browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

TUGAS KULIAH TERSTRUKTUR “Manajemen Hama dan Penyakit Tanaman Terpadu”

Posted by on January 17, 2014

TUGAS KULIAH TERSTRUKTUR

“Manajemen Hama dan Penyakit Tanaman Terpadu

 

Oleh: Kelompok 4

Faranissa Anggi Vivedru 115040201111343
Febri Dwi Mulyanto 115040207111001
Farah Nabila 115040207111036
Hadi Suwitnyo 115040213111020
Hadi Susilo 115040213111030
Giri Lasmono 115040213111031
Fitri Wahyuni 115040213111050

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI. 2

1.      PENDAHULUAN.. 3

1.1.….. Latar Belakang. 3

2.      PEMBAHASAN.. 4

2.1….. Karakteristik Tanaman Kapas. 4

2.2….. Hama pada Tanaman Kapas. 6

2.3….. PHT pada Tanaman Kapas. 8

3.      PENUTUP.. 8

a.…….. Kesimpulan. 8

b.…….. Saran. 8

DAFTAR PUSTAKA.. 8

 

 

  1. 1.   PENDAHULUAN

 

1.1.Latar Belakang

Kapas merupakan salah satu komoditas penting, karena menjadi bahan baku utama industri tekstil. Namun kemajuan industri kecil belum sepenuhnya mendapat dukungan dalam penyediaan bahan baku. Kebutuhan bahan baku serat terus meningkat mencapai sekitar 464.000 ton pertahun, sedangkan produksi nasional hanya mampu menyediakan sekitar 2600 t (+0,6 %), dari kebutuhan tersebut, sehingga setiap tahunnya diperlukan impor kapas sebesar 99,4 % dari kebutuhan. Rendahnya produksi kapas dalam negeri, selain karena menurunnya areal tanaman kapas sejak 1984/1985 seluas 46.380 ha, menjadi sekitar 16000 ha pada tahun terakhir, juga karena rendahnya produktivitas yang dicapai yaitu sekitar 500 kg/ha kapas berbiji.

Masalah utama perkapasan adalah tingginya intensitas serangan hama kapas terutama hama pengisap daun dan penggerek buah. Kehilangan hasil akibat hama pengisap daun dapat mencapai 53,9 % dan penggerek buah sampai 90 %. Sedangkan varietas kapas yang dikembangkan selama ini rentan terhadap serangan hama tersebut. Salah satu alternatif yang diperkirakan dapat mengatasi masalah tersebut adalah dengan menggunakan benih kapas transgenik, khususnya untuk melawan penggerek buah (H. armigera).

Untuk mengurangi ketergantungan import dan menghemat devisa negara, perlu ditingkatkan produksi kapas dalam negeri secara terus menerus melalui pembinaan petani kapas dengan mendekatkan paket teknologi PHT.

 


  1. 2.      PEMBAHASAN

2.1.Karakteristik Tanaman Kapas

Tanaman kapas secara botanis disebut dengan Gossypium sp yang memiliki sekitar 39spesies dan 4 spesies diantaranya yang dibudidayakan yaitu : Gossypium herbacium L, Gossypium arberium L, Gossypium hersutum L dan Gossypium barbadense; dengan klasifikasi sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta

Kelas : Angiospermae

Sub Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Malvales

Famili : Malvaceae

Genus : Gossypium

Spesies :Gossypium sp

Tanaman kapas mempunyai akar tunggang yang panjang dan dalam, bahkan sering lebih panjang dari pada tanamannya sendiri. Dari akar tunggang akan tumbuh akar-akar cabang, dan terus bercabang hingga membentuk akar-akar serabut. Pada waktu berkecambah calon akar tunggang tumbuh terlebih dahulu masuk kedalam tanah diikuti oleh keping biji.

Batang terdiri dari ruas dan buku, dari buku keluar cabang vegetatif dan generatif.Selama pertumbuhan yang aktif, cabang generatif terbentuk tiap tiga hari, jumlah cabang generatif bervariasi antara 15-20 tergantung pada varietas dan lingkungan.Cabang-cabang generatif akan menghasilkan kira-kira 50 kuncup bunga dan dalam keadaan normal hanya 35-40% yang menjadi buah.

Daun terbentuk pada buku-buku batang utama dan cabang generatif.Daun pertama terbentuk pada buku ke-2 pada umur 10-12 hari (buku ke-1 berisi daun lembaga).Daun berlekuk 3 atau 5, berbulu dan berkelenjar.Pada daun terdapat stomata yang berperan yang berperan pada proses-proses fotosintesis dan respirasi.Jumlah stomata pada permukaan bahwa kira-kira dua kali jumlah stomata pada permukaan atas.

Pembuahan terjadi 30 jam setelah penyerbukan. Pada waktu buah (boll) masak, kulit buah retak dan kapasnya/seratnya menjadi kering dan siap dipanen.Bagian serat terpanjang terdapat pada pucuk biji.Panjang serat bervariasi tergantung jenis dan varietasnya. Panjang serat yang dikembangkan di Indonesia sekitar 26-29 mm. Keterbatasan air pada periode pemanjangan serat, akan mengurangi panjang serat. 1 boll kapas ± 3,5 – 4 gram.

Bentuk biji bulat telur, berwarna cokelat kehitaman dan berat biji per 100 biji sekitar 6-17 gram tergantung varietas. Serat melekat erat pada biji berwarna putih yang disebut fuzz (kabu-kabu). Biji kapas tidak hanya dilapisi kabu-kabu, tetapi diluarnya terdapat lapisan serabut yang disebut serat kapas (kapas).Kulit biji menebal membentuk lapisan serat berderet pada kulit bagian dalam.

  1. Pertumbuhan tanaman

Berdasarkan umur, tanaman kapas dapat digolongkan kedalam 3 golongan yaitu kapas dalam (umur 170-180 hari), kapas tengahan/medium (umur 140 – 150 hari) dan kapas genjah ( < 230 hari). Kapas yang ditanam di Indonesia umumnya termasuk kapas tengahan. Pertumbuhan tanaman kapas setiap golongan masing-masing berbeda tergantung varietas, sebagai gambaran fase pertumbuhan kapas dalam adalah sebagai berikut :

 

Table 1. Fase pertumbuhan tanaman kapas

Kapas sangat rentan terhadap cuaca yang berawan, selama 160 hari pertumbuhannya, kapas memerlukan 800 – 850 jam penyinaran matahari atau 5 jam per hari. Keawanan lebih dari 50% atau penyinaran kurang dari 5 jam/hari atau kelembaban lebih dari 90% akan mengurangi pembentukan buah.

  1. Varietas Kapas

Sudah banyak varietas kapas yang dilepas oleh Balittas Malang.Beberapa diantaranya adalah Kanesia 8, LRA-5166 dan ISA 2054, Hybrida (HSC 138, HSC 188 dan HSD 57).Potensi masing-masing varietas sebagai berikut. Dalam pelaksanaan program akselerasi kapas digunakan benih kapas varietas Kanesia 8, ISA 205A dan HSC 138.

 

Table 2. Varietas kapas

2.2.Hama pada Tanaman Kapas

Hama utama kapas (Gossypium hirsutum L.) dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok hama pengisap dan penggerek. Pengisap daun Amrasca biguttula (Homoptera) dan penggerek buah Helicoverpa armigera (Lepidoptera) merupakan hama utama yang dapat menurunkan produk- tivitas tanaman kapas. A. biguttula, terutama nimfanya, biasa menyerang tanaman kapas pada fase vegetatif sampai generatif.Gejala khas serangan A. biguttula, yaitu daun menjadi keriput dan kering dengan warna kecokelatan seperti terbakar. Apabila terjadi serangan tinggi A. biguttula pada tanaman umur lebih dari 30 hari maka pertumbuhan akan terhambat dan bahkan mati sebelum dimulai fase generatif. Selain hama pengisap daun, tanaman kapas juga diserang oleh hama penggerek buah H. armigera yang merusak kuncup bunga dan buah kapas. NASREEN et al. (2004) mengatakan bahwa satu ekor larva H. armigera selama fase hidupnya (+ 25 hari) dapat menghabiskan 40-57% kuncup bunga dan buah kapas.Selain A. biguttula  dan H. armigera, terdapat beberapa hama lain yang termasuk hama
penting pada tanaman kapas seperti, Earias vittela dan  Pectinophora gossypiella

Gambar 1. Hama pada Kapas

 

  1. Hama penggerek pucuk

Gambar 2. Hama Penggerek Pucuk

 

2.   Ulat buah ( hama penggerek buah)

 

Gambar 3. Hama Penggerek Buah

 

3.   Penggerek buah warna jingga

 

Gambar 4. Hama Penggerek Buah Warna Jingga

 

4.   Wereng kapas

 

Gambar 5. Hama Wereng Kapas

2.3.PHT pada Tanaman Kapas

Beberapa cara yang termasuk dalam teknologi pengendalian secara terpadu hama kapas antara lain  :

  • Budidaya Tanpa Olah Tanah

Pengembangan kapas di lahan sawah tadah hujan, seperti di Lamongan, Jawa Timur dan Blora, Jawa Tengah menerapkan budi daya tanpa olah tanah.Praktek seperti ini dapat mendorong perkembangan organisme tanah, seperti mikroarthropoda yang merupakan mangsa alternatif predator.Pengolahan tanah secara intensif menurunkan populasi mikroarthropoda tanah.

 

  • Perlakuan Benih dan Penggunaan Varietas Tahan

Agar pengendalian hama berbasis ekologi optimal perlu didukung oleh pertumbuhan tanaman yang sehat. Selain dengan menerapkan teknologi budi daya yang tepat, untuk mendapatkan tanaman yang sehat maka benih harus diperlakukan dengan insektisida untuk mengantisipasi serangan wereng kapas.

Perlakuan terhadap benih sangat penting karena sampai saat ini belum tersedia Jurnal Litbang Pertanian, 30(3), 2011 83 varietas kapas yang toleran terhadap wereng kapas.Varietas kapas yang ada, yaitu Kanesia 1 sampai 15 bersifat moderat tahan terhadap wereng kapas.Perlakuan benih menyebabkan tanaman kapas mengandung insektisida hingga umur 45 hari sehingga terlindung dari serangan wereng kapas. Keuntungan pengendalian hama dengan perlakuan benih antara lain adalah kompatibel dengan cara pengendalian yang lain, mudah dilaksanakan, dan relative aman terhadap lingkungan.

Perakitan varietas tahan wereng kapas dilakukan sejak tahun 1987 dengan memilih keragaan tanaman yang berbulu, produksi tinggi dan mutu serat yang sesuai untuk industri tekstil.Sampai dengan tahun 2006 telah dilepas seri varietas Kanesia hingga 13 varietas yang pada umumnya mempunyai sifat ketahanan moderat terhadap wereng kapas.Morfologi tanaman yang berbulu, terutama pada daun (disebut trichom), menyebabkan wereng kapas tidak dapat dengan mudah menghisap cairan daun, sehingga morfologi seperti ini tidak disukai oleh wereng kapas (non preference).Dengan morfologi tanaman yang berbulu tersebut, maka tanaman terhindar dari adanya populasi tinggi wereng yang menyebabkan kerusakan.Morfologi tanaman yang berbulu merupakan media yang disukai H. armigera untuk meletakkan telur.Walaupun demikian, populasi larva selalu rendah pada tanaman dengan morfologi berbulu.Sesuai dengan teori density dependent factor, populasi telur yang tinggi tersebut diikuti dengan adanya populasi musuh alami yang tinggi. Pada kapas varietas LRA 5166 yang mempunyai ketahanan tinggi terhadap wereng kapas (476 trichom/cm2), populasi telur H. armigera mencapai 9 butir/m2 dengan persentase parasitisasi 45%, sedangkan pada varietas Tamcot yang rentan terhadap wereng kapas (73 trichom/cm2), pupulasi telur H. armigera 6 butir/m2 dengan persentase parasitisasi 32%. Selain populasi musuh alami yang tinggi, keragaman spesies parasitoid yang menyerang telur H. armigera tersebut juga lebih tinggi dibandingkan pada pertanaman dengan populasi telur yang rendah.Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan varietas tahan wereng menyebabkan populasi telur penggerek buah meningkat, tetapi peningkatan ini diikuti oleh mortalitas yang tinggi karena parasitisasi oleh parasitoid telur dengan keragaman spesies parasitoid yang tinggi dan juga mortalitas oleh predatornya.Dengan demikian, penggunaan varietas tahan dapat diterapkan untuk konservasi musuh alami, sehingga perannya sebagai faktor mortalitas biotik dapat ditingkatkan.Varietas kapas nasional seri Kanesia (Kanesia 8 – 13) yang telah dilepas, merupakan varietas kapas yang pada umumnya mempunyai ketahanan moderat terhadap wereng kapas.Oleh karena itu, varietas seri Kanesia merupakan komponen PHT kapas yang utama.

  • Penggunaan Musuh Alami

Tabel 3. Musuh alami H. armigera yang berasosiasi dengan tanaman kapas di Indonesia

 

Inventarisasi musuh alami serangga hama kapas telah dilakukan sebagai langkah awal dalam pengembangan PHT. Karena H. armigera merupakan serangga hama yang dianggap penting, maka fokus dalam pembahasan peran musuh alami di sini adalah pada musuh alami H. armigera. Hasil survai inventarisasi di daerah pengembangan kapas telah didapatkan beberapa spesies musuh alami H. armigera yang berasosiasi dengan tanaman kapas serta efektivitasnya dalam menyebabkan mortalitas pada H. armigera (Tabel 3). Musuh alami tersebut tidak dapat berkembang dan berfungsi dengan baik jika dilakukan penyemprotan insektisida yang tujuannya adalah untuk mengendalikan wereng kapas pada awal pertumbuhan, karena musuh alami tersebut peka terhadap insektisida kimia. Oleh karena itu, pengembangan PHT kapas diarahkan pada perakitan varietas-varietas yang tahan terhadap wereng kapas, sehingga pertanaman terhindar dari penyemprotan insektisida dan memberi kesempatan pada musuh alami untuk berkembang dan berperan sebagai factor mortalitas biotik yang efektif dalam mengendalikan penggerek buah kapas. Peran musuh alami sebagai faktor mortalitas biotik yang efektif dalam pengendalian serangga hama, dapat dioptimalkan dengan melakukan konservasi terhadap musuh alami. Selain menghindari penyemprotan insektisida pada awal pertumbuhan tanaman dengan menanam varietas tahan wereng kapas, komponen PHT lain seperti sistem tanam tumpangsari dengan palawija, penggunaan mulsa jerami dan penggunaan insektisida botani juga dapat menunjang konservasi musuh alami. Oleh karena itu, teknologi konservasi musuh alami dikembangkan melalui penerapan komponen PHT kapas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 3. Spesies Musuh Alami H. ermigera

 

Gambar 6. Musuh Alami Ulat Penggerek Pucuk

Gambar 7. Musuh Alami Ulat Buah

Gambar 8. Musuh Alami Lalat Buah Warna Jingga

Gambar 9. Musuh Alami Wereng Kapas

  • Penanaman secara tumpang sari dengan palawija dan kacang-kacangan
  1. 1.      tumpang Sari Kapas dengan Kedelai

Pengendalian hama berbasis ekologi tidak hanya terbatas sebagai teknologi, tetapi berkembang menjadi suatu konsep mengenai proses penyelesaian masalah ekologi. Pemikiran pengendalian hama berbasis ekologi didorong oleh pengembangan dan penerapan pengendalian hama berdasarkan pengertian ekologi lokal (in situ) hama dan pemberdayaan petani. Pengendalian hama berbasis ekologi disesuaikan dengan masalah yang ada di setiap lokasi dan lebih menekankan pada pengelolaan proses dan mekanisme ekologi local daripada intervensi teknologi. Pengendalian hama berbasis ekologi pada tanaman kapas meliputi penggunaan benih tanpa kabu-kabu, penanaman varietas toleran hama wereng kapas, penyemprotan insektisida berdasarkan ambang populasi, penggunaan sumber daya lokal, dan melibatkan petani secara langsung dalam sekolah lapang pengendalian hama terpadu (SL-PHT). Pada periode ini terjadi perubahan yang mendasar, yaitu pengembangan kapas secara tumpang sari dengan palawija. Pada tahun 1983, petani telah melakukan penanaman kapas secara tumpang sari dengan palawija, antara lain dengan kedelai, kacang hijau, kacang tanah, dan jagung. Namun, pada saat itu belum diketahui pengaruh tumpang sari terhadap populasi hama. Berdasarkan hasil penelitian, penanaman kapas secara tumpang sari dengan palawija memberikan pengaruh positif terhadap pengendalian hama. Pengembangan kapas secara tumpang sari harus disesuaikan dengan pola tanam setempat.

Di Lamongan, kapas umumnya ditumpangsarikan dengan kedelai, sedangkan di Sulawesi Selatan dan Jawa Tengah dengan tanaman jagung. Pengembangan kapas secara tumpang sari diarahkan pada lahan tadah hujan yang sebelumnya ditanami padi. Pengendalian hama berbasis ekologi pada kapas tumpang sari kedelai didasarkan pada ekologi lokal hama dan pemberdayaan petani dalam mengelola agroekosistem. Tujuannya adalah agar dalam agroekosistem terjadi keselarasan antara tanah, hara, sinar matahari, kelembapan udara, dan organisme yang ada sehingga menghasilkan pertanaman yang sehat dan hasil yang berkelanjutan. Penanaman kapas secara tumpang sari dengan kedelai akan menambah keragaman tanaman. Kedelai sebagai tanaman tumpang sari dapat menarik musuh alami (predator dan parasitoid) hama kapas karena adanya nektar pada bunga. Kedelai juga dapat menyuburkan tanah karena adanya bintil akar.Penanaman kapas secara tumpang sari dengan kedelai juga dapat mengurangi risiko gagal panen sehingga meningkatkan pendapatan petani.

Gambar 10. Tumpang sari kapas dengan kacang kedelai

 

  1. 2.      Tumpang Sari Kapas dengan Palawija

Sistem tumpangsari merupakan salah satu praktek budidaya yang mengakibatkan pada suatu agroekosistem terdapat keragaman tanaman yang tinggi.Praktek budidaya ini telah umum dilakukan pada sistem pertanian diIndonesia.Tanaman kapas selalu ditanam secara tumpangsari dengan palawija (jagung, kacang tanah atau kacang hijau). Dari segi pengendalian hama, sistem tanam tumpangsari sangat menguntungkan, karena keragaman dan populasi musuh alami (parasitoid dan predator) relatif tinggi.

Diversifikasi habitat dengan tata tanam tumpangsari dapat menyediakan nektar dan polen bagi parasitoid dan predator serta dapat berfungsi sebagai tempat berlindung sementara (shelter), sehingga mengundang serangga serangga yang pada umumnya musuh alami, untuk datang ke habitat tersebut. Peningkatan populasi musuh alami ini dengan sendirinya juga meningkatkan efektivitasnya dalam mengendalikan serangga hama. Sistem tanam tumpangsari kapas dengan palawija (kacang hijau atau jagung) yang banyak diterapkan oleh petani, dilaporkan mendukung berkembangnya populasi musuh alami H. armigera.Pertanaman kapas yang ditumpangsarikan dengan kedelai mempunyai keragaman spesies parasitoid telur penggerek buah kapas, Helicoverpa armigera yang lebih tinggi 32% dibandingkan dengan pada pertanaman kapas monokultur.Keragaman spesies parasitoid telur yang lebih tinggi berakibat pada peningkatan kontribusi mortalitas H. armigera oleh faktor mortalitas biotiknya sebesar 24%.

Selain itu, sistem tanam tumpangsari kapas dengan kacang hijau menyebabkan populasi Paederus sp, (Coleoptera: Staphylinidae) yang merupakan predator umum meningkat 36% dan dapat menekan perkembangan populasi wereng maupun penggerek buah kapas masing-masing sebesar 27% dan 16%. Sistem tanam tumpangsari telah dibuktikan merupakan salah satu teknik untuk meningkatkan populasi serangga pada suatu pertanaman.Peningkatan populasi serangga ini merupakan konservasi musuh alami atau peningkatan suatu kompleksitas pada agroekosistem yang menyebabkan interaksi tinggi di antara spesies-spesies yang ada.Interaksi yang dominan yang terjadi pada suatu komunitas yang kompleks adalah predasi, yaitu pemangsaan herbivora oleh predatornya.

Dengan demikian, sistem tanam tumpangsari kapas dengan palawija yang merupakan salah satu komponen PHT dapat dikatakan sebagai suatu tindakan konservasi serangga.

 

  • Penanaman Jagung sebagai Perangkap H. armigera

Pada penggunaan tanaman jagung sebagai perangkap, tanaman jagung tersebut ditanam disela baris kapas.Baris jagung ditanam dalam tiap 4 baris kapas.Jarak tanaman jagung dalam barisan 1 – 2 meter.

Tata letak tanaman jagung dan kapas di lapang

Serangga betina H.armigera senang meletakkan telur pada rambut segar tongkol jagung muda.Saat menetas, ulat masuk kedalam tongkol tongkol jagung muda, disamping itu ada kemudahan musuh alami untuk memangsa telur dan ulat- ulat kecil H.armigera.

KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK
KKKKJKKKK KKKKJKKKK KKKKJKKKK

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11. Denah Penanaman Tanaman Perangkap

Keterangan  :

Varietas kapas :

  • Kanesia-3 ditanam 2 biji/lubang
  • Kanesia-7 ditanam 2 biji/lubang
  • Bt.Cotton (Bollgard) ditanam 1 biji/lubang

Jarak Tanam :

  • Kanesia-3 100 x 25 cm
  • Kanesia-7 100 x 25 cm
  • Bt. Cotton 125 x 25 cm

Jagung  : 4 baris kapas tanam jagung 400 x 25 cm

Gambar 12. Penanaman Jagung

  • Penggunaan Mulsa

Pemberian mulsa pada suatu lahan pertanian merupakan suatu tindakan penambahan biomassa yang berakibat positif terhadap lahan tersebut.Pemberian biomassa tanaman dapat meningkatkan ketersediaan air, karena berpengaruh pada perbaikan sifat fisik tanah seperti bobot isi, porositas, dan permeabilitas. Pemberian mulsa pada tanah juga dilaporkan dapat meningkatkan efisiensi pengendalian hama.

Di lahan sawah tadah hujan, umumnya jerami padi belum dimanfaatkan secara optimal.Jerami padi biasanya ditumpuk di tepi lahan, bahkan tidak sedikit yang dibakar.Pembakaran jerami padi dapat berpengaruh buruk terhadap keanekaragaman hayati dan menyebabkan biomassa jerami sebagai bahan organic hilang.Pemberian mulsa jerami padi dapat memperbaiki agroekosistem karena menciptakan iklim mikro yang kondusif untuk perkembangan mikroarthropoda tanah dan pertumbuhan tanaman. Pemberian mulsa jerami padi akan menambah bahan organik ke dalam tanah dan sebagai pemicu utama berfungsinya suatu komponen penyusun habitat. Tanah yang kaya bahan organik memiliki populasi predator dan serangga netral yang lebih tinggi dibanding tanah yang miskin bahan organik.Pada tanah yang kaya bahan organik, populasi mangsa alternatif arthropoda predator (detrivor) lebih tinggi.

Aplikasi mulsa jerami padi pada pertanaman kapas selain dapat meningkatkan bahan organic dalam tanah yang dapat memperbaiki struktur fisik dan kimia tanah yang menyebabkan tanah menjadi lebih subur, juga meningkatkan aktivasi predasi terhadap penggerek buah kapas hingga 15% karena populasi kompleks predator (terdiri atas laba-laba, kepik mirid, kumbang kubah dan semut) pada kanopi meningkat 19%. Oleh karena itu, praktek budidaya kapas pada lahan sesudah padi, dimana pemberian mulsa memungkinkan, seperti yang dilakukan oleh petani di Lamongan, dapat melestarikan predator dan mengandalkan kekuatan-nya dalam pengendalian hama tanpa menggunakan insektisida sama sekali.

Gambar 13. Penggunaan Mulsa

 

  1. Mulsa jerami yang dibakar
  2. Mulsa jerami sebagai mulsa pada tanaman kapas
  3. penggunaan mulsa jerani pada pertanaman kapas tumpang sari kedelai
  4. tanaman kapas pada awal masa pertumbuhan
  5. tanaman kapas setelah panen

 

 

 

 

 

 

 

  • Penerapan Ambang Kendali

Ambang kendali merupakan suatu konsep dalam sistem pengendalian hama, yaitu tingkat populasi hama yang harus dikendalikan agar tidak menyebabkan kerusakan yang lebih parah dan merugikan secara ekonomi. Ambang kendali merupakan pengembangan dari konsep ambang ekonomi (economic threshold) yang dalam penentuan nilainya memperhitungkan faktorfaktor ekonomi, seperti pasar, nilai input dan sebagainya. Penerapan ambang ekonomi pada budidaya kapas dianggap terlalu kompleks, sehingga perlu diterapkan konsep ambang kendali yang lebih sederhana.Dalam penentuan ambang kendali untuk H. armigera pada kapas, pemanduan dilakukan dengan menghitung populasi larva kecil.Ambang kendali H. armigera yang ditentukan oleh Topper dan Gothama (1986) yang kemudian dikembangkan oleh Soenarjo dan Subiyakto (1988), adalah 4 tanaman terinfestasi larva per 25 tanaman contoh.Nilai dari jumlah tanaman terinfestasi merupakan penyederhanaan dari jumlah larva yang teramati.Ambang kendali untuk wereng kapas Amrasca biguttulla (Ishida) adalah 50% tanaman terinfestasi dan menunjukkan gejala serangan.

Penentuan ambang kendali ini tidak mempertimbangkan keberadaan musuh alami. Seperti telah dibahas di atas, pada sistem tumpangsari kapas dengan palawija terdapat keragaman musuh alami yang tinggi, sehingga peran musuh alami, terutama dari kelompok predator, dalam menekan populasi serangga hama perlu diperhitungkan. Pengembangan nilai ambang kendali pada kapas tumpangsari dengan palawija dengan mempertimbangkan keberadaan musuh alami didapatkan nilai baru, yaitu mengurangi jumlah tanaman yang terinfestasi jika ditemukan 8 ekor predator. Penerapan konsep ambang kendali dengan mempertimbangkan keberadaan musuh alami ini, menyebabkan pertanaman kapas tumpangsari dengan kedelai tidak memerlukan pengendalian hama dengan penyemprotan insektisida.

Dengan demikian, keberadaan predator yang dapat ditingkatkan atau dikonservasi populasinya melalui sistem tanam tumpangsari efektif dalam pengendalian populasi hama.

  • Aplikasi Insektisida Botani

Krisis moneter pada tahun 1997/1998 menyebabkan harga pestisida kimia naik 2-3 kali lipat. Hal ini mendorong para peneliti untuk mencari pestisida alternatif yang relatif murah tetapi efektif mengendalikan hama dan aman bagi lingkungan. Penggunaan pestisida nabati dapat mendukung konservasi musuh alami. Pada tanaman kapas, tindakan konservasi musuh alami untuk mengoptimalkan peran musuh alami mempunyai peluang keberhasilan yang tinggi. Keragaman jenis arthropoda pada pertanaman kapas tergolong tinggi, sekitar 301 jenis, terdiri atas 135 jenis hama, 90 jenis predator, 75 jenis parasitoid, dan satu jenis hiperparasitoid. Komposisi hama sebenarnya lebih rendah, yaitu 45%, sedangkan predator dan parasitoid lebih besar, mencapai 65%.

Insektisida botani yang telah dikembangkan sebagai komponen PHT kapas adalah ekstrak biji mimba (Azadiracta indica Jess.)(EBM).Insektisida botani EBM dapat digunakan sebagai substitusi insektisida kimia. Pada budidaya kapas di tingkat petani, biaya input untuk insektisida mencapai 65% dari total biaya produksi. Di samping itu, dampak negatif dari penggunaan insektisida kimia secara intensif dalam jangka panjang telah banyak dilaporkan, yaitu timbulnya resistensi, resurgensi, munculnya serangga sekunder, dan polusi lingkungan.Dampak negatif ini merupakan kerugian ekologis yang sangat besar dan tidak ternilai harganya. Penyemprotan insektisida botani EBM yang dilakukan pada pertanaman kapas tidak berpengaruh terhadap populasi predator-predator penting serangga hama kapas, sehingga insektisida ini dapat digunakan sebagai substitusi insektisida kimia. Budidaya kapas di tingkat petani yang pada umumnya menerapkan sistem tanam tumpangsari dan penggunaan varietas kapas yang mempunyai ketahanan moderat terhadap wereng kapas, sebenarnya tidak memerlukan tindakan pengendalian dengan insektisida jika diterapkan konsep ambang kendali dengan benar. Kondisi ini telah dibuktikan pada pertanaman kapas petani di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat seluas sekitar 350 ha dan Jawa Timur seluas sekitar 50 ha yang tidak memerlukan penyemprotan insektisida dan memberikan produktivitas kapas berbiji yang tidak berbeda atau bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan produktivitas dari lahan yang menggunakan penyemprotan insektisida (911 – 953 kg kapas berbiji/ha pada lahan dengan penyemprotan EBM versus 312 kg kapas berbiji/ha pada lahan dengan penyemprotan insektisida kimia). Walaupun demikian, sangat sulit mengubah perilaku petani yang sudah terbiasa melakukan penyemprotan pada pertanaman kapasnya (spray minded) untuk tidak melakukan penyemprotan sama sekali. Oleh karena itu insektisida botani EBM yang digunakan sebagai substitusi insektisida kimia, dapat digunakan sebagai ’target antara’ petani yang spray minded menjadi petani yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan, karena aplikasi EBM sama dengan aplikasi insektisida.

 

 

 


  1. 3.      PENUTUP

 

  1. a.      Kesimpulan

Penerapan PHT kapas dengan menggunakan budidaya tanpa olah tanah,  varietas kapas yang mempunyai ketahanan tinggi atau moderat, menerapkan sistem tanam tumpangsari dengan palawija, mengunakanjagung sebagai perangkap H. armigera, penggunaan mulsa,  menerapkan konsep ambang kendali dengan mempertimbangkan keberadaan musuh alami, serta menggunakan insektisida botani jika diperlukan, merupakan tindakan konservasi musuh alami serangga hama kapas. Konservasi musuh alami ini akan menimbulkan pengendalian secara alami yang tidak memerlukan tambahan tindakan pengendalian dengan menggunakan insektisida.

 

  1. b.      Saran

Dalam mengambil suatu tindakan pengendalian perlu dilakukan adanya penelitian dan analisis terlebih dahulu agar tindakan yang dilakukan efisien dan tepat sasaran. Semoga tindakan pengendalian secara terintegrasi yang kami rekomendasikan dapat menghasilkan perbaikan dan bermanfaat bagi semua kalangan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Basuki, T., Bambang S. dan S.A. Wahyuni. 2002. Sistem usahatani kapas di Indonesia. Dalam Kapas. Monograf Balittas No. 7.Balai Penelitian Tembakau dan Tanaman Serat.

 

Bindra, O.S. and Nurindah. 1988. Pests of cotton in Indonesia. In: Workshop on  Cotton IPM,Malang, 10 – 11 Agustus 1988. Crop Protection.

 

Ditjenbun (Direktorat Jenderal Perkebunan). 1998. Peluang dan program  pengembangan kapas di Indonesia. hlm. 56−73.Prosiding Diskusi KapasNasional, Jakarta, 26 November 1996. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Jakarta.

 

Ditjenbun. 1999. Pengarahan Direktur Jenderal Perkebunan pada Pertemuan Teknis  Intensifikasi Kapas Rakyat Tahun 1999, Surabaya,

 

Ditjenbun (Direktorat Jenderal Perkebunan). 2008. Pembahasan harga kapas berbiji dan rayonisasi pengelolaan kapas tahun 2008.Ditjenbun, Jakarta.

 

Fakhrudin, B., Badariprasad, K. B. Krishnareddy, S. H.Prakash, Vijaykumar, B. V. Patil, dan M. S. Kuruvinashetti. 2003. Insecticide resistance in cotton bollworm, Helicoverpa armigera (Hubner) in South Indian cotton ecosystems

 

Hasnam, Nurheru, Fitriningdyah, T. K., E. Sulistyowati, P. D. Riajaya., Nurindah dan M. Sahid. 2005. Pengelolaan Tanaman Terpadu pada kapas di Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Laporan Hasil Kegiatan TA 2004. Balittas, Malang.

 

Heddy, S. dan Kurniati, M. 1996. Prinsip dasar ekologi: suatu batasan tentang kaidah ekologi dan penerapannya. PT Raya Grafindo Persada, Jakarta

Lusyana, N. R. 2005. Keragaman parasitoid telur Helicoverpa armigera pada tanaman kapas (Gossypium hirsutum L.) monokultur dan tumpangsari di Asembagus, Kabupaten Situbondo. Skripsi, Universitas Negeri Malang.

 

Mastur dan N. Sunarlim. 1993. Pengaruh drainase/irigasi dan mulsa jerami padi terhadap sifat fisik tanah dan keragaan kedelai.

 

Nurindah dan O.S. Bindra. 1988. Studies on biological control of cotton pests. Industrial Crops Research Journal 1: 59 –63.

 

Nurindah dan Subiyakto. 1992. Pengaruh tumpang sari kapas dengan palawija  terhadap populasi predator serangga hama kapas. hlm. 34-40. Prosiding Diskusi Panel Budi Daya Kapas + Kedelai, 10 Desember 1992. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang,

 

Nurindah, S. Sudarmo dan Soebandrijo. 1993. Pengaruh tumpangsari kapas dengan  palawija terhadap populasi predator serangga hama kapas. Prosiding Diskusi Panel Budidaya Kapas + Kedelai, Malang

 

D. A., Nurindah, dan D. H. Parmono. 1994. Perkembangan populasi predator pada beberapa varietas kapas. Buletin Tembakau dan Serat 3(6): 35 – 39.

 

Soebandrijo. 2000. Penerapan teknologi pengendalian hama terpadu pada tanaman kapas. Buletin Kehutanan dan Perkebunan

 

Subiyakto.2006. Peranan Mulsa Jerami Padi terhadap Keanekaragaman Arthropoda Predator dan Manfaatnya dalam Pengendalian Serangga Hama Kapas pada Kapas Tumpang Sari Kedelai.

 

Subiyakto, S. Rasminah, G. Mudjiono, dan Syekhfani. 2006a. Peranan mulsa jerami padi dalam pengendalian serangga hama kapas pada tumpang sari kapas dan kedelai

 

Subiyakto, S. Rasminah, G. Mudjiono, dan Syekhfani. 2006b: Tekanan pemangsaan kompleks predator terhadap ulat buah pada tumpang sari kapas dan kedelai tanpa dan dengan mulsa jerami padi

 

Subiyakto dan I G.A.A. Indrayani. 2008. Pengendalian serangga hama kapas menggunakanmulsa jerami padi

 

Sunarto, D. A. dan Subiyakto. 2002. Insektisida nabati serbuk biji mimba (SBM) untuk pengendalian hama Helicoverpa armigeraHubner pada tanaman kapas. Monograf Balittas No. 7: Kapas, Buku 2. Hlm 187 –193.

 

Sunarto, D. A., Nurindah dan Sujak. 2004. Pengaruh ekstrak biji mimba terhadap konservasi musuh alami dan populasi Helicoverpa armigera Hubner pada tanaman kapas. Jurnal Penelitian Tanaman Industri.