LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN KOMODITAS : CABAI MERAH (Capsicum annuum L)

Posted by Hadi Susilo (Adhie Abu Fatih Al Junayd) on February 20, 2013

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI TANAMAN

KOMODITAS : CABAI MERAH (Capsicum annuum L)

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

  1. Ghassani Anggiah                   ( 115040200111082 )
  2. Haniatur Rochifah                  ( 115040200111111 )
  3. Harlianti Ratna                        ( 115040201111312 )
  4. Hadi Susilo                             ( 115040213111030 )

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

KELAS H

 

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS PERTANIAN

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN

MALANG

2012

Lembar Pengesahan

Judul Laporan             : Praktikum Teknologi Produksi Tanaman Cabai

Nama dan NIM           : 1. GHASSANI ANGGIAH             115040200111082

2.HANIATUR ROCHIFAH                       115040200111111

3.HARLIANTI RATNA                  115040201111312

4 HADI SUSILO                             115040213111030

Progam Studi              : AGROEKOTEKNOLOGI

 

 

Menyetujui

 

Asisten Kelas                                                                          Asisten Lapang

 

Achmad Baihaqi                                                                Alfian Trisna Ardianto

NIM. 0810480001                                                             NIM. 105040201111069

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

     Cabai merupakan tanaman perdu dari family terung-terungan (solanaceae). Keluarga ini diduga memiliki sekitar 90 genus dan sekitar 2.000 spesies yang terdiri dari tumbuhan herba, semak, dan tumbuhan kerdil lainnya. Dari banyaknya spesies tersebut, hampir dapat dikatakan sebagian besar merupakan tumbuhan negeri tropis. Namun yang dapat dimanfaatkan hanya beberapa spesies saja. Diantaranya adalah kentang (Solanum tuberosum), cabai (Capsicum annum), dan tembakau (Nicotiana tabacum). Daerah sentra penanaman cabai di Indonesia tersebar mulai dari Sumatra Utara sampai Sulawesi Selatan. Di daerah Sumatra utara meliputi : Langkat, Deli, Sedang, tanah karo, Simanulung, tapanuli selatan. Hanya mengendalikan populasi tanaman yang tinggi tanpa diimbangi dengan penerapan teknologi.

Tanaman cabai sudah lama dikenal oleh masyarakat sebagai pemberi rasa pedas pada masakan atau makanan. Oleh karena itu, tanaman ini identic dengan rasanya yang pedas. Cabai digolongkan menjadi cabai besar (Capsicum annum) dan cabai kecil (Capsicum frutescens) yang lebih dikenal dengan cabai rawit. Tanaman cabai banyak diserang oleh hama dan penyakit. Baik di persemaian sampai ditanam ke lapangan. Salah satu penyakit yang menyerang adalah penyakit Fusarium oxysporum. Cara pengendalian yang paling baik tidak hanya memperhatikan kepada pengendalian satu atau beberapa jenis hama dan penyakit, tetapi sebaiknya harus dengan cara pengelolaan tanaman secara terpadu.

Praktikum teknologi produksi tanaman (TPT) ini dilakukan karena melihat pembudidayaan tanaman cabai yang cukup mudah dan memiliki harga ekonomis tinggi seperti yang dijelaskan pada paragraf diatas, sehingga peluang bisnisnya cukup menjanjikan. Selain itu, tanaman cabai sudah lama dikenal oleh masyarakat sebagai pemberi rasa pedas pada masakan atau makanan. Oleh karena itu, praktikum ini dilakukan untuk memberikan pengetahuan dan bekal kepada mahasiswa agar kelak ketika sudah lulus sarjana bisa mengembangkan budidaya tanaman terutama tanaman cabai.

 

 

 

 

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Klasifikasi dan Morfologi

a.  Klasifikasi Komoditas

Kingdom         : Plantae

Divisio             : Magnoliophyta

Class                : Magnoliopsida

Ordo                : Solanales

Family             : Solanaceae

Genus              : Capsicum

Spesies             : Capsicum annum L.

 

b.  Morfologi Komoditas

Cabai merah (Capsicum annuum L.) termasuk dalam keluarga terong-terongan atau solanaceae yang berasal dari daerah tropika dan subtropika benua Amerika yang tepatnya Amerika Selatan dan Amerika Tengah termasuk Mexico.Mexico dipercaya sebagai pusat asal penyebaran cabai merah yang masuk ke Indonesia pada abad ke – 16 oleh penjelajah Portugis dan Spanyol. Tanaman ini juga tersebar di daerah-daerah tropika lainnya (Dirjen Hortikultura. 1999).

Terdapat 5 ( lima) species domestik dari genus Capsicum yaitu Capsicumm annuum, Capsicum frutescencens, Capsicum baccatum, Capsicum pubescens, dan Capsicum chinensis, dan sekitar 25 species liar. (Poulos, 1994). Dari kelima species tersebut C. annuum ( cabai besar, keriting, paprika) dan C. frutescens (cabai rawit) adalah merupakan species yang paling popular dan memiliki prospek ekonomi yang tinggi (Prajmanta,2005).

Cabai besar (C. annuum) atau lombok besar memiliki banyak varitas yang beberapa diantaranya dikenal di Indonesia antara lain cabai merah (var. longum), cabai bulat ( var. grossum), cabai hijau (var. annuum). Beberapa varitas komersil yang banyak di budidayakan di Indonesia adalah : CTH -01 hibrida, Papiraus Hibrida, Arimbi -513

 

 

hibrida, Nenggala Hibrida, Tit Super Cabai Besar, Gada F1 Cabai besar hibrida, Prabu F1 Cabai Besar hibrida, Taro F1 Keriting hibrida. Walaupun varitas cabai besar cukup banyak, tetapi ciri umumnya seragam seperti batangnya tegak mencapai ketinggian 50 – 90 cm bahkan dapat mencapai 120 cm (Sodiq,dkk,2008). Posisi bunga menggantung dengan warna mahkota putih dengan 5 – 6 helai daun mahkota dengan panjang 1 – 1,5 cm dan lebar sekitar 0,5 cm. panjang tangkai bunganya 1 – 2 cm. Bunga tersebut terdapat pada ruas daun dengan jumlah yang bervariasi antara 1 – 8 bunga tiap ruas, dimana species C. annuum mempunyai satu bunga tiap ruas, sehingga potensi tanaman cabai dalam menghasilkan bunga sejumlah 500 buah, namun sampai saat ini dengan perawatan yang tepat hanya mampu menghasilkan buah sebanyak lebih kurang 263 buah (Prajmanta,2005).

 

2.2       Syarat Tumbuh

 

  1. Suhu

Suhu udara yang baik bagi pertumbuhan tanaman cabai adalah antara 24oC – 27oC, sedangkan suhu udara yang optimal bagi pembentukan buah adalah 16oC – 23oC. Perbedaan antara suhu siang dan suhu malam yang terlalu nesar kurang menguntungkan bagi pembentukan bunga dan warna buah cabai.

  1. Curah Hujan

Curah hujan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan produksi buah cabai. Curah hujan yang ideal untuk bertanam cabai adalah 1.000 mm/tahun. Curah hujan yang rendah menyebabkan tanaman kekeringan dan membutuhkan air untuk penyiraman. Sebaliknya, curah hujan yang tinggi bisa merusak tanaman cabai serta membuat lahan penanaman becek dan kelembapannya tinggi.

Kelembapan yang cocok bagi tanaman cabai berkisar antara 70-80%, terutama saat pembentukan bunga dan buah. Kelembapan yang melebihi 80% memacu pertumbuhan cendawan yang berpotensi menyerang dan merusak tanaman. Sebaliknya, iklim yang kurang dari 70% membuat cabai kering dan mengganggu pertumbuhan generatifnya, terutama saat pembentukan bunga, penyerbukan, dan pembentukan buah.

  1. Cahaya

Untuk dapat berproduksi maksimal, tanaman cabai menghendaki tempat yang terbuka dan tidak ternaungi. Oleh karena itu, tanaman ini sangat cocok dibudidayakan di sawah atau tegal. Namun, tanaman cabai juga dapat hidup di pekarangan dan mendapat sedikit naungan dari tanaman lain. Tanaman cabai bukan merupakan tanaman hari panjang, hanya memerlukan sinar matahari selama 9 jam per hari.

  1. Jenis Tanah, pH Tanah, dan Ketinggian Lahan

Sebenarnya, cabai menyukai tanah yang gembur dan banyak mengandung unsur hara. Cabai tumbuh optimal di tanah regosol dan andosol. Penambahan bahan organik, seperti pupuk kandang dan kompos, saat pengolahan tanah atau sebelum penanaman dapat diaplikasikan untuk memperbaiki struktur tanah serta mengatasi tanah yang kurang subur atau miskin unsur hara.

Sebaiknya, pilih lahan penanaman yang agak miring untuk menghindari genangan air. Namun, tingkat kemiringan lahan tidak lebih dari 25%. Lahan yang terlalu miring menyebabkan erosi dan hilangnya pupuk, karena tercuci oleh air hujan. Tanah yang terlalu datar harus dibuatkan saluran pembuangan air.

Kadar keasaman (pH) tanah yang cocok untuk penanaman cabai secara intensif adalah 6-7. Tanah dengan pH rendah atau asam harus dinetralkan dulu dengan cara menebarkan kapur pertanian. Sebaliknya, tanah yang terlalu basa atau pH-nya tinggi bisa dinetralkan dengan cara menaburkan belerang ke lahan penanaman.

Saat ini ketinggian lahan tidak lagi menjadi masalah untuk menanam cabai. Secara umum, cabai bisa ditanam pada ketinggian lahan dari 1-2.000 m dpl. Ketinggian tempat berpengaruh pada jenis hama dan penyakit yang menyerang cabai. Di dataran tinggi, penyakit yang menyerang biasanya disebabkan oleh cendawan atau jamur. Sedangkan di lahan dataran rendah biasanya penyakit yang menyerang dipicu oleh bakteri (Pitojo,2003).

2.3       Teknik Budidaya

  1.             Persiapan Lahan

Pengolahan tanah dilakukan secara sempurna dengan mencangkul untuk membersihkan lahan dari kotoran akar bekas tanaman lama dan segala macam gulma yang tumbuh. Hal tersebut dilakukan agar pertumbuhan akar tanaman cabai tidak terganggu dan untuk menghilangkan tumbuhan yang menjadi inang hama dan penyakit.  Selanjutnya lahan dibajak dan digaru dengan hewan ternak ataupun dengan bajak traktor. Pembajakan dan penggaruan bertujuan untuk menggemburkan, memperbaiki aerasi tanah dan untuk menghilangkan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang bersembunyi di tanah.

Selain persiapan tersebut di atas ada beberapa tahapan yang perlu diperhatikan sebagai berikut.

1. pH tanah diusahakan 6 – 7, apabila pH kurang lakukan penaburan kapur pertanian atau dolomit untuk meningkatkan pH. Tanah yang terlalu asam akan menyebabkan daun cabai

berwarna putih kehijauan, serta rentan terhadap serangan virus dan penyebab penyakit lainnya. Pengukuran pH tanah juga perlu dilakukan dengan alat pH meter atau dengan kertas lakmus. Untuk menaikkan pH tanah dilakukan pengapuran lahan menggunakan dolomit atau kapur gamping dengan dosis 2 – 4 t/ha atau 200 – 400 g/m2 tergantung pH tanah yang akan dinaikkan. Kapur diberikan pada saat pembajakan atau pada saat pembuatan bedengan bersamaan dengan sebar kompos atau pupuk kandang.

2. Setelah tanah diolah sempurna dibuat bedengan dengan ukuran lebar 100 – 110 cm, tinggi bedengan 40 – 60 cm, jarak antar bedengan 80 cm, panjang bedengan 10 – 12 m atau disesuaikan lebar parit, dan lebar parit 50 – 60 cm. Mengingat sifat tanaman cabai yang tidak bisa tergenang air, maka dalam pengaturan/ploting bedengan dan pembuatan parit harus ada saluran drainase yang baik.

3.  Pupuk kandang, dosis pupuk yang diberikan disesuaikan dengan kondisi lahan, tanah dan varietas/jenis tanaman cabai.

4.  Bedengan untuk tanaman cabai bisa menggunakan mulsa plastik ataupun tidak. Penggunaan mulsa plastik membawa konsekuensi menambah biaya. Mulsa plastik hitam perak dipasang dan dibuat lubang tanam, dengan jarak tanam 50 x 65 cmpada daerah rendah dan 60 x 70 cm pada daerah tinggi, yang dilakukan secara zigzag atau sejajar.

 

Persiapan Lahan

  1. Pembibitan

Penyemaian benih dalam pembibitan cabai diperlukan benih yang berkualitas dan media tumbuh yang baik. Sungkup atau naungan dibuat dengan mempertimbangkan arah sinar matahari bergerak. Prinsipnya pada pagi hari bisa mendapatkan sinar matahari secara optimal. Bila perlu dipersiapkan insect screen untuk menjaga agar bibit tidak terserang serangga, terutama pada lokasi endemik hama tanaman cabai. Media pembibitan dapat dibuat dengan campuran sebagai berikut.

  • Mencampurkan 1 bagian pupuk kompos + 1 bagian sekam bakar + 1 bagian top soil tanah yang telah diayak halus lalu diaduk rata dan ditambah dengan karbofuran sesuai dosis anjuran.
  • Media dimasukan ke dalam polybag ukuran 8 x 9 cm dan disusun di bawah naungan atau sungkup yang telah disiapkan. Susunan harus teratur agar tanaman mudah dihitung dan mudah dalam pemeliharaan.
  • Polybag yang tersusun rapi diberi/disemprot air secukupnya sampai basah.
  • Menyiapkan benih cabai 14.000 batang/ha untuk cabai keriting dan ditambahkan 10 % atau lebih populasi tanaman untuk penyulaman.

 

Prosedur penyemaian benih sebagai berikut.

  • Merendam benih cabai dengan air hangat secukupnya, diamkan minimal 3 jam untuk siap ditanam. Benih yang mengambang dalam rendaman jangan digunakan. Setiap benih cabai dimasukkan ke dalam media sedalam 0,5 cm, lalu ditutup dengan kompos yang halus.
  • Menutup polybag yang telah ditanam benih cabai dengan kertas koran, lalu disiram sampai basah agar kelembabannya terjaga, lalu naungan ditutup dengan insect screen atau daun rumbia, bisa juga dengan jerami padi .
  • Menyiram koran yang menutupi polybag dengan air sampai basah pagi dan sore hari. Setelah 3 hari atau setelah terlihat cabai mulai tumbuh, maka kertas koran diangkat. Penyiraman berikutnya dengan sprayer, usahakan media tanaman tetap basah.
  • Bibit cabai dapat ditanam di bedengan setelah umur 21 – 24 hari atau tumbuh 4 helai daun sejati.

 

Persemaian

  1. Penanaman
  • Penanaman bibit pada bedengan dilakukan setelah berumur 21 – 24 hari.
  • Jarak tanam 50 x 60 cm untuk dataran rendah dan 60 x 75 cm untuk dataran tinggi.
  • Untuk menanggulangi stress saat pindah tanam, penanaman dilakukan pada sore hari atau pagi hari sekali. Setelah selesai tanam dilakukan penyiraman air secukupnya dengan cara disemprotkan dengan tekanan rendah dan merata sampai keakarnya.
  • Penanaman diusahakan serentak selesai dalam 1 hari.

 

Penanaman menggunakan                            Penanaman tanpa menggunakan

mulsa                                                                 mulsa

 

 

  1. Pemeliharaan Tanaman
    1. Pengairan

Kekurangan air pada tanaman cabai akan menyebabkan tanaman kerdil, buah cabai menjadi kecil dan mudah gugur. Ada empat cara pengairan yang dapat dilakukan pada tanaman cabai yaitu : 1) pemberian air permukaan tanah meliputi penggenangan (flooding), biasanya dipersawahan dan pemberian air melalui saluran-saluran dan dalam barisan tanaman; 2) Pemberian air di bawah permukaan tanah dilakukan dengan menggunakan pipa yang dibenamkan di dalam tanah; 3) Pemberian air dengan cara penyiraman sangat efisien, misalnya pada tanah bertekstur kasar, efisiensi dengan menyiram dua kali lebih tinggi dari pemberian air permukaan; 4) Pemberian air dengan irigasi tetes, air diberikan dalam kecepatan rendah di sekitar tanaman dengan menggunakan emitter. Pada pemberian air dengan menyiram dan irigasi tetes dapat ditambahkan pertisida atau pupuk.

  1. Pemasangan ajir

Pemasangan ajir dilakukan pada tanaman umur 7 hst, ajir dibuat dari bambu dengan tinggi 1 – 1,5 m. Apabila ajir terlambat dipasang akanmenyebabkan kerusakan pada akar yang sedang berkembang. Pengikatan tanaman pada ajir dilakukan mulai umur 3 minggu sampai dengan 1 bulan yaitu mengikatkan batang yang berada di bawah cabang utama dengan tali plastik pada ajir. Pada saat tanaman berumur 30 – 40 hst, ikat tanaman di atas cabang utama dan ikat juga pada saat pembesaran buah yaitu pada umur 50 – 60 hst, agar tanaman tidak rebah dan buah tidak jatuh.

 

Pemasangan ajir

 

 

  1. Pewiwilan / Perempelan

Tunas yang tumbuh di ketiak daun perlu dihilangkan dengan menggunakan tangan yang bersih. Perempelan dilakukan sampai terbentuk cabang utama yang di tandai dengan munculnya bunga pertama. Tujuan perempelan untuk mengoptimalkan pertumbuhan.

  1. Pemupukan dan pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman cabai biasanya memerlukan pupuk tambahan/susulan. Caranya dengan menyiapkan ember atau tong besar ukuran 200 l, masukkan 10 kg kompos, ditambah 5 kg NPK 16-16-16, (2 sendok makan untuk 10 l air. Campuran ini diaduk merata untuk 2000 pohon (100 ml per pohon). Pemupukan dilakukan dengan kocor setiap minggu, dimulai pada umur 14 hst sampai dengan minimal 8 kali selama masa pemeliharaan tanaman. Kucuran pupuk diusahakan tidak terkena tanaman secara langsung.

  1. Penyiangan

Gulma selain sebagai tanaman kompetitor juga dapat sebagai tempat berkembangnya hama dan penyakit tanaman cabai oleh karenanya penyiangan harus dilakukan untuk membersihkan daerah sekitar tanaman dari gulma. Penyiangan dapat dilakukan secara manual dengan garu atau mencabut gulma secara hati-hati.

 

Pencampuran pupuk dalam

ember

4.    Pengendalian hama dan penyakit

Produktivitas yang dicapai petani pada umumnya masih berada pada tingkat di bawah potensi hasil. Salah satu penyebab masih belum dicapainya potensi hasil tersebut adalah gangguan hama dan penyakit tanaman jika tidak mendapat perhatian. Serangan hama dan penyakit dapat menyebabkan tanaman mengalami kerusakan parah, dan berakibat gagal panen. Uraian di bawah ini mengulas beberapa hama dan penyakit utama cabai dan cara-cara pengendaliannya sesuai dengan strategi pengelolaan hama terpadu (PHT). Hama dan penyakit utama cabai serta pengendaliannya dapat dijelaskan sebagai berikut.

  1. Thrips (Thrips parvispinus Karny).

Hama Thrips menyukai daun muda. Mula-mula daun yang terserang memperlihatkan gejala noda keperakan yang tidak beraturan, akibat adanya luka dari cara makan hama tersebut. Setelah beberapa waktu, noda keperakan tersebut berubah menjadi kecoklatan terutama pada bagian tepi tulang daun. Daun-daun mengeriting ke arah atas.

Cara pengendaliannya yaitu:

  • Secara mekanik dilakukan dengan pembersihan semua gulma dan sisa tanaman inang hama Thrips yang ada di sekitar areal pertanaman cabai;
  • Penggunaan mulsa plastik hitam perak dapat mencegah hama Thrips mencapai tanah untuk menjadi pupa sehingga daur hidup Thrips akan terputus. Pemasangan mulsa jerami di musim kemarau akan meningkatkan populasi predator di dalam tanah yang pada akhirnya akan memangsa hama Thrips yang akan berpupa di dalam tanah;
  • Pengaturan pola tanam, misalnya pola tumpang gilir dengan bawang merah akan menekan serangan hama Thrips pada tanaman cabai muda;
  • Secara biologis dilakukan dengan pemanfaatan musuh alami;
  • Pengendalian secara kimia dapat dilakukan pada tingkat kerusakan daun/tanaman contoh sekitar 15 %, dengan insektisida yang berbahan aktif fipronil atau diafenthiuron.
  • Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari.

 

  1. Tungau (Polyphagotarsonemus latus Banks).

Gejala umum adalah tepi daun keriting menghadap ke bawah seperti bentuk sendok terbalik dan terjadi penyempitan daun. Daun yang terserang berwarna keperakan pada permukaan bawah daun. Daun menjadi menebal dan kaku, pertumbuhan pucuk tanaman terhambat. pucuk-pucuk tanaman seperti terbakar dan pada serangan yang berat pucuk tanaman akan mati, buah cabai menjadi kaku, permukaan kasar dan bentuk terganggu. Serangan berat terjadi pada musim kemarau.

Cara pengendalian :

  • Secara mekanik dilakukan dengan pembersihan semua gulma dan sisa tanaman inang hama tungau. Diusahakan pertanaman cabai tidak berdekatan dengan pertanaman singkong yang merupakan inang potensial hama tungau;
  • Tanaman yang terserang berat dicabut atau pucuk-pucuknya dipotong kemudian dikumpulkan dan dibakar;
  • Pengendalian secara kimia dapat dilakukan pada tingkat kerusakan daun/tanaman contoh sekitar 15 %, dengan menggunakan akarisida, antara lain; yang berbahan aktif amitraz, abamektin, dikofol, atau propargit.
  1. Antraknose

Penyakit antraknose disebabkan oleh dua jenis jamur yaitu Colletotrichum capsici dan Colletotrichum gloeosporioides. Gejala pada biji berupa kegagalan berkecambah dan pada kecambah menyebabkan layu semai. Pada tanaman yang sudah dewasa menyebabkan mati pucuk, pada daun dan batang yang terserang menyebabkan busuk kering.

Buah yang terserang C. capsici menjadi busuk dengan warna seperti terekspos sinar matahari (terbakar) yang diikuti busuk basah berwarna hitam, karena penuh dengan rambut hitam (setae), jamur ini pada umumnya menyerang buah cabai menjelang masak (buah berwarna kemerahan). Jamur C. Gloeosporioides memiliki dua strain yaitu strain R dan G. Strain R hanya menyerang buah cabai masak yang berwarna merah, sedangkan strain G dapat menyerang semua bagian tanaman, termasuk buah cabai yang masih berwarna hijau maupun buah yang berwarna merah. Populasi C. Gloeosporioides di alam jauh lebih banyak daripada C. capsici. Kedua jenis patogen tersebut dapat bertahan di biji dalam waktu yang cukup lama dengan membentuk acervulus, sehingga merupakan penyakit tular biji.

Cara pengendalian :

  • Menanam benih yang sehat dan bebas patogen di lahan yang juga bebas dari patogen;
  • Melakukan perawatan benih (biji) dengan merendam dalam air hangat (550 C) selama 30 menit, atau perawatan benih dengan fungisida efektif yang direkomendasikan;
  • Melakukan sanitasi pada pertanaman dengan cara membakar bagian tanaman yang terserang untuk menekan populasi patogen sejak awal;
  • Menanam varietas cabai yang toleran terhadap penyakit;
  • Melakukan pergiliran tanaman dengan menanam tanaman yang bukan sebagai inang patogen;
  • Melakukan sanitasi terhadap berbagai gulma yang menjadi inang alternatif patogen, seperti Borreria sp. ;
  • Menanam varietas cabai berumur genjah dalam upaya memperpendek periode tanaman terekspos patogen;
  • Menggunakan fungisida efektif yang direkomendasikan menekan perkembangan patogen secara bijaksana, terutama pada saat pematangan buah;
  • Melakukan prosesing (pascapanen) dengan cara mengeringkan buah cabai dengan cepat atau disimpan pada suhu 0o C dapat membebaskan buah dari serangan patogen elama 30 hari.

 

2.4 Hubungan Perlakuan yang Digunakan dengan Komuditas

     Perlakuan untuk komoditas cabai tentu sudah diperhitungkan dengan baik oleh para dosen atau asisten. Jarak tanam yang digunakan pada tanaman cabai ini yaitu dengan ukuran 50×60 cm2 dengan luas bedengan 1,2×5.5 m2. Luas lahan dibagi dengan ukuran jarak tanam akan menghasilkan jumlah 22 tanaman cabai per bedengannya. Tinggi bedengannnya yaitu 40 cm2. Hal ini sama seperti pada literatur yaitu pada umumnya tinggi bedengan untuk tanaman cabai yaitu 40 – 60 cm (Rahmad,2007). Jarak tanam yang luas ini mungkin karena tanaman cabai akan tumbuh banyak cabang, daun, dan juga bunga sehingga jarak antar tanaman tidak terlalu sempit agar tanaman tetap bisa tumbuh dengan maksimal tanpa ada gangguan atau kekurangan lahan untuk tanaman yang disampingnya. Selain itu mungkin perlakuan dari jarak tanam ini digunakan agar tanaman tidak mudah terserang OPT karena jaraknya teratur dan tidak terlalu sempit. Tanaman cabai memang rentan oleh serangan dari hama Aphid sp. Hama ini umumnya menyerang pada bagian daun tanaman yang mengakibatkan proses fotosintesis dan metabolisme tanaman terganggu.

Pada komoditas cabai kelas H menggunakan aplikasi dari ZPT, dimana pemberian ZPT ini diharapkan mampu meningkatkan produksi dan kualitas dari tanaman itu sendiri. Aplikasi ZPT diberikan kepada tanaman dengan menambahkan air kemudian disiramkan langsung ke tanaman cabai layaknya menyiram tanaman seperti biasanya. Tetapi sayangnya, aplikasi dari pemberian ZPT ini tidak dapat terkontrol secara langsung, karena setelah ZPT diberikan pada tanaman lahan digusur dan tanaman dipindahkan beberapa saja kedalam polybag untuk ditanam di lahan BP Fakultas Pertanian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3. BAHAN DAN METODE

3.1         Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Praktikum Teknologi Produksi Tanaman dilaksanakan di lahan Ngijo, Karangploso Desa Kepuharjo Malang. Praktikum ini di mulai pada tanggal 24 September 2012 sampai tanggal 3 Desember 2012.

 

3.2         Alat, Bahan dan Fungsi

  • Alat
  1. Cangkul           : Untuk mengolah tanah
  2. Gembor           : Untuk menyiram tanaman
  3. Cetok              : Untuk membalik tanah
  4. Tali rafia          : Untuk membuat ukuran petakan
  5. Penggaris         : Untuk mengukur tanaman
  6. Kayu               : Untuk tempat tali rafia waktu pengukuran petak
  7. Alat tulis         : Untuk mencatat hasil pengukuran

 

  • Bahan
  1. Bibit Cabai merah                   : Sebagai bahan utama
  2. Pupuk Urea (50 gram)             : Sebagai penyedia unsur N
  3. Pupuk Kcl (25 gram)               : Sebagai penyedia unsur K
  4. Pupuk SP-36 (25 gram)           : Sebagai penyedia unsur P
  5. ZPT                                         : Sebagai zat pengatur tumbuh untuk tanaman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3  Cara Kerja (Diagram Alir + Penjelasan)

 

  • Diagram Alir
    • Pembuatan Bedengan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Penanaman

 

 

 

  • Pemberian Pupuk

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Perawatan

 

 

 

v  Analisa Perlakuan

  • Ø Pembuatan Bedengan

Langkah awal yang dilakukan dalam pembuatan bedengan adalah mempersiapkan lahan untuk penanaman bibit cabai. Kemudian pembuatan bedengan dengan membersihkan lahan agar mempermudah dalam proses penanaman. Buatlah bedengan dengan ukuran 1,2 m x 5,5 m, setelah itu buat tinggi bedengan dengan ukuran 40  cm. Lalu buatlah jarak tanam dengan ukuran 60 x 50 cm. Tambahkan 4 buah kayu pada tiap-tiap sudut bedengan dengan ukuran 50 cm. Dan langkah terakhir pasang dengan tali raffia dengan lebar 1,5 m dan panjang 6 m.

 

  • Ø Penanaman

Pada perlakuan penanaman yang pertama dilakukan adalah menyiapkan bibit tanaman cabai. Lubangi tiap jarak tanam yang sudah diukur. Kemudian masukkan masing-masing bibit cabai ke dalam lubang dan di tutup kembali dengan tanah.

 

  • Ø Pemberian Pupuk

Seminggu kemudian dilakukan pemberian pupuk yang diberika pada tiap-tap tanaman. Proses awal yang dilakukan dalam pemberian pupuk adalah sebelum pemberian pupuk tanaman di siram terlebih dahulu. Lalu siapkan pupuk N,P, dan K. Bagilah masing-masing pupuk sesuai dosis, yaitu Urea : 50 kg/ha, KCl : 25 kg/ha, dan SP36 : 25 kg/ha. Kemudian masukkan masing-masing pupuk yang sudah dibagi dosisnya ke dalam tiap lubang tanam. Tutuplah kembali dengan tanah agar pupuk tidak mengalami penguapan.

 

  • Ø Perawatan

Pada perawatan tanaman cabai langkah awal yang perlu dilakukan adalah menghilangkan gulma yang ada di sekitar tanaman. Penyiraman tanaman, penyulaman tanaman yang mati atau kering, pemberian ZPT, dan langkah akhir dalam perawatan setelah pembuatan bedengan, penanaman, pemberian pupuk, dan perawatan lakukan pengamatan dan dokumentasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil

  1. Tabel, grafik dan foto perlakuan cabai dengan ZPT 1 kelas H

v  Tabel

Tabel tanggal 12 November 2012

Tanaman sampel

Tinggi tanaman (cm)

Jumlah daun (helai)

Jumlah bunga

Jumlah buah

1

22,3

32

0

0

2

22,9

31

0

0

3

24,2

35

3

0

4

20,9

30

1

0

5

27,5

43

2

1

6

29,1

45

4

0

7

18,2

26

0

0

8

17,8

23

0

0

9

19,7

20

0

0

10

18

20

0

0

 

Tabel tanggal 19 November 2012

Tanaman sampel

Tinggi tanaman (cm)

Jumlah daun (helai)

Jumlah bunga

Jumlah buah

1

24,1

34

2

1

2

24,2

35

1

0

3

26,1

37

5

0

4

23,4

32

3

0

5

29,1

45

5

2

6

31,5

49

5

0

7

20,4

27

0

0

8

20

24

0

0

9

19,7

21

0

0

10

18,6

21

0

0

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel tanggal 26 November 2012

Tanaman sampel

Tinggi tanaman (cm)

Jumlah daun (helai)

Jumlah bunga

Jumlah buah

1

26,8

38

4

1

2

25,1

36

3

0

3

28,9

40

8

0

4

24,2

33

5

0

5

31,4

50

8

4

6

33,2

55

8

2

7

22,9

30

0

0

8

22,1

27

0

0

9

21,2

21

0

0

10

21,9

22

0

0

 

 

v  Grafik

Perlakuan cabai kelas H dengan menggunakan ZPT 1

 

 

Gambar 1. Grafik Tinggi Tanaman Kelas H

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Grafik Jumlah Daun Kelas H

 

 

 

 

 

Gambar 3. Grafik Jumlah Bunga Kelas H

 

 

 

 

 

 

Gambar 4. Grafik Jumlah Buah

 

 

 

v  Dokumentasi

 

 

 

 

 

 

 

 

A                                                               B

Foto A dan B adalah tanaman contoh saat 14 hst

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A                                                              B

Foto A dan B adalah tanaman contoh saat 21 hst

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

A                                                               B

Foto A dan B adalah tanaman contoh saat 28 hst

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Tabel, grafik, dan foto perlakuan cabai tanpa  ZPT kelas K

v  Tabel

TanggalPengamatan

SampelTanaman

Aspek Yang diamati

13 November 2012

SampelTanaman 1

TinggiTanaman: 38 cm

JumlahDaun: 64 daun

SampelTanaman 2

TinggiTanaman: 39 cm

JumlahDaun: 82 daun

20 November 2012

SampelTanaman 1

TinggiTanaman: 42 cm

JumlahDaun: 90 daun

SampelTanaman 2

TinggiTanaman: 43 cm

JumlahDaun: 116 daun

27 November 2012

SampelTanaman 1

TinggiTanaman: 46 cm

JumlahDaun: 128 daun

SampelTanaman 2

TinggiTanaman: 47 cm

JumlahDaun: 156 daun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

v  Grafik perlakuan cabai kelas K tanpa menggunakan ZPT

 

Gambar 1. Grafik Tinggi Tanaman Kelas K

 

 

Gambar 2. Grafik Jumlah Daun Kelas K

v  Dokumentasi

  1. Foto pengamatan tanggal 13 November 2012

 

  1. Foto pengamatan tanggal 20 November 2012
  1. Foto pengamatan tanggal 27 November 2012

 

 

 

 

 

 

  1. Tabel, grafik, dan foto perlakuan cabai dengan ZPT 2  kelas Z (Agribisnis)

v  Tabel

TanggalPengamatan

SampelTanaman

Aspek Yang diamati

13 November 2012

Sampel Tanaman 1

Tinggi Tanaman: 18 cm

Jumlah Daun: 41 daun

Sampel Tanaman 2

Tinggi Tanaman: 17 cm

Jumlah Daun:33 daun

Rata-rata

Tinggi Tanaman: 17,5cm

Jumlah Daun: 37 daun

27 November 2012

Sampel Tanaman 1

Tinggi Tanaman: 37cm

Jumlah Daun: 155daun

Sampel Tanaman 2

Tinggi Tanaman: 28 cm

Jumlah Daun: 132 daun

Rata-rata

Tinggi Tanaman: 32,5 cm

Jumlah Daun: 143,5 daun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

v  Grafik

Perlakuan cabai kelas Z (Agribisnis) dengan menggunakan ZPT 2

Gambar 1. Grafik Tinggi Tanaman Kelas Z

 

 

 

Gambar 2. Grafik Jumlah Daun Kelas Z

 

 

Gambar 1. Grafik rata-rata tinggi tanaman kelas  Z, K, dan H

 

 

 

Gambar 2. Grafik rata-rata banyak daun kelas H, A, dan K

 

 

 

                                                                                                                                          

 

4.2  Pembahasan

 

Dari hasil praktikum Teknologi Produksi Tanaman pada komoditas cabai, tanaman kelas H mengalami kenaikan yang cukup stabil. Hal ini dapat dilihat ketika pengamatan pertama pada tanggal 12 September 2012 tanaman contoh yang tumbuh lebih optimal daripada yang lainnya pada kelas H yaitu tanaman contoh ke 6 karena memiliki tinggi tanaman, banyak daun, dan jumlah bunga yang lebih banyak dari tanaman contoh lainnya. Sedangkan tanaman contoh yang baru memiliki buah yaitu tanaman contoh ke 5 yang memiliki tinggi tanaman yaitu 27,5 cm, banyak daun 43 helai, memiliki 2 bunga, dan 1 buah.

Pada Pengamatan yang ke 2 yaitu pada tanggal 19 November 2012, semua tanaman contoh mengalami kemajuan yang lumayan bagus, dan tanaman contoh yang tumbuh lebih optimal dari tanaman contoh yang lain tetap pada tanaman contoh ke 6 dengan tinggi tanaman yaitu 31,5 cm dengan banyak daun sebanyak 49 helai dan memiliki 5 bunga. Sedangkan tanaman contoh yang memiliki buah yang lebih banyak yaitu pada tanaman contoh ke 5 yang memiliki tinggi tanaman yaitu 29,1 cm, dengan banyak daun sejumlah 45 helai, memiliki 5 bunga, dan 2 buah.

Pada pengamatan terakhir yang dilakukan pada tanggal 26 November 2012, tanaman contoh yang tumbuh lebih optimal dari yang lain yaitu tetap berada pada tanaman contoh ke 6 dengan tinggi tanaman yaitu 33,2 cm, banyak daun sejumlah 55 helai, memiliki 8 bunga, dan memiliki 2 buah.  Sedangkan tanaman contoh yang memiliki banyak buah yaitu pada tanaman contoh ke 5 dengan tinggi tanaman yaitu 31,4 cm, dengan banyak daun sejumlah 50 helai, memiliki 8 bunga, dan memiliki 4 buah.

Menurut Rimunandar (1989), bahwa tanaman tumbuh rendah akan menyebabkan cahaya matahari yang diterima tanaman rendah. Menurut Dwijoseputro (1992), bahwa kurang tersedianya sinar matahari akan menurunkan kemampuan tanaman dalam berfotosintesa. Maka dari itu, menurut Herawati Susilo (1992), peningkatan proses fotosintesa sangat berpengaruh pada tinggi tanaman, dan hasilnya untuk meningkatkan aktifitas sel pada ruas batang sehingga bertambah panjang.

Pada praktikum cabai kali ini, terdapat tiga perlakuan yaitu dengan pemakaian ZPT 1, ZPT 2 dan perlakuan tanpa menggunakan ZPT. Pada data di atas, data kelas H menggunakan perlakuan ZPT 1, kelas Z menggunakan perlakuan ZPT 2. Sedangkan kelas K menggunakan perlakuan tanpa pemberian ZPT.

Kandungan pada ZPT 1 yaitu hormon giberelin. Giberelin merupakan ZPT yang berperan dalam mendorong perkembangan biji, perkembangan kuncup, pemanjangan batang dan pertumbuhan daun, mendorong pembungaan dan perkembangan buah, mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi akar. Giberelin dikenal juga dengan nama asam giberelat, mempunyai  peranan dalam pembelahan sel dan atau perpanjangan sel tanaman.  Senyawa pertama yang ditemukan memiliki efek fisiologi adalah GA3 (asam giberelat 3). GA3 merupakan substansi yang diketahui menyebabkan pertumbuhan membesar pada padi yang terserangfungi Gibberella fujikuroi. Giberelin juga berperan dalam memacu pembungaan pada beberapa tanaman, mematahkan dormansi biji serta memcu perkecambahan biji (Dwijiseputro,1992).

Sedangkan pada ZPT 2 mengandung hormon auksin. Auksin merupakan ZPT yang berperan dalam perpanjangan sel pucuk batau tunas tanaman. Selain memacu pemanjangan sel yang menyebabkan pemanjangan batang dan akar, peranan auksin lainnya adalah kombinasi auksin dan giberelin memacu perkembangan jaringan pembuluh dan mendorong pembelahan sel pada kambium pembuluh sehingga mendukung pertumbuhan diameter batang.

Auksin mempengaruhi pertambahan panjang batang, pertumbuhan, diferensiasi dan percabangan akar, perkembangan buah,  dominansi apikal, fototropisme dan geotropisme. Selain itu auksin (IAA) sering dipakai pada budidaya tanaman antara lain untuk menghasilkan buah tomat, mentimun dan terong tanpa biji; dipakai pada pengendalian pertumbuhan gulma berdaun lebar dari tumbuhan dikotil di perkebunan jagung  dan memacu perkembangan meristem akar adventif dari stek mawar dan bunga potong lainnya (Pitojo,2003).

Berdasarkan ketiga data di atas, dapat disimpulkan bahwa tanaman contoh yang dapat tumbuh secara optimal dari yang lainnya yaitu pada tanaman contoh kelas K dengan tinggi tanaman pada pengamatan terakhir yaitu 47 cm dengan jumlah daun sebanyak 156 helai. Sedangkan tanaman contoh yang memiliki data paling rendah terdapat pada kelas H dengan tinggi tanaman pada pengamatan terkhir yaitu 21,2 cm dengan banyak daun sejumlah 27 helai. Perbedaan tinggi setiap tanaman dapat terjadi karena faktor luar dan dalam. Apoendi (1991), mengatakan bahwa pertumbuhan tanaman merupakan perpaduan antara susunan genetis dengan lingkungannya, sehingga respon terhadap lingkungan yang rendah dapat menurunkan pertumbuhan, akibatnya tanaman tersebut tumbuh rendah.

Menurut Leopold dan Kriedmann (1979) menyatakan bahwa setelah terjadi inisiasi pembungaan, pertumbuhan bunga lebih lanjut sampai terbentuk buah dan biji sangat ditentukan oleh faktor dalam dan faktor luar tanaman. Faktor dalam diantaranya keseimbangan hormonal. Apabila keseimbangan hormonal tersebut baik, maka bunga yang terbentuk lebih banyak dan akan berkembang menjadi buah yang akhirnya menghasilkan biji. Sehubungan dengan itu, pembenah zat pengatur tumbuh dengan konsentrasi yang sesuai dapat menciptakan keseimbangan hormonal didalam tanaman yang baik, sehingga dapat menghasilkan fruit set yang lebih banyak dan dapat menghasilkan biji yang lebih banyak pula. Namun, pada praktikum komoditas cabai pada saat ini, tanaman contoh dengan perlakuan ZPT memiliki tinggi tanaman, banyak daun, banyak bunga dan banyak buah yang lebih sedikit dari tanaman contoh tanpa penggunaan ZPT. Hal ini dikarenakan waktu pemberian ZPT yang salah yaitu pada saat tanaman cabai akan dipindah pada polybag, Sehingga tanah yang sudah diberi ZPT tidak dapat dimanfaatkan semuanya oleh tanaman tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

 

            Kesimpulan yang dapat diperoleh dari praktikum Teknologi Produksi Tanaman yang telah dilakukan adalah hasil produksi pada setiap kelas berbeda – beda. Hali ini dikarenakan oleh beberapa faktor seperti cara pemeliharaan yang berbeda pula. Hasil tanaman cabai yang terbaik ada pada tanaman contoh kelas K dengan tinggi daun mencapai 47 cm dengan jumlah daun 156 helai. Sedangkan hasil dari tanaman contoh pada kelas H yang dapat tumbuh lebih optimal yaitu pada tanaman contoh ke 6 dengan tinggi tanaman dapat mencapai 33,2 cm dengan banyak daun yaitu 55 helai.

Hasil akhir dari pengaplikasian ZPT sendiri tidak dapat terlihat karena waktu pemberian yang kurang tepat, dimana semua tanaman akan di pindahkan dalam polybag. Hal imi dapat dilihat dari hasil tanaman contoh yang dapat hidup lebih optimal dari tanaman yang lain yaitu tanaman dari kelas K dengan tanpa perlakuan ZPT. Sedangkan hasil tanaman yang paling rendah terdapat pada tanaman contoh dari kelas H dengan tinggi tanaman yang hanya mencapai 21,2 cm dan memiliki banyak daun yaitu 21 helai. Perbedaan tinggi setiap tanaman dapat terjadi karena faktor luar dan dalam. Apoendi (1991), mengatakan bahwa pertumbuhan tanaman merupakan perpaduan antara susunan genetis dengan lingkungannya, sehingga respon terhadap lingkungan yang rendah dapat menurunkan pertumbuhan, akibatnya tanaman tersebut tumbuh rendah.

 

5.2 Saran

Untuk pelaksanaan praktikum sudah baik, semoga untuk kedepannya lebih baik lagi. Dan diharapkan adanya kerjasama antara asisten dan praktikan agar dalam pelaksanaan praktikum bisa berjalan lancar.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Budidaya Cabai Merah. (http://bapeluh.blogspot.com/2009)/ 07/budidaya-cabai-merah.html. Diakses pada 1 Desember 2012

Dirjen Hortikultura. 1999. Petunjuk Tenis Budidaya Tanaman Cabai. Jakarta.

Dwijiseputro. 1992. Bertanam Sayuran. Penebar Swadaya. Jakarta. 33 hal.

Herawati Susilo, 1992. Fisiologi Tanaman Budidaya Terjemahan Franklin P6. Pearce RB and Mitchell. 1986, Physiology of Crop Plant. VI Pers : Jakarta 126 hal.

Leopold, A and P. E. Kriedmann. 1979. Plant growth and development. 3rd.Tata McGraw Hill. New Delhi.545 p.

Muchidin Apoendi, 1991. Pengantar Agronomi. Erlangga. Jakarta. 437 hal.

Pitojo,Setijo.2003.Benih Cabai.Yogyakarta.Kanisius

Prajmanta, F. 2005. Kiat Sukses Bertanam Cabai di Musim Hujan. Seri Agrisukses. Penebar Swadaya. Jakarta. 64 hlm.

Rahmad M. 2007. Estándar Operasional Prosedur (pedoman umum) Cabai Merah. Direktorat Budidaya Tanaman Sayuran dan Biofarmaka. Direktorat Jendral Hortikultura. Bandung.

Rismunandar, 1989. Budidaya Cabai Merah. Sinar Baru. Bandung. 54 hal.

Sodiq Jauhari, Kendriyanto, Pujo Hasapto Waluyo, Soepadi dan Zamawi. 2008. Visitor plot Pendayagunaan Teknologi Pertanian . Balai Pengkajian Teknologi Pertanian. Jawa Tengah.

Soekartawi, A. Soeharjo, John L. Dillon, J. Brian Hardaker. 1986. Universitas Indonesia Press. Jakarta

Soekartawi. 1995. Analisis Usahatani. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>