browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Pengelolaaan Umum Manajemen Agroekosistem

Posted by on January 17, 2014

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN   AGROEKOSISTEM

 

Pedoman umum pengelolaam agroekosistem terutama ditujukan pada agroekosistem padi, diharapkan PEDUM ini dapat dikembangkan sendiri oleh kelompok tani untuk tanaman lain.  Pada dasarnya PEDUM ini merupakan modifikasi Buku Rekomendasi Perlindungan Tanaman dari Direktorat Perlindungan Tanaman yang merupakan buku pegangan bagi para POPT.

 

Tabel Lampiran 1. Teknologi Menuju Sistem Pertanian Berlanjut

 

NO

FASE BUDIDAYA

POTRET AGROEKOSISTEM

PENGELOLAAN AGROEKOSISTEM

I Pra Tanam Lahan ditumbuhi sisa tanaman, singgang, tungguI, jerami dan guIma. Memelihara biodiversitas
a.DASAR PENGELOLAAN OPT 

Larva hama penggerek dapat bertahan pada tunggul. Singgang merupakan tempat bertahan virus tungro. Sisa tanaman dan jerami biasanya merupakan tempat bertahan bakteri dan cendawan (bIas, hawar pelepah, dan bercak coklat). Gulma tertentu merupakan tempat bertahan virus penyebab penyakit maupun serangga penularnya, bakteri penyebab hawar, cendawan penyebab bIas, hawar pelepah dan bercak coklat. Di daerah endemis serangan penggerek batang padi putih, penerbangan ngengat dari tunggul pada awal musim hujan, merupakan sumber serangan awal pada persemaian yang ada di persawahan.

 

  1. MENEKAN POPULASI AWAL OPT

(i)Di daerah endemis serangan tungro, penggerek batang padi putih dan atau wereng batang coklat pembibitan dilakukan setelah pengolahan tanah selesai.

(ii)  Di  daerah  endemis siput murbei dibuat saluran di tengah sawah atau di tepi pematang,   untuk memudah-kan pengairan/ pembuangan air dalam pengumpulan siput murbei. Tancapkan ajir bambu sebagai perangkap telur siput murbei,  dan pemanfaatan siput murbei untuk pakan ternak atau keperluan lain. Apabila memungkinkan dilakukan pengembangan itik di sawah.

(iii)Di daerah endemis serangan bIas, dilakukan fermentasi jerami

(iv)               Dilakukan pembersihan saluran air dan semak yang diduga menjadi tempat persembunyian tikus atau sebagai inang hama lain. Apabila ditemukan lubang aktif  dan tanda keberadaan tikus di sawah, lakukan pengendalian responsif dengan gropyokan, sanitasi lingkungan dan pengumpan-an beracun dengan rodentisida antikoagulan dan pengemposan/pengasapan.

  1. DASAR PENGELOLAAN MUSUH ALAMI

 

Habitat (sisa tanaman, singgang, tungguI, jerami dan guIma) pada fase pratanam sebagai tempat hidup musuh alami  (parasitoid dan predator) dan mangsa/inangnya.  Pada fase ini merupakan kesempatan yang optimal bagi musuh alami untuk berkembang hingga mencapai batas ambang populasi. Pada fase ini merupakan fase kritis bagi perkembangan musuh alami agar dapat berperan aktif dalam mengendalikan OPT pada fase budidaya berikutnya.

b. PENGELOLAAN HABITAT UNTUK MENINGKATKAN POPULASI AWAL MAPembakaran jerami dan penggunaan herbisida seharus-nya dihindari karena akan merusak habitat musuh alami. Dipertimbangkan menyediakan habitat bagi predator (laba-laba) maupun sumber nectar bagi parasitoid berupa gulma yang bukan inang alternatif serangga hama/ penyakit.

Gulma di pematang dapat bermanfaat sebagai refugia bagi musuh alami.

Binatang yang hidup di gulma, jerami dan di tunggul padi dapat sebagai mangsa alternative bagi  predator generalis

c.Gulma air dikumpulkan kemudian dibenamkan. Apabila terdapat azolla dapat dikembangkan untuk ditebarkan ke permukaan lahan setelah fase pengolahan tanah
II Persemaian  Persemaian tersusun oleh tanaman yang masih sangat muda dan rentan terhadap tekanan lingkungan, termasuk OPT. Di daerah endemis, OPT yang sering ditemukan pada fase ini adalah penggerek batang padi, wereng batang coklat, tikus, tungro dan bIas.Populasi kelompok telur dan ngengat penggerek batang padi biasanya dapat ditemukan pada persemaian musim hujan. Begitu pula populasi wereng batang coklat dewasa bersayap panjang (makroptera).

Serangan tikus dapat terjadi sejak benih disebar.

 

Benih yang akan disebar dipilih berdasarkan kriteria : sehat dan bermutu, tahan OPT sesuai dengan jenis OPT yang sering timbul di daerah tersebut.Inokulasi mikoriza di persemaian

Sterilisasi biologis media persemaian dengan mikroba antagonis

Penggunaan pupuk organic (kompos) dalam campuran media persemaian

Pengaturan air di persemaian setinggi 2 – 5 cm, agar bibit di persemaian tumbuh pendek dan kuat. Bibit yang sehat apabila ditanam akan tumbuh lebih cepat dan lebih tahan terhadap gangguan OPT.

Hindari penggunaan pestisida yang tidak diperlukan, untuk menjaga tetap berkembangnya musuh alami di persawahan tersebut.

Lakukan pengumpulan kelompok telur penggerek, setiap 4 hari, kemudian letakkan di dalam bumbung untuk pembiakan musuh alami

Pemupukan nitrogen yang berlebihan akan mengakibatkan bibit di persemaian tumbuh tinggi tetapi lemah, sehingga rentan terhadap OPT. Gunakan pupuk sesuai dengan rekomendasi setempat.

Pembuatan persemaian secara berkelompok dari beberapa petani atau kelompok tani, sehingga mempermudah pengelolaan persemaian atau OPT yang ada.

Hindari pembelian bibit dari daerah yang sedang terjadi serangan OPT atau merupakan sumber OPT seperti penggerek batang, wereng batang coklat, tungro, bIas, wereng hijau, dll.

Di daerah endemis serangan siput murbei, persemaian diberi pagar plastik dan musnahkan siput murbei atau telur siput yang ditemukan. Pada pintu-pintu masuk air dipasang saringan.

Apabila ditemukan tanda-tanda keberadaan tikus atau di daerah endemis serangan tikus, dilakukan pemagaran persemaian menggunakan plastik yang dikombinasikan dengan bubu perangkap tikus. Tindakan responsif dapat dilakukan dengan gropyokan dan pengumpanan beracun serta pengemposan/ pengasapan.

Apabila ditemukan gejala tungro, sawah jangan dikeringkan untuk menghindari berpindahnya wereng hijau ke tempat lain.

Transplanting umur bibit muda (15 – 20 hari)

III Tanaman Muda Penyebaran pertanaman semakin Iuas, sehingga di seIuruh persawahan tersedia cukup sumber makanan bagi OPT. Pertumbuhan tanaman pada fase ini sangat pesat. Jumlah anakan tanaman bertambah sejalan dengan pertumbuhan tanaman.Pada fase ini mulai terjadi peningkatan populasi OPT dan atau infestasi/infeksi oleh OPT tertentu, misalnya wereng batang coklat, wereng punggung putih, penggerek batang, hawar pelepah, busuk batang, bIas, tungro, bercak coklat, bercak coklat bergaris, dan hawar daun bakteri. Apabila kondisinya sesuai, OPT ini mampu berkembang. Namun demikian, sejalan dengan perkembangan hama, terjadi pula perkembangan musuh alami.

Bagi hama tikus, nutrisi yang tersedia pada tanaman fase ini tidak cocok bagi perkembangan sehingga belum terjadi perkembangbiakan maupun peningkatan populasi.

Pada saat tanaman berumur s/d 30 hari setelah tanam (hst) merupakan fase peka terhadap infeksi virus tungro. Gejala tungro terjadi pada fase ini, yaitu ± 2 – 3 minggu setelah terinfeksi oleh virus tungro.

 

Analisis ekosistem dan pengambilan keputusan

  • Di daerah endemis serangan tikus, seawal mungkin dilakukan pemasangan pagar plastik yang dikombinasikan dengan bubu perangkap tikus. Pengendalian responsif dilakukan dengan pemasangan umpan beracun, yaitu apabila ditemukan gejala serangan baru sampai dengan fase anakan maksimum dan pengemposan asap beracun.
  • Apabila pemagaran plastik tidak bisa dilakukan secara menyeluruh, dapat dilakukan terhadap pertanaman yang berbatasan dengan wilayah yang rawan atau yang menjadi daerah persembunyian tikus, dilakukan sanitasi semak-semak tempat persembunyian tikus.
  • Tanaman-tanaman yang menunjukkan gejala serangan tungro dicabut dan dibenamkan ke dalam tanah.
  • Apabila populasi wereng batang coklat ≥ 10 ekor per rumpun pada tanaman berumur < 40 hst atau ≥ 40 ekor per rumpun pada tanaman berumur ≥ 40 hst dilakukan pengendalian responsif dengan menggunakan insektisida efektif yang diizinkan .
  • Apabila banyak ditemukan populasi kelompok telur penggerek batang padi dilakukan pengumpulan kelompok telur. Kelompok telur yang terkumpul dipelihara dan parasit yang mungkin keluar dilepaskan ke persawahan. Apabila pengumpulan kelompok telur tidak mungkin dilakukan, dan atau serangan sundep ≥ 10% tergantung varietasnya, di-lakukan pengendalian responsif dengan mengguna-kan insektisida efektif yang diizinkan secara “spot treatment” (hanya di tempat serangan) .
  • Apabila terjadi serangan hama putih, dilakukan pengeringan sawah selama 2-3 hari, sampai larva hama putih mati.
  • Apabila serangan ganjur ≥ 5% dilakukan aplikasi insektisida sistemik yang efektif dan diizinkan. Monitoring populasi serangan ganjur, dapat dilakukan dengan lampu perangkap.
  • Apabila ditemukan tanaman menunjukkan gejala serangan tungro, tanaman tersebut dimusnahkan. Aplikasi insektisida dapat dilakukan secara “hot spot treatment”, yaitu di tempat-tempat yang diduga sebagai titik awal perkembangannya serangan tungro di suatu wilayah .
  • Apabila timbul serangan ulat grayak, dilakukan peng-genangan sehingga ulat grayak naik dan mudah dikumpulkan. Aplikasi insektisida efektif dan diizinkan bila intensitas serangan ≥ 15% kerusakan daun.
  • Apabila populasi kepinding tanah ≥ 5 ekor/rumpun, dilakukan aplikasi pestisida.
  • Di daerah endemis serangan anjing tanah/orong-orong,  dilakukan penggenangan air sehingga serangga keluar dan mudah dimatikan. Pengumpanan beracun dapat dilakukan dengan umpan dedak campur insektisida bentuk cair atau tepung.
  • Di daerah endemis serangan siput murbei, dilakukan pemasangan saringan pada pintu masuk saluran air ke petakan sawah. Kelompok telur dan siput murbei dikumpulkan dan dimusnahkan. Ajir bambu dan daun-daun yang bertekstur lunak dapat digunakan untuk memerangkap. Siput-siput dapat digunakan untuk pakan ternak atau pemanfaatan lain. Penanaman sebaiknya 4-5 bibit/rumpun. Penggunaan kapur tohor dengan dosis 175 kg/ha atau diterapkan budidaya mina padi, sehingga siput dapat dimakan ikan.
  • Apabila timbul serangan hawar daun bakteri ataupun hawar pelepah dilakukan sanitasi selektif tanaman yang sakit dan pengeringan lahan secara berkala, yaitu 1 hari diairi dan 3 – 4 hari dikeringkan.
  • Apabila timbul serangan bercak coklat, dilakukan pengaturan irigasi.
III Tanaman Tua (sejak primordia-berbunga) 
  • Pada fase pertumbuhan tanaman ini merupakan fase kritis terhadap serangan tikus, penggerek batang padi, wereng batang coklat dan penyakit tanaman.
  • Serangan penggerek batang padi pada fase pertumbuhan akan mengakibatkan beluk dan sudah tidak dapat disembuhkan lagi serta tanaman sudah tidak mampu mengkompensasi kerusakan. Pengendalian responsif dengan pestisida terhadap penggerek batang padi yang sudah menunjukkan gejala serangan pada fase ini tidak dianjurkan lagi, karena tidak bermanfaat bagi pertanaman tersebut. Keadaan ini biasanya terjadi apabila larva sudah mencapai instar tua.
  • Serangan tikus semakin meningkat pada saat tanaman pri­mordia dan bunting. Pertumbuhan populasi tikus meningkat pesat karena nutrisi tanaman sesuai untuk kebutuhan reproduksi tikus. Musim kawin dan perkembangbiakan tikus terjadi pada saat tanaman padi memasuki fase generatif ini.
  • Pada fase ini gejala awal penyakit tanaman yang disebabkan oleh bakteri dan cendawan sudah nampak dan tanaman yang terinfeksi pada fase ini sudah sulit dikendalikan.
  • Pada fase ini sudah tidak sesuai bagi perkembangan ganjur. Hama ganjur sudah tidak mampu merusak tanaman, hanya menyerang tunas-tunas non produktif dan tidak perlu dilakukan pengendalian responsif dengan pestisida.
  • Virus tungro yang menginfeksi tanaman pada fase ini tidak menunjukan gejala dan tidak mempengaruhi kehilangan hasil panen. Tetapi virus tungro yang sudah berada dalam tanaman akan menghasilkan gejala pada saat singgang, dan menjadi sumber inokulum bagi persemaian dan pertanaman muda yang ada di sekitarnya.

 

  • Hindari penggunaan pestisida yang tidak diperlukan, untuk memberikan perlindungan kepada musuh alami yang ada di persawahan dan sekitarnya. Upaya pelestarian musuh alami tetap dilakukan .
  • Di daerah endemis serangan ulat grayak, ditaruh pelepah pisang atau dedaunan lebar di persawahan sebagai perangkap ulat grayak atau dilakukan penggenangan lahan sehingga ulat grayak naik, untuk memudahkan pengumpulan dan mematikannya. Aplikasi insektisida dilakukan bila intensitas serangan ≥ 15% kerusakan daun saat generatif dan ≥ 25% kerusakan daun saat vegetatif.
  • Memelihara kebersihan lingkungan yang diduga menjadi tempat persembunyian tikus.
  • Pengaturan air sawah dengan selang waktu 9 hari, untuk memberikan keadaan yang tidak menguntungkan bagi perkembangan OPT kecuali bila terserang tungro . Apabila populasi wereng batang coklat populasi ≥ 40 ekor per rumpun pada tanaman berumur > 40 hst dilakukan pengendalian responsif dengan menggunakan insektisida efektif yang diizinkan. Apabila ditemukan predator laba-Iaba (Lycosa) 2 ekor/rumpun pengendalian ditunda 1 minggu atau sampai pengamatan berikutnya.
  • Apabila penyakit-penyakit penting (hawar bakteri, hawar pelepah, dll) atau salah satu dari penyakit tersebut sudah muncul, diadakan pengeringan berkala, yaitu sehari diairi dan 3-4 hari dikeringkan. Kegiatan ini dapat dilakukan pula bila ditemukan populasi wereng batang coklat.
  • Apabila terjadi serangan bIas, dapat digunakan fungisida efektif yang diijinkan pada dua minggu sebelum keluar malai, untuk mencegah timbulnya neck blast.
  • Apabila terjadi serangan bercak coklat, dilakukan pengaturan irigasi .
  • Apabila dijumpai populasi ulat grayak, dilakukan penggenangan petakan sawah untuk merendam bagian bawah rumpun pada tempat ulat grayak berlindung, sehingga memudahkan pengumpulannya.
  • Apabila terjadi serangan tikus atau di daerah endemis serangan tikus, dilakukan pemasangan pagar plastik yang dikombinasikan dengan bubu untuk menangkap tikus pada pertanaman yang memasuki fase generatif paling awal, atau pada pertanaman yang berbatasan dengan wilayah yang menjadi sumber serangan tikus. Selain itu dilakukan pengemposan/pengasapan pada lubang -lubang aktif tikus.
  • Apabila terjadi serangan hama putih palsu (pelipat daun) dengan intensitas ≥ 15% pada daun bendera, dilakukan aplikasi insektisida efektif yang diijinkan.
  • Di daerah endemis serangan babi hutan, dilakukan perburuan dengan anjing, tombak dan jaring baja atau plastik.
  • Timbul gejala beluk, dilakukan pengendalian pencabutan beluk segar (larva masih berada di dalam batang) dan dimusnahkan.
IV Pematangan Bulir(pengisian bulir – panen)

 

  • Pertanaman telah mengalami pengisian bulir, sehingga ketersediaan makanan bagi hama-hama pengisap bulir sangat melimpah. Populasi hama tersebut mempunyai kesempatan meningkat dengan cepat.
  • Hama yang sudah berkembangbiak di sini sejak awal fase tumbuh tanaman, saat ini merupakan fase yang sangat kritis bagi kerusakan tanaman, misalnya wereng batang coklat, penggerek batang padi dan tikus. Walang sangit yang sebelumnya bertahan hidup di semak-semak atau rerumputan sekitar sawah, mulai berpindah tempat ke pertanaman.
  • Pada saat ini ulat grayak secara bergerombol mulai menginfestasi pertanaman.
  • Pengelolaan air sawah akan berpengaruh besar terhadap proses pengisian dan pemasakan bulir.

 

  • Menjaga usaha pelestarian musuh alami yang sejak awal tanam telah dilakukan, dengan menghindari penggunaan pestisida yang tidak diperlu-kan.
  • Menjaga kebersihan lingkungan, terutama tempat-tempat yang diduga menjadi tempat persembunyian tikus.
  • Mengatur air sawah sehingga pertanaman tumbuh sehat, proses pengisian bulir berlangsung dengan baik dan pemasakan bulir berlangsung dengan cepat. Pengeringan air pada saat pemasakan bulir dapat mempercepat proses dan mempersempit waktu kemungkinan terserang hama pengisap bulir.

 

  • Di daerah endemis serangan penggerek batang padi putih, pemotongan batang padi pada saat panen setinggi maksimal 5 cm di atas permukaan tanah.
  • Apabila populasi walang sangit atau hama penghisap bulir lainnya ≥ 10 ekor/m2, pada saat bulir belum keras, dilakukan aplikasi insektisida yang efektif dan diijinkan. Tindakan responsif dapat pula dilakukan dengan pemasangan perangkap bangkai kepiting atau tulang-tulang di persawahan untuk menangkap walang sangit dan kemudian dimatikan.
  • Apabila serangan tikus masih terus berlanjut, dilakukan pengemposan dengan asap belerang/asap beracun.
  • Untuk mencegah berkembangnya serangan dilakukan pencabutan beluk segar dan dimusnahkan.