browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN “REKOMENDASI TINDAKAN KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN DI DUSUN KEKEP KOTA BATU (POS 3)”

Posted by on January 17, 2014

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN

“REKOMENDASI TINDAKAN KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN DI DUSUN KEKEP KOTA BATU (POS 3)”

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK: 4

KELAS: E

ASISTEN: MAS ENCO[E1] 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013

Judul               : Rekomendasi Tindakan Konservasi Sumberdaya Lahan di Dusun Kekep Kota Batu (Pos 3)

Penyusun         : Kelompok 4

Kelas               : E

 

Ketua Kelompok         : Bergas Redityo                                 115040201111251

Anggota Kelompok    : 1. Destalia Lanny Rachmawati         115040201111045

2. Devi Nur`aini Azizah                      115040201111215

3. Devi Febriana Putri                         115040201111227

4. Dery Pambudi                                 115040207111031

5. Binti Nur Aisah                               115040213111023

6. Devy Kumalasari                            115040213111026

7. Dara Muslimah D.                           115040201111301

8. Dewi Fatmosari                               115040213111001

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI. iii

DAFTAR TABEL.. v

DAFTAR GAMBAR.. vi

DAFTAR LAMPIRAN.. vii

1.       PENDAHULUAN.. 1

1.1        Latar Belakang. 1

1.2        Tujuan. 2

2.       KONDISI UMUM WILAYAH.. 3

3.       METODOLOGI. 5

3.1        Waktu dan Tempat 5

3.2        Alat dan Bahan. 5

3.2.1        Pengenalan Satuan Pengelolaan Konservasi Tanah dan Air 5

3.2.2        Pengenalan Jenis-Jenis Erosi Tanah. 5

3.2.3        Penetapan Faktor-Faktor Erosi Tanah. 5

3.2.4        Teknik Pemetaan untuk Perencanaan Konservasi Tanah dan Air Tingkat Detail 6

3.2.5        Simulasi Implemantasi Teknologi Konservasi Tanah dan Air 6

3.2.6        Pengenalan Dampak Erosi dalam DAS. 6

3.3        Alur Kerja. 6

3.3.1        Pengenalan Satuan Pengelolaan Konservasi Tanah dan Air 6

3.3.2        Pengenalan Jenis-Jenis Erosi Tanah. 8

3.3.3        Penetapan Faktor-Faktor Erosi Tanah. 9

3.3.4        Teknik Pemetaan Untuk Perencanaan Konservasi Tanah dan Air Tingkat Detail 11

3.3.5        Simulasi Implemantasi Teknologi Konservasi Tanah dan Air 12

3.3.6        Pengenalan Dampak Erosi dalam DAS. 12

4.       HASIL.. 14

4.1        Pembagian Satuan Pengelolaan Konservasi Sumberdaya Lahan. 14

a.     Satuan peta lahan 1. 14

b.          Satuan peta lahan 2. 14

c.     Satuan peta lahan 3. 15

4.2        Erosi 15

4.2.1        Jenis Erosi di Lahan. 16

4.2.2        Perhitungan nilai erosi (A) dan Edp. 17

5.       PEMBAHASAN.. 21

5.1        Penjelasan Kondisi Aktual Lahan. 21

1)          SPL 1. 21

2)          SPL 2. 21

3)          SPL 3. 21

5.2        Perencanaan Tindakan Konservasi yang direkomendasi 21

5.3        Analisis Kelebihan Tindakan Konservasi Yang Direkomendasikan. 23

5.3.1        Pengelolaan. 23

5.3.2        Perhitungan ekonomi 25

6.       KESIMPULAN.. 31

6.1        Kesimpulan. 31

DAFTAR PUSTAKA.. 33

LAMPIRAN.. 34

1)          Rincian Biaya Aktual 34

2)          Data Curah Hujan. 40

3)          Dokumentasi 41

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR TABEL

 

Tabel 1 data SPL 1. 14

Tabel 2 data SPL 2. 15

Tabel 3 data SPL 3. 15

Tabel 4 biaya variabel rekomendasi SPL 1. 26

Tabel 5 hasil penerimaan SPL 1. 26

Tabel 6 biaya variabel rekomendasi SPL 2. 28

Tabel 7 hasil penerimaan SPL 2. 28

Tabel 8 biaya variabel rekomendasi SPL 3. 29

Tabel 9 hasil penerimaan SPL 3. 29

Tabel 10 biaya tetap aktual 34

Tabel 11 biaya variabel aktual 35

Tabel 12 penerimaan aktual 35

Tabel 13 data curah hujan. 40

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

 

gambar 1 Peta lokasi pengamatan. 3

gambar 2 Lokasi pos 3. 4

gambar 3 erosi alur yang ditemukan di SPL 2. 17

gambar 4 erosi alur yang ditemukan di SPL 3. 17

gambar 5 erosi alur yang ditemukan di SPL 1. 17

gambar 6 rekomendasi SPL 1. 22

gambar 7 rekomendasi SPL 2. 22

gambar 8 rekomendasi SPL 3. 23

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

Rincian Biaya Aktual………………………………………………………………………………..34

Data Curah Hujan…………………………………………………………………………………….40

Dokumentasi……………………………………………………………………………………………41[E2]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


1.      PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Konservasi tanah merupakan suatu bentuk upaya dalam mencegah erosi tanah dan memperbaiki tanah yang sudah rusak oleh erosi. Hal ini terkait dengan penempatan setiap bidang tanah dengan memperlakukan atau menggunakan tanah tersebut sesuai dengan kemampuannya guna mencegah kerusakan tanah oleh erosi. Konservasi tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada  sebidang tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat tersebut dan tempat-tempat lain yang dialirinya. Berbagai tindakan konservasi tanah adalah juga tindakan konservasi air.

Sumber daya utama baik tanah maupun air mudah mengalami kerusakan atau degradasi. Dengan adanya kerusakan tersebut maka berdampak pada penurunan tingkat produktivitas. Faktor – faktor yang menyebabkan kerusakan tersebut antara lain : kehilangan unsur hara menyebabkan merosotnya kesuburan tanah, salinitas dan penjenuhan tanah oleh air, dan erosi yaitu hilangnya atau terkikisnya tanah dan bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh air ke tempat lain. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukannya suatu usaha untuk tetap menjaga kestabilan tanah dan air yaitu melalalui konservasi tanah dan air. Pada dasarnya usahatani konservasi merupakan suatu paket teknologi usahatani yang bertujuan meningkatkan produksi dan pendapatan petani, serta melestarikan sumberdaya tanah dan air pada DAS kritis (Saragih, 1996).

Metode yang kerap diterapkan petani pada konservasi pertanian antara lain metode vegetatif dan metode sipil teknis.Metoda vegetatif yaitu metoda konservasi dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman serta penggunaan pupuk organik dan mulsa.

Pada praktikum lapang Teknologi konservasi sumberdaya lahan di desa Kekep ini mahasiswa dapat  melihat, mengamati, dan menganalisis kondisi aktual lahan pertanian di desa Kekep, sehingga mahasiswa dapat menentukan upaya perbaikan untuk lahan yang diamati. Pada Praktikum Konservasi sumberdaya lahan yang kami lakukan didesa Kekep kecamatan Bumiaji memiliki kelerengan lahan yang cukup curam pada setiap SPL nya dengan budidaya tanaman wortel, bawang prei dan brokoli. Oleh karena itu, dengan dilakukannya praktikum lapang ini , mahasiswa mampu untuk menganalisis penggunaan lahan di desa Kekep dan merekomendasikan penggunaan lahan yang sesuai serta aman bagi masyarakat sekitar dan menguntungkan secara ekonomis.

 

1.2  Tujuan

1)      Menentukan besarnya erosi di lahan pertanian desa Kekep Kecamatan Bumiaji.

2)      Menentukan rekomendasi tindakan KTA pada lahan pertanian yang diamati

3)      Menentukan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan konservasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

2.      KONDISI UMUM WILAYAH

 

Fieldtrip dilaksanakan di Dusun Kekep, Kota Batu. Pada lokasi pengamatan dibagi menjadi 4 pos. Pos yang menjadi obyek pengamatan Kelas E adalah pada pos 3. Pada pos 3 terdapat 3 titik pengamatan yaitu lereng atas, lereng tengah, dan lereng bawah. Pada lereng atas terdapat 3 jenis tutupan lahan yaitu  semak belukar, pepohonan serta tanaman cabai. Tingkat tutupan lahan kanopi dan  seresah pada lereng atas sedang, serta tingkat kerapatan juga sedang.

Tutupan lahan pada lereng tengah adalah wortel, brokoli, cabai, dan tomat. Tingkat tutupan lahan kanopi dan seresah pada lereng tengah  rendah serta tingkat kerapatan juga rendah. Sedangkan tutupan lahan pada lereng bawah adalah brokoli dan wortel dengan tingkat tutupan kanopi dan seresah rendah serta tingkat kerapatan juga rendah. Pada lereng bawah juga terdapat lahan kosong karena tanaman sudah dipanen.

Kelerengan pada lereng atas atau SPL 1 65% yang termasuk curam. Pada lereng tengah atau SPL 2 sebesar 35% yang termasuk agak curam. Sedangkan pada pada lereng bawah atau SPL 3 sebesar 37% yang tergolong agak curam.

gambar 1 Peta lokasi pengamatan

gambar 2 Lokasi pos 3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

3.      METODOLOGI

 

3.1  Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum Teknologi Konservasi Sumberdaya Lahan dilaksanakan pada hari Minggu, 27 Oktober 2013 di Desa Kekep, Kecamatan Tulungrejo, Batu.

 

3.2  Alat dan Bahan

3.2.1        Pengenalan Satuan Pengelolaan Konservasi Tanah dan Air

3.2.1.1  Mengenal Peta di Lapangan

1)      Peta topografi              : untuk mengetahui keadaan topografi di lapang

2)      Foto udara                   : untuk mengetahui kondisi wilayah daerah

pengamatan

3)      Peta landform              : untuk mengetahui kondisi penggunaan lahan

4)      Peta tanah                    : untuk mengetahui sebaran jenis tanah

5)      Peta erosi                     : untuk mengetahui jenis erosi di lapang

6)      Peta rekomendasi[E3]    : sebagai rekomendasi dari penggunaan lahan

3.2.1.2  Menilai Suatu Lahan

1)      Satuan Peta Lahan      : untuk mengetahui kemampuan lahan

2)      Klinometer                  : untuk mengukur derajat kelerengan

3)      Form pengisian            : untuk tabulasi data

4)      Kertas dan alat tulis    : untuk mencatat hasil pengamatan

 

3.2.2        Pengenalan Jenis-Jenis Erosi Tanah

1)      Kertas dan alat tulis    : untuk mencatat hasil pengamatan

 

3.2.3        Penetapan Faktor-Faktor Erosi Tanah

1)      Kertas  dan alat tulis    : untuk mencatat hasil pengamatan

2)      Tabel Nomograf          : untuk mencatat nilai K dan lereng

3)      Kalkulator                   : untuk menghitung data hasil pengamatan

4)      Tali rafia                      : untuk membantu mengukur luasan lahan

5)      Bor                              : untuk mengambil sampel

6)      Ring                            : untuk mengambil sample tanah

7)      Meteran                       : untuk mengukur jarak pengamatan

8)      Klinometer                  : untuk mengukur derajat kelerengan

 

3.2.4        Teknik Pemetaan untuk Perencanaan Konservasi Tanah dan Air Tingkat Detail

1)      Kompas ukur                           : untuk mengukur derajat dari arah utara

2)      Meteran Ukur 100 meter         :  untuk mengukir jarak tiap titik

3)      Penggaris plastik ukuran 1 meter dan 30 cm  :  untuk mengukur sketsa

4)      Kertas milimeter ukuran A0    : untuk menggambar sketsa rekomendasi  dan actual.

5)      Busur derajat 360                    : menggambar sketsa di kertas A0

6)      Busur derajat 180                    :untuk menentukan derajat pada proses menggambar di sketsa

7)      Penggaris segitiga (siku) : untuk menggambar garis tegak lurus pada peta   

8)      Pensil 2B dan rautan   : menggambar sketsa actual dan rekomendasi

9)      Karet penghapus         : untuk menghapus gambar

10)  Kertas HVS                : untuk membuat sketsa peta

11)  Spidol warna (12 warna)         : untuk mewarnai peta

12)  Stabilo                         : untuk menebali garis pada peta

 

3.2.5        Simulasi Implemantasi Teknologi Konservasi Tanah dan Air

1)      Alat tulis                     :untuk mencatat hasil pengamatan

 

3.2.6        Pengenalan Dampak Erosi dalam DAS

1)      Alat tulis                     :untuk mencatat hasil pengamatan

 

3.3  Alur Kerja

3.3.1        Pengenalan Satuan Pengelolaan Konservasi Tanah dan Air

3.3.1.1  Mengenal Peta di Lapangan

Mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok diberi satu set peta (foto udara, landform, tanah, erosi dan rekomendasi) yang akan digunakan sebagai pegangan

Pengamatan lapangan (survei)

 

Masing-masing kelompok mengenali  batas SPL atau garis batas SPL di  lapangan dengan dibandingkan di peta

Checking titik di lapangan dengan di peta

 

 

Mengenal komponen satuan peta lahan (SPL)

 

Checking SPL di peta dengan kondisi di lapang

 

Memahami peta landform

 

Memahami peta tanah

Memahami peta tingkat erosi

Setelah itu dilakukan diskusi di depan semua kelompok

 

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi pertama mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok diberi satu set peta (foto udara, landform, tanah, erosi dan rekomendasi) yang akan digunakan sebagai pegangan dalam pengamatan kondisi di lapang. Kemudian masing-masing  kelompok  mengenali  batas  SPL  atau  garis  batas  SPL di lapangan dengan dibandingkan di peta. Setiap kelompok melakukan ploting posisi atau mengenal dan menentukan SPL. Setelah itu, mahasiswa melakukan checking legenda peta dengan kondisi lapangan dan memahami peta landform, peta tanah di lapangan peta tingkat erosi di lapangan yang kemudian dilakukan diskusi di depan semua kelompok.

 

 

3.1.4.2  Menilai Suatu Lahan

Mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelas  didampingi oleh satu fasilitator

 

Setiap  kelompok  menentukan  lokasi  fokus  beberapa   satuan  peta  lahan  yang  dapat  dilihat dilapangan dikaitkan dengan peta yang tersedia

Menghitung beberapa faktor yang mempengaruhi kelas  kemampuan  lahan

 

Melakukan  pengkelasan  pada  tabel  di  lembar  yang  telah disediakan

Merekomendasikan penggunaan lahan yang lebih baik (Sustainable).

 

Rekomendasi tindakan konservasi baik secara vegetatif maupun mekanis

 

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi pertama mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok menentukan  lokasi  fokus  beberapa   satuan  peta  lahan  yang  dapat  dilihat dilapangan dikaitkan dengan peta yang tersedia. Kemudian masing-masing  kelompokberbagi tugas untuk menghitung beberapa faktor yang mempengaruhi kelas  kemampuan  lahan  seperti  tekstur,  lereng,  drainase,  kedalaman  efektif,  tingkat  erosi, batuan/kerikil dan bahaya banjir. Setelah semua faktor didapatkan dilakukan pengkelasan pada tabel di lembar yang telah disediakan. Kemudian, setelah mendapatkan kelas kemampuan lahan, dilakukan diskusi antar kelompok untuk merekomendasikan penggunaan lahan yang lebih baik (Sustainable). Lalu, berdasarkan rekomendasi penggunaan lahan diskusikan rekomendasi tindakan konservasi baik secara vegetatif maupun mekanis.

3.3.2        Pengenalan Jenis-Jenis Erosi Tanah

Mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelas  didampingi oleh satu fasilitator

Melakukan pengamatan di lapangan dan memahami bentuk-bentuk erosi

 

Diskusi upaya  pencegahan  dari  fenomena  erosi tersebut

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi kedua mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok melakukan pengamatan di lapangan dan memahami bentuk-bentuk erosi. Kemudian diskusi antar kelompok tentang upaya pencegahan dari fenomena erosi tersebut.

 

3.3.3        Penetapan Faktor-Faktor Erosi Tanah

Mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelas didampingi oleh satu fasilitator

Perhitungan  indeks  erosivitas  dilakukan  dengan  menggunakan  data  curah  hujan

Menghitung  indeks  erodibilitas  tanah  dengan  menentukan beberapa faktor  yang mempengaruhi erodibilitas tanah

Masing-masing  kelompok  akan  mengukur  panjang  lereng  dengan  sebelumnya  menentukan mapping unit mikro yang paling dominan

Salah satu anggota dapat mengukur dengan berjalan  mengelilingi  panjang  lahan

 

Selanjutnya  setiap  kelompok  akan  menghitung  nilai  faktor  pengelolaan  dengan  cara  membagi kehilangan tanah dari lahan yang diberi perlakuan dengan kehilangan tanah dari petak baku.

 

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi ketiga mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok melakukan perhitungan indeks erosivitas dilakukan dengan menggunakan data curah hujan. Kemudian, setelah data curah hujan di ketahui dimasukkan dalam rumus perhitungan indeks erosivitas menurut Bols (1978), yaitu:

 

Keterangan :

Hb   = Rata-rata hujan bulanan (cm)

HH   = Rata-rata hari hujan

I24   = Hujan maksimum 24 jam dalam bulan tersebut (cm)

Rb   = Indeks Erosivitas

 

Setelah itu setiap kelompok akan menghitung indeks erodibilitas tanah dengan menentukan beberapa faktor yang mempengaruhi erodibilitas tanah yaitu persen pasir, debu dan liat, persen bahan organik, struktur tanah dan permeabilitas tanah. Perhitungan persen pasir, debu, liat dapat dilakukan dengan menggunakan metode feeling method, sedangkan persen bahan organik dapat diperkirakan dengan melihat tingkat bahan organik di lapangan. Struktur tanah dapat diketahui dengan mengambil agregat tanah utuh di lapangan. Sedangkan untuk permeabilitas dapat dihitung dengan menggunakan pipa paralon dari besi, kemudian dimasukkan dalam tanah lalu di beri air dan dihitung kecepatan air menjenuhkan tanah. Setelah semua faktor diketahui nilainya dapat dimasukkan dalam rumus perhitungan indeks erodibilitas tanah pada lembar yang telah disediakan dan juga menggunakan nomograf, kemudian hasilnya dibandingkan antara perhitungan dengan rumus dan dengan nomograf. Masing-masing kelompok akan mengukur panjang lereng dengan sebelumnya menentukan mapping unit mikro yang paling dominan, kemudian salah satu anggota dapat mengukur dengan berjalan mengelilingipanjang lahan tersebut yang sebelumnya telah diketahui berapa centimeter jarak satu jangka kaki yang akan mengukur panjang lereng tersebut. Faktor tanaman merupakan angka perbandingan erosi dari lahan yang ditanami sesuatu jenis tanaman dengan erosi pada plot kontrol. Setiap kelompok akan menentukan besarnya angka ini dengan melihat kemampuan tanaman untuk menutup tanah. Kemudian setiap kelompokakan menghitung nilai faktor pengelolaan dengan cara membagi kehilangan tanah dari lahan yang diberi perlakuan dengan kehilangan tanah dari petak baku.

 

3.3.4        Teknik Pemetaan Untuk Perencanaan Konservasi Tanah dan Air Tingkat Detail

a.      Pengukuran lahan

 

Menentukan titik ikat lahan (P0)

Menentukan posisi titik awal pengukuran p1

 

Menentukan posisi selanjutnya sampai seterusnya

Tiap titik dicatat jaraknya, diamati sekitarnya

catat hasil pengamatan

b.      Pemetaan unsur-unsur lahan di atas kertas

 

Siapkan semua peralatan termasuk millimeter blok(A0)

 

Tarik garis untuk membuat garis tepibuat garis untuk membuat

 

Rencanakan skala peta yang dibuat

 

Gambar sketsa actual dan rekomendasi

 

Warnai gambar sketsa tersebut

 

 

3.3.5        Simulasi Implemantasi Teknologi Konservasi Tanah dan Air

Pengamatan di lapangan

Pembuatan sket kondisi saat ini dan rekomendasi (secara vegetatif dan mekanis)

Diskusi kelompok

 

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi kelima mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok melakukan pengamatan di lapangan, kemudian membuat sket kondisi aktual beserta rekomendasi secara vegetatif dan mekanis. Teknik pengendalian erosi dengan menggunakan cara vegetatif yang harus diperhatikan adalah lebih kearah peranan tanaman dalam mengurangi erosi seperti tajuk tanaman, dan daun penutup tanah, ranting, dan akar tanaman. Sedangkan pengendalian erosi secara mekanik (teknik mekanik) adalah usaha pengawetan tanah untuk mengurangi banyaknya tanah yang hilang di daerah lahan pertanian, dengan cara-cara mekanis tertentu meliputipembuatan jalur-jalur bagi pengaliran air dari tempat-tempat tertentu ke tempat-tempat pembuangan (waste ways),pembuatan teras-teras atau sengkedan-sengkedan agar aliran air dapat terhambat, sehingga daya angkut atau daya merusak tanah berkurang. Kemudian pembuatan selokan dan parit ataupun rorak-rorak di tempat-tempat tertentu dan melakukan pengolahan tanah yang tepat, yaitu menurut arah kontur atau memotong arah kemiringan lereng juga merupakan teknik pengendalian secara mekanik yang sering dilakukan oleh petani. Setelah itu, dilanjutkan dengan diskusi kelompok.

3.3.6        Pengenalan Dampak Erosi dalam DAS

Mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelas didampingi oleh satu fasilitator

Semua kelompok mengamati erosi tebing sungai  dan tingkat kekeruhan air sungai

Mendiskusikan  dalam  kelompok  tentang  sebab  dan  akibat  terjadinya erosi tebing sungai  dan tingkat kekeruhan air sungaitersebut

Setiap  kelompok  melakukan  pengamatan  terhadap  sedimentasi  di  daerah  DAM  dan  Waduk

Mendiskusikan  dalam  kelompok  tentang  sebab  dan  akibat  terjadinya  pengendapan sedimen tersebut

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi keenam mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok melakukan pengamatan di lapangan, kemudian semua kelompok mengamati erosi tebing sungai dan tingkat kekeruhan air sungai. Setelah itu, kelompok mendiskusikan mengapa terjadi hal yang demikian dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Lalu setiap kelompok melakukan pengamatan terhadap sedimentasi di daerah DAM dan Waduk, kemudian kelompok mendiskusikan tentang sebab dan akibat terjadinya pengendapan sedimen tersebut.

 

 

 

 

 

 


 

4.      HASIL

 

4.1  Pembagian Satuan Pengelolaan Konservasi Sumberdaya Lahan

  1. a.      Satuan peta lahan 1

faktor pembatas

Hasil pengamatan di lapang

kelas

Tekstur tanah

Liat berdebu

T1

Lereng

65% (Curam)

L5

Drainase

Agak baik

d1

Kedalaman efektif

Sedang

k1

Tingkat erosi

Berat

e3

Batu/kerikil

Tidak ada

b0

Bahaya banjir

Tidak pernah

o0

Klasifikasi kelas kemampuan lahan + faktor pembatas

VII

lereng

Macam rekomendasi penggunaan lahan

Agroforestri, yaitu Tanaman Sengon, kopi dan Cabai

Macam rekomendasi konservasi tanah secara vegetatif dan mekanis

Vegetatif = Agroforestri Multistrata

Mekanik = Teras Kebun, Saluran pembuangan dan bangunan terjunan untuk air

Tabel 1 data SPL 1[E4] 

b.      Satuan peta lahan 2

Faktor pembatas

Hasil pengamatan di lapang

Kelas

Tekstur tanah

Lempung berdebu

t3

Lereng

35% (Agak Curam)

L4

Drainase

Baik

d0

Kedalaman efektif

Sedang

K1

Tingkat erosi

Sedang

e2

Batu/kerikil

Tidak ada

b0

Bahaya banjir

Tidak Pernah

O0

Klasifikasi kelas kemampuan lahan + faktor pembatas

VI

Lereng

Macam rekomendasi penggunaan lahan

Penanaman secara Agroforestry, yaitu tanaman wortel (utama), kaliandra dan strip rumput gajah (tanaman pagar)

Macam rekomendasi konservasi tanah secara vegetatif dan mekanis

Vegetatif = Penanaman secara kontur

Mekanik = pembuatan teras gulud dan saluran pengendali air

Tabel 2 data SPL 2

  1. c.       Satuan peta lahan 3

faktor pembatas

Hasil pengamatan di lapang

kelas

Tekstur tanah

Lempung berdebu

t3

Lereng

37%, agak curam

L4

Drainase

Baik

d0

Kedalaman efektif

Dangkal

K2

Tingkat erosi

Sedang

e2

Batu/kerikil

Sedang

B1

Bahaya banjir

Tidak pernah

o0

Klasifikasi kelas kemampuan lahan + faktor pembatas

VI

Lereng

Macam rekomendasi penggunaan lahan

Penanaman secara Agroforestry, yaitu tanaman wortel (utama), kaliandra dan strip rumput gajah (tanaman pagar)

Macam rekomendasi konservasi tanah secara vegetatif dan mekanis

Vegetatif = Penanaman secara kontur

Mekanik = pembuatan teras gulud dan saluran pengendali air

Tabel 3 data SPL 3

 

4.2  Erosi

SPL erosi Longsor iklim tanah elevasi lereng

1

Berat Berat Tropis Liat berdebu Bergunung >65 % sangat curam

2

Sedang Sedang Tropis Lempung berdebu Bergunung 35-45% curam

3

Sedang Sedang Tropis Lempung berdebu Berbukit 15-30 % agak curam

 

Tabel diatas merupakan data aktual yang terdapat di lapang yang menunjukkan kepekaan tanah terhadap longsor cukup tinggi disebabkan oleh lereng yang agak curam sampai curam, elevasi berbukit sampai bergunung dan menurut ketiga jenis tanah adalah cenderung berdebu yang artinya agregat tidak mantap terhadap longsor dan kurang dapat menekan laju erosi.

 

4.2.1        Jenis Erosi di Lahan

SPL

Jenis-jenis erosi yang ditemukan di lahan

Identifikasi erosi di lapang

Upaya pengendalian erosi

1 Erosi alur Pada lahan dibuat alur-alur kecil di pinggiran bedengan sebagai tempat pipa menuju sungai
2 Erosi alur Pada lahan dibuat alur-alur kecil di pinggiran bedengan sebagai tempat pipa menuju sungai
3 Erosi alur Pada lahan dibuat alur-alur kecil di pinggiran bedengan sebagai tempat pipa menuju sungai

 

Data tabel diatas merupakan identifikasi dan pengendalian erosi di lahan yang diamati, dari identifikasi pada SPL 1 , SPL 2 dan SPL3 terdapat erosi alur dengan teknik pengendalian pembuatan alur di pinggiriran bedengan yang sebenarnya digunakan untuk pipa irigasi.

 

 

4.2.2        Perhitungan nilai erosi (A) dan Edp

A = R x K x L x S x C x P

Rb = 6,119 (Hb)1,21 (HH)-0,47(I24)0,53

= 6,119 (4,5)1,21 (6)-0,47(1,4)0,53

= 37,76 x 0,43 x 1,19

= 19,32 cm

SPL 1

100 K = 1,292 (2,1 M1,14(10-4)(12-a) + (b-2) 3,25 + (c-3) 2,5)

= 1,292 (2,1.85501,14(10-4)(12-4) + (2-2) 3,25 + (3-3) 2,5)

= 1,292 (51,02 + 0 + 0)

= 1,292 x 51,02

= 65,92

K  = 65,92 / 100

= 0,63[E5]

SPL 2

100 K = 1,292 (2,1 M1,14(10-4)(12-a) + (b-2) 3,25 + (c-3) 2,5)

= 1,292 (2,1.45051,14(10-4)(12-4) + (2-2) 3,25 + (2-3) 2,5)

= 1,292 (24,58 + 0 -2,5)

= 1,292 x 22,07

= 28,52

K  = 28,52 / 100

= 0,285

SPL 3

100 K = 1,292 (2,1 M1,14(10-4)(12-a) + (b-2) 3,25 + (c-3) 2,5)

= 1,292 (2,1.49501,14(10-4)(12-3) + (2-2) 3,25 + (1-3) 2,5)

= 1,292 (30,78 + 0 – 5)

= 1,292 x 25,78

= 33,31

K  = 33,31 / 100

= 0,33

L (PanjangLereng)

SPL 1 = 24,4 m

SPL 2 = 17,1 m

SPL 3 = 48 m

S (KemiringanLereng)

SPL 1 = 65 %

SPL 2 = 35 %

SPL 3 = 37 %

Faktor Topografi Panjang Lereng (L)dan Kemiringan Lahan (S)

 

LS SPL 1 =  (0,065+0,045.65+0,0065.652) = 30,46

LS SPL 2 =  (0,065+0,045.35+0,0065.352) = 9,59

LS SPL 3 =  (0,065+0,045.37+0,0065.372) = 15,7

C (FaktorTanaman)

SPL 1 = semak belukar dan pepohonan = 0,01

SPL 2 = wortel dan daun bawang = 0,7

SPL 3 = wortel (awal tanam) = 0,7

P (FaktorPengelolaan)

SPL 1 = Tanpa konservasi = 1

SPL 2 = Sayuran = 0,15

SPL 3 = Sayuran = 0,15

A pada SPL 1 = R x K x L x S x C x P

= 19,32 x 0,63 x 30,46 x 0,01 x 1

= 3,71 ton/ha/tahun (SangatBerat)

 

A pada SPL 2 = R x K x L x S x C x P

= 19,32 x 0,285 x 9,59 x 0,7 x 0,15

= 5,54 ton/ha/tahun

 

A pada SPL 3 = R x K x L x S x C x P

= 19,32 x 0,33 x 15,7 x 0,7 x 0,15

= 10,51 ton/ha/tahun

 

EDP  (Erosi yang Diperbolehkan)

Edp =

 

Edp SPL 1 =

=  0,75 ton/ha/tahun

Edp SPL 2 =

=  0,83 ton/ha/tahun

Edp SPL 3 =

=  0,83 ton/ha/tahun

 

 

 

 

 

 

 


 

5.      PEMBAHASAN

 

5.1  Penjelasan Kondisi Aktual Lahan

Daerah pengamatan berada di daerah Desa Kekep, Kecamatan Tulungrejo, Batu. Pengamatan dikhususkan pada pos 3. Pada pos 3 terdapat 3 satuan peta lahan (SPL). Berikut deskipsi tiap SPL:

1)      SPL 1

SPL pertama berada pada lereng atas. Kelerengan pada spl ini sebesar 65%. Kedalaman tanah termasuk sedang dengan drainase agak baik. Pada saat pengamatan, SPL 1 tidak ditanami. Jenis pengelolaan yang digunakan adalah teras bangku.

2)      SPL 2

SPL kedua berada pada lereng tengah. Pada lahan ini komoditas yang dibudidayakan adalah brokoli, wortel dan tomat. Kelerengan pada SPL ini adalah 19o dan termasuk ke dalam lereng yang agak curam. Teknik pengelolaan yang dipakai adalah teras guludan dan disamping SPL terdapat pipa-pipa irigasi. Pada tiap tepi lereng ditanami ubi jalar sebagai buffer.

3)      SPL 3

SPL ketiga berada pada lereng bawah dan berbatasan dengan sungai. Komoditas yang ditanami pada SPL ini adalah wortel. Beberapa teras sisir digunakan dengan kombinasi teras guludan. Pipa yang berasal dari SPL kedua masih terlihat pada SPL ini. Kelerengan pada SPL in sebesar 27o.

 

5.2  Perencanaan Tindakan Konservasi yang direkomendasi

Pada SPL 1 tindakan konservasi yang di rekomendasikan berupa sistem pertanaman agroforestry tanaman apel di tumpang sarikan dengan tanaman brokoli.

gambar 6 rekomendasi SPL 1

   Pada SPL 2 tindakan konservasi yang di rekomendasikan berupa pembuatan teras sisir  dan penanaman rumput gajah pada setiap pinggiran teras. Tanaman utama berupa wortel dan tanaman pinggir berupa tomat.

gambar 7 rekomendasi SPL 2

Pada SPL 3 tindakan konservasi yang di rekomendasikan berupa  pembuatan teras sisir  dan penanaman rumput gajah pada setiap pinggiran teras. Tanaman utama berupa cabai dan tanaman pinggir berupa kacang tanah.

gambar 8 rekomendasi SPL 3

 

5.3  Analisis Kelebihan Tindakan Konservasi Yang Direkomendasikan

5.3.1        Pengelolaan

a.      SPL 1

Pada SPl 1 kami rekomendasikan untuk dilakuakan penanaman tanaman apel dan tanaman brokoli secara Agroforestry. sistem agroforestry dipilih untuk meminimalisir bahaya erosi. hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa agroforestry adalah salah satu solusi untuk mengatasi bahaya erosi akibat alih guna lahan yang semakin marak (Hairiah,2003). Selain itu, hal tersebut juga didasarkan pada hasil evaluasi kemampuan lahan yang didapatkan pada bab 4. Pada bab 4 direkomendasikan  bahwa SPL tersebut di gunakan sebagai hutan lindung, namun karena kita juga harus mempertimbangkan dari aspek ekonomian petani disana, maka kami rekomendasikan untuk bercocok tanam secara agroforestry.

Penanaman tanaman apel berguna untuk meminimalisir dampak dari erosi yang dikarenakan  tingkat kelerengan di SPL 1 yang cukup curam. Dengan menanam tanaman berkayu seperti apel maka kemampuan tanah untuk meminimalisir terjadinya erosi semakin tinggi. Sedangkan penanaman tanaman brokoli didasarkan karena tanaman brokoli merupakan tanaman yang sering ditanam di daerah tersebut, sehingga tanaman tersebut sangat mampu beradaptasi dengan lahan di SPL 1. Selain itu, tanaman brokoli juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian petani di lahan tersebut selama tanaman utama (apel) belum dapat diproduksi.

b.      SPL 2

Pada SPL 2 diberi rekomendasi pembuatan guludan dengan bentuk sisir dan juga penenaman tanaman pinggir berupa rumput gajah pada lahan tersebut pembuatan Guludan dengan bentuk sisir bertujuan untuk memperbesar daya tampung air yang mengalir dari bagian atas. Selain itu, pembuatan guludan sisir juga  bertujuan untuk memperbesar daya resap air terhadap bidang olah.

Penanaman rumput gajah pada pinggir SPL ialah bertujuan untuk menahan tanah yang terbawa selama erosi terjadi. “Semua jenis teras harus disertai dengan penanaman tanaman penguat teras, seperti rumput dan legum yang juga merupakan sumber pakan ternak” (P3HTA,1990). Penanaman rumput gajah hanya dilakukan pada pinggir SPL dan tidak dilakuakan pada setiapa pinggir guludan ialah bertujuan untuk memperlebar bidang olah yang  akan digunakan oleh petani sebagai area penanaman, sehingga luas area petani tidak terlalu berkurang dan pendapatannya masih relatif stabil.

Selain itu kami juga merekomendasikan untuk memilih tanaman wortel dan tanaman tomat sebagai jenis tanaman yang bisa dibudidayakan oleh petani di SPL 2.  Kami memilih tanaman wortel sebagai tanaman utama dikarenakan tanaman wortel merupakan tanaman yang sering di tanam oleh petani di lahan tersebut. Selain itu kami merekomendasikan tanaman tomat sebagai tanaman sela agar lahan tersebut memiliki biodiversitas yang tinggi serta dapat menambah pendapatan petani dari lahan tersebut.

c.       SPL 3

Pada SPL 3 dilakukan perlakuan hampir sama dengan SPL 2, hal tersebut dikarenakan tipe lahannya hampir sama. Namun pada SPL 3 diberi tambahan rekomendasi penanaman tanaman berkayu seperti tanaman bambu pada aerah SPL 3 yang berada di dekat daerah sungai. Penanaman tanaman berkayu seperti tanaman bambu ialah berfungsi untuk mengurangi tanah yang terbawa selama erosi terjadi, sehingga air sungai tidak semakin tercemar oleh endapan tanah yang terbawa selama erosi terjadi di lahan tersebut.

Pemilihan tanaman bambu untuk ditanam pada pinggiran sungai tersebut ialah dikarenakan tanaman bambu lebih cepat tumbuh daripada tanaman lain. Sehingga kecepatan perbaikan lahan di daerah tersebut dapat tercapai dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu, bambu juga memiliki fungsi sebagai pengontrol erosi dengan mengatur presipitasi atau jatuhnya air hujan ke tanah.( Ismudiati,1998)

Selain rekomendasi diatas, kami juga memberikan rekomendasi tanaman yang akan di tanaman oleh petani di SPL 3. Rekomendasi tanaman yang akan ditanam di daerah tersebut ialah tanaman Cabai dan kacang tanah di tanam menggunakan cara budidaya tumpang sari. Tanaman cabai dijadikan tanaman utama dikarenakan memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan tanaman kacang tanah. Penanaman kacang tanah berfungsi sebagai tanaman pinggir untuk meminimalisir erosi, manambah pendapatan ekonomi petani dan juga digunakan untuk memperkaya biodiversitas di lahan tersebut.

5.3.2        Perhitungan ekonomi

Untuk tiap SPL, penetapan harga tetap sama dengan kondisi aktual. Hal ini dikarenakan data yang didapat merupakan kondisi aktual pada tempat pengamatan dan tidak perlu adanya perubahan sehingga didapatkan harga yang valid sesuai dengan kondisi lapang

a.      SPL 1

1)      Biaya variabel[E6]

No

Perincian

Satuan

Harga Satuan

( Rp )

Nilai

( Rp )

1

Bibit
apel

Batang

50.000

2.200.000

brokoli

gram

130.000/10gr

17.030

2

Pupuk
–          Urea

Gratis

0

–          ZA

1 bks

95.000/bks

95.000

–          BAS

1 bks

80.000/bks

80.000

3

Pestisida
–          Pestisida Curacron

1 botol

80.000/panen

80.000

4.

Biaya Tenaga Kerja
–        Pengolahan tanah 1 Orang

35.000

35.000

–        Penanaman 1 Orang

35.000

35.000

–        Pemupukan 2 Orang

35.000

70.000

–        Pemeliharaan 4 Orang

35.000

140.000

–        Pemberantasan HPT 2 Orang

35.000

70.000

–        Panen 3 Orang 2 laki-laki : 35.000

1 wanita : 25.000

95.000

Jumlah

Rp. 2.917.030

 

Tabel 4 biaya variabel rekomendasi SPL 1

2)      Penerimaan

No

Uraian

Jumlah (Rp)

1.

Produksi

Rp. 3.477.440

2.

Hasil Sampingan

Rp 1.550.000,00

Jumlah

Rp 5.027.440

Tabel 5 hasil penerimaan SPL 1

3)      Perhitungan pendapatan

  • Luas lahan : jarak tanam:
  • Apel:  ;produktivitas 10kg/tanaman
  • Brokoli : ; produktivitas 576g/tanaman
  • Total produksi x harga jual:
  • Apel: 440kg x Rp. 7000/kg = Rp. 3.080.000
  • Brokoli: 26,496kg x Rp 15.000/kg = Rp. 397.440

Varietas yang digunakan adalah apel anna dan brokoli sakata. Produktivitas untuk apel anna adalah 10kg/tanaman dan brokoli sakata adalah 576g/tanaman atau 0,576kg/tanaman. Nilai jual dipasaran untuk kedua komoditas ini adalah Rp.7000/kg untuk apel dan Rp. 15.000/kg (Arifin, 2009). Luasan lahan yang digunakan untuk tanaman brokoli memang lebih kecil dibandingkan tanaman apel. Hal ini dikarenakan tanaman brokoli akan ditanam diantara tanaman apel.

b.      SPL 2

1)      Biaya variabel

No

Perincian

Satuan

Harga Satuan

( Rp )

Nilai

( Rp )

1

Bibit
Tomat

gram

80.000/10g

56.000

Wortel

cup

50.000

50.000

2

Pupuk
–          Urea

Gratis

0

–          ZA

1 bks

95.000/bks

95.000

–          BAS

1 bks

80.000/bks

80.000

3

Pestisida
–          Pestisida Curacron

1 botol

80.000/panen

80.000

4.

Biaya Tenaga Kerja
–        Pengolahan tanah 1 Orang

35.000

35.000

–        Penanaman 1 Orang

35.000

35.000

–        Pemupukan 2 Orang

35.000

70.000

–        Pemeliharaan 4 Orang

35.000

140.000

–        Pemberantasan HPT 2 Orang

35.000

70.000

–        Panen 3 Orang 2 laki-laki : 35.000

1 wanita : 25.000

95.000

Jumlah

Rp. 806.000

 

Tabel 6 biaya variabel rekomendasi SPL 2

2)      Penerimaan

No

Uraian

Jumlah (Rp)

1.

Produksi

Rp. 2.577.000

2.

Hasil Sampingan

Rp 1.550.000,00

Jumlah

Rp. 4.127.000

Tabel 7 hasil penerimaan SPL 2

3)      Perhitungan pendapatan

  • Luas lahan : jarak tanam:
  • Tomat :  ;produktivitas 2 kg/tanaman
  • Wortel  : ; produktivitas 1,093g/tanaman
  • Total produksi x harga jual:
  • Tomat: 216 kg x Rp. 8.500/kg = Rp. 2.346.000
  • Wortel: 231 kg x Rp. 1.000/kg = Rp. 231.000

Varietas yang digunakan adalah tomat Brasta-G F1 sebagai tanaman pinggir. Sedangkan wortel yang digunakan adalah jenis wortel yang biasa digunakan oleh petani setempat. Nilai jual untuk kedua komoditas ini berkisar antara Rp. 8.500/kg untuk tomat dan Rp. 1.000/kg untuk wortel.

c.       SPL 3

1)      Biaya variabel

No

Perincian

Satuan

Harga Satuan

( Rp )

Nilai

( Rp )

1

Bibit
Kacang tanah

kg

35.000/kg

35.000

Cabai

g

80.000/10g

130.000

2

Pupuk
–          Urea

Gratis

0

–          ZA

1 bks

95.000/bks

95.000

–          BAS

1 bks

80.000/bks

80.000

3

Pestisida
–          Pestisida Curacron

1 botol

80.000/panen

80.000

4.

Biaya Tenaga Kerja
–        Pengolahan tanah 1 Orang

35.000

35.000

–        Penanaman 1 Orang

35.000

35.000

–        Pemupukan 2 Orang

35.000

70.000

–        Pemeliharaan 4 Orang

35.000

140.000

–        Pemberantasan HPT 2 Orang

35.000

70.000

–        Panen 3 Orang 2 laki-laki : 35.000

1 wanita : 25.000

95.000

Jumlah

Rp. 865.000

 

Tabel 8 biaya variabel rekomendasi SPL 3

2)      Penerimaan

No

Uraian

Jumlah (Rp)

1.

Produksi

Rp. 22.062.000

2.

Hasil Sampingan

Rp 1.550.000,00

Jumlah

Rp. 23.612.000

Tabel 9 hasil penerimaan SPL 3

3)      Perhitungan pendapatan

  • Luas lahan : jarak tanam:
  • Cabai :  ;produktivitas 1.5 kg/tanaman
  • Kacang tanah  : ; produktivitas 2 ton/ha
  • Total produksi x harga jual:
  • Cabai: 2199kg x Rp. 10.000/kg = Rp 21.990.000
  • Kacang tanah: 3,6 kg x Rp. 20.000/kg = Rp. 72.000

Pada SPL ini, digunakan cabai Proton F1 dan kacang tanah varietas bison. Tanaman utama adalah cabai dengan kombinasi kacang tanah sebagai tanaman pinggir. Nilai jual untuk kedua komoditas tersebut adalah Rp 10.000/kg untuk tanaman cabai dan Rp 20.000/kg untuk tanaman kacang tanah.

Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan keuntungan dari hasil rekomendasi adalah sebesar RP. 5.027.440 untuk SPL 1, Rp. 4.127.000 untuk SPL 2 dan Rp. 23.612.000 untuk SPL 3. Jika dibandingkan dengan kondisi aktual pendapatan petani (Rp 7.050.000) memang pendapatan rekomendasi SPL 1 dan 2 lebih rendah dan SPL 3 jauh lebih menguntungkan. Namun jika dilihat dengan skala waktu yang lebih lama maka hasil rekomendasi akan lebih menguntungkan. Hal ini dikarenakan tanaman apel merupakan tanaman tahunan dan tidak perlu diganti pada setelah panen sehingga pengeluaran tiap musim tanam dapat berkurang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


6.      KESIMPULAN[E7]

 

6.1  Kesimpulan

Berdasarkan data yang didapat dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa secara ekologi rekomendasi yang digunakan memungkinkan adanya pengurangan longsor karena adanya tambahan berupa penanaman secara agroforesti dan penanaman tanaman buffer yaitu rumput gajah dan bambu. Sedangkan secara ekonomi, desain yang digunakan masing dikatakan menguntungkan dengan selisih perbedaan yang cukup jauh dari kondisi pendapatan aktual petani. Dan dari segi sosial, rekomendasi dapat diterima karena tanaman yang digunakan sebagian besar dikenal dan dibudidayakan oleh petani. Selain itu pengelolaan lahan juga tidak terlalu rumit dan tidak banyak diganti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Hairiah.K, Sri Rahayu Utami, Bruno Verbist, Meine van Noordwijk, Mustofa Agung Sardjono.2003.Prospek Penelitian dan Pengembangan Agroforestry di Indonesia.World Agroforestry Centre (ICRAF).Bogor.

Ismudiati,S.1998.FUNGSI TANAMAN BAMBU DALAM LANSEKAP BERDASARKAN KARAKTER FISIK DAN VISUAL. IPB .Bogor.

P3HTA (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air). 1990.Petunjuk teknis usaha tani konservasi daerah limpasan sungai.Dalam Sukmana et al. (Eds.). Badan Litbang Pertanian. Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

1)      Rincian Biaya Aktual

Perincian Biaya Usahatani(wortel)

a. Biaya Tetap :

No

Uraian

Jumlah (Unit)

Harga (Rp)

1. Tanah

¼ Ha

Rp. 283.333,-

¼ Ha

Rp. 183.333,-

2. Air

Rp. 45.000,-

3. Listrik

Rp. 50.000,-

4. Peralatan
Penyusutan

–        Cangkul

–        Sabit

1 bh

1 bh

Rp. 11.112

Rp. 6.369

 

 Perawatan

 

Perawatan Ternak Sapi

2 ekor

Rp. 50.000

 

Total Biaya Tetap

Rp. 629.147,-

 

Tabel 10 biaya tetap aktual

b. Biaya Variabel :

No

Perincian

Satuan

Harga Satuan

( Rp )

Nilai

( Rp )

1

Bibit

Cup

50.000

50.000

2

Pupuk
–          Urea

Gratis

0

–          ZA

1 bks

95.000/bks

95.000

–          BAS

1 bks

80.000/bks

80.000

3

Pestisida
–          Pestisida Curacron

1 botol

80.000/panen

80.000

4.

Biaya Tenaga Kerja
–        Pengolahan tanah 1 Orang

35.000

35.000

–        Penanaman 1 Orang

35.000

35.000

–        Pemupukan 2 Orang

35.000

70.000

–        Pemeliharaan 4 Orang

35.000

140.000

–        Pemberantasan HPT 2 Orang

35.000

70.000

–        Panen 3 Orang 2 laki-laki : 35.000

1 wanita : 25.000

95.000

Jumlah

Rp . 750.000,-

 

Tabel 11 biaya variabel aktual

c         Biaya Total

Total Biaya   = FC +VC

= Rp Rp. 629.147,- + Rp 750.000,-

=Rp 1.379.147,-

 

d        Penerimaan

No

Uraian

Jumlah (Rp)

1.

Produksi

Rp 5.500.000,00

2.

Hasil Sampingan

Rp 1.550.000,00

Jumlah

Rp 7.050.000,00

Tabel 12 penerimaan aktual

e         Keuntungan

Keuntungan = Penerimaan – Total biaya

= Rp 5.500.000,00 – Rp 1.379.147,-

= Rp 4.120.853,00

 

Perhitungan biaya penyusutan dari biaya tetap untuk dua kali masa tanam pada tahun terakir yang diuraikan pada tabel 1. adalah sebagai berikut.

  1. Penyusutan Cangkul

 

Sehingga, untuk biaya penyusutan dalam satu masa tanam adalah:

 

Jadi, untuk biaya penyusutan dari dua pacul untuk dua masa tanam adalah Rp. 11.112,00.

  1. Penyusutan Sabit

 

Sehingga, untuk biaya penyusutan dalam satu masa tanam adalah:

 

0.77

Jadi, untuk biaya penyusutan dari dua pacul untuk dua masa tanam adalah Rp. 6.369,00

 

  1. Penyusutan sewa lahan milik sendiri

 

 

 

Sehingga, untuk biaya penyusutan dalam satu masa tanam (4 bulan) adalah:

 

 

Jadi, untuk biaya penyusutan dari sewa lahan untuk dua masa tanam adalah Rp. 283.333,00

 

  1. Penyusutan sewa lahan sewa

 

 

 

Sehingga, untuk biaya penyusutan dalam satu masa tanam (4 bulan) adalah:

 

 

Jadi, untuk biaya penyusutan dari sewa lahan untuk dua masa tanam adalah Rp. 183.333,0

Analisis Kelayakan Usahatani

Berdasarkan perincian usahatani Bapak Supeno tersebut dapat dianalisis keuntungan usahatan dan R/C rationya untuk mengetahui kelayakan usahatani yang dijalani oleh Bapak Supeno. Berikut ini perhitungan keuntungan usahatani dan R/C ratio.

 

 

  1. 1.        Keuntungan

Keutungan yang diperoleh dari usahatani yang dijalankan oleh Bapak Supeno dapat dihitung dengan:

 

 

 

Sehingga, keutungan usahatani yang diterima oleh Bapak Supeno selama 1 tahun sebesar Rp 1.983.888,00.

  1. 2.    Break Even Point (BEP)

a)      Break Even Point (BEP) Rupiah

Break Event Point (BEP) Penerimaan

 

 

 

Dari hasil perhitungan BEP penerimaan maka dapat diketahui bahwa dalam memproduksi wortel akan mengalami titik impas (tidak rugi dan tidak untung) saat penerimaan Rp 706.906,742 dalam satu periode tanam.

Break Event Point (BEP) Harga

 

 

BEP (Rp)  = Rp 1.970,21

Dari hasil perhitungan BEP harga maka dapat diketahui bahwa dalam memproduksi wortel akan mengalami titik impas (tidak rugi dan tidak untung) apabila saat menjual produk wortel dengan harga Rp 1.970,21 dalam satu periode tanam.

b)     Break Even Point (BEP) Produksi atau Unit

 

 

 

Dari hasil perhitungan BEP unit maka dapat diketahui bahwa dalam memproduksi wortel akan mengalami titik impas (tidak rugi dan tidak untung) apabila saat memproduksi produk wortel sebanyak 97,86 kg dalam satu periode tanam.

  1. 3.    R/C Ratio

Untuk mengetahui kelayakan usaha yang dijalankan oleh Bapak Mahmud, maka dilakukan perhitungan r/c rationya.

 

 

3,98

Sehingga, nilai r/c ratio dari usahatani Bapak Mahmud adalah 3,98.

2)      Data Curah Hujan

 

Tabel 13 data curah hujan

 

 

3)

Dokumentasi


 [E1]TULIS AJA NAMAKU LANGSUNG ENCO RICARDY

 [E2]TOLONG SAMAKAN DENGAN DAFTAR YANG LAIN DALAM PEMBUATANNYA . .

 [E3]APA SEMUA PETA INI DIPAKE DALAM FIELDTRIP?

TULIS PETA YANG DI PAKE SAJA . .

 [E4]TARUH DI BAWAH TABEL DENGAN POSISI DI TENGAH

 [E5]ADA SATUANNYA TIDAK?

 [E6]INI BIAYA AKTUAL APA REKOMENDASI?

 

TOLONG MASUKKAN SEMUA BIAYA YAITU BIAYA AKTUAL DAN REKOMENDASI LALU DIBAHAS DARI DUA BIAYA TERSEBUT

 [E7]TAMBAH LAGI KESIMPULANNYA, KALO MENERUTKU KESIMPULANNYA MASIH KURANG . .

 

JIKA SUDAH DI PERBAHARUI BISA DIKUMPULKAN KE AKU . .

 

TOLONG DI CEK REDAKSIONAL ATAU PENULISAN KATANYA JIKA ADA YANG SALAH DI BENARKAN . .