browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

MANAJEMEN STOK BERAS DI GUDANG PERUSAHAAN UMUM BULOG SUB DIVISI REGIONAL TULUNGAGUNG

Posted by on June 26, 2015

MANAJEMEN STOK BERAS DI GUDANG PERUSAHAAN UMUM BULOG SUB DIVISI REGIONAL TULUNGAGUNG

MAGANG KERJA

 

 

Oleh :

HADI SUSILO

115040213111030

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

MINAT HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014


LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN MAGANG KERJA JUDUL:

 

 MANAJEMEN STOK BERAS DI GUDANG PERUSAHAAN UMUM BULOG SUB DIVISI REGIONAL TULUNGAGUNG

 

Disetujui oleh:

 

 

 

 

 

 

Mengetahui

 Ketua

Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan

 

Dr. Ir. Bambang Tri Rahardjo, SU.

NIP. 19550403 198303 1 003

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan Rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan magang kerja dengan judul Manajemen Stok Beras di Gudang, Perusahaan Umum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung”.

Sehubungan dengan terselesaikannya laporan magang ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1        Dr. Ir. Ludji Pantja Astuti, MS selaku dosen pembimbing magang kerja yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam menyelesaikan laporan magang kerja ini.

2        Dr. Ir. Bambang Tri Rahardjo, SU selaku ketua jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan.

3        Kepala Perum Bulog Sub-Divisi Regional Tulungagung dan Kepala Gudang Bence yang telah memberikan ijinnya kepada penulis untuk melakukan magang kerja di Gudang Beras Bence, serta seluruh staff dan karyawan Gudang Beras Bence yang telah membantu dalam memberikan informasi kepada penulis terkait kegiatan magang keja ini.

4        Irlia Dwi Putri, SP. MM selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan pengarahan dalam kegiatan magang kerja.

5        Orang Tua saya yang memberikan bantuan doa dan materiil.

6        Serta semua pihak yang telah membantu terselesaikannya laporan magang kerja ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

 

Demikian laporan magang ini penulis susun. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.

 

Malang, November 2014

 

 

Penulis

SUMMARY

 

Hadi Susilo. 115040213111030. Management Stock of Rice in Warehouse, at Public Company  BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung. Advisor by Dr. Ir. Ludji Pantja Astuti, MS. and Irlia Dwi Putri, SP. MM.

 

Rice is the staple food for most people in Indonesia that provides energy and nutrients are high. One way to keep the rice remains in good condition before the sale is by storage. Perum BULOG is the BUMN (State-Owned Enterprises) which can be used as a storage area of rice to support the needs of food, especially for the poor. Rice is obtained from a farmers through BULOG partners. Rice farmers have fluctuating quality, depending on the condition of paddy land each farmer. The rice is then stored in a BULOG Warehouse for Society food stock.

However, storage in warehouses Bulog rice is very susceptible to attack by pests warehouse, particularly insect pests warehouse. As for some of the factors that influence the occurrence of insect pests warehouse, ie several physical factors rice storage consisting of micro-climate, save material, and the physical condition of warehouse for storage (Pitaloka, et al, 2012).

A side from the physical factors, which need to be considered again that rice management procedures that are in the warehouse. Place of internship in Perum Bulog Warehouse Sub Regional Division Tulungagung. Warehouse Locations are in Warehouse Bulog Big Bence, Highway Bence, Blitar. The timing of the internship was carried out for 3 months from July to October. This job training using the method of implementation of everyday practice, observation and discussion as well as set the trapping in a BULOG  Warehouse Sub Divisi Regional Tulungagung.

Based on observations, the management of rice in Bulog warehouse Bence included in the category is quite good and organized in accordance with the procedure. Early rice entrance examination includes (examination of water content, degree of milling, grain groats, broken grains, whole grains and other objects, oat bran, pests, odors and chemicals), the management of rice pile covers (recording the number of stacks, checks the temperature and humidity , pest monitoring, fumigation and spraying, sanitation, quality and completion of the rice down the final examination), raskin delivery and operation of the market, warehouse administration. Integrated Pest Management System  in Warehouse (PHGT) also performed well. So the emergence of pests warehouse there can be resolved by either according to the procedures that have been implemented.

From the results of traps in the warehouse, there are many insect pests in storage Bence is Psocids, Tribolium spp., Sitophilus oryzae, and Cryptolestes ferrugineus.

 

RINGKASAN

 

Hadi Susilo. 115040213111030. Manajemen Stok Beras di Gudang, Perusahaan Umum BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung. Di bawah Bimbingan Dr. Ir. Ludji Pantja Astuti, MS. sebagai Pembimbing Utama Magang, Irlia Dwi Putri, SP. MM. sebagai Pembimbing Lapangan.

 

Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang memberikan energi dan zat gizi yang tinggi. Salah satu cara untuk mempertahankan agar beras tetap dalam keadaan baik sebelum dijual yaitu dengan penyimpanan. Perum BULOG merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan beras untuk menunjang kebutuhan bahan pangan, terutama bagi masyarakat miskin. Beras tersebut diperoleh dari pertani melalui mitra kerja BULOG. Beras dari petani mempunyai kualitas yang fluktuatif, tergantung dari kondisi lahan padi masing-masing petani. Beras tersebut kemudian disimpan dalam gudang BULOG untuk stok pangan masyarakat.

Akan tetapi, penyimpanan beras di gudang BULOG sangat rentan terhadap serangan hama-hama gudang, khususnya serangga hama gudang. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi kemunculan serangga hama gudang, yaitu beberapa faktor fisik penyimpanan beras yang terdiri dari iklim mikro, bahan simpan, dan kondisi fisik gudang sebagai tempat penyimpanan (Pitaloka, dkk, 2012).

Selain dari faktor fisik tersebut, yang perlu diperhatikan lagi yaitu tata cara pengelolaan beras yang ada didalam gudang. Tempat pelaksanaan magang kerja di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. Lokasi Gudang yaitu di Gudang BULOG Besar Bence, Jalan Raya Bence, Kabupaten Blitar. Waktu pelaksanaan magang kerja ini dilaksanakan selama 3 bulan pada bulan Juli sampai bulan Oktober. Magang kerja ini menggunakan metode pelaksanaan praktek sehari-hari, observasi dan diskusi serta pemasangan perangkap yang dilakukan di gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung.

Berdasarkan hasil pengamatan, manajemen pengelolaan beras di gudang BULOG Bence termasuk dalam kategori sudah cukup baik dan teratur sesuai dengan prosedur. Pemeriksaan beras awal masuk meliputi (pemeriksaan kadar air, derajat sosoh, butir menir, butir patah, butir utuh dan benda lain, dedak sekam, hama penyakit, bau dan bahan kimia), pengelolaan tumpukan beras meliputi (pencatatan jumlah tumpukan, pemeriksaan suhu dan kelembaban, monitoring hama, fumigasi dan spraying, sanitasi, penyelesaian beras turun mutu dan pemeriksaan akhir), pengiriman raskin dan operasi pasar, adminitrasi gudang. Sistem Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT) yang dilakukan juga sudah baik. Sehingga kemunculan hama-hama gudang disana bisa teratasi dengan baik sesuai prosedur yang telah dicanangkan.

Dari hasil perangkap yang dipasang di dalam gudang, serangga hama yang banyak terdapat di gudang Bence adalah Psocids, Tribolium spp., Sitophilus oryzae, dan Cryptolestes ferrugineus.

 

 

DAFTAR SINGKATAN

BAST              : Berita Acara Serah Terima

BULOG          : Badan Urusan Logistik

BUMN            : Badan Usaha Milik Negara

Divre               : Divisi Regional

GBB                : Gudang BULOG Baru

GCG               : Good Coorperate Governance

GMT               : Grain Mouisture Tester

HPP                 : Hama Pasca Panen

Keppres           : Keputusan Presiden

Lol                   : Letter of Intent

OPK                : Operasi Pasar Khusus

P3K                 : Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan

Perum              : Perusahaan Umum

PP                    : Peraturan Pemerintah

PPK                 : Petugas Pemeriksa Kualitas

Raskin             : Beras untuk Rakyat Miskin

Satker              : Satuan Kerja

SOP                 : Standar Operasional Prosedur

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN.. ii

KATA PENGANTAR. iii

SUMMARY. iv

RINGKASAN.. v

DAFTAR SINGKATAN.. vi

DAFTAR ISI vii

DAFTAR GAMBAR. x

I.  PENDAHULUAN.. 11

1.1. Latar Belakang. 11

1.2. Tujuan. 13

1.3. Sasaran Kompetensi 14

1.3.1. Bagi Mahasiswa. 14

1.3.2. Bagi Perusahaan. 14

1.3.3. Bagi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. 14

II. TINJAUAN PUSTAKA. 16

2.1. Beras. 16

2.2. Gudang. 17

2.3. Pengelolaan Komoditas Simpanan. 18

2.4. Hama Gudang. 20

III. METODE PELAKSANAAN.. 22

3.1. Tempat dan Waktu. 22

3.2. Metode Pelaksanaan. 22

IV. HASIL dan PEMBAHASAN.. 24

4.1. Perusahaan Umum BULOG.. 24

4.1.1. Profil Perusahaan. 24

4.1.2. Visi dan Misi Perusahaan. 25

4.1.3. Struktur Organisasi 26

4.1.4. Lokasi dan Tata Letak Perusahaan. 26

4.2. Hasil 27

4.2.1. Pengenalan Lingkungan BULOG.. 27

4.2.2. Pengadaan Beras pada BULOG.. 27

4.2.3. Pemeriksaan Awal Beras Masuk. 28

4.2.4. Pengelolaan Tumpukan Beras di Gudang. 30

4.2.5. Pengiriman Raskin (Beras Miskin) dan Operasi Pasar. 33

4.2.6. Adminitrasi Gudang. 34

4.2.7. Jenis dan Populasi Serangga Hama Yang Ditemukan pada Trap yang Dipasang di Gudang Penyimpanan Beras Perum BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung. 34

4.3. Pembahasan. 35

4.3.1. Pengenalan Lingkungan BULOG.. 35

4.3.2. Pengadaan Beras Pada BULOG.. 37

4.3.3. Pemeriksaan Awal Beras Masuk. 37

4.3.4. Pengelolaan Tumpukan Beras di Gudang. 39

4.3.5. Pengiriman Raskin dan Operasi Pasar 43

4.3.6. Adminitrasi Gudang. 44

4.3.7. Serangga yang Ditemukan pada Perangkap yang Dipasang pada Stapel Beras di Gudang Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung. 44

V. KESIMPULAN dan SARAN.. 46

5.1. Kesimpulan. 46

5.2. Saran. 46

DAFTAR PUSTAKA. 47

LAMPIRAN.. 49

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR TABEL

Nomor                                                 Teks                                                  Halaman

1 …… Beberapa Spesies Serangga yang Menyerang Bahan Simpan. 20

2  …… Pemeriksaan Kualitas Beras Bulan Juli-Oktober 2014. 30

3    Jumlah Serangga yang Ditemukan pada Perangkap yang Dipasang pada  Gudang Beras Bence Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung. 34

4 …… Kegiatan Magang Kerja di GBB Bence, Perum BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung  49

 

 


DAFTAR GAMBAR

 

Nomor                                                 Teks                                                  Halaman

 

1 …. Tumpukan Kunci Lima pada Penataan Stapel di Gudang BULOG……………40

2 …. Beberapa Form atau Surat yang Digunakan oleh Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung…………………………………………………………………………56

3 …. Pelaksanaan Fumigasi dan Spraying………………………………………………………57

4 …. Perbaikan Kualitas Beras di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung………………………………………………………………………………………58

5 …. Kegiatan Pemeriksaan Awal Beras Masuk di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung……………………………………………………………….59

6  … Pemeriksaan Keadaan Lingkungan Dalam dan Luar Gudang BULOG Setelah Dilakukan Sanitasi Disetiap Lorong Gudang. 60

7 …. Beberapa Alat-alat yang Digunakan pada Pemeriksaan Beras Awal Sebelum Masuk Gudang dan Alat-alat Perbaikan Kualitas Beras pada Gudang. 61

8 …. Kegiatan Pengiriman Raskin di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung  62

9 …. Pemasangan Perangkap Hama pada Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung  63

10 .. Denah Gudang BULOG Baru Bence Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. 64

 

 

 

 

 





 

I.         PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

 

Lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk keterampilan dan kecakapan seseorang untuk memasuki dunia kerja. Pendidikan yang dilakukan di perguruan tinggi masih terbatas pada pemberian teori dan praktek dalam skala kecil dengan intensitas yang terbatas. Agar dapat memahami dan memecahkan setiap permasalahan yang muncul di dunia kerja, maka mahasiswa perlu melakukan kegiatan pelatihan kerja secara langsung di instansi atau lembaga yang relevan dengan program pendidikan yang diikuti. Sehingga setelah lepas dari ikatan akademik di perguruan tinggi yang bersangkutan, mahasiswa bisa memanfaatkan ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh selama masa pendidikan dan masa pelatihan kerja untuk melanjutkan kiprahnya di dunia kerja yang sebenarnya. Sebab, untuk dapat terjun langsung di masyarakat, tidak hanya dibutuhkan pendidikan formal yang tinggi dengan perolehan nilai yang memuaskan, namun diperlukan juga ketrampilan (skill) dan pengalaman pendukung untuk lebih mengenali bidang pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Salah satu program yang dapat ditempuh adalah dengan melaksanakan magang.

Magang adalah kegiatan akademik (intrakulikuler) yang dilakukan oleh mahasiswa dengan melakukan praktek kerja secara langsung pada lembaga atau  instansi yang relevan dengan pendidikan yang diambil mahasiswa dalam perkuliahan. Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah kerja praktek dengan mengikuti semua aktifitas di lokasi magang. Kegiatan ini sesuai dengan kurikulum program Strata Satu (S1), Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya (UB) Malang, bahwa pada semester tujuh, setiap mahasiswa diwajibkan melaksanakan kegiatan magang yang mempunyai bobot 4 sks. Magang digunakan sebagai bahan penulisan laporan Tugas Akhir (TA) sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1). Sesuai dengan tuntutan dari kurikulum pendidikan Strata Satu, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang, maka untuk kegiatan magang mahasiswa ini dilaksanakan di Perusahaan  atau instansi yang bergerak di bidang pertanian.

Salah satu  yang bergerak dalam bidang tersebut adalah Perum Bulog.  Amrullah (2004) mengemukakan bahwa perusahaan ini merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pengganti Badan Urusan Logistik (BULOG) yang dulu merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND). Kehadirannya didasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 tahun 2003 tentang Pendirian Perum Bulog. Dalam pelaksanaan magang di Perum Bulog mempunyai tugas antara lain mendukung tugas pemerintah dalam rangka pengamanan stok pangan nasional, berperan secara srategis dalam pengamanan harga pembelian gabah dan beras yang dapat memberikan insentif bagi petani agar dapat mempertahankan kesinambungan usaha taninya, menjamin ketersediaan stok pangan (khususnya beras) bagi masyarakat miskin, menjalankan manajemen logistik untuk meningkatkan pelayanan kepada petani produsen maupun konsumen dalam lingkup waktu, jumlah, kualitas dan tempat, meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan serta menyelenggarakan kegiatan ekonomi dibidang pangan secara berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.

Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang memberikan energi dan zat gizi yang tinggi. Beras sebagai komoditas pangan pokok dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan preferensi masyarakat terhadap beras semakin besar. Berdasarkan data Susenas 1990-1999, tingkat partisipasi konsumsi beras di setiap provinsi maupun tingkatan pendapatan mencapai sekitar 97-100 %. Ini artinya hanya sekitar 3 % rumah tangga yang tidak mengkonsumsi beras sebagai pangan pokok terutama pangan pokok tunggal. Tingkat partisipasi konsumsi beras yang lebih kecil 90 % hanya ditemukan di pedesaan Papua. Sebagai gambaran, tingkat konsumsi beras rata-rata di kota tahun 1999 adalah 96,0 kg per kapita /tahun dan didesa adalah 111,8 kg per kapita/tahun (Suharno, 2005).

Akan tetapi, penyimpanan beras di gudang BULOG sangat rentan terhadap serangan hama-hama gudang, khususnya serangga hama gudang. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi kemunculan serangga hama gudang, yaitu beberapa faktor fisik penyimpanan beras yang terdiri dari iklim mikro, bahan simpan, dan kondisi fisik gudang sebagai tempat penyimpanan (Pitaloka, dkk, 2012).

Iklim mikro yang berpengaruh yaitu suhu gudang penyimpanan, kelembaban dalam gudang, cahaya dan aerasi gudang. Selain itu, faktor fisik dari bahan simpan itu sendiri juga akan berpengaruh terhadap kemunculan hama gudang. Faktor fisik bahan simpan tersebut meliputi kadar air dan kondisi butiran bahan simpan. Kondisi fisik gudang (komponen yang ada dalam gudang, misalnya atap, ventilasi dan saluran drainase, dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya) juga dapat berpengaruh terhadap kemunculan hama gudang. Jenis hama gudang yang muncul yaitu serangga, tungau dan tikus.

Dari beberapa jenis hama gudang tersebut, serangga hama merupakan jenis hama gudang yang paling sering menginfestasi di tempat penyimpanan. Hal ini disebabkan karena serangga merupakan binatang yang paling banyak jumlahnya dan mayoritas jenis serangga berperan sebagai hama. Salah satu sifat serangga adalah suhu tubuhnya mampu menyesuaikan dengan suhu lingkungannya. Sehingga serangga dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat hidupnya, terutama jika keadaan lingkungannya tidak mengalami perubahan secara ekstrim. Oleh karena itu untuk mengatasi hal-hal tersebut maka perlu dilaksanakan sebuah manajemen stok beras di gudang penyimpanan khususnya di gudang BULOG.

 

1.2    Tujuan

Tujuan magang kerja ini dibagi menjadi dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus antara lain sebagai berikut :

  1. Tujuan Umum

Untuk memberi kesempatan mahasiswa agar mendapatkan pengalaman kerja di sektor pertanian yang relevan dengan profesi yang akan diembannya dimasyarakat.

  1. Tujuan Khusus

Untuk mempelajari serta memahami manajemen stok beras yang diterapkan di Perum BULOG Sub Divre Tulungagung.

1.3 Sasaran Kompetensi

1.3.1 Bagi Mahasiswa

1)      Memperoleh pemahaman tentang hubungan antara teori di kampus dengan aplikasi praktis di lapangan.

2)      Menguji kemampuan pengembangan karir dengan tujuan yang realistis.

3)      Mengembangkan kebiasaan bekerja secara profesional.

4)      Meningkatkan kemampuan untuk hubungan interpersonal.

5)      Mengenal dan belajar dengan tenaga-tenaga professional di bidang pertanian.

6)      Menyiapkan diri dalam fase transisi menjadi tenaga penuh-waktu kerja setelah lulus.

7)      Mempertahankan status mahasiswa sambil belajar pada pekerjaan profesional.

1.3.2 Bagi Perusahaan

1)      Membangun hubungan dengan calon tenaga potensial yang telah menunjukkan kinerja saat mahasiswa melakukan magang.

2)      Mendidik mahasiswa yang bermotivasi tinggi.

3)      Memanfaatkan tenaga terdidik untuk pengenalan ide-ide baru dan segar.

4)      Mengembangkan program pelatihan yang efisien.

5)      Memanfaatkan mekanisme magang sebagai alat merekrut tenaga professional dengan dunia kampus.

6)      Menyalurkan dana dan jasa sebagai bagian dari pertanggung jawaban sosial untuk mendukung pendidikan perguruan tinggi pertanian untuk mengantisipasi krisis pangan, krisis energi dan krisis air di masa mendatang.

1.3.3 Bagi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

1)      Mendapatkan umpan balik mahasiswa yang dapat digunakan untuk perbaikan kurikulum.

2)      Memperkuat hubungan positif dengan para pihak yang bergerak di sektor pertanian.

3)      Meningkatkan hubungan untuk kepentingan masyarakat luas dan mendorong dukungan masyarakat untuk program-program pendidikan tinggi pertanian.

4)      Mendemonstrasikan kepedulian Fakultas Pertanian UB dalam pendidikan pertanian dan menunjukan dukungannya melalui kinerja individualitas mahasiswa dalam dunia kerja.

5)      Mengembangkan sinergitas para pihak yang bergerak di industri pertanian untuk memberikan kesempatan magang bagi mahasiswa FP-UB.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


II.  TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Beras

Beras merupakan bahan pangan pokok yang dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisahkan dari sekam dengan cara penggilingan, sehingga dihasilkan beras pecah kulit. Setelah itu akan dilakukan penyosohan beras untuk membuang lapisan aleuron yang menempel pada beras dan dihasilkan beras sosoh (Damardjati, 1988).

Ukuran butir beras hasil penggilingan dibedakan atas beras kepala, beras patah, dan menir. Berdasarkan persyaratan yang dikeluarkan oleh Bulog, beras kepala merupakan beras yang memiliki ukuran lebih besar dari 6/10 bagian beras utuh. Beras patah memiliki ukuran butiran 2/10 bagian sampai 6/10 bagian beras utuh. Menir memiliki ukuran lebih kecil dari 2/10 bagian beras utuh atau melewati lubang ayakan 2.0 mm (Waries, 2006).

Dalam standarisasi mutu, dikenal empat tipe ukuran beras, yaitu sangat panjang (lebih dari 7 mm), panjang (6-7 mm), sedang (5.0-5.9 mm), dan pendek (kurang dari 5 mm). Sedangkan berdasarkan bentuknya (perbandingan antara panjang dan lebar), beras dapat dibagi menjadi empat tipe, yaitu : lonjong (lebih dari 3), sedang (s.4-3.0), agak bulat (2.0-2.39) dan bulat (kurang dari 2).  Tinggi rendahnya mutu beras tergantung kepada beberapa faktor, yaitu spesies dan varietas, kondisi lingkungan, waktu pertumbuhan, waktu dan cara pemanenan, metode pengeringan, dan cara penyimpanan (Siddik dan Halid, 1983).

Standarisasi pengolahan dan mutu beras dengan penerapan standar dari pasca panen komoditi beras hingga distribusi adalah sebagai berikut : (1) Perlakuan secara baik agar tidak kotor, berjamur, dan berbau busuk, (2) Pemilihan dan penyortiran hasil panen dari serangan OPT, (3) Produk bebas hama dan penyakit, (4) bebas dari bau busuk, asam atau bau yang lainnya, (5) Bebas dari bahan kimia baik dari sisa pupuk, insektisida dan fungisida, (6) Pembersihan hasil panen harus hati-hati supaya produk tidak cacat, (7) Produk hasil panen dikemas mengikuti ketentuan grading, (8) Kemasan harus dapat melindungi produk dari kerusakan dalam pengangkutan dan penyimpanan, (9) Bahan kemasan tidak mengandung OPT, (10) Kemasan diberi label berupa tulisan yang dapat menjelaskan produk yang dikemas ( Reza, 2004 ).

 

2.2 Gudang

Salah satu cara untuk mempertahankan agar beras tetap dalam keadaan baik sebelum dijual yaitu dengan penyimpanan. Yang perlu dipertimbangkan dalam penyimpanan serta perawatan beras yaitu kualitas beras, alat pengemas, dan faktor lingkungan. Kesalahan dalam melakukan penyimpanan beras dapat mengakibatkan terjadinya respirasi, tumbuhnya jamur, dan serangan serangga, binatang mengerat dan bahkan yang sering kita alami yaitu timbulnya serangan kutu beras. Tentunya itu semua akan dapat menurunkan mutu beras (Saripudin, 2010).

Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi dan operasi industri yang berfungsi untuk menyimpan bahan baku dan bahan kemas yang belum didistribusikan. Selain untuk penyimpanan, gudang juga berfungsi untuk melindungi bahan (baku dan pengemas) dari pengaruh luar dan binatang pengerat, serangga, serta melindunginya dari kerusakan. Agar dapat menjalankan fungsi tersebut, maka harus dilakukan pengelolaan pergudangan secara benar atau yang sering disebut dengan manajemen pergudangan (Priyambodo, 2007).

Pasca panen padi mencakup pemanenan hasil dan pemrosesan gabah hingga siap digunakan oleh konsumen. Penyimpanan merupakan merupakan salah satu tahap penting karena pada proses tersebut padi mengalami proses penurunan kualitas dan kuantitas. Setelah dipanen padi disimpan dalam bentuk gabah atau beras. Penyimpanan sangat diperlukan, karena padi dipanen secara musiman, sementara beras dibutuhkan setiap hari. Salah satu masalah selama penyimpanan beras adalah serangan hama gudang. Hama gudang menimbulkan kerusakan  pada gabah maupun beras sehingga menjadi kotor, timbul bau, berjamur. Kondisi tersebut mengundang hama sekunder untuk merusak beras atau gabah sehingga menambah parah tingkat kerusakan ( Anggara dan Sudarmaji, 2009 ).

Menurut (Anonymousa, 2009) dalam peaturan pergudangan BULOG terdapat prosedur penyimpanan meliputi :

  1. Lokasi gudang

Lokasi gudang harus strategis guna kelancaran distribusi baik dari segi transportasi lalu lintas, bebas dari banjir atau tidak ada air yang tergenang.

  1. Kondisi gudang

Untuk pengeolaan barang maka kondisi bangunan harus kokoh, rangka gudang, dinding dibuat yang kuta supaya menjamin keamanan barang simpanan, lantai terbuat dari beton dan pintu harus dilengkapi kunci, mempunyai peredaran udara atau ventilasi.

  1. Perlengkapan gudang

Perum BULOG mempunyai perlengkapan seperti alat timbang, alas (flonder), alat pemadam kebakaran, alat pengambil sampel beras, penjahit kemasan, pengayak, tangga untuk naik ke tumpukan, pagar yang kokoh, alat penerangan listrik yang cukup.

  1. Penumpukan barang

Dalam melaksanakan penyimpanan barang maka perlu dilakukan penumpukan barang yang baik dan benar agar tumpukan barang tidak mudah roboh dan dapat dihitung dengan mudah. Untuk ukuran timpukan harus disesuaikan dengan kondisi barang. Dalam tumpukan barang dibuat lorong yang berfungsi sebagai mempermudah perawatan barang, mengatur kebersihan.

 

2.3 Pengelolaan Komoditas Simpanan

Menurut Anonymousa (2009) upaya perawatan kualitas dan kuantitas pada produk simpanan khususnya beras sangatlah perlu untuk diperhatikan guna tercapainya efektivitas penyimpanan. Dengan demikian pengelolaan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dilaksanakan. Maka dari itu hal-hal yang perlu untuk dilaksanakan dalam pengelolaan komoditas simpanan antara lain sebagai berikut :

  1. Pemeriksaan dan Monitoring

Pemerikasaan terhadap kondisi umum gudang seperti ventilasi, kebocoran, lubang bekas keratan tikus, pemeriksaan terhadap tumpukan barang, pemeriksaan terhadap peralatan pergudangan, pemeriksaan lingkungan (drainase,vegetasi,kebersihan dan cuaca), pemeriksaan tingkat serangan hama guna pelaksanaan fumigasi.

  1. Pelaksanaan Sanitasi

Pelaksanaan sanitasi meliputi kebersihan gudang dari kotoran insektisida. Pelaksanaan tersebut perlu dilakukan karena dapat membahayakan produk simpanan, kebersihan gudang harus diperhatikan guna menekan populasi hama seperti tungau hama lainnya. Kebersihan komoditas yang disimpan dengam memisahkan barang yang rusak dengan barang yang baik, kebersihan disekitar gudang untuk menekan kelembaban relatif yang merupakan sarang hama, pengaturan vegetasi tanaman tidak boleh semak-semak karena dapat menjadi sarang tikus dan sebagainya.

  1. Pengendalian Hama

Pengendalian hama dilakukan untuk mengurangi tingkat serangan hama pada produk simpanan. Pengendalian ini menggunakan spraying, fogging, fumigasi dan menggunakan gas karbondioksida.

  1. Perawatan dengan CO2

Perawatan komoditas menggunakan gas karbondioksida merupakan sistem penyimpanan dengan cara menyungkup komditas dengan plastik kedap udara. Tujuan dari perlakuan ini adalah menghambat pertumbuhan dan mencegah reinfestasi serangga hama, jamur dan mikroorganisme lain.

  1. Perbaikan Kualitas dan Pengolahan Beras Turun Mutu

Kegiatan pengolahan untuk mempebaiki kualitas beras dari kenampakan fisiknya supaya komoditasnya tetap pada standar mutu. Apabila barang mengalami kerusakan maka terdapat alternatif penyelesaian seperti pengolahan kembali, pemusnahan barang, dan penjualan beras turun mutu yang diatur pada peraturan yang berlaku.

 

2.4 Hama Gudang

Hama gudang pada umumnya serangga yang menyerang produk ditempat penyimpanan (gudang). Hama gudang berpotensi  menyebabkan kehilangan hasil selama produk dalam penyimpanan. Kehilangan hasil yang disebabkan oleh hama gudang dapat mencapai 10 – 15% dari isi gudang. Serangga hama gudang adalah serangga yang telah beradaptasi pada lingkungan penyimpanan dengan baik (Syarif, 2012).

Menurut Winarno (2006) serangga hama gudang menyerang bahan-bahan pangan tertentu yang sesuai dengan kebutuhanya. Salah satu ciri spesifik dari serangga hama gudang adalah mengalami metamorfosis yang sempurna, yaitu dari telur,larva, pupa, dan imago.

Tabel 1 Beberapa Spesies Serangga yang Menyerang Bahan Simpan (Rees, 2004).

Nama Umum Nama Ilmiah Famili
Flat grain beetle Cryptolestes pusillus (Schonh) Cucujidae
Rice weevil Sitophilus oryzae (L.) Curculionidae
Red flour beetle Tribolium castaneum (Hum.) Tenebrionidae
Confused flour beetle Tribolium cofusum duVal Tenebrionidae
Trogoderma complex Trogoderma spp. Dermestidae
Cadelle Tenebroides mauritanicus (L.) Ostomidae
Foreign grain beetle Ahasverus advena (Waltl) Cucujidae
Rice moth Corcyra cephalonica Staint Pyralidae
Angoumois grain moth Sitotroga cerealella (Olive.) Gelechiidae
Maize weevil Sitophilus zeamais Mots. Curculionidae
Lesser grain borer Rhyzopertha dominica (F.) Bostrichidae

 

Sedangkan menurut Munro (1966) Ordo Coleoptera adalah kelompok serangga yang paling banyak anggotanya dan hampir semua relung ekologis dalam penyimpanan dapat dimanfaatkan olehnya. Famili Bruchidae, Bostrichidae dan Curculionidae berperan sebagai hama primer, sedangkan hama sekunder banyak yang merupakan anggota famili Cucujidae, Silvanidae dan Tenebrionidae. Beberapa famili lain misalnya Cleridae dan Dermestidae menyerang bahan simpan hewani. Famili Cryptophagidae, Mycetophagidae dan Ptinidae adalah pemakan cendawan atau scavenger, sedangkan famili Staphylinidae, Carabidae dan Histeridae menjadi predator di penyimpanan. Ada juga yang menyerang bangunan penyimpanan yang pada mulanya menginfestasi bahan kayu, yaitu famili Bostrichidae, Lyctidae dan Scolytidae. Famili Trogossitidae dan Dermestidae berpupa pada tempat-tempat yang tersembunyi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III.             METODE PELAKSANAAN

 

3.1 Tempat dan Waktu

Tempat pelaksanaan magang kerja di Gudang Beras Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. Lokasi gudang yaitu di Gudang BULOG Baru Bence, Jalan Raya Bence No. 1, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Waktu pelaksanaan magang kerja ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan mulai bulan Juli 2014 sampai dengan bulan Oktober 2014.

3.2 Metode Pelaksanaan

Kegiatan magang dilaksanakan dengan beberapa metode, yaitu:

  1. Praktek magang kerja langsung sesuai kegiatan sehari-hari yang dilakukan di Gudang Bence Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung.
  2. Pengambilan data primer yang berhubungan secara langsung dengan hama gudang. Pengambilan data primer sebagai berikut:
    1. a.    Pemasangan Yellow Sticky Trap, yang digantung diantara tumpukan beras. Perangkap ini efektif untuk menangkap serangga yang aktif terbang.
    2. b.    Pemasangan Pitfall Trap yang terbuat dari gelas plastik yang berperekat, diletakkan sejajar dengan permukaan tumpukan karung. Perangkap ini digunakan untuk menjebak serangga yang berjalan diatas karung.
    3. c.    Pemasangan Bait Trap yang terbuat dari campuran biji-bijian seperti gabah, beras giling, biji kacang tanah dan kedelai yang dicampur dengan minyak zaitun.
    4. d.    Pemasangan perangkap Delta Trap yang didalamnya terdapat Feromon yang merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh serangga untuk berkomunikasi dengan individu lain dalam satu spesies. Biasanya feromon bersifat spesifik dan pada serangga dikenal dua macam feromon yaitu feromon agregat dan feromon seks. Penggunaan kapsul Feromon ini dipasang di kertas yang berbentuk delta dan digantung pada besi penyangga kemudian  diletakkan diantara lorong stapel beras.
    5. Pengumpulan data sekunder yang digunakan sebagai pelengkap data primer untuk menyusun laporan hasil magang kerja. Metode yang digunakan yaitu dengan mencatat dan mencari data yang diperoleh dari Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. Pencarian data dapat dilakukan melalui studi literatur. Selain itu dapat diperoleh melalui laporan, referensi, brosur yang telah ada sebelumnya untuk melengkapi data primer, sehingga memudahkan pengambilan contoh selama berada di tempat magang.
    6. Diskusi dan wawancara secara langsung dengan pembimbing lapang untuk memperoleh informasi yang lebih jelas tentang hal yang berhubungan langsung dengan kegiatan Magang Kerja.
    7. Pengambilan foto yang berhubungan/ mendukung kegiatan Magang Kerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV.    HASIL dan PEMBAHASAN

 

4.1 Perusahaan Umum BULOG

4.1.1 Profil Perusahaan

Sejarah perkembangan BULOG tidak dapat terlepas dari sejarah lembaga pangan di Indonesia sejak zaman sebelum kemerdekaan sampai pemerintahan sekarang ini. Secara umum tugas lembaga pangan tersebut adalah untuk menyediakan pangan bagi masyarakat pada harga yang terjangkau diseluruh daerah serta mengendalikan harga pangan di tingkat produsen dan konsumen. Instrumen untuk mencapai tujuan tersebut dapat berubah sesuai kondisi yang berkembang.

Perjalanan Perum BULOG dimulai pada saat dibentuknya BULOG pada tanggal 10 Mei 1967 berdasarkan keputusan presidium kabinet No.114/U/Kep/5/1967, dengan tujuan pokok untuk mengamankan penyediaan pangan dalam rangka menegakkan eksistensi Pemerintahan baru. Selanjutnya direvisi melalui Keppres No. 39 tahun 1969 tanggal 21 Januari 1969 dengan tugas pokok melakukan stabilisasi harga beras, dan kemudian direvisi kembali melalui Keppres No 39 tahun 1987, yang dimaksudkan untuk menyongsong tugas BULOG dalam rangka mendukung pembangunan komoditas pangan yang multi komoditas. Perubahan berikutnya dilakukan melalui Keppres No. 103 tahun 1993 yang memperluas tanggung jawab BULOG mencakup koordinasi pembangunan pangan dan meningkatkan mutu gizi pangan, yaitu ketika Kepala BULOG dirangkap oleh Menteri Negara Urusan Pangan.

Pada tahun 1995, keluar Keppres No 50, untuk menyempurnakan struktur organisasi BULOG yang pada dasarnya bertujuan untuk lebih mempertajam tugas pokok, fungsi serta peran BULOG. Oleh karena itu, tanggung jawab BULOG lebih difokuskan pada peningkatan stabilisasi dan pengelolaan persediaan bahan pokok dan pangan. Tugas pokok BULOG sesuai Keppres tersebut adalah mengendalikan harga dan mengelola persediaan beras, gula, gandum, terigu, kedelai, pakan dan bahan pangan lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam rangka menjaga kestabilan harga bahan pangan bagi produsen dan konsumen serta memenuhi kebutuhan pangan berdasarkan kebijaksanaan umum Pemerintah. Namun tugas tersebut berubah dengan keluarnya Keppres No. 45 tahun 1997, dimana komoditas yang dikelola BULOG dikurangi dan tinggal beras dan gula. Kemudian melalui Keppres No 19 tahun 1998 tanggal 21 Januari 1998, Pemerintah mengembalikan tugas BULOG seperti Keppres No 39 tahun 1968. Selanjutnya melalu Keppres No 19 tahun 1998, ruang lingkup komoditas yang ditangani BULOG kembali dipersempit seiring dengan kesepakatan yang diambil oleh Pemerintah dengan pihak IMF yang tertuang dalam Letter of Intent (LoI).

Dalam Keppres tersebut, tugas pokok BULOG dibatasi hanya untuk menangani komoditas beras. Sedangkan komoditas lain yang dikelola selama ini dilepaskan ke mekanisme pasar. Arah Pemerintah mendorong BULOG menuju suatu bentuk badan usaha mulai terlihat dengan terbitnya Keppres No. 29 tahun 2000, dimana didalamnya tersirat BULOG sebagai organisasi transisi (tahun 2003) menuju organisasi yang bergerak di bidang jasa logistik di samping masih menangani tugas tradisionalnya. Pada Keppres No. 29 tahun 2000 tersebut, tugas pokok BULOG adalah melaksanakan tugas Pemerintah di bidang manajemen logistik melalui pengelolaan persediaan, distribusi dan pengendalian harga beras (mempertahankan Harga Pembelian Pemerintah – HPP), serta usaha jasa logistik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Arah perubahan tesebut semakin kuat dengan keluarnya Keppres No 166 tahun 2000, yang selanjutnya diubah menjadi Keppres No. 103/2000. Kemudian diubah lagi dengan Keppres No. 03 tahun 2002 tanggal 7 Januari 2002 dimana tugas pokok BULOG masih sama dengan ketentuan dalam Keppers No 29 tahun 2000, tetapi dengan nomenklatur yang berbeda dan memberi waktu masa transisi sampai dengan tahun 2003. Akhirnya dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah RI no. 7 tahun 2003 BULOG resmi beralih status menjadi Perusahaan Umum (Perum) BULOG ( Anonimousb , 2010).

 

4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan

Visi

Terwujudnya perusahaan yang handal dalam pencapaian ketahanan pangan nasional yag berkelanjutan.

Misi :

  1. Memenuhi kecukupan pangan pokok secara aman, bermutu, stabil dan terjangkau.
  2. Mewujudkan SDM profesional, jujur, amanah, dan menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) di bidang pangan.

4.1.3 Struktur Organisasi

 

 

 

 

 

4.1.4 Lokasi dan Tata Letak Perusahaan

Gudang Bulog yang berada di Blitar merupakan salah satu gudang BULOG milik Perum BULOG sub divre Tulungagung. Gudang BULOG yang berada di Blitar ada 2, semuanya terletak di daerah kecamatan Garum. Salah satu gudang tersebut berada di Desa Bence kecamatan Garum kabupaten Blitar dan yang satunya terletak di Desa Pojok kecamatan Garum. Desa Bence memiliki ketinggian  rata-rata yang rendah yaitu  0-276 m diatas permukaan laut. Gudang BULOG Baru (GBB) Bence pada bagian selatan berbatasan langsung dengan Jalan Raya Blitar – Malang, sebelah barat berbatasan dengan pemukiman warga, sebelah utara berbatasan langsung dengan lahan persawahan dan sebelah timur berbatasan langsung dengan lahan kosong serta batas desa Garum dan Talun.

Gudang BULOG Bence memiliki 8 unit gudang utama sebagai tempat penyimpanan beras serta memiliki kantor utama sebagai tempat berlangsungnya kegiatan kepala gudang seluruh karyawan. Selain itu Gudang BULOG Bence memiliki 1 unit rumah dinas, 1 unit Pos Keamanan, 1 unit rumah kuli dan 1 unit Mushola yang semuanya digunakan sebagai rutinitas sehari-hari karyawan BULOG.

4.2 Hasil

4.2.1 Pengenalan Lingkungan BULOG

  1. Dalam kantor terdapat beberapa karyawan dengan bagian masing-masing seperti kepala gudang, juru timbang, kerani, satker raskin, bagian adminitrasi, PPK dan satpam serta kuli angkut.
  2. Lingkungan gudang terletak di Jalan Raya Bence No. 1, Kab. Blitar. Gudang ini disebut dengan Gudang BULOG Baru (GBB) Bence yang berkapasitas 15.000 hingga 16.000 ton beras, dengan rincian 1 unit gudang masing-masing dapat  menampung sekitar 2000 sampai 3000 ton beras.
  3. Gudang BULOG Baru (GBB) Bence mempunyai 6 Mitra Kerja dan 1 Satgas untuk menyuplai stok beras. Kegiatan pengadaan tersebut dapat berlangsung ketika ada Mitra Kerja yang mengirimkan beras ke gudang. Berikut beberapa Mitra Kerja, yaitu Satgas ADA 2014,  UD. Abadi, KSU Sri Lestari, UD. Inti Jaya, UD. Raya Jaya, CV. Lestari Mulyo, CV. Sinar Jaya. Dan selama kegiatan magang kerja berlangsung, Mitra Kerja tersebut yang sangat aktif mengirimkan beras ke GBB Bence.
  4. Pengukuran lorong di GBB Bence adalah :
    1. Lorong utama /pokok 150 cm.
    2. Lorong silang 100 cm
    3. Lorong kebakaran 75 cm.
    4. Lorong stapel 50 cm.
    5. Perlengkapan gudang pada BULOG terdiri dari :
      1. Timbangan duduk sentisimal yang berfungsi untuk menimbang beras.
      2. Probe yang berfungsi untuk mengambil sampel beras pada karung.
      3. Termohigrometer berfungsi untuk mengetahui suhu dan kelembaban pada gudang.

4.2.2 Pengadaan Beras pada BULOG

Penerimaaan beras di gudang BULOG diawali dengan pengiriman beras oleh Mitra Kerja BULOG dengan jumlah beras sesuai dengan kontrak kerja yang telah disepakati. Beras dikirim menggunakan angkutan truck, setelah sampai di gudang pihak mitra kerja menemui petugas keamanan untuk melaporkan jumlah beras yang dikirim serta meminta nomor antrian untuk memasuki gudang.

4.2.3 Pemeriksaan Awal Beras Masuk

Beras yang akan masuk ke dalam gudang harus melalui tahap pemeriksaan terlebih dahulu, tahap ini bertujuan untuk memeriksa kualitas serta kuantitas beras yang akan disimpan di gudang. Berdasarkan prosedur, pemeriksaan beras dilakukan menggunakan probe untuk mengambil sampel beras dari tiap karung. Sampel beras yang digunakan maksimal sebanyak 5% dari jumlah total muatan yang dibawa. Namun pada BULOG pemeriksaan dilakukan menyeluruh pada tiap karung beras. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir tindakan kecurangan yang biasa dilakukan oleh pihak mitra kerja, karena pihak BULOG seringkali menemukan kecurangan pada sisi kuantitas beras yang tidak sesuai pada saat ditimbang serta kualitas beras yang rendah pada saat diperiksa pada bagian tengah muatan, sehingga beras simpan tersebut tidak masuk kriteria yang diinginkan oleh pihak BULOG. Dengan adanya sistem demikian pihak BULOG mengharapkan bahwa beras yang masuk pada gudang merupakan beras kualitas terbaik. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memeriksa beras yang masuk antara lain :

  1. Kadar Air.

Kadar air beras simpan harus memenuhi syarat dan standar yang belaku yaitu sekitar 9% sampai dengan 14%. Pemeriksaan kadar air pada beras menggunakan alat Grain Moisture Tester (GMT) dengan prosedur uji yaitu:

  1. Sampel beras diambil sebanyak kapasitas tempat sampel yang ada pada alat GMT kemudian dimasukkan ke lubang alat dan diputar hingga 3600 .
  2. GMT diprogram ke mode “RICE”
  3. Kemudian menekan tombol enter pada alat dan menunggu hingga muncul jumlah presentase pada layar yang ada di alat tersebut.
  1. Derajat Sosoh.

Pemeriksaan derajat sosoh pada BULOG tidak menggunakan alat tertentu, namun pemeriksaan yang dilakukan yaitu dengan cara mengamati tampilan fisik luar dari beras. Besarnya derajat sosoh diketahui berdasarkan warna dari beras yang diuji. Beras yang memiliki tampilan warna putih bersih berarti memiliki nilai derajat sosoh sebesar 95%, sedangkan beras yang memiliki tampilan warna agak putih kekuning-kuningan hingga kuning  memiliki nilai derajat sosoh sebesar 90%.

  1. Butir Menir, Butir Patah (Broken) dan Butir Utuh.

Pemeriksaan butir beras pada BULOG diawali dengan pemeriksaan butir menir terlebih dahulu menggunakan alat berupa ayakan menir. Dengan cara beras diambil dari sampel sebanyak 1 genggam kemudian ditaruh di ayakan dan dilakukan pengayakan. Beras yang tertinggal di ayakan menir disebut butir menir. Butir menir tersebut kemudian ditimbang dan dihitung kadar prosentasenya berdasarkan berat sampel. Pemeriksaan butir patah dan butir utuh prosedurnya sama dengan pemeriksaan butir menir, namun perbedaaannya terletak pada alat ayakan yang digunakan.

  1. Benda Lain, Dedak Sekam dana Hama Penyakit.

Pemeriksaan beras terhadap kontaminasi benda lain dilakukan tanpa menggunakan alat, hanya dilakukan pemeriksaan dari segi fisik beras. Prosedurnya yaitu melakukan pengambilan sampel beras kemudian diletakkan di nampan  dan diamati ada tidaknya benda lain yang tercampur pada beras. Benda lain tersebut yaitu dapat berupa kerikil, tanah, gabah,  dan jerami. Pemeriksaan dedak sekam dan hama penyakit menggunakan prosedur yang sama dengan pemeriksaan benda lain hanya saja objek pengamatannya berbeda.

  1. Bau.

Pemeriksaan bau pada beras menggunakan panca indera manusia berupa hidung untuk menguji kualitas beras berdasarkan baunya. Bau yang normal pada beras memiliki bau seperti wangi beras pada umumnya, sedangkan apabila bau tersebut bukan berasal dari wangi beras, maka kualitas beras tersebut menjadi kurang baik.

  1. Bahan Kimia.

Pemeriksaan kadar bahan kimia pada beras dilakukan tanpa menggunakan alat tertentu, cukup mengamati kondisi fisik beras. Apabila ditemukan beras yang berwarna kehitam-hitaman atau kekuning-kuningan, maka beras tersebut menunjukkan bahwa telah terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia atau bekas fumigasi.

Berikut merupakan sampel pemeriksaan kualitas beras yang dilakukan pada gudang BULOG Bence  antara bulan Juli sampai Oktober 2014.

Tabel 2 Pemeriksaan Kualitas Beras Bulan Juli-Oktober 2014.

No. Mitra Kerja KA (%) DS (%) BU (%) BP (%) BM (%) BL DS HP B BK
1. CV. Lestari Mulyo (08-07-2014) 14 93 82,6 12 3,2 0 0 0 Normal 0
2. UD. Inti Jaya (10-07-2014) 13,9 92 80,1 18 4,1 2 0 7 Normal 0
3. UD. Abadi (06-08-2014) 14,1 95 83 14 3,5 0 0 2 Normal 0
4. UD. Raya Jaya (02-10-2014) 14 90 87 16 3 0 0 3 Normal 0
5. KSU. Sri Lestari (03-10-2014) 14 91 82,4 13 3,4 0 0 0 Normal 0
6. CV. Sinar Jaya (06-10-2014) 13,4 90 83 14 2,3 0 0 0 Normal 0
7. UD. Inti Jaya (07-10-2014) 14 95 88 13 2,5 0 0 0 Normal 0

Keterangan : KA adalah Kadar Air, DS adalah Derajat Sosoh, BU adalah Butir Utuh, BP adalah Butir Patah, BM adalah Butir Menir, BL adalah Benda Lain, DS adalah Dedak Sekam, HP adalah Hama Penyakit, B adalah Bau, BK adalah Bahan Kimia.

Data hasil pemeriksaan awal terhadap kualitas beras selanjutnya diserahkan kepada Kepala Gudang untuk meminta keputusan dari Kepala Gudang yang nantinya akan menentukan apakah beras tersebut dapat masuk ke dalam gudang atau ditolak dan dikembalikan kepada mitra kerja.

4.2.4 Pengelolaan Tumpukan Beras di Gudang

Beras yang telah melalui pemeriksaan awal selanjutnya akan dimasukkan ke dalam gudang, untuk penataan beras-beras tersebut menggunakan sistem tumpukan kunci lima. Tujuan dari menggunakan sistem tumpukan kunci lima yaitu untuk memudahkan dalam perhitungan beras serta menjaga tumpukan tetap stabil meskipun dilakukan penumpukan dalam jumlah banyak. Pada gudang BULOG Bence jumlah maksimal penumpukan keatas yaitu maksimal 45 tumpukan, sedangkan jumlah kesamping disesuaikan dengan batas flounder yang terpasang.

Beras yang telah ditumpuk digudang dan belum di distribusikan memerlukan sistem pengelolaan yang baik, pengeloalaan yang dilakukan terdiri dari :

  1. Pencatatan Jumlah Tumpukan

Pencatatan jumlah tumpukan bertujuan untuk memudahkan dalam pemantauan stok beras di dalam gudang. Kegiatan pemasukan beras ini diletakkan di atas stapel. Tiap stapel mempunyai umur simpan yang berbeda. Dengan demikian harus dituliskan dalam papan meliputi : tanggal pemasukan, bruto, netto, tanggal spraying dan fumigasi. Dengan adanya pencatatan pada papan ini maka dapat memudahkan untuk pemeliharaan.

  1. Pemeriksaan Suhu dan Kelembaban

Pemeriksaan suhu dan kelembaban dilakukan menggunakan alat yaitu thermohigrometer. Alat tersebut dipasang di dalam gudang diantara tumpukan beras. Namun untuk hasil pemeriksaan tidak ada dikarenakan tidak mengamati suhu dan kelembaban secara teratur.

  1. Monitoring Hama

Monitoring hama pada gudang dilakukan tanpa menggunakan alat tertentu. Monitoring hama hanya dilakukan dengan cara mengamati ada tidaknya hama yang berada diluar karung serta di sekitar daerah terselip pada karung. Selain itu monitoring juga dilakukan pada bagian lantai dan dinding gudang. Apabila terlihat ada hama yang berkeliaran maka kemungkinan tumpukan beras telah terserang oleh hama.

  1. Fumigasi dan Spraying

Fumigasi pada BULOG Bence dilakukan oleh petugas dari BULOG divre Surabaya. Dosis Fumigasi sesuai aturan yang berlaku yaitu 2 tablet per 1 ton beras, namun pada saat aplikasi dosis dapat ditambah ataupun dikurangi sesuai keadaan beras yang ada didalam gudang. Apabila terdapat serangan hama yang begitu besar pada salah satu sisi stapel, maka dosis dapat ditambah sesuai kebutuhan. Adapun nama dagang Fumigan yang sering digunakan adalah : Delicia Gastoxin, Sandphose, Fumiphose, Metil Bromide (sekarang tidak digunakan karena merusak ozon) dan Toxphos. Pada saat fumigasi yang digunakan adalah nama dagang Delicia Gastoxin. Tahapan Fumigasi dan Spraying :

  1. Beras disungkup menggunakan plastik khusus, 2 stapel beras dijadikan satu sungkup, ukuran sungkup 33 m2.
  2. Membuat wadah tablet fumigasi dengan kertas karton yang dilipat menjadi wadah, serta meletakkannya sesuai tempatnya disetiap samping kanan dan kiri stapel.
  3. Meletakkan tablet fumigasi pada wadah yang telah disiapkan.
  4. Kemudian bagian luar sungkup berupa lantai, dinding dalam dan luar serta pintu-pintu gudang dispraying.
  5. Gudang ditutup selama 1 minggu.

Proses fumigasi dan spraying dilakukan oleh gudang setiap 3 bulan sekali, namun untuk spraying dilakukan setiap 1 bulan sekali.

  1. Sanitasi

Sanitasi pada gudang BULOG dilakukan sebagai upaya menjaga kebersihan dari gudang dan menghindari adanya sumber investasi hama pada gudang. Sanitasi yang dilakukan pada gudang BULOG Bence selama bulan juli sampai oktober yaitu :

  1. Melakukan kerja bakti setiap minggu satu kali yaitu hari jumat. Kerja bakti ini bertujuan untuk selalu menjaga kebersihan gudang dari kotoran hama, beras yang tercecer dan debu serta benang – benang bekas karung. Selain didalam gudang dilakukan pula diluar gudang yaitu lingkungan sekitar dilakukan pemotongan rumput dan tanaman liar serta pohon – pohon yang lebat.
  2. Penebangan pohon – pohon yang sekiranya menganggu lingkungan gudang dan kantor. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya sarang – sarang hama gudang.
  3. Perbaikan atap dan pengecatan dinding. Perbaikan atap bertujuan untuk mencegah masuknya burung-burung.
  4. Perbaikan jalan aspal yang rusak. Hal ini bertujuan untuk mempermudah jalannya kendaraan yang masuk dan keluar.
  5. Sanitasi juga dilakukan setelah fumigasi dan spraying. Pembukaan pintu gerbang setelah fumigasi dan spraying kemudian dilakukan pembukaan sungkup. Setelah itu dilkukan pembersihan gudang dari serangga dan hewan yang mati akibat fumigasi dan spraying.
  1. Perbaikan Kualitas Beras dan Penyelesaian Beras Turun Mutu

Beras yang ditumpuk dalam jumlah banyak dan relatif lama maka akan didapatkan beras yang kualitasnya agak menurun. Beras tersebut kemudian dilakukan pemrosesan ulang untuk memperbaiki kualitas, kemudian dimasukkan dalam karung dan ditimbang selanjutnya diatas stapel pada awalnya.

  1. Pemeriksaan Akhir

Pemeriksaan akhir dilakukan sebelum beras didistribusikan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan karung sebagai kemasan beras, karena kemasan beras mempengaruhi kualitas dari beras tersebut. Pemeriksaan pada beras juga dilakukan dengan mesin penyaringan atau Blowering. Hal ini bertujuan untuk membersihkan abu sekam, kotoran, benda lain yang ada dalam beras. Beras yang siap didistribusikan yaitu beras dengan keadaan karung yang bersih, tidak bocor dan isinya sesuai dengan berat bersih pada kemasan.

4.2.5 Pengiriman Raskin (Beras Miskin) dan Operasi Pasar.

Beras yang telah dikelola denganbaik di gudang, selanjutnya akan didistribusikan melalui program raskin dan operasi pasar. Penyaluran beras melalui program raskin yaitu penyaluran beras yang diperuntukkan bagi masyarakat yang memang miskin atau kurang mampu dengan cara melalui koordinasi dari desa, sedangkan untuk operasi pasar pendistribusian beras dengan cara berkoordinasi dengan Dinas Koperindag untuk mendistribusikan beras ke penjual beras di pasar. Beras yang disalurkan melalui program raskin dan operasi pasar adalah beras yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang sama, hanya saja harganya yang berbeda lebih tinggi pada operasi pasar.

4.2.6 Adminitrasi Gudang

Adminitrasi di gudang BULOG dilakukan untuk mendokumentasikan semua data dan kegiatan yang telah dilakukan pada gudang. Adminitrasi gudang meliputi : penulisan bukti timbang pemasukan beras (GDIM), penulisan bukti timbang pengeluaran beras (GDIK), penulisan berita acara serah terima raskin (BAST).

4.2.7 Jenis dan Populasi Serangga Hama Yang Ditemukan pada Trap yang Dipasang di Gudang Penyimpanan Beras Perum BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung.

Pemasangan perangkap diletakkan pada gudang 1(satu), karena pada gudang tersebut tidak terdapat aktivitas pemasukan dan pengeluaran beras untuk raskin, sehingga kondisi tumpukan beras (stapel) tetap utuh. Perangkap hama dipasang pada waktu sebelum dan sesudah fumigasi dan spraying. Serangga yang ditemukan pada perangkap dapat dilihat pada tabel 3(tiga).

Tabel 3 Jumlah Serangga yang Ditemukan pada Perangkap yang Dipasang pada Gudang Beras Bence Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung

Jenis Serangga

Jumlah serangga

Sebelum Fumigasi

Setelah Fumigasi

P

Y

B

F

P

Y

B

F

Psocids

2854

3514

854

369

428

74

T. castaneum

3

219

111

5

S. oryzae

20

4

C. ferrugineus

28

155

8

7

32

2

R. dominica

2

2

1

7

Keterangan P adalah Pitfall trap, Y adalah Yellow Sticky trap, B adalah Bait trap, F adalah Feromon.

 

Populasi serangga lebih banyak ditemukan sebelum diadakan fumigasi dan spraying daripada setelah kegiatan fumigasi (Tabel 3). Hal ini dikarenakan adanya bahan aktif yang digunakan pada saat fumigasi dan spraying sehingga serangga yang ada di dalam gudang penyimpanan beras mati. Setelah fumigasi dan spraying tidak ditemukan serangga yang menempel pada perangkap, namun setelah selang waktu 30 hari mulai ditemukan serangga yang menempel pada perangkap. Hal ini dapat dikatakan bahwa efektifitas bahan aktif pada fumigasi hanya bertahan dalam waktu yang singkat.

Serangga yang ditemukan pada waktu sebelum fumigasi menggunakan pitfall trap, yellow sticky trap, bait trap dan feromon antara lain Psocids, T. castaneum, C. ferrugineus, R. Dominica, dan S. oryzae paling dominan ditemukan pada perangkap Yellow sticky trap.

Pada pengamatan serangga setelah fumigasi, jumlah serangga yang ditemukan pada perangkap lebh sedikit. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh bahan aktif yang digunakan untuk fumigasi dan spraying pada gudang tersebut dapat memutus siklus hidup serangga sehingga menurunkan populasi serangga hama gudang. Disamping itu jenis serangga hama gudang yang ditemukan juga lebih sedikit dibandingkan sebelum fumigasi dan spraying.

 

4.3 Pembahasan

4.3.1 Pengenalan Lingkungan BULOG

  1. Lokasi Gudang.

Lokasi gudang Gudang Bulog Bence pada bagian selatan berbatasan langsung dengan Jalan Raya Blitar – Malang, sebelah barat berbatasan dengan pemukiman warga, sebelah utara berbatasan langsung dengan lahan persawahan dan sebelah timur berbatasan langsung dengan lahan kosong serta batas desa Garum dan Talun.

Menurut prosedur lokasi gudang BULOG adalah terpisah dari bangunan lain disekitar, keadaan lingkungan bukan merupakan semak-semak belukar yang menjadi sarang tikus dan dapat mempertinggi kelembaban. Diusahakan sedikit mungkin terkena sinar matahari untuk memperkecil kelembaban, namun diusahakan pula tidak terlalu kuat sebab sinar yang terlalu kuat dapat merusak bahan yang disimpan (Anonymousa, 2009).

Untuk lokasi gudang BULOG Bence sudah baik ditinjau dari kerangka bangunan, dinding, lantai, pintu, atap dan ventilasi udara. Namun perlu diperhatikan lagi untuk lokasi gudang yang terletak disebelah utara yang berbatasan dengan lahan persawahan karena sewaktu-waktu apabila musim panen tiba, akan banyak serangan hama-hama sawah terutama serangan hama tikus.

  1. Lorong Tumpukan

Berdasarkan hasil pengamatan pada gudang BULOG Bence untuk pembuatan lorong-lorong tumpukan sudah baik dan sesuai prosedur. Pengukuran lorong yang terdapat pada gudang BULOG Bence ada lorong pokok atau utama, lorong stapel, lorong silang dan lorong kebakaran. Lorong pokok memiliki lebar 150cm, lorong silang memiliki lebar 100cm dan lorong stapel memiliki lebar 50cm dan lorong kebakaran memiliki lebar 75cm.

Menurut prosedur pengelolaan pada gudang BULOG menyebutkan bahwa untuk kelancaran kegiatan keluar masuk barang dalam gudang dan perpindahan udara di dalam gudang maka harus dibuat lorong-lorong diantara tumpukan brang di dalam gudang. Lorong tersebut berfungsi untuk mempermudah perawatan barang simpan, pengaaturan kebersihan didalam gudang dan penyelamatan barang apabila terjadi kebakaran gudang. Jenis dan lorong yang ada didalam gudang meliputi : lorong pokok dengan lebar minimal 150cm, lorong silang lebar minimal 100cm, lorong stapel atau tumpukan dengan lebar minimal 50cm dan lorong kebakarn minimal 75cm (Anonymousa, 2009).

  1. Perlengkapan Gudang

Berdasarkan hasil pengamatan perlengkapan yang ada di gudang BULOG Bence, terdapat kelengkapan gudang yang sesuai dengan prosedur pada BULOG. Perlengkapan gudang tersebut meliputi alat timbang, flounder (alas), alat pemadam kebakaran, alat pengambil sampel beras, alat P3K, alat kebersihan, alat pengukur suhu dan papan-papan penulisan aturan dan larangan pada gudang. Serta perlengkapan lainnya yaitu kantor, pagar, gardu atau pos keamanan, kamar mandi, rumah dinas kepala gudang, alat-alat penarangan listrik, mushola, dapur, rumah kuli dan rumah gudang penyimpan alat-alat gudang.

Menurut prosedur perlengkapan gudang meliputi alat timbang, alas bahan simpan (flounder), alat P3K, alat pemadam  kebakaaran, dan alat kebersihan. Perlengkapan gudang yang lain yaitu pagar, gardu, kamar mandi, rumah kepala gudang serta perlengkapan penerangan atau listrik (Anonymousa, 2009).

4.3.2 Pengadaan Beras Pada BULOG

Kegiatan pengadaan beras di gudang BULOG Bence sudah baik karena sudah dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah dibuat oleh Perum BULOG.

Pada pelaksanaan pengadaan beras pada prosedur BULOG yaitu setiap kegiatan penerimaan barang di gudang harus dilengkapi dengan dokumen tertulis yang disampaikan dahulu sebelum barang tiba di gudang, sebagai bahan pertimbangan dan pencocokan data kualitas dan kuantitas barang. Dokumen tersebut terdiri dari Surat Perintah Terima Barang, Surat Perintah Pemeriksaan Kualitas, Surat Jalan dari mitra kerja (Anonymousa, 2009).

 

4.3.3 Pemeriksaan Awal Beras Masuk

Berdasarkan hasil kegiataan magang di gudang BULOG Bence tentang pemeriksaan awal beras masuk ke gudang meliputi :

  1. Kadar Air

Pada prosedur pemeriksaan pada BULOG standar kadar air maksimal beras adalah 14% dengan menggunakan alat yang disebut Grain Moisture Tester, pemeriksaan tersebut dilakukan minimal tiga kali ulangan (Anonymousc, 2010)

Berdasarkan pernyataan tersebut, pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas pada gudang BULOG Bence pada umumnya sudah sesuai dengan prosedur, namun terkadang terjadi penyimpangan dalam memeriksa kadar air. Hal tersebut dikarenakan beras yang kadar airnya lebih dari 14% dapat masuk kedalam gudang. Hal ini dapat mengakibatkan serangan hama pasca panen menjadi lebih tinggi dan kemungkinan terjadi kerusakan barang akan semakin cepat.

  1. Derajat Sosoh

Pada prosedur pemeriksaan awal beras masuk pada BULOG, pemeriksaan derajat sosoh menggunakan sampel beras kemudian dilakukan pemeriksaan secara visual dengan alat bantu kaca pembesar atau dengan pembanding derajat sosoh dari produksi setempat (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan literatur tersebut maka pemeriksaan terhadap derajat sosoh di gudang BULOG Bence sudah baik dan seusai dengan prosedur namun masih ada kekurangan dalam hal pembanding derajat sosoh dari produksi setempat.

  1. Butir Menir, Butir Patah (broken) dan Butir Utuh

Pada prosedur BULOG pemeriksaan keutuhan butir yaitu menggunakan ayakan menir dengan diameter 1,80 mm dengan lubang penampung dibawahnya, kemudian diambil dan ditimbang prosentase butir menir tersebut. Untuk pemeriksaan butir patah yaitu dari sisa yang tidak lolos dari ayakan atau yang tersangkut di lubang ayakan menir kemudian dimasukkan kedalam ayakan broken dan ditimbang prosentase butir oatah tersebut. Standar butir menir pda BULOG adalah maksimal 2% dari berat sampel dan butir broken 20% dari berat sampel (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan literatur tersebut pemeriksaan butir menir, butir broken dan butir utuh pihak gudang BULOG Bence perlu dilakukan pengawasan terhadap butir menir dan butir patah karena masih banyak yang belum sesuai dengan prosedur sehingga kualitas beras masih dipertanyakan, karena semakin butir yang hancur maka dapat menimbulkan hama minor pasca panen.

  1. Benda Lain, Dedak Sekam, Hama Penyakit

Pada prosedur BULOG untuk mengecek benda lain dedak sekam dan hama penyakit adalah bahan diperiksa dari contoh primer beras, kemudian pemeriksaan dilakukan secara visual (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan literatur tersebut maka pemeriksaan benda lain, dedak sekam, hama penyakit telah sesuai dengan prosedur. Namun dalam beberapa pengadaan beras masih terdapat 7 hama pasca panen pada sampel beras dan beras masih terdapat beberapa butir yang masih menjadi gabah dan belum begitu kering. Hal tersebut harus dihindari karena hama pasca panen dapat berkembang biak dan menyerang beras yang disimpan dalam gudang.

 

  1. Bau

Pada prosedur BULOG untuk pemeriksaan bau pada beras dilakukan dengan menggunakan indera penciuman dan dengan menggunakan sampel pembanding beras yang sudah sesuai standar (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan literatur tersebut maka pemeriksaan bau pada beras di gudang Bence sudah sesuai dengan prosedur namun dalam hal pembandingan dengan sampel yang sudah standar masih perlu diterakan lagi secara terus-menerus.

  1. Bahan Kimia

Pada prosedur BULOG untuk pemeriksan bahan kimia dilakukan menggunakan cara visual atau menggunalan panca indera manusia (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan literatur tersebut maka pemeriksaan bahan kimia di gudang Bence sudah memenuhi dan sesuai dengan prosedur, namun masih perlu dilakukan pemeriksaan dengan teliti baik pada beras maupun pada karung beras masing-masing.

 

4.3.4 Pengelolaan Tumpukan Beras di Gudang

Pengelolaan tumpukan beras yang dilakukan di gudang BULOG selama magang kerja yaitu sistem tumpukan kunci lima, penumpukan dengan menggunakan sistem kunci lima adalah penyusunan karung-karung pada tumpukan dengan posisi tiga karung disusun sejajar dan dua karung disusun berurutan pada lapisan pertama, pada lapisan kedua susunan dengan posisi sebaliknya dan seterusnya sampai lapisan teratas (Anonymousa, 2009).

 

 

 

 

 

 

 

Berikut adalah contoh gambar dari posisi tumpukan kunci lima :

 

 

 

 

 

 

(a)

Gambar  1.  Tumpukan Kunci Lima pada Penataan Stapel di Gudang BULOG. (a) Merupakan lapisan pertama tumpukan kunci lima, (b) merupakan lapisan kedua tumpukan kunci lima.

 

(b)

 

 

Berdasarkan dari literatur BULOG diatas maka sistem penumpukan beras pada gudang BULOG Bence sudah baik dikarenakan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan oleh BULOG.

  1. Pencatatan Jumlah Tumpukan

Pencatatan jumlah tumpukan beras yaitu menggunakan kartu tumpukan yang merupakan kartu berisikan catatan persediaan fisik barang pada tumpukan beras. Kartu tersebut terdiri dari pencatatan bukti timbangan, penerimaan barang serta pelaksanaan perawatan seperti fumigasi dan spraying (Anonymousa, 2009).

Berdasarkan kegiatan magang pada gudang BULOG Bence mk dapat diketahui bahwa pelaksanaan pencatatan jumlah tumpukan sudah diaksanakan dengan baik, karena telah sesuai dengan prosedur yang telh ditetapkan oleh pihak BULOG.

  1. Pemeriksaan Suhu dan Kelembaban

Pemeriksaan suhu dan kelembaban yang dilakukan di gudang BULOG Bence untuk menjaga umur simpan beras. Suhu dan kelembaban sangat berpengaruh terhadap penyimpanan beras. Suhu yang sangat tinggi pada gudang dapat menyebabkan penyusutan berat beras, sedngkan suhu yang rendah mengakibatkan kelembaban menjadi tinggi sehingga dapat menimbulkan tingkat serangan hama yang lebih tinggi.

 

  1. Monitoring Hama

Monitoring hama dilakukan minimal setiap 15 hari sekali yang dilakukan oleh kepala gudang atau petugas yang ditunjuk untuk melakukan monitoring. Apabila terdapat hama yang merayap dan berterbangan maka dilakukan perhitungan jumlah populasinya untuk menentukan langkah selanjutnya. Berikut ini merupakan pengamatan umum populasi hama gudang :

  1. Bila terdapat serangga dalam jumlah kecil pada beberapa permukaan karung, berarti tingkat serangan hama ringan.
  2. Bila terdapat serangga dalam jumlah lebih banyak yang terlihat pada permukaan karung, berarti tingkat serangan hama sedang.
  3. Bila terdapat serangga dalam jumlah besar dan berterbangan serta merayap di sekitar stapel berarti tingkat serangan hama berat.
  4. Bila terdapat serangga yang sangat banyak pada sekitar stapel dan suaranya berisik dari dalam karung berarti tingkat serangan hama sangat berat (Anonymousa, 2009).

Monitoring hama pada gudang BULOG Bence telah sesuai dengan prosedur dan selain itu Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT) disana telah dijalankan dengan baik sehingga jarang sekali ditemui serangan-serangan hama gudang dalam kategori berat dan sangat berat. Namun perlu untuk dikembangkan dan dipertahankan serta dilakukan beberapa inovasi dalam melakukan pengelolaannya.

  1.  Fumigasi dan Spraying

Pelaksanaan fumigasi meliputi :

  1. Melakukan penutupan sungkup, plastik sungkup harus menutupi seluruh stapel dan dipastikan tidak ada kebocoran.
  2. Menggunakan alat pelindung diri sebelum mengaplikasikan.
  3. Menaruh wadah tablet di seluruh titik-titik fumigan yang telah direncanakan.
  4. Menaruh butiran fumigan atau tablet dan diletakkan pada wadah yang telah dipersiapkan dan secara merata dibawah flounder.
  5. Melakukan spraying pada dinding dan teras gudang.
  6. Menutup pintu gudang dan diberi tanda peringatan tentang adanya kegiatan fumigasi.
  7. Menutup gudang selama 7 hari.

Berdasarkan prosedur fumigasi yang ditetapkan BULOG, diketahui bahwa pelaksanaan fumigasi pada gudang BULOG telah sesuai dengan prosedur, hanya saja perlu diperhatikan dalam hal dosis penggunaan fumigan yang berlebihan serta para petugas juga perlu menggunakan alat pelindung diri yang mampu melindungi diri dari fumigan berbahaya.

  1. Sanitasi

Pelaksanaan sanitasi kebersihan gudang dari kotoran insektisida karena dapat membahayakan produk simpanan, kebersihan gudang harus diperhatikan guna menekan jumlah populasi hama gudang. Kebersihan komoditas yang disimpan dengan memisahkan barang yang rusak dengan barang yang baik, kebersihan di sekitar gudang untuk menekan kelembaban relatif yang merupakan sarang hama. Pengaturan vegetasi tanaman tidak boleh ada semak-semak karena dapat menjadi sarang tikus, pengaturan aerasi dengan penggunaan ventilasi (Anonymousa, 2009).

Pelaksanaan sanitasi pada gudang BULOG Bence telah sesuai dengan prosedur sanitasi pada peraturan BULOG pusat. Sehingga gudang BULOG Bence merupakan gudang teladan dan menjadi panutan selama 3 tahun terakhir  terhadap gudang-gudang lainnya yang ada di Jawa Timur. Namun perlu diperhatikan terhadap peletakan vegetasi yang ada disekitar gudang, karena banyak sekali penataan yang kurang sesuai dengan penempatannya, dan dikhawatirkan akan menjadi sarang hama gudang yang potensial untuk berinvestasi.

  1. Perbaikan Kualitas Beras dan Pengelolaan Beras Turun Mutu

Kegiatan pengolahan untuk memperbaiki kualitas beras dari kemampuan fisiknya supaya komoditas tetap pada standar mutu. Apabila barang mengalami kerusakan maka terdapat alternatif penyelesaian seperti pengelolaan kembali, pemusnahan barang dan penjualan beras turun mutu yang diatur pada peraturan yang berlaku (Anonymousa, 2009).

Berdasarkan kegiatan magang yang telah dilaksanakan pada gudang BULOG Bence perbaikan dan pengellaan beras turun mutu sudah baik dan sesuai prosedur peraturan BULOG yang berlaku sehingga kenampakan fisik beras tetap terjamin.

  1. Pemeriksaan Akhir

Pemeriksaan sebelum beras didistribusikan dimulai terhadap kualitas fisik barang yang akan diserahkan, meliputi kondisi beras, sablon karung dan jahitan (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan kegiatan magang kerja pada saat pemeriksaan akhir beras yaitu telah sesuai dengan prosedur. Pada kegiatan magang telah dilakukan pemeriksaan yang meliputi kondisi karung dan jahitan. Apabila jahitan yang tidak kuat maka akan menimbulkan kebocoran dan akan mengurangi berat beras. Beras sebelum disalurkan ke masyarakat dilakukan proses pembersihan pada kondisi fisik beras dengan cara melakukan blowering yaitu penyaringan beras pada mesin blower untuk menghilangkan abu sekam dan dedak yang ada didalam karung beras. Pada kondisi barang yang terdapat lubang kecil bekas gerekan hama juga akan disortir, karena beras tersebut sudah dapat dipastikan mengalami kerusakan.

4.3.5 Pengiriman Raskin dan Operasi Pasar

Pelaksanaan raskin yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga terutama rumah tangga miskin. Pada awalnya disebut dengan program Operasi Pasar Khusus (OPK), kemudian diubah menjadi raskin pada tahun 2002. Raskin diperluas fungsinya tidak lagi menjadi program darurat (social safety net) melainkan sebagai bagian dari program perlindungan sosial masyarakat. Melalui sebuah kajian ilmiah, penamaan raskin menjadi nama program diharapkan akan menjadi lebih tepat sasaran dan mencapai tujuan raskin (Anonymousc, 2010).

Pelaksanaan pengiriman raskin pada kegiatan magang telah berjalan dengan baik, sesuai dengan prosedur dan pengiriman juga sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan oleh setiap wilayah, sehingga tidak terjadi masalah dari segi kuantitasnya. Namun masih sering terjadi permasalahan pada pembayaran iuran dana raskin yang terkadang terlambat tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, sehingga menghambat proses pengiriman beras.

4.3.6 Adminitrasi Gudang

Adminitrasi pada Perum BULOG dimaksudkan dapat memberikan data dan informasi yang benar dan akurat untuk mempermudah pembuatan perencanaan pelaksanaan operasional serta pelaksanaan pengawasan dan pengendalian. Setiap barang yang ditimbang 100%, dokumen penerimaan yang dibuat adalah Bukti Timbang Penerimaan Barang, untuk setiap barang dan kemasan sebagai bukti penimbangan barang yang diterima serta rekapitulasi Penerimaan Barang (GD1M), yang merupakan rekapan dari Bukti Timbang Penerimaan Barang. Buku Penimbunan (GD2M). Dokumen ini dibuat setiap hari berdasarkan dokumen Rekapitulasi Pengeluaran Barang (GD1K) dan atau Dokumen Berita Acara Kekurangan atau Kelebihan dan bukti-bukti lain yang menyebabkan jumlah persediaan barang (Anonymousa, 2009).

Berdasarkan literatur BULOG tersebut dapat diketahui bahwa adminitrasi gudang yang dilkaukan pada gudang BULOG Bence telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dengan baik. Namun terkadang seringkali terkendala dengan mitra kerja yang terkadang jarang mengirimkan barang akibat langkanya musim panen.

 

4.3.7 Serangga yang Ditemukan pada Perangkap yang Dipasang pada Stapel Beras di Gudang Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung.

Berdasarkan hasil pengamatan hama gudang pada Gudang Bence Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung menggunakan perangkap Pitfall Trap, Yellow Sticky Trap, Bait Trap dan Feromon, ditemukan beberapa jenis hama gudang pada komoditas beras yang disimpan.

Sitophilus oryzae L. (Coleoptera:Curculionidae)

Merupakan serangga kecil yang berwarna kecoklatan dengan panjang 3-4 mm dan menyerang pada butiran yang disimpan (gandum, jagung, beras, dll). Serangga ini mempunyaiciri yang khas yaitu mempunyai moncong (snout). Dalam fase larva ataupun dewasa memakan butiran. Larva serangga ini berkembang didalam butiran. S. oryzae mengalami metamorfosis sempurna dengan perkembangan telur hingga imago selama 35 hari didaerah tropis. Suhu yang sesuai untuk berkembangnya hama ini yaitu pada suhu 25-27oC dan kelembaban 70% (Rees, 2004).

Cryptolestes ferrugineus (Stephens) (Coleoptera: Cucujidae)

Merupakan salah satu hama sekunder pada beras.  C. ferrugineus  menyerang butir beras yang telah rusak, pecah atau diserang jamur (Munro, 1996). C. ferrugineus merupakan  serangga  yang  paling  mendominasi  pada  gudang  beras  Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung sebelum dilakukan fumigasi gudang. Serangga ini berbentuk pipih (gepeng) dengan panjang tubuh 1,5-2,5 mm dan berwarna  coklat  kemerahan.  Mengalami  metamorfosis  sempurna  dan  imago meletakkan telur diantara butiran beras (Rees, 2004).

Tribolium castaneum (Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae )

Serangga  ini  merupakan  serangga  yang  memakan  bahan  yang  sudah  rusak. Menyerang  tepung,  dan  gejala  kerusakan  yang  diakibatkan  yaitu  tepung  menjadi apek,  kotor  dan  menggumpal.  Serangga  T.  castaneum  mengalami  metamorphosis sempurna, dan kumbang betina dapat menghasilkan telur sabanyak 11 butir pada suhu 32,5oC (Suparjo, 2010).

Rhyzopertha dominica (Fabricious) (Coleoptera: Bostrichidae)

Sering  dikenal  sebagai  kumbang  bubuk  gabah.  Termasuk  hama  primer dan“internal  feeder”.  Ciri  khusus  imago  R.dominicaa  dalah  pronotum  seperti  helm yang menutupi kepalanya dan mulut menghadap ke bawah dengan rahang yang kuat. Imago berwarna cokelat tua / hitam, panjang ± 3 mm (Rees, 2004).

 

 

 

 

V.                KESIMPULAN dan SARAN

 

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan magang kerja di GBB Bence, Perum Bulog Sub-Divre Tulungagung mulai dari tanggal 07 Juli sampai dengan 07 Oktober 2014 dapat disimpulkan:

  1. Manajemen pengelolaan beras di GBB Bence secara keseluruhan sudah baik dan memenuhi Standar Operasional Prosedur yang telah ditetapkan oleh Perum BULOG.
  2. Pengelolaan Hama yang ada di GBB Bence sudah baik dan telah memenuhi Standar Operasional Prosedur yang telah ditetapkan oleh Perum BULOG.
  3. Pada pemasangan perangkap telah ditemukan beberapa spesies serangga antara lain: Psocids, Sitophilus oryzae, Criptolestes ferrugineus, Rhyzopertha dominica, dan Tribolium castaneum.

5.2 Saran

Beberapa saran yang dapat dikemukakan antara lain, yaitu:

  1. Sebaiknya untuk kegiatan spraying, tidak dilakukan setiap 1 bulan sekali. Namun dilakukan setiap 2 atau 3 bulan sekali, supaya kelembaban pada suatu gudang tetap stabil. Karena apabila kelembaban pada suatu gudang meningkat dapat menyebabkan terjadinya ledakan populasi hama gudang.
  2. Untuk kegiatan fumigasi sebaiknya dilakukan jika serangan hama gudang sudah melebihi batas ambang ekonomi, supaya tidak terjadi pengebalan atau resistensi hama gudang terhadap bahan-bahan fumigasi.
  3. Dapat dilakukan pemasangan perangkap untuk lebih memudahkan monitoring populasi serangga hama di dalam gudang.
  4. Lebih memantapkan penerapan Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT) untuk mengatasi hama di dalam gudang beras.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amrullah. 2004. Pedoman Kearsipan Perum Bulog. Jakarta: Tim Perum Bulog 2011.

 

Anggara, A. dan Sudarmaji. 2009. Hama Pacsa Panen Padi dan Pengendaliannya. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. http://www.litbang.deptan.go.id. (online). Diunduh pada tanggal 10 Mei 2014.

 

Anonymous a, 2009. Peraturan Pergudangan di Lingkungan Perum Bulog . Divisi Persediaan dan Perawatan Direktorat Pelayanan Publik. 133 hal.

 

Anonymous b, 2010. Profil BULOG. http://www.bulog.co.id/sejarah_v2.php. Diakses pada tanggal 10 November 2014.

 

Anonymous c, 2010. Pedoman Umum dan Standar Operasional Prosedur Pengadaan Gabah / Beras Dalam Negeri Perum BULOG. P.136.

 

Damardjati, D. S., 1988. Struktur Kandungan Gizi Beras. Bogor: Balitbang Pertanian

 

Munro, J.W., 1966. Pests of Storage Product. Hutchinsou of London. 234 pp.

 

Pitaloka, A. L., L. Santoso, dan R. Rahardian., 2012. Gambaran Beberapa Faktor Fisik Penyimpanan Beras, Identifikasi Dan Upaya Pengendalian Serangga Hama Gudang (Studi di Gudang BULOG 103 Demak  Sub BULOG Wilayah 1 Semarang). Jurnal Kesehatan Masyarakat. http://ejournals1.undip.ac.id. (online). Diunduh pada tanggal 10 Mei 2014.

 

Priyambodo, B., 2007. Manajemen Industri. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Global Pustaka Utama. Halaman 350 hal.

 

Rees, D. 2004. Insect of Stored Products. CSIRO Publishing. New York. p. 192.

 

Reza, H., 2004. Penerapan Standar Pada Pengolahan dan Mutu Beras. Prosiding. Lokakarya Nasional. Institut Pertanian Bogor. Hal. 12-13.

 

Saripudin, E. 2010. Tata Cara Penyimpanan, Pengemasan Maupun Pelabelan Gabah Atau Beras Secara Baik dan Benar. http://penatanian.blogspot.com /2010/09/tata-cara-penyimpanan-pengemasan-maupun.html. Diunduh pada tanggal 10 Mei 2014.

 

Siddik, M. dan Halid, H., 1983. Sistem Penyimpanan dan Perawatan Kualitas Bahan Pangan di Bidang Urusan Logistik. Risalah Seminar Nasional Pengawetan Makanan Dengan Iradiasi 6-8 Juni 1983. Pusat Penelitian dan Pengembangan Urusan Logistik BULOG, Jakarta

 

Suharno, 2005. Perlindungan Tanaman. Diktat STPP. UNS Press. Surakarta. 114 hal.

 

Suparjo.  2010.  Hama  Penting  Pasca  Panen. (Online).(http://suparjo_zainalzyiq.

wordpress.com/). Diakses tanggal 10 November 2014.

 

Syarif, R., 2012. Teknologi Penyimpanan Pangan. Arcan, Jakarta.

 

Waries, A., 2006. Teknologi Penggilingan Padi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Winarno, F.G., 2006. Hama Gudang dan Teknik Pemberantasannya. Edisi Revisi. M-BRIO PRESS, Bogor. 201 hal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

Lampiran 1.

Tabel 4. Kegiatan Magang Kerja di GBB Bence, Perum BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung

No.

Hari/Tanggal

Waktu

Kegiatan

1

Senin/7 Juli 2014 08.00 – 16.00 Briefing, pengenalan staf dan petugas lainnya, pengenalan area gudang, penegnalan alat-alat gudang serta kegiatan administrasi.

2

Selasa/8 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pembelajaran adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan

3

Rabu/9 Juli 2014

LIBUR PEMILU PRESIDEN 2014

4

Kamis/10 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan.

5

Jum’at/11 Juli 2014

Izin Mengikuti monitoring dan evaluasi PKM di FH UB dan sudah mengganti di hari lain (Sabtu/ 12 Juli 2014).

6

Senin/14 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin

7

Selasa/15 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, pemasangan perangkap hama pada gudang.

8

Rabu/16 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

9

Kamis/17 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap..

10

Jum’at/18 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

11

Senin/21 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

12

Selasa/22  Juli 2014 08.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

13

Rabu/23  Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

14

Kamis/24 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

15

Jum’at/25 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap, Pelepasan perangkap hama, pemasangan sungkup pada stapel untuk dilakukan fumigasi.

16

28 Juli – 1 Agst 2014

Libur hari Raya Idul Fitri 1435 H.

17

Senin/4 Agst 2014 07.00 – 16.00 Kegiatan Halal bihalal staff di kantor pusat BULOG Jl. Ki-Mangunsarkoro No. 12 Tulungagung.

18

Selasa/5 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelepasan Sungkup pada stapel, pengamatan hama pada stapel setelah fumigasi. Pemasangan perangkap hama di gudang setelah difumigasi.

19

Rabu/6 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

20

Kamis/7 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

21

Jum’at/8 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

22

Senin/11 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

23

Selasa/12 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

24

Rabu/13 Agst 2014

07.00 – 16.00

Mengikuti Kegiatan pengambilan dana raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

25

Kamis/14 Agst 2014

07.00 – 16.00

Mengikuti Kegiatan pengambilan dana raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

26

Jum’at/15 Agst 2014  07.00 – 16.00 Mengikuti Kegiatan pengambilan dana raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

 

 

 

 

 

 

27

Senin 18 Agst 2014 07.00 – 16.00 Mengikuti Kegiatan pengambilan dana raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

28

Selasa – Kamis/19-21 Agst 2014

Izin Tidak Masuk Kerja dikarenakan mengikuti kegiatan karantina PKM di FTP UB.

29

Jum’at/22Agst 2014

07.00 – 16.00-

Mengikuti Kegiatan pengambilan dana raskin, Pengamatan hama pada perangkap

30

Senin – Jum’at/25-29 Agst 2014

Izin Tidak Masuk Kerja dikarenakan mengkuti Kegiatan PKM ke 27 di Universitas Diponegoro Semarang.

31

Senin/1 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

32

Selasa/2 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

33

Rabu/3 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

34

Kamis/4 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Pengamatan hama pada perangkap.

35

Jum’at/5 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

36

Senin/8 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

37

Selasa/9 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

38

Rabu/10 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap, supervisi, diskusi dengan pembimbing lapang.

 

39

Kamis/11 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

40

Jum’at/12 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

41

Senin/15 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

42

Selasa/16 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

43

Rabu/17 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

44

Kamis/18 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

45

Jum’at/19 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

46

Senin/22 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

47

Selasa/23 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

48

Rabu/24 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

49

Kamis/25 Sept 2014 07.00 – 17.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

 

50

Jum’at/26 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

51

Sabtu/27 Sept 2014 07.00 – 13.00 Kegiatan Kerja Bakti Bersama melakukan sanitasi di tiap-tiap gudang.

52

Senin/29 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

53

Selasa/30 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

54

Rabu/1 Okt 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

55

Kamis/2 Okt 2014 07.00 – 17.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Pengamatan hama pada perangkap.

56

Jum’at/3 Okt 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Pengamatan hama pada perangkap.

57

Senin/6 Okt 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Pengamatan hama pada perangkap.

58

Senin/7 Okt 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Pengamatan hama pada perangkap, pelepasan perangkap pada hama, acara perpisahan bersama kepala gudang dan staf.
Total jam kerja 472

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 2. Gambar Dokumentasi Kegiatan Selama Magang Kerja di Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung.

 

 

(a)                                                                            (b)

 

(c)                                                                    (d)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(a)                                                                      (b)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(c)                                                                      (d)

 

Gambar  2. Beberapa Form atau Surat yang Digunakan oleh Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. (a)Form uji kualitas beras di Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung pada saat pengadaan beras. (b) surat pengiriman barang raskin, (c) surat BAST (Berita Acara Serah Terima) perjanjian kontrak raskin, (d) surat jalan untuk mengantarkan barang raskin ke daerah yang dituju.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(a)                                                                  (b)

 

(a)                                                             (b)

 

 

 

 

 

(c)                                                                  (d)

(c)                                                                        (d)

 

 

 

 

 

(e)                                                                (f)

 

Gambar  3. Pelaksanaan Fumigasi dan Spraying. (a) Pelaksanaan penyungkupan beras di gudang sebelum dilaksanakan fumigasi, (b) peletakan tablet fumigan didalam sungkup, (c) bahan aktif alumunium fosfida 56% untuk fumigasi, (d) persiapan alat dan pelaksanaan spraying didaam gudang, (e) nama dagang bahan aktif yang digunakan untuk fumigasi, (f) bahan aktif insektisida untuk spraying.

 

(e)                                                                  (f)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(a)                                                                     (b)

 

 

 

 

 

 

 

 

(c)                                                               (d)

Gambar 4. Perbaikan Kualitas Beras di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung.(a) Beras yang rusak kualitasnya dibersihkan dan dipoles dengan mesin serta dimasukkan kedalam karung, (b) Proses penjahitan kembali setelah beras dipoles, (c) beras ditimbang sesuai dengan berat bersih pada kemasan yaitu 15 Kg, (d) proses pemeriksaan beras setelah diproses dengan mesin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(a)                                                                        (b)

 

 

 

 

 

 

 

 

(c)                                                              (d)

Gambar  5. Kegiatan Pemeriksaan Awal Beras Masuk di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. (a) Petugas PPK memeriksa keadaan awal beras didalam kendaraan sebelum dimasukkan kedalam gudang, 4 hal yang diperiksa (bau, hama dan penyakit, bahan kimia dan keutuhan beras), (b) Petugas PPK memeriksa keadaan butir beras yang diamati sesuai kualitas beras (butir patah, butir menir dan derajat sosoh), (c) para kuli angkut menata beras setela diperiksa dan dinilai kelayakannya untuk disimpan digudang, (d) banner yang berisikan tentang aturan pemeriksaan kualitas beras.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(a)                                                        (b)

 

 

 

 

 

 

 

(c)                                                  (d)

 

 

 

 

 

 

Gambar  7. Beberapa Alat-alat yang Digunakan pada Pemeriksaan Beras Awal Sebelum Masuk Gudang dan Alat-alat Perbaikan Kualitas Beras.   pada Gudang. (a) Mesin Jahit Karung, (b) Timbangan Digital, (c) Grain Mouisture Tester, (d) Mesin Penghilang Debu, (e) Timbangan Barang.

 

 

(e)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(b)                                                      (b)

 

(c)                                         (d)

(a)                                                                       (b)                                                               (c)                                                                                 (d)

 

 

 

 

 

 

(e)

 

 

 

Lampiran 3.  Denah Gudang BULOG Besar Bence Sub Divisi Regional Tulungagung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

(1)   Pos Satpam / Keamanan                     (9) Gudang Unit 6

(2)   Bulog Mart                                          (10) Gudang Unit 7

(3)   Tempat Parkir Karyawan                    (11) Gudang Unit 8

(4)   Gudang Unit 1                                                (12) Rumdis Kepala Gudang

(5)   Gudang Unit 2                                                (13) Kantor

(6)   Gudang Unit 3                                                (14) Mushola

(7)   Gudang Unit 4                                                (15) Gudang Barang

(8)

Gambar  10. Denah Gudang BULOG Baru Bence Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung.

Gudang Unit 5                                                (16) Rumah Kuli