browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

Hama Penyakit Pada Tanaman Kapas

Posted by on January 17, 2014

Hama dan Penyakit Kapas

Tanaman kapas merupakan tanaman penghasil serat yang merupakan bahan baku industri tekstil. Sampai saat ini peranannya masih lebih besar di banding serat sintensis, terutama di Negara yang beriklim tropis.
Pengembangan tanaman kapas belum memadai kerena rendahnya produktivitas yang di capai, sehingga sulit bersaing dengan komoditas lain.
Rendahnya produktivitas ini terutama di sebabkan karena berbagai kendala baik masalah teknis maupun non teknis yang belum dapat di atasi. Masalah teknis terutama karena belum di terapkannya paket teknologi sesuai anjuran. Untuk melakukan penanaman kapas yang baik maka perlu dilakukan pemupukan dengan baik.
Untuk melakukan penanaman kapas yang baik maka selain perlu dilakukan persiapan lahan, penanaman dan pemupukan, Penyiangan/ Pembubunan, dan Pengairan, perlu pula dilakukan pengendalian hama dan penyakit..

Hama
Hama utama yang biasa menyerang tanaman kapas adalah jenis hama penghisap daun seperti Aphis, Empoasca, Kutu Kebul, Dyadercus cingulatus. Dan hama ulat buah Heliothis. Pengendalian hama tersebut dengan menggunakan insektisida sistemik yang tersedia di kios saprodi.

Penyakit

Penyakit yang biasa menyerang tanaman kapas adalah : Leaf spot, root rot, bool rot, wilt, dll.

Pengendalian Hama dan Penyakit
Pengendalian penyakit dilakukan denganp penyemprotan dilakukan di pagi hari dengan ketentuan :
Pengendalian hama Empoasca, Aphis, Kutu Kebul, Kupu-Kupu Putih
pada waktu penanaman atau segera setelah berkecambah dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida sistemik atau fungisida granular dengan dosis 12,5 kg/ha atau 1-2 gram/ lubang. Pada hari ke 15 dapat menggunanakan insektisida sistemik dengan dosis sesuai anjuran yang tertera di dalam label.
Ulangi penyemprotan setiap 10 hari dengan mempertimbangkan keadaan penyerangan atau perusakan oleh hama.
Ketika terjadi serangan Ulat buah yang berat, haruslah di berikan penyemprotan insektisida dengan dosis sesuai rekomendasi pabrik.
Jika turun hujan setelah penyemprotan akan menyebabkan hasil penyemprotan kurang efektif atau tidak berguna. Oleh karena itu sebelum penyemprotan harus memperhatikan keadaan cuaca. Jika cuaca hujan, agar penyemprotan efektif/berguna harus menggunakan bahan perekat.

Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu
Pencegahan agar tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit dapat dilakukan dengan melakukan pengendalian hama dan penyakit secara terpadu dengan cara antara lain:
Hindari lahan-lahan dimana sering di temukan serangan serangga tanah atau pathogen tanah.
Untuk mengurangi serangan pathogen tanah lakukan rotasi tanaman dengan sorgum atau jagung/kapas, kapas/padi/kapas atau kapas/sorgum (jagung)/padi.
Pengolahan tanah agak dalam serta membakar sisa-sisa tanaman dapat mengurangi penyakit, hama dan gulma.
Tanaman yang mengalami kekurangan hara, atau kelebihan hara terutama unsur N bisa menyebabkan kapas rentan terhadap hama. Karena itu perlu pemupukan berimbang untuk NPK dan unsur-unsur makro
Penggunaa varietas resisten adalah teknik pengendalian hama, penyakit yang termurah.
Waktu tanam yang optimum akan memberikan kondisi tumbuh yang meningkatkan ketahanan atau menghindarkan tanaman dari serangan hama.
Populasi tanaman terlalu tinggi dapat menimbulkan kondisi mikro yang menguntungkan bagi perkembangan hama.
Penanaman jagung akan menarik ngengat H. armigera untuk meletakkan telur pada sabut-sabut jagung, demikian juga penanaman kacang hijau akan memperbanyak musuh-musuh alami yang dapat menekan populasi hama tersebut
Penghacuran/pemberantasan sisa-sisa tanaman kapas merupakan kekhususan untuk mengendalikan hama P.gossypiella. untuk itu perlu regulasi/undang-undang yang mengharuskan petani menghancurkan sisa-sisa tanaman tersebut.

(Shalimar Andaya Nia)
Sumber: Departemen Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan, Petunjuk Teknis Budidaya Kapas, Jakarta, 1996.