TUGAS TUTORIAL TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBER DAYA LAHAN ANALISIS KASUS MENGGUNAKAN KAJIAN HUKUM PERTANIAN LOKASI PENGAMATAN DUSUN KEKEP, KEC TULUNGREJO, KABUPATEN BUMIAJI, BATU

Posted by Hadi Susilo on January 17, 2014

TUGAS TUTORIAL

TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBER DAYA LAHAN

ANALISIS KASUS MENGGUNAKAN KAJIAN HUKUM PERTANIAN LOKASI PENGAMATAN DUSUN KEKEP, KEC TULUNGREJO, KABUPATEN BUMIAJI, BATU

 (Disusun untuk memenuhi tugas Kuliah TKSDL

Fakultas Pertanian – Universitas Brawijaya Malang)

 

 

Disusun oleh :

Hadi Susilo              115040213111030

Kelas G

 

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS PERTANIAN

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

MALANG

2013

I. FAKTA

Lokasi pengamatan  dilakukan di Dusun Kekep, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Pengamatan dilakukan pada plot 4 dengan komoditas yang dominan adalah wortel di mana plot dibagi atas 3 SPL:

Gambar 1. Plot 4 SPL 1

Gambar 2. Plot 4 SPL 2

Gambar 3. Plot 4 SPL 3

Gambar 4. Kondisi DAM

Gambar. Kondisi Umum Dusun Kekep: Kondisi DAS Mikro disekitar pemukiman (foto kiri) dan Kondisi di bagian hulu yang merupakan wilayah Perhutani (foto kanan atas)

Fakta diambil berdasarkan kondisi lapang saat pengamatan  terdiri atas data kepekaan tanah terhadap erosi dan longsor, data pengendalian erosi, data system usaha tani konservasi, dan data jenis komoditas tanaman.

Fakta-fakta tersebut adalah sebagai berikut:

  1. 1.    Data kepekaan tanah terhadap erosi dan longsor
    1. a.    Iklim

Gambar 5 Peta Prakiraan Curah Hujan Bulan Oktober 2013 Prov. Jatim.

Data yang kami peroleh menunjukan tingkat erosi yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh kelerengan yang cukup curam dan struktur tanah yang gembur serta masalah tutupan lahan. Didaerah plot 4  ini ada 4 jenis erosi yaitu:

  • Erosi percikan yang disebabkan oleh tidak adanya tutupan lahan sehingga air hujan yang langsung mengenai tanah menyebabkan erosi percik.
  • Erosi lembar, hal ini deisebabkan terkikisnya lapisan atas tanah sewaktu turunnya hujan akibat tanah didaerah ini tidak ada tanaman penutup lahan
  • Erosi alur, erosi ini terjadi pada saluran drainase air yang berada disamping bedengan
  • Longsor, terjadi pada lahan bagian bawah diatas sungai kurang lebih sepanjang 3 meter, hal ini disebabkan karena tutupan lahan berupa tanaman semusim yang hanya memiliki perakaran dangkal serta kemiringan lereng yang cukup curam.
  1. b.    Tanah

Jenis tanah pada Pos 4 tempat kelompok kami praktikum Teknologi Konservasi Sumber Daya Lahan yakni Humic Dystrudepts dengan komposisi sebagai berikut: pasir 65%, pasir halus 33%, debu 20%, liat 15%, bahan organik 4%, struktur 2%, dan permeabilitasnya 2%. Berikut ini juga akan dijelaskan spesifikasi dari masing-masing titik pengamatan di Pos 4:

Titik 1

No

Faktor Pembatas

Kelas Kemampuan Lahan

Data

Kode

Kelas

1

tekstur tanah

-

-

2

lereng

80%

l6

3

drainase

agak baik

d1

4

kedalaman efektif

dalam

k0

5

tingkat erosi

ringan

e1

6

batu/kerikil

tidak ada

b0

7

bahaya banjir

tidak pernah

o0

kelas kemampuan lahan
faktor pembatas
sub kelas kemampuan lahan

 

Titik 2

No

Faktor Pembatas

Kelas Kemampuan Lahan

Data

Kode

Kelas

1

tekstur tanah

lempung berpasir

t4

2

lereng

50%

l5

3

drainase

baik

d0

4

kedalaman efektif

dangkal

k2

5

tingkat erosi

sedang

e2

6

batu/kerikil

tidak ada

b0

7

bahaya banjir

tidak pernah

o0

kelas kemampuan lahan
faktor pembatas
sub kelas kemampuan lahan

 

Titik 3

No

Faktor Pembatas

Kelas Kemampuan Lahan

Data

Kode

Kelas

1

tekstur tanah

lempung berpasir

t4

2

lereng

25%

l3

3

drainase

baik

d0

4

kedalaman efektif

dangkal

k2

5

tingkat erosi

ringan

e1

6

batu/kerikil

tidak ada

b0

7

bahaya banjir

tidak pernah

o0

kelas kemampuan lahan
faktor pembatas
sub kelas kemampuan lahan

 

Bahan Induk

Secara umum tanah yang berkembang di Sub DAS Brantas Hulu yakni DAS di Dusun Kekep berasal dari bahan volkanik hasil gunung api, yang dipengaruhi oleh letusan Gunung Arjuno. Dan sebaran geologi yang dijumpai di kawasan tersebut berupa bahan-bahan volkan yang berupa breksi gunung api, tuf breksi, lava, tuf dan aglomerat.

c. Elevasi

Ketinggian dari Dusun Kekep Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu, Malang mempunyai ketinggian 1200 m dpl. Dan Desa Tulungrejo adalah salah satu desa yang terletak di lereng gunung Arjuno. Desa yang berhawa dingin ini berada di dalam wilayah kecamatan Bumiaji dan memiliki luas ± 761.435 Ha.

d. Lereng

Kondisi wilayah/lereng di Pos 4 tempat kami praktikum yakni sebagai berikut:

Titik

Kemiringan Lereng

Panjang Lereng

Beda Tinggi

Bentuk Lereng

1.

80%

-

> 300 meter

Bergunung

2.

50%

30 meter

> 300 meter

Bergunung

3.

25%

27,6 meter

50-300 meter

Berbukit

4.

13%

60 meter

10-50 meter

Bergelombang

 

e. Laju Erosi

Untuk mengukur laju erosi di Pos 4 dilakukan dengan menggunakan rainfall simulator pada lahan terbuka dan yang tertutup vegetasi. Namun pada saat mengukur laju erosi dengan menggunakan rainfall simulator di lahan yang tertutup vegetasi terjadi hujan sehingga tidak dilakukan pengukuran laju erosi pada lahan yang tertutup vegetasi. Jadi pengukuran laju erosi hanya dilakukan pada lahan yang terbuka saja dengan hasil 2800 ml = 2,8 liter dalam waktu 1 menit 2 detik. Jadi laju erosinya 0,045 liter/s.

f. Sedimentasi

Untuk mengukur besarnya sedimentasi di sungai dilakukan dengan menggunakan alat Secchi Disc. Hasil pengukurannya menunjukkan bahwa sedimentasi di sungai dari lurusnya lahan yang tertutup vegetasi lebih rendah daripada sedimentasi di sungai dari lurusnya lahan yang terbuka. Hal ini dibuktikan dengan adanya data :

  • Lahan Tertutup Vegetasi
Sungai Bagian

Panjang Tali Secchi Disc (cm)

Kedalaman Air Sungai (cm)

Pinggir kanan

12

18

Tengah

16

25

Pinggir kiri

3,5

15

  • Lahan Terbuka
Sungai Bagian

Panjang Tali Secchi Disc (cm)

Kedalaman Air Sungai (cm)

Pinggir kanan

4,5

14

Tengah

7,5

13

Pinggir kiri

6,5

15,5

Jadi, keberadaan sedimentasi di dalam air dapat diketahui dari kekeruhannya. Semakin keruh air berarti semakin tinggi konsentrasi sedimentasinya. Oleh karena itu, konsentrasi sedimen dapat didekati dari hasil pengukuran tingkat kekeruhan air. Metode cepat untuk mengukur kekeruhan di lapangan dapat dilakukan dengan menggunakan “Secchi Disc” atau piringan yang berwarna hitam-putih. “Secchi Disc” ini digunakan sebagai tanda batas pandangan mata pengamat ke dalam air, semakin keruh air, batas penglihatan mata semakin dangkal (artinya panjang tali Secchi Disc semakin pendek dan kedalaman air semakin dangkal).

 

 

  1. 2.    Data pengendalian erosi (identifikasi dan deliniasi daerah rawan longsor serta teknik pengendalian longsor)

Pengendalian erosi yang dilakukan pada daerah tersebut yaitu dengan  menggunakan cara mekanis. Hal ini dilakukan melalui pembuatan teras gulud pada lahan tanaman budidaya. Tujuan pembuat teras gulud ini adalah untuk mengurangi panjang lereng sehingga potensi terjadinya erosi dapat diminimalisir.

Data Pengendalian Erosi

Macam Erosi

Deskripsi Kondisi dan Upaya Pengendalian Erosi

Erosi Percikan
  • Terjadi pada titik pengamatan 2, 3 dan 4
  • Kondisi :
  1. Kemiringan lereng : 50% (titik 2), 25% (titik 3) dan 13% (titik 4).
  2. Potensi Erosi : 35%.
  3. Erosi yang terjadi sedang dengan ciri yang ditunjukkan tanah agak sedikit mengerut.
  • Ciri-ciri :
  1. Ada lubang-lubang kecil hasil air hujan.
  2. Biasanya terjadi di bedengan.
  • Upaya Pengendalian Erosi di lapang :

Pengaturan jarak tanam dan vegetasi yang ditanam di bedengan (seperti wortel atau kubis) tidak terlalu lebar.

Erosi Alur
  • Terjadi pada titik pengamatan 1, 2, 3, dan 4
  • Kondisi :
  1. Kemiringan lereng : 80% (titik 1), 50% (titik 2), 25% (titik 3) dan 13% (titik 4).
  2. Potensi Erosi : 15%
  • Ciri-ciri :

Alur-alur yang terbentuk oleh pengikisan amat jelas dan bentuknya relatif lurus di daerah yang berlereng dan berkelok.

  • Upaya Pengendalian Erosi di lapang :

Menanam semak dan tanaman tahunan yang memiliki perakaran yang kuat pada titik 1 dengan rapat agar tanah dapat dicengkram oleh tanaman tahunan dan semak tersebut sehingga dapat mencegah erosi ke bagian lahan di bawahnya. Sedangkan lahan bagian bawah tersebut, upaya pengendalian erosi alurnya dengan cara membuat guludan bentuk sisir yang searah dengan kontur dan di atas guludan tersebut ditanami tanaman wortel.

 

  1. 3.    Data sistem usaha tani konservasi (prinsip usaha tani konservasi, pengendalian longsor, komponen teknik sistem usaha tani konservasi)

Dalam sistem usaha tani konservasi di daerah tersebut dengan cara membiarkan rumput tumbuh di sekitar pematang lahan tanaman budidaya. Selain itu juga ada beberapa pohon besar yang tumbuh di pinggiran bedengan. Pohon besar atau tanaman tahunan diketahui memiliki perakaran yang dalam sehingga mampu menyangga tanah dari bahaya erosi. Konservasi tanah merupakan suatu tindakan atau perlakuan untuk mencegah kerusakan tanah atau memperbaiki lahan yang telah rusak. Metode konservasi tanah dibagi tiga teknik tindakan, yaitu : (a) metode vegetatif, (b) metode mekanik, dan (c) metode kimia. Konservasi tanah di Pos 4 dilakukan dengan metode mekanik salah satunya adalah pembuatan teras. Dan jenis teras yang digunakan sebagai tindakan konservasi di Pos 4 adalah teras bangku (bench terrace). Teras mempunyai fungsi mengurangi panjang lereng dan menahan air sehingga dapat mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan (runoff), serta meningkatkan infiltrasi yang selanjutnya mengurangi laju erosi. Teras bangku adalah bangunan teras yang dibuat sedemikian rupa sehingga bidang olah miring ke belakang (reverse back slope) dan dilengkapi dengan bangunan pelengkap lainnya untuk menampung dan mengalirkan air permukaan secara aman dan terkendali. Teras bangku juga merupakan serangkaian dataran yang dibangun sepanjang kontur pada interval yang sesuai. Bangunan ini dilengkapi dengan saluran pembuangan air (SPA).

  1. 4.    Data jenis komoditas tanaman (persyaratan fisiologis dan agronomis)

Dalam budidaya pertanian di lahan pegunungan sangat rawan terjadi longsor dan erosi, jenis tanaman yang akan dikembangkan dipilih sesuai dengan persyaratan tumbuh masing-masing jenis tanaman. Hal ini penting untuk optimasi pemanfaatan lahan, peningkatan produktifitas, efisiensi, dan keberlanjutan usahatani. Jenis komoditas yang diusahakan di plot 1 SPL 2 dan SPL 3 adalah wortel dan sedangkan di SPL 1 merupakan lahan kosong (bero) pada bagian atas. Penggunaan lahan di Pos 4, sebagian besar digunakan sebagai lahan penanaman tanaman semusim yang akan diambil hasil panennya setiap 3-4 bulan sekali. Dan jenis komoditas yang diusahakan di lahan bagian bawah adalah tanaman budidaya seperti wortel (titik pengamatan 3 dan 4), kubis yang ditumpangsarikan dengan bawang prei (titik pengamatan 2). Sedangkan lahan bagian atas (titik pegamatan 1) ditutupi oleh tumbuhan berupa pepohonan seperti pohon sengon dan semak. Diduga tingkat pengolahan lahan di Pos 4 (titik pengamatan 2, 3 dan 4) yang ditanami tanaman budidaya cukup tinggi, karena tanaman yang ditanam di lahan tersebut mayoritas adalah tanaman musiman dengan jarak waktu antara masa tanam hingga masa panen sekitar 3-4 bulan (panen bisa 3-4 kali dalam masa satu tahun).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. FAKTA HUKUM:

Fakta hukum yang dapat dijumpai berdasarkan kondisi lapang tempat dilakukan pengamatan baik di lahan budidaya ataupun kualitas air yang diamati adalah sebagai berikut:

  1. 1.    Siapa (pelaku, saksi, dan korban) perusakan
    1. Berdasarkan pengamatan yang ada dilapang dapat dilihat penyebab kerusakan lahan akibat dari pengelolaan lahan secara intensif dan penggunan lereng yang memiliki derajat kemiringan cukup tinggi digunakan sebagai lahan pertanian yang dilakukan oleh petani masyarakat sekitar. Pelaku : Dari pengamatan yang ada dilapang dapat dilihat penyebab kerusakan lahan akibat dari pengelolaan lahan secara intensif dan penggunan lereng sebagai lahan pertanian yang dilakukan oleh petani masyarakat sekitar dan juga pihak Perhutani. Karena pada tahun 1963, masyarakat mulai menanam sayur-sayuran dan mulai ada yang menanam di kawasan hutan atas seijin pihak Jawatan Kehutanan (sekarang Perhutani).

Saksi : Petani yang melakukan perusakan pada lahan pertanian tersebut.

Korban : Masayarakat sekitar dusun kekep desa tulungrejo, kecamatan bumiaji, kota Batu, Malang.

  1. 2.    Apa (kerusakan atau akibat kerusakan)

Penggunaan alih fungsi dari lahan hutan menjadi lahan pertanian (deforestasi) yang mengakibatkan pada rusaknya lahan mulai dari tingkat kesuburan tanah maupun potensi erosi di daerah lereng karena  di daerah ini memiliki derajat kemiringan yang cukup tinggi dan tetap sebagai lahan pertanian semusim. Tanaman semusim yang digunakan didaerah ini adalah wortel yang memiliki perakaran dangkal sehingga tidak mampu menjaga tanah dari bahaya erosi pada saat musim hujan datang.

  1. 3.    Dimana (lokasi perusakan dan / atau perusakan yang diikuti dengan berbagai dampaknya)

pada pengamatan yang kami amati adalah POS 4, dusun kekep desa tulungrejo, kecamatan bumiaji, kota Batu, Malang.  Dapat dilihat dari tanah yang telah terdegradasi dibagian atas bukit dan banyaknya sedimentasi di area hulu sungai.

 

 

  1. 4.    Dengan apa (kerusakan dan / atau perusakan dapat terjadi)

Kerusakan yang terjadi akibat kurangnya penanaman tanaman tahunan di daerah pertanaman. Selain itu, pembabatan gulma yang intensif dan secara menyeluruh juga berpengaruh terhadap tingginya potensi erosi pada lahan. Hal ini ini ditambah dengan kondisi lereng yang curam dan juga jenis tanahnya yang berdebu. kurangnya penanaman tanaman tahunan, pembabatan tanaman gulma baik dilahan maupun di pinggir sungai sampai bersih. Budidaya tanaman dengan mengabaikan faktor-faktor konservasi umberdaya lahan. Tingkat kelerengan yang mencapai 50 hingga 60%.

  1. 5.    Mengapa (Kerusakan dan / atau persakan dapat terjadi)

Alih fungsi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian tanaman musiman semakin mengurangi tanaman tahunan yang berguna sebagai penyanggah tanah dari bahaya erosi sehingga efek yang ditimbulkan kerusakan lahan akan semakin besar. Lahan di daerah ini seharusnya digunakan sebagai perkebunan rakyat, namun akibat persepsi petani, sekarang justru dijadikan lahan pertanian tanaman semusim. dengan berkurangnya tanaman tahunan yang berguna sebagai penyanggah tanah sehingga efek yang ditimbulkan kerusakan lahan akan semakin besar dan juga kurangnya pengetahuan petani mengenai budidaya dengan memperhatikan aspek konervasi sumberdaya lahan.

  1. 6.    Bagaimana (kronologi kerusakan dan / atau perusakan dapat terjadi

Pertama-tama dengan melakukan pembukaan lahan hutan dengan penebangan atau pembakaran yang mengurangi jumlah tutupan lahan, lalu tanah diolah dan ditanami tanaman yang tidak cocok dengan kemampuan lahan tersebut sehingga lama kelamaan terjadi degradasi. Begitu seterusnya sampai berpindah sampai ke lahan bawahnya.

  1. 7.    Bilamana (kerusakan dan / atau perusakan terjadi

Jika kerusakan lahan sudah terjadi dibutuhkan penanganan perbaikan lahan dengan membutuhkan teknologi konservasi lahan yang sesuai dengan kondisi aktual di lahan. Namun sebelum melakukan tindakan perbaikan perlunya kesadaran untuk merubah pola pikir masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan agar lahan dapat terus berproduksi secara berkelanjutan dan ekosistemnya menjadi sehat.

 

III. NORMA / TEORI HUKUM

Peraturan perundang-undangan terkait dengan pemanfaatan teknologi konservasi sumberdaya laha, yaitu diikuti dengan asas / teori hukumnya, antara lain:

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 / PERMENTAN / OT.140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan:

  1. 1.    Faktor kepekaan tanah terhadap erosi dan longsor;

Pengetahuan tentang faktor penentu kepekaan tanah terhadap longsor dan erosi akan memperkaya wawasan dan memperkuat landasan dari pengambil keputusan, penanggung jawab lapangan, teknisi, penyuluh dan organisasi kemasyarakatan dalam menyusun program dan melaksanakan teknik penanggulangan longsor dan erosi di daerah kewenangannya.

Longsor dan erosi adalah proses berpindahnya tanah atau batuan dari satu tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah akibat dorongan air, angin, atau gaya gravitasi. Proses tersebut melalui tiga tahapan, yaitu pelepasan, pengangkutan atau pergerakan, dan pengendapan. Perbedaan menonjol dari fenomena longsor dan erosi adalah volume tanah yang dipindahkan, waktu yang dibutuhkan, dan kerusakan yang ditimbulkan. Longsor memindahkan massa tanah dengan volume yang besar, adakalanya disertai oleh batuan dan pepohonan, dalam waktu yang relatif singkat, sedangkan erosi tanah adalah memindahkan partikel-partikel tanah dengan volume yang relatif lebih kecil pada setiap kali kejadian dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Dua bentuk longsor yang sering terjadi di daerah pegunungan adalah:

  • Guguran, yaitu pelepasan batuan atau tanah dari lereng curam dengan gaya bebas atau bergelinding dengan kecepatan tinggi sampai sangat tinggi (Gambar 1a). Bentuk longsor ini terjadi pada lereng yang sangat curam (>100%).
  • Peluncuran, yaitu pergerakan bagian atas tanah dalam volume besar akibat keruntuhan gesekan antara bongkahan bagian atas dan bagian bawah tanah (Gambar 1b). Bentuk longsor ini umumnya terjadi apabila terdapat bidang luncur pada kedalaman tertentu dan tanah bagian atas dari bidang luncur tersebut telah jenuh air.

 

 

Gambar 6. Bentuk longsor yang sering terjadi di Indonesia: a) guguran, dan b) peluncuran.

Sekitar 45% luas lahan di Indonesia berupa lahan pegunungan berlereng yang peka terhadap longsor dan erosi. Pegunungan dan perbukitan adalah hulu sungai yang mengalirkan air permukaan secara gravitasi melewati celah-celah lereng ke lahan yang letaknya lebih rendah. Keterkaitan antara daerah aliran sungai (DAS) hulu, tengah, dan hilir diilustrasikan pada Gambar 6. Keterkaitan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

  • Penggundulan hutan di DAS hulu atau zona tangkapan hujan akan mengurangi resapan air hujan, dan karena itu akan memperbesar aliran permukaan. Aliran permukaan adalah pemicu terjadinya longsor dan/atau erosi dengan mekanisme yang berbeda.
  • Budidaya pertanian pada DAS tengah atau zona konservasi yang tidak tepat akan memicu terjadinya longsor dan/atau erosi. Pengendalian aliran permukaan merupakan kunci utama. Pada daerah yang tidak rawan longsor, memperbesar resapan air dan sebagai konsekuensinya adalah memperkecil aliran permukaan merupakan pilihan utama. Sebaliknya, jika daerah tersebut rawan longsor, aliran permukaan perlu dialirkan sedemikian rupa sehingga tidak menjenuhi tanah dan tidak memberbesar erosi.
  • Air yang meresap ke dalam lapisan tanah di zona tangkapan hujan dan konservasi akan keluar berupa sumber-sumber air yang ditampung di badan-badan air seperti sungai, danau, dan waduk untuk pembangkit listrik, irigasi, air minum, dan penggelontoran kota.

Kedalaman atau solum, tekstur, dan struktur tanah menentukan besar kecilnya air limpasan permukaan dan laju penjenuhan tanah oleh air. Pada tanah bersolum dalam (>90 cm), struktur gembur, dan penutupan lahan rapat, sebagian besar air hujan terinfiltrasi ke dalam tanah dan hanya sebagian kecil yang menjadi air limpasan permukaan. Sebaliknya, pada tanah bersolum dangkal, struktur padat, dan penutupan lahan kurang rapat, hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi dan sebagian besar menjadi aliran permukaan.

Faktor lain yang menentukan kelongsoran tanah adalah ketahanan gesekan bidang luncur. Faktor yang menentukan ketahanan gesekan adalah:

  • gaya saling menahan di antara dua bidang yang bergeser,
  • mekanisme saling mengunci di antara partikel-partikel yang bergeser.

Untuk kasus pertama, partikel hanya menggeser di atas partikel yang lain dan tidak terjadi penambahan volume. Untuk kasus kedua, terjadi penambahan volume karena partikel yang bergeser mengatur kedudukannya sedemikian rupa, sehingga menyebabkan keruntuhan.

Ketahanan gesekan ditentukan oleh bentuk partikel. Pada partikel berbentuk lempengan seperti liat, penambahan air mempercepat keruntuhan. Sebaliknya pada partikel berbentuk butiran seperti kuarsa dan feldspar, penambahan air memperlambat keruntuhan.

Pegunungan dan perbukitan adalah hulu sungai yang mengalirkan air permukaan secara gravitasi melewati celah-celah lereng ke lahan yang letaknya lebih rendah. Keterkaitan antara daerah aliran sungai (DAS) hulu, tengah, dan hilir diilustrasikan pada Gambar 2. Keterkaitan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

(1). Penggundulan hutan di DAS hulu atau zona tangkapan hujan akan mengurangi resapan air hujan, dan karena itu akan memperbesar aliran permukaan. Aliran permukaan adalah pemicu terjadinya longsor dan/atau erosi dengan mekanisme yang berbeda.

(2). Budidaya pertanian pada DAS tengah atau zona konservasi yang tidak tepat akan memicu terjadinya longsor dan/atau erosi. Pengendalian aliran permukaan merupakan kunci utama. Pada daerah yang tidak rawan longsor, memperbesar resapan air dan sebagai konsekuensinya adalah memperkecil aliran permukaan merupakan pilihan utama. Sebaliknya, jika daerah tersebut rawan longsor, aliran permukaan perlu dialirkan sedemikian rupa sehingga tidak menjenuhi tanah dan tidak memberbesar erosi.

(3). Air yang meresap ke dalam lapisan tanah di zona tangkapan hujan dan konservasi akan keluar berupa sumber-sumber air yang ditampung di badan-badan air seperti sungai, danau, dan waduk untuk pembangkit listrik, irigasi, air minum, dan penggelontoran kota.

 

Faktor yang mempengaruhi terjadinya longsor dan erosi adalah faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yang utama adalah iklim, sifat tanah, bahan induk, elevasi, dan lereng. Faktor manusia adalah semua tindakan manusia yang dapat mempercepat terjadinya erosi dan longsor. Faktor alam yang menyebabkan terjadinya longsor dan erosi diuraikan berikut ini.

1.1.    Iklim

Curah hujan adalah salah satu unsur iklim yang besar perannya terhadap kejadian longsor dan erosi. Air hujan yang terinfiltrasi ke dalam tanah dan menjenuhi tanah menentukan terjadinya longsor, sedangkan pada kejadian erosi, air limpasan permukaan adalah unsur utama penyebab terjadinya erosi.

Hujan dengan curahan dan intensitas yang tinggi, misalnya 50 mm dalam waktu singkat (<1 jam), lebih berpotensi menyebabkan erosi dibanding hujan dengan curahan  yang sama namun dalam waktu yang lebih lama (>1 jam). Namun curah hujan yang sama tetapi berlangsung lama (>6 jam) berpotensi menyebabkan longsor, karena pada kondisi tersebut  dapat  terjadi  penjenuhan  tanah  oleh  air  yang  meningkatkan massa   tanah.   Intensitas   hujan   menentukan   besar   kecilnya   erosi, sedangkan longsor ditentukan oleh kondisi jenuh tanah oleh air hujan dan keruntuhan  gesekan  bidang  luncur.  Curah  hujan  tahunan  >2000  mm terjadi pada sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini berpeluang besar menimbulkan erosi, apalagi di wilayah pegunungan yang lahannya didominasi oleh berbagai jenis tanah.

1.2      Tanah

Kedalaman atau solum, tekstur, dan struktur tanah menentukan besar kecilnya air limpasan permukaan dan laju penjenuhan tanah oleh air. Pada tanah bersolum dalam (>90 cm), struktur gembur, dan penutupan lahan rapat, sebagian besar air hujan terinfiltrasi ke dalam tanah dan hanya sebagian kecil yang menjadi air limpasan permukaan. Sebaliknya, pada tanah bersolum dangkal, struktur padat, dan penutupan lahan kurang rapat, hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi dan sebagian besar menjadi aliran permukaan (Gambar 7).

 

Hubungan antara struktur lapisan tanah dan penutupan lahan terhadap jumlah infiltrasi

Faktor lain yang menentukan kelongsoran tanah adalah ketahanan gesekan bidang luncur. Faktor yang menentukan ketahanan gesekan adalah: a) gaya saling menahan di antara dua bidang yang bergeser, dan b) mekanisme saling mengunci di antara partikel-partikel yang bergeser. Untuk kasus pertama, partikel hanya menggeser di atas partikel yang lain dan tidak terjadi penambahan volume. Untuk kasus kedua, terjadi penambahan volume karena partikel yang bergeser mengatur kedudukannya sedemikian rupa, sehingga menyebabkan keruntuhan.

Ketahanan gesekan ditentukan oleh bentuk partikel. Pada partikel berbentuk lempengan seperti liat, penambahan air mempercepat keruntuhan. Sebaliknya pada partikel berbentuk butiran seperti kuarsa dan feldspar, penambahan air memperlambat keruntuhan.

Bahan induk tanah

Sifat bahan induk tanah ditentukan oleh asal batuan dan komposisi mineralogi yang berpengaruh terhadap kepekaan erosi dan longsor. Di daerah pegunungan, bahan induk tanah didominasi oleh batuan kokoh dari batuan volkanik, sedimen, dan metamorfik. Tanah yang berbentuk dari batuan sedimen, terutama batu liat, batu liat berkapur atau marl dan batu kapur, relatif peka tehadap erosi dan longsor. Batuan volkanik umumnya tahan erosi dan longsor.

Salah satu ciri lahan peka longsor adalah adanya rekahan tanah selebar >2 cm dan dalam >50 cm yang terjadi pada musim kemarau. Tanah tersebut mempunyai sifat mengembang pada kondisi basah dan mengkerut   pada   kondisi   kering,   yang   disebabkan   oleh   tingginya kandungan  mineral  liat  tipe  2:1  seperti  yang  dijumpai  pada  tanah Grumusol (Vertisols). Pada kedalaman tertentu dari tanah podsolik atau Mediteran terdapat akumulasi liat (argilik) yang pada kondisi jenuh air dapat juga berfungsi sebagai bidang luncur pada kejadian longsor.

1.3 Elevasi

Elevasi adalah istilah lain dari ukuran ketinggian lokasi di atas permukaan laut. Lahan pegunungan berdasarkan elevasi dibedakan atas dataran medium (350-700 m dpl) dan dataran tinggi (>700 m dpl). Elevasi berhubungan erat dengan jenis komoditas yang sesuai untuk mempertahankan kelestarian lingkungan. Badan Pertanahan Nasional menetapkan lahan pada ketinggian di atas 1000 m dpl dan lereng >45% sebagai kawasan usaha terbatas, dan diutamakan sebagai kawasan hutan lindung. Sementara, Departemen Kehutanan menetapkan lahan dengan ketinggian >2000 m dpl dan/atau lereng >40% sebagai kawasan lindung.

 

1.4 Lereng

Lereng atau kemiringan lahan adalah salah satu faktor pemicu terjadinya erosi dan longsor di lahan pegunungan. Peluang terjadinya erosi dan longsor makin besar dengan makin curamnya lereng. Makin curam lereng makin besar pula volume dan kecepatan aliran permukaan yang berpotensi menyebabkan erosi. Selain kecuraman, panjang lereng juga menentukan besarnya longsor dan erosi. Makin panjang lereng, erosi yang terjadi makin besar. Pada lereng >40% longsor sering terjadi, terutama disebabkan oleh pengaruh gaya gravitasi. Kondisi wilayah/lereng dikelompokkan sebagai berikut :

Datar                      : lereng <3%, dengan beda tinggi <2 m.

Berombak             : lereng 3-8%, dengan beda tinggi 2-10 m.

Bergelombang     : lereng 8-15%, dengan beda tinggi 10-50 m.

Berbukit    : lereng 15-30%, dengan beda tinggi 50-300 m.

Bergunung           : lereng >30%, dengan beda tinggi >300 m.

Erosi dan longsor sering terjadi di wilayah berbukit dan bergunung, tertama pada tanah berpasir (Regosol atau Psamment), Andosol (Andisols),  tanah  dangkal  berbatu  (Litosol  atau  Entisols),  dan  tanah dangkal berkapur (Renzina atau Mollisols). Di wilayah bergelombang, intensitas erosi dan longsor agak berkurang, kecuali pada tanah Podsolik (Ultisols), Mediteran (Alfisols), dan Grumusol (Vertisols) yang terbentuk dari batuan induk batu liat, napal, dan batu kapur dengan kandungan liat 2:1 (Montmorilonit) tinggi, sehingga pengelolaan lahan yang disertai oleh tindakan  konservasi  sangat  diperlukan.  Dalam  sistem  budidaya  pada lahan berlereng >15% lebih diutamakan campuran tanaman semusim dengan tanaman tahunan atau sistem wanatani (agroforestry).

  1. 2.    Faktor Pengendali Erosi

Daerah rawan longsor harus dijadikan areal konservasi, sehingga bebas dari kegiatan pertanian, pembangunan perumahan dan infrastruktur. Apabila lahan digunakan untuk perumahan maka bahaya longsor akan meningkat, sehingga dapat mengancam keselamatan penduduk di daerah tersebut dan di sekitarnya. Penerapan teknik pengendalian longsor diarahkan ke daerah rawan longsor yang sudah terlanjur dijadikan lahan pertanian. Areal rawan longsor yang belum dibuka direkomendasikan untuk tetap dipertahankan dalam kondisi vegetasi permanen, seperti cagar alam, kawasan konservasi, dan hutan lindung.

Pengendalian longsor dapat direncanakan dan diimplementasikan melalui pendekatan mekanis (sipil teknis) dan vegetatif atau kombinasi keduanya. Pada kondisi yang sangat parah, pendekatan mekanis seringkali bersifat mutlak jika pendekatan vegetatif saja tidak cukup memadai untuk menanggulangi longsor.

  1. 3.    Faktor Sistem Usahatani Konservasi

Budidaya pertanian pada lahan pegunungan yang sesuai dengan kondisi alam seyogyanya menerapkan sistem usahatani (SUT) konservasi yang tepat. Pengertian SUT konservasi adalah sebagai berikut:

  • SUT pada hakekatnya adalah pemanfaatan sumberdaya lahan, yang dimiliki oleh petani (dikelola secara individual atau berkelompok) atau pengusaha melalui penanaman tanaman dan/atau pemelihara-an ternak dengan memperhatikan keterkaitan antar komoditas secara harmonis agar hasil yang diperoleh optimal.
  • Konservasi adalah upaya pengendalian erosi dari lahan pertanian berlereng secara vegetatif dan mekanis, jenis tanaman yang ditanam sebagai bagian dari teknik pengendalian erosi adalah elemen yang tidak terpisahkan dari SUT.
  • Teknik pengendalian erosi harus diterapkan, karena dampaknya menyangkut seluruh DAS, dan untuk keberlanjutan produktivitas SUT itu sendiri, jenis tanaman yang ditanam dan kombinasinya dapat berubah sesuai dengan permintaan pasar.
  • Sumberdaya lahan yang dimiliki oleh petani dan pengusaha dapat berupa lahan kering berlereng, lahan pekarangan, lahan sawah tadah hujan dalam satu ekosistem lahan kering berlereng atau kombinasi dengan lahan pekarangan, atau kombinasi dengan lahan sawah tadah hujan, atau kombinasi ketiga ekosistem.
  1. 4.    Faktor Jenis Komoditas Tanaman

Lahan pegunungan yang meliputi sekitar 45% daratan Indonesia dengan iklim dan jenis tanah yang berbeda mempunyai karakteristik lingkungan tumbuh tanaman yang heterogen. Lingkungan tumbuh demikian memenuhi persyaratan fisiologis bagi jenis-jenis tanaman tertentu.

Kelompok jenis tanaman berdasarkan persyaratan fisiologis harus memenuhi persyaratan agronomis yang diekspresikan dalam tingkat kesesuaian tanaman bagi berbagai karakteristik fisik dan kimia tanah. Jenis-jenis tanaman ini yang akan ditanam pada bidang olah lahan berlereng yang telah diteras dan di lahan pekarangan.

Tabel 4.Pengelompokan tanaman pangan menurut agroekosistem lahan pegunungan

Tabel 5. Pengelompokan tanaman sayuran menurut agroekosistem lahan pegungan

Tabel 6. Pengelompokan tanaman tahunan buah-buahan dan perkebunan berdasarkan agroekosistem lahan pegunungan

Tabel 7. Pengelompokan tanaman rempah dan obat menurut agroekosistem lahan pegunungan

IV. ANALISA HUKUM

Keterkaitan antara fakta / fakta hukum dengan peraturan perundang-undangan dan / atau teori hukum, antara lain:

Fakta lokasi budidaya pertanian pada lahan pegunungan dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 / PERMENTAN / OT.140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan dan / atau kearifan lokal budaya petani pada lahan pegunungan.

Kegiatan budidaya pertanian pada area konservasi yang tidak tepat akan memicu terjadinya longsor dan/atau erosi. Pengendalian aliran permukaan merupakan kunci utama. Pada daerah yang tidak rawan longsor, memperbesar resapan air dan sebagai konsekwensinya adalah memperkecil aliran permukaan merupakan pilihan utama. Sebaliknya, jika daerah tersebut rawan longsor, aliran permukaan perlu dialirkan sedemikian rupa sehingga tidak menjenuhi tanah dan tidak memperbesar  erosi Faktor yang mempengaruhi terjadinya longsor dan erosi adalah faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yang utama adalah iklim, sifat tanah, bahan induk, elevasi, dan lereng. Faktor manusia adalah semua tindakan manusia yang dapat mempercepat terjadinya erosi dan longsor.

Berdasarkan literatur (Juarti, 2004) disebutkan bahawa Banyaknya curah hujan rata-rata, yaitu 8,9 mm dan suhu rata-ratanya yaitu 18-24C. Struktur tanah di Desa Tulungrejo debu berpasir dan kandungan bahan organiknya rendah. Struktur tanah debu berpasir ini sangat mudah tererosi karena daya ikat antar partikelnya lemah. Selain struktur tanah tersebut, juga disebabkan oleh pola tanamnya yang searah dengan kemiringan lereng sehingga mempercepat laju erosi.

  • SPL 1

Dari SPL 1 yang diamati, tanah bertekstur sedang  hingga berlempung dan kedalaman efektif yang dalam  yaitu 80 cm, sedangkan lerengnya  sangat curam  sebesar 80%, drainase agak baik, batu/kerikil tidak ada, bahaya banjir tidak ada . Jika ditinjau dengan PERMENTAN bersangkutan, maka kondisi ini akan menimbulkan hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi  dan sebagian besar  menjadi aliran permukaan. Dengan lereng tersebut, kurang sesuai jika lahan ditanami dengan tanaman semusim karena kondisi lereng yang termasuk wilayah bergunung ini akan sering terjadi longsor dan erosi. Hal ini diperparah dengan kondisi lahan yang terbuka tidak ada tutupan sama sekali sehingga kemungkinan terjadinya lonhsor menjadi lebih besar. Kelas kemampuan lahannya yaitu masuk kelas VI dengan faktor pembatas berupa lereng dan erosi. Dalam sistem budidaya pada lahan dengan kelerengan sepserti ini (>15%) lebih diutamakan campuran tanaman semusim dengan tanaman tahunan atau sistem wanatani (agroforestry). Sehingga diperlukan pengelolaan dan upaya konservasi pada lahan tersebut.

  • SPL 2

Dari SPL 2 yang diamati, tanah bertekstur lempung berpsir dan kedalaman efektif yang dangkal yaitu 30 cm, sedangkan lerengnya  agak curam  sebesar 50%, drainase baik, batu/kerikil tidak ada, bahaya banjir tidak ada. Ditinjau dari PERMENTAN tersebut, maka kondisi ini akan mengakibatkan hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi  dan sebagian besar  menjadi aliran permukaan, sama dengan spl 1. Hanya saja, pada SPL ini aliran permukaan tidak sebesar di SPL 1 karena pada SPL ini sudah terdapat budidaya tanaman musiman yaitu wortel, sedangkan pada SPL 1 tidak ada komoditas yang dibudidayakan.  Sama halnya seperti pada SPL 1, pada SPL 2 ini  termasuk wilayah bergunung ini akan sering terjadi longsor dan erosi, jadi kurang sesuai jikapada  lahan dibudidayakan  tanaman semusim. Dari kondisi ini maka SPL 2 masuk ke dalam kelas kemampuan lahan kelas VI dengan faktor pembatas lereng. Pada kelerengan ini  lebih diutamakan budidaya campuran tanaman semusim dengan tanaman tahunan atau sistem wanatani (agroforestry). Sehingga perlu adanya pengelolaan dan upaya konservasi pada lahan yang bersangkutan.

  • SPL 3

Dari SPL 3 yang diamati, tanah bertekstur lempung berpasir dan kedalaman efektif yang dangkal yaitu 30 cm, sedangkan lerengnya  agak landai 25%, drainase baik, batu/kerikil tidak ada, bahaya banjir tidak ada. Dari kondisi ini menunjukkan bahwa telah tejadi erosi ringan. Pada daerah yang landai akan menjadi tempat terjadinya akumulasi hasil erosi dari daerah yang berada di atasnya. Dilihat dari kelerengannya, lahan ini termasuk ke dalam  lahan berombak. Kelas kemampuan lahannya mesuk ke kelas VIII dengan faktor pembatas tekstur. Kemungkinan terjadinya erosi mungkin tidak lebih besar dibandingkan dengan SPL yang lain, karena justru menjadi daerah penimbunan sedimen dari erosi pada SPL di atasnya. Ditinjau dari segi hukum, penggunaan lahan kurang sesuai. Seperti yang tertera pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 / PERMENTAN / OT. 140 / 10 / 2006 bahwa pada persyaratan agronomis, setelah persyaratan fisiologis telah dipenuhi dan jenis tanaman sudah dipilih, maka langkah berikutnya adalah memenuhi persyaratan agronomis lahan utntuk jenis tanaman tersebut. Lokasi sasaran bisa memenuhi persyaratan fisiologis tetapi belum tentu memenuhi persyaratan agronomis. Persyaaratan agronomis yang dimaksud adalah tingkat kesesuaian lahan bagi tanaman. Kondisi tekstur pada SPL ini kurang sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman wortel, selain itu, risiko terjadi erosi juga besar. Jadi penggunaan lahan ini kurang sesuai baik dari segi lingkungan maupun segi hukum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V. KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis yang telah dilakukan pada SPL 1, 2, ataupun 3, ditemukan adanya ketidasesuaian Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 / PERMENTAN / OT. 140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan terhadap kondisi lokasi budidaya pertanian pada lahan pegunungan. Kondisi lahan kurang sesuai dengan pembudidayaan tanaman semusim (wortel). Penerapan teras gulud dianggap belum mampu untuk memenuhi kaidah konserasi yang benar karena di sebagian wilayah memiliki kelerengan yang agak curam sehingga dibutuhkan upaya konservasi untuk bisa mempertahankan konkdisi tanah supaya bisa mengurangi potensi erosi di lahan. Jenis komoditas yang ditanam akan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan suatu lahan  untuk bisa menunjang pertumbuhan tanaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VI. REKOMENDASI

 

Tindak lanjut, antara lain:

  1. Permasyarakatan serta penerapan secara teknis dan ketentuan hukum terkait dengan teknologi konservasi sumberdaya lahan, yang  meliputi:
  • Teknis, antara lain :
SPL Macam Rekomendasi Penggunaan Lahan Macam rekomendasi Konservasi Tanah secara Teknis Ketentuan Hukum berdasarkan konservasi secara teknis
1 Hutan lindung, hutan produksi, agroforestry tanaman tahunan dengan tanaman musiman dan rumput, lahan padangan Aplikasi teras bangku dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya sehingga terjadi deretan bangunan yang terbentuk seperti tangga. Berdasarkan PERMENTAN 47/Permentan/OT.140/10/2006, disebutkan bahwa dengan kedalaman solum tanah <40 cm, 40-25 cm, atau >90 cm, padalereng  15-25 cm dapat dilakukan konservasi tanah secara mekanis dan vegetative yaitu teras bangku, budidaya lorong, pagar hidup, silvipastura, tanaman penutup tanah, rorak,  dan strip tanaman atau rumput dengan proporsi tanaman semusim maksimal 50% dan tanaman tahunan minimal 50%.  Pada lereng 25-40% konservasi yang bisa dilakukan adalah teras bangku, budidaya lorong, pagar hidup, dan tanaman penutup tanah. Pada kelerengan >40% konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan teras individu dan teras kebun
2 Hutan lindung, hutan produksi, agroforestry tanaman tahunan dengan tanaman musiman dan rumput, lahan padangan Pembuatan teras bangku dengan kondisi miring ke dalam. Efektifitasnya akan meningkat jika ditanami dengan tanaman penguat di bibir dan tampingan teras.
3 Cagar alam, hutan lindung, agroforestry dengan penambahan pupuk organik Menanam tanaman atau membuat bangunan yang berfungsi untuk menahan material akibat erosi

 

  1. Penelitian dan pengkajian secara teknis dan ketentuan hukum terkait dengan teknologi konservasi sumberdaya lahan
  • Teknis, antara lain :

Karena besarnya variasi lingkungan lahan kering, maka teknologi yang diperlukan juga bervariasi sesuai kondisi setempat. Pada lahan dengan kemiringan lebih dari 15%, pembuatan teras (bangku, kredit, atau gulud) dengan penanaman rumput perlu dipertimbangkan. Pada pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bertujuan optimal sebaiknya dikaitkan dengan beberapa upaya pokok antara lain : (a) pengolahan lahan yang berlandaskan kaidah konservasi tanah dan air dalam arti luas, (b) pendayagunaan sumberdaya air dan iklim secara optimal, (c) pengelolaan vegetasi hutan, pangan dan pakan, (d) pembinaan sumber daya manusia secara bijaksana, dan (e) pemilihan komoditi sesuai agroekologi.

Konservasi air dapat ditentukan melalui cara-cara yang dapat mengendalikan evaporasim transpirasi, dan aliran permukaan. Pada  lahan kering, teknik konservasi air yang penting meliputi : pengendalian aliran permukaan, penyadapan/pemanenan air, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah, pengolahan tanah minimum dan beberapa upaya pengelolaan air tanah. Pada hakekatnya beberapa tindakan konservasi tanah adalah merupakan tindakan konservasi air

  • Ketentuan hukum, antara lain:

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 47/Permentan/OT.140/10/2006 Bab 5 tentang teknologi budidaya pada system usaha tani konservasi

 

 

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud :

(1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, dapat juga pada lahan dengan kemiringan 40-60% namun relative kurang efektif.

(2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi, guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan dibuat miring terhadap kontur, tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah.

Efektivitas teras bangku sebagai pengendali erosi akan meningkat bila ditanami dengan tanaman penguat teras di bibir dan tampingan teras. Rumput dan legum pohon merupakan tanaman yang baik untuk digunakan sebagai penguat teras. Tanaman murbei sebagai tanaman penguat teras banyak ditanam di daerah pengembangan ulat sutra. Teras bangku adakalanya dapat diperkuat dengan batu yang disusun, khususnya pada tampingan. Model seperti ini banyak diterapkan di kawasan yang berbatu.

Beberapa rekomendasi yang juga perlu ditindak lanjuti bagi keberlanjutan keadaan lanskap disana antara lain sebagai berikut :

  1. Permasyarkatan serta penerapan secara teknis dan ketentuan hukum terkait dengan teknologi konservasi sumberdaya lahan, yang meliputi:
    1. Teknis, antara lain: menerapkan metode vegetative(membuat pertanaman lorong dan strip rumput, menanam tanaman penutup tanah, menggunakan mulsa, pengelompokan tanaman dalam suatu bentang alam, penyesuaian jenis tanaman dengan karakteristik wilayah serta penentuan pola tanam yang tepat) dan metode mekanis (pembuatan teras pada lahan dengan lereng curam, pembuatan guludan dan wind break, menyimpan air hujan serta membuat dam parit).
    2. Ketentuan hukum, antara lain: Peraturan Menteri Pertanian Nomon 47 / PERMENTAN / OT.140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan terhadap kondisi lokasi budidaya pertanian pada lahan pegunungan BAB III Pengendalian Longsor yang menyatakan bahwa daerah rawan longsor harus dijadikan areal konservasi, sehingga bebas dari kegiatan pertanian, pembangunan perumahan daninfrastruktur.Pengendalian longsor dapat direncanakan dan diimplementasikan melalui pendekatan mekanis (sipil teknis) dan vegetatif atau kombinasi keduanya. Pada kondisi yang sangat parah, pendekatan mekanisseringkali bersifat mutlak jika pendekatan vegetatif saja tidak cukupmemadai untuk menanggulangi longsor. Kemudian pada BAB IV Teknologi Budidaya Pada Sistem Usahatani Konservasi juga menyatakan bahwa  Teknik pengendalian erosi harus diterapkan, karena dampaknya menyangkut seluruh DAS, dan untuk berkelanjutan produktivitas SUT itu sendiri, jenis tanaman yang ditanam dan kombinasinya dapat berubah sesuai dengan permintaan pasar.
  2. Penelitian dan pengkajian secara teknis dan ketentuan hukum terkait dengan teknologi konservasi sumberdaya lahan
    1. Teknis, antara lain: diadakan survei yang berkaitan dengan penentuan keseuaian  dan kemampuan lahan yang cocok,  sifat fisika dan biologi tanah dapat diamati pada lahan secara langsung dengan peralatan yang sudah disiapkan. Mengenai sifat yangmenyangkut kimi seperti kadar c organik, kadar N total, Kadar P total, keterseidaan hara, kebutuhan unsur lahan dan tanaman sampai pada analisis tanah untuk menentukan rekomendasi pupuk yang  dibutuhkan pada lahan. Fungsi perencanaan di awal selain mencegah permasalahan pada lahan juga mencegah  serangan hama penayakit melalui penerpan  Pengendalian Hama Terpadu  (PHT) dengan melaksanakan pengendalian diserahkan pada ekosistem alaminya. Dimulai dari pengurangan dosis, waktu, aplikasi pestisida untuk menuju pertanian yang berlanjut secara ekologi, ekonomi, social. Teknis kajian penerapan pola tanam yang tumpang sari perlu diterapkan pada lahan, system wanatani atau agroforestri dapat dijadikan salah satu referensi pola penanaman pada lahan dengan pola pegunungan, dan hal-hal lain sebagai tambahan untuk konservasi.
    2. 2.  Ketentuan hukum, antara lain: Peraturan Menteri Pertanian Nomon 47 / PERMENTAN / OT.140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan terhadap kondisi lokasi budidaya pertanian pada lahan pegunungan BAB V Pengelompokan Jenis Tanaman Pada SUT Konservasi menjelaskan bahwa Dalam budidaya pertanian di lahan pegunungan yang tidak rawan longsor dan erosi, jenis tanaman yang akan dikembangkan dipilih sesuai dengan persyaratan tumbuh masing -masing jenis tanaman. Sesuai dengan peraturan tersebut harus diterapkan karena teknis sudah dijelaskan diatas maka pendekatan kepada petani dan masyrakat sekitar mengenai teknik konservasi lahan yang sudah disesuaikan dengan penggunaan lahan sekitar sebagai pertanian. Pengguna juga harus memahami apabila tidak menerapkan ketentuan yang sudah terdapat dalam peraturan yang dibuat untuk menjaga keberlangsungan lingkungan, kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harmonis dan timbal balik secara bertahap.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Juarti. 2004. Konservasi Lahan dan Air. Malang: Universitas Negeri Malang

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 / PERMENTAN / OT. 140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan terhadap kondisi lokasi budidaya pertanian pada lahan pegunungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA Image

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>