browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Laporan Besar Praktikum Manajemen Kesuburan Tanah

Posted by on January 17, 2014

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tanah merupakan faktor terpenting dalam tumbuhnya tanaman dalam suatu sistem pertanaman, pertumbuhan suatu jenis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya ialah tersedianya unsur hara, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Tanah sebagai medium pertumbuhan tanaman berfungsi pula sebagai pemasok unsur hara, dan tanah secara alami memiliki tingkat ketahanan yang sangat beragam sebagai medium tumbuh tanaman.

Pupuk adalah bahan yang diberikan kedalam tanah atau tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman dan dapat berfungsi untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia dan biologi tanah. Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif, tekstur, struktur, kelembaban dan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi reaksi tanah (pH tanah), KTK, kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur hara, cadangan unsur hara dan ketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman. Sedangkan biologi tanah antara lain meliputi aktivitas mikrobia perombak bahan organik dalam proses humifikasi dan pengikatan nitrogen udara.

Kesuburan tanah merupakan mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Ada akar yang berfungsi menyerap air dan larutan hara, dan ada yang berfungsi sebagai penjangkar tanaman. Kesuburan habitat akar dapat bersifat hakiki dari bagian tubuh tanah yang bersangkutan, dan/atau diimbas (induced) oleh keadaan bagian lain tubuh tanah dan/atau diciptakan oleh pengaruh anasir lain dari lahan, yaitu bentuk muka lahan, iklim dan musim. Karena bukan sifat melainkan mutu maka kesuburan tanah tidak dapat diukur atau diamati, akan tetapi hanya dapat ditaksir (assessed). Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menghasilkan bahan tanaman yang dipanen.


 

1.2  Tujuan

–          Untuk Mengetahui Kesuburan Tanah

–          Untuk Mengetahui Prinsip Pengelolaan Tanah yang Baik

–          Untuk Mengetahui Hasil Rancangan Percobaan yang dilakukan dengan menggunakan perlakuan Kontrol.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah adalah Suatu keadaan tanah dimana tata air, udara dan unsur hara dalam keadaan cukup seimbang dan tersedia sesuai kebutuhan tanaman, baik fisik, kimia dan biologi tanah.

Menurut (Sutejo.M.M, 2003) Kesuburan tanah adalah kondisi suatu tanah yg mampu menyediakan unsur hara essensial untuk tanaman tanpa efek racun dari hara yang ada.

Tanah yang subur adalah tanah yang mempunyai profil yang dalam (kedalaman yang sangat dalam) melebihi 150 cm, strukturnya gembur remah, pH 6-6,5, mempunyai aktivitas jasad renik yang tinggi (maksimum). Kandungan unsur haranya yang tersedia bagi tanaman adalah cukup dan tidak terdapat pembatas-pembatas tanah untuk pertumbuhan tanaman

Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung sejumlah faktor pembentuk tanah yang merajai di lokasi tersebut, yaitu: bahan induk, iklim, relief, organisme, atau waktu. Tanah merupakan fokus utama dalam pembahasan ilmu kesuburan tanah, sedangkan kinerja tanaman merupakan indikator utama mutu kesuburan tanah.

Kesuburan tanah merupakan mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Ada akar yang berfungsi menyerap air dan larutan hara, dan ada yang berfungsi sebagai penjangkar tanaman. Kesuburan habitat akar dapat bersifat hakiki dari bagian tubuh tanah yang bersangkutan, dan/atau diimbas (induced) oleh keadaan bagian lain tubuh tanah dan/atau diciptakan oleh pengaruh anasir lain dari lahan, yaitu bentuk muka lahan, iklim dan musim. Karena bukan sifat melainkan mutu maka kesuburan tanah tidak dapat diukur atau diamati, akan tetapi hanya dapat ditaksir (assessed).

Penaksirannya dapat didasarkan atas sifat-sifat dan kelakuan fisik, kimia dan biologi tanah yang terukur, yang terkorlasikan dengan keragaan (performance) tanaman menurut pengalaman atau hasil penelitian sebelumnya. Kesuburan tanah dapat juga ditaksir secara langsung berdasarkan keadaan tanaman yang teramati (bioessay). Hanya dengan cara penaksiran yang pertama dapat diketahui sebab-sebab yang menentukan kesuburan tanah. Dengan cara penaksiran kedua hanya dapat diungkapkan tanaggapan tanaman terhadap keadaan tanah yang dihadapinya.

Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menghasilkan bahan tanaman yang dipanen. Maka disebut pula daya menghasilkan bahan panen atau produktivitas. Ungkapan akhir kesuburan tanah ialah hasil panen, yang diukur dengan bobot bahan kering yang dipungut per satuan luas (biasanya hektar) dan per satuan waktu. Dengan menggunakan tahun sebagai satuan waktu untuk perhitungan hasilpanen, dapat dicakup akibat variasi keadaan habitat akar tanaman karena musim (Tejoyuwono, 2006).

 

2.2 Prinsip Pengolahan Tanah yang Baik

Pengolahan tanah bertujuan untuk menyediakan lahan agar siap bagi kehidupan tanaman dengan meningkatkan kondisi fisik tanah karena tanah merupakan faktor lingkungan yang mempunyai hubungan timbal balik dengan tanaman yang tumbuh padanya. Menurut Herawati (2013), pengolahan tanah adalah setiap kegiatan mekanik yang dilakukan terhadap tanah dengan tujuan untuk memudahkan penanaman, menciptakan keadaan tanah yang gembur bagi pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman sekaligus merupakan upaya pemberantasan gulma. Dalam kaitannya dengan konservasi tanah dan air, pengolahan tanah hendaknya dilakukan seperlunya saja. Untuk tanah yang berlereng curam pengolahan tanah sebaiknya diminimumkan, bahkan ditiadakan.

Kegiatan pengolahan tanah biasa atau konvensional (dengan cara mencangkul atau membajak tanah dua kali dan diikuti dengan menghaluskan bongkahan tanah satu atau dua kali sebelum bertanam) lebih banyak bertujuan untuk memberantas gulma. Jika gulma dapat diatasi misalnya dengan penggunaan mulsa atau penggunaan herbisida, maka pengolahan tanah dapat dikurangi atau malah ditiadakan. Keunggulan dari tanaman tahunan adalah bahwa hampir semuanya tanaman ini tidak memerlukan pengolahan tanah. Hal ini dimungkinkan karena setelah tajuknya berkembang menaungi permukaan tanah pertumbuhan gulma akan sangat berkurang.

Olah tanah konservasi adalah suatu sistem pengolahan tanah dengan tetap mempertahankan setidaknya 30% sisa tanaman menutup permukaan tanah. Olah tanah konservasi dilakukan dengan cara:

  1. Pengolahan tanah dalam bentuk larikan memotong lereng atau dengan mencangkul sepanjang larikan untuk memudahkan penanaman.
  2. Tanpa olah tanah adalah sistem di mana permukaan tanah hanya dibersihkan dari gulma baik secara manual maupun dengan menggunakan herbisida.

Sesudah pembersihan, tanaman langsung ditugalkan. Jika penugalan sulit dilakukan, dapat digunakan cangkul untuk memudahkan penanaman. Keuntungan olah tanah konservasi adalah sebgai berikut :

  1. Menghemat tenaga kerja dan biaya
  2. Memperbaiki struktur tanah melalui peningkatan pori makro. Proses ini terjadi karena dengan tanpa olah tanah, fauna (hewan) tanah seperti cacing menjadi lebih aktif (Herawati, 2013).

Faktor lingkungan tanah meliputi:

  1. Faktor fisik (air, udara, struktur tanah serta suhu)
  2. Faktor kimiawi (kemampuan tanah dalam menyediakan nutrisi)
  3. Faktor biologis (makro/mikro flora dan makro/mikro fauna).

Pelaksanaan pengolahan tanah pada prinsipnya adalah tindakan pembalikan, pemotongan, penghancuran, dan perataan tanah. Struktur tanah yang semula padat diubah menjadi gembur, sehingga sesuai bagi perkecambahan benih dan perkembangan akar tanaman. Bagi lahan basah sasaran yang ingin dicapai adalah lumpur halus, yang sesuai bagi perkecambahan benh dan perkembangan akar tanaman. Alat pengolahan tanah mulai yang tradisional sampai modern (mekanisasi).

Berdasarkan tingkat intensifitasnya ada beberapa pengolahan tanah yaitu :

  1. Pengolahan tanah O (Zero Tillage) sering disebut Tanpa Olah Tanah (TOT). Penaburan benih kedelai pada lahan sawah bekas padi tanpa pengolahan tanah terlebih dulu, untuk memanfaatkan kelembaban tanah.
  2. Pengolahan tanah minimum (Mimimum Tillage). Bagian tanah yang diloah hanya pada calon zona perakaran dengan kelembaban dan suhu yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
  3. Pengolahan tanah optimum (Optimum Tillage). Pengolahan hanya dilakukan pada lajur tanaman saja (sistem Reynoso untuk tanaman tebu).
  4. Pengolahan tanah maksimum (Maximum Tillage). Pengolahan secara intensif seluruh areal pertanahan menjadi gembur dan permukaan tanah rata. Makin minim (tidak intensif) cara pengolahan tanah, akan makin mampu menangkal erosi.

Dengan demikian makin mendukung kelestarian kesuburan tanah disamping lebih menghemat biaya dan waktu. Menurut Pawitra (2010) bahwa tujuan pengolahan tanah adalah sebagai berikut :

  1. Pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik karena adanya pengolahan tanah memungkinkan peredaran air, udara dan suhu didalam tanah menjadi lebih baik.
  2.  Meningkatkan sifat-sifat fisik tanah, menjamin memperbaiki struktur danporositas tanah sehingga antara pemasukan air dan pengeluarannyamenjadi seimbang, berarti cepat basah dan optimal yang berarti akan menjamin aktifitas biologi akan menjadi optimal pula.

2.3 Tinjauan Tiap Topik

2.3.1 Cacing Tanah Pontoscolex corethrurus

(Wikimedia, 2013)

Pontoscolex corethrurus merupakan jenis cacing penggali tanah (tipe endogeik) dan merupakan salah satu spesies eksotis. Berdasarkan hasil penelitian di Sumberjaya, Lampung (Dewi. et al.,2006), Pontoscolex corethrurus merupakan salah satu dari 5  spesies cacing tanah yang banyak ditemukan setelah adanya alih guna  lahan hutan menjadi kebun kopi. Dari beberapa hasil penelitian terungkap bahwa Pontoscolex corethrurus memiliki sebaran yang cukup luas di Indonesia.  Cacing ini dapat dijumpai di tanah pertanian, belukar dan lapangan yang ditumbuhi rumput – rumputan (Suin, 2003).

Ciri-ciri cacing tanah Pontoscolex corethrurus adalah sebagai berikut:

  1. Tanda – tanda eksternal

Panjang tubuh 55 – 105 mm, diameter 3,5 – 4,0 mm, jumlah segmen 190 – 209. Warnanya keputih-putihan dengan sedikit kecoklatan. Prostomium dan segmen satu ditarik ke dalam. Seta 4 pasang pada tiap  segmen, dari tipe lumbrisin, seta bagian anterior letak masing – masing pasangannya berdekatan, pada segmen X  dan XI  mulai menjauh, seta bagian ventral tersusun bergantian mendekat – menjauh,  seta bagian posterior lebih besar sehingga lebih jelas kelihatannya. Clitellium pada segmen XV atau XVI sampai segmen dorsal menebal mulai seta b, masih terlihat jelas segmen – segmennya, warnanya kekuningan. Lubang spermateka 3 pasang dan terletak pada 6/7 sampai 8/9 pada seta c. Lubang kelamin jantan pada seta 20/21 atau di belakangnya, di daerah clitellum.

  1. Tanda – tanda internal

Seta 5/6 – 10/11 tebal dan kuat, terutama bagian anteriornya. Spermateka seperti silinder yang ujungnya membesar. Vesika seminalis sangat panjang. Jantung terakhir pada segemen XI. Mempunyai 3 pasang ‘chylesaccus’ pada segmen VII – IX. Megnefridia 1 pasang pada tiap – tiap segmennya.

2.3.2 Pemberian Serbuk Gergaji pada Media Tanam

Media tempat hidup cacing bermacam-macam diantaranya sampah organic, serbuk gergaji, jerami, dan lain-lain. Cacing akan menghasilkan casting yang banyak mengandung unsure hara apabila menggunakan bahan organic yang tepat. Kerja sama cacing tanah dengan mikroorganisme member dampak proses penguraian yang berjalan dengan baik (Sinha, 2009).

Keunggulan menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanam yaitu :

  • Banyak tersedia, karena serbuk gergaji merupakan produk sampingan dari industri pengolahan kayu non kertas.
  • Mudah dibentuk, hanya dengan menambahkan sedikit air maka media serbuk gergaji mampu menyimpan air dalam jumlah banyak.
  • Dapat menyimpan zat hara seperti halnya tanah.
  • Memiliki porositas yang cukup tinggi namun bisa diatur kepadatannya hingga mencapai tingkat porositas dengan mengatur rasio pemberian air.

Serbuk gergaji digunakan sebagai tambahan lapisan bahan organic di atas permukaan substrat sehingga dapat menjadi tempat berlindung bagi cacing tanah (Pontoscolex corethrurus) dari suhu tinggi, disebut juga bedding. Menurut Munroe (2004) bedding yang baik memiliki daya serap yang tinggi terhadap air sehingga dapat menjaga kelembaban, mampu menjaga sirkulasi oksigen, memiliki kandungan protein rendah dan rasio C/N yang tinggi. Pada umumnya cacing tanah lebih menyukai bahan organik berukuran kasar dengan kandungan lignin rendah daripada bahan organik berukuran halus dengan kandungan lignin tinggi.

2.3.3 Keterkaitan Urea dengan Cacing Tanah

Pemberian pupuk urea dapat menambah kandungan unsure nitrogen dalam tanah. Nitrogen digunakan oleh cacing tanah untuk membentuk jaringan tubuh sehingga semakin tinggi N dalam bahan organik tanah akan meningkatkan biomasa cacing tanah (Elvi, 2008).

Organ ekskresi terpenting dari cacing tanah adalah nephridia yang berperan sebagai saringan akumulasi ginjal karena terdapat urea dan ammonia dalam jumlah yang besar. Setidaknya terdapat dua nephridia dalam masing-masing segmen. Nephridia memiliki tiga fungsi dalam ekskresi yaitu filtrasi, reabsorbsi, dan transformasi kimia (Nonna, 2003).

2.3.4 Pengaruh Alih Fungsi Lahan terhadap Populasi Cacing Tanah Pontoscolex corethrurus

Alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian biasanya akan menurunkan keragaman jenis cacing tanah tetapi tidak demikian dengan penelitian Dewi  et al. (2006) di Sumberjaya, Lampung. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa diversitas (jumlah spesies) dan kelimpahan cacing tanah (ekor m-2) pada lahan agroforestri berbasis kopi lebih tinggi dari pada di hutan alami karena masuknya beberapa spesies eksotik seperti  Pontoscolex corethrurus,  Nematogenea panamaensis, Dichogaster saliens  yang semuanya merupakan cacing penggali tanah (ecosystem engineers).  Pontoscolex corethrurus merupakan jenis cacing penggali tanah yang berasal dari Brazilia yang tahan hidup pada kondisi lingkungan yang beragam mulai dari lahan terdegradasi (padang lalang), lahan kopi monokultur, agroforestri  berbasis kopi hingga hutan alami yang telah terganggu. Pada hutan alami yang belum mengalami banyak gangguan manusia, Pontoscolex tidak dijumpai.  Masuknya cacing eksotis ke dalam lahan pertanian diduga melalui pupuk, bibit tanaman, peralatan pertanian dan dari aktivitas pertanian lainnya.

Walaupun kerapatan populasi (kelimpahan) cacing tanah pada lahan agroforestri lebih besar dari pada di lahan hutan namun ukuran tubuh cacing lebih kecil, sehingga hal tersebut tidak diikuti oleh peningkatan jumlah pori makro tanah (Hairiah et al., 2004; Dewi et al., 2007). Kecilnya ukuran tubuh cacing penggali tanah diduga menyebabkan kecilnya ukuran liang yang ditinggalkan sehingga peranan dalam meningkatkan porositas tanah di lahan agroforestri juga menjadi lebih rendah.

 

\

BAB III
METODOLOGI

3.1              Waktu dan Tempat

3.1.1    Waktu

Pengambilan sampel tanah dilakukan pada tanggal 29 September 2013. Untuk penggrindingan sampel tanah dilakukan pada 3 Oktober 2013. Persiapan media tanam dilakukan pada tanggal 17 Oktober 2013. Penanaman dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2013. Pengamatan tanaman dilakukan seminggu sekali selama 7 minggu yaitu mulai pada tanggal 5 November 2013 sampai tanggal 17 Desember 2013. Dengan parameter pengamatannya adalah tinggi tanaman, jumlah daun dan intensitas kerusakan pada setiap perlakuan dan ulangan.

3.1.2    Tempat

Pengambilan sampel kami lakukan di Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Pengamatan tanaman yang diamati berada di Plot Erosi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

3.2              Kondisi Umum Wilayah

Secara geografis Desa Tulungrejo terletak pada posisi 7°21′-7°31′ Lintang Selatan dan 110°10′-111°40′ Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 156 m di atas permukaan air laut.

Secara administratif, Desa Tulungrejo terletak di wilayah Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan Hutan Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang. Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Waturejo. Di sisi Selatan berbatasan dengan Desa Sumberagung/Kaumrejo Kecamatan Ngantang, sedangkan di sisi Timur berbatasan dengan Hutan Kecamatan Pujon.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peta Desa Tulungrejo

 

3.3  Metode Penelitian

3.3.1    Alat dan Bahan

Alat dan Bahan

Fungsi

Alat

Cangkul mengambil tanah
Karung wadah tanah
Polibag wadah percobaan
mesin penggrinding menghaluskan tanah
Ayakan memisah tanah kasar dan halus
alat tulis mencatat pengamatan
Ember wadah tanah sebelum dilakukan penggridingan

Bahan

Tanah media tanam
pupuk anorganik urea sebagai perlakuan
Cacing Sebagai objek pengamatan
Air untuk irigasi tanaman
Jagung sebagai objek pengamatan

 

3.3.2    Analisa Dasar

Jenis analisa

Nilai

Metode

N

 Kjeldhal

P

 Bray 1

K

 NH4OAC

C-Organik

 Walkey& Black

PH

 pH meter

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3.3    Denah Pot Percobaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3.4    Metode Analisis N total, P, K, C-Organik, dan pH

a)      AnalisispH

 


 

b) AnalisisN total

 


 

c)Analisis P Total

 


 

d) Analisis K Total

 

 


 

 

e) Analisis C-Organik


 

f). AnalisaPerlakuan

            Percobaan yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk N terhadap populasi cacing dan pertumbuhan tanaman jagung pada jenis tanah andisol dilaksanakan di kecamatan Ngantang Kabupaten Malang yang dilakukan pada bulan Oktober sampai awal Desember. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas tiga perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan pertama yaitu control, Perlakuan kedua menggunakan serbuk kayu ukuran kasar dan Perlakuan ketiga dengan serbuk kayu ukuran kasar dan urea. Masing masing perlakuan ditempatkan pada polybag percobaan dan diberi masing-masing empat ekor cacing ke dalam polybag. Kemudian pada tanggal 19 Desember 2013 dilakukan analisis Lab untuk mengukur N total, K, P dan pH serta populasi cacing pada polibag.

 

BAB 4

 PEMBAHASAN

4.1.   Hasil

 

 

29 Oktober 2013

 

 

5 November 2013

 

 

 

 

 

 

 

12 November 2013

 

 

19 November 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

26 November 2013

 

 

3 Desember 2013

 

 

 

 

 

 

10 Desember 2013

 

 

17 Desember 2013

 

 

4.2.   Pembahasan

Pada praktikum Manajement Kesuburan Tanah ini, kita menggunakan media tanam yakni tanah yang berasal dari Desa……….. , tanah ini merupakan tanah dari suatu lahan alih fungsi lahan yang awalnya berupa hutan alami menjadi perkebunan kopi tetapi tetap dibawah naungan pohon ……..

Untuk total tanah yang kita ambil sebesar………. Untuk 9 sampel tanah dan uji lab. 9 sampel tersebut masing-masing mempunyai berat tanah sebesar…….. pada 9 sampel tersebut kita memberi 3 perlakuan, jadi ada 3 perlakuan dan 3 ulangan di masing-masing perlakuan.

Pemberian perlakuan dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2013. Untuk perlakuan ke-1 adalah tanah yang diberi 4 cacing tanah jenis anesic di masing-masing ulangan, kemudain untuk perlakuan ke-2 adalah pemberian cacing tanah jenis anesic juga sejumlah 4 buah di masing-masing ulangan dan ditambah kayu gergaji, dan untuk perlakuan ke-3 adalah penambahan cacing tanah jenis yang sama sejumlah 4 buah dan ditambah kayu gergaji+pupuk urea di masing-masing ulangan.

Menurut analisis data hasil pengamatan yang dilakukan mulai tanggal 05 November 2013 menunjukkan bahwa tinggi tanaman memiliki hasil yang berbeda-beda, untuk perlakuan ke-1 ulangan 1 (G2 1.1) tinggi tanaman sebesar 3,7 cm . ualangan 2 (G2 1.2) sebesar 11,3 cm dan ulangan 3 (G2 1.3) sebesar 7 cm, jadi untuk perlakuan ke-1 ini rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 05 November 2013 adalah 7,33 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 di masing-masing ulangan adalah 2 helai dengan Intensitas penyakit masih 0 artinya masih belum ada kerusakan yang disebabkan oleh hama atau faktor yang lain.

untuk perlakuan ke-2 ada sedikit perbedaan dengan perlakuan ke-1. Bisa dilihat untuk  ulangan 1 (G2 2.1) tinggi tanaman sebesar 6 cm ulangan 2 (G2 2.2) sebesar 8 cm dan ulangan 3 (G2 2.3) sebesar 8,6 cm, jadi untuk perlakuan ke-2 ini rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 05 November 2013 adalah 7,53 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 ulangan 1 (G2 2.1) adalah 1 helai dan ulangan 2 dan 3 masing-masing 2 helai dengan Intensitas penyakit masih 0 artinya masih belum ada kerusakan yang disebabkan oleh hama atau faktor yang lain.

Selanjutnya untuk perlakuan ke-3 ulangan 1 (G2 3.1) tinggi tanaman sebesar 8 cm . ualangan 2 (G2 3.2) sebesar 9 cm dan ulangan 3 (G2 3.3) sebesar 9,3 cm, jadi untuk perlakuan ke-3 ini rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 05 November 2013 adalah 8,76 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 di masing-masing ulangan adalah 2 helai dengan Intensitas penyakit masih 0 sama seperti perlakuan 1 dan 2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk pengamatan pada tanggal 05 November 2013 ini hasil tinggi tanaman yang paling tinggi adalah pada perlakuan ke-3.

Untuk pengamatan pada tanggal 12 November 2013, menunjukkan bahwa tinggi tanaman rata-rata naik, untuk perlakuan ke-1 ulangan 1 (G2 1.1) tinggi tanaman sebesar 18 cm . ualangan 2 (G2 1.2) sebesar 23,5 cm dan ulangan 3 (G2 1.3) sebesar 22,67 cm, jadi untuk rata-rata tinggi tanaman perlakuan ke-1 pada tanggal 12 November 2013 adalah 21,39 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 di masing-masing ulangan adalah 4 helai dengan Intensitas penyakit masih 0. Untuk perlakuan ke-2 rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 12 November 2013 adalah 18,21 cm. Sedangkan untuk perlakuan ke-3 rata-rata tinggi tanaman adalah 21,82 cm. jadi untuk tinggi tanaman jagung pada pengamatan minggu ke-2 ini tetap tertinggi adalah pada perlakuan ke-3.

Selanjutnya pada pengamatan tanggal 19 November 2013, didapatkan hasil tinggi tanaman pada perlakuan pertama dengan tiga ulangan (G2 1.1 ;G2 1.2 dan G2 1.3) adalah 26,3cm ; 30,3cm dan 29cm. Sedangkan pada perlakuan ke dua dengan tiga kali ulangan (G2 2.1 ; G2 2.2 dan G2 2.3) didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturut-turut adalah 19,3cm ; 30cm dan 29cm. Dan pada perlakuan ke tiga dengan tiga kali ulangan (G2 3.1 ; G2 3.2 dan G2 3.3) didapatkan hasil tinggi tanaman yang ditunjukkan dengan nilai secara berturut-turut adalah 31cm ; 29cm dan 29,3cm. Rata-rata tinggi tanaman dari perlakuan 1,2 dan 3 secara berturu-turut adalah 28,53cm ; 26.1cm dan 29,76cm. sedangkan untuk pengamatan jumlah daun yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa rata-rata jumlah daun adalah 4 sampai 5 helai.

Pengamatan pada tanggal 26 November 2013, menunjukkan hasil pada perlakuan 1 ulangan 1 (G2 1.1) tinggi tanaman yang ditunjukkan sebesar 26,67cm, pengamatan pada ualangan 2 (G2 1.2) tinggi tanaman yang didapatkan sebesar 38,67cm dan ulangan 3 (G2 1.3) didapatkan tinggi tanaman sebesar 32cm, dan rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan pada perlakuan pertama ini adalah 32,45cm. Untuk perlakuan ke 2 , pada ulangan 1 (G2 2.1) didapatkan tinggi tanaman 22,3cm , pengamatan pada ulangan ke 2 (G2 2.2) didapatkan hasil 35cm, dan pada ulangan ke 3 (G2 2.3) didapatkan 34,67cm. Rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan dari perlakuan ke 2 ini adalah 30,66. Pada perlakuan ke 3 ulangan pertama (G2 3.1) didapatkan hasil tinggi tanaman 33cm, ulangan ke 2 (G2 3.2) tinggi tanaman yang ditunjukkan adalah 33,3cm, dan pada ulangan ke 3 (G2 3.3) didapatkan hasil tinggi tanaman sebesar 36,67. Rata-rata yang ditunjukkan pada perlakuan ke 3 ini adalah 34,32cm. Hasil yang didapatkan untuk rata-rata jumlah daun pada perlakuan 1 sampai 3 didapatkan hasil secara berturut-turut adalah 15 helai daun.

Berbeda pada tanggal 03 Desember 2013, hasil pengamatan didapatkan hasil tinggi tanaman pada perlakuan pertama dengan tiga ulangan (G2 1.1 ;G2 1.2 dan G2 1.3) adalah 38,3cm ; 43cm dan 49,5cm. Sedangkan pada perlakuan ke dua dengan tiga kali ulangan (G2 2.1 ; G2 2.2 dan G2 2.3) didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturut-turut adalah 33cm ; 39,3cm dan 33,67cm. Dan pada perlakuan ke tiga dengan tiga kali ulangan (G2 3.1 ; G2 3.2 dan G2 3.3) didapatkan hasil tinggi tanaman yang ditunjukkan dengan nilai secara berturut-turut adalah 34,67cm ; 48,67cm dan 47,3cm. Rata-rata tinggi tanaman dari perlakuan 1,2 dan 3 secara berturu-turut adalah 43,6cm ; 35,32cm dan 43,55cm. Hasil pengamatan jumlah daun yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa rata-rata jumlah daun pada perlakuan 1 adalah 6 helai daun, pada perlakuan ke 2 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun sebanyak 6 helai daun , dan pada perlakuan ke 3 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun adalah 7 helai daun.

Pada pengamatan yang dilakukan pada tanggal 10 Desember 2013 didapatkan hasil tinggi tanaman pada perlakuan 1 ulangan 1 (G2 1.1) adalah 38,8cm. Pada ulangan ke 2 (G2 1.2) didapatkan hasil tinggi tanaman yaitu 47,3cm , dan ulangan ke 3 (G2 1.3)  didapatkan hasil tinggi tanaman adalah 53,4cm. Pada pengamatan perlakuan ke 2 didapatkan hasil dari ulangan pertama(G2 2.1) , ulangan ke 2 (G2 2.2) dan ulangan ke 3 (G2 2.3) didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturu-turut adalah 40,5cm ; 49cm ; dan 36,6cm. Sedangkan pada perlakuan ke 3 didapatkan data tinggi tanaman pada ulangan pertama (G2 3.1) adalah 40,3cm , pada ulangan ke 2 (G2 3.2) didapatkan hasil tinggi tanaman 47,8 dan pada ulangan ke 3 (G2 3.1) didapatkan hasil 50,3cm . Dimana rata-rata tinggi tanaman yang ditunjukkan dari tiap-tiap perlakuan secara berturut-turut dari perlakuan 1 sampai perlakuan 3 adalah 46,5cm ; 42,03cm ; 46,16cm. hasil dari pengamatan jumlah daun didapatkan hasil rata-rata jumlah daun dari 3 perlakuan didapatkan hasil bahwa perlakuan 1 dan perlakuan 2 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun sebanyak 6 helai, sedangkan rata-rata jumlah daun yang ditunjukkan pada perlakuan ke 3 adalah 7 helai daun.

Pengamatan terakhir dilakukan pada tanggal 17 Desember 2013, didapatkan hasil dari tinggi tanaman perlakuan 1 ulangan 1 (G2 1.1) adalah 39cm. hasil yang didapatkan dari ulangan ke 2 (G2 1.2) adalah 53,67cm, dan pada ulangan ke 3 (G2 1.3) didapatkan hasil tinggi tanaman sebesar 41,35cm. Pada perlakuan 2 ulangan ke 1 (G2 2.1) hasil tinggi tanaman yang didapatkan adalah 53cm, pada ulangan ke 2 (G2 2.2) didapatkan hasil 64,33cm dan pada ulangan ke 3 (G2 2.3) adalah 39,67cm. Sedangkan pada perlakuan ke 3 dari ulangan pertama hingga ulangan ke tiga didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturut-turut ditunjukkan dengan nilai 49,67cm ; 44,33cm dan 52,75cm . Rata-rata tinggi tanaman yang ditunjukkan pada perlakuan pertama adalah 44,67cm. Rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan pada perlakuan ke 2 adalah 52,33cm. Dan rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan pada perlakuan ke 3 adalah 48,92cm. Pada pengamatan jumlah daun dari tiap-tiap perlakuan didapatkan hasil pada perlakuan pertama adalah 3 helai daun. Pada perlakuan ke 2 didapatkan rata-rata jumlah daun sebanyak 1 helai , dan pada perlakuan ke 3 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun sebanyak 3 helai daun.

Pada pengamatan minggu pertama hingga minggu akhir pengamatan tinggi tanaman selalu mengalami perubahan dimana setiap polybag memiliki tinggi yang berbeda beda ( bisa dilihat pada tabel/ grafik pengamatan) ini bisa terjadi karena adanya perawatan secara berkala disetiap minggunya,dan juga pemberian air yang selalu rutin meskipun musim hujan juga sedikit banyak mempengaruhi pertumbuhan jagung. Selain penyiraman faktor lain yang bisa menyebabkan perbedaan tinggi tanaman yaitu penambahan serbuk gergaji dan jumlah cacing pada setiap polybagnya, serbuk gergaji bisa menambah kesuburan bagi tanah dan menambah unsur hara pada tanah. Namun seresah dari serbuk gergaji ini membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk terdekomposisi. Pada minggu awal pertumbuhan jagung belum nampak adanya tanda-tanda kerusakan pada daun jagung, tinggi tanaman dipengaruhi oleh kandungan unsur hara yang terdapat pada media tanam, selain itu faktor seperti suhu,kelembaban  jug sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman jagung. Setiap polybag berisikan 3 benih jagung yang masinng-masing polybag mempunyai tinggi yang berbeda. Artinya bahwa setiap benih mempunyai kecepatan daya berkecambah yang berbeda antara benih satu dengan yang lainnya.

Dari interpretasi data diatas mulai tanggal 05 November sampai 17 Desember 2013, rata-rata untuk tinggi tanaman paling tinggi adalah perlakuan ke-3 yakni dengan penambahan cacing, serbuk gergaji dan penambahan urea, kemudian untuk perlakuan ke-1 dan ke-2 rata-rata tinggi tanaman tidak berbeda jauh, dan selanjutnya untuk jumlah cacing sendiri yang awalnya pada setiap ulangan baik pada perlakuan 1,2 dan 3 masing-masing 4 buah. Yang terjadi penambahan jumlah cacing adalah pada perlakuan 1 ulangan 2 (G21.2) yakni ada penambahan 2 buah cacing jadi total ada 6 cacing. Dan penambahan pada perlakuan 3 ulangan 2 (G2 3.2) sebanyak 3 buah jadi total 7 buah. Dari analisis pengamatan perbedaan tinggi tanaman jagung yang signifikan pada perlakuan ke-3 dikarenakan memang tanaman jagung yang merupakan salah satu jenis tanaman yang membutuhkan banyak unsur N pada perkembangannya, Urea yang diberikan pada perlakuan ke-3 nampaknya menajadi indicator perubahan tinggi tanaman ditambah dengan adanya cacing tanah dimana kotoran cacing tanah itu sendiri mengandung unsur N yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung dan cacing tanah juga dapat berperan dalam proses dekomposisi bahan organik, dan penyampuran bahan organik tersebut dengan tanah. Cacing tanah juga berperan dalam peningkatan aerasi tanah, karena aktivitas mereka dalam membuat lubang dalam tanah.

          Pernyataan diatas sesuai dengan literatur, yang dijelaskan oleh Edwards dan Lofty (1977), Bahwa cacing memang dapat menambah bahan organik karena cacing tanah berperan dalam dekomposisi, dan cacing tanah juga menambah aerasi karena cacing tanah yang berpindah-pindah. Oleh karena itu cacing dapat juga dijadikan indikasi tanah sehat. Dari cacing yang diberikan awal pertanaman yaitu 4 cacing, pada hasil akhir pengamtan, cacing mengalami perubahan jumlah, yaitu yang bertambah   pada  perlakuan ketiga yang merupakan perlakuan penambahan serbuk  kayu dan urea, bertambah mejadi  7, lalu pada  kontrol, bertamabah menjadi 6 cacing, sedangkan perlakuan yang serbuk kayu saja, mengalami penurunan.  HIPOTESIS. Jadi ini cocok atau tidak.

 

 

 

 

 

 

Lampiran

Tanggal Pengamatan Perlakuan Tinggi Tanaman Jumlah Daun Jumlah Cacing Intensitas Kerusakan
29 Oktober 2013 G2  1.1 4
G2  1.2 4
G2  1.3 4
G2  2.1 4
G2  2.2 4
G2  2.3 4
G2  3.1 4
G2  3.2 4
G2  3.3 4
05 November 2013 G2  1.1 3.7 cm 2 0
G2  1.2 11.3 cm 2 0
G2  1.3 7 cm 2 0
G2  2.1 6 cm 1 0
G2  2.2 8 cm 2 0
G2  2.3 8.6 cm 2 0
G2  3.1 8 cm 2 0
G2  3.2 9 cm 2 0
G2  3.3 9.3 cm 2 0
12 November 2013 G2  1.1 18 cm 4 0
G2  1.2 23.5 cm 4 0
G2  1.3 22.67 cm 4 0
G2  2.1 14.5 cm 3 0
G2  2.2 19.83 cm 4 0
G2  2.3 20.3 cm 3 0
G2  3.1 21.33 cm 4 1
G2  3.2 22.83 cm 4 1
G2  3.3 21.3 cm 3 0
19 November 2013 G2  1.1 26.3 cm 4 2
G2  1.2 30.3 cm 5 3
G2  1.3 29 cm 4 2
G2  2.1 19.3 cm 4 2
G2  2.2 30 cm 5 2
G2  2.3 29 cm 5 0
G2  3.1 31 cm 5 2
G2  3.2 29 cm 4 3
G2  3.3 29.3 cm 5 0
26 November 2013 G2  1.1 26.67 cm 4 2
G2  1.2 38.67 cm 6 3
G2  1.3 32 cm 5 2
G2  2.1 22.3 cm 4 3
G2  2.2 35 cm 6 2
G2  2.3 34.67 cm 5 0
G2  3.1 33 cm 5 2
G2  3.2 33.3 cm 5 3
G2  3.3 36.67 cm 5 0
03 Desember 2013 G2  1.1 38.3 cm 5 2
G2  1.2 43 cm 7 3
G2  1.3 49.5 cm 7 2
G2  2.1 33 cm 5 3
G2  2.2 39.3 cm 8 2
G2  2.3 33.67 cm 5 3
G2  3.1 34.67 cm 6 2
G2  3.2 48.67 cm 8 3
G2  3.3 47.3 cm 7 2
10 Desember 2013 G2  1.1 38.8 cm 5 3
G2  1.2 47.3 cm 7 4
G2  1.3 53.4 cm 5 3
G2  2.1 40.5 cm 7 3
G2  2.2 49 cm 6 2
G2  2.3 36.6 cm 6 3
G2  3.1 40.3 cm 6 2
G2  3.2 47.8 cm 7 3
G2  3.3 50.37 cm 8 4
17 Desember 2013 G2  1.1 39 cm 6 2
G2  1.2 53.67 cm 7 6
G2  1.3 41.35 cm 5 1
G2  2.1 53 cm 7 0
G2  2.2 64.33 cm 7 1
G2  2.3 39.67 cm 6 2
G2  3.1 49.67 cm 6 1
G2  3.2 44.33 cm 7 7
G2  3.3 52.75 cm 8 0

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

B.n. Richards. 1974. Introduction to the Soil Ecosystem.(journal online).

Brady, N.C. 1990. The Nature and Properties of Soil. Mac Millan Publishing Co., New York.

Dewi, S. W., Yanuwiyadi B., Suprayogo, D. dan Hairiah, K. 2007. Dapatkah sistem agroforestri mempertahankan  diversitas cacing tanah setelah alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian? AGRIVIT A , 28 (3) : 198-220.

Hairiah, K., Suprayogo, D., Widianto, Berlian, Suhara, E., Mardiastuning, A., Widodo, R. H., Prayogo, C. dan Rahayu, S., 2004. Alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian: ketebalan seresah, populasi cacing tanah dan makroporositas tanah. AGRIVITA, 26 (1): 68-80.

Herawati, D. 2013. Olah tanah konservasi (olah tanah minimum dan tanpa olah tanah). http://blog.ub.ac.id/hierra/2012/03/28/olah-tanah-konservasi-olah-tanah-minimum-dan- tanpa-olah-tanah/. Diakses tanggal 22 Desember 2013.

Letik, Elvi, S. 2008. Respon Cacing Tanah (Pontoscolex corethrurus) terhadap Penambahan Berbagai Kualitas dan Ukuran Bahan Organik. Jurusan Tanah Universitas Brawijaya. Malang.

Munroe, G. 2004. Manual of On-Farm Vermicomposting and Vermiculture. Organic Agriculture Center. Canada.

Pawitra, N. H. 2010. Penolahan tanah. http://www.scribd.com/doc/94641958 /pengolahan-tanah. Diakses tanggal 22 Desember 2013.

Royhanna, Nonna. 2003. Pengaruh Taraf Ampas Tahu dalam Media Serbuk Sabut Kelapa terhadap Panjang, Diameter Tubuh Cacing Tanah. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Santoso, E., T. Prihartini, dan S. Widati. 1999. Pengaruh Pemanfaatan Jerami dan Inokulan Mikrobia Terhadap Sifat Kimia Tanah dan Hasil Padi. Bandung: Konggres Nasional VII. HITI.

Santoso, P. and Ahmad Safrudin. 1991. Dampak Pembangunan Terhadap Tanah, Tataguna Lahan dan Tata ruang. Bandung.

Scholes, M.C., Swift, O.W., Heal, P.A. Sanchez, JSI., Ingram and R. Dudal, 1994. Soil Fertility Research In Response To Demand For Sustainability. In The Biological Managemant Of Tropical Soil Fertility (Eds Woomer, Pl. and Swift, MJ.) John Wiley & Sons. New York.

Sinha, R. K. 2009. Earthworms Vermicompost: A Powerfull Crop Nutrient Over the Conventional Compost & Protective Soil Conditioner Against the Destructive Chemical Fertilizers for Food Safety and Security. Am-Euras. J. Agric. & Environ. Sci., Vol. 5, (01-55).

Stevenson, F.J., Alanah Fitch. 1997. Kimia pengkomplekan ion logam dengan organik larutan tanah. In Interaksi Mineral Tanah dengan Bahan Organik dan Mikrobia. (Eds Huang P.M. and Schnitzer, M.) (Terj. Didiek Hadjar Goenadi), pp. 41-76. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Suin, N. M. 2003. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Bandung.

Sutejo.M.M, 2003. Pupuk dan Cara Pemupukan. Jakarta: Rineka Cipta.

Tian, G., L. Brussard, B.T., Kang and M.J. Swift. Soil Fauna-Mediated Decomposition Of Plant Residues Under Contreined Environmental And Residue Quality Condition. In Driven by Nature Plant Litter Quality and Decomposition, Department of 30 Biological Sciences. (Eds Cadisch, G. and Giller, K.E.), pp. 125-134. Wey College, University of London, UK.