browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

TUGAS TAKE HOME TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN “REKOMENDASI TINDAKAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DI DUSUN GADING KULON KECAMATAN DAU”

Posted by on January 17, 2014

TUGAS TAKE HOME

TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN

“REKOMENDASI TINDAKAN KONSERVASI TANAH DAN AIR

DI DUSUN GADING KULON KECAMATAN DAU”

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH :

  1. Fretty Vivin Valentiah                      ( 115040201111321)
  2. Fitri Wahyuni                                                ( 115040213111050)
  3. Fita Fitriatul Wahidah                                   ( 115040201111336)
  4. Faranissa Anggi Vivedru                   ( 115040201111343)
  5. Febri Dwi Mulyanto                          ( 115040201111001)
  6. Giri Lasmono                                                (115040213111031)
  7. Farah Nabila                                                 (115040207111036)
  8. Hadi Suwitnyo                                  (115040213111020)
  9. Hadi Susilo                                       (115040213111030)
  10. Farid Zamroni                                   (115040201111288)

PROGRAM STUDY AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI. 2

DAFTAR TABEL.. 2

DAFTAR GAMBAR.. 2

BAB I PENDAHULUAN.. 2

1.1    Latar Belakang. 2

1.2    Tujuan. 3

1.3    Sasaran Kegiatan. 3

BAB II KONDISI UMUM… 4

2.1    Karakteristik dan Permasalahan Usahatani Lokasi Sasaran dari Hasil Kegiatan. 4

2.2     Hasil Identifikasi Local Ecology Knowledge (LEK). 10

BAB III REKOMENDASI. 16

3.1    Rekomendasi Konservasi Penggunaan Lahan. 16

3.2    Rekomendasi Konservasi secara Vegetatif. 17

3.3    Rekomendasi Konservasi Kimia. 22

3.4    Rekomendasi Konservasi secara Mekanis. 23

3.5    Perbaikan Usahatani Petani dengan Penerapan Pertanian Konservasi 25

BAB IV Rencana Pengembangan Perencanaan untuk Dukungan Pemasaran Hasil Usahatani dan Kewirausahaan Petani 30

4.1    Pemasaran dan Panen Aktual Petani 30

4.2    Ide Pemasaran Hasil Usahatani dan Kewirausahaan Petani 30

DAFTAR PUSTAKA.. 32

LAMPIRAN.. 33

 

 

 

 

DAFTAR TABEL

 

Tabel 1. Status Keluarga. 8

Tabel 2. Penguasaan Lahan. 8

Tabel 3. Kalender Tanam.. 9

Tabel 4. Analisis Biaya dan Keuntungan. 11

Tabel 5. Pemasaran Hasil Pertanian. 11

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

 

Gambar 1. Transek Kondisi Aktual di Lahan …………………………………. …  7

Gambar 2. Sketsa Kondisi Aktual di Lahan ………………………………………..  7

Gambar 3. Tumpangsari Cabai dan Tomat …………………………………….….  14

Gambar 4. Erosi Massa ……………………………………………………………  18

Gambar 5. Landscape pengamatan …………………………………………………  20

Gambar 6. Skema yang menggambarkan zona hulu, punggung, dan kaki ………..  21

Gambar 7. Acuan Umum Proporsi Tanaman ……………………………… ……… 23

Gambar 8. Denah Rorak …………………………………………………………..  27

Gambar 9. Pengamatan NVS ………………………………………………………  28

Gambar 10. Sketsa Rekomendasi Mekanis ………………………………… ……..  29

Gambar 11. Nilai Indeks Erosi ……………………………………………………  30

Gambar 12. Tanaman Jagung yang Kekurangan Unsur Hara …………………….   30

Gambar 13. Pendapatan setelah Konservasi ……………………………………..     32

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebijakan pembangunan pertanian selama Pelita I-V yang terlalu terpusat pada lahan sawah menyebabkan perhatian dan pengelolaan usaha tani di daerah aliran sungai (DAS) bahian hulu semakin tertinggal. Ketimpangan ini telah menimbulkan beberapa masalah antara lain kerusakan lahan dan lingkungan yang semakin luas, pengelolaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya serta produktivitas lahan yang rendah akibat terjadinya degradasi lahan (Siswomartono et al., 1990).

Masalah utama dalam usaha tani di lahan berlereng adalah terjadinya erosi tanah bila tidak disertai dengan tindakan konservasi. Erosi sangat merugikan produktivitas lahan karena dalam waktu relative singkat, tanah lapisan atas yang subur hilang. Sebagai contoh, tanah Latosol (Inceptisol) pada kemiringan lahan 14% di Citayam, Bogor yang ditanami tanaman semusim tanpa tindakan konservasi tanah mengalami kehilangan tanah setebal 2,50 cm/tahun dan penurunan produktivitas lahan setelah dua tahun. Jika tanah yang hilang setebal 10 cm, maka produksi dapat menurun lebih dari 50% meskipun dilakukan pemupukan lengkap (Suwarnjo, 1981). Kerusakan tanah karena hilangnya fungsi produksi dan hidrologi memerlukan proses rehabilitasi yang relatif lama.

Lahan miring di desa Gadingkulon kecamatan Dau kabupaten Malang kini sudah mulai melakukan konservasi sejak beberapa tahun lalu, tapi sayangnya system usaha tani konservasi ini perlu adanya pengoptimalan dari segi konservasi mekanik maupun vegetative. Prinsip usaha tani konservasi adalah pengendalian erosi tanah dan air secara efektif, serta peningkatan produktivitas tanah dan stabilitas lereng perbukitan.

Dengan melakukan perbaikan sistem usaha tani konservasi di desa Gading kulon kecamatan Dau kabupaten Malang diharapkan dapat mengendalikan erosi, mengawetkan lengas tanah dan meningkatkan produktivitas lahan. Upaya tersebut merupakan bagian dari suatu rencana konstruktif untuk memperbaiki pengelolaan tanah dan air.

 

1.2  Tujuan

a)      Mengetahui kondisi aktual di desa Gading kulon kecamatan Dau kabupaten Malang

b)      Mengidentifikasi permasalahan konservasi yang ada di desa Gadingkulon kecamatan Dau kabupaten Malang

c)      Membuat rekomendasi terhadap pengembangan usaha tani dengan cara perbaikan teknik konservasi baik secara mekanik maupun vegetatif

 

1.3  Sasaran Kegiatan

Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk perbaikan usaha tani para petani di kawasan lahan desa Gading kulon kecamatan Dau kabupaten Malang dengan cara memperbaiki teknik konservasi tanah dan air dari pendekatan penggunaan lahan yang serasi menurut kemampuannya artinya tidak terjadi penggunaan lahan melampaui batas atau di bawah kemampuannya.

 

 

BAB II

KONDISI UMUM

2.1  Karakteristik dan Permasalahan Usahatani Lokasi Sasaran dari Hasil Kegiatan

  1. Kajian Masalah Biofisik

Pada pengamatan di lahan terkait masalah biofisik yang ada yaitu penggunaan lahan, tutupan lahan, erosi, dan pengolahan. Kondisi aktual di lahan gambaran transek dan sketsa sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Transek Kondisi Aktual di Lahan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Sketsa Kondisi Aktual di Lahan

Berdasarkan pengamatan permasalahan yang tengah terjadi disana yaitu adanya erosi permukaan berupa erosi alur yang ditandai dengan adanya terbentuknya alur aliran air disekitar/disela-sela tanaman yang mengarah kebawah dan adanya sedimenntasi pada daerah sungai dan diperkuat dengan warna air disungai. Dengan topografi yang landai dan dibagian atas agak curam ditambah dengan curah hujan yang tinggi pada saat inni menyebabkan tingkat erosivitas disana cukup tinggi. Penggunaan lahan yang didominasi oleh tanaman semusim juga mempengaruhi terjadinya erosi berupa erosi percikan dikarenakan pengelolaan lingkungan yang intensif yaitu kegiatan petani disana yang rajin menyiangi rumput disekitar lahan. Permasalahan nyata yang dihadapi petani yaitu penyempitan sungai irigasi karena adanya sedimentasi serta penurunan tingkat kesuburan tanah karena adanya pencucuian hara didaerah yang lebih tinggi.

Jika ditinjau dari segi kualitas air, air yang ditemukan disana yaitu keruh yang disebabkan adanya sedimen yang terangkut. Keadaan disana juga diperparah lagi yaitu tidak adanya filter didaerah aliran irigasi jadi air langsung menuju area persawahan petani. Debit aliran air disana juga sangat tinggi keran kebanyakan air yang berasal dari dearah yang lebih tinggi langsung menuju ke sungai dan terjadi limpasan permukaan. Keadaan rata-rata disana yaitu memiliki tingkat run off yang tinggi sedangkan tingkat infiltrasi yang rendah, hal ini terjadi dalam skala luas karena mayoritas penggunaan lahan disana yaitu lahan persawahan yang tutupan lahannya berupa tanaman semusim yang berumur pendek dan berakar dangkal.

Tutupan lahan yang berupa tanaman semusim yaitu tanaman cabai dan tomat dibagian yang memiliki kelerengan yang landai dan agroforestry dibagian yang miliki kelerengan agak curam. Pada daerah yang ditanami tanaman semusim luasnya mencakup setengah samapai ¾ luas lahan secara keseluruhan. Tanaman yang dibudidayakan adalah tanaman cabai dan tomat, maka pemakaian mulsa  dan pembuatan bedengan pun dilakukan petania disana. Pembuatan bedengan disana sudah sesuai dengan aturan yang sebagai mana mestinya yaitu mengikuti arah kontur dan berlawanan dengan arah kelerengan, sehingga tingkat erosi dapat lebih ditekan. Pemakaian mulsa juga mengurangi tingkat erosivitas yang terjadi disana, karena dengan tingkat curah hujan yang tinggi, air hujan yang jatuh tidak langsung mengenai tanah melainkan mengenai mulsa terlebih dahulu dan terkurangi kecepatannya bila mengenai kanopi dari vegetasi dan sebagian mengalir merambat melalui batang secara vertikal.

Pada saat pengamatan kami tidak mengamati hama dikarenakan waktu pengamatan sudah siang sehingga tidak ada hama yang ditemukan.

  1. Kajian Masalah Sosial Ekonomi dan Pengetahuan Ekologi Lokal

Sejarah lahan dari Lahan pembuatan teras sudah ada sejak jaman dahuli, tidak pernah ada kegiatan konservasi tanah (sepengetahuan petani). Lahan pertanian tersebut dulunya ditanami wortel. Kemudian menjadi lahan pertanaman semusim (tomat) dan lahan pertanaman tumpang sari jeruk dan tanaman semusim (tomat/padi).

Dari hasil wawancara kepada petani tidak terdapat suatu permasalahan berupa modal, permasalahan yang dirasakan petani adalah jika terjadi gagal panen yang dikarenakan curah hujan yang tinggi dan iklim yang tidak menentu. Pengetahuan ekologi local petani bisa dikatakan baik karena petani sadar untuk menjaga lingkungan dengan tanaman pohon, namun petani tetap budidaya tanaman semusim secara monokultur karena petani ingin mendapatkan pendapatan yang tinggi. Jika dianalisis pendapatan petani dengan komoditas tomat adalah sebagai berikut:

Profil Petani Responden

  1. Nama                                 : Purnomo
  2. Umur                                 : 37 tahun
  3. Pendidikan                                    : SMP
  4. Pekerjaan Utama               : Petani
  5. Pekerjaan Sampingan        : Petani
  6. Jumlah Anggota keluarga : 3 Jiwa
  7. Keterangan anggota keluarga (dalam 1 Rumah tangga petani)

 

No

Nama

Hub.dg.KK

Umur

Penddk

Pekerjaan

Utama

Sampingan

1

Purnomo

Kepala keluarga

37

SMP

Petani

2

Sulastri

Istri

34

SMP

Buruh tani

3

Rudi

anak

7

SD

siswa

Tabel 1. Status Keluarga

 

  1. Penguasaan Lahan Garapan Pertanian

No

Keterangan

Jenis Lahan (Ha)

Jumlah

Sawah

Tegal/kebun

Pekarangan

1

Milik Orang Lain

–          Disewa.

–          Dibagi-hasilkan.

1 ha

4 juta/tahun

Jumlah

1 ha

4 juta/tahun

     Tabel 2. Penguasaan Lahan

 

  1. Usahatani (Kegiatan Bercocok Tanam)

 

  1. Komoditas             : Tomat
  2. Pola Tanam           : Monokultur
  3. Kegiatan Becocok tanam Musim Tanam Ke-2 pada Musim Kemarau

No

Waktu Tanam

Jenis Kegiatan

Uraian

1

Juni

Pemupukan dan Penanaman

Pupuk Kandang 40 karung/ha dengan harga Rp.8.000/karung dan biaya tenga kerja Rp.200.000

Bibit 7 pack/ha dengan harga Rp.85.000/pack dan biaya Tenaga Kerja Rp.422.400 mulai dari penyemaian benih hingga tanam.

2

1 Juli

Pemupukan

Pupuk Urea 300 kg/ha dengan harga Rp.3.000/kg

Pupuk SP36 200 kg/ha dengan harga Rp.2.000/kg

Pupuk KNO3 50 kg/ha dengan harga Rp.2.000/kg dan biaya tenaga kerja Rp.200.000

3

20 Juli

Pengompresan

Antracol 2 bungkus dengan harga Rp.91.000/bungkus dan biaya tenaga kerja Rp.300.000

4

30 Juli

Penyiangan

Biaya tenaga kerja sebesar Rp.100.000

                                                            Tabel 3. Kalender Tanam

 

  1. Cara Pengendalian/Pembersihan hama dan yang dilakukan petani :
  2. Menggunakan Pestisida kimia : Petani biasa menggunakan Antracol, Dektan selama 5 hari sekali
  3. Menggunakan Pestisida Organik :-

 

  1. Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Usahatani per Tahun

 

No

Uraian

Jumlah (Unit)

Harga/Satuan (Rp)

Nilai (Rp)

I

Biaya Sarana Produksi

1

Bibit Tomat

35 pack

Rp.85.000

Rp.2.975.000

2

Pupuk

Pupuk Anorganik

Urea

SP36

KNO3

1,5 ton

1 ton

250 kg

Rp.3.000

Rp.2.000

Rp.2.000

Rp.4.500.000

Rp.2.000.000

Rp.500.000

Pupuk Kandang

200 karung

Rp.8.000

Rp.1.600.000

3

Obat-obatan

Antracol

10 bungkus

Rp.91.000

Rp.910.000

Dhitan

10 bungkus

Rp.90.000

Rp.900.000

4

Peti

182 peti

Rp.11.000

Rp.2.002.000

 

Total Biaya Saprodi

Rp.15.387.000

II

Biaya Tenaga Kerja

1

Olah Tanah (ternak+orang) (HOK)

20 orang

Rp.20.000 x 5 musim tanam

Rp.2.000.000

2

Penyemaian Benih (HOK)

1 orang

Rp.20.000 x 5 musim tanam

Rp.100.000

3

Pencabutan Benih (kg)

6 orang

Rp.4.000 x 5 musim tanam

Rp.120.000

4

Penanaman (are)

9 orang

Rp.4.500 x 5 musim tanam

Rp.202.500

5

Pemupukan (HOK)

2 orang

Rp.20.000 x 5 musim tanam

Rp.200.000

6

Penyiangan (HOK

1 orang

Rp.20.000 x 5 musim tanam

Rp.100.000

7

Penyemprotan (HOK)

3 orang

Rp.20.000 x 5 musim tanam

Rp.300.000

8

Sewa Lahan

1 ha

Rp.4.000.000/tahun

Rp.4.000.000

 

Total Biaya Tenaga Kerja

Rp.7.225.000

III

Produksi/Penerimaan

1

Penerimaan tomat

11.830 kg

Rp.6000/kg

Rp.70.980.000

IV

Total Biaya Usahatani

Rp.22.612.000

V

Pendapatan Usahatani

(keuntungan bersih)

Rp.48.368.000

VI

R/C ratio

3,2

 

Tabel 4. Analisis Biaya dan Keuntungan

Dari hasil tabulasi data biaya untuk kegiatan budidaya tanaman tomat secara monokultur pada lahan seluas 1 ha dengan sewa lahan sebesar Rp.4.000.000/tahun didapatkan nilai R/C rasio sebesar 3,2 dimana usahatani yang dijalankan efisien dan menguntungkan karena nilai R/C rasio nya > 1. Keseluruhan biaya yang diperlukan sebesar Rp.22.612.000 dan hasil penjualan sebesar Rp.70.980.000 sehingga petani mendapatkan keuntungan Rp.48.368.000/ tahun dengan 5x musim tanam. Petani mengaku jika terjadi gagal panen petani akan mengalami kerugian yang sangat besar, oleh karena itu rekomendasi yang kami berikan mulai dari rekomendasi kimia, mekanik, vegetative, penggunaan lahan, dan ide kewirausahaan diharapkan mampu memperbaiki kesejahteraan petani yang berkelanjutan.

 

  1. Pemasaran Hasil Pertanian

No

Uraian

Jumlah

Pemasaran

Unit

%

Lembaga Pemasaran

Tempat /Lokasi

1

Dikonsumsi Sendiri

2

Dijual

180 peti

100 %

Pasar Karangploso

Tabel 5. Pemasaran Hasil Pertanian

 

2.2  Hasil Identifikasi Local Ecology Knowledge (LEK)

  1. Analisis Pola Tanam dan Faktor-Faktor Erosi

Bapak Purnomo memliki lahan seluas 10.000 m2 , pada lahan tersebut  ditanami tanaman semusim yaitu padi, jagung serta  tanaman hortikultura seperti tomat dan cabai.  Bapak Purnomo selalu melakukan rotasi tanaman setiap kali menanam yaitu apabila dimusim penghujan beliau menanam tanaman padi dan dimusim kemarau beliau menanam tanaman jagung serta di musim musim yang tak menentu seperti sekarang ini beliau lebih fokus menanam tanaman hortikultura seperti tomat dan cabai. Beliau melakukan rotasi tanaman sesuai musim yang tepat, karena kendala yang beliau hadapi ialah faktor alam yaitu tidak menentunya musim. Beliau terkadang melakukan pola tanam tumpangsari tanaman tomat dengan cabai. Menurut keterangan beliau pola tanam tomat dan cabai dilihat dari segi ekonomi dapat memberikan keuntungan yang berlipat sebab disaat musim panen tiba dapat melakukan panen yang bersamaan. Dan menurut beliau Komoditas cabai dan tomat merupakan tanaman semusim yang baru dapat dipanen saat berumur 3 bulan setelah tanam.

 

Gambar 3. Tumpangsari Cabai dan Tomat

Cabai memiliki masa produktif selama kurang lebih 6 bulan. Berdasarkan dari pengalaman para petani, peningkatan jumlah tanaman tumpangsari ini membuat pertumbuhan tanaman menjadi lebih bagus dan meningkatkan hasil produksi masing-masing komoditas. Menurut literatur pola tanam tumpangsari tersebut masih termasuk tumpangsari inter cropping.  Keuntungan pola tanam tumpang sari inter cropping antara lain:

  1. Efisiensi tenaga lebih mudah dicapai karena persiapan tanam, pengerjaan tanah, pemeliharaan, pemupukan dan pemungutannya lebih mudah dimekanisir.
  2. Banyaknya tanaman per hektar mudah diawasi dengan mengatur jarak diantara dan didalam barisan
  3. Menghasilkan produksi lebih banyak untuk dijual ke pasar.
  4. Perhatian lebih dapat di curahkan untuk tiap jenis tanaman sehingga tanaman yang ditanam dapat dicocokkan dengan iklim, kesuburan dan tekstur tanah
  5. Resiko kegagalan panen berkurang bila dibandingkan dengan monokultur
  6. Kemungkinan merupakan bentuk yang memberikan produksi tertinggi karena penggunaan tanah dan sinar matahari lebih efisien
  7. Banyak kombinasi jenis-jenis tanaman dapat menciptakan stabilitas biologis terhadap serangan hama dan penyakit (Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM, 2009)

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi Erosi

Faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor yang dapat dikendalikan manusia dan faktor yang tidak dapat dikendalikan manusia. Faktor yang dapat dikendalikan oleh manusia adalah tanaman sedangkan iklim dan topografi secara langsung tidak dapat dikendalikan oleh manusia dan untuk tanah dapat dikendalikan secara tidak langsung dengan pengolahan tertentu (Hakim dkk., 1986).

  1. Vegetasi

Keadaaan vegetasi disana sudah jelas bahwa bapak purnomo menanam tanaman dengan pola tanam tumpangsari tomat dan cabai. Dari keterangan beliau bahwa hanya terdapat erosi massa, alur dan percikan. Menurut keterangan dari literatur, berbedanya jenis tumbuhan penutup lahan yang ada di setiap daerah aliran sungai  menyebabkan berbedanya indeks erosi yang ditimbulkan. Indeks erosi yang paling tinggi terdapat pada kelas kemiringan lereng 3-8%,  besar indeks erosinya yaitu 0,3762. Jenis tumbuhan tutupan lahan yang ada adalah tomat, kopi dan kebun campuran; kelas kemiringan lereng 0-3% dengan kode tempat X besar indeks erosinya adalah 0,3397 dan jenis tumbuhan tutupan lahan yang ada adalah cabai, tomat, dan kebun campuran. Sedangkan indeks erosi yang paling rendah terdapat pada kelas kemiringan lereng 15-35% dengan indeks erosi adalah sebesar 0,0006 pada kode tempat dan tumbuhan tutupan lahan yang ada adalah hutan.

  1. Iklim

Menurut keterangan bapak Purnomo terjadinya iklim yang tidak menentu yaitu terkadang hujan dimusim kemarau dan kemarau dimusim penghujan, keadaan disanapun juga memepengaruhi perkembangan tanaman budidaya yang ditanam. Namun selain memepengaruhi tanaman yang ditanam juga dapat mempengaruhi erosi. Menurut literatur pada daerah tropis faktor iklim yang paling besar pengaruhnya terhadap laju erosi adalah hujan. Jumlah dan intensitas hujan diIndonesia umumnya lebih tingi dibandingkan dengan negara beriklim sedang. Besarnya curah hujan menentukan kekuatan dispersi, daya pengangkutan dan kerusakan terhadap tanah. Intensitas dan besarnya curah hujan menentukan kekuatan dispersi terhadap tanah. Jumlah curah hujan rata-rata yang tinggi tidak menyebabkan erosi jika intensitasnya rendah, demikian pula intensitas hujan yang tinggi tidak akan menyebabkan erosi bila terjadi dalam waktu yang singkat karena tidak tersedianya air dalam jumlah besar untuk menghanyutkan tanah. Sebaliknya jika jumlah dan intensitasnya tinggi akan mengakibatkan erosi yang besar. (Arsyad, 1989).

  1. Topografi

Pada keadaaan aktual topografi disana memang keadaannya miring dan lahannya terbentuk terasering sehingga kata bapak Purnomo kemiringan lahan juga dapat menyebabkan erosi. Menurut literatur kemiringan dan panjang lereng adalah dua faktor yang menentukan karakteristik topografi suatu daerah aliran sungai. Kedua faktor tersebut penting untuk terjadinya erosi karena faktor-faktor tersebut menentukan besarnya kecepatan dan volume air larian (Asdak, 1995). Unsur lain yang berpengaruh adalah konfigurasi, keseragaman dan arah lereng (Arsyad, 1989).Panjang lereng dihitung mulai dari titik pangkal aliran permukaan sampai suatu titik dimana air masuk ke dalam saluran atau sungai, atau dimana kemiringan lereng berkurang sedemikian rupa sehingga kecepatan aliran air berubah. Air yang mengalir di permukaan tanah akan terkumpul di ujung lereng. Dengan demikian berarti lebih banyak air yang mengalir dan semakin besar kecepatannya di bagian bawah lereng dari pada bagian atas.

  1. Pendugaan Erosi dan Edp

Sifat fisik tanah ini membahas tentang erosi. Erosi dapat terjadi apabila didukung oleh beberapa faktor antara lain tingkat kemiringan tanah, tekstur tanah, jenis vegetasi, kandungan air, garis kontur, kelerengan, bentuk lahan serta kecukupan haranya. menurut (Hardjoamidjojo, 1993) erosi merupakan peristiwa terangkutnya atau berpindahnya tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami berupa air atau angin. Dari hasil pengamatan fisik tanah di lahan pertanian Desa gading kulon kec. Dau, Kab. Malang diketahui persentasi rata-rata kemiringan tanah dengan menggunakan klinometer sebesar 30 %. Kemiringan ini memungkinkan dapat terjadi erosi karena keadaan tanah yang gembur serta jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman semusim yaitu berupa tanaman sayur-sayuran, seperti tomat, cabai, serta jagung. Tanaman semusim tersebut tidak cukup kuat untuk menahan erosi, disamping itu sekarang sedang terjadi musim hujan yang secara terus menerus yang bisa menyebabkan agregat tanah semakin hancur karena pukulan air hujan dan kikisan air limpasan permukaan. Dan dari pengamatan pada kegiatan survey yang telah dilakukan, jelas terlihat bahwa telah terjadi erosi alur, erosi percikan serta erosi masa, erosi masa terjadi ditepi sungai.namun tidak terlalu besar dan tidak terlalu berdampak bagi lahan tersebut, dampak yang terjadi langsung ke air sungainya yang bisa mengalami kekeruhan. Tidak semua lahan sekitar yang berpotensi terjadinya erosi karena masih terlihat ada yang berpotensi sebagai agroforestry yang dapat menahan terjadinya erosi. Tekstur tanah yang ada disana remah dan jenis vegetasi yang ada dilahan agroforestry yaitu bosia dan rumput gajah, pada tanaman semusim terdapat tanaman cabai dan tomat. Untuk kecukupan hara disana sepertinya kurang memenuhi kebutuhan pada masing-masing tanaman ini bisa diperlihatkan pada tanaman jagung yang kekurangan unsur N, dan P.

 

 

 

Gambar 4. Erosi Massa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

REKOMENDASI

3.1  Rekomendasi Konservasi Penggunaan Lahan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada desa Gading Kulon , macam penggunaan lahannya antara lain hutan terganggu, agroforestri, pertanaman monokultur, dan sungai. Sedangkan tutupan lahannya berupa rumput gajah yang dinaungi pohon bosia, tanaman jagung yang telah mengalami masa panen, tanaman tomat, tanaman cabai, pisang, dan pohon kelapa. Dengan penutup lahan yang demikian, biodiversitas landscape yang diamati tergolong sedang. Dengan kelerengan yang cenderung datar, budidaya yang diterapkan oleh petani sekitar sebenarnya telah baik, namun saja kurangnya tata letak bagi sistem tanamnya. Misalnya saja bagi daerah tepi aliran sungai yang seharusnya ditanami tanaman tahunan ataupun bisa juga digantikan dengan tanaman filter, namun pada kenyataannya dilapang, yang digunakan adalah tanaman semusim yang tidak memiliki perakaran yang dalam dan tidak mampu menahan sedimen yang ikut terbawa aliran air pada saat hujan, sehingga sungai menjadi keruh akibat adanya sedimen yang mengendap didaerah aliran sungai sekitar lahan tersebut.

Ditinjau  kelerengannya, sistem pertanaman yang baik untuk menyangga ataupun sebagai filter, sebaiknya dengan menanami tanaman budidaya pada bagian atas, atau biasa disebut dengan kawasan budidaya, kemudian menanami tanaman pengendali limpasan. Pengendali limpasan dimaksudkan untuk mengurangi limpasan permukaan yang akan terjadi jika tanah mengalami perusakan akibat adanya erodibilitas. Lantai tanah yang tertutup vegetasi dan seresah merupakan cara yang efektif untuk mengurangi limpasan dan melindungi permukaan tanah dari faktor-faktor yang dapat merusak tanah. Sedangkan untuk mengurangi erosivitas, dapat dilakukan dengan cara menanami tanaman tahunan dengan tanaman budidaya, agroforestri. Dengan begitu, maka akan didapati tajuk berlapis yang kemudian akan dapat mengurangi dampak penghancuran tanah yang terjadi akibat hantaman air hujan yang dapat merusak struktur tanah. Selain menanami tanaman guna mencegah dan mengurangi limpasan, hutan tanaman dan hutan lindung juga penting untuk memperbaiki neraca air, diantaranya dapat meningkatkan intersepsi, meningkatkan kapasitas infiltrasi, meningkatkan kapasitas tanah  menahan air, dan meningkatkan kapasitas perkolasi. Batang tanaman menjadi penahan erosi air hujan dengan cara merembeskan aliran dari tajuk melewati batang menuju permukaan tanah sehingga energi kinetiknya berkurang. Batang juga berfungsi memecah dan menahan laju aliran permukaan. Beberapa jenis tanaman yang ditanam dengan jarak rapat, batangnya mampu membentuk pagar sehingga memecah aliran permukaan. Partikel tanah yang ikut bersama aliran permukaan akan mengendap dibawah batang dan lama kelamaan akan membentuk bidang penahan aliran permukaan yang lebnih stabil. Keuntungan menggunakan sistem vegetatif ini adalah keumdahan penerapannya. Selain itu, fungsi tanaman hutan pada tepi sungai juga mampu menyimpan air dan meredam debit pada saat musim penghujan dan menyediakan air secara terkendali pada musim kemarau. Keempat hal tersebut dapat dilakukan sebagai upaya untuk mengelola landscape pertanian agar dapat meminimalisir terjadinya erosi.

Rekomendasi diatas merupakan salah satu contoh konservasi tanah secara vegetatif yang memanfaatkan tanaman atau vegetasi maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi, penghambat aliran permukaan, peningkatan kandungan lengas tanah, serta perbaikan sifat-sifat tanah, baik sifat fisik, kimia, maupun biologi (Agus et al., 1999).  Berdasarkan deskripsi diatas, rekomendasi penggunaan lahan bagi landscape pertanian di desa Gadingkulon, sebaiknya dengan agroforestri dengan jenis tanaman yang beragam dan tajuk berlapis, pertanaman tumpangsari, tanaman penutup tanah atau vegetasi yang rapat guna melindungi permukaan tanah, serta hutan tanaman dan hutan lindung sebagai filter dan buffer disepanjang tepian sungai dsehingga dapat mengurangi jumlah sedimen yang masuk ke sungai.

3.2  Rekomendasi Konservasi secara Vegetatif

Konservasi tanah adalah penempatan tiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah dan memperlakukannnya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlakukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Teknik konservasi tanah di Indonesia diarahkan pada tiga prinsip utama yaitu perlindungan tanah terhadap pukulan butir-butir hujan, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah seperti pemberian bahan organik atau dengan cara meningkatkan  penyimpanan air, dan mengurangi laju aliran permukaan sehingga menghambat material tanah dan hara terhanyut (Agus et al., 1999).Konservasi tanah terbagi atas 3 yaitu secara vegetative, mekanis dan kimia yang pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mengendalikan laju erosi, namun efektifitas, persyaratan dan kelayakan untuk diterapkan sangat berbeda.

Teknik konservasi secara vegetatif adalah setiap pemanfaatan tumbuhan/tanaman maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi, penghambat laju aliran permukaan, peningkatan kandungan lengas tanah, serta perbaikan sifat sifat tanah, baik fisik, kimia maupun biologi. Fungsi tumbuhan dalam metode ini untuk : a) melindungi tanah dari daya perusak butir-butir hujan, b) melindungi tanah dari aliran permukaan, dan c) memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan penahanan air yang akan mempengaruhi besarnya aliran permukaan. Termasuk dalam metode vegetatif ini diantaranya; budidaya tanaman semusim (jagung, kacang tanah, dan lain-lain) secara musiman atau tanaman permanen, penanaman dalam strip cropping, pergiliran tanaman, sistem pertanian hutan (agro forestry), pemanfaatan sisa tanaman (Wudianto, R., 1989).

Gambar 5. Landscape pengamatan

Sesuai dengan pengertian dari konservasi vegetatif yang merupakan pemanfaatan tanaman/vegetasi maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi serta perbaikan sifat sifat tanah. Pada lokasi pengamatan yang terletak di Desa Gading Kulon, Dau – Malang sistem penanamannya sudah searah dengan kontur dengan menggunakan teras bangku. Teras bangku ialah bangunan konservasi tanah adan air yang dibuat dengan penggalian dan pengurungan tanah, membentuk banguna berupa bidang olah, guludan, dan saluran air yang mengikuti kontur yang berfungsi utnuk mengurangi panjang lereng dan menahan air, sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, dan memungkinkan penyerapan air oleh tanah. Dengan demikian erosi berkurang (Yuliarta et al., 2002).

 

Gambar 6. Skema yang menggambarkan zona hulu, punggung, dan kaki

Pada daerah pengamatan yang dilakukan di Desa Gading Kulon sudah menerapkan sistem kontur dengan menggunakan teras bangku. Pada lereng paling atas (zona hulu) ialah lahan yang memiliki land use agroforestry tanaman sengon dan bamboo serta ada pisang dan rumput gajah. Lalu pada lereng tengah (zona punggung atau luncuran) memiliki land use berupa sawah dan penanaman tanaman semusim dengan menggunakan penanaman menurut kontur, sedangkan pada bagian lereng bawah merupakan penggunaan lahan tegalan dengan komoditas tanaman jagung yang juga dengan penanaman menurut kontur atau berupa teras bangku. Pada lahan dengan kemiringan antara 15-30% diperlukan adanya teras bangku untuk meningkatkan resapan air, mengendalikan erosi dan aliran permukaan. Namun adanya teras bangku pada daerah yang memiliki kemiringan lahan sebesar 30% belum efektif mengatasi permasalahan erosi pada daerah tersebut. Apalagi pada bagian lereng tengah yang digunakan untuk pertanaman tanaman semusim (tomat, jagung, cabe) secara monokultur. Teknik konservasi yang sudah dilakukan hanya berupa teknik konservasi mekanik sedangkan dalam prakteknya konservasi mekanis dalam pengendalian erosi harus selalu diikuti oleh cara vegetatif, yaitu penggunaan tumbuhan/tanaman dan sisa-sisa tanaman/tumbuhan (misalnya mulsa dan pupuk hijau), serta penerapan pola tanam yang dapat menutup permukaan tanah sepanjang tahun.

Salah satu cara vegetatif yang dapat dilakukan ialah dengan menggunakan NVS (Natural Vegetative Strip) atau dengan menggunakan grass strip yang dapat berfungsi mengurangi aliran permukaan. Penelitian yang dilakukan oleh Suhardjo et al. (1997), Abdurachman et al. (1982), dan Abujamin (1978), membuktikan bahwa untuk untuk lahan dengan kereng dibawah 20% sistem ini sangat efektif menahan partikel tanah yang tererosi dan menahan aliran permukaan. Tetapi apabila lahan mempunya lereng diatas 20% dibutuhkan tindakan konservasi lainnya seperti teras bangku dan alley cropping. Pada saat penggunaan grass strip, rumput yang ditanam sebaiknya dipilih dari jenis yang berdaun vertikal sehingga tidak menghalangi kebutuhan sinar matahari bagi tanaman pokok, tidak membutuhkan ruangan untuk oertumbuhan vegetatifnya, mempunya perakaran kuat dan dalam, cepat tumbuh, tidak menjadi pesaing terhadap kebutuhan hara tanaman pokok dan mampu memperbaiki sifat tanah.

Penanaman rumput pada berbagai tempat terbuka sangat penting dalam membantu mengendalikan erosi dan aliran permukaan di lahan pertanian. Tempat-tempat terbuka tersebut antara lain saluran pembuangan air (SPA), rorak, jalan dan bidang lereng dari lahan pertanian. Penanaman rumput pada SPA atau dinamakan sabagai SPA yang diperkuat dengan rumput (grassed waterways) penting untuk mengamankan SPA, sehingga lahan pertanian dapat lebih stabil. Teknik ini baik untuk lahan yang lerengnya < 30%. Jika air buangannya mengalir terus dan kecepatannya melebihi 1,5 m detik-1, maka dasar salurannya perlu diperkuat dengan semen. Untuk mengurangi kekuatan aliran air, maka SPA yang diperkuat dengan rumput tersebut di beberapa tempat dengan jarak yang teratur ditambah dengan terjunan air (drop spillways). Rumput yang sesuai untuk teknik ini adalah Bahia grass (Paspalum notatum) atau rumput kerpet (Axonopus affinis). Tempat-tempat yang terus menerus ternaungi atau tanahnya terlalu berbatu tidak cocok untuk teknik SPA dengan rumput ini (FFTC, 1995).

Penguatan lereng dengan menanam rumput merupakan teknik untuk melindungi dan menstabilkan lereng (vegetative slideslope stabilization) dari suatu lahan pertaniaa. Penanaman rumput ini juga mengurangi biaya pemeliharaan lereng dan menambah keindahan dari bentang alam. Jenis rumput yang ditanam sebaiknya yang dapat tumbuh rapat dan berakar dalam. Kalau keadaannya memungkinkan dapat ditanam tanaman yang berbunga. Pada waktu penanaman rumput tersebut perlu dipupuk karena tanahnya berasal dari lapisan bawah yang umumnya miskin unsur-unsur hara (FFTC, 1995).

Penggunaan teras bangku yang dikombinasikan dengan teknik konservasi vegetatif secara grass strip di bibir teras hingga tampingan teras menghasilkan pengurangan tingkat erosi 30-50% dibandingkan bila strip rumput hanya ditanam di bibir teras saja. Menurut Suhardjo et al. (1997), pada tanah Inceptisols dengan curah hujan 1.441,8 mm/musim yanam maupun Entisols dengan curah hujan 1.625,5 mm/musim tanam, strip rumput yang ditanam di bibir teras saja ternyara masih menghasilkan erosi yang tinggi yaitu 20t/ha/musim tanam.

Berdasarkan literatur pada lahan yang memiliki kemiringan lereng sebesar 30% harus  memiliki proporsi tanaman yang ideal pada lahan agroforestry antara tanaman tahunan dan semusim yang ideal seperti pada gambar 2. Secara umum proporsi tanaman tahunan makin banyak pada lereng yang semakin curam demikian juga sebaliknya. Tanaman semusim memerlukan pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman yang lebih intensif dibandingkan tanaman tahunan. Pananaman tanaman tahunan tidak memerlukan pengolahan tanah secara intensif. Perakaran yang dalam dan penutupan tanah yang rapat mampu melindungi tanah dari erosi.

 

Gambar 7. Acuan umum proporsi tanaman pada kemiringan lahan yang berbeda (P3HTA), 1987

Tanaman tahunan yang dipilih sebaiknya dari jenis yang dapat memberikan nilai tambah bagi petani berupa hasil buah maupun kayunya. Selain dapat menghasilkan keuntungan dengan lebih cepat dan lebih besar.

3.3  Rekomendasi Konservasi Kimia

Kondisi lahan berdasarkan pengamatan mengalami degradasi baik dari biofisik, kimia maupun biologi. Penggunaan lahan sebagai sawah dengan tutupan lahan tomat, cabai dan padi dengan sistem tanam monokultur. Potensi vegetasi yang berada di lahan masih belum bisa mempertahankan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan tanamann secara alami karena mengalai erosi alur bahkan erosi masa (longsor). Sehingga banyak unsur hara yang tercuci melalui aliran erosi. Kondisii seperti ini jika dibiarkan terus-menerus akan mengalami kualitas sumberdaya lahan semakin menurun maka perlu adanya konservasi baik secara vegetativ, mekanis dan kimia.

Konservasi secara kimia bertujuan untuk menambahkan bahan organik baik dari pupuk kandang maupun mengembalikan sisa panen ke dalam tanah, menambah biodiversitas tanaman dan pengaturan pola tanam. Menurut Hardjowigeno (2003), peningkatan ini dapat memperbaiki struktur tanah, porositas, penambahan unsur N, P, S, unsure mikro lain dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air serta peningkatan kapasitas tukar kation. Selain itu juga bisa menambahkan mulsa sebagai mengurani erosi percikan dan evaporasi karena dengan adanya mulsa aktivitas mikroba tanah akan meningkat dan berperan sebagai dekomposisi bahan organik (seresah) Siregar dan Pratiwi (1999) menyatakan bahwa dengan adanya mulsa, aktivitas mikroba tanah akan meningkat dan berperan dalam dekomposisi bahan organik/serasah.

Hasil dekomposisi selain kaya akan unsure hara, secara fisik juga berperan sebagai respon yang dapat menyerap dan memegang massa air dalam jumlah besar sehingga penyimpanan air dalam tanah menjadi lebih efisien dan menekan aliran permukaan. Peningkatan bahan organic meskipun dalam jumlah yang kecil namun dapat memperbaiki sifat tanah. Sehingga dengan adanya konservasi tersebut bisa menambah unsur hara yang lebih komplek untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

3.4  Rekomendasi Konservasi secara Mekanis

DESKRIPSI

Pada umumnya di lokasi pengamatan dilahan tomat yang kami amati didesa gading kulon kecamatan dau kabupaten malang, untuk pengolahan lahannya masih menggunakan sistem pengolahan tradisional yaitu dengan menggunakan jasa hewan ternak sapi. Oleh karena itu rekomendasi yang bisa dijalankan  dengan konservasi secara mekanis yaitu dengan pembuatan

PERBAIKAN TERAS BANGKU

Seperti halnya teras gulud, teras bangku berguna untuk menurunkan laju aliran permukaan dan menahan erosi. Teras bangku dibuat dengan jalan memotong lereng dan meratakan tanah di bidang olah sehingga terjadi suatu deretan berbentuk tangga. Di lahan yang kami amati, sudah menggunakan teras bangku namun perlu adaanya perbaikan lagi agar sistem irigasi bisa berjalan dengan baik.

Persyaratan Teras Bangku

Kemiringan lahan 10 – 40% (di tingkat petani ditemukan teras bangku pada lahan yang jauh lebih curam; sampai 100%).

Solum tanah > 60 cm. Tanah stabil, tidak mudah longsor.

Ketersediaan tenaga kerja cukup untuk pembuatan dan pemeliharaan teras.

Persyaratan Teras Bangku

Teras bangku dapat dibuat dengan interval vertikal 0,5 sampai 1 m.

Pembuatan teras dimulai dari lereng atas dan terus ke lereng bawah untuk menghindarkan kerusakan teras yang sedang dibuat oleh air aliran permukaan bila terjadi hujan.

Tanah bagian atas digali dan ditimbun ke bagian lereng bawah sehingga terbentuk bidang olah baru. Tampingan teras dibuat miring; membentuk sudut 200% (63 ) dengan bidang horizontal. Kalau tanah stabil tampingan teras bisa dibuat  lebih curam (sampai 300% atau 71 ).

Kemiringan bidang olah berkisar 0 sampai 3 % mengarah ke saluran teras.

Guludan (bibir teras) dan bidang tampingan teras ditanami dengan tanaman berakar rapat, cepat tumbuh, dan menutup tanah dengan sempurna. Untuk petani yang memiliki ternak ruminansia dapat ditanami rumput pakan ternak. Contoh tanaman yang dapat ditanam pada guludan dan bibir teras adalah Paspalum notatum, Brachiaria brizanta, Brachiaria decumbens, atau Vetiveria zizanioides. Guludan teras dapat juga ditanami dengan salah satu tanaman legum pohon atau perdu seperti Gliricidia, lamtoro, turi, stylo, dan lain-lain. Tanaman leguminose (kacangkacangan) menguntungkan karena menyumbangkan N.

Sebagai kelengkapan teras perlu dibuat saluran teras, saluran pengelak, saluran pembuangan air serta terjunan. Ukuran saluran teras: lebar 15-25 cm, dalam 20-25 cm.

Untuk mengurangi erosi dan meningkatkan infiltrasi, rorak bisa dibuat di dalam saluran teras atau saluran pengelak.

Air aliran permukaan perlu diarahkan ke SPA yang aman (berumput dan dilengkapi dengan bangunan terjunan air).

Keluarkan sedimen dari dalam saluran dan dari rorak secara berkala, terutama pada musim hujan.

Sulam tanaman tampingan dan bibir teras yang mati.

Pangkas rumput yang tumbuh pada saluran, tampingan dan bibir teras.

Keuntungan Teras Bangku:

Bidang olah teras yang datar lebih mudah ditanami daripada lahan asli yang berlereng curam.

Kalau bangunan teras cukup baik akan sangat efektif dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan.

Meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah.

Masalah Teras Bangku:

Memerlukan banyak tenaga kerja untuk pembuatannya.

Pada bidang olah teras sering tersingkap lapisan bawah tanah (subsoil) yang umumnya kurang subur terutama pada tahun-tahun pertama sesudah pembuatan teras.

 

REKOMENDASI RORAK

 

Kelompok kami merekomendasikan penggunaak Rorak karena rorak terdiri dari lubang-lubang buntu dengan ukuran tertentu yang dibuat pada bidang olah dan sejajar dengan garis kontur. Fungsi rorak untuk lahan tomat dan cabai adalah untuk menjebak dan meresapkan air ke dalam tanah serta menampung sedimen-sedimen dari bidang olah, sehingga tanaman tomat dan cabai dapat tumbuh secara optimal. Pembuatan rorak dapat dikombinasikan dengan mulsa vertikal untuk memperoleh kompos.

Gambar 8. Denah Rorak

Rorak adalah bangunan konservasi tanah dan air yang  relatif mudah diuat. Adanya rorak akan menjebak aliran permukaan dan memberikan kesempatan kepada air hujan untuk terinfiltrasi ke dalam tanah. Dengan demikian rorak akan menurunkan aliran permukaan yang keluar dari persil lahan secara signifikan.

 

3.5  Perbaikan Usahatani Petani dengan Penerapan Pertanian Konservasi

Pada umumnya, petani di dataran tinggi Di Daerah dawu ini telah membuat bedengan atau guludan searah lereng pada bidang-bidang teras. Namun, sangat disayangkan bahwa teras bangku tersebut umumnya miring ke luar, sehingga erosi atau longsor masih mungkin terjadi. Selain itu, pada bagian ujung luar teras (talud) tidak ditanami tanaman penguat teras dan permukaan tanah pada tampingan teras juga terbuka atau bersih tidak ada tanaman. Hanya ada satu baris tanaman NVS yang ditanam di pinggir teras tanaman padi dan itupun hanya sekitar 2 meter.

Hanya ada satu baris sekitar 2 meter NVS yang ditanam dipinggir terasering

Gambar 9. Pengamatan NVS

Untuk meningkatkan efektivitas teras yang dibuat, perlu ditanami tanaman penguat teras pada bibir dan tampingan teras. Rumput Bede (Brachiaria decumbens) dan Rumput Bahia (Paspalum notatum) merupakan contoh dari tanaman penguat teras yang terbukti efektif mengurangi tingkat erosi pada lahan yang curam. Dengan dilakukannya penanaman tanaman penguat teras tersebut, juga akan didapat nilai tambah lainnya dari teras yang dibuat, yaitu sebagai sumber pakan ternak dan bahan organik tanah. Pengembangan  teras juga dapat dikombinasikan dengan pembangunan rorak untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah dan menampung tanah yang tererosi, serta pembangunan saluran teras yang berada tepat di atas guludan. Saluran teras dibuat agar air yang mengalir dari bidang olah dapat dialirkan secara aman ke SPA (saluran pembuangan air).

Gambar 10. Sketsa Rekomendasi Mekanis

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rejekiningrum dan Haryati (2002) menggunakan rorak dengan ukuran lebar 0,7 – 1 m, panjang 3 meter dan kedalaman 0,75 m di perkebunan rambutan seluas 1600 m2 di Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. Rorak dibuat sebanyak 6 baris dari atas ke bawah dengan jarak 5 – 10 m dalam barisan dan 10 meter antar barisan dengan posisi zig zag. Tanah bekas galian diangkat ke atas dan dibuat guludan dengan tinggi 20 cm dan lebar 30 cm pada ujung rorak bagian bawah serta pinggir kiri dan kanan. Penelitian ini menemukan bahwa rorak mampu menurunkan aliran permukaan sebesar 51% sehingga dapat menurunkan proses degradasi lahan. Pembuatan rorak secara toposekuen dapat mendistribusikan air secara lebih merata dalam satu hamparan.

Ketika di lokasi tersebut telah mengoptimalkan penggunaan terasering, rorak, saluran pembuangan air dan tanaman penguat teras maka dapat dipastikan akan terjadi penurunan nilai indeks erosi di daerah tersebut. Hasil penelitian Abdullah Abas Id (2003) di daerah curam wilayah DI Yogyakarta “dengan teknik konservasi yang dilakukan oleh petani sekitar diantaranya dengan teras bentuk tampingan miring, rorak, saluran pebuang air dan tanaman penguat teras serta perubahan pola tanam telah menurunkan nilai inderosi (Tabel 2).”

Gambar 11. Nilai Indeks Erosi

Selain mengoptimalkan perbaikan teras seperti yang dijelaskan di atas, petani direkomendasikan untuk melakukan penambahan bahan organik berupa pupuk kandang sebab terlihat beberapa tanaman disana masih ada yang kekurangan unsur hara selain itu hasil wawancara dengan petani penggunaan pupuk kandang di lahan mereka masih dalam takaran sedikit, sehingga ketika proses leaching yang mungkin terjadi di lahan akan menyebabkan tanaman tidak tumbuh baik sebab kekurangan unsur hara. Dan itu jelas akan menurunkan usahatani mereka.

Tanaman jagung yang kekurangan unsur hara

Gambar 12. Tanaman Jagung yang Kekurangan Unsur Hara

Menurut Abdullah Abas Id (2003) dijelaskan bahwa “dalam kurun waktu 3-6 tahun, penyempurnaan teras yang diikuti rehabilitasi lahan dengan pemberian pupuk kandang 5-10 t/ha dan pergiliran tanaman mampu memperbaiki kondisi tanah. Kadar C-Organik meningkat sangat nyata sehingga KTK tanah serta kandungan K dan Mg meningkat. Peningkatan bahan rganic tanah dapat memperbaiki daya pegang tanah terhadap pupuk sehingga tanah kritis berangsur-angsur mendekati ke kondisi normal dan produktif. Dengan memelihara ternak sapi, kambing atau domba petani dapat memberikan pupuk kandang dengan takaran agak tinggi sehingga memperbaiki kondisi tanah. Oleh karena itu, keberadaan ternak dilahan tersebut mempunyai kaitan yang erat dengan upaya pengendalian erosi tanah karena petani harus menanam hijauan pakan teras lahannya. Untuk itu menurut penelitian yang dilakukan Abdullah Abas Id (2003) menyatakan “pendapatan usaha tani setelah mengikuti anjuran teknik uasahatani konservasi menunjukkan peningkatan yang bervariasi dari 28% sampai 190% (tabel 4).”

Gambar 13. Pendapatan setelah Konservasi

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

Rencana Pengembangan Perencanaan untuk Dukungan Pemasaran Hasil Usahatani dan Kewirausahaan Petani

4.1 Pemasaran dan Panen Aktual Petani

Pada hasil wawancara kepada petani di dusun Mulyorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang dengan petani responden bernama Bapak Purnomo yang mengatakan bahwa pemsaran yang dilakukan untuk komoditas tomat yaitu langsung menjual ke pasar Karangploso dengan harga Rp.6.000/kg, dimana dalam satu peti terdapat 65 kg tomat. Jika diakumulasikan selama 1 tahun dengan biaya sewa lahan Rp.4.000.000 dan biaya total sebesar Rp.22.000.000, dimana terdapat 5 kali panen yang menghasilkan penerimaan sebesar Rp.70.980.000 akan menghasilkan keuntungan sekitar Rp.48.000.000. Jika terjadi gagal panen, petani akan mengalami kerugian yang sangat besar. Oleh karena itu petani membutuhkan pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatannya.

Menurut Bapak Purnomo tidak terdapat suatu masalah dalam pemasaran karena pasar sudah tersedia dan harga yang menentukan adalah Bapak Purnomo sendiri. Petani mangaku bahwa untuk melakukan kegiatan pasca panen tidak memiliki waktu yang cukup dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya, jadi ketika panen produk sayuran langsung dipasarkan ke pasar dalam kondisi segar. Hal tersebut merupakan suatu faktor yang menyebabkan pendapatan petani rendah selain petani mengalami gagal panen. Tindakan pasca panen perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai jual suatu produk pertanian, karena produk pertanian memiliki karakteristik mudah rusak dan tidak tahan lama. Oleh karena itu perlu adanya pendekatan agar petani mau dan mampu untuk melakukan kegiatan pasca panen guna meningkatkan pendapatan petani dan mensejahterakan kehidupan petani.

4.2  Ide Pemasaran Hasil Usahatani dan Kewirausahaan Petani

Baberapa faktor yang dapat mempengaruhi kewirausahaan pertanian adalah organisasi, psikologis/ kognitif, pendidikan, ekonomi, karakteristik pribadi, finansial, sosial dan peraturan yang berlaku. Hal ini karena, faktor-faktor tersebut diduga kuat mempengaruhi penciptaan lapangan kerja dan kesinambungan kinerja usaha pertanian. Menurut Ronning dan Ljunggren (2007), faktor psikologis/kognitif adalah yang paling penting. Selain itu, faktor pendidikan selalu berpotensi memainkan peran penting dalam kegiatan kewirausahaan pertanian. Lingkungan peraturan dan kebijakan yang kondusif merupakan prasyarat yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas kewirausahaan koperasi pertanian. Begitu juga dengan faktor sosial, ekonomi, dan budaya (Dodd dan Gotsis, 2007).

Dari permasalahan yang ada yaitu petani tidak memiliki waktu untuk  berwirausaha, pendidikan petani yang kurang, serta modal untuk melakukan usaha juga kurang, dibutuhkan sebuah ide yang bisa mengatasi masalah tersebut. Dari hasil wawancara dan analisis yang dilakukan, terdapat beberapa ide yang direkomendasikan untuk petani tomat pada Desa Mulyorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang seperti dengan pendekatan oleh Kelompok Tani yang ada di daerah tersebut, pinjaman modal oleh lembaga keuangan maupun pemerintah, dan penyediaan alat-alat untuk melakukan wirausaha berupa pembuatan saos tomat. Ide tersebut memerlukan bantuan dari berbagai pihak seperti pihak penyuluh, pihak penyedia modal, dan pihak pengusaha untuk membantu petani. Pendekatan yang dilakukan oleh pihak penyuluh diharapkan mampu membangkitkan semangat petani dan meningkatan kemampuan petani untuk melakukan wirausaha, peminjaman modal akan menunjang kebutuhan petani untuk melakukan usaha, serta pinjaman alat-alat juga akan membantu petani agar lebih mudah menjalankan usahanya. Pengusaha yang menyadiakan alat-alat akan mendapatkan imbal jasa berupa produk yang segar dari petani berupa saos tomat yang bisa dipasarkan dengan harga yang lebih tinggi lagi dengan memberi label. Selain ide wirausaha, juga diperlukan ide kegiatan pasca panen seperti saat panen buah tomat dilakukan penyortiran berdasarkan ukuran dan kualitas buah tomatnya, sehingga petani bisa menentukan harga berdasarkan ukuran dan kualitas buah tomat. Pembungkusan buah tomat menggunakan peti juga dirasa kurang efisien dan higienis, jika kelompok usahatani mampu bekerjasama dengan perusahaan besar, maka ide untuk pembungkusan buah tomat yaitu dengan membungkus pada foam yang ditutup dengan kertas warapping yang bisa menjaga kualitas buah tomat dalam jangka waktu yang lama.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Agus, F., A. Abdurachman, A. Rachman, S. H. Tala’ahu, A. Dariah, B.R. Prawiradiputra, B. Hafif dan S. Wiganda. 1999. Teknik Konservasi Tanah dan Air. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Jakarta

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. UGM Press. Yogyakarta.

FFTC. 1995. Soil Conservation Handbook. Chinese Edition. Food and Fertilizer Technology Center (FFTC) for The Asian and Pacific Region. Taipei. Taiwan

Suhardjo, M.,  A, Abas Idjudin, dan Maswar. 1997. Evaluasi beberapa macam strip rumput dalam usaha pengendalian erosi pada lahan kiering berteras di lereng perbukitan kritis D. I. Yogyakarta. Hlm 143-150 dalam Prosidling Seminar Rekayasa Trknologi Sistem DAS Kawasan Perbukitan Kritis Yogyakarta (YUADP Komponen-8). Badan Penelitian dan Pemgembangan Pertanian.

P3HTA, 1987. Penelitian Terapan Pertanian Lahan Kering dan Konservasi. UACP-FSR. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, 2009,  http://cybex.deptan.go.id Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu Jakarta Selatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

TUGAS

NAMA

NIM

Kajian masalah biofisik

Giri Lasmono

115040213111031

Kajian masalah sosial ekonomi dan pengetahuan ekologi local

Febri Dwi Mulyanto

115040201111001

Analisis pola tanam dan faktor-faktor erosi

Hadi Susilo

115040213111030

Pendugaan erosi dan Edp

Fretty Vivin Valentiah

115040201111321

Rekomendasi penggunaan lahan

Faranissa Anggi Vivedru

115040201111343

Rekomendasi konservasi tanah secara vegetative

Farah Nabila

115040207111036

Rekomendasi kimia

Hadi Suwitnyo

115040213111020

Rekomendasi konservasi secara mekanis

Farid Zamroni

115040201111288

Perbaikan usahatani petani  dengan penerapan pertanian konservasi + Pendahuluan

Fita Fitriatul Wahidah

115040201111336

Ide pemasaran hasil usahatani dan kewirausahaan petani + Editor

Fitri Wahyuni

115040213111050