browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

MANHAJ AHLUS SUNNAH DI DALAM BERAKHLAK DAN BERPERILAKU

Posted by on May 21, 2012

 

Syaikh Abdullah  Bin Abdul Hamid Al Atsary.

Di antara pokok-pokok aqidah Ahlus Sunnah : memerintahkan yang ma’ruf, mencegah kemungkaran dan beriman bahwa kebaikan umat  akan terealisasi ketika mereka berada padanya. Amar ma’ruf nahi munkar termasuk diantara syiar-syiar islam yang paling agung dan penyebab terpeliharanya jama’ah kaum muslimin. Amar ma’ruf nahi munkar hukumnya wajib sesuai dengan kemampuan dan dijalankan dengan  memperhatikan  maslahah  nyata yang dihasilkannya.

Firman Alloh:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمْ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمْ الْفَاسِقُونَ(110)

Kalian adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan untuk manusia memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar dan beriman kepada Alloh

 (S. Ali Imron 110).

Dan sabda nabi sholallohu alaihi wasalam :

Barangsiapa diantara kalian yang melihat kemungkaran hendaknya mengubah dengan tangannya, maka apabila tidak mampu maka dengan lidahnya, apabila tidak mampu maka dengan hatinya. Dan yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman (HR. Muslim)

Ahlus Sunnah mendahulukan kelembutan di dalam memerintah dan melarang. Berdakwah dengan hikmah serta nasehat yang baik. Firman Alloh :

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ(125)

Serulah kepada jalan Rabb kalian dengan hikmah dan mauidhoh hasanah dan debatilah mereka dengan yang lebih baik. (S. An-Nahl 125).

Dan mereka memandang wajibnya bersabar terhadap gangguan makhluk di dalam menegakkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Mengamalkan firman Alloh :

يَابُنَيَّ أَقِمْ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنْ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ(17)

 perintahkanlah yang ma’ruf dan cegahlah yang mungkar dan bersabarlah atas musibah yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu merupakan perkara yang diwajibkan (QS. Lukman 17).

Ahlus Sunnah wal Jamaah ketika menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar memperhatikan waktu sebagai salah satu pokok menjaga keutuhan jama’ah, menyatukan hati-hati, mempersatukan kalimat, menghindarkan perpecahan dan perselisihan. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menegakkan nasehat kepada setiap muslim dan saling tolong menolong di atas kebaikan dan takwa.

Sabda rasululloh sholallohu alaihi wasalam agama itu adalah nasehat. Kami berkata untuk siapa? Beliau berkata untuk Alloh, kitabNya, rasulNya, pemimpin kaum muslimin dan orang awamnya. (HR. Muslim).

Ahlus Sunnah menjaga tegaknya syiar-syiar islam seperti menunaikan sholat Jumat dan jamaah; haji, jihad, I’ed bersama para pemimpin yang baik atau yang jelek sebagai hal yang menyelisihi ahlul bid’ah. Bersegera menunaikan sholat yang wajib dan menunaikannya di awal waktu bersama jamaah. Mengerjakan sholat di awal waktu lebih utama daripada di akhirnya. Mereka menganjurkan untuk khusyu dan tuma’ninah di dalam sholat, dalam rangka mengamalkan firman Alloh :

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ(1)الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ(2)

Sungguh beruntung orang-orang yang beriman yaitu mereka yang khusyu di dalam sholat mereka. (S. Al-Mukminun 1-2).

Ahlul Sunnah wal Jamaah mewasiatkan untuk menegakkan sholat malam  sebagai petunjuk nabi sholallohu alaihi wasalam. Allah  pun memerintahkan nabinya untuk sholat malam dan bersungguh-sungguh di dalam ketaatan kepadaNya.Aisyah berkata bahwa nabi sholallohu alaihi wasalam melakukan sholat malam sampai kaki beliau bengkak,

maka berkata Aisyah mengapa engkau lakukan yang demikian ya Rasululloh? sungguh Alloh telah mengampunkan dosamu  yang terdahulu dan yang akan datang. Beliau bersabda apakah aku tidak suka menjadi seorang hamba yang bersyukur? (HR. Bukhori).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah  tegar di dalam menghadapi ujian, dengan cara bersabar di atas bencana, bersyukur pada kelapangan, dan  ridha dengan takdir. Firman Alloh Ta’ala :

قُلْ يَاعِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ(10)

 Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS. Az-Zumar 10)

Sabda rasululloh sesungguhnya besarnya ganjaran bersama besarnya cobaan, dan sesungguhnya Alloh apabila mencintai suatu kaum maka Alloh akan memberikan cobaan kepada mereka. Maka barangsiapa yang ridho maka baginya keridhoan dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan.

 (HR. Tirmidzi dishohehkan oleh Albani).

Ahlus Sunnah tidaklah mengharap dan meminta kepada Alloh ditimpakan cobaan, karena  tidak mengetahui apakah mereka ditetapkan padanya atau tidak. Akan tetapi, apabila mereka mendapatkan cobaan maka bersabar. Sabda nabi sholallohu alaihi wasalam

janganlah kalian berangan-angan untuk bertemu musuh dan mintalah kepada Allah keselamatan maka apabila kalian bertemu musuh maka bersabarlah.

(HR. Bukhori Muslim).

Ahlus Sunnah tidak berputus asa terhadap rahmat Alloh di dalam ujian, karena sesungguhnya Allah mengharamkan hal tersebut. Mereka menghadapi hari-hari cobaan dengan memandang akan datangnya kelapangan dan pertolongan yang dekat. Hal ini  disebabkan mereka percaya dengan janji Alloh dan mengetahui bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Mereka pun mencari penyebab terjadinya ujian itu pada diri mereka sendiri dan mereka memandang bahwa ujian dan musibah tidaklah menimpa kecuali karena perbuatan mereka sendiri. Pertolongan terkadang diakhirkan dengan sebab  seseorang terjerumus di dalam dosa atau lemah di dalam berittiba’ sebagaimana firman Alloh :

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ(30)

Dan apa-apa musibah yang menimpa kalian maka disebabkan oleh tangan kalian sendiri. (Asy-Syura 30).

Ahlus sunnah tidak menyandarkan diri dalam menghadapi ujian dan menolong agama dengan sebab-sebab duniawiyah, walaupun tidak lalai terhadap sunnah kauniyah. Dan mereka memandang bahwa taqwa kepada Alloh, istighfar dari dosa-dosa, bersandar kepada Alloh dan bersyukur di dalam kebahagian merupakan sebab yang terpenting di dalam menyegerakan kelapangan setelah kesempitan.

Ahlus Sunnah takut terhadap balasan kufur nikmat, sehingga terlihatlah mereka sebagai orang yang paling bersemangat untuk bersyukur,memuji Alloh dan kontinu di atas hal yang demikian  pada setiap kenikmatan, yang kecil maupun yang besar. Sabda rasululloh sholallohu alaihi wasalam

lihatlah kepada orang yang di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang di atas kalian. (HR. Tirmidzi dishohihkan oleh Albani).

Ahlus Sunnah wal Jama’ah menghiasi diri mereka dengan akhlak yang mulia dan kebaikan amalan. Sabda nabi sholallohu alaihi wasalam

orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling beriman dan yang terbaik diantara mereka adalah yang terbaik akhlaknya.

 (HR. Tirmidzi dishohihkan oleh Albani).

 Dan sabda beliau

tidak ada sesuatu yang diletakkan di dalam mizan lebih berat daripada kebaikan akhlak dan sesungguhnya pemilik akhlak yang baik akan meraih dengannya derajat orang-orang yang berpuasa dan sholat. (HR. Tirmidzi dishohihkan oleh Albani).

Di antara akhlak salafus sholeh Ahlul Sunnah wal Jama’ah

  • Ikhlas di dalam berilmu dan beramal. takut terhadap masuknya riya’ pada keduanya. Firman Alloh :

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

ketahuilah hanya untuk Alloh agama yang murni. (QS. Az-Zumar 3).

  • Mengagungkan batasan-batasan Allah dan merasa cemburu apabila batasan-batasan Allah dilanggar. Menolong agama Allah dan syariatNya, banyak mengagungkan kehormatan kaum muslimin serta cinta apabila kaum muslimin memperoleh kebaikan . Firman Alloh :

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ(32)

barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah sesungguhnya  itu timbul dari ketakwaan hati (QS. Al-Hajj 32).

  • Berusaha meninggalkan sifat nifak,  dengan menyamakan antara lahir dan batin di dalam kebaikan,  memandang bahwa amalan mereka masih sangat sedikit, dan selalu mendahulukan amalan akhirat   di atas amalan dunia.
  •  Kelembutan hati, banyak menangis  atas kekurangan  dalam menunaikan hak-hak Allah ,mereka lakukan hal ini dengan harapan agar Allah menyayangi  mereka. Banyak mengambil pelajaran dan menangis.  Perhatian dengan  perkara kematian apabila menyaksikan  jenazah, atau mengingat  kematian,  sekaratnya dan  su’ul khatimah sehingga bergoncang dada mereka.
  • Bertambah tawadhu’ ketika   bertambah dekat kepada Allah ta’ala
  •  Banyak bertaubat, memohon ampun siang dan malam   karena mengetahui  bahwa mereka tak  selamat dari dosa sampai di dalam amalan ketaatan mereka.  mereka memohon ampun  atas kekurangan  di dalam ketaatan,kekhusukan  dan kedekatan kepada Allah. Tiadanya rasa ujub /bangga  dengan sesuatu  dari amal-amal mereka , benci dengan ketenaran, bahkan selalu melihat kekurangan dan kelemahan  di dalam ketaatan terlebih di dalam kejelekan mereka
  • sangat menekankan terhadap permasalahan taqwa dan tiada  mendakwakan diri sebagai orang yang bertaqwa, dan banyaknya  ketakukan mereka terhadap Allah azza wa jalla
  • ketakutan  yang sangat terhadap Allah, kalau akhir kehidupan mereka ditutup dengan su’ul khatimah. mereka tidak lalai dari dzikrullah.  Merasakan kehinaan dunia  di sisi mereka, kuatnya penolakan mereka terhadap dunia  dan tidak   membangun (kediaman)dunia kecuali  sesuai kebutuhan  tanpa menghias-hiasinya. Sabda Rasulullah sholallohu alaihi wasalam  “ demi Allah tidaklah  dunia ini dibandingkan akhirat  kecuali seperti seseorang diantara kalian mencelupkan  jarinya ke laut maka lihatlah apa yang  menetes (Hr Muslim)
  •  Tidak ridha dengan  kesalahan yang ditujukan kepada agama atau kepada  orang yang mengamalkannya,  bahkan   membantahnya  dan memberi udzur kepada orang yang berkata tentangnya.  Banyak menutupi   kekurangan kaum muslimin, kuatnya munaqosah(berdialog) terhadap pribadi mereka sebagai bukti  wara’, tidak suka  membuka aib seseorang, sibuk dengan kekurangan diri daripada aib orang lain,  bersungguh-sungguh   menutupi kekurangan orang lain, menutupi yang tersembunyi tidak melebihkan seseorang dari yang ia dengar pada haknya, meninggalkan  permusuhan terhadap manusia  dan banyak  bersahabat dengan mereka.  Tidak  menanggapi seseorang dengan kejelekan  dan tidak memusuhi seorang pun.   Sabda nabi sholallohu alaihi wasalam  “ tidak akan masuk surga   tukang fitnah/adu doma pada riwayat muslim  nammam/ tukang adu domba
  • menutup pintu ghibah pada majelis mereka , menjaga lidah  dari ghibah  agar  tidak menjadi majelis  dosa.  Firman Allah

وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ (12)

“  Janganlah seorang menghibahi  yang lain, sukakah  seorang diantara kalian  memakan  bangkai saudaranyan tentu dia akan   benci  (QS Al Hujurat 12)

  •   Penuh dengan rasa malu,  adab, kecintaan,  ketenangan,  sedikit bicara, sedikit tertawa, banyak diam,  berbicara dengan hikmah  tidak merasa gembira dengan dunia. Yang demikian ini dikarenakan  sempurnanya akal mereka. Sabda rasulullah sholallohu alaihi wasalam “ Barang siapa yang  beriman  kepada Allah dan hari akhir  maka hendaknya berkata yang baik atau diam.  dan bersabda   barangsiapa  diam maka  beruntung/ menang (HR Tirmizi)
  • Banyak memaafkan terhadap setiap orang yang  mengganggu, mengambil harta,    kehormatan mereka atau yang semisalnya  firman Allah

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنْ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(134)

“ Dan orang-orang yang menahan  kemarahan, dan memaafkan manusia dan Allah  mencintai  orang-orang yang berbuat kebaikan (QS Ali Imran 134)

  •  Tidak lalai dengan   serangan iblis, bersungguh-sunguh  mengetahui   tipu daya dan jebakan-jebakannya,  tidak merasa was-was  di dalam wudlu, sholat dan ibadah yang lain karena yang demikian adalah tipu daya syaithan
  • Banyak bersedekah  dengan apa-apa yang lebih dari kebutuhan mereka  siang dan malam, sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Banyak bertanya   tentang keadaan sahabatnya ,  yang demikian karena  sederhananya mereka dalam kebutuhan  makan, pakaian dan  mereka tidak berlebihan dalam  hal-hal yang halal
  •   Mencela kekikiran;   Bersikap dermawan, memberikan  harta , berkasihsayang dengan  saudara mereka dalam safar dan  mukim sebagai  pengokoh dalam  menolong  dien  dan inilah maksud utama mereka. Kuatnya   kecintaan untuk berbuat makruf  kepada saudaranya dan memberikan kebahagiaan  satu dengan yang lain,  mendahulukan   saudaranya  daripada dirinya sendiri
  •  Memuliakan   tamu   dan melayaninya  kecuali dengan uzur syar’I. kemudian   mereka tidak memandang bahwa mereka telah mencukupi dan  melayani tamu tersebut di saat tinggal bersama mereka,  dan  mereka berhusnudhon  dengan tamu. Menerima   undangan saudaranya   kecuali  bila makanannya haram atau bila  dikhususkan pada  orang kaya   atau pada  tempat walimah ada hal yang diharamkan
  • Beradab  dengan kebaikan terhadap   yang lebih muda  terlebih kepada yang lebih tua, terhadap orang yang jauh terlebih kepada yang dekat, kepada yang  bodoh terlebih kepada yang alim
  •  Mendamaikan sesama  sebagai sebuah pintu kebaikan yang nyata, menegakkan yang ma’ruf, karena perdamaian merupakan   pembatal langkah syaitan  yang menghendaki timbulnya permusuhan, kebencian di kalangan muslimin, dan kerusakan diantara mereka
  •  Melarang dari dengki, karena kedengkian mewariskan permusuhan dan kebencian, kelemahan iman dan kecintaan terhadap dunia tanpa  tujuan syar’I
  •  Memerintahkan untuk berbakti kepada kedua orang tua dan berbuat kebaikan kepada keduanya firman Allah

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا (8)

Dan kami wasiatkan  manusia untuk berbuat kebaikan kepada kedua orang tua (QS Al Ankabut 8)

  • memerintahkan berbuat baik kepada tetangga, lembut kepada  para hamba, menyambung silatur rahim, menebarkan salam, menyayangi fakir miskin, yatim dan ibnu sabil
  •  melarang berbangga diri, sombong, ujub,  melampaui batas dan   memerintahkan berbuat adil pada setiap sesuatu
  • Tidak meremehkan  sesuatu pun dari keutamaan yang dianjurkan syara’ . sabda rasulullah sholallohu alaihi wasalam  “Janganlah kalian meremehkan suatu kebaikan pun   walaupun hanya bertemu dengan saudara kalian dengan wajah yang ceria ( HR Muslim)
  •  Melarang dari buruk sangka,  memata-matai, mencari kekurangan muslimin karena yang demikian  merusak hubungan persatuan, memisahkan persaudaraan dan menumbuhkan kerusakan. Mereka  tidak marah pada muslimin karena mereka mengilmui fiqih kemarahan firman Allah “ dan orang yang menahan marahnya, memaafkan manusia dan Allah mencintai orang yang berbuat ihsan
  • ….. dan yang selainnya dari akhlaq-akhlaq nubuwah  ·

 

<diterjemahkan  bebas oleh; Ahmad Wahyudi>

 

 


  • ·diterjemahkan dari kitab al wajiz  fi aqidatis salafis shalih ahlis sunnati wal jama’ah karya  syaikh Abdullah  bin abdul hamid al atsary. Disampaikan dalam daurah islamiyah dasar “membentuk jati diri muslim”  selasa  10 juli 2001 di masjid pogung raya yogyakarta.
    •  dakwah  kepada manhaj salaf  salih  bertujuan  membangun generasi  yang sesuai dengan  generasi  pertama yang berguru kepada rasulullah sholallohu alaihi wasalam . Allah telah memuji  rasulNya dengan firmanNya “ sesungguhnya engkau diatas akhlaq yang agung) dan bukanlah maksud dari dakwah salaf   sekadar sesuai dalam hal aqidah saja meskipun  aqidah adalah  pokok  yang awal dan terpenting-  namun tujuannya adalah  mencocoki salaf dalam  segala sesuatu  dalam urusan agama yang agung. Karena manhaj salaf  yang kita menyeru manusia kepadanya bukanlah sekedar ilmu di pikiran  saja  namun meliputi  manhaj dalam aqidah, pemikiran(pandangan), perilaku dan akhlaq . sangat disayangkang  kita dapatkan- di waktu kini-  perkara yang penting dari manhaj salaf ini  tidak  mendapatkan haknya dalam hal prioritas, perhatian dan tarbiyah. Tentang urgensinya  rasulullah bersabda “ sesunguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlaq yang baik. Dan para salaf mengikuti  rasulullah, berakhlaq dengan akhlaq beliau dan mengikuti perintahnya. Mereka sebagaimana  firman Allah “Kalian adalah sebaik-baik umat  yang dikeluarkan untuk manusia”  Apabila kita menginginkan  keselamatan maka  kita wajib berada diatas hal yang salaf berada diatasnya. ·

4568568857ب