaena leucocephala,Glyricidia sepium, Cajanus cajan, Tephrosia candida, dan lainsebagainya. Jarak antara tanaman semusim dengan tanaman tahunansecara periodik dilebarkan (lahan tanaman semusim semakin sempit)dengan maksud untuk mencegah kompetisi hara, pengaruh allelopatidari tanaman tahunan, dan kontak penyakit.

 

 

 

 

  1. b.      Talun Hutan Rakyat

Talun adalah lahan di luar wilayah permukiman penduduk yangditanami tanaman tahunan yang dapat diambil kayu maupunbuahnya. Sistem ini tidak memerlukan perawatan intensif dan hanyadibiarkan begitu saja sampai saatnya panen.

Karena tumbuh sendirisecara spontan, maka jarak tanam sering tidak seragam, jenistanaman sangat beragam dan kondisi umum lahan seperti hutanalami.Ditinjau dari segi konservasi tanah, talun hutan rakyat dengankanopi yang rapat dapat mencegah erosi secara maksimal jugasecara umum mempunyai fungsi seperti hutan.

  1. c.       Kebun campuran

Berbeda dengan talun hutan rakyat, kebun campuran lebihbanyak dirawat.Tanaman yang ditanam adalah tanaman tahunanyang dimanfaatkan hasil buah, daun, dan kayunya.Kadang-kadangjuga ditanam dengan tanaman semusim.Apabila proporsi tanamansemusim lebih besar daripada tanaman tahunan, maka lahan tersebutdisebut tegalan.Kebun campuran ini mampu mencegah erosi denganbaik karena kondisi penutupan tanah yang rapat sehingga butiran airhujan tidak langsung mengenai permukaan tanah.Kerapatantanaman juga mampu mengurangi laju aliran permukaan. Hasiltanaman lain di luar tanaman semusim mampu mengurangi risikoakibat gagal panen dan meningkatkan nilai tambah bagi petani.

 

  1. d.      Pekarangan

Pekarangan adalah kebun di sekitar rumah dengan berbagaijenis tanaman baik tanaman semusim maupun tanaman tahunan.Lahan tersebut mempunyai manfaat tambahan bagi keluarga petani,dan secara umum merupakan gambaran kemampuan suatu keluargadalam mendayagunakan potensi lahan secara optimal. Tanamanyang umumnya ditanam di lahan pekarangan petani adalah ubikayu, sayuran, tanaman buah-buahan seperti tomat, pepaya,tanaman obat-obatan seperti kunyit, temulawak, dan tanaman lainyang umumnya bersifat subsisten.

  1. e.       Tanaman Pelindung

Tanaman pelindung adalah tanaman tahunan yang ditanam disela-sela tanaman pokok tahunan.Tanaman pelindung inidimaksudkan untuk mengurangi intensitas penyinaran matahari, dan dapat melindungi tanaman pokok dari bahaya erosi terutama ketikatanaman pokok masih muda. Tanaman pelindung ini dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

  • Tanaman pelindung sejenis yang membentuk suatu system wanatani sederhana (simple agroforestry). Misalnya tanaman pokok berupa tanaman kopi dengan satu jenis tanaman pelindung misalnya: gamal (Gliricidia sepium), dadap(Erythrina subumbrans), lamtoro (Leucaena leucocephala)atau kayu manis (Cinnamomum burmanii).
  • Tanaman pelindung yang beraneka ragam dan membentukwanatani kompleks (complex agroforestry atau system multistrata). Misalnya tanaman pokok berupa tanaman kopidengan dua atau lebih tanaman pelindung misalnya: kemiri(Aleurites muluccana), jengkol (Pithecellobium jiringa), petai(Perkia speciosa), kayu manis, dadap, lamtoro, gamal, durian(Durio zibethinus), alpukat (Persea americana), nangka(Artocarpus heterophyllus), cempedak (Artocarpus integer),dan lain sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

  1. f.       Silvipastura

Sistem silvipastura sebenarnya adalah bentuk lain dari system tumpang sari, tetapi yang ditanam di sela-sela tanaman tahunan bukan tanaman pangan melainkan tanaman pakan ternak seperti rumput gajah (Pennisetum purpureum), rumput raja (Penniseitumpurpoides), dan lain-lain. Silvipastura umumnya berkembang di daerah yang mempunyai banyak hewan ruminansia. Hasil kotoran hewan ternak tersebut dapat dipergunakan sebagai pupuk kandang, sementara hasil hijauannya dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Sistem ini dapat dipakai untuk mengembangkan peternakan sebagai komoditas unggulan di suatu daerah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. g.      Pagar Hidup

Pagar hidup adalah sistem pertanaman yang memanfaatkan tanaman sebagai pagar untuk melindungi tanaman pokok. Manfaat tanaman pagar antara lain adalah melindungi lahan daribahaya erosi baik erosi air maupun angin. Tanaman pagar sebaiknya tanaman yang mempunyai akar dalam dan kuat, menghasilkan nilai tambah bagi petani baik dari hijauan, buah maupun dari kayu bakarnya. (Arsyad.S, 1989)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Metode vegetatif yaitu metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. Aplikasi metode vegetative yaitu system pertanaman lorong, sistem pertanaman strip rumput, tanaman penutup tanah, mulsa, pengelompokan tanaman dalam suatu bentang alam (landscape), penyesuaian jenis tanaman dengan karakteristik wilayah, penentuan pola tanam yang tepat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abujamin, S. 1978. Peranan rumput dalam usaha konservasi tanah. Seminar LP. Tanah, 8 Juli 1978 (Tidak dipublikasikan).

Agus, F., A.Ng. Ginting, U. Kurnia, A. Abdurachman, and P. van der Poel. 1998. Soil erosion research in Indonesia: Past experience and future direction. pp. 255-267. InF.W.T. Penning de Vries, F. Agus, and J. Kerr (Eds.). Soil Erosion at Multiple Scales: Principles and Methods for Assessing Causes and Impacts. CAB International, Wallingford, UK.

Arsyad, S. 1976. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB. Bogor.

Kurnia, U., Ai Dariah, Suwarto, dan K. Subagyono. 1997. Degradasi lahan dan konservasi tanah di Indonesia: Kendala dan pemecahannya. hlm. 27-45  dalamProsiding Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat: Makalah Review. Cisarua-Bogor, 4-6 Maret 1997. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

P3HTA. 1987. Penelitian Terapan Pertanian Lahan Kering dan Konservasi. hlm. 6. UACP-FSR. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

 

 

 

 

 

Disusun Oleh :

Nama          : HADI SUSILO

NIM            : 115040213111030

Kelas          : G

Dosen                   : Ir. Endang Listyarini, MS.

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on TUGAS TERSTRUKTUR TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBER DAYA LAHAN Makalah Tentang Teknologi Konservasi Sumber Daya Lahan Secara Vegetatif

Makalah Pengendalian Erosi secara vegetatif

 

 

PENDAHULUAN

Erosi adalah peristiwa pindahnya atau terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pada peristiwa erosi, tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat terkikis dan terangkut yang kemudian diendapkan pada suatu tempat lain. Pengangkutan atau pemindahan tanah tersebut terjadi oleh media alami yaitu antara lain air atau angin. Erosi oleh angin disebabkan oleh kekuatan angin, sedangkan erosi oleh air ditimbulkan oleh kekuatan air.

Kekuatan perusak air yang mengalir di atas permukaan tanah akan semakin besar dengan semakin panjangnya lereng permukaan tanah. Tumbuhan-tumbuhan yang hidup di atas permukaan tanah dapat memperbaiki kemampuan tanah menyerap air dan memperkecil kekuatan butir-butir perusak hujan yang jatuh, serta daya dispersi dan angkutan aliran air di atas permukaan tanah. Perlakuan atau tindakan-tindakan yang diberikan manusia terhadap tanah dan tumbuh-tumbuhan di atasnya akan menentukan kualitas lahan tersebut.

Berbagai langkah konservasi lahan kritis telah dilakukan pemerintah antara lain dengan reboisasi dan penghijauan. Tetapi keberhasilan program reboisasi baru sekitar 68% sedangkan penghijauan hanya 21%. Hal ini terjadi karena tiga kemungkinan yaitu kurang tepatnya teknologi yang diterapkan, kondisi lahan kurang dipelajari secara cermat dan tidak diterapkannya teknologi secara sepenuhnya.

Paradigma pembangunan yang mengedepankan pertumbuhan ekonomi telah memacu pemanfaatan sumberdaya alam secara berlebihan sehingga eksploitasi sumberdaya alam semakin meningkat sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan kebutuhan manusia. Akibatnya sumberdaya alam semakin langka dan menurun baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Pemanfaatan sumberdaya secara berlebihan telah menyebabkan kondisi tanah menjadi kritis (rusak).

Data pusat penelitian tanah dan agroklimat menyebutkan pada tahun 2005 terdapat lahan kritis yang mencapai luasan 52,5 hektar. Lahan kritis sebagian besar terdapat di hulu DAS yang bentuk wilayahnya berbukit dengan curah hujan sangat tinggi sehingga dalam pemanfaatannya harus berhati-hati karena dengan kondisi seperti itu dapat memicu erosi yang berakibat pada degradasi lahan. Lahan kering umumnya menjadikan air sebagai faktor pembatas yang utama dalam pengelolaannya, oleh karena itu ketersediaan air menjadi sesuatu yang sangat penting dalam pengelolaaan lahan kritis.

Untuk dapat menjamin adanya ketersediaan air baik dimusim penghujan dan musim kemarau diperlukan teknologi yang applicable dan hemat biaya karena pada umumnya petani lahan kering hidup dalam garis kemiskinan. Beberapa penelitian konservasi air dan lahan kritis telah dilakukan dan diujicoba untuk dapat memaksimalkan simpanan air hujan dan mengoptimalkan manfaat sumberdaya air terutama pada musim kemarau.

Dari tulisan ini, maka akan diuraikan tentang tanaman atau sisa tanaman yang baik dalam mengendalikan erosi secara vegetative.

.

 

 

PEMBAHASAN

Metode vegetatif yaitu metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. Pengelolaan tanah secara vegetatif dapat menjamin keberlangsungan keberadaan tanah dan air karena memiliki sifat memelihara kestabilan struktur tanah melalui sistem perakaran dengan memperbesar granulasi tanah, penutupan lahan oleh seresah dan tajuk yang akan mengurangi evaporasi dan dapat meningkatkan aktifitas mikroorganisme yang mengakibatkan peningkatan porositas tanah sehingga memperbesar jumlah infiltrasidan mencegah terjadinya erosi.

Metode vegetatif juga memiliki manfaat dari segi vegetasi tanaman kehutanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi sehingga dapat menambah pendapatan petani.

Aplikasi Metode Vegetatif :

A. Sistem Pertanaman Lorong

Sistem pertanaman lorong adalah suatu sistem dimana tanaman pangan ditanam pada lorong diantara barisan tanaman pagar. Sistem ini sangat bermanfaat dalam mengurangi laju limpasan permukaan dan erosi dan merupakan sumber bahan organik dan hara terutama unsur N untuk tanaman lorong. Teknologi budidaya lorong telah lama dikembangkan dan diperkenalkan sebagai salah satu teknik konservasi lahan kritis untuk pengembangan sistem pertanian berkelanjutan pada lahan kritis/kering di daerah tropika basah namun belum diterapkan secara luas oleh petani.

Pada budidaya lorong konvensional tanaman pertanian ditanam pada lorong-lorong diantara barisan tanaman pagar yang ditanam menurut kontur. Barisan tanaman pagar yang rapat diharapkan dapat menahan aliran permukaan serta erosi yang terjadi pada areal tanaman budidaya, sedangkan akarnya yang dalam dapat menyerap unsur hara dari lapisan tanah yang lebih dalam untuk kemudian dikembalikan ke permukaan melalui pengembalian sisa tanaman hasil pangkasan tanaman pagar.

B. Sistem Pertanaman Strip Rumput

Konservasi lahan kritis dengan sistem pertanaman strip rumput hampir sama dengan pertanaman lorong tetapi tanaman pagarnya adalah rumput. Strip rumput dibuat mengikuti kontur dengan lebar strip 0,5 meter atau lebih. Semakin lebar strip semakin efektif mengendalikan erosi. Sistem ini dapat diintegrasikan dengan ternak. Penanaman rumput pakan ternak di dalam jalur strip. Penanaman dilakukan menurut garis kontur dengan letak penanaman dibuat selang seling agar rumput dapat tumbuh baik dan usahakan penanaman dilakukan pada awal musim hujan. Selain itu tempat jalur rumput sebaiknya di tengah antara barisan tanaman pokok.

C. Tanaman Penutup Tanah

Tanaman ini merupakan tanaman yang ditanam tersendiri atau bersamaan dengan tanaman pokok. Manfaat tanaman penutup antara lain untuk menahan atau mengurangi daya perusak bulir-bulir hujan yang jatuh dan aliran air diatas permukaan tanah, menambah bahan organik tanah (melalui batang, ranting dan daun mati yang jatuh), serta berperan melakukan transpirasi yang mengurangi kandungan air tanah.

Peranan tanaman penutup tanah adalah mengurangi kekuatan disperasi air hujan, mengurangi jumlah serta kecepatan aliran permukaan dan memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah sehingga mengurangi erosi.

Penyiangan intensif dapat menyebabkan tergerusnya lapisan atas tanah. Untuk menghindari persaingan antara tanaman penutup tanah dengan tanaman pokok pada konservasi lahan kritis dengan teknik ini dapat dilakukan dengan penyiangan melingkar (ring weeding). Tanaman penutup tanah yang digunakan dan sesuai untuk sistem pergiliran tanaman harus memenuhi syarat diantaranya harus mudah diperbanyak (sebaiknya dengan biji), memiliki sistem perakaran yang tidak menimbulkan kompetisi berat bagi tanaman pokok tetapi memiliki sifat mengikat tanah yang baik dan tidak mensyaratkan tingkat kesuburan tanah yang tinggi, tumbuh cepat dan banyak menghasilkan daun, toleransi terhadap pemangkasan, resisten terhadap gulma, penyakit dan kekeringan, mudah diberantas jika tanah akan digunakan untuk penanaman tanaman semusim atau tanaman pokok lainnya, sesuai dengan kegunaan untuk reklamasi tanah dan tidak memiliki sifat-sifat yang tidak menyenangkan seperti berduri atau sulur yang membelit.

Empat jenis tanaman penutup yang dapat digunakan yaitu :

a.      Tanaman Penutup  Tanah Rendah

Tanaman penutup tanah rendah terdiri dari jenis rumput-rumputan  dan tumbuhan merambat atau menjalar:

  • Dipakai dalam pola pertanaman rapat : Calopogonium muconoides Desv, Centrocema pubescens Benth, Mimosa invisa Mart, Peuraria phaseoloides Benth.

 

  • Digunakan dalam pola pertanaman barisan: Eupatorium triplinerve Vahl (daun panahan, godong, prasman, jukut prasman), Salvia occidentalis Schwartz (langon, lagetan, randa nunut), Ageratum mexicanum Sims.
  • Digunakan untuk penguat teras dan saluran-saluran air: Althenanthera amoena Voss (bayem kremah, kremek), Indigofera endecaphylla jacq (dedekan),  Ageratum conyzoides L (babandotan),  Erechtites valerianifolia  Rasim (sintrong), Borreria latifolia Schum (bulu lutung, gempurwatu),  Oxalis corymbosa DC,  Brachiaria decumbens, Andropogon zizanoides (akar

wangi), Panicum maximum (rumput benggala), Panicum ditachyum (balaba, paitan, Paspalum dilatum (rumput Australia), Pennisetum purpureum (rumput gajah).

b.      Tanaman Penutup Tanah Sedang (Perdu)

Dipakai dalam pola pertanaman teratur di antara baris tanaman pokok: Clibadium surinamense var asperum baker, Eupatorium pallessens DC (Ki Dayang, Kirinyuh)

  • Digunakan dalam pola pertanaman pagar : Lantana camara L (tahi ayam, gajahan, seruni), Crotalaria anagyroides HBK, Tephrosia candida DC, Tepherosia vogelii, Desmodium gyroides DC (kakatua, jalakan), Acacia villosa Wild (lamtoro merah), Sesbania grandiflora PERS (turi), Calliandra calothyrsus Meissn (kaliandra merah), Gliricidia maculata (johar cina, gamal), Flemingia congesta Roxb, Crotalaria striata DC., Clorataria juncea, L. Crotalaria laurifolia Poir (urek-urekan, kacang cepel),  Cajanus cajan Nillst (kacang hiris, kacang sarde)  dan Indigofera arrecta Hooscht.
  • Penggunaan di luar areal pertanaman utama dan merupakan sumber pupuk hijau dan mulsa,  untuk penghutanan dan perlindungan dinding jurang: Leucaena glauca (L) Benth (pete cina, lamtoro, kemelandingan), Tithonia tagetiflora Desp, Graphtophyllum pictum Gries (daun ungu, handeuleum), Cordyline fruticosa Backer,Eupatorium riparium REG.

c.       Tanaman Penutup Tanah Tinggi Atau Tanaman Pelindung

  • Digunakan dalam pola teratur di antara baris tanaman utama: Albizia falcata (sengon laut, jeunjing), Grevillea robusta A Cum, Pithecellobium saman benth (pohon hujan), Erythrina sp (dadap), Gliricidia sepium

 

  • Dipakai dalam barisan: Leucaena glauca atau Leucaena leucocephala
  • Penggunaan untuk melindungi jurang, tebing atau untuk penghutanan kembali: Albizia falcate dan Leucaena glauca, Albizia procera Benth, Acacia melanoxylon, Acacia mangium, Eucalyptus saligna, Cinchona succirubra, Gigantolochloa apus (bamboo apus), Dendrocalamus asper, Bambusa bambos

 

d.      Tumbuh-Tumbuhan Bawah (Undergrowth) Alami Pada Perkebunan

Banyak usaha telah dilakukan pada beberapa perkebunan, terutama perkebunan karet, dalam memanfaatkan tumbuh-tumbuhan bawah alami untuk melindungi tanah.

e.       Tumbuhan Yang Tidak Disukai

Banyak tumbuhan  yang termasuk dalam tumbuhan pengganggu atau tidak disukai yang dapat berfungsi sebagai penutup tanah atau pelindung tanah terhadap ancaman erosi. Tumbuh-tumbuhan itu tidak disukai karena sifat-sifatnya yang merugikan tanaman pokok dan sulit diberantas atau dibersihkan  dari lahan usaha pertanian: Imperata cylindrica, Panicum repens (lampuyangan), Leersia hexandra (kalamento), Saccharum spontaneum (gelagah), Anastrophus compressus dan Paspalum compressum (tumput pahit).

 

 

 

 

D. Mulsa

Mulsa adalah bahan-bahan (sisa panen, plastik dan lain-lain) yang disebar atau digunakan untuk menutup permukaan tanah. Bermanfaat untuk mengurangi penguapan serta melindungi tanah dari pukulan langsung butir-butir air hujan yang akan mengurangi kepadatan tanah. Mulsa dapat berupa sisa tanaman, lembaran plastik dan batu. Mulsa sisa tanaman terdiri dari bahan organik sisa tanaman (jerami padi, batang jagung), pangkasan dari tanaman pagar, daun-daun dan ranting tanaman. Bahan tersebut disebarkan secara merata di atas permukaan tanah setebal 2 s/d 5 cm sehingga permukaan tanah tertutup sempurna.

Pada sistem agribisnis yang intensif dengan jenis tanaman bernilai ekonomis tinggi sering digunakan mulsa plastik untuk mengurangi penguapan air dari tanah, menekan hama penyakit dan gulma. Lembaran plastik dibentangkan di atas permukaan tanah untuk melindungi tanaman. Di pegunungan batu-batu cukup banyak tersedia sehingga bisa digunakan sebagai mulsa untuk tanaman pohon-pohonan. Permukaan tanah ditutup dengan batu yang disusun rapat dengan ukuran batu berkisar antara 2 s/d 10 cm.

Dalam pedoman praktek konservasi tanah dan air lahan kritis BP2TPDAS-IBB ditunjukan peranan yang signifikan dari mulsa terhadap aliran permukaan, infiltrasidan erosi pada lahan dengan kemiringan 5%. Penelitian yang dilakukan oleh Thamrin dan Hanafi (1992) juga menunjukkan bahwa pemberian mulsa seresah tanaman dapat menghemat lengas tanah dari proses penguapan sehingga kebutuhan tanaman akan lengas tanah terutama musim kering dapat terjamin. Selain itu pemberian mulsa seresah juga dapat menghambat pertumbuhan gulma yang mengganggu tanaman sehingga konsumsi air lebih rendah.

E. Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape)

Pengelompokan Tanaman dalam Suatu Bentang alam (landscape) mengikuti kebutuhan air yang sama sehingga irigasi dapat dikelompokkan sesuai kebutuhan tanaman. Teknik konservasi lahan kritis seperti ini dilakukan dengan cara mengelompokkan tanaman yang memiliki kebutuhan air yang sama dalam satulandscape. Pengelompokkan tanaman tersebut akan memberikan kemudahan dalam melakukan pengaturan air. Air irigasi yang dialirkan hanya diberikan sesuai kebutuhan tanaman sehingga air dapat dihemat.

F. Penyesuaian Jenis Tanaman Dengan Karakteristik Wilayah

Teknik konservasi ini dilakukan dengan cara mengembangkan kemampuan dalam menentukan berbagai tanaman alternatif yang sesuai dengan tingkat kekeringan yang dapat terjadi dimasing-masing daerah. Sebagai contoh tanaman jagung yang hanya membutuhkan air 0,8 kali padi sawah akan tepat jika ditanam sebagai pengganti padi sawah untuk antisipasi kekeringan. Pada daerah hulu DAS yang merupakan daerah yang berkemiringan tinggi penanaman tanaman kehutanan menjadi komoditas utama.

G. Penentuan Pola Tanam Yang Tepat

Baik untuk areal yang datar maupun berlereng penentuan pola tanam disesuaikan dengan kondisi curah hujan setempat untuk mengurangi devisit air pada musim kemarau. Hasil penelitian Gomez (1983) menunjukkan bahwa pada lahan dengan kemiringan 5% dengan pola tanam campuran ketela pohon dan jagung akan dapat menurunkan run off dari 43% menjadi 33% dari curah hujan dibandingkan dengan jagung monokultur. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan besar kebutuhan air tiap jenis vegetasi. Besarnya kebutuhan air beberapa jenis tanaman dapat menjadi acuan dalam membuat pola tanam yang optimal.

 

PENUTUP

Metode vegetatif yaitu metode konservasi lahan kritis dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman, serta penggunaan pupuk organik dan mulsa. Aplikasi metode vegetative yaitu system pertanaman lorong, sistem pertanaman strip rumput, tanaman penutup tanah, mulsa, pengelompokan tanaman dalam suatu bentang alam (landscape), penyesuaian jenis tanaman dengan karakteristik wilayah, penentuan pola tanam yang tepat.

Kurnia, U., Ai Dariah, Suwarto, dan K. Subagyono. 1997. Degradasi lahan dan konservasi tanah di Indonesia: Kendala dan pemecahannya. hlm. 27-45  dalamProsiding Pertemuan Pembahasan dan Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat: Makalah Review. Cisarua-Bogor, 4-6 Maret 1997. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat, Bogor.

Agus, F., A.Ng. Ginting, U. Kurnia, A. Abdurachman, and P. van der Poel. 1998. Soil erosion research in Indonesia: Past experience and future direction. pp. 255-267. InF.W.T. Penning de Vries, F. Agus, and J. Kerr (Eds.). Soil Erosion at Multiple Scales: Principles and Methods for Assessing Causes and Impacts. CAB International, Wallingford, UK.

Arsyad, S. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Penerbit IPB. Bogor.

Arsyad, S. 1976. Pengawetan Tanah dan Air. Departemen Ilmu-Ilmu Tanah Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Abujamin, S. 1978. Peranan rumputdalam usaha konservasi tanah. Seminar LP. Tanah, 8 Juli 1978 (Tidak dipublikasikan).

P3HTA. 1987. Penelitian Terapan Pertanian Lahan Kering dan Konservasi. hlm. 6. UACP-FSR. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Categories: Uncategorized | Comments Off on Makalah Pengendalian Erosi secara vegetatif

Tugas Manejemen Kesuburan tanah

TUGAS MANAJEMEN KESUBURAN TANAH

SOAL

  1. CARI DEFINISI TENTANG AMONIFIKASI, NITRIFIKASI DAN AMINISASI
  2. CARI TAHU TENTANG SIKLUS NITROGEN

JAWAB

  1. 1.       A. Proses Amonifikasi

Sebagian besar keberadaan N2 di dalam tanah dalam bentuk molekul anorganik. Organisme yang sudah mati diuraikan melalui proses hidrolisis yang menyebabkan protein terurai menjadi asam amino. Proses ini disebut deaminasi. Proses selanjutnya, asam amino yang sudah terbentuk dikonversi menjadi ammonia (NH3) dan proses ini disebut amonifikasi. Amonifikasi dibantu oleh beberapa mikroorganisme seperti bakteri dan jamur.

Amonia merupakan senyawa dalam bentuk gas, pada tanah yang kering mudah menguap, sebaliknya pada tanah yang lembab/basah ammonia terlarut dalam air dan membentuk ion ammonium (NH4+ ). Selanjutnya ion amonium dapat digunakan oleh bakteri dan tumbuhan untuk sintesa asam amino.Walaupun demikian, pemanfaatan nitrogen oleh kebanyakan tumbuhan umumnya dalam bentuk NO3karena NH4+ akan dioksidasi menjadi NO3 oleh bakteri nitrifikasi. Disamping itu ammonium/ammonia ini bersifat racun bagi tumbuhan dan dapat menghambat pembentukan ATP di kloroplas dan mitokondria.

Berbagai tanaman, binatang, dan mikroba dapat melakukan proses amonifikasi. Amonifikasi adalah proses yang mengubah N-organik menjadi N-ammonia. Bentuk senyawa N dalam jasad hidup dan sisa-sisa organik sebagian besar terdapat dalam bentuk amino penyusun protein. Senyawa N organik yang lain adalah khitin, peptidoglikan, asam nukleat, selain itu juga terdapat senyawa N-organik yang banyak dibuat dan digunakan sebagai pupuk yaitu urea.

Proses amonifikasi dari senyawa N-organik pada prinsipnya merupakan reaksi peruraian protein oleh mikroba. Secara umum proses perombakan protein dimulai dari peran ensim protease yang dihasilkan mikroba sehingga dihasilkan asam amino. Selanjutnya tergantung macam asam aminonya dan jenis mikroba yang berperan maka asam-asam amino akan dapat terdeaminasi melalui berbagai reaksi dengan hasil akhirnya nitrogen dibebaskan sebagai ammonia. Reaksi umumnya adalah sebagai berikut:

                  protease                          deaminasi

PROTEIN —————–  ASAM AMINO —————— NH3

Urea yang mengalami proses amonifikasi akan terhidrolisis oleh adanya ensim urease yang dihasilkan oleh mikroba tanah. Urea yang dimasukkan ke dalam tanah akan mengalami proses amonifikasi sebagai berikut:

                              urease

CO(NH2)2 + H2O ———————- 2 NH3 + CO2

Dalam keadaan asam dan netral amonia berada sebagai ion amonium. Sebagian amonia hasil amonifikasi dibebaskan sebagai gas NH3 ke atmosfer, sehingga lepas dari sistem tanah. Amonia dan bentuk nitrogen lain di eko-atmosfer dapat mengalami perubahan kimia dan fotokimia, sehingga dapat kembali ke litosfer dan hidrosfer bersama-sama air hujan. Ion amonium dapat diasimilasi tanaman dan mikroba, selanjutnya diubah menjadi asam amino atau senyawa N lain. Di dalam sel, ammonia direaksikan oleh glutamat atau glutamin sintase atau mengalami proses aminasi langsung dengan asam-ketokarboksilat sehingga berubah menjadi asam amino.

  1. B.     Proses Nitrifikasi

Nitrifikasi merupakan proses oksidasi ion amonium menjadi nitrat (NO3-). Proses ini dilakukan oleh bakteri autotrof yang termasuk ke dalam genus Nitrosomonas dan Nitrobacter. Nitrosomonas akan mengoksidasi ion ammonium menjadi nitrit (NO2-) dan selanjutnya Nitrobacter akan mengoksidasi nitrit (NO2-) menjadi nitrat (NO3-). Tumbuhan cenderung menggunakan nitrat (NO3-) sebagai sumber nitrogen untuk sintesa protein karena nitrat memiliki mobilitas yang lebih tinggi di dalam tanah dan lebih mudah terikat dengan akar tanaman daripada amonium. Meski sebenarnya ion amonium lebih efisien sebagai sumber nitrogen karena memerlukan lebih sedikit energi untuk sintesa protein, tetapi karena bermuatan positif maka lebih sulit dimanfaatkan karena sudah lebih dulu terikat oleh tanah lempung yang bermuatan negatif. Nitrifikasi adalah suatu proses oksidasi enzimatik yakni perubahan senyawa ammonium menjadi senyawa nitrat yang dilakukan oleh bakteri-bakteri tertentu. Proses ini berlangsug dalam dua tahap dan masing-masing dilakukan oleh grup bakteri yang berbeda. Tahap pertama adalah proses oksidasi ammonium menjadi nitrit yang dilaksanakan oleh bakteri Nitrosomonas dan tahap kedua adalah proses oksidasi enzimatik nitrit menjadi nitrat yang dilaksanakan oleh bakteri Nitrobakter (Damanik, dkk, 2011).

Ion ammonium dalam tanah dapat dioksidasi secara enzimatik oleh bakteri tanah, nitrit pertama menguntungkan dan nitrit selanjutnya. Bakteri itu dikelaskan sebagai autotrof karena mereka mendapatkan energinya dari oksidasi ammonium ion menjadi bahan organik. Proses ini dapat berakhir dengan nitrifikasi yang memiliki dua tahap utama. Tahap pertama menghasilkan perubahan ammonium menjadi nitrat oleh sekelompok spesifik tertentu dari autotrof bakteri (Nitrosomonas). Nitrit lalu dibentuk dan kemudain secara spontan dilanjutkan oleh grup kedua, Nitrobacter. Hasilnya, ketika NH4+ dilarutkan dalam tanah, biasanya dikonversikan secara cepat dalam NO3-. Oksidasi enzimatik melarutkan energy dan dapat ditunjukkan sangat sederhana dengan:
Step I NH4+ + 1 ½ O2 NO2- + 2 H+ + H2O + 275 kj energi
Step    II  NO2- + 1/2 O2 NO3- + 76 kj energy  
(Brady and Weil, 2008).
Bakteri nitrifikasi sangat sensitive terhadap lingkungan mereka, lebih dari heterotrof pada umumnya. Akibatnya kondisi tanah mempengaruhi vigor dari nitrifikasi yang membutuhkan perhatian tertentu. Diantaranya adalah (a) aerasi, sejak nitrifikasi dip roses oksidasi pada tiap prosedur, itu meningkatkan aerasi pada tanah per point, memperbesar jumlah ini (b) temperature, umumya untuk proses ini dibutuhkan antara 800 – 900 F. Pada 1250 F, nitrifikasi akan langsung berhenti (c) kelembaban, rataan hasil nitrifikasi dalam tanah dengan menandakan adanya kapasitas air, proses mulai melambat pada kondisi kelembaban yang sangat tinggi dan sangat rendah (d) kejenuhan basa. Nitrifikasi membutuhkan keadaan kejenuhan basa yang tinggi (e) pupuk (f) kadar C/N (Brady, 1974).
Besarnya jumlah pengaruh kimia dalam perubahan bentuk reduksi nitrogen dalam pupuk untuk bentuk oksidasi oleh mikroorganisme atau pembatas sikap dari enzim tanah. Objek dari produk diatur nitrifikasi dan menjaga nitrogen dalam bentuk ammonium. Dalam bentuk ini, nitrogen tidak tercuci segera atau diubah ke dalam bentuk gas yang lepas dari tanah. Hasil percobaan di lapangan dalam efisiensi nitrogen, dipengaruhi oleh inhibitor nitrifikasi yang menunjukkan hasil yang kecil dalam peningkatan dari satu dalam enam test. Beberapa insektisida juga menghambat nitrifikasi dalam lapangan (Jones, 1982).
Nitrifikasi adalah proses dimana ammonium (NH4+) yang dioksidasi ke nitrat (NO2-) dan kemudian menjadi nitrat (NO3-). Rataan nitrifikasi juga di pengaruhi oleh kelembaban tanah dan cenderung menjadi sangat lambat pada tanah kering, dimana air encer membatasi difusi dari NH4+ ke nitrifiers. Secara spontan nitrifikasi adalah proses keasaman dalam oksidasi dari NH4+ ke NO3- menghasilkan ion H+. Sedangkan ini juga sensitif untuk mengubah pH tanah tersebut, dalam tanah pertanian, nitrifikasi tak berarti dibawah pH 4,5. Tetapi rataan nitrifikasi cenderung menjadi lemah pada temperatur tanah hutan asam (Bardgett, 2008).
Dalam keadaan menguntungkan berlangsungnya kedua reaksi tersebut, transformasi dari amonium menjadi benuk nitrit berlangsung sangat cepat menyusul reaksi pertama, sehingga tidak sempat terjadi penimbunan nitrit. Hal ini sangat menguntungkan karena bentuk nitrit bersifat racun bagi tanaman, akibatnya bentuk nitrat cenderung diakumulasikan di dalam tanah. Sebagai catatan bahwa bentuk ion nitrit ini tidak umum terdapat di dalam tanah dalam jumlah yang banyak (Damanik, dkk, 2011).

  1. C.    Proses Aminisasi

Aminisasi merupakan proses perubahan protein dan senyawa serupa yang merupakan sebagian besar nitrogen dari tanah menjadi senyawa amino. Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Protein → R–NH2 + CO2 + Energi

Proses aminisasi adalah : proses perubahan protein menjadi senyawa amino. Proses aminisasi dilakukan oleh mikroorganisme heterotrop, yang mempunyai banyak jenis. Setiap jenis bertanggung jawab hanya pada satu atau beberapa tahap reaksi dari sejumlah reaksi dekomposisi. Protein dan senyawa yang serupa, melalui pencernaan enzimatik yang dilakukan oleh mikroorganisme tadi akan hancur dan menjadi senyawa-senyawa amino seperti: protesa, pepton dan akhirnya amino.

 

Transformasi demikian dapat ditampilkan sebagai berikut:

 Protein    dan         +    Pencernaan ——->  Senyawa   +  CO2  +  E +  hasil lainnya

                senyawa serupa             enzimatik                         amino  komplek

Berbagai organisme tanah memerlukan energi (E) dari pencernaan demikian, dan juga menggunakan sebagian nitrogen. Bersamaan dengan dibebaskan CO2  maka   senyawa amino dansenyawa  lainnya terbentuk.

 

  1. 2.      DAUR NITROGEN

 

Nitrogen suatu gas inert yang sangat sulit diikat langsung oleh mahkluk hidup tingkat tinggi , di udara Nitrogen sepertinya tak terbatas jumlahnya karena jumlahnya 78 % paling besar diatara gas gas lainnya seperti oksigen, sulfur, carbon dan lainnya .Jumlahnya nitrogen yang 78 % itu dalam bentuk unsur bukan dalam senyawa.padahal mahkluk hidup memerlukan niterogen dalam suatu persenyawaan misalnya nitrat, asam amino, protein dan sangat penting untuk pertumbuhan. Jadi Nitrogen udara itu harus di proses sehingga bisa membentuk senyawa yang penting untuk dapat memenuhi kebutuhan mahkluk hidup.

  1. 3.      SIKLUS NITROGEN

Nitrogen dalam bentuk senyawa terdapat pada Nitrat , Protein , Asam amino , Lipoprotein dll yang semua itu penting dala metabolism. Dengan melihat kepentingannya itu , berarti tidak ada satupun mahkluk hidup yang tubuhnya tanpa kandungan unsur Nitrogen ini Terbukti selalu mahkluk hidup setelah di lakukan analisa Abu oleh Sachs , selalu ditemukan Nitrogen dalam skala besar ( sebagai unsur Makro) Nitrogen berfungsi sebagai pembentuk asam amino (NH2) merupakan persenyawaan pembentuk molekul protein. (yang tersusun atas unsur CHON yang membedakan dengan lemak dan karbohidrat kan hanya Nitrogennya) Selanjutnya protein sebagai faktor penting dalam pertumbuhan dll .

Ketika petir terbentuk diatmosfer menyebabkan nitrogen bersenyawa jadi nitrat. Nitrat itu disentuhkan ke bumi , sehingga semakin daerah itu banyak petir tentu banyak nitrat terbentuk disana Nitrat yang terbentuk di atmosfer tentu akan terbawa hujan sehingga terjadi perpindahan nitrat dari udara ke daratan yang menjadikan nitrogen dalam bentuk nitrat itu menjadi berguna Tumbuhan menyerap nitrat dari tanah untuk dijadikan protein lalu tumbuhan dimakan oleh kosumer senyawa nitrogen pindah ke tubuh hewan dan manusia Urin dan faeces sebagai Ekresta , bangkai hewan, dan tumbuhan mati , sisa kehidupan (ranting , daun tua) yang disebut Egesta akan diuraikan oleh pengurai jadi ammonium dan ammoniak. Amoniak hasil pembusukan itu oleh bakteri Nitrifikans akan dirombak jadi Nitrat melalui Nitrifikasi OK.

Nitrifikasi diperlukan bakteri ( NS,NC dan NB) Bakteri Nitrosomonas dan Nitrococcus Nitrobacter mengubah amoniak jadi nitrat yang berjalan secara aerob ( butuh aerasi ditanah oleh karenanya tanah harus digemburkan agar terbentuk banyak nitrat) proses berjalan dua kali yaitu nitritasi membentuk nitrit dan nitratasimembentuk nitrat

Nitrifikasi : nitritasi dan nitratasi

Amoniak NH3 dirubah menjadi nitrit HNO2 oleh NS dan NC disebut nitritasi lalu Nitrit diubah lagi Nitrat HNO3 oleh bakteri NB (Nitrobacter) Nitratasi

Kemudian nitrat diserap oleh tumbuhan. karena Nitrogen ditanah hanya bisa diserap dalam bentuk nitrat (Amoniak , Nitrit tidak bisa diserap )

Selain melalui petir juga melalui Fikasasi , Fikasasi itu berbeda dengan Nitrifikasi

Fikasasi itu pengikatan langsung Nitrogen di udara oleh mikroorganisme Fiksasi ( Rhizobium, Azotobacter , Clostridium pasteurianum , Nostoc , Anabaena )

Rhizobium bersimbiosis dengan kacang kacangan membentuk bintil akar yang sebenarnya bintil itu karena infeksi bakteri Rhizobium leguminosorum , yang berguna bagi kacang karena punya kemampuan membFIKSASI Nitrogen dari udara untuk dipersembahkan ke kacang dalam pertumbuhannya , sehingga petani nggak perlu lagi memberi pupuk (Urea atau NPK) karena ada free download nitrogendari udara hehe

Anabaena bersimbiosis dengan Paku air Azolla dan Pakis haji Cycas rumpii. azotobacter, Clostridium dan Nostoc soliter hidupnya Nitrogen juga bisa dari Air hujan , hujan asam ( Acid rain) , dari pupuk buatan Urea yang dilepaskan ke tanah

 

Nitrogen Tanah

Nitrogen adalah unsur hara yang paling dinamis di alam.

Keberadaannya di tanah sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara input dan outputnya dalam sistem tanah.Di alam, Nitrogen terdapat dalam bentuk senyawa organik seperti urea, protein, dan asam nukleat atau sebagai senyawa anorganik seperti ammonia, nitrit, dan nitra.Daur nitrogen adalah transfer nitrogen dari atmosfir ke dalam tanah.Selain air hujan yang membawa sejumlah nitrogen, penambahan nitrogen ke dalam tanah terjadi melalui proses fiksasi nitrogen. Fiksasi nitrogen secara biologis dapat dilakukan oleh bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan polong-polongan, bakteri Azotobacter dan Clostridium.

Selain itu ganggang hijau biru dalam air juga memiliki kemampuan memfiksasi nitrogen. Nitrat yang di hasilkan oleh fiksasi biologis digunakan oleh produsen (tumbuhan) diubah menjadi molekul protein. Selanjutnya jika tumbuhan atau hewan yang mengandung protein itu mati, mikroorganisme pengurai akan merombak protein itu menjadi menjadi gas amoniak (NH3) dan garam ammonium yang larut dalam air (NH4+) ( Demineralisasi )Proses ini disebut dengan amonifikasi. kemudian diteruskan ke proses Nitrifikasi oleh bakteri Nitrifikasn

Bakteri Nitrosomonas mengubah amoniak dan senyawa ammonium menjadi nitrat oleh Nitrobacter. Apabila oksigen dalam tanah terbatas, nitrat dengan cepat ditransformasikan menjadi gas nitrogen atau oksida nitrogen oleh proses yang disebut denitrifikasi.

 

 

 

 

 

 

 

Keseimbangan Nitrogen ini digambarkan pada Gambar

 

Jika kita kaitkan dengan kondisi musim penghujan , maka sebenarnya masih tersedia cukup Nitrogen bagi perkembangan tanaman karena Nitrogen yang telah terlepas atau mengalami volatilisasi (hilang di udara bebas) kembali terikat oleh adanya petir / kilat dan akan kembali ke tanah melalui pertolongan air hujan yang turun. Meskipun Nitrogen seringkali mengalami perubahan bentuk, tetapi sangatlah mudah bagi tanaman untuk menyerap unsur ini akibat adanya keseimbangan siklus Nitrogen tadi. Tanaman menyerap unsur Nitrogen dalam bentuk Ammonium (NH4+) dan Nitrat (NO3-). Keberadaan NH4+ ini sangat relatif bagi tanaman karena mudah mengalami perubahan bentuk menjadi Nitrat Nitrogen (NO3-) akibat proses nitrifikasi

Alternatif pemecahan masalah hilangnya unsur hara akibat pencucian ini adalah dengan memberikan pupuk yang berimbang

namun ada juga yang tanpa diberikan unsur hara makro maupun mikro lewat pupuk melalui slow release (penguraiannya dalam tanah lambat) tetap tersedia nutrisi tanaman tetap terjaga. Selain itu juga perlu diperhatikan keseimbangan siklus unsur hara di alam agar tetap terjaga kestabilannya sehingga mampu meningkatkan produksi tanaman.

Jadi sebelum dipahami gambar Daur nitrogen itu perlu pemahaman Dari mana saja Nitrogen ditanah ? OK

lewat hujan yang membawa material N dari udara *(NOx , HNO3 karena petir)

lewat sentuhan petir dari udara ( meskipun banyak orang yang mati kesamber petir tetapi daerahnya subur)

dari demineralisasi / penguraian oleh dekomposer bahan mati yang mengandung protein (CHON) dari Proses pengendapan akibat suatu tempat terkena erosi / pencucian pemberian pupuk buatan atau alami proses Fiksasi oleh organisme mikro yang handal punya kemampuan mengikat gas Inert N22 udara yang tidak dipunyai oleh organisme tumbuhan tingkat tinggi Nitrifikasi oleh bakteri nitrifikans yang luar biasa ( kalau Denitrifikasi justru mengembalikaan Nitrogen ke udara )

 

Oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrat. Prosesnya dinamakan nitratasi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA
Bardgett, R.D. 2008. The Biology of Soil : A community and Ecosystem Approach. Oxford University Press. London

Brady, N.C. 1984. The Nature and Properties of Soils. Mac Millan Publishing Company. New York.

Brady, N. C. 1974. The Nature and Properties of Soils. 8th Edition. Mac Millan Publishing CO.Inc. New York.

Brady, N. C and R.R. Weil .2008. The Nature and Properties of Soils. 40th Edition. Pearson Hall. New Jersey.

Damanik, M.M.B ; B.E. Hasibuan ; Fauzi ; Sarifuddin ; H. Hanum. 2011. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Press. Medan.

Foth, H.D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah. 6th Edition. Penerjemah : Soenartono Adisoemartono. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Jones, U.S. 1982. Fertilizers and Soil Fertility. Reston Publishing Company. Prentice-Hall Company. Virginia.

Suryadientina. 2009. Denitrifikasi. Diakses dari http://biogen.litbang.deptan.go.id. Pada tanggal 26 April 2011.

White, R.E. 1987. Introduction to The Principles and Practices of Soil Science. Blackwell Scientific Publications. Melbourne.

Williams, C.N ; J.O U 20 ; W.T.H. Peregrine. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropika. Penerjemah : S. Ronoprawiro. UGM Press. Yogyakarta

 

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on Tugas Manejemen Kesuburan tanah

Laporan Besar Praktikum Manajemen Kesuburan Tanah

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tanah merupakan faktor terpenting dalam tumbuhnya tanaman dalam suatu sistem pertanaman, pertumbuhan suatu jenis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya ialah tersedianya unsur hara, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Tanah sebagai medium pertumbuhan tanaman berfungsi pula sebagai pemasok unsur hara, dan tanah secara alami memiliki tingkat ketahanan yang sangat beragam sebagai medium tumbuh tanaman.

Pupuk adalah bahan yang diberikan kedalam tanah atau tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman dan dapat berfungsi untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia dan biologi tanah. Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif, tekstur, struktur, kelembaban dan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi reaksi tanah (pH tanah), KTK, kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur hara, cadangan unsur hara dan ketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman. Sedangkan biologi tanah antara lain meliputi aktivitas mikrobia perombak bahan organik dalam proses humifikasi dan pengikatan nitrogen udara.

Kesuburan tanah merupakan mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Ada akar yang berfungsi menyerap air dan larutan hara, dan ada yang berfungsi sebagai penjangkar tanaman. Kesuburan habitat akar dapat bersifat hakiki dari bagian tubuh tanah yang bersangkutan, dan/atau diimbas (induced) oleh keadaan bagian lain tubuh tanah dan/atau diciptakan oleh pengaruh anasir lain dari lahan, yaitu bentuk muka lahan, iklim dan musim. Karena bukan sifat melainkan mutu maka kesuburan tanah tidak dapat diukur atau diamati, akan tetapi hanya dapat ditaksir (assessed). Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menghasilkan bahan tanaman yang dipanen.


 

1.2  Tujuan

–          Untuk Mengetahui Kesuburan Tanah

–          Untuk Mengetahui Prinsip Pengelolaan Tanah yang Baik

–          Untuk Mengetahui Hasil Rancangan Percobaan yang dilakukan dengan menggunakan perlakuan Kontrol.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah adalah Suatu keadaan tanah dimana tata air, udara dan unsur hara dalam keadaan cukup seimbang dan tersedia sesuai kebutuhan tanaman, baik fisik, kimia dan biologi tanah.

Menurut (Sutejo.M.M, 2003) Kesuburan tanah adalah kondisi suatu tanah yg mampu menyediakan unsur hara essensial untuk tanaman tanpa efek racun dari hara yang ada.

Tanah yang subur adalah tanah yang mempunyai profil yang dalam (kedalaman yang sangat dalam) melebihi 150 cm, strukturnya gembur remah, pH 6-6,5, mempunyai aktivitas jasad renik yang tinggi (maksimum). Kandungan unsur haranya yang tersedia bagi tanaman adalah cukup dan tidak terdapat pembatas-pembatas tanah untuk pertumbuhan tanaman

Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung sejumlah faktor pembentuk tanah yang merajai di lokasi tersebut, yaitu: bahan induk, iklim, relief, organisme, atau waktu. Tanah merupakan fokus utama dalam pembahasan ilmu kesuburan tanah, sedangkan kinerja tanaman merupakan indikator utama mutu kesuburan tanah.

Kesuburan tanah merupakan mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Ada akar yang berfungsi menyerap air dan larutan hara, dan ada yang berfungsi sebagai penjangkar tanaman. Kesuburan habitat akar dapat bersifat hakiki dari bagian tubuh tanah yang bersangkutan, dan/atau diimbas (induced) oleh keadaan bagian lain tubuh tanah dan/atau diciptakan oleh pengaruh anasir lain dari lahan, yaitu bentuk muka lahan, iklim dan musim. Karena bukan sifat melainkan mutu maka kesuburan tanah tidak dapat diukur atau diamati, akan tetapi hanya dapat ditaksir (assessed).

Penaksirannya dapat didasarkan atas sifat-sifat dan kelakuan fisik, kimia dan biologi tanah yang terukur, yang terkorlasikan dengan keragaan (performance) tanaman menurut pengalaman atau hasil penelitian sebelumnya. Kesuburan tanah dapat juga ditaksir secara langsung berdasarkan keadaan tanaman yang teramati (bioessay). Hanya dengan cara penaksiran yang pertama dapat diketahui sebab-sebab yang menentukan kesuburan tanah. Dengan cara penaksiran kedua hanya dapat diungkapkan tanaggapan tanaman terhadap keadaan tanah yang dihadapinya.

Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menghasilkan bahan tanaman yang dipanen. Maka disebut pula daya menghasilkan bahan panen atau produktivitas. Ungkapan akhir kesuburan tanah ialah hasil panen, yang diukur dengan bobot bahan kering yang dipungut per satuan luas (biasanya hektar) dan per satuan waktu. Dengan menggunakan tahun sebagai satuan waktu untuk perhitungan hasilpanen, dapat dicakup akibat variasi keadaan habitat akar tanaman karena musim (Tejoyuwono, 2006).

 

2.2 Prinsip Pengolahan Tanah yang Baik

Pengolahan tanah bertujuan untuk menyediakan lahan agar siap bagi kehidupan tanaman dengan meningkatkan kondisi fisik tanah karena tanah merupakan faktor lingkungan yang mempunyai hubungan timbal balik dengan tanaman yang tumbuh padanya. Menurut Herawati (2013), pengolahan tanah adalah setiap kegiatan mekanik yang dilakukan terhadap tanah dengan tujuan untuk memudahkan penanaman, menciptakan keadaan tanah yang gembur bagi pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman sekaligus merupakan upaya pemberantasan gulma. Dalam kaitannya dengan konservasi tanah dan air, pengolahan tanah hendaknya dilakukan seperlunya saja. Untuk tanah yang berlereng curam pengolahan tanah sebaiknya diminimumkan, bahkan ditiadakan.

Kegiatan pengolahan tanah biasa atau konvensional (dengan cara mencangkul atau membajak tanah dua kali dan diikuti dengan menghaluskan bongkahan tanah satu atau dua kali sebelum bertanam) lebih banyak bertujuan untuk memberantas gulma. Jika gulma dapat diatasi misalnya dengan penggunaan mulsa atau penggunaan herbisida, maka pengolahan tanah dapat dikurangi atau malah ditiadakan. Keunggulan dari tanaman tahunan adalah bahwa hampir semuanya tanaman ini tidak memerlukan pengolahan tanah. Hal ini dimungkinkan karena setelah tajuknya berkembang menaungi permukaan tanah pertumbuhan gulma akan sangat berkurang.

Olah tanah konservasi adalah suatu sistem pengolahan tanah dengan tetap mempertahankan setidaknya 30% sisa tanaman menutup permukaan tanah. Olah tanah konservasi dilakukan dengan cara:

  1. Pengolahan tanah dalam bentuk larikan memotong lereng atau dengan mencangkul sepanjang larikan untuk memudahkan penanaman.
  2. Tanpa olah tanah adalah sistem di mana permukaan tanah hanya dibersihkan dari gulma baik secara manual maupun dengan menggunakan herbisida.

Sesudah pembersihan, tanaman langsung ditugalkan. Jika penugalan sulit dilakukan, dapat digunakan cangkul untuk memudahkan penanaman. Keuntungan olah tanah konservasi adalah sebgai berikut :

  1. Menghemat tenaga kerja dan biaya
  2. Memperbaiki struktur tanah melalui peningkatan pori makro. Proses ini terjadi karena dengan tanpa olah tanah, fauna (hewan) tanah seperti cacing menjadi lebih aktif (Herawati, 2013).

Faktor lingkungan tanah meliputi:

  1. Faktor fisik (air, udara, struktur tanah serta suhu)
  2. Faktor kimiawi (kemampuan tanah dalam menyediakan nutrisi)
  3. Faktor biologis (makro/mikro flora dan makro/mikro fauna).

Pelaksanaan pengolahan tanah pada prinsipnya adalah tindakan pembalikan, pemotongan, penghancuran, dan perataan tanah. Struktur tanah yang semula padat diubah menjadi gembur, sehingga sesuai bagi perkecambahan benih dan perkembangan akar tanaman. Bagi lahan basah sasaran yang ingin dicapai adalah lumpur halus, yang sesuai bagi perkecambahan benh dan perkembangan akar tanaman. Alat pengolahan tanah mulai yang tradisional sampai modern (mekanisasi).

Berdasarkan tingkat intensifitasnya ada beberapa pengolahan tanah yaitu :

  1. Pengolahan tanah O (Zero Tillage) sering disebut Tanpa Olah Tanah (TOT). Penaburan benih kedelai pada lahan sawah bekas padi tanpa pengolahan tanah terlebih dulu, untuk memanfaatkan kelembaban tanah.
  2. Pengolahan tanah minimum (Mimimum Tillage). Bagian tanah yang diloah hanya pada calon zona perakaran dengan kelembaban dan suhu yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
  3. Pengolahan tanah optimum (Optimum Tillage). Pengolahan hanya dilakukan pada lajur tanaman saja (sistem Reynoso untuk tanaman tebu).
  4. Pengolahan tanah maksimum (Maximum Tillage). Pengolahan secara intensif seluruh areal pertanahan menjadi gembur dan permukaan tanah rata. Makin minim (tidak intensif) cara pengolahan tanah, akan makin mampu menangkal erosi.

Dengan demikian makin mendukung kelestarian kesuburan tanah disamping lebih menghemat biaya dan waktu. Menurut Pawitra (2010) bahwa tujuan pengolahan tanah adalah sebagai berikut :

  1. Pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik karena adanya pengolahan tanah memungkinkan peredaran air, udara dan suhu didalam tanah menjadi lebih baik.
  2.  Meningkatkan sifat-sifat fisik tanah, menjamin memperbaiki struktur danporositas tanah sehingga antara pemasukan air dan pengeluarannyamenjadi seimbang, berarti cepat basah dan optimal yang berarti akan menjamin aktifitas biologi akan menjadi optimal pula.

2.3 Tinjauan Tiap Topik

2.3.1 Cacing Tanah Pontoscolex corethrurus

(Wikimedia, 2013)

Pontoscolex corethrurus merupakan jenis cacing penggali tanah (tipe endogeik) dan merupakan salah satu spesies eksotis. Berdasarkan hasil penelitian di Sumberjaya, Lampung (Dewi. et al.,2006), Pontoscolex corethrurus merupakan salah satu dari 5  spesies cacing tanah yang banyak ditemukan setelah adanya alih guna  lahan hutan menjadi kebun kopi. Dari beberapa hasil penelitian terungkap bahwa Pontoscolex corethrurus memiliki sebaran yang cukup luas di Indonesia.  Cacing ini dapat dijumpai di tanah pertanian, belukar dan lapangan yang ditumbuhi rumput – rumputan (Suin, 2003).

Ciri-ciri cacing tanah Pontoscolex corethrurus adalah sebagai berikut:

  1. Tanda – tanda eksternal

Panjang tubuh 55 – 105 mm, diameter 3,5 – 4,0 mm, jumlah segmen 190 – 209. Warnanya keputih-putihan dengan sedikit kecoklatan. Prostomium dan segmen satu ditarik ke dalam. Seta 4 pasang pada tiap  segmen, dari tipe lumbrisin, seta bagian anterior letak masing – masing pasangannya berdekatan, pada segmen X  dan XI  mulai menjauh, seta bagian ventral tersusun bergantian mendekat – menjauh,  seta bagian posterior lebih besar sehingga lebih jelas kelihatannya. Clitellium pada segmen XV atau XVI sampai segmen dorsal menebal mulai seta b, masih terlihat jelas segmen – segmennya, warnanya kekuningan. Lubang spermateka 3 pasang dan terletak pada 6/7 sampai 8/9 pada seta c. Lubang kelamin jantan pada seta 20/21 atau di belakangnya, di daerah clitellum.

  1. Tanda – tanda internal

Seta 5/6 – 10/11 tebal dan kuat, terutama bagian anteriornya. Spermateka seperti silinder yang ujungnya membesar. Vesika seminalis sangat panjang. Jantung terakhir pada segemen XI. Mempunyai 3 pasang ‘chylesaccus’ pada segmen VII – IX. Megnefridia 1 pasang pada tiap – tiap segmennya.

2.3.2 Pemberian Serbuk Gergaji pada Media Tanam

Media tempat hidup cacing bermacam-macam diantaranya sampah organic, serbuk gergaji, jerami, dan lain-lain. Cacing akan menghasilkan casting yang banyak mengandung unsure hara apabila menggunakan bahan organic yang tepat. Kerja sama cacing tanah dengan mikroorganisme member dampak proses penguraian yang berjalan dengan baik (Sinha, 2009).

Keunggulan menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanam yaitu :

  • Banyak tersedia, karena serbuk gergaji merupakan produk sampingan dari industri pengolahan kayu non kertas.
  • Mudah dibentuk, hanya dengan menambahkan sedikit air maka media serbuk gergaji mampu menyimpan air dalam jumlah banyak.
  • Dapat menyimpan zat hara seperti halnya tanah.
  • Memiliki porositas yang cukup tinggi namun bisa diatur kepadatannya hingga mencapai tingkat porositas dengan mengatur rasio pemberian air.

Serbuk gergaji digunakan sebagai tambahan lapisan bahan organic di atas permukaan substrat sehingga dapat menjadi tempat berlindung bagi cacing tanah (Pontoscolex corethrurus) dari suhu tinggi, disebut juga bedding. Menurut Munroe (2004) bedding yang baik memiliki daya serap yang tinggi terhadap air sehingga dapat menjaga kelembaban, mampu menjaga sirkulasi oksigen, memiliki kandungan protein rendah dan rasio C/N yang tinggi. Pada umumnya cacing tanah lebih menyukai bahan organik berukuran kasar dengan kandungan lignin rendah daripada bahan organik berukuran halus dengan kandungan lignin tinggi.

2.3.3 Keterkaitan Urea dengan Cacing Tanah

Pemberian pupuk urea dapat menambah kandungan unsure nitrogen dalam tanah. Nitrogen digunakan oleh cacing tanah untuk membentuk jaringan tubuh sehingga semakin tinggi N dalam bahan organik tanah akan meningkatkan biomasa cacing tanah (Elvi, 2008).

Organ ekskresi terpenting dari cacing tanah adalah nephridia yang berperan sebagai saringan akumulasi ginjal karena terdapat urea dan ammonia dalam jumlah yang besar. Setidaknya terdapat dua nephridia dalam masing-masing segmen. Nephridia memiliki tiga fungsi dalam ekskresi yaitu filtrasi, reabsorbsi, dan transformasi kimia (Nonna, 2003).

2.3.4 Pengaruh Alih Fungsi Lahan terhadap Populasi Cacing Tanah Pontoscolex corethrurus

Alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian biasanya akan menurunkan keragaman jenis cacing tanah tetapi tidak demikian dengan penelitian Dewi  et al. (2006) di Sumberjaya, Lampung. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa diversitas (jumlah spesies) dan kelimpahan cacing tanah (ekor m-2) pada lahan agroforestri berbasis kopi lebih tinggi dari pada di hutan alami karena masuknya beberapa spesies eksotik seperti  Pontoscolex corethrurus,  Nematogenea panamaensis, Dichogaster saliens  yang semuanya merupakan cacing penggali tanah (ecosystem engineers).  Pontoscolex corethrurus merupakan jenis cacing penggali tanah yang berasal dari Brazilia yang tahan hidup pada kondisi lingkungan yang beragam mulai dari lahan terdegradasi (padang lalang), lahan kopi monokultur, agroforestri  berbasis kopi hingga hutan alami yang telah terganggu. Pada hutan alami yang belum mengalami banyak gangguan manusia, Pontoscolex tidak dijumpai.  Masuknya cacing eksotis ke dalam lahan pertanian diduga melalui pupuk, bibit tanaman, peralatan pertanian dan dari aktivitas pertanian lainnya.

Walaupun kerapatan populasi (kelimpahan) cacing tanah pada lahan agroforestri lebih besar dari pada di lahan hutan namun ukuran tubuh cacing lebih kecil, sehingga hal tersebut tidak diikuti oleh peningkatan jumlah pori makro tanah (Hairiah et al., 2004; Dewi et al., 2007). Kecilnya ukuran tubuh cacing penggali tanah diduga menyebabkan kecilnya ukuran liang yang ditinggalkan sehingga peranan dalam meningkatkan porositas tanah di lahan agroforestri juga menjadi lebih rendah.

 

\

BAB III
METODOLOGI

3.1              Waktu dan Tempat

3.1.1    Waktu

Pengambilan sampel tanah dilakukan pada tanggal 29 September 2013. Untuk penggrindingan sampel tanah dilakukan pada 3 Oktober 2013. Persiapan media tanam dilakukan pada tanggal 17 Oktober 2013. Penanaman dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2013. Pengamatan tanaman dilakukan seminggu sekali selama 7 minggu yaitu mulai pada tanggal 5 November 2013 sampai tanggal 17 Desember 2013. Dengan parameter pengamatannya adalah tinggi tanaman, jumlah daun dan intensitas kerusakan pada setiap perlakuan dan ulangan.

3.1.2    Tempat

Pengambilan sampel kami lakukan di Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Pengamatan tanaman yang diamati berada di Plot Erosi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

3.2              Kondisi Umum Wilayah

Secara geografis Desa Tulungrejo terletak pada posisi 7°21′-7°31′ Lintang Selatan dan 110°10′-111°40′ Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 156 m di atas permukaan air laut.

Secara administratif, Desa Tulungrejo terletak di wilayah Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan Hutan Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang. Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Waturejo. Di sisi Selatan berbatasan dengan Desa Sumberagung/Kaumrejo Kecamatan Ngantang, sedangkan di sisi Timur berbatasan dengan Hutan Kecamatan Pujon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peta Desa Tulungrejo

 

3.3  Metode Penelitian

3.3.1    Alat dan Bahan

Alat dan Bahan

Fungsi

Alat

Cangkul mengambil tanah
Karung wadah tanah
Polibag wadah percobaan
mesin penggrinding menghaluskan tanah
Ayakan memisah tanah kasar dan halus
alat tulis mencatat pengamatan
Ember wadah tanah sebelum dilakukan penggridingan

Bahan

Tanah media tanam
pupuk anorganik urea sebagai perlakuan
Cacing Sebagai objek pengamatan
Air untuk irigasi tanaman
Jagung sebagai objek pengamatan

 

3.3.2    Analisa Dasar

Jenis analisa

Nilai

Metode

N

 Kjeldhal

P

 Bray 1

K

 NH4OAC

C-Organik

 Walkey& Black

PH

 pH meter

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3.3    Denah Pot Percobaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3.4    Metode Analisis N total, P, K, C-Organik, dan pH

a)      AnalisispH

 


 

b) AnalisisN total

 


 

c)Analisis P Total

 


 

d) Analisis K Total

 

 


 

 

e) Analisis C-Organik


 

f). AnalisaPerlakuan

            Percobaan yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk N terhadap populasi cacing dan pertumbuhan tanaman jagung pada jenis tanah andisol dilaksanakan di kecamatan Ngantang Kabupaten Malang yang dilakukan pada bulan Oktober sampai awal Desember. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas tiga perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan pertama yaitu control, Perlakuan kedua menggunakan serbuk kayu ukuran kasar dan Perlakuan ketiga dengan serbuk kayu ukuran kasar dan urea. Masing masing perlakuan ditempatkan pada polybag percobaan dan diberi masing-masing empat ekor cacing ke dalam polybag. Kemudian pada tanggal 19 Desember 2013 dilakukan analisis Lab untuk mengukur N total, K, P dan pH serta populasi cacing pada polibag.

 

BAB 4

 PEMBAHASAN

4.1.   Hasil

 

 

29 Oktober 2013

 

 

5 November 2013

 

 

 

 

 

 

 

12 November 2013

 

 

19 November 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

26 November 2013

 

 

3 Desember 2013

 

 

 

 

 

 

10 Desember 2013

 

 

17 Desember 2013

 

 

4.2.   Pembahasan

Pada praktikum Manajement Kesuburan Tanah ini, kita menggunakan media tanam yakni tanah yang berasal dari Desa……….. , tanah ini merupakan tanah dari suatu lahan alih fungsi lahan yang awalnya berupa hutan alami menjadi perkebunan kopi tetapi tetap dibawah naungan pohon ……..

Untuk total tanah yang kita ambil sebesar………. Untuk 9 sampel tanah dan uji lab. 9 sampel tersebut masing-masing mempunyai berat tanah sebesar…….. pada 9 sampel tersebut kita memberi 3 perlakuan, jadi ada 3 perlakuan dan 3 ulangan di masing-masing perlakuan.

Pemberian perlakuan dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2013. Untuk perlakuan ke-1 adalah tanah yang diberi 4 cacing tanah jenis anesic di masing-masing ulangan, kemudain untuk perlakuan ke-2 adalah pemberian cacing tanah jenis anesic juga sejumlah 4 buah di masing-masing ulangan dan ditambah kayu gergaji, dan untuk perlakuan ke-3 adalah penambahan cacing tanah jenis yang sama sejumlah 4 buah dan ditambah kayu gergaji+pupuk urea di masing-masing ulangan.

Menurut analisis data hasil pengamatan yang dilakukan mulai tanggal 05 November 2013 menunjukkan bahwa tinggi tanaman memiliki hasil yang berbeda-beda, untuk perlakuan ke-1 ulangan 1 (G2 1.1) tinggi tanaman sebesar 3,7 cm . ualangan 2 (G2 1.2) sebesar 11,3 cm dan ulangan 3 (G2 1.3) sebesar 7 cm, jadi untuk perlakuan ke-1 ini rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 05 November 2013 adalah 7,33 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 di masing-masing ulangan adalah 2 helai dengan Intensitas penyakit masih 0 artinya masih belum ada kerusakan yang disebabkan oleh hama atau faktor yang lain.

untuk perlakuan ke-2 ada sedikit perbedaan dengan perlakuan ke-1. Bisa dilihat untuk  ulangan 1 (G2 2.1) tinggi tanaman sebesar 6 cm ulangan 2 (G2 2.2) sebesar 8 cm dan ulangan 3 (G2 2.3) sebesar 8,6 cm, jadi untuk perlakuan ke-2 ini rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 05 November 2013 adalah 7,53 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 ulangan 1 (G2 2.1) adalah 1 helai dan ulangan 2 dan 3 masing-masing 2 helai dengan Intensitas penyakit masih 0 artinya masih belum ada kerusakan yang disebabkan oleh hama atau faktor yang lain.

Selanjutnya untuk perlakuan ke-3 ulangan 1 (G2 3.1) tinggi tanaman sebesar 8 cm . ualangan 2 (G2 3.2) sebesar 9 cm dan ulangan 3 (G2 3.3) sebesar 9,3 cm, jadi untuk perlakuan ke-3 ini rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 05 November 2013 adalah 8,76 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 di masing-masing ulangan adalah 2 helai dengan Intensitas penyakit masih 0 sama seperti perlakuan 1 dan 2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk pengamatan pada tanggal 05 November 2013 ini hasil tinggi tanaman yang paling tinggi adalah pada perlakuan ke-3.

Untuk pengamatan pada tanggal 12 November 2013, menunjukkan bahwa tinggi tanaman rata-rata naik, untuk perlakuan ke-1 ulangan 1 (G2 1.1) tinggi tanaman sebesar 18 cm . ualangan 2 (G2 1.2) sebesar 23,5 cm dan ulangan 3 (G2 1.3) sebesar 22,67 cm, jadi untuk rata-rata tinggi tanaman perlakuan ke-1 pada tanggal 12 November 2013 adalah 21,39 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 di masing-masing ulangan adalah 4 helai dengan Intensitas penyakit masih 0. Untuk perlakuan ke-2 rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 12 November 2013 adalah 18,21 cm. Sedangkan untuk perlakuan ke-3 rata-rata tinggi tanaman adalah 21,82 cm. jadi untuk tinggi tanaman jagung pada pengamatan minggu ke-2 ini tetap tertinggi adalah pada perlakuan ke-3.

Selanjutnya pada pengamatan tanggal 19 November 2013, didapatkan hasil tinggi tanaman pada perlakuan pertama dengan tiga ulangan (G2 1.1 ;G2 1.2 dan G2 1.3) adalah 26,3cm ; 30,3cm dan 29cm. Sedangkan pada perlakuan ke dua dengan tiga kali ulangan (G2 2.1 ; G2 2.2 dan G2 2.3) didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturut-turut adalah 19,3cm ; 30cm dan 29cm. Dan pada perlakuan ke tiga dengan tiga kali ulangan (G2 3.1 ; G2 3.2 dan G2 3.3) didapatkan hasil tinggi tanaman yang ditunjukkan dengan nilai secara berturut-turut adalah 31cm ; 29cm dan 29,3cm. Rata-rata tinggi tanaman dari perlakuan 1,2 dan 3 secara berturu-turut adalah 28,53cm ; 26.1cm dan 29,76cm. sedangkan untuk pengamatan jumlah daun yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa rata-rata jumlah daun adalah 4 sampai 5 helai.

Pengamatan pada tanggal 26 November 2013, menunjukkan hasil pada perlakuan 1 ulangan 1 (G2 1.1) tinggi tanaman yang ditunjukkan sebesar 26,67cm, pengamatan pada ualangan 2 (G2 1.2) tinggi tanaman yang didapatkan sebesar 38,67cm dan ulangan 3 (G2 1.3) didapatkan tinggi tanaman sebesar 32cm, dan rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan pada perlakuan pertama ini adalah 32,45cm. Untuk perlakuan ke 2 , pada ulangan 1 (G2 2.1) didapatkan tinggi tanaman 22,3cm , pengamatan pada ulangan ke 2 (G2 2.2) didapatkan hasil 35cm, dan pada ulangan ke 3 (G2 2.3) didapatkan 34,67cm. Rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan dari perlakuan ke 2 ini adalah 30,66. Pada perlakuan ke 3 ulangan pertama (G2 3.1) didapatkan hasil tinggi tanaman 33cm, ulangan ke 2 (G2 3.2) tinggi tanaman yang ditunjukkan adalah 33,3cm, dan pada ulangan ke 3 (G2 3.3) didapatkan hasil tinggi tanaman sebesar 36,67. Rata-rata yang ditunjukkan pada perlakuan ke 3 ini adalah 34,32cm. Hasil yang didapatkan untuk rata-rata jumlah daun pada perlakuan 1 sampai 3 didapatkan hasil secara berturut-turut adalah 15 helai daun.

Berbeda pada tanggal 03 Desember 2013, hasil pengamatan didapatkan hasil tinggi tanaman pada perlakuan pertama dengan tiga ulangan (G2 1.1 ;G2 1.2 dan G2 1.3) adalah 38,3cm ; 43cm dan 49,5cm. Sedangkan pada perlakuan ke dua dengan tiga kali ulangan (G2 2.1 ; G2 2.2 dan G2 2.3) didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturut-turut adalah 33cm ; 39,3cm dan 33,67cm. Dan pada perlakuan ke tiga dengan tiga kali ulangan (G2 3.1 ; G2 3.2 dan G2 3.3) didapatkan hasil tinggi tanaman yang ditunjukkan dengan nilai secara berturut-turut adalah 34,67cm ; 48,67cm dan 47,3cm. Rata-rata tinggi tanaman dari perlakuan 1,2 dan 3 secara berturu-turut adalah 43,6cm ; 35,32cm dan 43,55cm. Hasil pengamatan jumlah daun yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa rata-rata jumlah daun pada perlakuan 1 adalah 6 helai daun, pada perlakuan ke 2 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun sebanyak 6 helai daun , dan pada perlakuan ke 3 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun adalah 7 helai daun.

Pada pengamatan yang dilakukan pada tanggal 10 Desember 2013 didapatkan hasil tinggi tanaman pada perlakuan 1 ulangan 1 (G2 1.1) adalah 38,8cm. Pada ulangan ke 2 (G2 1.2) didapatkan hasil tinggi tanaman yaitu 47,3cm , dan ulangan ke 3 (G2 1.3)  didapatkan hasil tinggi tanaman adalah 53,4cm. Pada pengamatan perlakuan ke 2 didapatkan hasil dari ulangan pertama(G2 2.1) , ulangan ke 2 (G2 2.2) dan ulangan ke 3 (G2 2.3) didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturu-turut adalah 40,5cm ; 49cm ; dan 36,6cm. Sedangkan pada perlakuan ke 3 didapatkan data tinggi tanaman pada ulangan pertama (G2 3.1) adalah 40,3cm , pada ulangan ke 2 (G2 3.2) didapatkan hasil tinggi tanaman 47,8 dan pada ulangan ke 3 (G2 3.1) didapatkan hasil 50,3cm . Dimana rata-rata tinggi tanaman yang ditunjukkan dari tiap-tiap perlakuan secara berturut-turut dari perlakuan 1 sampai perlakuan 3 adalah 46,5cm ; 42,03cm ; 46,16cm. hasil dari pengamatan jumlah daun didapatkan hasil rata-rata jumlah daun dari 3 perlakuan didapatkan hasil bahwa perlakuan 1 dan perlakuan 2 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun sebanyak 6 helai, sedangkan rata-rata jumlah daun yang ditunjukkan pada perlakuan ke 3 adalah 7 helai daun.

Pengamatan terakhir dilakukan pada tanggal 17 Desember 2013, didapatkan hasil dari tinggi tanaman perlakuan 1 ulangan 1 (G2 1.1) adalah 39cm. hasil yang didapatkan dari ulangan ke 2 (G2 1.2) adalah 53,67cm, dan pada ulangan ke 3 (G2 1.3) didapatkan hasil tinggi tanaman sebesar 41,35cm. Pada perlakuan 2 ulangan ke 1 (G2 2.1) hasil tinggi tanaman yang didapatkan adalah 53cm, pada ulangan ke 2 (G2 2.2) didapatkan hasil 64,33cm dan pada ulangan ke 3 (G2 2.3) adalah 39,67cm. Sedangkan pada perlakuan ke 3 dari ulangan pertama hingga ulangan ke tiga didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturut-turut ditunjukkan dengan nilai 49,67cm ; 44,33cm dan 52,75cm . Rata-rata tinggi tanaman yang ditunjukkan pada perlakuan pertama adalah 44,67cm. Rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan pada perlakuan ke 2 adalah 52,33cm. Dan rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan pada perlakuan ke 3 adalah 48,92cm. Pada pengamatan jumlah daun dari tiap-tiap perlakuan didapatkan hasil pada perlakuan pertama adalah 3 helai daun. Pada perlakuan ke 2 didapatkan rata-rata jumlah daun sebanyak 1 helai , dan pada perlakuan ke 3 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun sebanyak 3 helai daun.

Pada pengamatan minggu pertama hingga minggu akhir pengamatan tinggi tanaman selalu mengalami perubahan dimana setiap polybag memiliki tinggi yang berbeda beda ( bisa dilihat pada tabel/ grafik pengamatan) ini bisa terjadi karena adanya perawatan secara berkala disetiap minggunya,dan juga pemberian air yang selalu rutin meskipun musim hujan juga sedikit banyak mempengaruhi pertumbuhan jagung. Selain penyiraman faktor lain yang bisa menyebabkan perbedaan tinggi tanaman yaitu penambahan serbuk gergaji dan jumlah cacing pada setiap polybagnya, serbuk gergaji bisa menambah kesuburan bagi tanah dan menambah unsur hara pada tanah. Namun seresah dari serbuk gergaji ini membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk terdekomposisi. Pada minggu awal pertumbuhan jagung belum nampak adanya tanda-tanda kerusakan pada daun jagung, tinggi tanaman dipengaruhi oleh kandungan unsur hara yang terdapat pada media tanam, selain itu faktor seperti suhu,kelembaban  jug sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman jagung. Setiap polybag berisikan 3 benih jagung yang masinng-masing polybag mempunyai tinggi yang berbeda. Artinya bahwa setiap benih mempunyai kecepatan daya berkecambah yang berbeda antara benih satu dengan yang lainnya.

Dari interpretasi data diatas mulai tanggal 05 November sampai 17 Desember 2013, rata-rata untuk tinggi tanaman paling tinggi adalah perlakuan ke-3 yakni dengan penambahan cacing, serbuk gergaji dan penambahan urea, kemudian untuk perlakuan ke-1 dan ke-2 rata-rata tinggi tanaman tidak berbeda jauh, dan selanjutnya untuk jumlah cacing sendiri yang awalnya pada setiap ulangan baik pada perlakuan 1,2 dan 3 masing-masing 4 buah. Yang terjadi penambahan jumlah cacing adalah pada perlakuan 1 ulangan 2 (G21.2) yakni ada penambahan 2 buah cacing jadi total ada 6 cacing. Dan penambahan pada perlakuan 3 ulangan 2 (G2 3.2) sebanyak 3 buah jadi total 7 buah. Dari analisis pengamatan perbedaan tinggi tanaman jagung yang signifikan pada perlakuan ke-3 dikarenakan memang tanaman jagung yang merupakan salah satu jenis tanaman yang membutuhkan banyak unsur N pada perkembangannya, Urea yang diberikan pada perlakuan ke-3 nampaknya menajadi indicator perubahan tinggi tanaman ditambah dengan adanya cacing tanah dimana kotoran cacing tanah itu sendiri mengandung unsur N yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung dan cacing tanah juga dapat berperan dalam proses dekomposisi bahan organik, dan penyampuran bahan organik tersebut dengan tanah. Cacing tanah juga berperan dalam peningkatan aerasi tanah, karena aktivitas mereka dalam membuat lubang dalam tanah.

          Pernyataan diatas sesuai dengan literatur, yang dijelaskan oleh Edwards dan Lofty (1977), Bahwa cacing memang dapat menambah bahan organik karena cacing tanah berperan dalam dekomposisi, dan cacing tanah juga menambah aerasi karena cacing tanah yang berpindah-pindah. Oleh karena itu cacing dapat juga dijadikan indikasi tanah sehat. Dari cacing yang diberikan awal pertanaman yaitu 4 cacing, pada hasil akhir pengamtan, cacing mengalami perubahan jumlah, yaitu yang bertambah   pada  perlakuan ketiga yang merupakan perlakuan penambahan serbuk  kayu dan urea, bertambah mejadi  7, lalu pada  kontrol, bertamabah menjadi 6 cacing, sedangkan perlakuan yang serbuk kayu saja, mengalami penurunan.  HIPOTESIS. Jadi ini cocok atau tidak.

 

 

 

 

 

 

Lampiran

Tanggal Pengamatan Perlakuan Tinggi Tanaman Jumlah Daun Jumlah Cacing Intensitas Kerusakan
29 Oktober 2013 G2  1.1 4
G2  1.2 4
G2  1.3 4
G2  2.1 4
G2  2.2 4
G2  2.3 4
G2  3.1 4
G2  3.2 4
G2  3.3 4
05 November 2013 G2  1.1 3.7 cm 2 0
G2  1.2 11.3 cm 2 0
G2  1.3 7 cm 2 0
G2  2.1 6 cm 1 0
G2  2.2 8 cm 2 0
G2  2.3 8.6 cm 2 0
G2  3.1 8 cm 2 0
G2  3.2 9 cm 2 0
G2  3.3 9.3 cm 2 0
12 November 2013 G2  1.1 18 cm 4 0
G2  1.2 23.5 cm 4 0
G2  1.3 22.67 cm 4 0
G2  2.1 14.5 cm 3 0
G2  2.2 19.83 cm 4 0
G2  2.3 20.3 cm 3 0
G2  3.1 21.33 cm 4 1
G2  3.2 22.83 cm 4 1
G2  3.3 21.3 cm 3 0
19 November 2013 G2  1.1 26.3 cm 4 2
G2  1.2 30.3 cm 5 3
G2  1.3 29 cm 4 2
G2  2.1 19.3 cm 4 2
G2  2.2 30 cm 5 2
G2  2.3 29 cm 5 0
G2  3.1 31 cm 5 2
G2  3.2 29 cm 4 3
G2  3.3 29.3 cm 5 0
26 November 2013 G2  1.1 26.67 cm 4 2
G2  1.2 38.67 cm 6 3
G2  1.3 32 cm 5 2
G2  2.1 22.3 cm 4 3
G2  2.2 35 cm 6 2
G2  2.3 34.67 cm 5 0
G2  3.1 33 cm 5 2
G2  3.2 33.3 cm 5 3
G2  3.3 36.67 cm 5 0
03 Desember 2013 G2  1.1 38.3 cm 5 2
G2  1.2 43 cm 7 3
G2  1.3 49.5 cm 7 2
G2  2.1 33 cm 5 3
G2  2.2 39.3 cm 8 2
G2  2.3 33.67 cm 5 3
G2  3.1 34.67 cm 6 2
G2  3.2 48.67 cm 8 3
G2  3.3 47.3 cm 7 2
10 Desember 2013 G2  1.1 38.8 cm 5 3
G2  1.2 47.3 cm 7 4
G2  1.3 53.4 cm 5 3
G2  2.1 40.5 cm 7 3
G2  2.2 49 cm 6 2
G2  2.3 36.6 cm 6 3
G2  3.1 40.3 cm 6 2
G2  3.2 47.8 cm 7 3
G2  3.3 50.37 cm 8 4
17 Desember 2013 G2  1.1 39 cm 6 2
G2  1.2 53.67 cm 7 6
G2  1.3 41.35 cm 5 1
G2  2.1 53 cm 7 0
G2  2.2 64.33 cm 7 1
G2  2.3 39.67 cm 6 2
G2  3.1 49.67 cm 6 1
G2  3.2 44.33 cm 7 7
G2  3.3 52.75 cm 8 0

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

B.n. Richards. 1974. Introduction to the Soil Ecosystem.(journal online).

Brady, N.C. 1990. The Nature and Properties of Soil. Mac Millan Publishing Co., New York.

Dewi, S. W., Yanuwiyadi B., Suprayogo, D. dan Hairiah, K. 2007. Dapatkah sistem agroforestri mempertahankan  diversitas cacing tanah setelah alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian? AGRIVIT A , 28 (3) : 198-220.

Hairiah, K., Suprayogo, D., Widianto, Berlian, Suhara, E., Mardiastuning, A., Widodo, R. H., Prayogo, C. dan Rahayu, S., 2004. Alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian: ketebalan seresah, populasi cacing tanah dan makroporositas tanah. AGRIVITA, 26 (1): 68-80.

Herawati, D. 2013. Olah tanah konservasi (olah tanah minimum dan tanpa olah tanah). http://blog.ub.ac.id/hierra/2012/03/28/olah-tanah-konservasi-olah-tanah-minimum-dan- tanpa-olah-tanah/. Diakses tanggal 22 Desember 2013.

Letik, Elvi, S. 2008. Respon Cacing Tanah (Pontoscolex corethrurus) terhadap Penambahan Berbagai Kualitas dan Ukuran Bahan Organik. Jurusan Tanah Universitas Brawijaya. Malang.

Munroe, G. 2004. Manual of On-Farm Vermicomposting and Vermiculture. Organic Agriculture Center. Canada.

Pawitra, N. H. 2010. Penolahan tanah. http://www.scribd.com/doc/94641958 /pengolahan-tanah. Diakses tanggal 22 Desember 2013.

Royhanna, Nonna. 2003. Pengaruh Taraf Ampas Tahu dalam Media Serbuk Sabut Kelapa terhadap Panjang, Diameter Tubuh Cacing Tanah. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Santoso, E., T. Prihartini, dan S. Widati. 1999. Pengaruh Pemanfaatan Jerami dan Inokulan Mikrobia Terhadap Sifat Kimia Tanah dan Hasil Padi. Bandung: Konggres Nasional VII. HITI.

Santoso, P. and Ahmad Safrudin. 1991. Dampak Pembangunan Terhadap Tanah, Tataguna Lahan dan Tata ruang. Bandung.

Scholes, M.C., Swift, O.W., Heal, P.A. Sanchez, JSI., Ingram and R. Dudal, 1994. Soil Fertility Research In Response To Demand For Sustainability. In The Biological Managemant Of Tropical Soil Fertility (Eds Woomer, Pl. and Swift, MJ.) John Wiley & Sons. New York.

Sinha, R. K. 2009. Earthworms Vermicompost: A Powerfull Crop Nutrient Over the Conventional Compost & Protective Soil Conditioner Against the Destructive Chemical Fertilizers for Food Safety and Security. Am-Euras. J. Agric. & Environ. Sci., Vol. 5, (01-55).

Stevenson, F.J., Alanah Fitch. 1997. Kimia pengkomplekan ion logam dengan organik larutan tanah. In Interaksi Mineral Tanah dengan Bahan Organik dan Mikrobia. (Eds Huang P.M. and Schnitzer, M.) (Terj. Didiek Hadjar Goenadi), pp. 41-76. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Suin, N. M. 2003. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Bandung.

Sutejo.M.M, 2003. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta: Rineka Cipta.

Tian, G., L. Brussard, B.T., Kang and M.J. Swift. Soil Fauna-Mediated Decomposition Of Plant Residues Under Contreined Environmental And Residue Quality Condition. In Driven by Nature Plant Litter Quality and Decomposition, Department of 30 Biological Sciences. (Eds Cadisch, G. and Giller, K.E.), pp. 125-134. Wey College, University of London, UK.

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on Laporan Besar Praktikum Manajemen Kesuburan Tanah

TUGAS TERSTRUKTUR PENGANTAR USAHA TANI ‘’Peran Kelembagaan dalam Pengembangan Usaha Tani Di Indonesia”

TUGAS TERSTRUKTUR

PENGANTAR USAHA TANI

‘’Peran Kelembagaan dalam Pengembangan Usaha Tani Di Indonesia

DisusunOleh :

Nama          : HADI SUSILO

NIM            : 115040213111030

Kelas          : G

Dosen                   : Dwi Retno Andriani, SP.,MP.

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on TUGAS TERSTRUKTUR PENGANTAR USAHA TANI ‘’Peran Kelembagaan dalam Pengembangan Usaha Tani Di Indonesia”

Model Kemitraan

BAB 1. PENDAHALULUAN

1.1.Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang mampu memberikan kontribusi yang cukup besar terhadap perekonomian di Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah menetapkan kebijakan yang menjadikan sektor pertanian sebagai bagian dari pembangunan nasional. Tujuan pembangunan pertanian pada lima tahun mendatang (jangka menengah) adalah meningkatkan produksi pangan bagi pemenuhan kebutuhan pangan dalam rangka mencapai ketahanan dan keamanan pangan nasional.

Kondisi pertanian Indonesia dihadapkan pada permasalahan pengusahaan skala ekonomi kecil dengan penguasaan lahan yang kecil dan teknologi budidaya yang sederhana, serta permodalan yang terbatas. Pertanian dengan skala kecil masih dipengaruhi oleh faktor alam dan dihadapkan pada permasalahan pasar yang tidak sempurna seperti biaya transaksi yang tinggi dan ketidakjelasan informasi pasar. Selain itu, pertanian skala kecil menghadapi masalah lain seperti ketersediaan bahan baku pertanian (saprodi) seperti pupuk, benih, pestisida, dan obat-obatan.

Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan di sektor pertanian khususnya pertanian skala kecil yaitu mengintegrasikan petani ke dalam sektorsektor yang dianggap lebih modern, yaitu sektor industri. Hal tersebut merupakan basis yang melatarbelakangi munculnya konsep kemitraan (contract farming/partnership). Landasan peraturan mengenai kemitraan di Indonesia diatur oleh Peraturan Pemerintah No. 44 Tahun 1997 yang menyebutkan bahwa kemitraan merupakan kerjasama antara Usaha Kecil dengan memperlihatkan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan. Artinya diperlukan suatu kerjasama yang sinergis antara petani atau usaha kecil yang memiliki lahan dan tenaga kerja dengan perusahaan besar yang mempunyai modal dan tenaga ahli, di bawah pengawasan pemerintah dengan tujuan untuk menggali potensi pertanian dalam arti luas yang merupakan cerminan dari masyarakat agraris.

Pola kemitraan merupakan suatu strategi dalam meningkatkan kinerja pelaku agribisnis khususnya petani/pengusaha kecil (Haeruman, 2001). Pada pola kemitraan pihak perusahaan memfasilitasi pengusaha kecil dengan modal usaha, teknologi, manajemen modern dan kepastian pemasaran hasil, sedangkan pengusaha kecil melakukan proses produksi sesuai dengan petunjuk teknis dari pihak pengusaha besar.

 

1.2.Tujuan

  1. Mahasiwa dapat memahami tentang teori-teori kemitraan
  2. Mahasiswa mempunyai kemampuan untuk menganalisis secara deskriptif pola kemitraan terhadap suatu usahatani

 

 

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Model Kemitraan

  1. Model Intiplasma

Model intiplasma adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar, yang didalamnya Usaha Menengah atau Usaha besar bertindak sebagai inti dan usaha kecil selaku plasma. Pada model kemitraan ini dapat berupa kemitraan langsung antara kelompok tani sebagai plasma yang memproduksi bahan baku dengan perusahaan agroindustri yang melakukan pengolahan.

Perusahaan inti berkewajiban untuk melakukan pembinaan mengenai teknis produksi agar dapat memperoleh hasil yang sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu pembinaan dilakukan untuk meningkatkan kualitas manajemen kelompok tani/agroindustri dan plasma. Perusahaan mitra bertindak sebagai perusahaan inti yang menampung, membeli hasil produksi, memberi pelayanan bimbingan kepada petani atau kelompok tani dan kelompok mitra sebagai plasma.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar1. Pola kemitraan inti plasma

 

  1. Model Kontrak Beli

Model kemitraan ini, terjadi hubungan kerjasama antara kelompok skala kecil dengan perusahaan agroindustri skala menengah atau besar yang dituangkan dalam suatu perjanjian kontrak jual beli secara tertulis untuk jangka waktu tertentu yang disaksikan oleh Instansi Pemerintah. Kelompok tani mengkoordinasikan para anggotanya dalam pengaturan produksi, pengumpulan, dan penyortiran produksi yang akan dibeli oleh perusahaan, melakukan pengemasan produksi sesuai dengan permintaan perusahaan pembeli dan mewakili anggotanya dalam hubungannya dengan perusahaan pembeli. Dalam model ini pemerintah tidak terlibat secara langsung, fungsinya hanya sebagai moderator dan fasilitator.

Kontrak Jual Beli

 

 

 

Fasilitator

Gambar 2. Mekanisme kerja pola kontrak beli (contract farming)

 

  1. Model Sub Kontrak

Model sub kontrak adalah hubungan kemitraan antara usaha kecil dengan usaha menengah atau besar yang didalamnya usaha kecil memproduksi komponen dan atau jasa yang merupakan bagian dari produksi usaha menengah atau usaha besar. Model kemitraan ini menyerupai pola kemitraan contract farming tetapi pada pola ini kelompok tidak melakukan kontrak secara langsung dengan perusahaan pengolah (processor) tetapi melalui agen atau pedagang.

 

 

 

 

 

 

 

         Gambar 3. Mekanisme kerjasama maelalui Pola Sub Kontrak

  1. Model Dagang Umum

Model dagang umum adalah hubungan kemitraan antara perusahaan kecil dengan usaha menengah atau besar atau usaha menengah memasarkan hasil produksi usaha kecil memasok kebutuhan yang diperlukan oleh usaha menengah atau usaha besar atau usaha kecil yang membesarkan hasil usaha besar.

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Model Kemitraan Keagenan

  1. Model Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA)

Model kerjasama Operasional Agribisnis (KOA) merupakan hubungan kemitraan yang didalamnya kelompok mitra menyediakan lahan, sarana, dan tenaga kerja, sedangkan perusahaan-perusahaan mitra menyediakan biaya atau modal dan atau sarana untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditi pertanian.

 

 

Gambar 5. Mekanisme pola kerjasama operasional Agribisnis (KOA)

 

2.2.Model Pemberdayaan Pengembangan

Guna mempercepat proses pemberdayaan koperasi dan UKM, maka model-model pemberdayaan pengembangan-pengembangan dapat diimplementasikan. Model-model pemberdayaan pengembangan antara lain:

  1. Pola Koperasi Usaha Perkebunan

Masyarakat membentuk kopersi perkebunan, membangun kebun dan fasilits pengolahannya serta mengembangkan sarana dan prasarana pokok lainnya. Dalam proses pengembangan koperasi usaha perkebunan ini masyarakat dapat meminta bantuan pihak ketiga berdasarkan suatu Contract Management (CM).

  1. Pola Patungan Koperasi-Investor

Pola ini menghilangkan pemberantasan kelembagaan antara plasma dan inti, sejak awal masyarakat membentuk koperasi dan berpatungan dengan perusahaan sebagai suatu unit usaha patungan perkebunan. Dengan pola ini secara menyeluruh komposisi pemilikan saham koperasi dan perusahaan menjadi sekitar 65% : 35%.

  1. Pola Patungan Investor-Koperasi

Pola ini seperti pola II, tetapi kontribusi koperasi terbatas pada inkind contribution yang disetarakan dengan nilai uang, misalnya lahan usaha koperasi (sebagai saham). Pangsa (sharing) koperasi pada tahap awal sekurang-kurangnya 20%, yang selanjutnya secara bertahap mengingkat sesuai dengan perkembangan kondisi usahanya.

  1. Pola BOT

Pola ini terbuka bagi investor (BUMN/BUMS perkebunan), termasuk PMA. Dalam pola ini investor membangun kebun, pabrik dan sarana serta prasarana penduduknya. Tahapan serta persyaratan membangun, mengoperasikan dan mentransfer dirancang kesesuaiannya dengan karakteristik komoditas perkebunan yang diusahakan serta perkiraan kondisi kebun dan pabrik juga masih menguntungkan secara teknik ekonomis untuk dikelola koperasi.

  1. Pola BTN

Pola ini mengadopsi pola pengembangan perumahan rakyat yang dikembangkan oleh Bank Tabungan Negara (BTN). Pemerintah bukan hanya menyediakan paket kredit untuk membangun kebun, tetapi juga mengembangkan kelembagan keuangan perkebunan (seperti BTN) sebagai lembaga yang membiayai pembangunan kebun atau pabrik, yang dilaksanakan oleh developer. Developer dibatasi kepada BUMN/BUMS yang memiliki core competence dibidang perkebunan. Kapling kebun yang telah dibangun dapat dimiliki oleh para pihak yang berminat menanam modalnya dalam bentuk kebun. Koperasi dikembangkan untuk mengelola kawasan perkebunan tersebut secara utuh dengan dana operasionalnya bersumber dari jasa pengelolaan kawasan perkebunan dimaksud.

 

2.3.Ruang Lingkup Kemitraan

Konsep kemitraan bukan merupakan suatu hal yang baru. Namun, pengetahuan dan pengaplikasian dari konsep kemitraan perlu untuk dikembangkan. Kemitraan diharapkan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi ketimpangan ekonomi usaha skala kecil-menengah (petani) dengan usaha skala besar. Hubungan ideal dalam kemitraan adalah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Usaha skala kecil-menengah memerlukan bantuan modal dan teknologi, sementara itu usaha skala besar memerlukan bahan baku yang cukup dan berkesinambungan serta membutuhkan pihak eksternal untuk memperlancar arus pemasaran produk.

Kemitraan dalam era pembangunan. Pembangunan kawasan usahatani pada hakekatnya melibatkan 3 (tiga) komponen (mitra) yang saling berinteraksi yaitu:

  1. Hulu-Hilir

Investor dapat melakukan kemitraan usaha mulai dari lingkup penyediaan sarana dan prasarana sampai dengan pemasaran (seluruh sub sistem dari hulu hilir).

  1. Parsial

Investor hanya bergerak pada satu atau lebih lingkup kegiatan kemitraan usaha tani tetapi tidak secara keseluruhan. Misalnya hanya mengenai penyediaan sarana dan prasarana, atau produksi saja atau pemasaran saja.

Dapus

http://www.nafetrans.go.id/investasi swasta/modelkemitraan.php

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on Model Kemitraan

TUGAS KULIAH TERSTRUKTUR “Manajemen Hama dan Penyakit Tanaman Terpadu”

TUGAS KULIAH TERSTRUKTUR

“Manajemen Hama dan Penyakit Tanaman Terpadu

 

Oleh: Kelompok 4

Faranissa Anggi Vivedru 115040201111343
Febri Dwi Mulyanto 115040207111001
Farah Nabila 115040207111036
Hadi Suwitnyo 115040213111020
Hadi Susilo 115040213111030
Giri Lasmono 115040213111031
Fitri Wahyuni 115040213111050

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI. 2

1.      PENDAHULUAN.. 3

1.1.….. Latar Belakang. 3

2.      PEMBAHASAN.. 4

2.1….. Karakteristik Tanaman Kapas. 4

2.2….. Hama pada Tanaman Kapas. 6

2.3….. PHT pada Tanaman Kapas. 8

3.      PENUTUP.. 8

a.…….. Kesimpulan. 8

b.…….. Saran. 8

DAFTAR PUSTAKA.. 8

 

 

  1. 1.   PENDAHULUAN

 

1.1.Latar Belakang

Kapas merupakan salah satu komoditas penting, karena menjadi bahan baku utama industri tekstil. Namun kemajuan industri kecil belum sepenuhnya mendapat dukungan dalam penyediaan bahan baku. Kebutuhan bahan baku serat terus meningkat mencapai sekitar 464.000 ton pertahun, sedangkan produksi nasional hanya mampu menyediakan sekitar 2600 t (+0,6 %), dari kebutuhan tersebut, sehingga setiap tahunnya diperlukan impor kapas sebesar 99,4 % dari kebutuhan. Rendahnya produksi kapas dalam negeri, selain karena menurunnya areal tanaman kapas sejak 1984/1985 seluas 46.380 ha, menjadi sekitar 16000 ha pada tahun terakhir, juga karena rendahnya produktivitas yang dicapai yaitu sekitar 500 kg/ha kapas berbiji.

Masalah utama perkapasan adalah tingginya intensitas serangan hama kapas terutama hama pengisap daun dan penggerek buah. Kehilangan hasil akibat hama pengisap daun dapat mencapai 53,9 % dan penggerek buah sampai 90 %. Sedangkan varietas kapas yang dikembangkan selama ini rentan terhadap serangan hama tersebut. Salah satu alternatif yang diperkirakan dapat mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan benih kapas transgenik, khususnya untuk melawan penggerek buah (H. armigera).

Untuk mengurangi ketergantungan import dan menghemat devisa negara, perlu ditingkatkan produksi kapas dalam negeri secara terus menerus melalui pembinaan petani kapas dengan mendekatkan paket teknologi PHT.

 


  1. 2.      PEMBAHASAN

2.1.Karakteristik Tanaman Kapas

Tanaman kapas secara botanis disebut dengan Gossypium sp yang memiliki sekitar 39spesies dan 4 spesies diantaranya yang dibudidayakan yaitu : Gossypium herbacium L, Gossypium arberium L, Gossypium hersutum L dan Gossypium barbadense; dengan klasifikasi sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Angiospermae

Sub Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Malvales

Famili : Malvaceae

Genus : Gossypium

Spesies :Gossypium sp

Tanaman kapas mempunyai akar tunggang yang panjang dan dalam, bahkan sering lebih panjang dari pada tanamannya sendiri. Dari akar tunggang akan tumbuh akar-akar cabang, dan terus bercabang hingga membentuk akar-akar serabut. Pada waktu berkecambah calon akar tunggang tumbuh terlebih dahulu masuk kedalam tanah diikuti oleh keping biji.

Batang terdiri dari ruas dan buku, dari buku keluar cabang vegetatif dan generatif.Selama pertumbuhan yang aktif, cabang generatif terbentuk tiap tiga hari, jumlah cabang generatif bervariasi antara 15-20 tergantung pada varietas dan lingkungan.Cabang-cabang generatif akan menghasilkan kira-kira 50 kuncup bunga dan dalam keadaan normal hanya 35-40% yang menjadi buah.

Daun terbentuk pada buku-buku batang utama dan cabang generatif.Daun pertama terbentuk pada buku ke-2 pada umur 10-12 hari (buku ke-1 berisi daun lembaga).Daun berlekuk 3 atau 5, berbulu dan berkelenjar.Pada daun terdapat stomata yang berperan yang berperan pada proses-proses fotosintesis dan respirasi.Jumlah stomata pada permukaan bahwa kira-kira dua kali jumlah stomata pada permukaan atas.

Pembuahan terjadi 30 jam setelah penyerbukan. Pada waktu buah (boll) masak, kulit buah retak dan kapasnya/seratnya menjadi kering dan siap dipanen.Bagian serat terpanjang terdapat pada pucuk biji.Panjang serat bervariasi tergantung jenis dan varietasnya. Panjang serat yang dikembangkan di Indonesia sekitar 26-29 mm. Keterbatasan air pada periode pemanjangan serat, akan mengurangi panjang serat. 1 boll kapas ± 3,5 – 4 gram.

Bentuk biji bulat telur, berwarna cokelat kehitaman dan berat biji per 100 biji sekitar 6-17 gram tergantung varietas. Serat melekat erat pada biji berwarna putih yang disebut fuzz (kabu-kabu). Biji kapas tidak hanya dilapisi kabu-kabu, tetapi diluarnya terdapat lapisan serabut yang disebut serat kapas (kapas).Kulit biji menebal membentuk lapisan serat berderet pada kulit bagian dalam.

  1. Pertumbuhan tanaman

Berdasarkan umur, tanaman kapas dapat digolongkan kedalam 3 golongan yaitu kapas dalam (umur 170-180 hari), kapas tengahan/medium (umur 140 – 150 hari) dan kapas genjah ( < 230 hari). Kapas yang ditanam di Indonesia umumnya termasuk kapas tengahan. Pertumbuhan tanaman kapas setiap golongan masing-masing berbeda tergantung varietas, sebagai gambaran fase pertumbuhan kapas dalam adalah sebagai berikut :

 

Table 1. Fase pertumbuhan tanaman kapas

Kapas sangat rentan terhadap cuaca yang berawan, selama 160 hari pertumbuhannya, kapas memerlukan 800 – 850 jam penyinaran matahari atau 5 jam per hari. Keawanan lebih dari 50% atau penyinaran kurang dari 5 jam/hari atau kelembaban lebih dari 90% akan mengurangi pembentukan buah.

  1. Varietas Kapas

Sudah banyak varietas kapas yang dilepas oleh Balittas Malang.Beberapa diantaranya adalah Kanesia 8, LRA-5166 dan ISA 2054, Hybrida (HSC 138, HSC 188 dan HSD 57).Potensi masing-masing varietas sebagai berikut. Dalam pelaksanaan program akselerasi kapas digunakan benih kapas varietas Kanesia 8, ISA 205A dan HSC 138.

 

Table 2. Varietas kapas

2.2.Hama pada Tanaman Kapas

Hama utama kapas (Gossypium hirsutum L.) dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok hama pengisap dan penggerek. Pengisap daun Amrasca biguttula (Homoptera) dan penggerek buah Helicoverpa armigera (Lepidoptera) merupakan hama utama yang dapat menurunkan produk- tivitas tanaman kapas. A. biguttula, terutama nimfanya, biasa menyerang tanaman kapas pada fase vegetatif sampai generatif.Gejala khas serangan A. biguttula, yaitu daun menjadi keriput dan kering dengan warna kecokelatan seperti terbakar. Apabila terjadi serangan tinggi A. biguttula pada tanaman umur lebih dari 30 hari maka pertumbuhan akan terhambat dan bahkan mati sebelum dimulai fase generatif. Selain hama pengisap daun, tanaman kapas juga diserang oleh hama penggerek buah H. armigera yang merusak kuncup bunga dan buah kapas. NASREEN et al. (2004) mengatakan bahwa satu ekor larva H. armigera selama fase hidupnya (+ 25 hari) dapat menghabiskan 40-57% kuncup bunga dan buah kapas.Selain A. biguttula  dan H. armigera, terdapat beberapa hama lain yang termasuk hama
penting pada tanaman kapas seperti, Earias vittela dan  Pectinophora gossypiella

Gambar 1. Hama pada Kapas

 

  1. Hama penggerek pucuk

Gambar 2. Hama Penggerek Pucuk

 

2.   Ulat buah ( hama penggerek buah)

 

Gambar 3. Hama Penggerek Buah

 

3.   Penggerek buah warna jingga

 

Gambar 4. Hama Penggerek Buah Warna Jingga

 

4.   Wereng kapas

 

Gambar 5. Hama Wereng Kapas

2.3.PHT pada Tanaman Kapas

Beberapa cara yang termasuk dalam teknologi pengendalian secara terpadu hama kapas antara lain  :

  • Budidaya Tanpa Olah Tanah

Pengembangan kapas di lahan sawah tadah hujan, seperti di Lamongan, Jawa Timur dan Blora, Jawa Tengah menerapkan budi daya tanpa olah tanah.Praktek seperti ini dapat mendorong perkembangan organisme tanah, seperti mikroarthropoda yang merupakan mangsa alternatif predator.Pengolahan tanah secara intensif menurunkan populasi mikroarthropoda tanah.

 

  • Perlakuan Benih dan Penggunaan Varietas Tahan

Agar pengendalian hama berbasis ekologi optimal perlu didukung oleh pertumbuhan tanaman yang sehat. Selain dengan menerapkan teknologi budi daya yang tepat, untuk mendapatkan tanaman yang sehat maka benih harus diperlakukan dengan insektisida untuk mengantisipasi serangan wereng kapas.

Perlakuan terhadap benih sangat penting karena sampai saat ini belum tersedia Jurnal Litbang Pertanian, 30(3), 2011 83 varietas kapas yang toleran terhadap wereng kapas.Varietas kapas yang ada, yaitu Kanesia 1 sampai 15 bersifat moderat tahan terhadap wereng kapas.Perlakuan benih menyebabkan tanaman kapas mengandung insektisida hingga umur 45 hari sehingga terlindung dari serangan wereng kapas. Keuntungan pengendalian hama dengan perlakuan benih antara lain adalah kompatibel dengan cara pengendalian yang lain, mudah dilaksanakan, dan relative aman terhadap lingkungan.

Perakitan varietas tahan wereng kapas dilakukan sejak tahun 1987 dengan memilih keragaan tanaman yang berbulu, produksi tinggi dan mutu serat yang sesuai untuk industri tekstil.Sampai dengan tahun 2006 telah dilepas seri varietas Kanesia hingga 13 varietas yang pada umumnya mempunyai sifat ketahanan moderat terhadap wereng kapas.Morfologi tanaman yang berbulu, terutama pada daun (disebut trichom), menyebabkan wereng kapas tidak dapat dengan mudah menghisap cairan daun, sehingga morfologi seperti ini tidak disukai oleh wereng kapas (non preference).Dengan morfologi tanaman yang berbulu tersebut, maka tanaman terhindar dari adanya populasi tinggi wereng yang menyebabkan kerusakan.Morfologi tanaman yang berbulu merupakan media yang disukai H. armigera untuk meletakkan telur.Walaupun demikian, populasi larva selalu rendah pada tanaman dengan morfologi berbulu.Sesuai dengan teori density dependent factor, populasi telur yang tinggi tersebut diikuti dengan adanya populasi musuh alami yang tinggi. Pada kapas varietas LRA 5166 yang mempunyai ketahanan tinggi terhadap wereng kapas (476 trichom/cm2), populasi telur H. armigera mencapai 9 butir/m2 dengan persentase parasitisasi 45%, sedangkan pada varietas Tamcot yang rentan terhadap wereng kapas (73 trichom/cm2), pupulasi telur H. armigera 6 butir/m2 dengan persentase parasitisasi 32%. Selain populasi musuh alami yang tinggi, keragaman spesies parasitoid yang menyerang telur H. armigera tersebut juga lebih tinggi dibandingkan pada pertanaman dengan populasi telur yang rendah.Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan varietas tahan wereng menyebabkan populasi telur penggerek buah meningkat, tetapi peningkatan ini diikuti oleh mortalitas yang tinggi karena parasitisasi oleh parasitoid telur dengan keragaman spesies parasitoid yang tinggi dan juga mortalitas oleh predatornya.Dengan demikian, penggunaan varietas tahan dapat diterapkan untuk konservasi musuh alami, sehingga perannya sebagai faktor mortalitas biotik dapat ditingkatkan.Varietas kapas nasional seri Kanesia (Kanesia 8 – 13) yang telah dilepas, merupakan varietas kapas yang pada umumnya mempunyai ketahanan moderat terhadap wereng kapas.Oleh karena itu, varietas seri Kanesia merupakan komponen PHT kapas yang utama.

  • Penggunaan Musuh Alami

Tabel 3. Musuh alami H. armigera yang berasosiasi dengan tanaman kapas di Indonesia

 

Inventarisasi musuh alami serangga hama kapas telah dilakukan sebagai langkah awal dalam pengembangan PHT. Karena H. armigera merupakan serangga hama yang dianggap penting, maka fokus dalam pembahasan peran musuh alami di sini adalah pada musuh alami H. armigera. Hasil survai inventarisasi di daerah pengembangan kapas telah didapatkan beberapa spesies musuh alami H. armigera yang berasosiasi dengan tanaman kapas serta efektivitasnya dalam menyebabkan mortalitas pada H. armigera (Tabel 3). Musuh alami tersebut tidak dapat berkembang dan berfungsi dengan baik jika dilakukan penyemprotan insektisida yang tujuannya adalah untuk mengendalikan wereng kapas pada awal pertumbuhan, karena musuh alami tersebut peka terhadap insektisida kimia. Oleh karena itu, pengembangan PHT kapas diarahkan pada perakitan varietas-varietas yang tahan terhadap wereng kapas, sehingga pertanaman terhindar dari penyemprotan insektisida dan memberi kesempatan pada musuh alami untuk berkembang dan berperan sebagai factor mortalitas biotik yang efektif dalam mengendalikan penggerek buah kapas. Peran musuh alami sebagai faktor mortalitas biotik yang efektif dalam pengendalian serangga hama, dapat dioptimalkan dengan melakukan konservasi terhadap musuh alami. Selain menghindari penyemprotan insektisida pada awal pertumbuhan tanaman dengan menanam varietas tahan wereng kapas, komponen PHT lain seperti sistem tanam tumpangsari dengan palawija, penggunaan mulsa jerami dan penggunaan insektisida botani juga dapat menunjang konservasi musuh alami. Oleh karena itu, teknologi konservasi musuh alami dikembangkan melalui penerapan komponen PHT kapas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3. Spesies Musuh Alami H. ermigera

 

Gambar 6. Musuh Alami Ulat Penggerek Pucuk

Gambar 7. Musuh Alami Ulat Buah

Gambar 8. Musuh Alami Lalat Buah Warna Jingga

Gambar 9. Musuh Alami Wereng Kapas

  • Penanaman secara tumpang sari dengan palawija dan kacang-kacangan
  1. 1.      tumpang Sari Kapas dengan Kedelai

Pengendalian hama berbasis ekologi tidak hanya terbatas sebagai teknologi, tetapi berkembang menjadi suatu konsep mengenai proses penyelesaian masalah ekologi. Pemikiran pengendalian hama berbasis ekologi didorong oleh pengembangan dan penerapan pengendalian hama berdasarkan pengertian ekologi lokal (in situ) hama dan pemberdayaan petani. Pengendalian hama berbasis ekologi disesuaikan dengan masalah yang ada di setiap lokasi dan lebih menekankan pada pengelolaan proses dan mekanisme ekologi local daripada intervensi teknologi. Pengendalian hama berbasis ekologi pada tanaman kapas meliputi penggunaan benih tanpa kabu-kabu, penanaman varietas toleran hama wereng kapas, penyemprotan insektisida berdasarkan ambang populasi, penggunaan sumber daya lokal, dan melibatkan petani secara langsung dalam sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SL-PHT). Pada periode ini terjadi perubahan yang mendasar, yaitu pengembangan kapas secara tumpang sari dengan palawija. Pada tahun 1983, petani telah melakukan penanaman kapas secara tumpang sari dengan palawija, antara lain dengan kedelai, kacang hijau, kacang tanah, dan jagung. Namun, pada saat itu belum diketahui pengaruh tumpang sari terhadap populasi hama. Berdasarkan hasil penelitian, penanaman kapas secara tumpang sari dengan palawija memberikan pengaruh positif terhadap pengendalian hama. Pengembangan kapas secara tumpang sari harus disesuaikan dengan pola tanam setempat.

Di Lamongan, kapas umumnya ditumpangsarikan dengan kedelai, sedangkan di Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah dengan tanaman jagung. Pengembangan kapas secara tumpang sari diarahkan pada lahan tadah hujan yang sebelumnya ditanami padi. Pengendalian hama berbasis ekologi pada kapas tumpang sari kedelai didasarkan pada ekologi lokal hama dan pemberdayaan petani dalam mengelola agroekosistem. Tujuannya adalah agar dalam agroekosistem terjadi keselarasan antara tanah, hara, sinar matahari, kelembapan udara, dan organisme yang ada sehingga menghasilkan pertanaman yang sehat dan hasil yang berkelanjutan. Penanaman kapas secara tumpang sari dengan kedelai akan menambah keragaman tanaman. Kedelai sebagai tanaman tumpang sari dapat menarik musuh alami (predator dan parasitoid) hama kapas karena adanya nektar pada bunga. Kedelai juga dapat menyuburkan tanah karena adanya bintil akar.Penanaman kapas secara tumpang sari dengan kedelai juga dapat mengurangi risiko gagal panen sehingga meningkatkan pendapatan petani.

Gambar 10. Tumpang sari kapas dengan kacang kedelai

 

  1. 2.      Tumpang Sari Kapas dengan Palawija

Sistem tumpangsari merupakan salah satu praktek budidaya yang mengakibatkan pada suatu agroekosistem terdapat keragaman tanaman yang tinggi.Praktek budidaya ini telah umum dilakukan pada sistem pertanian diIndonesia.Tanaman kapas selalu ditanam secara tumpangsari dengan palawija (jagung, kacang tanah atau kacang hijau). Dari segi pengendalian hama, sistem tanam tumpangsari sangat menguntungkan, karena keragaman dan populasi musuh alami (parasitoid dan predator) relatif tinggi.

Diversifikasi habitat dengan tata tanam tumpangsari dapat menyediakan nektar dan polen bagi parasitoid dan predator serta dapat berfungsi sebagai tempat berlindung sementara (shelter), sehingga mengundang serangga serangga yang pada umumnya musuh alami, untuk datang ke habitat tersebut. Peningkatan populasi musuh alami ini dengan sendirinya juga meningkatkan efektivitasnya dalam mengendalikan serangga hama. Sistem tanam tumpangsari kapas dengan palawija (kacang hijau atau jagung) yang banyak diterapkan oleh petani, dilaporkan mendukung berkembangnya populasi musuh alami H. armigera.Pertanaman kapas yang ditumpangsarikan dengan kedelai mempunyai keragaman spesies parasitoid telur penggerek buah kapas, Helicoverpa armigera yang lebih tinggi 32% dibandingkan dengan pada pertanaman kapas monokultur.Keragaman spesies parasitoid telur yang lebih tinggi berakibat pada peningkatan kontribusi mortalitas H. armigera oleh faktor mortalitas biotiknya sebesar 24%.

Selain itu, sistem tanam tumpangsari kapas dengan kacang hijau menyebabkan populasi Paederus sp, (Coleoptera: Staphylinidae) yang merupakan predator umum meningkat 36% dan dapat menekan perkembangan populasi wereng maupun penggerek buah kapas masing-masing sebesar 27% dan 16%. Sistem tanam tumpangsari telah dibuktikan merupakan salah satu teknik untuk meningkatkan populasi serangga pada suatu pertanaman.Peningkatan populasi serangga ini merupakan konservasi musuh alami atau peningkatan suatu kompleksitas pada agroekosistem yang menyebabkan interaksi tinggi di antara spesies-spesies yang ada.Interaksi yang dominan yang terjadi pada suatu komunitas yang kompleks adalah predasi, yaitu pemangsaan herbivora oleh predatornya.

Dengan demikian, sistem tanam tumpangsari kapas dengan palawija yang merupakan salah satu komponen PHT dapat dikatakan sebagai suatu tindakan konservasi serangga.

 

  • Penanaman Jagung sebagai Perangkap H. armigera

Pada penggunaan tanaman jagung sebagai perangkap, tanaman jagung tersebut ditanam disela baris kapas.Baris jagung ditanam dalam tiap 4 baris kapas.Jarak tanaman jagung dalam barisan 1 – 2 meter.

Tata letak tanaman jagung dan kapas di lapang

Serangga betina H.armigera senang meletakkan telur pada rambut segar tongkol jagung muda.Saat menetas, ulat masuk kedalam tongkol tongkol jagung muda, disamping itu ada kemudahan musuh alami untuk memangsa telur dan ulat- ulat kecil H.armigera.

KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11. Denah Penanaman Tanaman Perangkap

Keterangan  :

Varietas kapas :

  • Kanesia-3 ditanam 2 biji/lubang
  • Kanesia-7 ditanam 2 biji/lubang
  • Bt.Cotton (Bollgard) ditanam 1 biji/lubang

Jarak Tanam :

  • Kanesia-3 100 x 25 cm
  • Kanesia-7 100 x 25 cm
  • Bt. Cotton 125 x 25 cm

Jagung  : 4 baris kapas tanam jagung 400 x 25 cm

Gambar 12. Penanaman Jagung

  • Penggunaan Mulsa

Pemberian mulsa pada suatu lahan pertanian merupakan suatu tindakan penambahan biomassa yang berakibat positif terhadap lahan tersebut.Pemberian biomassa tanaman dapat meningkatkan ketersediaan air, karena berpengaruh pada perbaikan sifat fisik tanah seperti bobot isi, porositas, dan permeabilitas. Pemberian mulsa pada tanah juga dilaporkan dapat meningkatkan efisiensi pengendalian hama.

Di lahan sawah tadah hujan, umumnya jerami padi belum dimanfaatkan secara optimal.Jerami padi biasanya ditumpuk di tepi lahan, bahkan tidak sedikit yang dibakar.Pembakaran jerami padi dapat berpengaruh buruk terhadap keanekaragaman hayati dan menyebabkan biomassa jerami sebagai bahan organic hilang.Pemberian mulsa jerami padi dapat memperbaiki agroekosistem karena menciptakan iklim mikro yang kondusif untuk perkembangan mikroarthropoda tanah dan pertumbuhan tanaman. Pemberian mulsa jerami padi akan menambah bahan organik ke dalam tanah dan sebagai pemicu utama berfungsinya suatu komponen penyusun habitat. Tanah yang kaya bahan organik memiliki populasi predator dan serangga netral yang lebih tinggi dibanding tanah yang miskin bahan organik.Pada tanah yang kaya bahan organik, populasi mangsa alternatif arthropoda predator (detrivor) lebih tinggi.

Aplikasi mulsa jerami padi pada pertanaman kapas selain dapat meningkatkan bahan organic dalam tanah yang dapat memperbaiki struktur fisik dan kimia tanah yang menyebabkan tanah menjadi lebih subur, juga meningkatkan aktivasi predasi terhadap penggerek buah kapas hingga 15% karena populasi kompleks predator (terdiri atas laba-laba, kepik mirid, kumbang kubah dan semut) pada kanopi meningkat 19%. Oleh karena itu, praktek budidaya kapas pada lahan sesudah padi, dimana pemberian mulsa memungkinkan, seperti yang dilakukan oleh petani di Lamongan, dapat melestarikan predator dan mengandalkan kekuatan-nya dalam pengendalian hama tanpa menggunakan insektisida sama sekali.

Gambar 13. Penggunaan Mulsa

 

  1. Mulsa jerami yang dibakar
  2. Mulsa jerami sebagai mulsa pada tanaman kapas
  3. penggunaan mulsa jerani pada pertanaman kapas tumpang sari kedelai
  4. tanaman kapas pada awal masa pertumbuhan
  5. tanaman kapas setelah panen

 

 

 

 

 

 

 

  • Penerapan Ambang Kendali

Ambang kendali merupakan suatu konsep dalam sistem pengendalian hama, yaitu tingkat populasi hama yang harus dikendalikan agar tidak menyebabkan kerusakan yang lebih parah dan merugikan secara ekonomi. Ambang kendali merupakan pengembangan dari konsep ambang ekonomi (economic threshold) yang dalam penentuan nilainya memperhitungkan faktorfaktor ekonomi, seperti pasar, nilai input dan sebagainya. Penerapan ambang ekonomi pada budidaya kapas dianggap terlalu kompleks, sehingga perlu diterapkan konsep ambang kendali yang lebih sederhana.Dalam penentuan ambang kendali untuk H. armigera pada kapas, pemanduan dilakukan dengan menghitung populasi larva kecil.Ambang kendali H. armigera yang ditentukan oleh Topper dan Gothama (1986) yang kemudian dikembangkan oleh Soenarjo dan Subiyakto (1988), adalah 4 tanaman terinfestasi larva per 25 tanaman contoh.Nilai dari jumlah tanaman terinfestasi merupakan penyederhanaan dari jumlah larva yang teramati.Ambang kendali untuk wereng kapas Amrasca biguttulla (Ishida) adalah 50% tanaman terinfestasi dan menunjukkan gejala serangan.

Penentuan ambang kendali ini tidak mempertimbangkan keberadaan musuh alami. Seperti telah dibahas di atas, pada sistem tumpangsari kapas dengan palawija terdapat keragaman musuh alami yang tinggi, sehingga peran musuh alami, terutama dari kelompok predator, dalam menekan populasi serangga hama perlu diperhitungkan. Pengembangan nilai ambang kendali pada kapas tumpangsari dengan palawija dengan mempertimbangkan keberadaan musuh alami didapatkan nilai baru, yaitu mengurangi jumlah tanaman yang terinfestasi jika ditemukan 8 ekor predator. Penerapan konsep ambang kendali dengan mempertimbangkan keberadaan musuh alami ini, menyebabkan pertanaman kapas tumpangsari dengan kedelai tidak memerlukan pengendalian hama dengan penyemprotan insektisida.

Dengan demikian, keberadaan predator yang dapat ditingkatkan atau dikonservasi populasinya melalui sistem tanam tumpangsari efektif dalam pengendalian populasi hama.

  • Aplikasi Insektisida Botani

Krisis moneter pada tahun 1997/1998 menyebabkan harga pestisida kimia naik 2-3 kali lipat. Hal ini mendorong para peneliti untuk mencari pestisida alternatif yang relatif murah tetapi efektif mengendalikan hama dan aman bagi lingkungan. Penggunaan pestisida nabati dapat mendukung konservasi musuh alami. Pada tanaman kapas, tindakan konservasi musuh alami untuk mengoptimalkan peran musuh alami mempunyai peluang keberhasilan yang tinggi. Keragaman jenis arthropoda pada pertanaman kapas tergolong tinggi, sekitar 301 jenis, terdiri atas 135 jenis hama, 90 jenis predator, 75 jenis parasitoid, dan satu jenis hiperparasitoid. Komposisi hama sebenarnya lebih rendah, yaitu 45%, sedangkan predator dan parasitoid lebih besar, mencapai 65%.

Insektisida botani yang telah dikembangkan sebagai komponen PHT kapas adalah ekstrak biji mimba (Azadiracta indica Jess.)(EBM).Insektisida botani EBM dapat digunakan sebagai substitusi insektisida kimia. Pada budidaya kapas di tingkat petani, biaya input untuk insektisida mencapai 65% dari total biaya produksi. Di samping itu, dampak negatif dari penggunaan insektisida kimia secara intensif dalam jangka panjang telah banyak dilaporkan, yaitu timbulnya resistensi, resurgensi, munculnya serangga sekunder, dan polusi lingkungan.Dampak negatif ini merupakan kerugian ekologis yang sangat besar dan tidak ternilai harganya. Penyemprotan insektisida botani EBM yang dilakukan pada pertanaman kapas tidak berpengaruh terhadap populasi predator-predator penting serangga hama kapas, sehingga insektisida ini dapat digunakan sebagai substitusi insektisida kimia. Budidaya kapas di tingkat petani yang pada umumnya menerapkan sistem tanam tumpangsari dan penggunaan varietas kapas yang mempunyai ketahanan moderat terhadap wereng kapas, sebenarnya tidak memerlukan tindakan pengendalian dengan insektisida jika diterapkan konsep ambang kendali dengan benar. Kondisi ini telah dibuktikan pada pertanaman kapas petani di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat seluas sekitar 350 ha dan Jawa Timur seluas sekitar 50 ha yang tidak memerlukan penyemprotan insektisida dan memberikan produktivitas kapas berbiji yang tidak berbeda atau bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas dari lahan yang menggunakan penyemprotan insektisida (911 – 953 kg kapas berbiji/ha pada lahan dengan penyemprotan EBM versus 312 kg kapas berbiji/ha pada lahan dengan penyemprotan insektisida kimia). Walaupun demikian, sangat sulit mengubah perilaku petani yang sudah terbiasa melakukan penyemprotan pada pertanaman kapasnya (spray minded) untuk tidak melakukan penyemprotan sama sekali. Oleh karena itu insektisida botani EBM yang digunakan sebagai substitusi insektisida kimia, dapat digunakan sebagai ’target antara’ petani yang spray minded menjadi petani yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan, karena aplikasi EBM sama dengan aplikasi insektisida.

 

 

 


  1. 3.      PENUTUP

 

  1. a.      Kesimpulan

Penerapan PHT kapas dengan menggunakan budidaya tanpa olah tanah,  varietas kapas yang mempunyai ketahanan tinggi atau moderat, menerapkan sistem tanam tumpangsari dengan palawija, mengunakanjagung sebagai perangkap H. armigera, penggunaan mulsa,  menerapkan konsep ambang kendali dengan mempertimbangkan keberadaan musuh alami, serta menggunakan insektisida botani jika diperlukan, merupakan tindakan konservasi musuh alami serangga hama kapas. Konservasi musuh alami ini akan menimbulkan pengendalian secara alami yang tidak memerlukan tambahan tindakan pengendalian dengan menggunakan insektisida.

 

  1. b.      Saran

Dalam mengambil suatu tindakan pengendalian perlu dilakukan adanya penelitian dan analisis terlebih dahulu agar tindakan yang dilakukan efisien dan tepat sasaran. Semoga tindakan pengendalian secara terintegrasi yang kami rekomendasikan dapat menghasilkan perbaikan dan bermanfaat bagi semua kalangan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Basuki, T., Bambang S. dan S.A. Wahyuni. 2002. Sistem usahatani kapas di Indonesia. Dalam Kapas. Monograf Balittas No. 7.Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat.

 

Bindra, O.S. and Nurindah. 1988. Pests of cotton in Indonesia. In: Workshop on  Cotton IPM,Malang, 10 – 11 Agustus 1988. Crop Protection.

 

Ditjenbun (Direktorat Jenderal Perkebunan). 1998. Peluang dan program  pengembangan kapas di Indonesia. hlm. 56−73.Prosiding Diskusi KapasNasional, Jakarta, 26 November 1996. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

 

Ditjenbun. 1999. Pengarahan Direktur Jenderal Perkebunan pada Pertemuan Teknis  Intensifikasi Kapas Rakyat Tahun 1999, Surabaya,

 

Ditjenbun (Direktorat Jenderal Perkebunan). 2008. Pembahasan harga kapas berbiji dan rayonisasi pengelolaan kapas tahun 2008.Ditjenbun, Jakarta.

 

Fakhrudin, B., Badariprasad, K. B. Krishnareddy, S. H.Prakash, Vijaykumar, B. V. Patil, dan M. S. Kuruvinashetti. 2003. Insecticide resistance in cotton bollworm, Helicoverpa armigera (Hubner) in South Indian cotton ecosystems

 

Hasnam, Nurheru, Fitriningdyah, T. K., E. Sulistyowati, P. D. Riajaya., Nurindah dan M. Sahid. 2005. Pengelolaan Tanaman Terpadu pada kapas di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Laporan Hasil Kegiatan TA 2004. Balittas, Malang.

 

Heddy, S. dan Kurniati, M. 1996. Prinsip dasar ekologi: suatu batasan tentang kaidah ekologi dan penerapannya. PT Raya Grafindo Persada, Jakarta

Lusyana, N. R. 2005. Keragaman parasitoid telur Helicoverpa armigera pada tanaman kapas (Gossypium hirsutum L.) monokultur dan tumpangsari di Asembagus, Kabupaten Situbondo. Skripsi, Universitas Negeri Malang.

 

Mastur dan N. Sunarlim. 1993. Pengaruh drainase/irigasi dan mulsa jerami padi terhadap sifat fisik tanah dan keragaan kedelai.

 

Nurindah dan O.S. Bindra. 1988. Studies on biological control of cotton pests. Industrial Crops Research Journal 1: 59 –63.

 

Nurindah dan Subiyakto. 1992. Pengaruh tumpang sari kapas dengan palawija  terhadap populasi predator serangga hama kapas. hlm. 34-40. Prosiding Diskusi Panel Budi Daya Kapas + Kedelai, 10 Desember 1992. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang,

 

Nurindah, S. Sudarmo dan Soebandrijo. 1993. Pengaruh tumpangsari kapas dengan  palawija terhadap populasi predator serangga hama kapas. Prosiding Diskusi Panel Budidaya Kapas + Kedelai, Malang

 

D. A., Nurindah, dan D. H. Parmono. 1994. Perkembangan populasi predator pada beberapa varietas kapas. Buletin Tembakau dan Serat 3(6): 35 – 39.

 

Soebandrijo. 2000. Penerapan teknologi pengendalian hama terpadu pada tanaman kapas. Buletin Kehutanan dan Perkebunan

 

Subiyakto.2006. Peranan Mulsa Jerami Padi terhadap Keanekaragaman Arthropoda Predator dan Manfaatnya dalam Pengendalian Serangga Hama Kapas pada Kapas Tumpang Sari Kedelai.

 

Subiyakto, S. Rasminah, G. Mudjiono, dan Syekhfani. 2006a. Peranan mulsa jerami padi dalam pengendalian serangga hama kapas pada tumpang sari kapas dan kedelai

 

Subiyakto, S. Rasminah, G. Mudjiono, dan Syekhfani. 2006b: Tekanan pemangsaan kompleks predator terhadap ulat buah pada tumpang sari kapas dan kedelai tanpa dan dengan mulsa jerami padi

 

Subiyakto dan I G.A.A. Indrayani. 2008. Pengendalian serangga hama kapas menggunakanmulsa jerami padi

 

Sunarto, D. A. dan Subiyakto. 2002. Insektisida nabati serbuk biji mimba (SBM) untuk pengendalian hama Helicoverpa armigeraHubner pada tanaman kapas. Monograf Balittas No. 7: Kapas, Buku 2. Hlm 187 –193.

 

Sunarto, D. A., Nurindah dan Sujak. 2004. Pengaruh ekstrak biji mimba terhadap konservasi musuh alami dan populasi Helicoverpa armigera Hubner pada tanaman kapas. Jurnal Penelitian Tanaman Industri.

 

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on TUGAS KULIAH TERSTRUKTUR “Manajemen Hama dan Penyakit Tanaman Terpadu”

Pengelolaaan Umum Manajemen Agroekosistem

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN   AGROEKOSISTEM

 

Pedoman umum pengelolaam agroekosistem terutama ditujukan pada agroekosistem padi, diharapkan PEDUM ini dapat dikembangkan sendiri oleh kelompok tani untuk tanaman lain.  Pada dasarnya PEDUM ini merupakan modifikasi Buku Rekomendasi Perlindungan Tanaman dari Direktorat Perlindungan Tanaman yang merupakan buku pegangan bagi para POPT.

 

Tabel Lampiran 1. Teknologi Menuju Sistem Pertanian Berlanjut

 

NO

FASE BUDIDAYA

POTRET AGROEKOSISTEM

PENGELOLAAN AGROEKOSISTEM

I Pra Tanam Lahan ditumbuhi sisa tanaman, singgang, tungguI, jerami dan guIma. Memelihara biodiversitas
a.DASAR PENGELOLAAN OPT 

Larva hama penggerek dapat bertahan pada tunggul. Singgang merupakan tempat bertahan virus tungro. Sisa tanaman dan jerami biasanya merupakan tempat bertahan bakteri dan cendawan (bIas, hawar pelepah, dan bercak coklat). Gulma tertentu merupakan tempat bertahan virus penyebab penyakit maupun serangga penularnya, bakteri penyebab hawar, cendawan penyebab bIas, hawar pelepah dan bercak coklat. Di daerah endemis serangan penggerek batang padi putih, penerbangan ngengat dari tunggul pada awal musim hujan, merupakan sumber serangan awal pada persemaian yang ada di persawahan.

 

  1. MENEKAN POPULASI AWAL OPT

(i)Di daerah endemis serangan tungro, penggerek batang padi putih dan atau wereng batang coklat pembibitan dilakukan setelah pengolahan tanah selesai.

(ii)  Di  daerah  endemis siput murbei dibuat saluran di tengah sawah atau di tepi pematang,   untuk memudah-kan pengairan/ pembuangan air dalam pengumpulan siput murbei. Tancapkan ajir bambu sebagai perangkap telur siput murbei,  dan pemanfaatan siput murbei untuk pakan ternak atau keperluan lain. Apabila memungkinkan dilakukan pengembangan itik di sawah.

(iii)Di daerah endemis serangan bIas, dilakukan fermentasi jerami

(iv)               Dilakukan pembersihan saluran air dan semak yang diduga menjadi tempat persembunyian tikus atau sebagai inang hama lain. Apabila ditemukan lubang aktif  dan tanda keberadaan tikus di sawah, lakukan pengendalian responsif dengan gropyokan, sanitasi lingkungan dan pengumpan-an beracun dengan rodentisida antikoagulan dan pengemposan/pengasapan.

  1. DASAR PENGELOLAAN MUSUH ALAMI

 

Habitat (sisa tanaman, singgang, tungguI, jerami dan guIma) pada fase pratanam sebagai tempat hidup musuh alami  (parasitoid dan predator) dan mangsa/inangnya.  Pada fase ini merupakan kesempatan yang optimal bagi musuh alami untuk berkembang hingga mencapai batas ambang populasi. Pada fase ini merupakan fase kritis bagi perkembangan musuh alami agar dapat berperan aktif dalam mengendalikan OPT pada fase budidaya berikutnya.

b. PENGELOLAAN HABITAT UNTUK MENINGKATKAN POPULASI AWAL MAPembakaran jerami dan penggunaan herbisida seharus-nya dihindari karena akan merusak habitat musuh alami. Dipertimbangkan menyediakan habitat bagi predator (laba-laba) maupun sumber nectar bagi parasitoid berupa gulma yang bukan inang alternatif serangga hama/ penyakit.

Gulma di pematang dapat bermanfaat sebagai refugia bagi musuh alami.

Binatang yang hidup di gulma, jerami dan di tunggul padi dapat sebagai mangsa alternative bagi  predator generalis

c.Gulma air dikumpulkan kemudian dibenamkan. Apabila terdapat azolla dapat dikembangkan untuk ditebarkan ke permukaan lahan setelah fase pengolahan tanah
II Persemaian  Persemaian tersusun oleh tanaman yang masih sangat muda dan rentan terhadap tekanan lingkungan, termasuk OPT. Di daerah endemis, OPT yang sering ditemukan pada fase ini adalah penggerek batang padi, wereng batang coklat, tikus, tungro dan bIas.Populasi kelompok telur dan ngengat penggerek batang padi biasanya dapat ditemukan pada persemaian musim hujan. Begitu pula populasi wereng batang coklat dewasa bersayap panjang (makroptera).

Serangan tikus dapat terjadi sejak benih disebar.

 

Benih yang akan disebar dipilih berdasarkan kriteria : sehat dan bermutu, tahan OPT sesuai dengan jenis OPT yang sering timbul di daerah tersebut.Inokulasi mikoriza di persemaian

Sterilisasi biologis media persemaian dengan mikroba antagonis

Penggunaan pupuk organic (kompos) dalam campuran media persemaian

Pengaturan air di persemaian setinggi 2 – 5 cm, agar bibit di persemaian tumbuh pendek dan kuat. Bibit yang sehat apabila ditanam akan tumbuh lebih cepat dan lebih tahan terhadap gangguan OPT.

Hindari penggunaan pestisida yang tidak diperlukan, untuk menjaga tetap berkembangnya musuh alami di persawahan tersebut.

Lakukan pengumpulan kelompok telur penggerek, setiap 4 hari, kemudian letakkan di dalam bumbung untuk pembiakan musuh alami

Pemupukan nitrogen yang berlebihan akan mengakibatkan bibit di persemaian tumbuh tinggi tetapi lemah, sehingga rentan terhadap OPT. Gunakan pupuk sesuai dengan rekomendasi setempat.

Pembuatan persemaian secara berkelompok dari beberapa petani atau kelompok tani, sehingga mempermudah pengelolaan persemaian atau OPT yang ada.

Hindari pembelian bibit dari daerah yang sedang terjadi serangan OPT atau merupakan sumber OPT seperti penggerek batang, wereng batang coklat, tungro, bIas, wereng hijau, dll.

Di daerah endemis serangan siput murbei, persemaian diberi pagar plastik dan musnahkan siput murbei atau telur siput yang ditemukan. Pada pintu-pintu masuk air dipasang saringan.

Apabila ditemukan tanda-tanda keberadaan tikus atau di daerah endemis serangan tikus, dilakukan pemagaran persemaian menggunakan plastik yang dikombinasikan dengan bubu perangkap tikus. Tindakan responsif dapat dilakukan dengan gropyokan dan pengumpanan beracun serta pengemposan/ pengasapan.

Apabila ditemukan gejala tungro, sawah jangan dikeringkan untuk menghindari berpindahnya wereng hijau ke tempat lain.

Transplanting umur bibit muda (15 – 20 hari)

III Tanaman Muda Penyebaran pertanaman semakin Iuas, sehingga di seIuruh persawahan tersedia cukup sumber makanan bagi OPT. Pertumbuhan tanaman pada fase ini sangat pesat. Jumlah anakan tanaman bertambah sejalan dengan pertumbuhan tanaman.Pada fase ini mulai terjadi peningkatan populasi OPT dan atau infestasi/infeksi oleh OPT tertentu, misalnya wereng batang coklat, wereng punggung putih, penggerek batang, hawar pelepah, busuk batang, bIas, tungro, bercak coklat, bercak coklat bergaris, dan hawar daun bakteri. Apabila kondisinya sesuai, OPT ini mampu berkembang. Namun demikian, sejalan dengan perkembangan hama, terjadi pula perkembangan musuh alami.

Bagi hama tikus, nutrisi yang tersedia pada tanaman fase ini tidak cocok bagi perkembangan sehingga belum terjadi perkembangbiakan maupun peningkatan populasi.

Pada saat tanaman berumur s/d 30 hari setelah tanam (hst) merupakan fase peka terhadap infeksi virus tungro. Gejala tungro terjadi pada fase ini, yaitu ± 2 – 3 minggu setelah terinfeksi oleh virus tungro.

 

Analisis ekosistem dan pengambilan keputusan

  • Di daerah endemis serangan tikus, seawal mungkin dilakukan pemasangan pagar plastik yang dikombinasikan dengan bubu perangkap tikus. Pengendalian responsif dilakukan dengan pemasangan umpan beracun, yaitu apabila ditemukan gejala serangan baru sampai dengan fase anakan maksimum dan pengemposan asap beracun.
  • Apabila pemagaran plastik tidak bisa dilakukan secara menyeluruh, dapat dilakukan terhadap pertanaman yang berbatasan dengan wilayah yang rawan atau yang menjadi daerah persembunyian tikus, dilakukan sanitasi semak-semak tempat persembunyian tikus.
  • Tanaman-tanaman yang menunjukkan gejala serangan tungro dicabut dan dibenamkan ke dalam tanah.
  • Apabila populasi wereng batang coklat ≥ 10 ekor per rumpun pada tanaman berumur < 40 hst atau ≥ 40 ekor per rumpun pada tanaman berumur ≥ 40 hst dilakukan pengendalian responsif dengan menggunakan insektisida efektif yang diizinkan .
  • Apabila banyak ditemukan populasi kelompok telur penggerek batang padi dilakukan pengumpulan kelompok telur. Kelompok telur yang terkumpul dipelihara dan parasit yang mungkin keluar dilepaskan ke persawahan. Apabila pengumpulan kelompok telur tidak mungkin dilakukan, dan atau serangan sundep ≥ 10% tergantung varietasnya, di-lakukan pengendalian responsif dengan mengguna-kan insektisida efektif yang diizinkan secara “spot treatment” (hanya di tempat serangan) .
  • Apabila terjadi serangan hama putih, dilakukan pengeringan sawah selama 2-3 hari, sampai larva hama putih mati.
  • Apabila serangan ganjur ≥ 5% dilakukan aplikasi insektisida sistemik yang efektif dan diizinkan. Monitoring populasi serangan ganjur, dapat dilakukan dengan lampu perangkap.
  • Apabila ditemukan tanaman menunjukkan gejala serangan tungro, tanaman tersebut dimusnahkan. Aplikasi insektisida dapat dilakukan secara “hot spot treatment”, yaitu di tempat-tempat yang diduga sebagai titik awal perkembangannya serangan tungro di suatu wilayah .
  • Apabila timbul serangan ulat grayak, dilakukan peng-genangan sehingga ulat grayak naik dan mudah dikumpulkan. Aplikasi insektisida efektif dan diizinkan bila intensitas serangan ≥ 15% kerusakan daun.
  • Apabila populasi kepinding tanah ≥ 5 ekor/rumpun, dilakukan aplikasi pestisida.
  • Di daerah endemis serangan anjing tanah/orong-orong,  dilakukan penggenangan air sehingga serangga keluar dan mudah dimatikan. Pengumpanan beracun dapat dilakukan dengan umpan dedak campur insektisida bentuk cair atau tepung.
  • Di daerah endemis serangan siput murbei, dilakukan pemasangan saringan pada pintu masuk saluran air ke petakan sawah. Kelompok telur dan siput murbei dikumpulkan dan dimusnahkan. Ajir bambu dan daun-daun yang bertekstur lunak dapat digunakan untuk memerangkap. Siput-siput dapat digunakan untuk pakan ternak atau pemanfaatan lain. Penanaman sebaiknya 4-5 bibit/rumpun. Penggunaan kapur tohor dengan dosis 175 kg/ha atau diterapkan budidaya mina padi, sehingga siput dapat dimakan ikan.
  • Apabila timbul serangan hawar daun bakteri ataupun hawar pelepah dilakukan sanitasi selektif tanaman yang sakit dan pengeringan lahan secara berkala, yaitu 1 hari diairi dan 3 – 4 hari dikeringkan.
  • Apabila timbul serangan bercak coklat, dilakukan pengaturan irigasi.
III Tanaman Tua (sejak primordia-berbunga) 
  • Pada fase pertumbuhan tanaman ini merupakan fase kritis terhadap serangan tikus, penggerek batang padi, wereng batang coklat dan penyakit tanaman.
  • Serangan penggerek batang padi pada fase pertumbuhan akan mengakibatkan beluk dan sudah tidak dapat disembuhkan lagi serta tanaman sudah tidak mampu mengkompensasi kerusakan. Pengendalian responsif dengan pestisida terhadap penggerek batang padi yang sudah menunjukkan gejala serangan pada fase ini tidak dianjurkan lagi, karena tidak bermanfaat bagi pertanaman tersebut. Keadaan ini biasanya terjadi apabila larva sudah mencapai instar tua.
  • Serangan tikus semakin meningkat pada saat tanaman pri­mordia dan bunting. Pertumbuhan populasi tikus meningkat pesat karena nutrisi tanaman sesuai untuk kebutuhan reproduksi tikus. Musim kawin dan perkembangbiakan tikus terjadi pada saat tanaman padi memasuki fase generatif ini.
  • Pada fase ini gejala awal penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan sudah nampak dan tanaman yang terinfeksi pada fase ini sudah sulit dikendalikan.
  • Pada fase ini sudah tidak sesuai bagi perkembangan ganjur. Hama ganjur sudah tidak mampu merusak tanaman, hanya menyerang tunas-tunas non produktif dan tidak perlu dilakukan pengendalian responsif dengan pestisida.
  • Virus tungro yang menginfeksi tanaman pada fase ini tidak menunjukan gejala dan tidak mempengaruhi kehilangan hasil panen. Tetapi virus tungro yang sudah berada dalam tanaman akan menghasilkan gejala pada saat singgang, dan menjadi sumber inokulum bagi persemaian dan pertanaman muda yang ada di sekitarnya.

 

  • Hindari penggunaan pestisida yang tidak diperlukan, untuk memberikan perlindungan kepada musuh alami yang ada di persawahan dan sekitarnya. Upaya pelestarian musuh alami tetap dilakukan .
  • Di daerah endemis serangan ulat grayak, ditaruh pelepah pisang atau dedaunan lebar di persawahan sebagai perangkap ulat grayak atau dilakukan penggenangan lahan sehingga ulat grayak naik, untuk memudahkan pengumpulan dan mematikannya. Aplikasi insektisida dilakukan bila intensitas serangan ≥ 15% kerusakan daun saat generatif dan ≥ 25% kerusakan daun saat vegetatif.
  • Memelihara kebersihan lingkungan yang diduga menjadi tempat persembunyian tikus.
  • Pengaturan air sawah dengan selang waktu 9 hari, untuk memberikan keadaan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan OPT kecuali bila terserang tungro . Apabila populasi wereng batang coklat populasi ≥ 40 ekor per rumpun pada tanaman berumur > 40 hst dilakukan pengendalian responsif dengan menggunakan insektisida efektif yang diizinkan. Apabila ditemukan predator laba-Iaba (Lycosa) 2 ekor/rumpun pengendalian ditunda 1 minggu atau sampai pengamatan berikutnya.
  • Apabila penyakit-penyakit penting (hawar bakteri, hawar pelepah, dll) atau salah satu dari penyakit tersebut sudah muncul, diadakan pengeringan berkala, yaitu sehari diairi dan 3-4 hari dikeringkan. Kegiatan ini dapat dilakukan pula bila ditemukan populasi wereng batang coklat.
  • Apabila terjadi serangan bIas, dapat digunakan fungisida efektif yang diijinkan pada dua minggu sebelum keluar malai, untuk mencegah timbulnya neck blast.
  • Apabila terjadi serangan bercak coklat, dilakukan pengaturan irigasi .
  • Apabila dijumpai populasi ulat grayak, dilakukan penggenangan petakan sawah untuk merendam bagian bawah rumpun pada tempat ulat grayak berlindung, sehingga memudahkan pengumpulannya.
  • Apabila terjadi serangan tikus atau di daerah endemis serangan tikus, dilakukan pemasangan pagar plastik yang dikombinasikan dengan bubu untuk menangkap tikus pada pertanaman yang memasuki fase generatif paling awal, atau pada pertanaman yang berbatasan dengan wilayah yang menjadi sumber serangan tikus. Selain itu dilakukan pengemposan/pengasapan pada lubang -lubang aktif tikus.
  • Apabila terjadi serangan hama putih palsu (pelipat daun) dengan intensitas ≥ 15% pada daun bendera, dilakukan aplikasi insektisida efektif yang diijinkan.
  • Di daerah endemis serangan babi hutan, dilakukan perburuan dengan anjing, tombak dan jaring baja atau plastik.
  • Timbul gejala beluk, dilakukan pengendalian pencabutan beluk segar (larva masih berada di dalam batang) dan dimusnahkan.
IV Pematangan Bulir(pengisian bulir – panen)

 

  • Pertanaman telah mengalami pengisian bulir, sehingga ketersediaan makanan bagi hama-hama pengisap bulir sangat melimpah. Populasi hama tersebut mempunyai kesempatan meningkat dengan cepat.
  • Hama yang sudah berkembangbiak di sini sejak awal fase tumbuh tanaman, saat ini merupakan fase yang sangat kritis bagi kerusakan tanaman, misalnya wereng batang coklat, penggerek batang padi dan tikus. Walang sangit yang sebelumnya bertahan hidup di semak-semak atau rerumputan sekitar sawah, mulai berpindah tempat ke pertanaman.
  • Pada saat ini ulat grayak secara bergerombol mulai menginfestasi pertanaman.
  • Pengelolaan air sawah akan berpengaruh besar terhadap proses pengisian dan pemasakan bulir.

 

  • Menjaga usaha pelestarian musuh alami yang sejak awal tanam telah dilakukan, dengan menghindari penggunaan pestisida yang tidak diperlu-kan.
  • Menjaga kebersihan lingkungan, terutama tempat-tempat yang diduga menjadi tempat persembunyian tikus.
  • Mengatur air sawah sehingga pertanaman tumbuh sehat, proses pengisian bulir berlangsung dengan baik dan pemasakan bulir berlangsung dengan cepat. Pengeringan air pada saat pemasakan bulir dapat mempercepat proses dan mempersempit waktu kemungkinan terserang hama pengisap bulir.

 

  • Di daerah endemis serangan penggerek batang padi putih, pemotongan batang padi pada saat panen setinggi maksimal 5 cm di atas permukaan tanah.
  • Apabila populasi walang sangit atau hama penghisap bulir lainnya ≥ 10 ekor/m2, pada saat bulir belum keras, dilakukan aplikasi insektisida yang efektif dan diijinkan. Tindakan responsif dapat pula dilakukan dengan pemasangan perangkap bangkai kepiting atau tulang-tulang di persawahan untuk menangkap walang sangit dan kemudian dimatikan.
  • Apabila serangan tikus masih terus berlanjut, dilakukan pengemposan dengan asap belerang/asap beracun.
  • Untuk mencegah berkembangnya serangan dilakukan pencabutan beluk segar dan dimusnahkan.

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on Pengelolaaan Umum Manajemen Agroekosistem

Hama Penyakit Pada Tanaman Kapas

Hama dan Penyakit Kapas

Tanaman kapas merupakan tanaman penghasil serat yang merupakan bahan baku industri tekstil. Sampai saat ini peranannya masih lebih besar di banding serat sintensis, terutama di Negara yang beriklim tropis.
Pengembangan tanaman kapas belum memadai kerena rendahnya produktivitas yang di capai, sehingga sulit bersaing dengan komoditas lain.
Rendahnya produktivitas ini terutama di sebabkan karena berbagai kendala baik masalah teknis maupun non teknis yang belum dapat di atasi. Masalah teknis terutama karena belum di terapkannya paket teknologi sesuai anjuran. Untuk melakukan penanaman kapas yang baik maka perlu dilakukan pemupukan dengan baik.
Untuk melakukan penanaman kapas yang baik maka selain perlu dilakukan persiapan lahan, penanaman dan pemupukan, Penyiangan/ Pembubunan, dan Pengairan, perlu pula dilakukan pengendalian hama dan penyakit..

Hama
Hama utama yang biasa menyerang tanaman kapas adalah jenis hama penghisap daun seperti Aphis, Empoasca, Kutu Kebul, Dyadercus cingulatus. Dan hama ulat buah Heliothis. Pengendalian hama tersebut dengan menggunakan insektisida sistemik yang tersedia di kios saprodi.

Penyakit

Penyakit yang biasa menyerang tanaman kapas adalah : Leaf spot, root rot, bool rot, wilt, dll.

Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian penyakit dilakukan denganp penyemprotan dilakukan di pagi hari dengan ketentuan :
Pengendalian hama Empoasca, Aphis, Kutu Kebul, Kupu-Kupu Putih
pada waktu penanaman atau segera setelah berkecambah dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida sistemik atau fungisida granular dengan dosis 12,5 kg/ha atau 1-2 gram/ lubang. Pada hari ke 15 dapat menggunanakan insektisida sistemik dengan dosis sesuai anjuran yang tertera di dalam label.
Ulangi penyemprotan setiap 10 hari dengan mempertimbangkan keadaan penyerangan atau perusakan oleh hama.
Ketika terjadi serangan Ulat buah yang berat, haruslah di berikan penyemprotan insektisida dengan dosis sesuai rekomendasi pabrik.
Jika turun hujan setelah penyemprotan akan menyebabkan hasil penyemprotan kurang efektif atau tidak berguna. Oleh karena itu sebelum penyemprotan harus memperhatikan keadaan cuaca. Jika cuaca hujan, agar penyemprotan efektif/berguna harus menggunakan bahan perekat.

Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu
Pencegahan agar tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit dapat dilakukan dengan melakukan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu dengan cara antara lain:
Hindari lahan-lahan dimana sering di temukan serangan serangga tanah atau pathogen tanah.
Untuk mengurangi serangan pathogen tanah lakukan rotasi tanaman dengan sorgum atau jagung/kapas, kapas/padi/kapas atau kapas/sorgum (jagung)/padi.
Pengolahan tanah agak dalam serta membakar sisa-sisa tanaman dapat mengurangi penyakit, hama dan gulma.
Tanaman yang mengalami kekurangan hara, atau kelebihan hara terutama unsur N bisa menyebabkan kapas rentan terhadap hama. Karena itu perlu pemupukan berimbang untuk NPK dan unsur-unsur makro
Penggunaa varietas resisten adalah teknik pengendalian hama, penyakit yang termurah.
Waktu tanam yang optimum akan memberikan kondisi tumbuh yang meningkatkan ketahanan atau menghindarkan tanaman dari serangan hama.
Populasi tanaman terlalu tinggi dapat menimbulkan kondisi mikro yang menguntungkan bagi perkembangan hama.
Penanaman jagung akan menarik ngengat H. armigera untuk meletakkan telur pada sabut-sabut jagung, demikian juga penanaman kacang hijau akan memperbanyak musuh-musuh alami yang dapat menekan populasi hama tersebut
Penghacuran/pemberantasan sisa-sisa tanaman kapas merupakan kekhususan untuk mengendalikan hama P.gossypiella. untuk itu perlu regulasi/undang-undang yang mengharuskan petani menghancurkan sisa-sisa tanaman tersebut.

(Shalimar Andaya Nia)
Sumber: Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan, Petunjuk Teknis Budidaya Kapas, Jakarta, 1996.

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on Hama Penyakit Pada Tanaman Kapas

Kisi Kisi Manajemen Hama Penyakit Terpadu

  1. Definisi agroekosistem

Agroekosistem adalah sistem interaksi antara manusia dan lingkungan biofisik, sumber daya pedesaan dan pertanain guna meningkatkan kelangsungan hidup penduduknya

  1. Jelaskan hubungan antara unsur -unsur agroekosistem
  2. Pengertian OPT

semua organisme yang dapat menyebabkan penurunan potensi hasil yang secara langsung karena menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara terhadap tanaman budidaya.

  1. Jelaskan peran musuh alami dalam mengendalikan hama
  • Efektifitas tinggi
  • Tersedia dialam
  • Dapat berkembang biak dan menyebar
  • Tidak menimbulkan resistensi serangga inang
  • Pengendalian berjalan dengan sendirinya
  • Tidak ada pengaruh samping yang buruk

 

  1. Tujuan dari analisis agroekosistem

Analisis agroekosistem merupakan hal baru yang dikembangkan untuk memperbaiki kapasitas kita dalam melihat persoalan-persoalan yang muncul dari penerapan berbagai teknologi di bidang pertanian. Khususnya persoalan yang muncul sejak Revolusi Hijau.

  1. Menurut kalian apa saja indikator suatu agroekosistem dapat dikatakan sehat. Berikan contoh gambaran keadaan agroekosistemnya di lahan

Sistem pertanian dengan cara Agroforestry di daerah Ngantang tersebut merupakan salah satu contoh pengelolaan agroekosistem yang sehat karena secara umum menurut (Satjapradja, 1981) metode penggunaan lahan tersebut berfungsi secara optimal, yang mengkombinasikan sistem-sistem produksi biologis yang berotasi pendek dan panjang (suatu kombinasi-kombinasi produksi kehutanan dan produksi biologis lainnya) dengan suatu cara berdasarkan azas kelestarian, secara bersamaan atau berurutan, dalam kawasan hutan atau diluarnya, dengan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat.

  1. Menurut kalian apa saja indikator suatu agroekosistem dapat dikatakan buruk. Berikan contoh gambaran keadaan agroekosistemnya di lahan
  2. Pengertian pestisida

bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest (“hama“) yang diberi akhiran -cide (“pembasmi”). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu

  1. Jelaskan macam pestisida berdasarkan cara kerjanya

a. Penyemprotan (Spraying )
Penyemprotan adalah cara penggunaan pestisida yang paling banyak dipakai oleh petani. Diperkirakan 75 % penggunaak pestisida dilakukan dengan cara penyemprotan. Dalam penyemprotan larutan pestisida ( pestisida diatambah air ) dipecah oleh nozzel ( spuyer ) atau atomizer menjadi butiran semprot atau droplet. Bentuk sediaan ( formulasi ) yang digunakan dengan cara penyemprotan meliputi E.C; W.P; WS atau SP. Sedangkan penyemprotan dengan volume ultra rendah ( Ultra low volume ) digunakan formulasi ULV. Dengan menggunakan alat khusus yang disebut mikroner.

b. Pengasapan atau Fogging.
Pengasapan adalah penyemprotan pestisida dengan volume rendah dengan ukuran droplet yang halus. Perbedaannya dengan penyemprotan biasa adalah yang dibuat pencampur pestisida adalah minyak solar dan bukan air. Campuran tersebut kemudian dipanaskan sehingga menjadi semacam kabut asap yang kemudian dihembuskan. Fogging banyak digunakan untuk mengendqlikan hama gudang, hama tanaman perkebunan serta vektor penyakit dilingkungan misalnya untuk mengendalikan nyamuk malaria.

c. Penghembusan (Dusting )
Penghembusan merupakan cara penggunaan pestisida yang diformulasikan dalam bentuk tepung hembus ( D, dust) dengan menggunakan alat penghembus ( duster ). Jadi penggunaannya dalam bentuk kering.

d. Penaburan ( broadcasting ) pestisida butiran ( Granuler )
Penaburan pestisida butiran adalah cara penggunaan pestisida yang diformulasikan dalam bentuk butiran dengan cara ditaburkan. Penaburan dapat dilakukan dengan tanganlangsung atau dengan menggunakan alat penabur ( granule broadcaster ).

e. Perawatan benih ( Seed dressing , Seed treatment, Seed coating )
Perawatan benih adalah cara penggunaan pestisida untuk melindung benih sebelum benih ditanam agar kecambah dan tanaman muda tidak diserang oleh hama atau penyakit. Pestisida yang digunakan adalah formulasi SD atau ST.

f. Pencelupan (Dipping ).
Pencelupan adalah penggunaan pestisida untuk melindung tanaman (bibit, cangkok, stek )agar terhindar dari serangan hama maupun penyakit. Pencelupan dilakukan dengan mencelupkan bibit atau stek ke dalam larutan pestisida.

g. Fumigasi ( Fumigation )
Fumigasi adalah aplikasi pestisida fumigan baik yang berbentuk padat, cair maupun gas dalam ruangan terttutup. Fumigasi umumnya digunakan untuk melindungi hasil panen dari kerusakan karena serangan hama atau penyakit ditempat penyimpanan. Fumigan dimasukkab ke dalam ruangan gudang yang selanjutnya akan berubah kedalam bentuk gas ( fumigan cair maupun padat ) yang beracun untuk membunuh OPT sasaran yang ada dalam ruangan tersebut.

h. Injeksi
Injeksi adalah penggunaan pestisida dengan cara memasukkan kedalam batang tanaman, baik dengan alat khusus ( injeksi ataupun infus ) maupun dengan jalan mengebor tanaman. Pestisida yng diinjeksikan akan tersebar keseluruh tanaman bersamaan dengan aliran makanan dalam jaringan tanaman. Injeksi dapat juga digunakan untuk sterilisasi tanah.

i. Penyiraman ( drenching, Pouring On ).
Penyiraman adalah penggunaan pestisida dengan cara dituangkan disekitar akar tanaman untuk mengendalikan hama atau penyakit di daerah perakaran atau dituangkan pada sarang semut atau sarang rayap.

  1. Sebutkan min 3 contoh hama yang dapat dikendalikan dengan pestisida sistemik
  2. Jelaskan hubungan pestisida dengan akar dan jaringan tanaman (Pestisida yng diinjeksikan akan tersebar keseluruh tanaman bersamaan dengan aliran makanan dalam jaringan tanaman.)
  3. Jelaskan hubungan pestisida dengan musuh alami (penggunaan pestisida yang berlebihan juga dapat menurunkan populasi musuh alami yang disemprot pada lahan tersebut.)
  4. Definisi hama,penyakit, dan musuh alami

Hama : hewan yang menyebabkan kerusakan pada tanaman melebihi ambang batas ekonomi

Penyakit : pathogen yang menyerang tanaman dan menimbulkan kerusakan

Musuh alami : organisme yang dapat menekan pertumbuhan hama

  1. Sebutkan nama ilmiah dari hama dan penyakit apa saja yang kalian temukan di lahan
  2. Nama ilmiah dari kumbang kubah spot O dan kumbang kubah spot M dan apa perannya di lahan Menochilus sexmaculatus
  3. Berikan min 2 contoh nama musuh alami dan hama yang dikendalikannya
  4. Rekomendasi kalian setelah menganalisis agroekosistem di lahan masing-masing
  5. Kesimpulan dari praktikum akar dan jaringan tanaman

Kangkung yang dicelupkan dan direndam didalam air yang berisi pewarna makanan hanya berhasil terseerap pada bagian akarnya saja

  1. Menurut kalian bagaimana strategi yang tepat untuk menciptakan agroekosistem yang sehat

Mulai dari penggunaan bibit yang baik dan bebas dari hama lalu melakukan pengolahan tanah yang tidak berlebihan, melakukan budidaya yang tepat dan waktu tanam yang tepat serta lebih menggunakan pengendalian hayati dalam mengendalikan hama dan penyakit yang menyerang

  1. Apa yang dimaksud dengan akropetal dan basipetal
  2. Jelaskan siapa saja yang terkena dampak negative dari penggunaan pestisida (petani dan lingkungannya)
  3. Menurut kalian siapa yang beresiko paling tinggi terkena dampak negative dari penggunaan pestisida. Beri alasan yang tepat

petani, karena petanilah yang setiap hari bersentuhan langsung dengan pestisida dan tidak menggunakan alat pengaman dari semprotan air pestisida. Paparan pestisida dapat menyebabkan efek yang bervariasi, mulai dari iritasi pada kulit dan mata hingga efek yang lebih mematikan yang mempengaruhi kerja syaraf, mengganggu sistem hormon reproduksi, dan menyebabkan kanker.[37] Sebuah studi pada tahun 2007 pada limfoma non-Hodgkin dan leukimia menunjukan hubungan positif dengan paparan pestisida

  1. Bagaimana keadaan agroekosistem di lahan yang kalian amati. Jelaskan
  2. Jenis hama yang tepat untuk dikendalikan dengan pestisida sistemik. Berikan contoh dan nama ilmiahnya
  3. Gejala dan tanda dari hama maupun penyakit yang kalian temukan di lahan.
  4. Sebut dan jelaskan macam-macam musuh alami ! dan berikan contoh

predator / Pemangsa :Adalah binatang ( serangga, laba-laba dan binatang lain ) yang memburu, memakan atau menghisap cairan tubuh binatang lain sehingga menyebabkan kematian. Kadang-kadang disebut “ predator” Pemangsa berguna karena memakan hama tanaman. Semua laba-laba dan capung merupakan contoh pemangsa.

Parasitoid : Adalah serangga yang hidup sebagai parasit di dalam atau pada tubuh serangga lain ( serangga inang ), dan membunuhnya secara pelan-pelan. Parasitoid berguna karena membunuh serangga hama. Ada beberapa jenis tawon (tabuhan) kecil sebagai parasitoid serangga hama . Parasitoid yang aktif adalah stadia larva sedangkan imago hidup bebas bukan sebagai parasit dan hidupnya dari nectar, embun madu, air dll.

Patogen : Adalah Mikroorganisme yang dapat memnyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit terhadap OPT. Secara spesifik mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga disebut entomopathogen, patogen berguna karena mematikan banyak jenis serangga hama tanaman, seperti jamur, bakteri dan virus. Patogen yang bisa mengendalikan hama dan penyakit disebut sebagai Pestisida Mikroba.

  1. Sebutkan macam-macam musuh alami di alam !! (laba-laba, capung, kumbah kubah spot m, Beauveria bassiana)
  2. Proses air yang keluar melalui ujung daun pada sore hari disebut gutasi

hasil dari serapan akar yang di bawa oleh jaringan silem maupun floem dalam mobilitas metabolisme tanaman, terutama pada proses respirasi ( pernapasan) kebalikan dari proses fotosintat. Dari jaringan angkut yang di wakili oleh akar batang dan daun ini membawa partikel air dan hara dari dalam media yang tersedia, berupa kation-kation dari unsur gizi tanaman C,H,N,S,P,O,K dan lainnya berupa mineral, termasuk sebagian besar berupa mineral air. Sehingga ketika kandungan air tadi sampai pada jaringan daun, maka stomata daun akan menerima rangsangan dari tekanan angkut oleh proses respirasi, perlu di ingat bahwa hukum yang berlaku adalah pengaruh osmosis dari suhu lingkungan yang beda ekstrim.

  1. Sebutkan faktor-faktor didalam agroekosistem serta berikan contoh masing-masing minimal 2 !
  2. Sebutkan agen hayati (bakteri, jamur) minimal dua !

Beauveria bassiana, Trichogramma sp.

  1. Jelaskan agroekosistem yang baik dan berkelanjutan itu seperti apa !!

metode penggunaan lahan tersebut berfungsi secara optimal, yang mengkombinasikan sistem-sistem produksi biologis yang berotasi pendek dan panjang (suatu kombinasi-kombinasi produksi kehutanan dan produksi biologis lainnya) dengan suatu cara berdasarkan azas kelestarian, secara bersamaan atau berurutan, dalam kawasan hutan atau diluarnya, dengan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat.

  1. Sebutkan perbedaan agroekosistem dengan ekosistem !

dalam agroekosistem sumber energy tidak hanya terbatas pada sinar matahari, air dan nutrisi tanah, akan tetapi juga berasal dari sumber-sumber lain yang sudah dikonsolidasikan oleh manusia, seperti pupuk, pestisida, teknologi dan lain sebagainya. Hal lain yang membedakan adalah tingkat keanekaragaman hayati pada agroekosistem cenderung rendah, didominasi oleh varietas-varietas yang seragam, serta kontrol dikendalikan oleh faktor eksternal, dalam hal ini manusia, bukan oleh feedback system sebagaimana yang terjadi pada ekosistem alam

  1. Jaringan tanaman yang berfungsi mengangkut air dari tanah menuju seluruh bagian tanaman adalah (xylem dan floem )
  2. Apa yang dimaksut dengan rantai makanan ? berikan contohnya

Rantai makanan: proses makan memakan yang saling berhubungan

 

  1. Sebut dan jelaskan mekanisme antagonis !

mengintervensi/menghambat pertumbuhan patogen penyebab penyakit pada tumbuhan

  1. Apa yang menyebabkan terjadinya peledakan hama di lahan pertanian ??

Adanya makanan bagi hama yang melimpah dan tidak adanya pengendalian pada hama tersebut yang tepat sasaran.

  1. Jelaskan perbedaan floem dan xilem!

Xylem :
• Memiliki  struktur  yang  meliputi  berkas  pengangkut
dan  trakeid  yang memiliki dinding sel tebal mengandung  lignin.
•Funginya : mengangkut air dari akar hingga ke daun.

Floem :
• Floem tersusun atas parenkim floem, serabut floem,
pembuluh tapis, selpengiring (angiospermae).
•Memiliki fungsi : mengangkut hasil fotosintesis dari daun
ke seluruh tubuh.

  1. Sebutkan prinsip PHT !

Prinsip-prinsip PHT yang dijadikan dasar ada empat, yakni
(1) budidaya tanaman sehat,
(2) pelestarian dan pemanfaatan musuh alami,
(3) pengamatan/pemantauan lahan secara berkala (pengamatan rutin),
(4) petani sebagai ahli PHT di lahannya.

  1. Jelaskan mekanisme terserapnya air tanah dan proses translokasi air keseluruh bagian tanaman!

Pergerakan air dalam tubuh tanaman pada daun dimulai dari pengangkutan air oleh tulang daun, sel mesofil, dan epidermis. Pengangkutan air menuju epidermis lebih tinggi melalui palisade daripada spons. Apabila air berkurang, mereka mendapat air dari jaringan penyimpan air, sel penyimpan air berdinding tipis dan sel kembali tidak mengkerut apabila pasokan air baik. Pengurangan kecepatan transpirasi pada daun memungkinkan pengurangan ukuran daun

  1. Sebutkan pengertian hama, penyakit dan musuh alami

Hama : hewan yang menyebabkan kerusakan pada tanaman melebihi ambang batas ekonomi

Penyakit : pathogen yang menyerang tanaman dan menimbulkan kerusakan

Musuh alami : organisme yang dapat menekan pertumbuhan dan jumlah hama

  1. Pengertian agroekosistem adalah

Agroekosistem adalah sistem interaksi antara manusia dan lingkungan biofisik, sumber daya pedesaan dan pertanain guna meningkatkan kelangsungan hidup penduduknya

  1. Sebutkan langkah kerja dalam praktikum akar dan jaringan pengangkut tanaman!
    1. Siapkan alat dan bahan
    2. Buat larutan antara pewarna makanan dan air pada wadah gelas
    3. Masukkan kangkung tersebut ke dalam gelas yang berisi larutan
    4. Amati yang terjadi pada akar, batang dan daun kangkung setelah didiamkan selama 45 menit
    5. Dokumentasi hasil
    6. Sebutkan hama, penyakit, dan musuh alami yang ditemukan dalam praktikum bab hama dan penyakit tanaman tahunan (nama latin+nama indonesia)!
    7. Sebutkan tiga unsur ekosistem ! komponen biotik dan abiotik
    8. Sebutkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam bab akar dan jaringan pengangkut tanaman !

Air, pewarna makanan, kangkung, gelas, alat tulis

  1. Sebutkan hama dan penyakit yang ditemukan dalam bab analisa agroekosistem (nama latin+nama indonesia)!
  2. Sebut dan jelaskan macam-macam musuh alami ! dan berikan contoh

predator / Pemangsa :Adalah binatang ( serangga, laba-laba dan binatang lain ) yang memburu, memakan atau menghisap cairan tubuh binatang lain sehingga menyebabkan kematian. Kadang-kadang disebut “ predator” Pemangsa berguna karena memakan hama tanaman. Semua laba-laba dan capung merupakan contoh pemangsa.

Parasitoid : Adalah serangga yang hidup sebagai parasit di dalam atau pada tubuh serangga lain ( serangga inang ), dan membunuhnya secara pelan-pelan. Parasitoid berguna karena membunuh serangga hama. Ada beberapa jenis tawon (tabuhan) kecil sebagai parasitoid serangga hama . Parasitoid yang aktif adalah stadia larva sedangkan imago hidup bebas bukan sebagai parasit dan hidupnya dari nectar, embun madu, air dll.

Patogen : Adalah Mikroorganisme yang dapat memnyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit terhadap OPT. Secara spesifik mikroorganisme yang dapat menimbulkan penyakit pada serangga disebut entomopathogen, patogen berguna karena mematikan banyak jenis serangga hama tanaman, seperti jamur, bakteri dan virus. Patogen yang bisa mengendalikan hama dan penyakit disebut sebagai Pestisida Mikroba.

  1. Sebutkan macam-macam musuh alami di alam !!
  2. Proses air yang keluar melalui ujung daun pada sore hari disebut gutasi

hasil dari serapan akar yang di bawa oleh jaringan silem maupun floem dalam mobilitas metabolisme tanaman, terutama pada proses respirasi ( pernapasan) kebalikan dari proses fotosintat. Dari jaringan angkut yang di wakili oleh akar batang dan daun ini membawa partikel air dan hara dari dalam media yang tersedia, berupa kation-kation dari unsur gizi tanaman C,H,N,S,P,O,K dan lainnya berupa mineral, termasuk sebagian besar berupa mineral air. Sehingga ketika kandungan air tadi sampai pada jaringan daun, maka stomata daun akan menerima rangsangan dari tekanan angkut oleh proses respirasi, perlu di ingat bahwa hukum yang berlaku adalah pengaruh osmosis dari suhu lingkungan yang beda ekstrim.

 

  1. Sebutkan faktor-faktor didalam agroekosistem serta berikan contoh masing-masing minimal 2 !
  2. Sebutkan agen hayati (bakteri, jamur) minimal dua ! (Beauveria bassiana, Trichogramma sp.)
  3. Jelaskan agroekosistem yang baik dan berkelanjutan itu seperti apa !!

metode penggunaan lahan tersebut berfungsi secara optimal, yang mengkombinasikan sistem-sistem produksi biologis yang berotasi pendek dan panjang (suatu kombinasi-kombinasi produksi kehutanan dan produksi biologis lainnya) dengan suatu cara berdasarkan azas kelestarian, secara bersamaan atau berurutan, dalam kawasan hutan atau diluarnya, dengan bertujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat.

  1. Sebutkan perbedaan agroekosistem dengan ekosistem !

dalam agroekosistem sumber energy tidak hanya terbatas pada sinar matahari, air dan nutrisi tanah, akan tetapi juga berasal dari sumber-sumber lain yang sudah dikonsolidasikan oleh manusia, seperti pupuk, pestisida, teknologi dan lain sebagainya. Hal lain yang membedakan adalah tingkat keanekaragaman hayati pada agroekosistem cenderung rendah, didominasi oleh varietas-varietas yang seragam, serta kontrol dikendalikan oleh faktor eksternal, dalam hal ini manusia, bukan oleh feedback system sebagaimana yang terjadi pada ekosistem alam

  1. Jaringan tanaman yang berfungsi mengangkut air dari tanah menuju seluruh bagian tanaman adalah (xylem dan floem)
  2. Apa yang dimaksut dengan rantai makanan ? berikan contohnya

Rantai makanan: proses makan memakan yang saling berhubungan

 

 

  1. Sebut dan jelaskan mekanisme antagonis ! (mengintervensi/menghambat pertumbuhan patogen penyebab penyakit pada tumbuhan)
  2. Apa yang menyebabkan terjadinya peledakan hama di lahan pertanian ?? ( adanya makanan melimpah bagi hama dan tidak adanya pengendalian yang tepat sasaran )
  3. Jelaskan perbedaan floem dan xilem!

Xylem :
• Memiliki  struktur  yang  meliputi  berkas  pengangkut
dan  trakeid  yang memiliki dinding sel tebal mengandung  lignin.
•Funginya : mengangkut air dari akar hingga ke daun.

Floem :
• Floem tersusun atas parenkim floem, serabut floem,
pembuluh tapis, selpengiring (angiospermae).
•Memiliki fungsi : mengangkut hasil fotosintesis dari daun
ke seluruh tubuh.

  1. Sebutkan prinsip PHT !

Prinsip-prinsip PHT yang dijadikan dasar ada empat, yakni
(1) budidaya tanaman sehat,
(2) pelestarian dan pemanfaatan musuh alami,
(3) pengamatan/pemantauan lahan secara berkala (pengamatan rutin),
(4) petani sebagai ahli PHT di lahannya.

  1. Jelaskan mekanisme terserapnya air tanah dan proses translokasi air keseluruh bagian tanaman!

Pergerakan air dalam tubuh tanaman pada daun dimulai dari pengangkutan air oleh tulang daun, sel mesofil, dan epidermis. Pengangkutan air menuju epidermis lebih tinggi melalui palisade daripada spons. Apabila air berkurang, mereka mendapat air dari jaringan penyimpan air, sel penyimpan air berdinding tipis dan sel kembali tidak mengkerut apabila pasokan air baik. Pengurangan kecepatan transpirasi pada daun memungkinkan pengurangan ukuran daun

  1. Sebutkan pengertian hama, penyakit dan musuh alami!

Hama : hewan yang menyebabkan kerusakan pada tanaman melebihi ambang batas ekonomi

Penyakit : pathogen yang menyerang tanaman dan menimbulkan kerusakan

Musuh alami : organisme yang dapat menekan pertumbuhan hama

  1. Pengertian agroekosistem adalah

Agroekosistem adalah sistem interaksi antara manusia dan lingkungan biofisik, sumber daya pedesaan dan pertanain guna meningkatkan kelangsungan hidup penduduknya

  1. Sebutkan langkah kerja dalam praktikum akar dan jaringan pengangkut tanaman!
    1. Siapkan alat dan bahan
    2. Buat larutan antara pewarna makanan dan air pada wadah gelas
    3. Masukkan kangkung tersebut ke dalam gelas yang berisi larutan
    4. Amati yang terjadi pada akar, batang dan daun kangkung setelah didiamkan selama 45 menit
    5. Dokumentasi hasil
    6. Sebutkan hama, penyakit, dan musuh alami yang ditemukan dalam praktikum bab hama dan penyakit tanaman tahunan (nama latin+nama indonesia)!
    7. Sebutkan tiga unsur ekosistem ! komponen biotik dan abiotik
    8. Sebutkan alat dan bahan yang dibutuhkan dalam bab akar dan jaringan pengangkut tanaman ! (air, pewarna makanan, kangkung, gelas)
    9. Sebutkan hama dan penyakit yang ditemukan dalam bab analisa agroekosistem (nama latin+nama indonesia)!
    10. Apa yang dimaksud dengan pengendalian hayati? (Merupakan taktik pengelolaan hama secara sengaja dengan memanfaatkan atau memanipulasi musuh alami/agens hayati untuk menekan atau mengendalikan OPT)
    11. Kapan dilakukan pengendalian OPT pada proses budidaya?
    12. Apa yang dimaksud dengan Ambang Ekonomi? Ambang Ekonomi adalah batas populasi hama atau kerusakan oleh hama yang digunakan sebagai dasar untuk digunakannya pestisida. Diatas AE populasi hama telah mengakibatkan kerugian yang nilainya lebih besar daripada biaya pengendalian.
    13. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi nilai Ambang Ekonomi?
    14. Jelaskan apa yang dimaksud dengan PHT? Konsep pengendalian hama dan penyakit tanaman yang aman bagi lingkungan
    15. Sebutkan prinsip-prinsip PHT?

Prinsip-prinsip PHT yang dijadikan dasar ada empat, yakni
(1) budidaya tanaman sehat,
(2) pelestarian dan pemanfaatan musuh alami,
(3) pengamatan/pemantauan lahan secara berkala (pengamatan rutin),
(4) petani sebagai ahli PHT di lahannya.

  1. Sebutkan macam-macam pengendalian OPT dan masing-masing berikan contohnya?
  2. Apa yang dimaksud dengan resistensi dan resurgensi? Resistensi merupakan penurunan kepekaan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dari yang peka terhadap pestisida menjadi kurang peka dan akhirnya kebal. Resurgensi hama adalah peristiwa peningkatan populasi hama sasaran lebih tinggi daripada tingkat populasi sebelumnya sehingga jauh melampaui ambang ekonomi setelah diberikan pestisida tertentu.
  3. Sebutkan mikro organism penyebab penyakit pada tanaman budidaya hortikultura yang Anda amati?  Bagaimana gejalanya?
  4. Sebutkan hama penting pada tanaman budidaya tahunan yang amati? Bagaimana dan jelaskan tanda-tandanya?
  5. Rekkomendasi apa yang Anda berikan kepada petani yang Anda survey lahannya untuk mengendalikan Hama Penyakit Penting Tanaman selain menggunakan pestisida? (bedakan tanaman semusim dengan tanaman tahunan)
  6. Sebutkan pengklasifikasian pestisida berdasarkan jenis sasarannya? (minimal 10 macam)
  • Berdasarkan OPT sasarannya, pestisida dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu :
    • Insektisida, yang digunakan untuk mengendalikan hama erupa serangga. Kelompok insektisida dibedakan menjadi dua, yaitu ovisida (mengedalikan telur serangga) dan larvisida (mengendalikan larva serangga.
    • Akarisida, yang digunakan untuk mengendalikan akarina (tungaatau mites).
    • Moluskisida, yang digunakan untuk mengendalikan hama dari bangsa siput (moluska).
    • Rodentisida, yang digunakan untuk mengendalikan hewan pengerat (tikus)
    • Namatisida, digunakan untuk mengendalikan nematoda.
    • Fungisida, digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh cendawan (jamur atau fungi)
    • Bakterisida, digunakan untuk mengendalikan penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri.
    • Herbisida, digunakan untuk mengendalikan gulma (tumbuhan pengganggu).
    • Algisida, digunakan untuk mengendalikan ganggang (algae).
    • Piskisida, digunakan untuk mengendalikan ikan buas.
    • Avisida, digunakan untuk meracuni burung perusak hasil pertanian.
    • Repelen, pestisida yang tidak bersifat membunuh, hanya mengusir hama.
    • Atratan, digunaka untuk menarik atau mengumpulkan serangga.
    • ZPT, digunakan untuk mengatur pertumbuhan tanaman yang efeknya bisa memacu pertumbuhan atau menekan pertumbuhannya.
    • Plat activator, digunakan untuk merangsang timbulnya kekebalan tumbuhan sehingga tahan terhadap penyakit tertentu.
  1. Sebutkan masing-masing formulasi pestisida dengan disertai penjelasan yang singkat?

OIL CONCENTRATE (OC) : Ini merupakan formulasi yang paling sederhana dan banyak dipakai pada insektisida rumah tangga.
EMULSIFIABLE CONCENTRATE (EC)Formulasi EC adalah formulasi yang sangat populer di kalangan pengendali hama.  Formulasi EC dibuat dengan menambahkan emulsifier pada campuran bahan aktif dan pelarut  agar dapat bercampur dengan air membentuk emulsi minyak dalam air yang berupa larutan putih seperti susu.

WETTABLE POWDER (WP) Cara pembuatan WP/WDP adalah dengan mencampurkan bahan teknis dengan pelarut padat (seperti bubuk talc) dengan cara dicelup (impregnating) maupun pelapisan luar (coating) dan ditambahkan wetting agent agar dapat bercampur dengan air.

 

  1. Jelaskan formulasi pestisida CS? Jelaskan kekurangan dan kelebihannya? Pestisida ini dapat dicampur dengan pestisida lain yang bereaksi : (a) Asam. (b) Alkalis.
  2. Sebutkan tiga (3) cara kerja pestisida secara umum?

Pestisida kontak; memiliki daya bunuh apabila organisme pengganggu terkena langsung oleh bahan aktif pestisida.

Pestisida sistemik; dapat ditranslokasikan oleh tanaman, sehingga hama akan mati setelah mengkonsumsi cairan jaringan tanaman tersebut.

Pestisida lambung atau perut; memiliki daya bunuh apabila sistem pencernaan terkena  oleh bahan aktif pestisida.

Pestisida pernafasan; memiliki daya bunuh apabila organisme system pernafasan organisme pengganggu terkena oleh bahan aktif pestisida.

 

  1. Sebutkan mekanisme pengaruh bahan aktif pestisida terhadap serangga hama?
  2. Sebutkan aksesoris pada kemasan pestisda? Label berisi kandungan bahan aktif dan tata cara serta dosis pemakaian
  3. Sebut dan jelaskan warna tabel pada kemasan pestisida beserta tingkat kelas bahaya dan simbolnya?
  4. Sebutkan pestisdia anorganik/sintetik yang Anda ketahui?

Sebut dan jelaskan dampak penggunaan pestisida yang kurang baik bagi manusia? Paparan pestisida dapat menyebabkan efek yang bervariasi, mulai dari iritasi pada kulit dan mata hingga efek yang lebih mematikan yang mempengaruhi kerja syaraf, mengganggu sistem hormon reproduksi, dan menyebabkan kanker.[37] Sebuah studi pada tahun 2007 pada limfoma non-Hodgkin dan leukimia menunjukan hubungan positif dengan paparan pestisida

  1. Jelaskan tentang faktor abiotik dan biotik!
  2. Bandingkan karakteristik agroekosistem dengan ekosistem!

dalam agroekosistem sumber energy tidak hanya terbatas pada sinar matahari, air dan nutrisi tanah, akan tetapi juga berasal dari sumber-sumber lain yang sudah dikonsolidasikan oleh manusia, seperti pupuk, pestisida, teknologi dan lain sebagainya. Hal lain yang membedakan adalah tingkat keanekaragaman hayati pada agroekosistem cenderung rendah, didominasi oleh varietas-varietas yang seragam, serta kontrol dikendalikan oleh faktor eksternal, dalam hal ini manusia, bukan oleh feedback system sebagaimana yang terjadi pada ekosistem alam

  1. Sebutkan dan jelaskan prinsip PHT!

Prinsip-prinsip PHT yang dijadikan dasar ada empat, yakni
(1) budidaya tanaman sehat,
(2) pelestarian dan pemanfaatan musuh alami,
(3) pengamatan/pemantauan lahan secara berkala (pengamatan rutin),
(4) petani sebagai ahli PHT di lahannya.

  1. Apa yang dimaksud air gutasi? Air yang keluar melalui ujung daun pada sore hari
  2. Apakah yang dimaksud OPT? sebutkan macam-macamnya!

semua organisme yang dapat menyebabkan penurunan potensi hasil yang secara langsung karena menimbulkan kerusakan fisik, gangguan fisiologi dan biokimia, atau kompetisi hara terhadap tanaman budidaya.

  1. Organisme (mikroorganisme/makroorganisme) yang menjadi musuh dari OPT disebut (musuh alami)
  2. Mikroorganisme yang menyebabkan penyakit pada serangga hama disebut pathogen
  3. Berikan contoh dari predator! (minimal 3)

Laba-laba, kumbang kubah spot m, capung

  1. Antagonis yang menghasilkan senyawa beracun atau mematikan pathogen tanaman disebut
  2. Sebutkan tipe mulut serangga beserta contoh!

Berikut adalah beberapa tipe mulut serangga :

1. Tipe mulut menggigit mengunyah

Terdiri dari sepasang bibir, organ penggiling untuk menyobek dan menghancur serta organ tipis sebagai penyobek. Makanan disobek kemudian dikunyah lalu ditelan. Serta struktural alat makan jenis ini terdiri dari :

Labrum, fungsinya untuk memasukkan makanan ke dalam rongga mulut.

Efifaring, fungsinya sebagai pengecap.

Mandibel, fungsinya untuk mengunyah, memotong dan melunakkan makanan

Maksila, alat bantu untuk mengambil makanan.

Labium, fungsinya untuk menutup/membuka mulut.

Gejala serangannya , ditemukan bagian tanaman yang hilang, oleh sebab dimakan, digerek atau digorok.

Contoh : ordo ortoptera, yaitu belalang.

2. Tipe mulut meraut dan menghisap

Menyerang jaringan dan mengakibatkan berwarna putih atau belang kemudian tanak mengerut.

Contoh : ordo hemiptera, yaitu kutu daun.

3. Tipe mulut menjilat menghisap

Pada mulut lalat (diptera), bahan pangan padat menjadi lembek dan buruk akibat ludah yang dikeluarkan hama ini untuk melunakkan makanan, kemudian baru dihisap.

Contohnya : ordo diptera, yaitu lalat.

4. Tipe mulut menghisap

Merupakan tipe yang khusus, yaitu labrum yang sangat kecil, dan maksila palpusnya berkembang tidak sempurna. Labium mempunyai palpus labial yang berambut lebat dan memiliki tiga segmen. Bagian alat mulut ini yang dianggap penting dalam tipe alat mulut ini adalah probosis yang dibentuk oleh maksila dan galea menjadi suatu tabung yang sangat memanjang dan menggulung.

Contohnya : Ordo Lepidoptera, yaitu ngengat dan kupu-kupu dewasa.

5. Tipe Mulu menusuk menghisap

Gejala serangan pada bagian tanaman akan ditemukan bekas tusukan silet yang akan menyebabkan terjadinya perubahan warna atau perubahan bentuk pada bagian tanaman yang diserang.

Contoh : ordo hemiptera, yaitu kepik

 

  1. Jaringan yang mengangkut air dari tanah yang mengandung mineral keseluruh bagian tanaman disebut (xylem dan floem)
  2. Sebutkan alat dan bahan yang digunakan pada praktikum “akar dan jaringan tanaman”!

Kangkung, pewarna makanan, air, gelas

100.Sebutkan perbedaan musuh alami dan competitor!

Musuh alami adalah organisme yang dapat memakan hama dan mematikan hama sehingga dapat menekan populasinya, namun competitor adalah hewan yang bersaing dengan hama dalam memperebutkan makanan.

Categories: Uncategorized | Comments Off on Kisi Kisi Manajemen Hama Penyakit Terpadu