Posts by date 0:

Profil Perusahaaan PTPN

Posted by Hadi Susilo on June 27, 2012 with No Comments

Pendahuluan Perusahaan PTPN II

 

PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) adalah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di sektor perkebunan merupakan hasil penggabungan dari PT. Perkebunan II (Persero) dan PT. Perkebunan IX (Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 07/1996 tentang konsolidasi PT. Perkebunan Lingkup BUMN. Didirikan berdasarkan Akte Notaris Harun Kamil, SH No. 35 tanggal 11 Maret 1996 dan diperbaharui dengan Akte Notaris Sri Rahayu H. Prasetyo, SH, No. 07 tanggal 8 Oktober 2002, yang disahkan oleh Keputusan Menteri Kehakiman & Hak Asasi Manusia Republik Indonesia No. C-20859.HT.01.04 TH 2002 tanggal 25 Oktober 2002.

Wilayah perkebunan tersebar di Sumatera Utara dan Papua, terdiri dari perkebunan kelapa sawit, perkebunan tebu, perkebunan tembakau, perkebunan karet, dan kebun bibit kakao.

Untuk menghadapi tantangan bisnis global, maka PTPN II kedepan akan terfokus terhadap pengelolaan bisnis perkebunan dan bisnis non perkebunan dengan memanfaatkan aset-aset non produktif serta ekstensifikasi usaha perkebunan melalui Agro Wisata, Agro Bisnis, dan Agro Industri. Seluruh unit usaha diintegrasikan dalam beberapa Strategic Business Unit yaitu 5 Distrik Perkebunan, 1 Distrik Rumah Sakit, 2 Unit Penelitian, dan 1 Unit Bengkel

Areal yang dimiliki oleh PT. Perkebunan Nusantara II (Persero) tersebar di wilayah Sumatera Utara dan Papua, dengan total luas areal 112.625,11 Ha, pada sebaran wilayah sbb :

• Wilayah Sumatera Utara = 107.104,59 Ha

• Wilayah Irian Jaya = 5.520,52 Ha

Untuk mendukung kegiatan usaha, perusahaan membangun pabrik/unit pengolahan berupa Pabrik Kelapa Sawit, Pabrik Fraksionasi, Pabrik Karet Kering, Pabrik Crumb Rubber, Pabrik Lateks, Pabrik Kakao dan Pabrik Gula dengan kapasitas terpasangsebagai berikut :

 

Sarana Pabrik/Pengolahan :

8 Unit Pabrik Kelapa Sawit
1 Unit Pabrik Fraksionasi
2 Unit Pabrik RSS
2 Unit Pabrik SIR
2 Unit Pabrik Gula

 

Kapasitas Terpasang :
Pabrik Kelapa Sawit : 280 Ton TBS/Jam
Pabrik Fraksionasi : 200 Ton CPO/Hari
Pabrik RSS :  19 Ton KK/Hari
Pabrik SIR :  19 Ton KK/Hari
Pabrik Gula :  8.000 Ton TCD/Hari

 

Kapasitas Terpakai :
Pabrik Kelapa Sawit : 177,33 Ton TBS/Jam
Pabrik Fraksionasi : -
Pabrik RSS : 4,98 Ton KK/Hari
Pabrik SIR :  Ton KK/Hari
Pabrik Gula : 7.600 Ton TCD/Hari

 

 

 

 

Analisis kekurangan:

 

Kekurangan dari manajemen perkebunan tersebut adalah kurangnya spesifikasi produk yang dihasilkan oleh perusahaan, jika saja perusahaan tersebut berfokus pada salah satu komoditas aja maka upaya untuk optimalisasi produksi maka akan lebih mudah tercapai. Terlihat bahwa penggunaan sarana produksi perusahaan belum mencapai tigkat maksimal atau bisa dikatakan perusahaan tersebut belum dapat mengoptimalkan sarana produksi yang tersedia. Belum lagi masalah manajemen Sumber Daya Manusia maupun Sumberdaya Alam yang mestinya mempunyai spesifikasi tertentu dari setiap komoditas.

 

Produksi Kelapa Sawit

 

 

 

 

 

 

 

 

                        Pabrik Kelapa Sawit

 

 

 

 

Analisis Kekurangan:

           Idealnya suatu system perusahaan yang besar dan komprehensif dapat memanfaatkan dan member nilai tambah pada seluruh potensi yang ada. Perusahaan sawit ini harusnya mempunyai suatu trobusan untuk memanfaatkan tandan kosong dan tidak lantas menjualnya dengan memperoleh nilai tambah yang kecil. Seharusnya apabila dimanfaatkan dengan baik tandan kosongpun dapat memberikan nilai tambah yang lebih bagi perusahaan.

 


 

Struktur Organisasi

 

Analisis Kekurangan:

Kekurangan perusahaan tersebut adalah dengan memisahkan lingkup kerja antara departemen Pengembangan SDM dengan bagian produksi. Seharusnya dengan menggabungkan lingkup kerja pengembangan SDM dengan bagian produksi dalam satu departemen Operasional yang mencakup seluruh kegiatan operasional perusahaan dapat lebih mengefisiekan tenaga kerja dan dapat mencegah penggembungan departemen yang hanya memakan biaya, waktu, dan enaga kerja perusahaan. Selain itu keuntungan lain yang dapat diperoleh adalah optimalnya SDM di tingkat dirjen sampai pada tercapainya optimalisasi tenag kerja dan kinerja yang terbaik.

 

Daftar Pustaka

Anonymous. 2012. Operasional PTPN II.  http://ptpn2.com/main/index.php/kinerjaperusahaan/oprasional. Diakses tanggal 17 Juni 2012

Anonymous. 2012. Produksi Kelapa Sawit http://ptpn2.com/main/index.php/produkpemasaran/produk/kelapasawit. Diakses tanggal 17 Juni 2012

Anonymous. 2012. Struktur Organisasi PTPN II. http://ptpn2.com/main/index.php/tentangkami/profmanajemen/strukturorg. Diakses tanggal 17 Juni 2012

 

 

Perkembangan Teknologi Bagi Kehidupan Manusia Perkembangan Teknologi Bagi Kehidupan Manusia

Posted by Hadi Susilo on June 13, 2012 with No Comments


Oleh HADI SUSILO 115040213111030

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu alamiah atau sering disebut ilmu pengetahuan alam (natural science), merupakan pengetahuan yang mengkaji mengenai gejala-gejala dalam alam semesta, termasuk di muka bumi ini, sehingga terbentuk konsep dan prinsip. Ilmu Alamiah Dasar hanya mengkaji konsep-konsep dan prinsip-prinsip dasar yang essensial saja.
Pada pembahasan kali ini kami akan membahas Ilmu Alamiah Dasar secara lebih spesisfik lagi, yaitu pembahasan mengenai Ilmu Pengetahuan Alam dan Teknologi. Seseorang menggunakan teknologi karena ia memiliki akal. Dengan akalnya ia ingin keluar dari masalah, ingin hidup lebih baik, lebih aman, mudah, nyaman dan sebagainya. Perkembangan teknologi terjadi karena seseorang menggunakan akalnya dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya.
Jenis-jenis pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik yang cukup besar, kini relatif sudah bisa digantikan oleh perangkat-perangakat mesin, seperti computer, kendaraan, handphone, dan lain sebagainya.
Pada satu sisi, perkembangan dunia IPTEK yang demikian mengagumkan itu memang telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Meskipun ada dampak negatifnya atau kelemahan dari kemajuan IPTEK. Namun hal ini seolah diabaikan oleh manusia, faktanya tidak dipungkiri lagi IPTEK dikembangkan setiap waktu dan banyak pula pengaruhnya, baik yang positif maupun negatif. Berikut uraianya.

B. Rumusan Masalah

Dalam makalah ini saya mencoba membahas beberapa masalah antara lain :

ü uraian pendapat para pakar tekhnologi mengenai perkembangan teknologi bagi kehidupan manusia

ü Akan dibahas mengenai pengertian teknologi secara umum dalam perkembangan teknologi informasi dan komunikasi

ü Dampak positif dan negatif akibat perkembangan teknologi internet

ü Dan manfaat teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari

C. Metode Penelitian

Dalam menyusun makalah ini saya menggunakan metode penelitian dengan menggunakan internet ( membuka situs tentang Perkembangan teknologi bagi kehidupan manusia )

D. Manfaat Penelitian

ü Untuk memberikan wawasan, pengetahuan dan pembelajaran tentang perkembangan teknologi bagi kehidupan manusia dari mulai sejarah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, dampak positif dan negatif akibat perkembangan teknologi internet dan manfaat teknologi informasi dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II

Teknologi bagi Kehidupan Manusia

1. Perkembangan Teknologi Menurut Para Ahli

Nana Syaodih S. (1997: 67) menyatakan bahwa sebenarnya sejak dahulu teknologi sudah ada atau manusia sudah menggunakan teknologi. Kalau manusia pada zaman dulu memecahkan kemiri dengan batu atau memetik buah dengan galah, sesungguhnya mereka sudah menggunakan teknologi, yaitu teknologi sederhana.
Terkait dengan teknologi, Anglin mendefinisikan teknologi sebagai penerapan ilmu-ilmu perilaku dan alam serta pengetahuan lain secara bersistem dan menyistem untuk memecahkan masalah. Ahli lain, Kast & Rosenweig menyatakan Technology is the art of utilizing scientific knowledge. Sedangkan Iskandar Alisyahbana (1980:1) merumuskan lebih jelas dan lengkap tentang definisi teknologi yaitu cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan alat dan akal sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat, atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, panca indera, dan otak manusia.
Menurut Iskandar Alisyahbana (1980) Teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi sejak awal peradaban sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah “teknologi belum digunakan. Istilah “teknologi” berasal dari “techne “ atau cara dan “logos” atau pengetahuan. Jadi secara harfiah teknologi dapat diartikan pengetahuan tentang cara. Pengertian teknologi sendiri menurutnya adalah cara melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan bantuan akal dan alat, sehingga seakan-akan memperpanjang, memperkuat atau membuat lebih ampuh anggota tubuh, pancaindra dan otak manusia.
Sedangkan menurut Jaques Ellul (1967: 1967 xxv) memberi arti teknologi sebagai” keseluruhan metode yang secara rasional mengarah dan memiliki ciri efisiensi dalam setiap bidang kegiatan manusia.

2. Pengertian teknologi secara umum

  • proses yang meningkatkan nilai tambah
  • produk yang digunakan dan dihasilkan untuk memudahkan dan meningkatkan kinerja
  • Struktur atau sistem di mana proses dan produk itu dikembamngkan dan digunakan

Kemajuan teknologi adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari dalam kehidupan ini, karena kemajuan teknologi akan berjalan sesuai dengan kemajuanm ilmu pengetahuan. Setiap inovasi diciptakan untuk memberikan manfaat positif bagi kehidupan manusia. Memberikan banyak kemudahan, serta sebagai cara baru dalam melakukan aktifitas manusia. Khusus dalam bidang teknologi masyarakat sudah menikmati banyak manfaat yang dibawa oleh inovasi-inovasi yang telah dihasilkan dalam dekade terakhir ini. Namun demikian, walaupun pada awalnya diciptakan untuk menghasilkan manfaat positif, di sisi lain juga juga memungkinkan digunakan untuk hal negatif.

Karena itu pada makalah ini kami membuat dampak-dampak positif dan negatif dari kemajuan teknologi dalam kehidupan manusia Dari beberapa pengertian di atas nampak bahwa kehidupan manusia tidak terlepas dari adanya teknologi. Artinya, bahwa teknologi merupakan keseluruhan cara yang secara rasional mengarah pada ciri efisiensi dalam setiap kegiatan manusia.
Perkembangan teknologi terjadi bila seseorang menggunakan alat dan akalnya untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya. Sebagai contoh dapat dikemukakan pendapat pakar teknologi dunia terhadap pengembangan teknologi.
Menurut B.J. Habiebie (1983: 14) ada delapan wahana transformasi yang menjadi prioritas pengembangan teknologi, terutama teknologi industri, yaitu 1) pesawat terbang, (2) maritim dan perkapalan, (3) alat transportasi, (4) elektronika dan komunikasi, (5) energi, (6) rekayasa , (7) alat-alat dan mesin-mesin pertanian, dan (8) pertahanan dan keamanan.

3. Dampak positif dan negatif akibat perkembangan teknologi internet

Di bawah ini akan dijelaskan dampak-dampak positif maupun negatif dari penggunaan internet :

  • Dampak Positif

a) Internet sebagai media komunikasi merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia.

b) Media pertukaran data dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.

c) Media untuk mencari informasi atau data perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat.

d) Kemudahan memperoleh informasi yang ada di internet sehingga kita tahu apa saja yang terjadi.

e) Bisa digunakan sebagai lahan informasi untuk bidang pendidikan, kebudayaan, dan lain-lain.

f) Kemudahan bertransaksi dan berbisnis dalam bidang perdagangan sehingga tidak perlu pergi menuju ke tempat penawaran/penjualan.

  • Dampak Negatif

a) Pornografi anggapan yang mengatakan bahwa internet identik dengan pornografi, memang tidak salah. Dengan kemampuan penyampaian informasi yang dimiliki internet, pornografi pun merajalela.

b) Penipuan hal ini memang merajalela di bidang manapun. Internet pun tidak luput dari serangan penipu.

c) Bisa membuat seseorang kecanduan terutama yang menyangkut pornografi dan dapat menghabiskan uang karena hanya untuk melayani kecanduan tersebut. Jadi internet tergantung pada pemakainya bagaimana cara mereka dalam menggunakan teknologi itu, namun semestinya harus ada batasan-batasan dan norma-norma yang harus mereka pegang teguh walaupun bersentuhan dengan internet atau di dalam dunia maya.

4. Manfaat Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Teknologi Informasi dan Komunikasi yang perkembangannya begitu cepat secara tidak langsung mengharuskan manusia untuk menggunakannya dalam segala aktivitasnya Beberapa penerapan dari Teknologi Informasi dan Komunikasi antara lain :

  • Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perusahaan
    Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi banyak digunakan para usahawan. Kebutuhan efisiensi waktu dan biaya menyebabkan setiap pelaku usaha merasa perlu menerapkan teknologi informasi dalam lingkungan kerja.
  • Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Dunia Bisnis

Dalam dunia bisnis Teknologi Informasi dan Komunikasi dimanfaatkan untuk perdagangan secara elektronik atau dikenal sebagai E-Commerce. E-Commerce adalah perdagangan menggunakan jaringan komunikasi internet.

  • Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Perbankan
    Dalam dunia perbankan Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah diterapkannya transaksi perbankan lewat internet atau dikenal dengan Internet Banking.
  • Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Pendidikan Teknologi pembelajaran terus mengalami perkembangan seirng perkembangan zaman. Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari Makalah Teknologi Informasi dan Komunikasi sering dijumpai kombinasi teknologi audio/data, video/data, audio/video, dan internet. Internet merupakan alat komunikasi yang murah dimana memungkinkan terjadinya interaksi antara dua orang atau lebih.
  • Penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Kesehatan
    Sistem berbasis kartu cerdas (smart card) dapat digunakan juru medis untuk mengetahui riwayat penyakit pasien yang datang ke rumah sakit karena dalam kartu tersebut para juru medis dapat mengetahui riwayat penyakit pasien.

BAB III

KESIMPULAN

Guna mempersiapkan sumber daya manusia yang handal dalam memasuki era kesejagadan, yang salah satunya ditandai dengan sarat muatan teknologi, salah satu komponen pendidikan yang perlu dikembangkan adalah kurikulum yang berbasis pendidikan teknologi di jenjang pendidikan dasar.

.
Bahan kajian ini merupakan materi pembelajaran yang mengacu pada bidang-bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di mana peserta didik diberi kesempatan untuk membahas masalah teknologi dan kemasyarakatan, memahami dan menangani produk-produk teknologi, membuat peralatan-peralatan teknologi sederhana melalui kegiatan merancang dan membuat, dan memahami teknologi dan lingkungan.
Kemampuan-kemampuan seperti memecahkan masalah, berpikir secara alternatif, menilai sendiri hasil karyanya dapat dibelajarkan melalui pendidikan teknologi. Untuk itu, maka pembelajaran pendidikan teknologi perlu didasarkan pada empat pilar proses pembelajaran, yaitu: learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together.
Untuk melengkapi kecerdasan iptek para pelajar, diperlukan pula penyelarasan pengajaran iptek dengan pengajaran imtaq. Sehingga terbentuklah manusia-manusia cerdas dan bermoral yang dapat menghasilkan berbagai teknologi yang bermanfaat bagi umat manusia.
Bagi masyarakat sekarang, iptek sudah merupakan suatu religion. Pengembangan iptek dianggap sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Sementara orang bahkan memuja iptek sebagai liberator yang akan membebaskan mereka dari kungkungan kefanaan dunia. Iptek diyakini akan memberi umat manusia kesehatan, kebahagian dan imortalitas.
Sumbangan iptek terhadap peradaban dan kesejahteraan manusia tidaklah dapat dipungkiri. Namun manusia tidak bisa pula menipu diri akan kenyataan bahwa iptek mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan bagi manusia. Dalam peradaban modern yang muda, terlalu sering manusia terhenyak oleh disilusi dari dampak negatif iptek terhadap kehidupan umat manusia

Kalaupun iptek mampu mengungkap semua tabir rahasia alam dan kehidupan, tidak berarti iptek sinonim dengan kebenaran. Sebab iptek hanya mampu menampilkan kenyataan. Kebenaran yang manusiawi haruslah lebih dari sekedar kenyataan obyektif. Kebenaran harus mencakup pula unsur keadilan. Tentu saja iptek tidak mengenal moral kemanusiaan,oleh karena itu iptek tidak pernah bisa menjadi standar kebenaran ataupun solusi dari masalah-masalah kemanusiaan.

 

LAPORAN BESAR FIELDTRIP SOSIOLOGI PERTANIAN

Posted by Hadi Susilo on June 11, 2012 with No Comments

LAPORAN

PRAKTIKUM SOSIOLOGI PERTANIAN

DI DUSUN NGRANGIN DESA SUMBER PASIR

Oleh

Kelompok 4 (Kelas H)

 

  1. 1.        Muhammad Nawab al Hasan             115040201111122
  2. 2.        Arum Yuli Kristanti                            115040201111307
  3. 3.        Auliya Rahmawati                               115040201111311
  4. 4.        Isna Kartika Wati                                115040201111315
  5. 5.        Hadi Susilo                                            115040213111030

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2012

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL ………………………………………………………………………   i

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………….    ii

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………..   iii

BAB I PENDAHULUAN ……………………………………………………………….   1

1.1  LATAR BELAKANG ………………………………………………………………    1

1.2  TUJUAN …………………………………………………………………………………    2

BAB II ASPEK SOSIOLOGIS PETANI …………………………………………..  3

2.1 ASPEK SOSIOLOGIS PETANI (SOLIKIN OLEH MUHAMMAD

NAWAB al HASAN)………………………………………………………………….    3

2.2 ASPEK SOSIOLOGIS PETANI (SUWITO OLEH ARUM YULI KRISTANTI)……………………………………………………………………………..    10

2.3 ASPEK SOSIOLOGIS PETANI (YUSUF OLEH AULIYA RAHMAWATI)…………………………………………………………………………    17

2.4 ASPEK SOSIOLOGIS PETANI (KABUL OLEH ISNA KARTIKA WATI)……………………………………………………………………………………..      27

2.5 ASPEK SOSIOLOGIS PETANI (SULKHAN MUSTOFA OLEH HADI SUSILO)……………………………………………………………………………………    35

BAB III PENUTUP…………………………………………………………………………   42

3.1 KESIMPULAN…………………………………………………………………………    42

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………   45

LAMPIRAN…………………………………………………………………………………..    46

 

 

 

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur pada Allah SWT yang telah memudahkan dalam menyelesaikan laporan ini. Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas akhir praktikum sosiologi pertanian. Makalah ini membahas tantang keadaan sosiologis pertanian di Dusun Ngrangin, Desa Sumber Pasir.

Ucapan terimakasih kami sampaikan kepada asisten sosilogi pertanian Danita Nur Wahyuni dan Ahmad Nasir Sururi atas bimbingan dan arahan yang diberikan selama praktikum sosiologi pertanian dilaksanakan, serta teman-teman yang telah membantu dalam penulisan laporan ini. Tidak lupa juga kepada para narasumber yang telah bersedia memberikan informasi kepada kami.

Kami sebagai penulis mengharapkan kririk dan saran atas kelengkapan isi laporan ini, karena kami menyadari bahwa makalah kami ini masih banyak kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

                                                                                                                  

 

 

Malang, 09 Juni 2012

                                                                            Penulis

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dunia pertanian maupun dunia usaha dalam bidang pertanian erat kaitannya dengan aspek-aspek sosiologi yang mencakup kebudayaan, stratifikasi sosial, kelembagaan, dan jaringan sosial. Aspek-aspek tersebut sangat mempengaruhi kemajuan usaha pertanian baik pada tingkat petani, desa, maupun supradesa.

Kebudayaan dapat memberi pengaruh dalam usaha pertanian. Sabagai contohnya bila pada suatu daerah mayoritas makanan pokok masyarakatnya adalah padi maka secara otomatis usaha pertanian yang dilakukan para petani kebanyakan akan menjadikan padi sebagai komoditas utama usaha mereka.

Dalam suatu daerah atau desa terdapat lapisan-lapisan masyarakat atau stratifikasi sosial. Pada beberapa kelompok masyarakat, stratifikasi sosial atau pelapisan masyarakat tersebut dapat diukur dari luas sawah yang dimiliki bila pada daerah tersebut mayoritas mata pencahariannya adalah sebagai petani.

Kadang kala dalam usaha pertanian didapati suatu permasalahan yang belum diketahui solusinya sehingga muncul suatu dampak negatif bagi usaha pertanian. Seperti contonhya merebaknya hama tikus yang menyerang tanaman. Dalam menyelesaikan masalah tersebut suatu lembaga dibentuk sebagai tempat musyawarah sehingga dapat ditemukan jalan keluar dari permasalahan itu.

Usaha pertanian erat kaitannya dengan pemsaran, baik yang dilakukan secara langsung maupun melalui perantara atau distributor. Dibutuhkan jaringan sosial yang baik agar dapat memasarkan hasil pertanian tersebut. Oleh karena itu aspek-aspek sosiologi memang sangat berperan dalam mempengaruhi kemajuan usaha pertanian baik pada tingkat petani, desa, maupun supra desa.

 

 

1.2 Tujuan

Tujuan diadakannya fieldtrip sosiologi pertanian yang dilakukan di desa Sumberpasir adalah untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman aspek-aspek sosiologis pada tingkat petani dan tingkat desa yang dapat mempengaruhi kemajuan usaha pertanian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ASPEK SOSIOLOGIS PETANI

 

 

2.1 ASPEK SOSIOLOGIS PETANI (SOLIKIN OLEH MUHAMMAD

NAWAB al HASAN)

2.1.1 Deskripsi Keluarga Petani

Petani yang kami wawancarai bernama Bapak Sholihin berumur 60 tahun. Beliau bertempat tinggal di Dusun Ngrangin, Desa Sumber Pasir RT 19. Beliau hanya menempuh pendidikan sampai tingkat sekolah dasar. Bapak Sholihin mempunyai pekerjaan sebagai seorang petani. Keluarga Bapak Sholihin beranggotakan 4 orang, yaitu dengan anak putrinya beserta menantunya dan satu cucunya.

 

2.1.2 Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani

Menurut (Yulianti, 2012) ada beberapa hal yang menjadi dasar pelapisan masyarakat. Dasar ini bersifat kumulatif. Artinya seseorang bisa memiliki beberapa dasar yang menyebabkan dia kedudukan dalam masyarakatnya tinggi. Dasar yang digunakan untuk penggolongan yaitu: 1) ukuran kekayaan  yaitu orang yang secara ekonomi memiliki banyak kekayaan, 2) ukuran kekuasaan yaitu orang yang memilki kekuasaan atau jabatan tinggi tentunya akan menepati lapisan yang tinggi pula, 3) ukuran kehormatan yaitu orang yang dianggap sesepuh akan menempati lapisan yang paling tinggi serta, 4) ukuran ilmu pengetahuan yaitu orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang banyak akan menempati lapisan yang paling atas.

Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga Bapak Sholihin mengandalkan dari hasil pertanian. Sejak umur 17 tahun, beliau mulai menjadi petani dengan menggarap sawah/lahan milik orang lain. Karena keterbatasan usia, akhirnya Bapak Sholihin berhenti menjadi buruh tani. Sekarang beliau hanya menggarap sawah miliknya. Sawah milik beliau sekitar 0,5 ha  yang dibelinya pada tahun 2000. Selain itu, ada juga tanah tegal warisan seluas 0,25 ha yang diperoleh pada tahun 1997. Bapak Sholihin dalam menggarap sawah, tidak sepenuhnya dikerjakan sendiri sesekali juga menggunakan tenaga kerja/buruh tani. Bapak Sholihin mempunyai pekerjaan utama sebagai seorang petani. Keluarga Bapak Sholihin tinggal di rumah dengan luas bangunan sebesar 60 m2 dengan lantai rumah keramik, berdinding tembok dan dengan atap rumah genteng biasa. Bapak Sholihin memiliki 3 unit sepeda motor. Selain itu keluarga tersebut juga memiliki 1 unit TV, 1 unit radio dan 2 alat komunikasi seperti HP yang masing-masing dipegang oleh anak dan menantunya.

 

2.1.3 Kebudayaan Petani

Berdasarkan hasil wawancara, Bapak Sholihin mendapat pengetahuan cara bercocok tanam dari keluarga/orang tuanya terdahulu karena beliau biasa membantu orang tuanya untuk bertani di sawah sehingga secara otomatis pengetahuan cara bercocok tanam dapat dikuasai secara langsung oleh Bapak Sholihin.

Menurut Bapak Sholihin setahun terakhir ini, sawah garapan Bapak Sholihin ditanami dengan padi dan cabai. Sedangkan, lahan tegalannya ditanami ubi jalar. Pada saat wawancara dilakukan Bapak Sholihin sedang menanam padi yang masih berumur 2 bulan. Bapak Sholihin menerapkan sistem penanaman padi pada 2 musim tanam, yaitu 2 musim ditanamai padi, musim berikutnya akan ditanami cabai. Menurut Bapak Sholihin, pemilihan pergantian hanya pada tanaman padi dan cabai dikarenakan padi dan cabai cepat panen sehingga juga cepat menghasilkan keuntungan.

Tabel 2.1.3.1. Alur Bercocok Tanam

No.

Bulan

Tanaman Yang di Tanam

1.

April-Juli

Padi

2.

Juli-Oktober

Padi

3.

Oktober-Januari

Cabai

4.

Januari-April

Padi

 

Berdasarkan penjelasan dari Bapak Sholihin, beliau masih menggunakan sistem pertanian tradisional dalam menggarap sawahnya, misalnya dalam hal membajak sawah beliau masih menggunakan bajak yang menggunakan tenaga hewan seperti sapi ataupun kerbau, dalam hal penyiangan pun beliau tetap menggunakan tangan ataupun gasrok, begitu juga dalam hal pemanenan. Dalam pemanenan padi beliau masih menggunakan sabit, untuk merontokkan padi menggunakan gepyok, menurut Bapak Sholihin jika menggunakan mesin bajak untuk sawahnya tersebut, selain harga penyewaanya yang mahal jika menggunakan mesin tidak efisien karena lahan sawah yang dibajak juga tidak luas.

Gambar 2.1.3.1 Diagram Alir Bercocok Tanam

 

Pengolahan lahan

 

 

Persiapan benih, persemaian, dan pola tanam

 

Penyiangan

  • Persiapan Benih, Persemaian dan pola tanam

  • Persiapan Benih, Persemaian dan pola tanam

Pengendalian hama

Panen

  • Persiapan Benih, Persemaian dan pola tanam

Pemupukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cara budidaya padi yang beliau terapkan:  pertama penyiapan benih yang akan digunakan, yaitu menggunakan varietas IR 64 kemudian siapkan tempat persemaian. Kemudian sebar benih padi pada persemaian. Umur bibit padi yang siap digunakan adalah bibit padi dengan umur sekitar 20 hari. Sebelum pananaman bibit padi, sawah diolah terlebih dahulu dengan menggunakan bajak dan garu secara tradisional. Penanaman bibit padi dilakukan dengan tangan, sekitar 2-3 bibit padi per lubang tanam dengan jarak tanam sekitar 20cm x 20cm. Untuk pemeliharaan tanaman padi, Bapak Sholihin melakukan penyiangan setiap kali jika lahan sawah sudah tumbuh gulma, penyiangan tersebut dilakukan dengan menggunakan tangan ataupun gasrok. Kemudian melakukan pemupukan. Bapak Sholihin biasa menggunakan pupuk kimia yaitu pupuk urea, phonska, dan ZA. Dosis yang digunakan untuk penggunaan pupuk tersebut adalah sekitar 40 kg urea, phonska 40 kg, dan 40 kg ZA. Selain itu, pak Sholihin juga menggunakan pupuk kandang yang diberikan pada saat pengolahan lahan. Pengairan yang diterapkan pada saat menanam padi adalah dengan pengairan tradisional yaitu mengalirkan air irigasi dari sungai. Keadaan pengairan pada desa Sumber Pasir lancar, sehingga tidak ada masalah dengan kekeringan

Pemanenan tanaman padi dilakukan ketika tanaman tersebut sudah mulai terlihat menguning atau ketika tanaman sudah berumur sekitar 4 bulan. Pemanenan tersebut dilakukan secara tradisional yaitu dengan menggunakan sabit lalu dirontokkan dengan gapyok. Setelah dipanen, padi yang sudah dirontokkan dijemur, setelah dijemur gabah yang sudah kering diselep untuk dihasilkan beras. Dalam penyelepan Bapak Sholihin tidak terlalu susah untuk mencari jasa penyelepan karena biasanya jasa tersebut keliling dari rumah ke rumah. Kemudian hasil dari selepan tersebut sebagian konsumsi sendiri, sebagian besar dijual ke tengkulak yang berada di selepan.

Menurut Bapak Sholihin, pada saat budidaya tanaman padi tersebut, hama yang biasa muncul adalah belalang dan untuk mengendalikan hama tersebut petani biasa menggunakan pestisida kimia seperti Desis atau Furadan. Untuk desis, digunakan dosis 2 tutup per tangki penyemprot. Selain itu, hama tikus dan penyakit gondrong (sebutan petani setempat) merupakan hama dan penyakit tanaman padi yang sulit dikendalikan. Jika sudah terkena hama tikus dan penyakit gondrong, petani pasti akan mengalami gagal panen.

Menurut (Pudjiastuti, 2000) sebaiknya ada masa istirahat untuk lahan yang akan digunakan untuk bercocok tanam. Jadi, penanaman tidak dilakukan secara terus-menerus. Misalnya ditanami jagung kemudian padi begitu seterusnya hal ini tidak disarankan sebab tanah makin lama akan rusak apabila tidak dilakukan regenerasi.

 

2.1.4 Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam

Menurut (Sasongko, 2005) lebih dari tiga dasawarsa, pembangunan di Indonesia menghasilkan mekanisme penyeragaman budaya (pangan dan pola pertanian). Dampak pembangunan yang disinyalir menjadi salah satu akar menguatnya separatisme di Indonesia pada akhir kekuasaan rezim Soeharto. Pada awal politik ‘swasembada pangan’, petani dipaksa meninggalkan sistem pertanian tradisional dan diganti dengan sistem yang modern yang menyeragamkan mulai dari input, varietas, hingga sistem pengelolaan irigasi.

Menurut penjelasan dari Bapak Sholihin, perubahan sosial budaya petani yang terlihat yaitu dahulu dalam pengolahan tanah atau pembajakan hanya mengunakan tenaga hewan sekarang muncul mesin bajak, dahulu petani menggunakan pupuk kandang atau pupuk hijau. Perubahan tidak hanya terjadi pada skema penggunaan alat saja. Para petani juga sudah banyak dikenalkan pada teknologi organik. Yang mana menurut pak Sholihin, itu kembali ke proses pada zaman dia memulai karirnya.

Dianggap lebih mudah didapat dan reaksi terhadap tanaman lebih cepat bisa terlihat. Meskipun pada saat ini harga pupuk kimia terus meningkat namun petani tersebut tetap menggunakannya karena dianggap pupuk kimia lebih praktis untuk digunakan. Bapak Sholihin juga menerapkan pada sawahnya. Beliau menggunakan pestisida kimia dan pupuk kimia, tetapi dalam pengolahan lahan, penanaman benih, dan pemanenan, Bapak Sholihin masih menggunakan alat-alat tradisional, seperti bajak dengan tenaga sapi, sabit dan gepyok.

Dari pembahasan di atas nampak adanya pergeseran skema sosial yang dulunya dianggap kuno, kini dianggap suatu tindakan modern yang diusahakan dalam skema sosiologi pertanian. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa pergeseran akan selalu terjadi sesuai dengan tuntutan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di bidang pertanian.

 

2.1.5 Lembaga yang Berkaitan dengan Pengadaan Sarana Produksi. Tenaga Kerja dan Pemasaran Hasil Pertanian

Sawah yang digarap oleh Bapak Sholihin saat ini adalah sawah milik sendiri. Benih/bibit yang digunakan oleh petani tersebut adalah bibit yang diperoleh dengan membeli dari GAPOKTAN setempat, begitu juga dengan pestisida dan untuk pupuknya Bapak Sholihin membeli dari GAPOKTAN setempat.

Menurut (Winarno, 2010) mengatakan bahwa banyak macam lembaga sosial yang ada misalnya  lembaga keluarga yang berfungsi sebagai sarana sosialisasi primer, afeksi, dan pemberian status. Lembaga budaya, berfungsi sebagai perantara pewarisan budaya masyarakat, mengajarkan peranan sosial, dan mengembangkan hubungan sosial. Lembaga ekonomi yang berfungsi sebagai pengatur produksi, distribusi dan konsumsi barang maupun jasa, serta memberi pedoman menggunakan tenaga kerja. Pada perkembangannya atas dasar persamanaan nasib dan motivasi yang sama maka petani petani di suatu lokal membentuk kelompok tani. Hal ini sebagai wadah untuk membahas segala permasalahan yang mereka hadapi, berdiskusi dan mencari solusi yang terbaik. Pembentukan sebuah kelompok tani tak dapat dilepaskan dari peran Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dibawah Badan Penyuluh Pertanian (BPP) dibawah Dinas Pertanian. Lembaga politik yang berfungsi sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban, serta melayani dan melindungi masyarakat serta terdapat lembaga agama yang berfungsi sebagai sumber pedoman hidup bagi masyarakat dan pengatur tata cara hubungan manusia dengan sesama dan manusia dengan Tuhan. Sehingga GAPOKTAN dan KUD dapat digolongkan kedalam lembaga ekonomi karena GAPOKTAN terbentuk karena adanya dorongan faktor ekonomi selain itu GAPOKTAN dapat dikatakan sebagai lembaga sosial yang berusaha memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian hidup, memproduksi, menimbun, dan memdistribusikan barang. Contoh: pertanian, perikanan, perternakan, koperasi dan perdagangan.

Bapak Sholihin biasa menggunakan pupuk kimia seperti urea, phonska, dan ZA. Beliau biasanya membeli pupuk Urea sebanyak 40 kg, ZA sebanyak 40 kg, dan phonska sebanyak 40 kg untuk digunakan pada sawahnya. Dengan harga masing-masing pupuk, Urea seharga Rp 3.800,-/kg, ZA seharga Rp 3.800,-/kg, dan Phonska seharga Rp 5.000,-/kg. Sedangkan pestisida yang biasa digunakan oleh Bapak Shilohin adalah Desis dan Furadan, desis untuk wereng dan furadan untuk belalang. Beliau membeli pestisida dengan harga Rp 22.000 per 2 kg untuk Uradan dan Desis Rp 11.000 per 10 ml.

Dalam sistem pengairannya, Bapak Sholihin menerapkan sistem irigasi tradisional yaitu air yang didapat berasal dari aliran air sungai selanjutnya dialirkan pada sawahnya.

Dalam setiap proses cocok tanam tanaman padi, Bapak Sholihin tidak mengerjakan sendiri melainkan menyewa tenaga kerja. Misalanya untuk pengolahan tanah, penanaman, penyiangan dan pemanenan. Bapak Sholihin mendapat tenga kerja dari tetangga sendiri. Untuk penanaman dan penyiangan diperlukan tenaga pria dengan upah harian Rp 12.500 dengan dikirim makan. Sedangkan, untuk pemanenan diperlukan tenaga pria dengan upah Rp 20.000 per kuintal gabah

Menurut Bapak Sholihin, hasil panenan setelah proses penyelepan menjadi beras, beras tersebut sebagian dikonsumsi sendiri untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagian dijual dalam bentuk gabah ke tengkulak. Bapak Sholihin akan menjualnya dengan harga Rp 350.000,- sampai 375.000,- per kwintal. Menurut bapak Sholihin harga tersebut merupakan harga yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

 

2.1.6 Kesimpulan

Pak Solikin adalah salah satu penduduk desa Sumber Sari, Dusun Rangin RT.19 yang bermata pencaharian hanya sebagai petani. Pak Sholihin cukup cekatan dalam mengolah sawahnya karena telah mendapat pelajaran mengolah sawah dari orang tuanya secara langsung juga dari tetangganya. Tenaga kerja susah didapatkan karena sebagian besar petaninya pindah kerja menjadi pegawai pabrik triplek di daerah tersebut. Benih, pestisida, serta pupuk pak Sholihin didapatkan dari beli pada GAPOKTAN. Setiap satu musim tanam, pak Sholihin menghabiskan masing-masig 40 kg urea, ZA, dan Phonska. Selain itu, pada saat penanaman dibarengi perawatan tanaman yang menghabiskan pestisida. Pengairan sawahnya lancar yang berasal dari sungai di sekitarnya. Sebagian besar hasil panen langsung dijual dalam bentuk gabah, hanya sebagian kecil yang dikonsumsi.

 

2.2 ASPEK SOSIOLOGIS PETANI (SUWITO OLEH ARUM YULI KRISTANTI)

2.2.1   DESKRIPSI PETANI

Petani yang saya kunjungi atau yang saya wawancarai beliau bernama Suwito. Beliau berusia sekitar 64 tahun, beliau berpendidikan sampai SD itupun tidak tamat karena beliau hanya sampai kelas empat kemudian keluar. Dilihat dari kondisi rumah beliau, beliau bisa dikatakan mampu dalam ekonomi. Semua anggota keluarganya hanya bekerja sebagai petani. Beliau beserta istrinya tidak mempunyai pekerjaan sampingan, jadi mereka hanya bekerja atau mencari nafkah dari bertani. Bapak Suwito memulai bertani sejak tahun 1962 sampai sekarang. Di rumah Bapak Suwito hanya tinggal bersama istrinya karena anak-anaknya sudah berkeluarga dan mempunyai rumah sendiri. Tetapi saat penggarapan sawahnya Bapak Suwito dibantu oleh anak-anaknya, karena tempat tinggal anak-anaknya tidak jauh dari rumah Bapak Suwito. Kondisi rumah Bapak Suwito cukup bagus sehingga sudah bisa dikatakan termasuk keluarga dengan perekonomian menengah ke atas.

 

2.2.2   STATUS SOSIAL EKONOMI KELUARGA

Dilihat dari status sosial ekonomi keluarga Bapak Suwito, beliau bisa dikatakan mampu. Beliau memiliki sawah dengan luas lahan 1,5 ha, beliau mendapatkan lahan tersebut dari membeli sejak tahun 2002. Selain itu Bapak Suwito juga memiliki lahan sewa seluas 600 m2, beliau menyewa dari tetangganya yang bernama Bapak Sa’i, beliau menyewa lahan tersebut sejak tahun 2011. Bapak Suwito tidak mempunyai tegal, jadi beliau hanya fokus mengurus lahan persawahan. Lahan persawahan ini semuanya hanya ditanami tanaman pisang, jadi walaupun Bapak Suwito tidak mempunyai lahan tegal tetapi tetap bisa menanam tanaman pisang di sawahnya. Sarana transportasi yang dimiliki keluarga Bapak Suwito hanya 1 unit motor saja, keluarga beliau tidak memiliki sepeda ontel dan mobil atau sejenisnya. Sedangkan sarana komunikasi yang dimiliki oleh keluarga Bapak Suwito adalah 1 unit radio, 1 unit TV dan 1 unit handphone. Untuk kondisi rumah dari bapak Suwito sendiri cukup bagus, luas bangunannya ada 50 m2, jenis lantainya sudah berupa keramik, untuk jenis dinding rumahnya berupa tembok, dan untuk jenis atap rumahnya bapak Suwito berupa genteng biasa.

Berdasarkan status ekonomi:

  1. Aristoteles membagi masyarakat secara ekonomi menjadi kelas atau golongan:.
  • Golongan sangat kaya
  • Golongan kaya
  • Golongan miskin

Aristoteles menggambarkan ketiga kelas tersebut seperti piramida:

 

Golongan pertama : merupakan kelompok terkecil dalam masyarakat. Mereka terdiri dari pengusaha, tuan tanah dan bangsawan.
Golongan kedua : merupakan golongan yang cukup banyak terdapat di dalam masyarakat. Mereka terdiri dari para pedagang, dsbnya.
Golongan ketiga : merupakan golongan terbanyak dalam masyarakat. Mereka kebanyakan rakyat biasa.

2. Karl Marx juga membagi masyarakat menjadi tiga golongan, yakni:

a. Golongan kapitalis atau borjuis : adalah mereka yang menguasai tanah dan alat produksi.

b. Golongan menengah : terdiri dari para pegawai pemerintah.

c. Golongan proletar : adalah mereka yang tidak memiliki tanah dan alat produksi. Termasuk     didalamnya adalah kaum buruh atau pekerja pabrik.

Menurut Karl Marx golongan menengah cenderung dimasukkan ke golongan kapatalis karena dalam kenyataannya golongan ini adalah pembela setia kaum kapitalis. Dengan demikian, dalam kenyataannya hanya terdapat dua golongan masyarakat, yakni golongan kapitalis atau borjuis dan golongan proletar. (Anonymousa, 2011)

Dari literatur yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa Bapak Suwito termasuk dalam masyarakat yang berstatus social ekonomi sebagai golongan kaya jika dimasukkan dalam teori aristoteles, sedangkan dalam teori Karl Marx Bapak Suwito termasuk dalam golongan kapitalis atau borjuis.

 

2.2.3 KEBUDAYAAN PETANI

Kebudayaan pertanian adalah suatu kebiasaan yang dilakukan dan dilaksanakan secara terus menerus pada saat sebelum atau sesudah menggarap atau memanen hasilnya. (anonymousb, 2012)

Kebudayaan keluarga bapak Suwito adalah menanam tanaman pisang klutuk tetapi tanaman pisang tersebut hanya dimanfaatkan daunnya saja untuk dijual dan digunakan sebagai bungkus oleh makanan, misalkan untuk bungkus lontong dan sebagainya. Cara bercocok tanam yang diterapkan oleh bapak Suwito yaitu dengan menanam pohonnya dahulu, setelah sudah mulai tumbuh biasanya bapak Suwito mulai memberikan pupuk pada tanamannya, jika tanaman pisang tersebut sudah mulai tumbuh buahnya maka bapak Suwito segera memotongnya, karena menurut beliau itu bisa menghambat pertumbuhan dari daunnya itu sendiri. Selain itu juga menurut bapak Suwito lebih berharga daunnya daripada buahnya, oleh sebab itu jika ada mulai tumbuh buah langsung dipotong bapak Suwito, tetapi terkadang buah yang masih mentah itu dijual kepada penjual rujak untuk digunakan sebagai bumbu rujaknya.

Daun pisang tersebut bisa dipanen saat umur 1-1,5 bulan. Setelah panen daun bisa langsung dijual tanpa ada perlakuan lagi setelah panen. Jika sudah panen bapak Suwito mulai menanam lagi dan mendapatkan benih dari buatannya sendiri yaitu anakan dari pohon-pohon pisangnya. Pengolahan tanahnya itu sendiri bapak Suwito menggunakan cara tradisional yaitu dengan cangkul. Untuk varietas tanaman pisang yang digunakan yaitu adalah pisang kluthuk. Benih yang digunakan dalam 1 ha sawah tidak terhitung. Cara penanamannya itu dengan menggunakan jarak tanam sekitar 2 meter antar tanaman, satu lubang hanya diisi 1 bibit tanaman pisang saja, untuk pengairannya sudah ada yang mengurusi di desa itu, biasanya digilir antara petani satu dengan petani lainnya. Untuk jenis pupuk yang digunakan oleh bapak Suwito disini ada pupuk kimia diantaranya adalah urea, phonska, ZA, SP-36, KCL, serta dolomex, sedangkan untuk pupuk organiknya bapak Suwito menggunakan pupuk kompos. Untuk proporsi masing-masing pupuk yaitu 1:1. Biasanya masing-masing pupuk bapak Suwito memakai sebanyak 50 kg. Pemupukan dilakukan setiap 1,5 bulan sekali.

Untuk penyiangannya bapak Suwito tidak menggunakan alat-alat seperti biasanya, tetapi bapak Suwito menggunakan cara yang masih sangat tradisional yaitu menggunakan sapi. Tetapi penyiangan dengan sapi dilakukan pada waktu musim hujan, saat musim kemarau atau saat tanah kering biasanya hanya menggunakan tangan. Untuk hama yang menyerang tanaman pisang bapak Suwito adalah ulat gulung, untuk pengendaliannya bapak Suwito cukup dengan cara mekanis yaitu dengan dipotong pada daun-daun yang terdapat hama tersebut.

Untuk cara pemanenan daun pisang ini adalah dengan cara digasrok biasa, kemudian dijual pada tengkulak. Biasanya tengkulaknya yang mengambilnya sendiri ke bapak Suwito.

Bapak Suwito memperoleh pengetahuan tentang cara bercocok tanam tanaman pisang dari cara berfikir beliau sendiri, jadi beliau tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari orangtuanya dahulu maupun dari tetangganya.

 

Tabel 2.2.3.1 Bercocok Tanam Bapak Suwito

Bulan

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

Komoditas

PISANG

 

 

 

Gambar 2.2.3.1. Diagram Alir Bercocok Tanam Bapak Suwito

Pengolahan Lahan

Pemupukan

Perawatan

Pemanenan

Penanaman Benih

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2.4   PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA PETANI TERKAIT CARA BERCOCOK TANAM

Dari awal bertani sampai sekarang cara bercocok tanam bapak Suwito tidak pernah berubah, dari awal bertani sampai sekarang bapak Suwito tetap  menanam tanaman pisang. Karena menurut beliau tanaman pisang ini sudah cukup menguntungkan dan sudah  menghasilkan produksi yang tinggi. Selain itu juga bapak Suwito tidak ingin mencoba menanam tanaman lain selain tanaman pisang.

Jika dibandingkan dengan orde baru terjadi Revolusi Hijau yaitu adanya perubahan cara bercocok tanam tradisional ke modern yang bertujuan untuk mengubah petani-petani gaya lama dengan petani-petani gaya baru atau bisa disebut memodernisasi pertanian gaya lama demi memenuhi industrialisasi ekonomi nasonal. (Anonymousc, 2011)

Sangat berbeda dengan bapak Suwito, karena bapak Suwito tidak pernah dan tidak ingin merubah budaya bercocok tanamnya dari awal bertani hingga saat ini. Menurut beliau, cara bercocok tanam yang beliau terapkan tersebut sudah baik sehingga beliau tidak ingin mencoba untuk merubah cara bercocok tanamnya, selain itu beliau juga tidak menginginkan jika beliau mengalami kerugian ketika beliau mengubah cara bercocok  tanamnya.

 

2.2.5   LEMBAGA YANG TERKAIT DENGAN PENGADAAN SARANA PRODUKSI, TENAGA KERJA DAN PEMASARAN HASIL

Banyak perusahaan-perusahaan besar yang menyisihkan laba usahanya untuk pembangunan di bidang pertanian, tapi belum bisa dirasakan memberikan perubahan besar dan berarti karena pelaksanaan yang belum tepat sasaran. Hal ini karena tingkat keseriusan dan fokus pada peningkatan kesejahteraan pertanian selalu dihadapkan pada kendala di lapangan sehingga program kepada petani selalu terputus atau tidak berkelanjutan. (Anonymousd, 2012)

Bapak Suwito tidak mempunyai kerjasama dengan lembaga apapun. Sehingga beliau kurang bisa memanfaatkan fasilitas-faslitas yang telah disediakan oleh pihak-pihak yang berwenang. Beliau mendapatkan tenaga kerja dari keluarganya sendiri, misalkan anak-anaknya, terkadang juga cucu-cucunya ikut membantu dalam perawatan lahannya. Tetapi walaupun tenaga kerjanya adalah keluarganya sendiri bapak Suwito tetap memberikan upah kepada mereka, upahnya diberikan dengan sistem harian. Bapak suwito memberikan upah Rp. 15.000,-/hari.

Bapak Suwito memperoleh bibit dari hasil panen sebelumnya/membuat benih sendiri. Sedangkan untuk pupuk-pupuk yang digunakan, bapak Suwito mendapatkannya dari membeli di toko-toko yang menyediakan. Bapak Suwito membelinya dengan kontan. Bapak suwito tidak pernah memakai pestisida kimia apapun, jadi beliau selalu menggunakan cara-cara yang aman untuk mengendalikan hama pada tanamannya. Untuk pengairan, bapak Suwito mendapatkannya dari kali Tumpang kemudian dialirkan ke sawah bapak Suwito. Dan biasanya itu dilakukan setiap 1 bulan sekali tetapi saat musim kemarau beliau mengairi dengan menggunakan diesel.

Untuk pemasarannya bapak Suwito tidak begitu mengerti karena beliau hanya menjualnya ke tengkulak yang mengambil ketempatnya. Jadi yang memasarkan hasil panen bapak Suwito adalah tengkulak. Biasanya bapak Suwito menjual daunnya sebesar Rp. 2000,- tiap gulungnya. Dan itu termasuk penghasilan yang sedang kalau menurut bapak Suwito sendiri. Sedang disini berarti bahwa penghasilan bapak Suwito sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.

Bapak Suwito tidak tergabung atau tidak mempunyai kerjasama dengan lembaga atau organisasi apapun, hanya saja ketika beliau akan melakukan pengairan pada lahannya beliau mengambil air dari kali Tumpang yang kemudian dialirkan ke lahan beliau. Untuk organisasi seperti kelompok tani dan sebagainya, Bapak Suwito tidak pernah mengikutinya karena untuk masuk dalam organisasi tersebut Bapak Suwito harus membayar, sehingga beliau tidak berminat untuk bergabung.

 

2.2.6   KESIMPULAN

Berdasarkan survei yang telah dilakukan, bahwa petani yang bernama Bapak suwito yang berada di Dusun Ngrangin, Desa Sumber Pasir RT 20 tetap menggunakan cara tradisional dalam bercocok tanam, mulai dari penanaman sampai pemanenan, meskipun dalam penggunaan pupuk sudah menggunakan pupuk kimia, tetapi untuk pestisida Bapak Suwito tidak pernah menggunakan pestisida kimia. Dalam kebudayaan cara bercocok tanam Bapak Suwito tidak pernah mengalami perubahan, alasan beliau adalah karena menurut beliau cara bercocok tanam yang seperti itu sudah menghasilkan penghasilan yang cukup tinggi serta sudah mampu memberikan masukan ekonomi yang cukup besar untuk keluarganya. Bapak Suwito mengolah lahan pertaniannya dibantu oleh tenaga kerja dari keluarganya sendiri dengan upah harian. Hasil pertanian dari sawah Bapak Suwito 100% dijual, dan tidak ada yang disimpan maupun dikonsumsi sendiri.

 

 

 

 

2.3    ASPEK SOSIOLOGIS PETANI (YUSUF OLEH AULIYA RAHMAWATI)

2.3.1 Deskripsi Keluarga Petani

Pak Yusuf ialah seorang petani berumur 60 tahun yang tinggal di dusun Ngrangin RT 19, desa Sumber Pasir Malang. Beliau hidup bersama seorang istri dan dua orang anak perempuan yang sudah menikah serta empat orang cucu. Beliau tumbuh di keluarga yang serba terbatas ekonominya. Adanya keterbatasan ekonomi menyebabkan Pak Yusuf belum pernah merasakan bangku sekolah sampai sekarang. Hal ini membuat beliau harus mau membantu kedua orang tuanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dengan cara bekerja sebagai petani sejak remaja. Selain bekerja sebagai petani Pak Yusuf juga bekerja sebagai kuli bangunan pada tahun 2005 untuk mencari tambahan uang.

 

2.3.2 Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani

Tabel  2.3.2.1 Kepemilikan Lahan Petani

Jenis Lahan

Kepemilikan

Sistem Bagi Hasil

Keterangan

Sawah

Sewa

Maro

1 Cetet (1/8 ha)

Tegal

Milik

-

Warisan Orang Tua

Sewa

Maro Bersih

¼ ha dari Mertua

 

Dari tabel data di atas dapat diketahui bahwa Pak Yusuf tidak memiliki sawah sendiri. Lahan sawah yang biasa digunakan Pak Yusuf dalam kegiatan bercocok tanam selama ini ialah lahan sawah sewa milik juragan seluas 1 cetet (1/8 ha) per 2 tahun dan sistem bagi hasilnya dilakukan dengan cara maro. Pak Yusuf juga memiliki tegalan yang biasanya dikenal dengan sebutan beran dari warisan orang tuanya seluas 1 cetet (1/8 ha) mulai tahun 2005. Selain itu beliau juga menyewa tegalan dari mertuanya (Ismail) seluas ¼ ha selama 8 tahun, dari Pak Yasin seluas ¼ ha selama 6 tahun, dan dari Pak Makmur seluas 1 cetet (1/8 ha) selama 1 tahun dengan sistem bagi hasilnya maro bersih sejak tahun 2007.

 

Tabel 2.3.2.2 Kepemilikan Ternak

Jenis Ternak

Jumlah

Status

Ayam

4 ekor

Milik

Sapi

3 ekor

Nggadu (bagi hasil)

 

Pak Yusuf memiliki ayam sebanyak 3 ekor yang diternak dan biasanya dikonsumsi sendiri jika sudah besar. Beliau juga merawat sapi milik tetangganya sebanyak 3 ekor. Sapi-sapi tersebut tidak mendapatkan makan dari pemiliknya, namun mereka mendapatkan makan dari pak Yusuf. Dalam merawat sapi-sapi tersebut terkadang Pak Yusuf mendapatkan beberapa kendala, yaitu sulitnya mencari rumput gajah untuk pakan sapi menyebabkan beliau harus membeli seharga Rp 5.000,- per ikat. Jika sapi-sapi tersebut sudah besar maka sapi tersebut akan dijual dan hasilnya akan dibagi dengan pemilik sapi secara nggadu (bagi hasil).

 

Tabel 2.3.2.3 Sarana Transportasi dan Sarana Komunikasi

Sarana

Jenis

Keterangan

Transportasi

Sepeda Ontel

2 unit

Sepeda Motor

2 unit

Komunikasi

Radio

1 unit

TV

2 unit

HP

4 unit

 

Sarana transportasi yang dimiliki Pak Yusuf sekarang yaitu sepeda ontel sebanyak 2 unit dan sepeda motor milik kedua anaknya sebanyak 2 unit. Selain itu pak Yusuf juga memiliki sarana komunikasi berupa 1 unit radio, 2 unit TV dan HP 4 unit.

Kondisi rumah tempat tinggal Pak Yusuf sudah bagus dan nyaman. Beliau tinggal di rumah seluas 75 m2 (5 x 15 m) yang berlantai keramik warna putih, berdinding tembok yang dicat dengan warna biru laut dan atap rumahnya dari genteng slungpring.

Dari semua data yang diperoleh dari hasil wawancara dengan Pak Yusuf dapat diketahui bahwa Pak Yusuf termasuk petani yang sudah mampu. Hal ini terbukti dengan fasilitas yang dimiliki beliau seperti 2 unit TV, 4 unit HP, 2 unit sepeda ontel, 2 unit sepeda motor dan 1 unit radio. Selain itu rumahnya juga sudah berdinding tembok dan cukup luas. Oleh karena itu Pak Yusuf termasuk petani yang mampu.

 

2.3.3 Kebudayaan Petani

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

Padi

Jagung + Cabai

Padi

Pak Yusuf mendapatkan pengetahuan tentang cara bercocok tanam hanya dari pengalamannya membantu orang tua bertani. Selama ini beliau enggan mengikuti kegiatan penyuluhan pertanian yang ada di desanya. Pak Yusuf beranggapan bahwa kegiatan penyuluhan tersebut tidak membawa perubahan ataupun berdampak positif terhadap tanaman budidaya yang sedang ditanamnya. Karena ketidakpercayaannya inilah, beliau malas untuk datang ke acara penyuluhan tiap minggunya dan tetap bertahan dengan cara bercocok tanam yang telah beliau pahami selama ini.

 

Tabel 2.3.3.1 Alur Bercocok Tanam Pak Yusuf

 

Dalam satu tahun terakhir ini Pak Yusuf menanam padi dan jagung di sawah dan tegalannya. Beliau menanam padi secara monokultur di saat musim hujan dan menanam jagung secara tumpangsari di saat musim kemarau. Hal ini dilakukannya supaya tanaman budidaya dapat tumbuh secara optimal dan tanaman sampingan (cabai) dapat tumbuh tinggi. Menurut Pak Yusuf, tanaman cabai yang ditanam bersama dengan tanaman jagung dapat tumbuh lebih tinggi daripada yang tidak ditanam bersama tanaman jagung. Selain itu hasil produksi tanaman cabai juga lebih banyak dan ukurannya lebih besar.

Saat Pak Yusuf masih remaja beliau pernah mencoba menanam tanaman sawi, namun hasil panennya tidak sesuai dengan yang beliau harapkan. Biaya produksi yang dikeluarkan untuk perawatan dan pemupukannya lebih besar daripada harga jualnya. Hal ini menyebabkan beliau hanya memilih dua siklus tanam dalam satu tahun (padi dan jagung + cabai) dan tidak menanam tanaman sayur-sayuran (hortikultura) lagi karena beliau beranggapan bahwa tanaman hortikultura biaya produksinya lebih tinggi daripada harga jualnya sehingga dapat menimbulkan kerugian untuknya.

 

Gambar 2.3.3.1 Diagram Alir Cara Bercocok Tanam Petani

Pengolahan Tanah

 

 

Persiapan Bibit

 

 

Pemberian Pupuk

 

 

Penyiangan Gulma

 

 

Pembasmian Hama

 

 

Pemanenan

 

 

Pasca Panen

 

Cara budidaya yang diterapkan Pak Yusuf selama ini yaitu dimulai dari pengolahan tanah (dibrujul, digaru, ditahan supaya dayung, dan setelah satu minggu dirambahi, digenangi air, dan dikerek). Pengolahan tanah ini dilakukan menggunakan bajak jika lahannya sempit dan menggunakan traktor jika lahannya cukup luas. Tahap kedua yaitu persemaian bibit varietas 64 serang sebanyak 15 kg dengan cara disebar pada kedokan atau petak-petak sawah untuk ¼ ha sawah dan untuk jagung menggunakan biji yang diberikan oleh PT Dupon. Umur bibit padi yang siap digunakan yaitu bibit padi yang berumur 21 hari. Bibit yang sudah siap tanam, ditanam 2-3 buah per lubang dengan jarak tanamnya 22 cm dalam keadaan lahan yang tergenang air. Untuk tanaman jagung, beliau langsung menanam biji jagung 2 buah per lubang dengan jarak tanam 15 x 70 cm dalam kondisi air yang tidak tergenang.

Tahap selanjutnya yaitu memberikan pupuk pada tanaman budidaya. Pak Yusuf menggunakan pupuk urea dan phonska untuk perawatan jagung, sedangkan pada padi beliau menggunakan pupuk urea dan ZA. Pemupukan ini dilakukan 2 kali, saat tanaman berumur 1 atau 1 ½ bulan dan saat tanaman berumur 2 ½ bulan. Selain menggunakan pupuk kimia beliau juga menggunakan pupuk kandang dengan dosis yang tidak terlalu diperhitungkan.

Kendala yang sering dialami Pak Yusuf dalam kegiatan budidaya yaitu tumbuhnya gulma di area  lahan dan hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman budidaya. Untuk mengatasi bertambahnya jumlah gulma yang terus meningkat maka perlu dilakukan penyiangan dan untuk membasmi hama beliau memberi pestisida kimia.  Dalam penyiangan beliau menggunakan tangan jika gulmanya sedikit dan tanahnya gembur. Namun jika tanahnya keras dan gulmanya banyak maka lahan tersebut disiangi dengan gasrok. Sebelum disiangi, lahan digenangi air terlebih dahulu agar lebih mudah diambil. Hama yang sering menyerang lahan beliau yaitu wereng, walang sangit, ulat, belalang, dan tikus. Biasanya pengobatannya menggunakan pestisida kimia, yaitu pestisida cair dan pestisida kering. Untuk pestisida cair beliau menggunakan 3 tutup botol pestisida untuk 1 tangki besar dan untuk pestisida kering beliau mencampurnya dengan mess dan disebar langsung.

Jika sudah masuk musim panen atau tanaman sudah matang maka tanaman padi dan jagung tersebut dipanen dengan cara digepyok. Biasanya beliau memperkerjakan orang lain untuk memanen hasil pertaniannya. Orang yang dipekerjakan ini harus dipesan oleh Pak Yusuf dari satu minggu sebelum panen karena orang yang dipekerjakan ini biasanya bekerja di pabrik.

Jika hasil panen padi Pak Yusuf sedikit maka padi tersebut dijemur sehari dan sore harinya (setelah dingin) dimasukkan ke dalam karung untuk disimpan dan dikonsumsi sendiri. Namun jika hasil panennya banyak maka padi tersebut langsung dimasukkan kedalam karung dan langsung dijual ke juragan dengan cara ditawarkan terlebih dahulu ke pembeli dan nantinya diambil sendiri oleh pembeli.

Menurut Dinas Pertanian dan kehutanan Kabupaten Bantul, teknik bercocok tanam yang baik sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang sesuai harapan. Hal ini harus dimulai dari awal, yaitu sejak persemaian sampai tanaman itu bias dipanen. Tahap-tahapnya yaitu:

  1. Persemaian

Tahap

Keterangan

Penggunaan Benih

  • Benih unggul
  • Bersertifikat
  • Kebutuhan benih 25-30 kg/ha

Persiapan Lahan Untuk Persemaian

  • Tanah harus subur
  • Cahaya matahari
  • Pengairan
  • Pengawasan

Pengolahan Tanah calon Persemaian

  • Persemaian kering
  • Persemaian basah
  • Persemaian system dapog

Penaburan Benih

  • Sebelum benih ditabur terlebih dahulu direndam selama 24 jam agar terjadi proses tisiologis dan benih yang kurang baik dapat terlihat lalu diperam selama 48 jam
  • Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menebar benih, yaitu:
  1. Benih telah berkecambah ± 1mm
  2. Benih tersebar rata
  3. Kerapatan benih harus sama

Pemeliharaan Persemaian

  • Pengairan
  • Pemupukan di Persemaian

 

  1. Persiapan dan pengolahan tanah sawah

Tahap

Keterangan

Pembersihan

  • Selokan-selokan perlu dibersihkan
  • Jerami yang ada dibabat untuk pembuatan kompos

Pencangkulan

  • Perbaikan pematang dan petak sawah yang sukar dibajak

Pembajakan

  • Memecah tanah menjadi bongkahan-bongkahan tanah
  • Membalikkan tanah beserta tumbuhan rumput (jerami) sehingga akhirnya membusuk

Penggaruan

  • Meratakan dan menghancurkan gumpalan-gumpalan tanah
  • Sebaiknya tanah dalam keadaan basah
  • Selama digaru saluran pemasukan dan pengeluaran air ditutup agar lumpur tidak hanyut terbawa air keluar

 

  1. Penanaman

Tahap

Keterangan

Persiapan Lahan

  • Tanah yang sudah diolah, siap untuk ditanami

Umur Bibit

  • Syarat-syarat bibit yang siap dipindahkan ke sawah, yaitu:
  1. Bibit telah berumur 17-25 hari
  2. Bibit berdaun 5-7 helai
  3. Batang bagian bawah besar dan kuat
  4. Pertumbuhan bibit seragam
  5. Bibit tidak terserang hama dan penyakit

Tahap Penanaman

Tahap penanaman dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:

  1. Memindahkan bibit
  2. Menanam
    1. Sistem larikan (cara tanam)
    2. Jarak tanam
    3. Hubungan tanaman
    4. Jumlah tanaman tiap lubang
    5. Kedalaman menanam bibit
    6. Cara menanam

 

  1. Pemeliharaan

Tahap

Keterangan

Penyulaman dan Penyiangan

  • Penyulaman
  1. Bibit yang digunakan harus jenis sama
  2. Bibit yang digunakan merupakan sisa bibit yang terdahulu
  3. Penyulaman tidak boleh melampaui 10 hari setelah tanam
  • Penyiangan
  1. Tanaman pengganggu (selain tanaman pokok) dihilangkan

Pengairan

  • Secara terus menerus
  • Secara periodic

Pemupukan

Pupuk yang sering digunakan oleh petani, yaitu:

  • Pupuk organik
  • Pupuk an-organik

Dosis Pupuk Yang Digunakan, yaitu:

  • Pupuk Urea 250-300kg/ha
  • Pupuk SP 36 75-100 kg/ha
  • Pupuk KCL 50-100 kg/ha
  • Atau disesuaikan dengan analisa tanah

 

Jika dibandingkan dengan literatur maka teknik bercocok tanam yang dilakukan oleh Pak Yusuf masih kurang baik. Hal ini terlihat dari tahap-tahap bercocok tanam yang belum berurutan sesuai standart. Penyediaan benih padi Pak Yusuf juga terlalu banyak, untuk ¼ ha, seharusnya Pak Yusuf menyediakan 7,5 kg saja namun beliau menyediakan lebih banyak yaitu 15 kg. Selain itu Pak Yusuf juga kurang memberikan  pupuk, dalam lahan seluas ½ ha beliau hanya memberi pupuk sebanyak 75 kg. Oleh karena itu, jika Pak Yusuf ingin mendapatkan hasil yang lebih baik lagi beliau harus melakukan evaluasi dalam teknik bercocok tanam yang telah beliau lakukan selama ini.

 

2.3.4 Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam

Dari hasil wawancara yang telah saya lakukan dengan Pak Yusuf dapat diketahui bahwa beliau tidak pernah mengubah caranya dalam kegiatan bercocok tanam sejak 25 tahun yang lalu. Menurutnya teknik budidaya yang sekarang tidak “mantap”, karena tanah yang ada di desa Ngrangin ialah desa yang bertanah berat dan tanah berat sulit jika diolah secara organik. Sehingga sampai sekarang beliau tetap bertahan dengan system konvensional. Yang dahulu hanya menggunakan bajak yang ditarik kerbau sekarang beliau juga sudah menggunakan traktor tangan dengan implement bajak rotari.

 

2.3.5 Lembaga Yang Berkaitan Dengan Pengadaan Sarana Produksi, Tenaga Kerja, dan Pemasaran Hasil Usahatani Petani Sampel

Lahan yang dijadikan usahatani oleh Pak Yusuf sekarang adalah sawah sewa seluas ½ ha dari juragan tani dengan harga sewa Rp 3.000.000,-/2 tahun. Sistem bagi hasil yang dilakukan yaitu system maro atau bagi rata (jika hasil panen 5 Kw maka pemilik lahan mendapatkan 2,5 Kw bersih). Pak Yusuf membeli 8 kg benih padi, 50 kg pupuk urea, 50 kg phonska, 50 kg ZA dan pestisida kimia dhesis dan uradan dari kios atau toko pertanian secara konstan. Selain itu hasil panen yang bagus (maksimal dari keturunan ketiga) juga digunakan sebagai benih. Untuk benih jagung Pak Yusuf memperolehnya dari PT.

Dalam sistem pengairannya, Pak Yusuf membayar petugas irigasi yang memanfaatkan air sungai untuk mengairi sawahnya menggunakan diesel jika lahannya membutuhkan air yang banyak. Namun jika lahannya tidak membutuhkan banyak air maka beliau menerapkan system irigasi tradisional dengan memanfaatkan air sungai yang ada disekitar lahannya.

Dalam setiap proses cocok tanam, Pak Yusuf tidak selalu mengerjakan lahannya sendiri. Beliau juga membayar tenaga kerja yang bukan berasal dari keluarganya untuk membantu proses penanaman dan pemanenan. Untuk tenaga kerja wanita biasanya dibayar Rp 12.500,- dan untuk tenaga kerja pria dibayar Rp 15.000,- per Kw. Namun untuk memperoleh tenaga kerja di desa Ngrangin sangat sulit karena sebagian besar dari mereka bekerja sebagai buruh pabrik sehingga beliau harus memesan tenaga kerja sejak 2 minggu sebelumnya.

Pak Yusuf bekerjasama dengan tengkulak atau juragan selep di desanya dalam menjual hasil panennya. Selain itu beliau juga menjual hasil panennya ke pasar di dekat desanya. Biasanya pedagang membeli hasil panennya per kg atau kadang per Kw dengan harga yang rendah yaitu Rp 3.500.000,-/Kw padi atau Rp 330.000,-/Kw jagung.

Winarno, 2010 mengatakan bahwa banyak macam lembaga sosial yang ada misalnya  lembaga keluarga yang berfungsi sebagai sarana sosialisasi primer, afeksi, dan pemberian status. Lembaga budaya, berfungsi sebagai perantara pewarisan budaya masyarakat, mengajarkan peranan sosial, dan mengembangkan hubungan sosial. Lembaga ekonomi yang berfungsi sebagai pengatur produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa, serta memberi pedoman menggunakan tenaga kerja. Pada perkembangannya atas dasar persamanaan nasib dan motivasi yang sama     maka petani petani di suatu lokal membentuk kelompok tani. Hal ini sebagai wadah untuk membahas segala permasalahan yang mereka hadapi, berdiskusi dan mencari solusi yang terbaik. Pembentukan sebuah kelompok tani tak dapat dilepaskan dari peran Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dibawah Badan Penyuluh Pertanian (BPP) dibawah Dinas Pertanian.Lembaga politik yang berfungsi sebagai pemelihara keamanan dan ketertiban, serta melayani dan melindungi masyarakat serta terdapat lembaga agama yang berfungsi sebagai sumber pedoman hidup bagi masyarakat dan pengatur tata cara hubungan manusia dengan sesama dan manusia dengan Tuhan. Sehingga GAPOKTAN dan KUD dapat digolongkan kedalam lembaga ekonomi karena GAPOKTAN terbentuk karena adanya dorongan faktor ekonomi selain itu GAPOKTAN dapat dikatakan sebagai lembaga sosial yang berusaha memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian hidup, memproduksi, menimbun, dan memdistribusikan barang. Contoh: pertanian, perikanan, perternakan, koprasi dan perdagangan.

 

2.3.6 Kesimpulan

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan di Dusun Ngrangin RT 19 Desa Sumberpasir dapat diketahui bahwa Pak Yusuf hanya bermodal pengalaman yang diperoleh dari orang tuanya untuk usahatani. Meskipun di desanya sudah ada kegiatan kelompok tani beliau enggan untuk berpindah ke pertanian organik karena beliau beranggapan bahwa tanah berat tidak bagus jika diolah dengan cara organik. Selain itu, karena minimnya pengetahuan tentang cara pemberian kotoran hewan ke tanaman budidaya juga salah. Beliau langsung menggunakan kotoran hewan tanpa diolah terlebih dahulu, padahal hal ini dapat membuat tanah menjadi lebih asam dan dapat menyebabkan keracunan pada tanaman budidaya. Hasil panen yang didapatnya juga tidak diolah lebih lanjut sehingga harga jualnya tidak terlalu tinggi.

 

2.4 ASPEK SOSIOLOGIS PETANI (BAPAK KABUL OLEH ISNA KARTIKA WATI)

2.4.1 Deskripsi Keluarga Petani

Petani yang kami wawancarai bernama Bapak Kabul berumur 68 tahun. Beliau bertempat tinggal di Dusun Ngrangin, Desa Sumber Pasir RT 19. Beliau tidak menempuh jenjang pendidikan manapun dikarenakan kendala keuangan dalam keluarganya. Bapak Kabul mempunyai pekerjaan sebagai seorang petani dan peternak. Keluarga Bapak Kabul beranggotakan 4 orang, yaitu dengan seorang istri yang bernama Warsinah dan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Tetapi Bapak Kabul dan Ibu Warsinah sekarang hanya tinggal berdua karena kedua anaknya sudah berkeluarga dan sudah di rumahnya masing-masing.

 

2.4.2 Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani

Dalam kehidupan sehari-hari, keluarga Bapak Kabul mengandalkan dari hasil pertanian dan toko/kios kecil milik sendiri yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. Sejak umur 20 tahun, beliau mulai menjadi petani dengan menggarap sawah/lahan milik orang lain. Karena keterbatasan usia, akhirnya Bapak Kabul berhenti menjadi buruh tani. Sekarang beliau menggarap sawah miliknya dan hasil sewa. Sawah milik beliau sekitar 658 m2 sedangkan sawah dengan menyewa dari Bapak Prio selama 10 tahun seluas 1250 m2 seharga Rp 7.000.000, dimulai pada tanggal 17 Pebruari 2006. Bapak Kabul dalam menggarap sawah, tidak sepenuhnya dikerjakan sendiri sesekali juga menggunakan tenaga kerja/buruh tani. Bapak Kabul mempunyai pekerjaan utama sebagai seorang petani, dengan pekerjaan sampingan sebagai peternak, yaitu mempunyai 2 ekor sapi. Selain itu, istri Bapak Kabul mempunyai toko kecil yang menyediakan kebutuhan sehari-hari.

Tabel 2.4.2.1. Sarana Komunikasi dan Tranportasi

Sarana

Jenis

Keterangan

Transportasi

Sepeda Ontel

1unit

Sepeda Motor

1unit

Komunikasi

Radio

0 unit

TV

1 unit

HP

0 unit

 

Keluarga Bapak Kabul tinggal di rumah dengan luas bangunan sebesar 54 m2 dengan lantai rumah plester, berdinding tembok dan dengan atap rumah genteng biasa. Bapak Kabul memiliki 1 unit sepeda ontel dan 1 unit sepeda motor, tetapi sepeda ontelnya tidak dapat digunakan karena rusak. Selain itu keluarga tersebut juga memiliki 1 unit TV, 1 unit radio tanpa alat komunikasi seperti HP maupun telepon rumah. Dari semua data yang diperoleh dai hasil wawancara dengan Bapak Kabul dapat diketahui bahwa Bapak Kabul termasuk petani yang cukup.

 

2.4.3 Kebudayaan Petani

Berdasarkan hasil wawancara, Bapak Kabul mendapat pengetahuan cara bercocok tanam dari keluarga/orang tuanya karena beliau biasa membantu orang tuanya untuk bertani di sawah sehingga secara otomatis pengetahuan cara bercocok tanam dapat dikuasai secara langsung oleh Bapak Kabul.

Menurut Bapak Kabul setahun terakhir ini, sawah garapan Bapak Kabul ditanami dengan padi dan jagung. Pada saat wawancara dilakukan Bapak Kabul sedang menanam padi yang masih berumur 2 bulan. Bapak Kabul menerapkan sistem penanaman padi dan jagung empat bulanan, yaitu empat bulan ditanamai padi, empat bulan berikutnya akan ditanami jagung. Menurut Bapak Kabul, pemilihan pergantian hanya pada tanaman padi dan jagung dikarenakan padi dan jagung cepat panen sehingga juga cepat menghasilkan keuntungan.

Tabel 2.4.3.1 Alur Pergantian Tanaman

Bulan Ke-

4

5

6

7

8

9

10

11

12

1

2

3

Komoditas

PADI

JAGUNG

PADI

 

Berdasarkan penjelasan dari Bapak Kabul, beliau masih menggunakan sistem pertanian tradisional dalam menggarap sawahnya, misalnya dalam hal membajak sawah beliau masih menggunakan bajak yang menggunakan tenaga hewan seperti sapi ataupun kerbau, dalam hal penyiangan pun beliau tetap menggunakan tangan ataupun gasrok (alat penyiang gulma pada lahan padi yang didorong dengan tangan terbuat dari kayu), begitu juga dalam hal pemanenan. Dalam pemanenan padi beliau masih menggunakan sabit, untuk merontokkan padi menggunakan gepyok, menurut Bapak Kabul jika menggunakan mesin bajak untuk sawahnya tersebut, selain harga penyewaanya yang mahal jika menggunakan mesin tidak efisien karena lahan sawah yang dibajak juga tidak luas.

 

Gambar 2.4.3.1 Alur Bercocok Tanam

 

Cara budidaya padi yang beliau terapkan:  pertama penyiapan benih yang akan digunakan, yaitu menggunakan varietas IR 64 kemudian siapkan tempat persemaian. Kemudian sebar benih padi pada persemaian. Umur bibit padi yang siap digunakan adalah bibit padi dengan umur sekitar 21 hari.

Menurut Listyanto (2010), untuk padi sawah perlu dilakukan pembibitan dengan menyebarkan benih pada lahan pembibitan. Setelah berumur antara 20 hari maka bibit dicabut dan ditanam pada lahan untuk penanaman Sedangkan pada padi ladang tidak perlu dilakukan pembibitan.

Sebelum pananaman bibit padi, sawah diolah terlebih dahulu dengan menggunakan bajak dan garu secara tradisional. Penanaman bibit padi dilakukan dengan tangan, sekitar 2-3 bibit padi per lubang tanam dengan jarak tanam sekitar 20cm x 20cm.

Menurut Listyanto (2010), menjelaskan bahwa pada padi sawah dilakukan penamanan dengan jarak tanam antara 20 x 20 cm sampai ada yang 30 x 30  cm. Sistem penanaman ini bermacam-macam tergantung dari teknologi yang akan diterapkan. Dan setiap lubang diberi benih antara 2 s/d 3 biji. Setelah diberi benih  ditutup dengan abu atau pasir atau ditanah tetapi tidak terlalu penuh.

Untuk pemeliharaan tanaman padi, Bapak Kabul melakukan penyiangan setiap kali jika lahan sawah sudah tumbuh gulma, penyiangan tersebut dilakukan dengan menggunakan tangan ataupun gasrok (alat penyiang gulma).

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.4.3.2. Alat penyiang gulma (Gasrok)

 

 

 

Menurut Basri (2012), menjelaskan bahwa penyiangan gulma secara mekanis bisa menggunakan gasrok, landak, atau alat penyiang bermesin atau alat yang ditarik dengan ternak, dan diterapkan apabila areal padi ditanam dalam barisan yang teratur dan lurus. Umumnya petani tidak mampu membeli alat penyiang tersebut karena harganya relatif mahal. Cara penyiangan mekanis membutuhkan waktu pengerjaan yang relatif lebih cepat dibandingkan dengan cara penyiangan dengan tangan. Penggunaa alat penyiang mekanis berisiko merugikan pertumbuhan tanaman, karena alat tersebut sering menimbulkan kerusakan mekanis pada akar maupun batang tanaman padi, terutama kalau jarak tanam padi tidak teratur.

Kemudian melakukan pemupukan. Pemupukan dilakukan ketika tanaman berumur sekitar satu minggu dan ketika tanaman berumur sekitar 30-45 hari. Bapak Kabul biasa menggunakan pupuk kimia yaitu pupuk urea, phonska, dan ZA. Dosis yang digunakan untuk penggunaan pupuk tersebut adalah sekitar 50 kg urea, phonska 25 kg dan 50 kg ZA. Pengairan yang diterapkan pada saat menanam padi adalah dengan pengairan tradisional yaitu mengalirkan air irigasi dari sungai. Keadaan pengairan pada desa Sumber Pasir lancar, sehingga tidak ada masalah dengan pengairan yang ada di desa tersebut.

Pemanenan tanaman padi dilakukan ketika tanaman tersebut sudah mulai terlihat menguning atau ketika tanaman sudah berumur sekitar 4 bulan. Menurut Setyono dan Hasanuddin (1997), ada beberapa cara untuk menentukan umur panen padi, yaitu berdasarkan: (1) Umur tanaman menurut diskripsi varietas, (2) Kadar air gabah, (3) Metode optimalisasi yaitu hari setelah berbunga rata, dan (4) Kenampakan malai.

Pemanenan tersebut dilakukan secara tradisional yaitu dengan menggunakan sabit lalu dirontokkan dengan alat perontok padi (gepyok). Gepyok adalah alat dari kayu yang didesain untuk alat perontok padi secara tradisional.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.4.3.2 Alat Perontok Padi (Gepyok)

 

 

 

Menurut Setyono (2006), menjelaskan bahwa perontokan padi merupakan tahapan pascapanen padi setelah pemotongan padi (pemanenan). Tahapan kegiatan ini bertujuan untuk melepaaskan gabah dari malainya. Perontokan padi dapat dilakukan secara manual atau dengan alat dan mesin perontok. Prinsip untuk melepaskan butir gabah dari malainya adalah dengan memberikan tekanan atau pukulan terhadap malai tersebut. Proses perontokan padi memberikan kontribusi cukup besar pada kehilangan hasil padi secara keseluruhan.

Setelah dipanen, padi yang sudah dirontokkan dijemur, setelah dijemur gabah yang sudah kering diselep untuk dihasilkan beras. Dalam penyelepan Bapak Kabul tidak terlalu susah untuk mencari jasa penyelepan karena biasanya jasa selepan tersebut keliling dari rumah ke rumah. Untuk biaya penyelepan gabah dihargai Rp 2000 per karung. Kemudian hasil dari selepan tersebut sebagian konsumsi sendiri dan sebagian dijual di toko sendiri dengan harga jual Rp 8000 per kg.

Menurut Bapak Kabul, pada saat budidaya tanaman padi tersebut, hama yang biasa muncul adalah belalang dan untuk mengendalikan hama tersebut petani biasa menggunakan pestisida kimia seperti Desis atau Furadan. Desis untuk belalang dan ulat, sedangkan furadan untuk belalang. Penggunaan desis dengan dosis 2 tutup per tangki penyemprot.

Selain itu, hama tikus dan penyakit gondrong (sebutan petani setempat) merupakan hama dan penyakit tanaman padi yang sulit dikendalikan. Jika sudah terkena hama tikus dan penyakit gondrong, petani pasti akan mengalami gagal panen. Hama tikus itu memakan batang dan bulir tanaman padi, karena jumlah tikus tidak hanya satu ekor tetapi dapat ribuan ekor maka tanaman padi dalam sehari dapat rusak oleh tikus tersebut. Menurut Bapak Kabul, penyakit gondrong itu yang terserang adalah daun tanaman padi, daun pada tanaman menjadi merah sehingga oleh masyarakat disebut penyakit gondrong,

 

2.4.4 Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam

Menurut penjelasan dari Bapak Kabul, perubahan sosial budaya petani yang terlihat yaitu dahulu dalam pengolahan tanah atau pembajakan hanya mengunakan tenaga hewan sekarang muncul mesin bajak, dahulu petani menggunakan pupuk kandang atau pupuk hijau untuk pemupukan sawahnya, namun sekarang beralih menggunakan pupuk kimia karena dianggap lebih mudah didapat dan reaksi terhadap tanaman lebih cepat bisa terlihat. Meskipun pada saat ini harga pupuk kimia terus meningkat namun petani tersebut tetap menggunakannya karena dianggap pupuk kimia lebih praktis untuk digunakan. Bapak Kabul menerapkan pada sawahnya. Beliau menggunakan pestisida kimia dan pupuk kima, tetapi dalam pengolahan lahan, penanaman benih, dan pemanenan, Bapak Kabul masih menggunakan alat-alat tradisional, seperti bajak dengan tenaga sapi, sabit dan gebyok.

 

2.4.5 Lembaga yang Berkaitan dengan Pengadaan Sarana Produksi. Tenaga Kerja dan Pemasaran Hasil Pertanian

Sawah yang digarap oleh Bapak Kabul saat ini adalah sawah milik sendiri dan sawah sewa. Benih/bibit yang digunakan oleh petani tersebut adalah bibit yang diperoleh dengan membeli dari kios ataupun toko pertanian, begitu juga dengan pestisida dan pupuknya Bapak Kabul membeli dari agen pupuk.

Bapak Kabul biasa menggunakan pupuk kimia seperti urea, phonska, dan ZA. Beliau biasanya membeli pupuk Urea sebanyak 50 kg, ZA sebanyak 50 kg, dan phonska sebanyak 25 kg untuk digunakan pada sawahnya. Bapak Kabul memilih ketiga pupuk tersebut karena ketiga pupuk tersebut memang cocok untuk tanaman padi. Dengan harga masing-masing pupuk, Urea sebanyak 50 kg seharga Rp 190.000, ZA 50 kg seharga Rp 190.000, dan Phonska sebanyak 25 kg seharga Rp 125.000. Sedangkan pestisida yang biasa digunakan oleh Bapak Kabul adalah Desis dan Furadan. Beliau membeli pestisida dengan harga Rp 22.000 per 2 kg untuk Uradan dan Desis Rp 11.000 per 10 ml.

Dalam sistem pengairannya, Bapak Kabul menerapkan sistem irigasi tradisional yaitu air yang didapat berasal dari aliran air sungai selanjutnya dialirkan pada sawahnya.

Dalam setiap proses cocok tanam tanaman padi, Bapak Kabul tidak mengerjakan sendiri melainkan menyewa tenaga kerja. Misalanya untuk pengolahan tanah, penanaman, penyiangan dan pemanenan. Bapak Kabul mendapat tenga kerja dari tetangga sendiri. Untuk penanaman dan penyiangan diperlukan tenaga pria dengan upah harian Rp 12.500 dengan dikirim makan. Sedangkan, untuk pemanenan diperlukan tenaga pria dengan upah Rp 20.000 per kuintal gabah

Menurut Bapak Kabul, hasil panenan setelah proses penyelepan menjadi beras, beras tersebut sebagian  dikonsumsi sendiri untuk kebutuhan sehari-hari dan sebagian dijual di toko/kios milik sendiri. Bapak Kabul akan menjualnya dengan harga Rp 8000 per kg. Sehingga Bapak Kabul tidak terlalu susah untuk memasarkan hasil panenan padi ke pedagang/tengkulak.

 

2.4.6 Kesimpulan

Berdasarkan survei yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa petani yang berada di Dusun Ngrangin, Desa Sumber Pasir RT 19 bernama Bapak Kabul tetap menggunakan cara tradisional dalam kegiatan bercocok tanam mulai dari penanaman sampai pemanenan, meskipun dalam penggunaan pupuk dan pestisida mereka telah menggunakan bahan kimia. Alasan beliau menggunakan cara tradisional karena biaya untuk menyewa mesin pertanian sangatlah mahal dan efiseinsi kerja mesin pertanian sangat tidak efektif diterapkan di lahan sawah Bapak Kabul. Selain itu, terjadi peralihan dari pupuk dan pestisida organik ke pestisida kimia karena menurut Bapak Kabul pupuk dan pestisida kimia lebih praktis digunakan, mudah didapat dan reaksi pada tanaman dapat cepat terlihat. Bapak Kabul mengolah lahan pertaniannya dibantu oleh tenaga kerja dari tetangga sendiri dengan upah harian. Hasil pertanian dari sawah Bapak Kabul dikonsumsi sendiri dan dijual di toko/kios sendiri.

 

2.5 ASPEK SOSIOLOGIS PETANI (SULKHAN MUSTOFA OLEH HADI SUSILO)

2.5.1 Deskripsi keluarga

Di desa Sumber Pasir dusun Ngrangin RT 18 RW 04, sebuah keluarga dengan kepala keluarga yang bekerja sebagai petani yang bernama Bapak Sulkhan Mustofa. Beliau berumur 60 tahun, mempunyai seorang istri, 2 orang anak dan 2 orang cucu. Beliau tidak berpendidikan, beliau belajar pertanian sejak kecil, beliau belajar dari umur 15 tahun.

Sawah yang dimiliki beliau saat ini berasal dari menyewa sebuah lahan milik bapak Kasanun. Dalam setahun beliu menanam padi dan jagung. Hasil panennya semuanya dijual dan hanya sebagian kecil dikonsumsi sendiri. Selain menjadi seorang petani beliau juga berpenghasilan dari kerja sampingannya sebagai seorang buruh pabrik giling gabah yang berada tidak jauh dari rumahnya. Dari hasil kerja sampingan inilah beliau bisa mencukupi kebutuhaan keluarganya setiap hari, karena dengan hanya mengandalkan dari usaha taninya sepertinya belum bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.

 

2.5.2 Status Sosial Ekonomi Keluarga Petani

Luas lahan yang dimiliki beliau tetap tidak ada perubahan, tidak berkurang ataupun bertambah. Kondisi rumah yang beliau tinggali sekarang sederhana namun  berkecukupan, status rumah milik pribadi. Luas lahan rumah 10 m x 15 m, lantai rumahpun sudah tegel/keramik, sudah bertembok, dan atap sudah genteng. Dilihat dari segi rumah beliau, beliau sudah bisa dikatakan sederhana atau berkecukupan. Selain memiliki lahan persawahan beliau juga memiliki lahan pekarangan atau tegalan dibelakang rumahnya yang memiliki luas 219 m x 48 m, yang sebagian besar ditanami pepohonan hutan yaitu berupa pohon sengon.

Alat taransportasi yang beliau miliki adalah sebuah sepeda motor, sudah memiliki televisi berukuran 14 inchi, radio, alat komunikasi yang dimiliki adalah handphone. Kedudukan beliau dalam masyarakat hanyalah anggota masyarakat biasa.

 

2.5.3 Kebudayaan Petani

Pada saat ditanami padi, beliau dalam pengolahan lahan menggunakan bajak, persiapan benih pun sudah disiapkan sebelum penanaman. Benih yang digunakan biasanya beras 64 dan untuk lahan 0,37 hektar membutuhkan benih 20 kg dengan waktu tanam berumur 18-20 hari. Jumlah bibit per lubang sekitar 2-3 bibit. Pupuk yang biasanya digunakan SP-36, phonska, ZA, KCL dan urea. Pemupukan dilakukan 3X, setelah 20 hari pupuk yang diberikan adalah ZA, SP-36, dan urea. Penyiangan yang dilakukan beliau dengan menggunakan manual  atau dengan tangan, dan lahan beliau pengairanya dengan cara dialiri air sungai. Hama yang sering dijumpai adalah walang sangit dan tikus. Pengendalaiannya dengan menggunakan pestisida cobra untuk walang sangit dan pospit untuk tikus. Dosis yang digunakan 10 L air untuk 1 sendok makan pestisida yang dilakukan dengan cara disemprot. Waktu penyemprotan biasanya waktu sore. Serta penyakit yang sedang menjangkit tanaman padinya adalah penyakit daun merah.

Tanda padi sudah mulai dipanen adalah warna sudah menguning dan padi sudah merunduk. Pemanenan dilakukan dengan menggunkan sabit dan digepyok. Hasilnya kurang lebih 3,25 ton beras, hasilnya untuk dijual semuanya. Pengetahuan bercocok tanam diperoleh dari orang tua dan juga dari tetangga. Penegetahuan dalam bercocok tanam berubah mulai dari cara penanaman, pemupukan dan pengolahan.

Dengan luas lahan yang berukuran 0,37 ha tersebut, pak Sulkhan dalam satu tahun lahan itu hanya ditanami padi, karena memang pak Sulkhan dari dulu selalu menanam padi tidak pernah berganti tanaman lain seperti jagung atau padi.  Dalam bercocok tanam pak Sulkhan, menyiapkan jenis padi IR. Dan rata-rata jenis tanaman yang ditanam  pak Sulkhan mengalami pergantian. Dalam setahun, pak Sulkhan menanam padi 3x dan panen setiap 4 bulan sekali. Pak Sulkhan memakai sistem tanam demikian karena memang sudah tradisi dalam keluarganya sejak dulu.

Untuk proses cocok tanam padi sendiri cara keluarga beliau adalah sebagai berikut: pertama tentunya lahan sudah di siapkan. Mengolah tanah dengan cara ditraktor, kemudian menyiapkan lahan untuk persemian benih. Di lahan persemian benih ini membuat lubang dengan jarak 23 cm, setiap lubang diisi 3 biji benih padi, dibiarkan tumbuh. Setelah itu benih padi yang sudah tumbuh itu dipindah ditanam di lahan yang lebih luas, dengan jarak 23 cm. Jenis pupuk yang digunakan pak Sulkhan adalah urea dan phonska, pemupukan dilakukan seperlunya. Sedangkan penyiangan padi dilakukan sebanyak 2 kali dengan menggunakan tangan. Pak Sulkhan mengairi lahannya dengan menggunakan diesel  jika lahan terlihat kering, maka akan diairi, namun tidak sampai menggenang, supaya tidak terlalu becek. Menurut pak Sulkhan selama ia menanam padi tidak ada hama yang menyerang tanamannya. Pak Sulkhan jarang memakai pestisida, kadang ia hanya memakai  obat penghilang rumput (aleakodan), cara memakai dicampur air lalu disemprotkan ke padi. Jika padi sudah muncul buah, dan menguning, lalu sudah merunduk dan sudah berumur 120 hari, maka pak Sulkhan akan panen. Padi dipanen menggunakan sabit, setelah itu dirontokkan dengan digepyok. Setelah digepyok kemudian dibersihkan dari sisa batang yang masih ikut digabahnya. Gabah itu langsung dijual ke tengkulak. Beliau merasa sudah cocok dengan pupuk kimia yang dianggap praktis dan menghasilkan hasil berlimpah. Pemupukan dilakukan 2-3 kali untuk sekali panen. Pak Sulkhan memperoleh cara bercocok tanam ini turun-temurun dari kakek-nenek dan orang tuanya, terkadang juga ada yang dari penyuluh, dengan cara ceramah. Dan cara itu tidak pernah berubah walaupun sudah turun-temurun.

Dalam mengelola luas lahan pertanian ini pak Sulkhan tidak pernah ada perubahan luasnya, karena pak Sulkhan menyewa lahan. Kondisi rumah pak Sulkhan saat ini statusnya milik sendiri, dengan ukuran 10 m x 17 m. Berlantai semen, berdinding tembok, beratap genteng biasa. Kendaraan yang dimiliki adalah sebuah sepeda motor, memiliki sebuah televisi berukuran 14 inch, dan memiliki sebuah handphone. Kedudukannya di desa adalah warga biasa.

Tabel 2.5.2.1 Alur Bercocok Tanam

 

2.5.4 Perubahan Sosial Budaya Petani Terkait Cara Bercocok Tanam

Pengamatan dan pengalaman yang telah beliau alami, kondisi pertanian di desa ini sekarang dibandingkan dengan kondisi pertanian sebelum reformasi atau masa orde baru mengalami penurunan dalam segi kondisi dan mengalami peningkatan dalam segi kulitas. Kemajuan ini dapat dilihat dari teknologi yang semakin berkembang. Tingkat kesuburan pun beberapa tahun terakhir telah mengalami kemunduran. Hal ini disebabkan kondisi cuaca yang tidak menentu serta pengairan yang tidak terkontrol. Untuk mencegah kemunduran tingkat kesuburan tanah tersebut, beliau menggunakan antonik dengan cara penyemprotan atau biasa dikenal dengan istilah pengompresan. Kondisi pertanian di desa Sumber Pasir yang sekarang dengan kondisi pertanian sebelum reformasi atau masa orde baru jika dibandingkan adalah sama saja, menurut beliau tidak ada perubahan yang berarti. Namun terdapat kemunduran pada kondisi tanahnya .

Menurut Pak Sulkhan, kemunduran ini terjadi karena seringnya menggunakan bahan kimia seperti pupuk dan penggunaan pestisida yang berlebihan. Selain itu juga karena banyaknya hama yang menyerang pertanian. Untuk harga hasil pertanian pada masa reformasi dengan masa orde baru adalah semakin tinggi. Hal ini juga tergantung dengan ongkos produksi dan nilai  kurs rupiah. Pak Sulkhan kurang setuju mengenai pemerintah yang sekarang menggalakkan penggunaan pupuk organik dari pada pupuk kimia karena  pupuk organik dinilai kurang dalam menghasilkan produk pertanianya, padahal beliau membutuhknan hasil produksi yang banyak dan itu beliau dapatkan dengan menggunakan pupuk kimia.

Pertanian sekarang juga mengalami kemajuan karena sudah ada kelomok tani. Hasil pertanian dari orde baru sampai sekarang juga sama saja, karena uang jaman dulu dengan sekarang sama nilainya, karena jaman makin maju, nilai mata uang juga berubah namun nilainya sama. Tanggapan untuk menggunakan pupuk organik setuju saja, namun Pak Sulkhan  ini belum pernah menggunakan pupuk organik. Jika lahan mengalami kemunduran itu dilihat dari tanah dan tingkat kekeringan tanah.

 

2.5.5 Lembaga yang Berkaitan dengan Pengadaan Sarana Produksi, Tenaga Kerja dan Pemasaran hasil Usahatani Petani

Di desa Sumber Pasir Dusun Ngrangin terdapat kelompok tani yang pusatnya berada di sebuah pabrik penggilingan padi. Menurut beliau kegiatan yang dilakukan kelompok tani yaitu membahas masalah pertanian di desa tersebut sehingga masalah tersebut dapat diatasi dengan musyawarah bersama. Banyak manfaat yang dirasakan oleh beliau, salah satunya yaitu menambah kemajuan khususnya dalam hal penanganan pertanian yang baik serta menambah pengalaman. Di desa Sumber Pasir terdapat kelompok tani yang diketuai oleh Bapak Naryo. Pak Sulkhan adalah salah satu anggota dari kelompok tani. Salah satu kegiatan yang dilakukan oleh kelompok tani di desa Sumber Pasir adalah mengadakan suatu musyawarah untuk membicarakan masalah-masalah yang muncul dalam bidang pertanian di desa Sumber Pasir atau untuk menarik uang iuran bagi anggota yang mengikuti HIPPA.

Manfaat yang dirasakan oleh Pak Sulkhan  selama menjadi anggota kelompok tani adalah banyak mendapatkan bantuan dalam memecahkan masalah yang timbul dalam sistem pertaniannya selain itu mudah dalam mencari bibit atau benih, pupuk dan alat-alat pertanian sehingga hasil panen meningkat dan kualitas padi pun meningkat. Berdasarkan yang dijelaskan Pak Sulkhan, di desa Sumber Pasir terdapat HIPPA. Namun beliau kurang begitu mengerti tentang organisasi tersebut. Beliau tahunya adalah waker, yakni organisasi yang menangani irigasi.

Selama menjalankan usahatani, Pak Sulkhan  pernah meminjam modal dari luar. Beliau mendapatkan pinjaman dari GAPOKTAN. Untuk sarana produksi usahatani Pak Sulkhan  seperti bibit, pupuk kimia (ZA), dan pestisida (Amistakor) dapat beliau peroleh dengan membeli dari seorang penyalur. Selama menjalani usaha tani, Pak Sulkhan  tidak pernah membutuhkan modal dari luar keluarga. Tenaga kerja yang dipakai menggunakan sistem upah harian, dengan biaya sehari 15.000-20.000. Tidak semua hasil panen dijual ke tengkulak, sebagian diambil untuk dibawa pulang untuk konsumsi sendiri.

Hubungan bapak Sulkhan dengan Penyuluh Pertanian Lapang (PPL) di desa Sumber Pasir yaitu pernah konsultasi dan diskusi, tetapi jarang bahkan sudah tidak pernah lagi, karena kebanyakan saran yang diberikan ketika diterapkan dalam lahan tidak berhasil sehingga membuat rugi (menurunkan produksi). Dalam pemasaran hasil pertanian, kelompok tani mengadakan kerjasama yaitu berupa pemantauan terhadap harga produksi tiap tahunnya dan selain harga dipantau juga kualitas/mutu hasil produksinya.

 

2.5.6 Kesimpulan

Kesimpulannya bahwa bapak Sulkhan yang sudah sejak kecil belajar bertani dari kedua orang tuanya. Beliau hingga sampai sekarang yang masih bekarja sebagai petani. Namun beliau juga bekerja sampingan di sebuah pabrik penggilingan gabah. Sawah yang dimiliki bapak Sulkhan berasal dari menyewa dari seorang bapak yang bernama Kasanun dengan harga sewa perpanennya yaitu Rp500.000,00. Di dalam masyarakat beliau hanyalah anggota masyarakat biasa. Dengan adanya kelompok tani tersebut pertanian beliau menjadi selangkah lebih maju. Sarana produksi usahatani baik benih, pupuk dan pestisida beliau dapatkan dengan cara membeli kontan. Hasil panennya dikonsumsi sendiri.

Menurut beliau kondisi pertanian di desa ini sekarang dibandingkan dengan kondisi pertanian sebelum reformasi atau masa orde baru mengalami penurunan dalam segi kondisi dan mengalami peningkatan dalam segi kulitas. Kemajuan ini dapat dilihat dari teknologi yang semakin berkembang. Tingkat kesuburan pun beberapa tahun terakhir telah mengalami kemunduran.

Dari penggamatan sesuai beberapa aspek sosiologis keluarga pak Sulkhan, beliau adalah petani yang tergolong sebagai petani yang biasa-biasa saja. Hal ini dapat dilihat dari kondisi fisik dan materil. Untuk kebudayaannya relatif sama dengan petani-petani lain seperti cara bercocok tanamnya. Beliau sudah sejak kecil belajar bertani dari orang tuanya. Pak Sulkhan  sendiri memperoleh lahan dari menyewa  dari lahan pak Kasanun. Di dalam masyarakat pun beliau aktif sebagai anggota kelompok tani. Dengan adanya kelompok tani tersebut pertanian beliau menjadi selangkah lebih maju. Hasil panennya sebagian dikonsumsi sendiri dan sebagian lagi dijual. Menurut beliau kondisi pertanian di desa ini sekarang dibandingkan dengan kondisi pertanian sebelum reformasi atau masa orde baru rata-rata sama saja tetapi juga mengalami penurunan dalam segi kondisi tanah yang sudah tercemar oleh berbagai pupuk kimia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 KESIMPULAN

 

Dari hasil wawancara yang dilakukan anggota kelompok kami ke narasumber yang tinggal di Dusun Ngrangin, Desa Sumber Pasir diketahui bahwa Pak Solikin ialah salah satu penduduk RT 19 yang bermata pencaharian sebagai petani. Pak Sholihin cukup cekatan dalam mengolah sawahnya, beliau mendapat pelajaran cara mengolah sawah dari orang tuanya secara langsung juga dari tetangganya secara tidak langsung. Tenaga kerja yang membantu kegiatan bercocok tanam Pak Sholihin susah didapatkan karena sebagian besar petaninya pindah kerja menjadi pegawai pabrik triplek yang terdapat di daerah tersebut. Benih, pestisida, serta pupuk pak Solikin dapatkan dari beli pada Gapoktan. Setiap satu musim tanam, Pak Sholihin menghabiskan masing-masig 40 kg urea, ZA, dan Phonska. Selain itu, pada saat penanaman dibarengi perawatan tananaman yang menghabiskan pestisida. Pengairan sawahnya lancar yang bersal dari sungai disekitarnya. Sebagian besar hasil panen langsung dijual dalam bentuk gabah, hanya sebagian kecil yang dikonsumsi.

Pak suwito yang tinngal di RT 20 tetap menggunakan cara tradisional dalam bercocok tanam, mulai dari penanaman sampai pemanenan, meskipun dalam penggunaan pupuk sudah menggunakan pupuk kimia, tetapi untuk pestisida Bapak Suwito tidak pernah menggunakan pestisida kimia maupun nabati. Dalam kebudayaan cara bercocok tanam Bapak Suwito tidak pernah mengalami perubahan, alasan beliau adalah karena menurut beliau cara bercocok tanam yang seperti itu sudah menghasilkan penghasilan yang cukup tinggi serta sudah mampu memberikan masukan ekonomi yang cukup besar untuk keluarganya. Bapak Suwito mengolah lahan pertaniannya dibantu oleh tenaga kerja dari keluarganya sendiri dengan upah harian. Hasil pertanian dari sawah Bapak Suwito 100% dijual, dan tidak ada yang disimpan maupun dikonsumsi sendiri.

Pak Yusuf yang tinggal di RT 19 hanya bermodal pengalaman yang diperoleh dari orang tuanya untuk usahatani. Meskipun di desanya sudah ada kegiatan kelompok tani beliau enggan untuk berpindah ke pertanian organik karena beliau beranggapan bahwa tanah berat tidak bagus jika diolah dengan cara organik. Selain itu, cara pemberian pupuk kandang (kotoran hewan) ke tanaman budidaya juga salah. Beliau langsung menggunakan kotoran hewan tanpa diolah terlebih dahulu, padahal hal ini dapat membuat tanah menjadi lebih asam dan dapat menyebabkan keracunan pada tanaman budidaya. Hasil panen yang didapatnya juga tidak diolah lebih lanjut sehingga harga jualnya tidak terlalu tinggi.

 

Pak Kabul yang tinggal di RT 19 tetap menggunakan cara tradisional dalam kegiatan bercocok tanam mulai dari penanaman sampai pemanenan, meskipun dalam penggunaan pupuk dan pestisida mereka telah menggunakan bahan kimia. Alasan beliau menggunakan cara tradisional karena biaya untuk menyewa mesin pertanian sangatlah mahal dan efiseinsi kerja mesin pertanian sangat tidak efektif diterapkan di lahan sawah Bapak Kabul. Selain itu, terjadi peralihan dari pupuk dan pestisida organik ke pestisida kimia karena menurut Bapak Kabul pupuk dan pestisida kimia lebih praktis digunakan, mudah didapat dan reaksi pada tanaman dapat cepat terlihat. Bapak Kabul mengolah lahan pertaniannya dibantu oleh tenaga kerja dari tetangga sendiri dengan upah harian. Hasil pertanian dari sawah Bapak Kabul dikonsumsi sendiri dan dijual di toko/kios sendiri.

Pak Sulkhan yang tinggal di RT 19 sudah belajar bertani dari kedua orang tuanya sejak kecil. Beliau bekerja sebagai petani dan bekerja sampingan di sebuah pabrik penggilingan gabah. Sawah yang dimiliki bapak Sulkhan ialah sawah sewa dari bapak Kasanun dengan harga sewa perpanennya yaitu Rp.500.000,00. Dengan adanya kelompok tani tersebut pertanian beliau menjadi selangkah lebih maju. Sarana produksi usahatani baik benih, pupuk dan pestisida beliau dapatkan dengan cara membeli kontan. Hasil panennya dikonsumsi sendiri.

Menurut beliau kondisi pertanian di desa ini sekarang dibandingkan dengan kondisi pertanian sebelum reformasi atau masa orde baru mengalami penurunan dalam segi kondisi dan mengalami peningkatan dalam segi kulitas. Kemajuan ini dapat dilihat dari teknologi yang semakin berkembang . Tingkat kesuburan pun beberapa tahun terakhir telah mengalami kemunduran.

Dari penggamatan sesuai beberapa aspek sosiologis keluarga pak Sulkhan, beliau adalah petani yang tergolong sebagai petani yang biasa-biasa saja. Hal ini dapat dilihat dari kondisi fisik dan materil. Untuk kebudayaannya relative sama dengan petani-petani lain seperti cara bercocok tanamnya. Beliau sudah sejak kecil belajar bertani dari orang tuanya, maupun darbeliau hingga sampai sekarang yang masih bekerja sebagai petani me tetangga-tetanggnya sekalipun di bantu oleh para buruh taninya. pak Sulkhan  sendiri memperoleh lahan dari menyewa  dari lahan pak Kasanun. Di dalam masyarakat pun beliau aktif sebagai anggota kelompok tani. Dengan adanya kelompok tani tersebut pertanian beliau menjadi selangkah lebih maju. Hasil panennya sebagian dikonsumsi sendiri dan sebagian lagi dijual. Menurut beliau kondisi pertanian di desa ini sekarang dibandingkan dengan kondisi pertanian sebelum reformasi atau masa orde baru rata-rata sama saja tetapi juga mengalami penurunan dalam segi kondisi tanah yang sudah tercemar oleh berbagai pupuk kimia.

Dari beberapa hasil di atas maka dapat diketahui bahwa setiap petani yang ada di Dusun Ngrangin Desa Sumber Pasir memiliki kebiasaan berbeda dalam kegiatan bercocok tanam. Mulai dari Pak Sholihin yang hanya menanam padi dan cabai, Pak Suwito yang hanya menanam pisang sejak dahulu, Pak Yusuf yang menanam padi, jagung dan cabai, Pak Kabul yang menanam padi dan jagung. Selain itu teknik bercocok tanam antara kelima petani tersebut juga berbeda, ada yang sudah menggunakan system organic, ada yang non organic ada juga yang perpaduan antara keduanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Anonymous a, 2012. http://okayana.blogspot.com/2010/06/kelas-sosial-status-sosial-peranan.html. Diakses 9 Juni 2012

Anonymous b, 2012. http://razzakoke.blog.com/?p=38. Diakses 9 Juni 2012

Anonymous c, 2012. http://estiningtyas.wordpress.com/2011/03/08/kondisi-perekonomian-indonesia-di-sektor-pertanian/. Diakses 9 Juni 2012

Anonymous d, 2012. http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/07/lembaga-pertanian-profesional-menuju-pertanian-yang-maju-dan-sejahtera/. Diakses 9 Juni 2012

Basri, Eko Sukmawanto. 2012. Pengendalian Gulma Padi. http://bp3ktellulimpoe.blogspot.com/2012/03/pengendalian-gulma-padi.html, diakses tanggal 8 Juni 2012.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul. Budidaya Padi. Jurnal. Pdf. Jalam KH. Wahid Hasyim 210 Palbapang. Bantul

Listyanto. 2010. Budidaya Tanaman Padi Sawah/Padi Ladang. http://www.biop2000z.com/index.php?option=com_content&view=article&id=84:tanaman-padi&catid=39:budidaya-pangan&Itemid=137, diakses tanggal 8 Juni 2012.

Pudjiastuti, dkk. 2000. Cara Bercocok Tanam. Kanisius: Yogyakarta.

Sasongko, Hadiyanto. 2005. Analisis Sosial: Bersaksi dalam Advokas Irigasi. Kanisius: Yogyakarta.

Setyono A., dan A. Hasanuddin. 1997. Teknologi pascapanen padi. Makalah disampaikan pada Pelatihan Pascapanen dan Pengolahan Hasil Tanaman Pangan di BPLPP Cibitung, tanggal 21 s/d 25 Juli 1995.

Setyono, Agus. 2006. Teknologi Penanganan Pascapanen Padi. Balai Penelitian Tanaman Padi, Sukamandi.

Winarno, Budi. 2010. Lembaga Sosial Masyarakat. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

Yulianti, dkk. 2012 . Ilmu Pengetahuan Sosial 3. Erlangga: Jakarta.

 

 

LAMPIRAN

 

 

 

SUWITO OLEH ARUM YULI KRISTANTI

 

 

 

KABUL OLEH ISNA KARTIKA WATI

 

 

 

 

 

 

YUSUF OLEH AULIYA RAHMAWATI

 

 

 

 

SULKHAN MUSTOFA HADI SUSILO

 

LAPORAN FIELDTRIP SOSIOLOGI PERTANIAN

Posted by Hadi Susilo on June 8, 2012 with No Comments

DESKRIPSI KELUARGA dan USAHA TANI BAPAK SULKHAN MUSTOFA (Oleh Hadi Susilo 115040213111030)   Berikut adalah identitas petani yang berperan sebagai narasumber : Nama : SULKHAN MUSTOFA Umur : 60 tahun Tingkat pendidikan formal : TIDAK SEKOLAH Pekerjaan KK : petani (utama),buruh pabrik (sampingan) Sejak kapan menjadi petani : sejak tahun 1970 Jumlah anggota keluarga : [...]

PKM GT TENTANG SOSIOLOGI PERTANIAN

Posted by Hadi Susilo on June 7, 2012 with 1 Comment

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA   SOSIALISASI BUDIDAYA TANAMAN JERNANG MELALUI HAK PATEN JERNANG DENGAN ICON SAD   BIDANG KEGIATAN: PKM-GT   Diusulkan oleh:            Hadi Susilo                       (115040213111030)            Giri Lasmono                   (115040213111031)                                                                                           UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011   DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA   Judul Kegiatan       : Sosialisasi Budidaya Tanaman Jernang Melalui Hak [...]

Latihan Soal Dasar Budidaya Tanaman Materi Pemupukan

Posted by Hadi Susilo on June 7, 2012 with 1 Comment

Macam – Macam Pupuk Organik Dalam kehidupan sehari-hari dapat ditemui berbagai jenis pupuk organik yang dapat menjadikan tanah menjadi subur. Diantara jenis pupuk organik antara lain: 1. Pupuk  hijau Pupuk hijau adalah pupuk yang terdiri dari daun-daunan yang mudah membusuk dalam tanah. Daun-daunan dapat langsung dimasukkan ke dalam tanah sebagai pupuk hijau. Unsur hara yang terdapat pupuk hijau [...]

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN

Posted by Hadi Susilo on June 7, 2012 with No Comments

                                  Disusun Oleh : Kelompok               : H-2 Asisten                    : Tomy Marmadion             PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012 MATERI KERAGAMAN PURING & HIBRIDISASI UBI JALAR Oleh : KELOMPOK H2 [...]

PEMULI AAN TANAMAN PISANG DENGAN KULTUR ANTHER

Posted by Hadi Susilo on June 7, 2012 with 4 Comments

  © Hadi Susilo                                                                              Posted: 07 June 2012 Makalah Individu, Semester Genap 2012   Mei 2012   [...]

Makalah Pemuliaan Tanaman Hibridisasi Tanaman Kedelai

Posted by Hadi Susilo on June 2, 2012 with No Comments

Posted: 1st May 2012 by HADI SUSILO in Uncategorized 0 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kedelai adalah keluarga polong-polongan. Kacang ini sudah tumbuh sejak 3500tahun yang lalu. Jenis kacang ini termasuk jenis tanaman kacang-kacangan yangsering diproduksi untuk dijadikan beberapa jenis bahan makanan. Kedelai yangdibudidayakan sebenarnya terdiri dari paling tidak dua spesies: Glycine max (disebut [...]