MANAJEMEN STOK BERAS DI GUDANG PERUSAHAAN UMUM BULOG SUB DIVISI REGIONAL TULUNGAGUNG

MANAJEMEN STOK BERAS DI GUDANG PERUSAHAAN UMUM BULOG SUB DIVISI REGIONAL TULUNGAGUNG

MAGANG KERJA

 

 

Oleh :

HADI SUSILO

115040213111030

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

MINAT HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014


LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN MAGANG KERJA JUDUL:

 

 MANAJEMEN STOK BERAS DI GUDANG PERUSAHAAN UMUM BULOG SUB DIVISI REGIONAL TULUNGAGUNG

 

Disetujui oleh:

 

 

 

 

 

 

Mengetahui

 Ketua

Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan

 

Dr. Ir. Bambang Tri Rahardjo, SU.

NIP. 19550403 198303 1 003

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan Rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan magang kerja dengan judul Manajemen Stok Beras di Gudang, Perusahaan Umum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung”.

Sehubungan dengan terselesaikannya laporan magang ini, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1        Dr. Ir. Ludji Pantja Astuti, MS selaku dosen pembimbing magang kerja yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam menyelesaikan laporan magang kerja ini.

2        Dr. Ir. Bambang Tri Rahardjo, SU selaku ketua jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan.

3        Kepala Perum Bulog Sub-Divisi Regional Tulungagung dan Kepala Gudang Bence yang telah memberikan ijinnya kepada penulis untuk melakukan magang kerja di Gudang Beras Bence, serta seluruh staff dan karyawan Gudang Beras Bence yang telah membantu dalam memberikan informasi kepada penulis terkait kegiatan magang keja ini.

4        Irlia Dwi Putri, SP. MM selaku pembimbing lapangan yang telah memberikan pengarahan dalam kegiatan magang kerja.

5        Orang Tua saya yang memberikan bantuan doa dan materiil.

6        Serta semua pihak yang telah membantu terselesaikannya laporan magang kerja ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

 

Demikian laporan magang ini penulis susun. Semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.

 

Malang, November 2014

 

 

Penulis

SUMMARY

 

Hadi Susilo. 115040213111030. Management Stock of Rice in Warehouse, at Public Company  BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung. Advisor by Dr. Ir. Ludji Pantja Astuti, MS. and Irlia Dwi Putri, SP. MM.

 

Rice is the staple food for most people in Indonesia that provides energy and nutrients are high. One way to keep the rice remains in good condition before the sale is by storage. Perum BULOG is the BUMN (State-Owned Enterprises) which can be used as a storage area of rice to support the needs of food, especially for the poor. Rice is obtained from a farmers through BULOG partners. Rice farmers have fluctuating quality, depending on the condition of paddy land each farmer. The rice is then stored in a BULOG Warehouse for Society food stock.

However, storage in warehouses Bulog rice is very susceptible to attack by pests warehouse, particularly insect pests warehouse. As for some of the factors that influence the occurrence of insect pests warehouse, ie several physical factors rice storage consisting of micro-climate, save material, and the physical condition of warehouse for storage (Pitaloka, et al, 2012).

A side from the physical factors, which need to be considered again that rice management procedures that are in the warehouse. Place of internship in Perum Bulog Warehouse Sub Regional Division Tulungagung. Warehouse Locations are in Warehouse Bulog Big Bence, Highway Bence, Blitar. The timing of the internship was carried out for 3 months from July to October. This job training using the method of implementation of everyday practice, observation and discussion as well as set the trapping in a BULOG  Warehouse Sub Divisi Regional Tulungagung.

Based on observations, the management of rice in Bulog warehouse Bence included in the category is quite good and organized in accordance with the procedure. Early rice entrance examination includes (examination of water content, degree of milling, grain groats, broken grains, whole grains and other objects, oat bran, pests, odors and chemicals), the management of rice pile covers (recording the number of stacks, checks the temperature and humidity , pest monitoring, fumigation and spraying, sanitation, quality and completion of the rice down the final examination), raskin delivery and operation of the market, warehouse administration. Integrated Pest Management System  in Warehouse (PHGT) also performed well. So the emergence of pests warehouse there can be resolved by either according to the procedures that have been implemented.

From the results of traps in the warehouse, there are many insect pests in storage Bence is Psocids, Tribolium spp., Sitophilus oryzae, and Cryptolestes ferrugineus.

 

RINGKASAN

 

Hadi Susilo. 115040213111030. Manajemen Stok Beras di Gudang, Perusahaan Umum BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung. Di bawah Bimbingan Dr. Ir. Ludji Pantja Astuti, MS. sebagai Pembimbing Utama Magang, Irlia Dwi Putri, SP. MM. sebagai Pembimbing Lapangan.

 

Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang memberikan energi dan zat gizi yang tinggi. Salah satu cara untuk mempertahankan agar beras tetap dalam keadaan baik sebelum dijual yaitu dengan penyimpanan. Perum BULOG merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dapat dimanfaatkan sebagai tempat penyimpanan beras untuk menunjang kebutuhan bahan pangan, terutama bagi masyarakat miskin. Beras tersebut diperoleh dari pertani melalui mitra kerja BULOG. Beras dari petani mempunyai kualitas yang fluktuatif, tergantung dari kondisi lahan padi masing-masing petani. Beras tersebut kemudian disimpan dalam gudang BULOG untuk stok pangan masyarakat.

Akan tetapi, penyimpanan beras di gudang BULOG sangat rentan terhadap serangan hama-hama gudang, khususnya serangga hama gudang. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi kemunculan serangga hama gudang, yaitu beberapa faktor fisik penyimpanan beras yang terdiri dari iklim mikro, bahan simpan, dan kondisi fisik gudang sebagai tempat penyimpanan (Pitaloka, dkk, 2012).

Selain dari faktor fisik tersebut, yang perlu diperhatikan lagi yaitu tata cara pengelolaan beras yang ada didalam gudang. Tempat pelaksanaan magang kerja di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. Lokasi Gudang yaitu di Gudang BULOG Besar Bence, Jalan Raya Bence, Kabupaten Blitar. Waktu pelaksanaan magang kerja ini dilaksanakan selama 3 bulan pada bulan Juli sampai bulan Oktober. Magang kerja ini menggunakan metode pelaksanaan praktek sehari-hari, observasi dan diskusi serta pemasangan perangkap yang dilakukan di gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung.

Berdasarkan hasil pengamatan, manajemen pengelolaan beras di gudang BULOG Bence termasuk dalam kategori sudah cukup baik dan teratur sesuai dengan prosedur. Pemeriksaan beras awal masuk meliputi (pemeriksaan kadar air, derajat sosoh, butir menir, butir patah, butir utuh dan benda lain, dedak sekam, hama penyakit, bau dan bahan kimia), pengelolaan tumpukan beras meliputi (pencatatan jumlah tumpukan, pemeriksaan suhu dan kelembaban, monitoring hama, fumigasi dan spraying, sanitasi, penyelesaian beras turun mutu dan pemeriksaan akhir), pengiriman raskin dan operasi pasar, adminitrasi gudang. Sistem Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT) yang dilakukan juga sudah baik. Sehingga kemunculan hama-hama gudang disana bisa teratasi dengan baik sesuai prosedur yang telah dicanangkan.

Dari hasil perangkap yang dipasang di dalam gudang, serangga hama yang banyak terdapat di gudang Bence adalah Psocids, Tribolium spp., Sitophilus oryzae, dan Cryptolestes ferrugineus.

 

 

DAFTAR SINGKATAN

BAST              : Berita Acara Serah Terima

BULOG          : Badan Urusan Logistik

BUMN            : Badan Usaha Milik Negara

Divre               : Divisi Regional

GBB                : Gudang BULOG Baru

GCG               : Good Coorperate Governance

GMT               : Grain Mouisture Tester

HPP                 : Hama Pasca Panen

Keppres           : Keputusan Presiden

Lol                   : Letter of Intent

OPK                : Operasi Pasar Khusus

P3K                 : Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan

Perum              : Perusahaan Umum

PP                    : Peraturan Pemerintah

PPK                 : Petugas Pemeriksa Kualitas

Raskin             : Beras untuk Rakyat Miskin

Satker              : Satuan Kerja

SOP                 : Standar Operasional Prosedur

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN.. ii

KATA PENGANTAR. iii

SUMMARY. iv

RINGKASAN.. v

DAFTAR SINGKATAN.. vi

DAFTAR ISI vii

DAFTAR GAMBAR. x

I.  PENDAHULUAN.. 11

1.1. Latar Belakang. 11

1.2. Tujuan. 13

1.3. Sasaran Kompetensi 14

1.3.1. Bagi Mahasiswa. 14

1.3.2. Bagi Perusahaan. 14

1.3.3. Bagi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. 14

II. TINJAUAN PUSTAKA. 16

2.1. Beras. 16

2.2. Gudang. 17

2.3. Pengelolaan Komoditas Simpanan. 18

2.4. Hama Gudang. 20

III. METODE PELAKSANAAN.. 22

3.1. Tempat dan Waktu. 22

3.2. Metode Pelaksanaan. 22

IV. HASIL dan PEMBAHASAN.. 24

4.1. Perusahaan Umum BULOG.. 24

4.1.1. Profil Perusahaan. 24

4.1.2. Visi dan Misi Perusahaan. 25

4.1.3. Struktur Organisasi 26

4.1.4. Lokasi dan Tata Letak Perusahaan. 26

4.2. Hasil 27

4.2.1. Pengenalan Lingkungan BULOG.. 27

4.2.2. Pengadaan Beras pada BULOG.. 27

4.2.3. Pemeriksaan Awal Beras Masuk. 28

4.2.4. Pengelolaan Tumpukan Beras di Gudang. 30

4.2.5. Pengiriman Raskin (Beras Miskin) dan Operasi Pasar. 33

4.2.6. Adminitrasi Gudang. 34

4.2.7. Jenis dan Populasi Serangga Hama Yang Ditemukan pada Trap yang Dipasang di Gudang Penyimpanan Beras Perum BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung. 34

4.3. Pembahasan. 35

4.3.1. Pengenalan Lingkungan BULOG.. 35

4.3.2. Pengadaan Beras Pada BULOG.. 37

4.3.3. Pemeriksaan Awal Beras Masuk. 37

4.3.4. Pengelolaan Tumpukan Beras di Gudang. 39

4.3.5. Pengiriman Raskin dan Operasi Pasar 43

4.3.6. Adminitrasi Gudang. 44

4.3.7. Serangga yang Ditemukan pada Perangkap yang Dipasang pada Stapel Beras di Gudang Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung. 44

V. KESIMPULAN dan SARAN.. 46

5.1. Kesimpulan. 46

5.2. Saran. 46

DAFTAR PUSTAKA. 47

LAMPIRAN.. 49

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR TABEL

Nomor                                                 Teks                                                  Halaman

1 …… Beberapa Spesies Serangga yang Menyerang Bahan Simpan. 20

2  …… Pemeriksaan Kualitas Beras Bulan Juli-Oktober 2014. 30

3    Jumlah Serangga yang Ditemukan pada Perangkap yang Dipasang pada  Gudang Beras Bence Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung. 34

4 …… Kegiatan Magang Kerja di GBB Bence, Perum BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung  49

 

 


DAFTAR GAMBAR

 

Nomor                                                 Teks                                                  Halaman

 

1 …. Tumpukan Kunci Lima pada Penataan Stapel di Gudang BULOG……………40

2 …. Beberapa Form atau Surat yang Digunakan oleh Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung…………………………………………………………………………56

3 …. Pelaksanaan Fumigasi dan Spraying………………………………………………………57

4 …. Perbaikan Kualitas Beras di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung………………………………………………………………………………………58

5 …. Kegiatan Pemeriksaan Awal Beras Masuk di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung……………………………………………………………….59

6  … Pemeriksaan Keadaan Lingkungan Dalam dan Luar Gudang BULOG Setelah Dilakukan Sanitasi Disetiap Lorong Gudang. 60

7 …. Beberapa Alat-alat yang Digunakan pada Pemeriksaan Beras Awal Sebelum Masuk Gudang dan Alat-alat Perbaikan Kualitas Beras pada Gudang. 61

8 …. Kegiatan Pengiriman Raskin di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung  62

9 …. Pemasangan Perangkap Hama pada Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung  63

10 .. Denah Gudang BULOG Baru Bence Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. 64

 

 

 

 

 





 

I.         PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

 

Lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk keterampilan dan kecakapan seseorang untuk memasuki dunia kerja. Pendidikan yang dilakukan di perguruan tinggi masih terbatas pada pemberian teori dan praktek dalam skala kecil dengan intensitas yang terbatas. Agar dapat memahami dan memecahkan setiap permasalahan yang muncul di dunia kerja, maka mahasiswa perlu melakukan kegiatan pelatihan kerja secara langsung di instansi atau lembaga yang relevan dengan program pendidikan yang diikuti. Sehingga setelah lepas dari ikatan akademik di perguruan tinggi yang bersangkutan, mahasiswa bisa memanfaatkan ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh selama masa pendidikan dan masa pelatihan kerja untuk melanjutkan kiprahnya di dunia kerja yang sebenarnya. Sebab, untuk dapat terjun langsung di masyarakat, tidak hanya dibutuhkan pendidikan formal yang tinggi dengan perolehan nilai yang memuaskan, namun diperlukan juga ketrampilan (skill) dan pengalaman pendukung untuk lebih mengenali bidang pekerjaan sesuai dengan keahlian yang dimiliki. Salah satu program yang dapat ditempuh adalah dengan melaksanakan magang.

Magang adalah kegiatan akademik (intrakulikuler) yang dilakukan oleh mahasiswa dengan melakukan praktek kerja secara langsung pada lembaga atau  instansi yang relevan dengan pendidikan yang diambil mahasiswa dalam perkuliahan. Bentuk kegiatan yang dilakukan adalah kerja praktek dengan mengikuti semua aktifitas di lokasi magang. Kegiatan ini sesuai dengan kurikulum program Strata Satu (S1), Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya (UB) Malang, bahwa pada semester tujuh, setiap mahasiswa diwajibkan melaksanakan kegiatan magang yang mempunyai bobot 4 sks. Magang digunakan sebagai bahan penulisan laporan Tugas Akhir (TA) sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1). Sesuai dengan tuntutan dari kurikulum pendidikan Strata Satu, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang, maka untuk kegiatan magang mahasiswa ini dilaksanakan di Perusahaan  atau instansi yang bergerak di bidang pertanian.

Salah satu  yang bergerak dalam bidang tersebut adalah Perum Bulog.  Amrullah (2004) mengemukakan bahwa perusahaan ini merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pengganti Badan Urusan Logistik (BULOG) yang dulu merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND). Kehadirannya didasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 tahun 2003 tentang Pendirian Perum Bulog. Dalam pelaksanaan magang di Perum Bulog mempunyai tugas antara lain mendukung tugas pemerintah dalam rangka pengamanan stok pangan nasional, berperan secara srategis dalam pengamanan harga pembelian gabah dan beras yang dapat memberikan insentif bagi petani agar dapat mempertahankan kesinambungan usaha taninya, menjamin ketersediaan stok pangan (khususnya beras) bagi masyarakat miskin, menjalankan manajemen logistik untuk meningkatkan pelayanan kepada petani produsen maupun konsumen dalam lingkup waktu, jumlah, kualitas dan tempat, meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan serta menyelenggarakan kegiatan ekonomi dibidang pangan secara berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.

Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia yang memberikan energi dan zat gizi yang tinggi. Beras sebagai komoditas pangan pokok dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan preferensi masyarakat terhadap beras semakin besar. Berdasarkan data Susenas 1990-1999, tingkat partisipasi konsumsi beras di setiap provinsi maupun tingkatan pendapatan mencapai sekitar 97-100 %. Ini artinya hanya sekitar 3 % rumah tangga yang tidak mengkonsumsi beras sebagai pangan pokok terutama pangan pokok tunggal. Tingkat partisipasi konsumsi beras yang lebih kecil 90 % hanya ditemukan di pedesaan Papua. Sebagai gambaran, tingkat konsumsi beras rata-rata di kota tahun 1999 adalah 96,0 kg per kapita /tahun dan didesa adalah 111,8 kg per kapita/tahun (Suharno, 2005).

Akan tetapi, penyimpanan beras di gudang BULOG sangat rentan terhadap serangan hama-hama gudang, khususnya serangga hama gudang. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi kemunculan serangga hama gudang, yaitu beberapa faktor fisik penyimpanan beras yang terdiri dari iklim mikro, bahan simpan, dan kondisi fisik gudang sebagai tempat penyimpanan (Pitaloka, dkk, 2012).

Iklim mikro yang berpengaruh yaitu suhu gudang penyimpanan, kelembaban dalam gudang, cahaya dan aerasi gudang. Selain itu, faktor fisik dari bahan simpan itu sendiri juga akan berpengaruh terhadap kemunculan hama gudang. Faktor fisik bahan simpan tersebut meliputi kadar air dan kondisi butiran bahan simpan. Kondisi fisik gudang (komponen yang ada dalam gudang, misalnya atap, ventilasi dan saluran drainase, dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya) juga dapat berpengaruh terhadap kemunculan hama gudang. Jenis hama gudang yang muncul yaitu serangga, tungau dan tikus.

Dari beberapa jenis hama gudang tersebut, serangga hama merupakan jenis hama gudang yang paling sering menginfestasi di tempat penyimpanan. Hal ini disebabkan karena serangga merupakan binatang yang paling banyak jumlahnya dan mayoritas jenis serangga berperan sebagai hama. Salah satu sifat serangga adalah suhu tubuhnya mampu menyesuaikan dengan suhu lingkungannya. Sehingga serangga dapat dengan mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat hidupnya, terutama jika keadaan lingkungannya tidak mengalami perubahan secara ekstrim. Oleh karena itu untuk mengatasi hal-hal tersebut maka perlu dilaksanakan sebuah manajemen stok beras di gudang penyimpanan khususnya di gudang BULOG.

 

1.2    Tujuan

Tujuan magang kerja ini dibagi menjadi dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus antara lain sebagai berikut :

  1. Tujuan Umum

Untuk memberi kesempatan mahasiswa agar mendapatkan pengalaman kerja di sektor pertanian yang relevan dengan profesi yang akan diembannya dimasyarakat.

  1. Tujuan Khusus

Untuk mempelajari serta memahami manajemen stok beras yang diterapkan di Perum BULOG Sub Divre Tulungagung.

1.3 Sasaran Kompetensi

1.3.1 Bagi Mahasiswa

1)      Memperoleh pemahaman tentang hubungan antara teori di kampus dengan aplikasi praktis di lapangan.

2)      Menguji kemampuan pengembangan karir dengan tujuan yang realistis.

3)      Mengembangkan kebiasaan bekerja secara profesional.

4)      Meningkatkan kemampuan untuk hubungan interpersonal.

5)      Mengenal dan belajar dengan tenaga-tenaga professional di bidang pertanian.

6)      Menyiapkan diri dalam fase transisi menjadi tenaga penuh-waktu kerja setelah lulus.

7)      Mempertahankan status mahasiswa sambil belajar pada pekerjaan profesional.

1.3.2 Bagi Perusahaan

1)      Membangun hubungan dengan calon tenaga potensial yang telah menunjukkan kinerja saat mahasiswa melakukan magang.

2)      Mendidik mahasiswa yang bermotivasi tinggi.

3)      Memanfaatkan tenaga terdidik untuk pengenalan ide-ide baru dan segar.

4)      Mengembangkan program pelatihan yang efisien.

5)      Memanfaatkan mekanisme magang sebagai alat merekrut tenaga professional dengan dunia kampus.

6)      Menyalurkan dana dan jasa sebagai bagian dari pertanggung jawaban sosial untuk mendukung pendidikan perguruan tinggi pertanian untuk mengantisipasi krisis pangan, krisis energi dan krisis air di masa mendatang.

1.3.3 Bagi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

1)      Mendapatkan umpan balik mahasiswa yang dapat digunakan untuk perbaikan kurikulum.

2)      Memperkuat hubungan positif dengan para pihak yang bergerak di sektor pertanian.

3)      Meningkatkan hubungan untuk kepentingan masyarakat luas dan mendorong dukungan masyarakat untuk program-program pendidikan tinggi pertanian.

4)      Mendemonstrasikan kepedulian Fakultas Pertanian UB dalam pendidikan pertanian dan menunjukan dukungannya melalui kinerja individualitas mahasiswa dalam dunia kerja.

5)      Mengembangkan sinergitas para pihak yang bergerak di industri pertanian untuk memberikan kesempatan magang bagi mahasiswa FP-UB.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


II.  TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Beras

Beras merupakan bahan pangan pokok yang dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk Indonesia. Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisahkan dari sekam dengan cara penggilingan, sehingga dihasilkan beras pecah kulit. Setelah itu akan dilakukan penyosohan beras untuk membuang lapisan aleuron yang menempel pada beras dan dihasilkan beras sosoh (Damardjati, 1988).

Ukuran butir beras hasil penggilingan dibedakan atas beras kepala, beras patah, dan menir. Berdasarkan persyaratan yang dikeluarkan oleh Bulog, beras kepala merupakan beras yang memiliki ukuran lebih besar dari 6/10 bagian beras utuh. Beras patah memiliki ukuran butiran 2/10 bagian sampai 6/10 bagian beras utuh. Menir memiliki ukuran lebih kecil dari 2/10 bagian beras utuh atau melewati lubang ayakan 2.0 mm (Waries, 2006).

Dalam standarisasi mutu, dikenal empat tipe ukuran beras, yaitu sangat panjang (lebih dari 7 mm), panjang (6-7 mm), sedang (5.0-5.9 mm), dan pendek (kurang dari 5 mm). Sedangkan berdasarkan bentuknya (perbandingan antara panjang dan lebar), beras dapat dibagi menjadi empat tipe, yaitu : lonjong (lebih dari 3), sedang (s.4-3.0), agak bulat (2.0-2.39) dan bulat (kurang dari 2).  Tinggi rendahnya mutu beras tergantung kepada beberapa faktor, yaitu spesies dan varietas, kondisi lingkungan, waktu pertumbuhan, waktu dan cara pemanenan, metode pengeringan, dan cara penyimpanan (Siddik dan Halid, 1983).

Standarisasi pengolahan dan mutu beras dengan penerapan standar dari pasca panen komoditi beras hingga distribusi adalah sebagai berikut : (1) Perlakuan secara baik agar tidak kotor, berjamur, dan berbau busuk, (2) Pemilihan dan penyortiran hasil panen dari serangan OPT, (3) Produk bebas hama dan penyakit, (4) bebas dari bau busuk, asam atau bau yang lainnya, (5) Bebas dari bahan kimia baik dari sisa pupuk, insektisida dan fungisida, (6) Pembersihan hasil panen harus hati-hati supaya produk tidak cacat, (7) Produk hasil panen dikemas mengikuti ketentuan grading, (8) Kemasan harus dapat melindungi produk dari kerusakan dalam pengangkutan dan penyimpanan, (9) Bahan kemasan tidak mengandung OPT, (10) Kemasan diberi label berupa tulisan yang dapat menjelaskan produk yang dikemas ( Reza, 2004 ).

 

2.2 Gudang

Salah satu cara untuk mempertahankan agar beras tetap dalam keadaan baik sebelum dijual yaitu dengan penyimpanan. Yang perlu dipertimbangkan dalam penyimpanan serta perawatan beras yaitu kualitas beras, alat pengemas, dan faktor lingkungan. Kesalahan dalam melakukan penyimpanan beras dapat mengakibatkan terjadinya respirasi, tumbuhnya jamur, dan serangan serangga, binatang mengerat dan bahkan yang sering kita alami yaitu timbulnya serangan kutu beras. Tentunya itu semua akan dapat menurunkan mutu beras (Saripudin, 2010).

Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi dan operasi industri yang berfungsi untuk menyimpan bahan baku dan bahan kemas yang belum didistribusikan. Selain untuk penyimpanan, gudang juga berfungsi untuk melindungi bahan (baku dan pengemas) dari pengaruh luar dan binatang pengerat, serangga, serta melindunginya dari kerusakan. Agar dapat menjalankan fungsi tersebut, maka harus dilakukan pengelolaan pergudangan secara benar atau yang sering disebut dengan manajemen pergudangan (Priyambodo, 2007).

Pasca panen padi mencakup pemanenan hasil dan pemrosesan gabah hingga siap digunakan oleh konsumen. Penyimpanan merupakan merupakan salah satu tahap penting karena pada proses tersebut padi mengalami proses penurunan kualitas dan kuantitas. Setelah dipanen padi disimpan dalam bentuk gabah atau beras. Penyimpanan sangat diperlukan, karena padi dipanen secara musiman, sementara beras dibutuhkan setiap hari. Salah satu masalah selama penyimpanan beras adalah serangan hama gudang. Hama gudang menimbulkan kerusakan  pada gabah maupun beras sehingga menjadi kotor, timbul bau, berjamur. Kondisi tersebut mengundang hama sekunder untuk merusak beras atau gabah sehingga menambah parah tingkat kerusakan ( Anggara dan Sudarmaji, 2009 ).

Menurut (Anonymousa, 2009) dalam peaturan pergudangan BULOG terdapat prosedur penyimpanan meliputi :

  1. Lokasi gudang

Lokasi gudang harus strategis guna kelancaran distribusi baik dari segi transportasi lalu lintas, bebas dari banjir atau tidak ada air yang tergenang.

  1. Kondisi gudang

Untuk pengeolaan barang maka kondisi bangunan harus kokoh, rangka gudang, dinding dibuat yang kuta supaya menjamin keamanan barang simpanan, lantai terbuat dari beton dan pintu harus dilengkapi kunci, mempunyai peredaran udara atau ventilasi.

  1. Perlengkapan gudang

Perum BULOG mempunyai perlengkapan seperti alat timbang, alas (flonder), alat pemadam kebakaran, alat pengambil sampel beras, penjahit kemasan, pengayak, tangga untuk naik ke tumpukan, pagar yang kokoh, alat penerangan listrik yang cukup.

  1. Penumpukan barang

Dalam melaksanakan penyimpanan barang maka perlu dilakukan penumpukan barang yang baik dan benar agar tumpukan barang tidak mudah roboh dan dapat dihitung dengan mudah. Untuk ukuran timpukan harus disesuaikan dengan kondisi barang. Dalam tumpukan barang dibuat lorong yang berfungsi sebagai mempermudah perawatan barang, mengatur kebersihan.

 

2.3 Pengelolaan Komoditas Simpanan

Menurut Anonymousa (2009) upaya perawatan kualitas dan kuantitas pada produk simpanan khususnya beras sangatlah perlu untuk diperhatikan guna tercapainya efektivitas penyimpanan. Dengan demikian pengelolaan merupakan suatu hal yang sangat penting untuk dilaksanakan. Maka dari itu hal-hal yang perlu untuk dilaksanakan dalam pengelolaan komoditas simpanan antara lain sebagai berikut :

  1. Pemeriksaan dan Monitoring

Pemerikasaan terhadap kondisi umum gudang seperti ventilasi, kebocoran, lubang bekas keratan tikus, pemeriksaan terhadap tumpukan barang, pemeriksaan terhadap peralatan pergudangan, pemeriksaan lingkungan (drainase,vegetasi,kebersihan dan cuaca), pemeriksaan tingkat serangan hama guna pelaksanaan fumigasi.

  1. Pelaksanaan Sanitasi

Pelaksanaan sanitasi meliputi kebersihan gudang dari kotoran insektisida. Pelaksanaan tersebut perlu dilakukan karena dapat membahayakan produk simpanan, kebersihan gudang harus diperhatikan guna menekan populasi hama seperti tungau hama lainnya. Kebersihan komoditas yang disimpan dengam memisahkan barang yang rusak dengan barang yang baik, kebersihan disekitar gudang untuk menekan kelembaban relatif yang merupakan sarang hama, pengaturan vegetasi tanaman tidak boleh semak-semak karena dapat menjadi sarang tikus dan sebagainya.

  1. Pengendalian Hama

Pengendalian hama dilakukan untuk mengurangi tingkat serangan hama pada produk simpanan. Pengendalian ini menggunakan spraying, fogging, fumigasi dan menggunakan gas karbondioksida.

  1. Perawatan dengan CO2

Perawatan komoditas menggunakan gas karbondioksida merupakan sistem penyimpanan dengan cara menyungkup komditas dengan plastik kedap udara. Tujuan dari perlakuan ini adalah menghambat pertumbuhan dan mencegah reinfestasi serangga hama, jamur dan mikroorganisme lain.

  1. Perbaikan Kualitas dan Pengolahan Beras Turun Mutu

Kegiatan pengolahan untuk mempebaiki kualitas beras dari kenampakan fisiknya supaya komoditasnya tetap pada standar mutu. Apabila barang mengalami kerusakan maka terdapat alternatif penyelesaian seperti pengolahan kembali, pemusnahan barang, dan penjualan beras turun mutu yang diatur pada peraturan yang berlaku.

 

2.4 Hama Gudang

Hama gudang pada umumnya serangga yang menyerang produk ditempat penyimpanan (gudang). Hama gudang berpotensi  menyebabkan kehilangan hasil selama produk dalam penyimpanan. Kehilangan hasil yang disebabkan oleh hama gudang dapat mencapai 10 – 15% dari isi gudang. Serangga hama gudang adalah serangga yang telah beradaptasi pada lingkungan penyimpanan dengan baik (Syarif, 2012).

Menurut Winarno (2006) serangga hama gudang menyerang bahan-bahan pangan tertentu yang sesuai dengan kebutuhanya. Salah satu ciri spesifik dari serangga hama gudang adalah mengalami metamorfosis yang sempurna, yaitu dari telur,larva, pupa, dan imago.

Tabel 1 Beberapa Spesies Serangga yang Menyerang Bahan Simpan (Rees, 2004).

Nama Umum Nama Ilmiah Famili
Flat grain beetle Cryptolestes pusillus (Schonh) Cucujidae
Rice weevil Sitophilus oryzae (L.) Curculionidae
Red flour beetle Tribolium castaneum (Hum.) Tenebrionidae
Confused flour beetle Tribolium cofusum duVal Tenebrionidae
Trogoderma complex Trogoderma spp. Dermestidae
Cadelle Tenebroides mauritanicus (L.) Ostomidae
Foreign grain beetle Ahasverus advena (Waltl) Cucujidae
Rice moth Corcyra cephalonica Staint Pyralidae
Angoumois grain moth Sitotroga cerealella (Olive.) Gelechiidae
Maize weevil Sitophilus zeamais Mots. Curculionidae
Lesser grain borer Rhyzopertha dominica (F.) Bostrichidae

 

Sedangkan menurut Munro (1966) Ordo Coleoptera adalah kelompok serangga yang paling banyak anggotanya dan hampir semua relung ekologis dalam penyimpanan dapat dimanfaatkan olehnya. Famili Bruchidae, Bostrichidae dan Curculionidae berperan sebagai hama primer, sedangkan hama sekunder banyak yang merupakan anggota famili Cucujidae, Silvanidae dan Tenebrionidae. Beberapa famili lain misalnya Cleridae dan Dermestidae menyerang bahan simpan hewani. Famili Cryptophagidae, Mycetophagidae dan Ptinidae adalah pemakan cendawan atau scavenger, sedangkan famili Staphylinidae, Carabidae dan Histeridae menjadi predator di penyimpanan. Ada juga yang menyerang bangunan penyimpanan yang pada mulanya menginfestasi bahan kayu, yaitu famili Bostrichidae, Lyctidae dan Scolytidae. Famili Trogossitidae dan Dermestidae berpupa pada tempat-tempat yang tersembunyi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III.             METODE PELAKSANAAN

 

3.1 Tempat dan Waktu

Tempat pelaksanaan magang kerja di Gudang Beras Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. Lokasi gudang yaitu di Gudang BULOG Baru Bence, Jalan Raya Bence No. 1, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Waktu pelaksanaan magang kerja ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan mulai bulan Juli 2014 sampai dengan bulan Oktober 2014.

3.2 Metode Pelaksanaan

Kegiatan magang dilaksanakan dengan beberapa metode, yaitu:

  1. Praktek magang kerja langsung sesuai kegiatan sehari-hari yang dilakukan di Gudang Bence Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung.
  2. Pengambilan data primer yang berhubungan secara langsung dengan hama gudang. Pengambilan data primer sebagai berikut:
    1. a.    Pemasangan Yellow Sticky Trap, yang digantung diantara tumpukan beras. Perangkap ini efektif untuk menangkap serangga yang aktif terbang.
    2. b.    Pemasangan Pitfall Trap yang terbuat dari gelas plastik yang berperekat, diletakkan sejajar dengan permukaan tumpukan karung. Perangkap ini digunakan untuk menjebak serangga yang berjalan diatas karung.
    3. c.    Pemasangan Bait Trap yang terbuat dari campuran biji-bijian seperti gabah, beras giling, biji kacang tanah dan kedelai yang dicampur dengan minyak zaitun.
    4. d.    Pemasangan perangkap Delta Trap yang didalamnya terdapat Feromon yang merupakan senyawa kimia yang dihasilkan oleh serangga untuk berkomunikasi dengan individu lain dalam satu spesies. Biasanya feromon bersifat spesifik dan pada serangga dikenal dua macam feromon yaitu feromon agregat dan feromon seks. Penggunaan kapsul Feromon ini dipasang di kertas yang berbentuk delta dan digantung pada besi penyangga kemudian  diletakkan diantara lorong stapel beras.
    5. Pengumpulan data sekunder yang digunakan sebagai pelengkap data primer untuk menyusun laporan hasil magang kerja. Metode yang digunakan yaitu dengan mencatat dan mencari data yang diperoleh dari Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. Pencarian data dapat dilakukan melalui studi literatur. Selain itu dapat diperoleh melalui laporan, referensi, brosur yang telah ada sebelumnya untuk melengkapi data primer, sehingga memudahkan pengambilan contoh selama berada di tempat magang.
    6. Diskusi dan wawancara secara langsung dengan pembimbing lapang untuk memperoleh informasi yang lebih jelas tentang hal yang berhubungan langsung dengan kegiatan Magang Kerja.
    7. Pengambilan foto yang berhubungan/ mendukung kegiatan Magang Kerja.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV.    HASIL dan PEMBAHASAN

 

4.1 Perusahaan Umum BULOG

4.1.1 Profil Perusahaan

Sejarah perkembangan BULOG tidak dapat terlepas dari sejarah lembaga pangan di Indonesia sejak zaman sebelum kemerdekaan sampai pemerintahan sekarang ini. Secara umum tugas lembaga pangan tersebut adalah untuk menyediakan pangan bagi masyarakat pada harga yang terjangkau diseluruh daerah serta mengendalikan harga pangan di tingkat produsen dan konsumen. Instrumen untuk mencapai tujuan tersebut dapat berubah sesuai kondisi yang berkembang.

Perjalanan Perum BULOG dimulai pada saat dibentuknya BULOG pada tanggal 10 Mei 1967 berdasarkan keputusan presidium kabinet No.114/U/Kep/5/1967, dengan tujuan pokok untuk mengamankan penyediaan pangan dalam rangka menegakkan eksistensi Pemerintahan baru. Selanjutnya direvisi melalui Keppres No. 39 tahun 1969 tanggal 21 Januari 1969 dengan tugas pokok melakukan stabilisasi harga beras, dan kemudian direvisi kembali melalui Keppres No 39 tahun 1987, yang dimaksudkan untuk menyongsong tugas BULOG dalam rangka mendukung pembangunan komoditas pangan yang multi komoditas. Perubahan berikutnya dilakukan melalui Keppres No. 103 tahun 1993 yang memperluas tanggung jawab BULOG mencakup koordinasi pembangunan pangan dan meningkatkan mutu gizi pangan, yaitu ketika Kepala BULOG dirangkap oleh Menteri Negara Urusan Pangan.

Pada tahun 1995, keluar Keppres No 50, untuk menyempurnakan struktur organisasi BULOG yang pada dasarnya bertujuan untuk lebih mempertajam tugas pokok, fungsi serta peran BULOG. Oleh karena itu, tanggung jawab BULOG lebih difokuskan pada peningkatan stabilisasi dan pengelolaan persediaan bahan pokok dan pangan. Tugas pokok BULOG sesuai Keppres tersebut adalah mengendalikan harga dan mengelola persediaan beras, gula, gandum, terigu, kedelai, pakan dan bahan pangan lainnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam rangka menjaga kestabilan harga bahan pangan bagi produsen dan konsumen serta memenuhi kebutuhan pangan berdasarkan kebijaksanaan umum Pemerintah. Namun tugas tersebut berubah dengan keluarnya Keppres No. 45 tahun 1997, dimana komoditas yang dikelola BULOG dikurangi dan tinggal beras dan gula. Kemudian melalui Keppres No 19 tahun 1998 tanggal 21 Januari 1998, Pemerintah mengembalikan tugas BULOG seperti Keppres No 39 tahun 1968. Selanjutnya melalu Keppres No 19 tahun 1998, ruang lingkup komoditas yang ditangani BULOG kembali dipersempit seiring dengan kesepakatan yang diambil oleh Pemerintah dengan pihak IMF yang tertuang dalam Letter of Intent (LoI).

Dalam Keppres tersebut, tugas pokok BULOG dibatasi hanya untuk menangani komoditas beras. Sedangkan komoditas lain yang dikelola selama ini dilepaskan ke mekanisme pasar. Arah Pemerintah mendorong BULOG menuju suatu bentuk badan usaha mulai terlihat dengan terbitnya Keppres No. 29 tahun 2000, dimana didalamnya tersirat BULOG sebagai organisasi transisi (tahun 2003) menuju organisasi yang bergerak di bidang jasa logistik di samping masih menangani tugas tradisionalnya. Pada Keppres No. 29 tahun 2000 tersebut, tugas pokok BULOG adalah melaksanakan tugas Pemerintah di bidang manajemen logistik melalui pengelolaan persediaan, distribusi dan pengendalian harga beras (mempertahankan Harga Pembelian Pemerintah – HPP), serta usaha jasa logistik sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Arah perubahan tesebut semakin kuat dengan keluarnya Keppres No 166 tahun 2000, yang selanjutnya diubah menjadi Keppres No. 103/2000. Kemudian diubah lagi dengan Keppres No. 03 tahun 2002 tanggal 7 Januari 2002 dimana tugas pokok BULOG masih sama dengan ketentuan dalam Keppers No 29 tahun 2000, tetapi dengan nomenklatur yang berbeda dan memberi waktu masa transisi sampai dengan tahun 2003. Akhirnya dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah RI no. 7 tahun 2003 BULOG resmi beralih status menjadi Perusahaan Umum (Perum) BULOG ( Anonimousb , 2010).

 

4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan

Visi

Terwujudnya perusahaan yang handal dalam pencapaian ketahanan pangan nasional yag berkelanjutan.

Misi :

  1. Memenuhi kecukupan pangan pokok secara aman, bermutu, stabil dan terjangkau.
  2. Mewujudkan SDM profesional, jujur, amanah, dan menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG) di bidang pangan.

4.1.3 Struktur Organisasi

 

 

 

 

 

4.1.4 Lokasi dan Tata Letak Perusahaan

Gudang Bulog yang berada di Blitar merupakan salah satu gudang BULOG milik Perum BULOG sub divre Tulungagung. Gudang BULOG yang berada di Blitar ada 2, semuanya terletak di daerah kecamatan Garum. Salah satu gudang tersebut berada di Desa Bence kecamatan Garum kabupaten Blitar dan yang satunya terletak di Desa Pojok kecamatan Garum. Desa Bence memiliki ketinggian  rata-rata yang rendah yaitu  0-276 m diatas permukaan laut. Gudang BULOG Baru (GBB) Bence pada bagian selatan berbatasan langsung dengan Jalan Raya Blitar – Malang, sebelah barat berbatasan dengan pemukiman warga, sebelah utara berbatasan langsung dengan lahan persawahan dan sebelah timur berbatasan langsung dengan lahan kosong serta batas desa Garum dan Talun.

Gudang BULOG Bence memiliki 8 unit gudang utama sebagai tempat penyimpanan beras serta memiliki kantor utama sebagai tempat berlangsungnya kegiatan kepala gudang seluruh karyawan. Selain itu Gudang BULOG Bence memiliki 1 unit rumah dinas, 1 unit Pos Keamanan, 1 unit rumah kuli dan 1 unit Mushola yang semuanya digunakan sebagai rutinitas sehari-hari karyawan BULOG.

4.2 Hasil

4.2.1 Pengenalan Lingkungan BULOG

  1. Dalam kantor terdapat beberapa karyawan dengan bagian masing-masing seperti kepala gudang, juru timbang, kerani, satker raskin, bagian adminitrasi, PPK dan satpam serta kuli angkut.
  2. Lingkungan gudang terletak di Jalan Raya Bence No. 1, Kab. Blitar. Gudang ini disebut dengan Gudang BULOG Baru (GBB) Bence yang berkapasitas 15.000 hingga 16.000 ton beras, dengan rincian 1 unit gudang masing-masing dapat  menampung sekitar 2000 sampai 3000 ton beras.
  3. Gudang BULOG Baru (GBB) Bence mempunyai 6 Mitra Kerja dan 1 Satgas untuk menyuplai stok beras. Kegiatan pengadaan tersebut dapat berlangsung ketika ada Mitra Kerja yang mengirimkan beras ke gudang. Berikut beberapa Mitra Kerja, yaitu Satgas ADA 2014,  UD. Abadi, KSU Sri Lestari, UD. Inti Jaya, UD. Raya Jaya, CV. Lestari Mulyo, CV. Sinar Jaya. Dan selama kegiatan magang kerja berlangsung, Mitra Kerja tersebut yang sangat aktif mengirimkan beras ke GBB Bence.
  4. Pengukuran lorong di GBB Bence adalah :
    1. Lorong utama /pokok 150 cm.
    2. Lorong silang 100 cm
    3. Lorong kebakaran 75 cm.
    4. Lorong stapel 50 cm.
    5. Perlengkapan gudang pada BULOG terdiri dari :
      1. Timbangan duduk sentisimal yang berfungsi untuk menimbang beras.
      2. Probe yang berfungsi untuk mengambil sampel beras pada karung.
      3. Termohigrometer berfungsi untuk mengetahui suhu dan kelembaban pada gudang.

4.2.2 Pengadaan Beras pada BULOG

Penerimaaan beras di gudang BULOG diawali dengan pengiriman beras oleh Mitra Kerja BULOG dengan jumlah beras sesuai dengan kontrak kerja yang telah disepakati. Beras dikirim menggunakan angkutan truck, setelah sampai di gudang pihak mitra kerja menemui petugas keamanan untuk melaporkan jumlah beras yang dikirim serta meminta nomor antrian untuk memasuki gudang.

4.2.3 Pemeriksaan Awal Beras Masuk

Beras yang akan masuk ke dalam gudang harus melalui tahap pemeriksaan terlebih dahulu, tahap ini bertujuan untuk memeriksa kualitas serta kuantitas beras yang akan disimpan di gudang. Berdasarkan prosedur, pemeriksaan beras dilakukan menggunakan probe untuk mengambil sampel beras dari tiap karung. Sampel beras yang digunakan maksimal sebanyak 5% dari jumlah total muatan yang dibawa. Namun pada BULOG pemeriksaan dilakukan menyeluruh pada tiap karung beras. Hal ini dilakukan untuk meminimalisir tindakan kecurangan yang biasa dilakukan oleh pihak mitra kerja, karena pihak BULOG seringkali menemukan kecurangan pada sisi kuantitas beras yang tidak sesuai pada saat ditimbang serta kualitas beras yang rendah pada saat diperiksa pada bagian tengah muatan, sehingga beras simpan tersebut tidak masuk kriteria yang diinginkan oleh pihak BULOG. Dengan adanya sistem demikian pihak BULOG mengharapkan bahwa beras yang masuk pada gudang merupakan beras kualitas terbaik. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memeriksa beras yang masuk antara lain :

  1. Kadar Air.

Kadar air beras simpan harus memenuhi syarat dan standar yang belaku yaitu sekitar 9% sampai dengan 14%. Pemeriksaan kadar air pada beras menggunakan alat Grain Moisture Tester (GMT) dengan prosedur uji yaitu:

  1. Sampel beras diambil sebanyak kapasitas tempat sampel yang ada pada alat GMT kemudian dimasukkan ke lubang alat dan diputar hingga 3600 .
  2. GMT diprogram ke mode “RICE”
  3. Kemudian menekan tombol enter pada alat dan menunggu hingga muncul jumlah presentase pada layar yang ada di alat tersebut.
  1. Derajat Sosoh.

Pemeriksaan derajat sosoh pada BULOG tidak menggunakan alat tertentu, namun pemeriksaan yang dilakukan yaitu dengan cara mengamati tampilan fisik luar dari beras. Besarnya derajat sosoh diketahui berdasarkan warna dari beras yang diuji. Beras yang memiliki tampilan warna putih bersih berarti memiliki nilai derajat sosoh sebesar 95%, sedangkan beras yang memiliki tampilan warna agak putih kekuning-kuningan hingga kuning  memiliki nilai derajat sosoh sebesar 90%.

  1. Butir Menir, Butir Patah (Broken) dan Butir Utuh.

Pemeriksaan butir beras pada BULOG diawali dengan pemeriksaan butir menir terlebih dahulu menggunakan alat berupa ayakan menir. Dengan cara beras diambil dari sampel sebanyak 1 genggam kemudian ditaruh di ayakan dan dilakukan pengayakan. Beras yang tertinggal di ayakan menir disebut butir menir. Butir menir tersebut kemudian ditimbang dan dihitung kadar prosentasenya berdasarkan berat sampel. Pemeriksaan butir patah dan butir utuh prosedurnya sama dengan pemeriksaan butir menir, namun perbedaaannya terletak pada alat ayakan yang digunakan.

  1. Benda Lain, Dedak Sekam dana Hama Penyakit.

Pemeriksaan beras terhadap kontaminasi benda lain dilakukan tanpa menggunakan alat, hanya dilakukan pemeriksaan dari segi fisik beras. Prosedurnya yaitu melakukan pengambilan sampel beras kemudian diletakkan di nampan  dan diamati ada tidaknya benda lain yang tercampur pada beras. Benda lain tersebut yaitu dapat berupa kerikil, tanah, gabah,  dan jerami. Pemeriksaan dedak sekam dan hama penyakit menggunakan prosedur yang sama dengan pemeriksaan benda lain hanya saja objek pengamatannya berbeda.

  1. Bau.

Pemeriksaan bau pada beras menggunakan panca indera manusia berupa hidung untuk menguji kualitas beras berdasarkan baunya. Bau yang normal pada beras memiliki bau seperti wangi beras pada umumnya, sedangkan apabila bau tersebut bukan berasal dari wangi beras, maka kualitas beras tersebut menjadi kurang baik.

  1. Bahan Kimia.

Pemeriksaan kadar bahan kimia pada beras dilakukan tanpa menggunakan alat tertentu, cukup mengamati kondisi fisik beras. Apabila ditemukan beras yang berwarna kehitam-hitaman atau kekuning-kuningan, maka beras tersebut menunjukkan bahwa telah terkontaminasi oleh bahan-bahan kimia atau bekas fumigasi.

Berikut merupakan sampel pemeriksaan kualitas beras yang dilakukan pada gudang BULOG Bence  antara bulan Juli sampai Oktober 2014.

Tabel 2 Pemeriksaan Kualitas Beras Bulan Juli-Oktober 2014.

No. Mitra Kerja KA (%) DS (%) BU (%) BP (%) BM (%) BL DS HP B BK
1. CV. Lestari Mulyo (08-07-2014) 14 93 82,6 12 3,2 0 0 0 Normal 0
2. UD. Inti Jaya (10-07-2014) 13,9 92 80,1 18 4,1 2 0 7 Normal 0
3. UD. Abadi (06-08-2014) 14,1 95 83 14 3,5 0 0 2 Normal 0
4. UD. Raya Jaya (02-10-2014) 14 90 87 16 3 0 0 3 Normal 0
5. KSU. Sri Lestari (03-10-2014) 14 91 82,4 13 3,4 0 0 0 Normal 0
6. CV. Sinar Jaya (06-10-2014) 13,4 90 83 14 2,3 0 0 0 Normal 0
7. UD. Inti Jaya (07-10-2014) 14 95 88 13 2,5 0 0 0 Normal 0

Keterangan : KA adalah Kadar Air, DS adalah Derajat Sosoh, BU adalah Butir Utuh, BP adalah Butir Patah, BM adalah Butir Menir, BL adalah Benda Lain, DS adalah Dedak Sekam, HP adalah Hama Penyakit, B adalah Bau, BK adalah Bahan Kimia.

Data hasil pemeriksaan awal terhadap kualitas beras selanjutnya diserahkan kepada Kepala Gudang untuk meminta keputusan dari Kepala Gudang yang nantinya akan menentukan apakah beras tersebut dapat masuk ke dalam gudang atau ditolak dan dikembalikan kepada mitra kerja.

4.2.4 Pengelolaan Tumpukan Beras di Gudang

Beras yang telah melalui pemeriksaan awal selanjutnya akan dimasukkan ke dalam gudang, untuk penataan beras-beras tersebut menggunakan sistem tumpukan kunci lima. Tujuan dari menggunakan sistem tumpukan kunci lima yaitu untuk memudahkan dalam perhitungan beras serta menjaga tumpukan tetap stabil meskipun dilakukan penumpukan dalam jumlah banyak. Pada gudang BULOG Bence jumlah maksimal penumpukan keatas yaitu maksimal 45 tumpukan, sedangkan jumlah kesamping disesuaikan dengan batas flounder yang terpasang.

Beras yang telah ditumpuk digudang dan belum di distribusikan memerlukan sistem pengelolaan yang baik, pengeloalaan yang dilakukan terdiri dari :

  1. Pencatatan Jumlah Tumpukan

Pencatatan jumlah tumpukan bertujuan untuk memudahkan dalam pemantauan stok beras di dalam gudang. Kegiatan pemasukan beras ini diletakkan di atas stapel. Tiap stapel mempunyai umur simpan yang berbeda. Dengan demikian harus dituliskan dalam papan meliputi : tanggal pemasukan, bruto, netto, tanggal spraying dan fumigasi. Dengan adanya pencatatan pada papan ini maka dapat memudahkan untuk pemeliharaan.

  1. Pemeriksaan Suhu dan Kelembaban

Pemeriksaan suhu dan kelembaban dilakukan menggunakan alat yaitu thermohigrometer. Alat tersebut dipasang di dalam gudang diantara tumpukan beras. Namun untuk hasil pemeriksaan tidak ada dikarenakan tidak mengamati suhu dan kelembaban secara teratur.

  1. Monitoring Hama

Monitoring hama pada gudang dilakukan tanpa menggunakan alat tertentu. Monitoring hama hanya dilakukan dengan cara mengamati ada tidaknya hama yang berada diluar karung serta di sekitar daerah terselip pada karung. Selain itu monitoring juga dilakukan pada bagian lantai dan dinding gudang. Apabila terlihat ada hama yang berkeliaran maka kemungkinan tumpukan beras telah terserang oleh hama.

  1. Fumigasi dan Spraying

Fumigasi pada BULOG Bence dilakukan oleh petugas dari BULOG divre Surabaya. Dosis Fumigasi sesuai aturan yang berlaku yaitu 2 tablet per 1 ton beras, namun pada saat aplikasi dosis dapat ditambah ataupun dikurangi sesuai keadaan beras yang ada didalam gudang. Apabila terdapat serangan hama yang begitu besar pada salah satu sisi stapel, maka dosis dapat ditambah sesuai kebutuhan. Adapun nama dagang Fumigan yang sering digunakan adalah : Delicia Gastoxin, Sandphose, Fumiphose, Metil Bromide (sekarang tidak digunakan karena merusak ozon) dan Toxphos. Pada saat fumigasi yang digunakan adalah nama dagang Delicia Gastoxin. Tahapan Fumigasi dan Spraying :

  1. Beras disungkup menggunakan plastik khusus, 2 stapel beras dijadikan satu sungkup, ukuran sungkup 33 m2.
  2. Membuat wadah tablet fumigasi dengan kertas karton yang dilipat menjadi wadah, serta meletakkannya sesuai tempatnya disetiap samping kanan dan kiri stapel.
  3. Meletakkan tablet fumigasi pada wadah yang telah disiapkan.
  4. Kemudian bagian luar sungkup berupa lantai, dinding dalam dan luar serta pintu-pintu gudang dispraying.
  5. Gudang ditutup selama 1 minggu.

Proses fumigasi dan spraying dilakukan oleh gudang setiap 3 bulan sekali, namun untuk spraying dilakukan setiap 1 bulan sekali.

  1. Sanitasi

Sanitasi pada gudang BULOG dilakukan sebagai upaya menjaga kebersihan dari gudang dan menghindari adanya sumber investasi hama pada gudang. Sanitasi yang dilakukan pada gudang BULOG Bence selama bulan juli sampai oktober yaitu :

  1. Melakukan kerja bakti setiap minggu satu kali yaitu hari jumat. Kerja bakti ini bertujuan untuk selalu menjaga kebersihan gudang dari kotoran hama, beras yang tercecer dan debu serta benang – benang bekas karung. Selain didalam gudang dilakukan pula diluar gudang yaitu lingkungan sekitar dilakukan pemotongan rumput dan tanaman liar serta pohon – pohon yang lebat.
  2. Penebangan pohon – pohon yang sekiranya menganggu lingkungan gudang dan kantor. Hal ini bertujuan untuk mencegah adanya sarang – sarang hama gudang.
  3. Perbaikan atap dan pengecatan dinding. Perbaikan atap bertujuan untuk mencegah masuknya burung-burung.
  4. Perbaikan jalan aspal yang rusak. Hal ini bertujuan untuk mempermudah jalannya kendaraan yang masuk dan keluar.
  5. Sanitasi juga dilakukan setelah fumigasi dan spraying. Pembukaan pintu gerbang setelah fumigasi dan spraying kemudian dilakukan pembukaan sungkup. Setelah itu dilkukan pembersihan gudang dari serangga dan hewan yang mati akibat fumigasi dan spraying.
  1. Perbaikan Kualitas Beras dan Penyelesaian Beras Turun Mutu

Beras yang ditumpuk dalam jumlah banyak dan relatif lama maka akan didapatkan beras yang kualitasnya agak menurun. Beras tersebut kemudian dilakukan pemrosesan ulang untuk memperbaiki kualitas, kemudian dimasukkan dalam karung dan ditimbang selanjutnya diatas stapel pada awalnya.

  1. Pemeriksaan Akhir

Pemeriksaan akhir dilakukan sebelum beras didistribusikan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi pemeriksaan karung sebagai kemasan beras, karena kemasan beras mempengaruhi kualitas dari beras tersebut. Pemeriksaan pada beras juga dilakukan dengan mesin penyaringan atau Blowering. Hal ini bertujuan untuk membersihkan abu sekam, kotoran, benda lain yang ada dalam beras. Beras yang siap didistribusikan yaitu beras dengan keadaan karung yang bersih, tidak bocor dan isinya sesuai dengan berat bersih pada kemasan.

4.2.5 Pengiriman Raskin (Beras Miskin) dan Operasi Pasar.

Beras yang telah dikelola denganbaik di gudang, selanjutnya akan didistribusikan melalui program raskin dan operasi pasar. Penyaluran beras melalui program raskin yaitu penyaluran beras yang diperuntukkan bagi masyarakat yang memang miskin atau kurang mampu dengan cara melalui koordinasi dari desa, sedangkan untuk operasi pasar pendistribusian beras dengan cara berkoordinasi dengan Dinas Koperindag untuk mendistribusikan beras ke penjual beras di pasar. Beras yang disalurkan melalui program raskin dan operasi pasar adalah beras yang mempunyai kualitas dan kuantitas yang sama, hanya saja harganya yang berbeda lebih tinggi pada operasi pasar.

4.2.6 Adminitrasi Gudang

Adminitrasi di gudang BULOG dilakukan untuk mendokumentasikan semua data dan kegiatan yang telah dilakukan pada gudang. Adminitrasi gudang meliputi : penulisan bukti timbang pemasukan beras (GDIM), penulisan bukti timbang pengeluaran beras (GDIK), penulisan berita acara serah terima raskin (BAST).

4.2.7 Jenis dan Populasi Serangga Hama Yang Ditemukan pada Trap yang Dipasang di Gudang Penyimpanan Beras Perum BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung.

Pemasangan perangkap diletakkan pada gudang 1(satu), karena pada gudang tersebut tidak terdapat aktivitas pemasukan dan pengeluaran beras untuk raskin, sehingga kondisi tumpukan beras (stapel) tetap utuh. Perangkap hama dipasang pada waktu sebelum dan sesudah fumigasi dan spraying. Serangga yang ditemukan pada perangkap dapat dilihat pada tabel 3(tiga).

Tabel 3 Jumlah Serangga yang Ditemukan pada Perangkap yang Dipasang pada Gudang Beras Bence Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung

Jenis Serangga

Jumlah serangga

Sebelum Fumigasi

Setelah Fumigasi

P

Y

B

F

P

Y

B

F

Psocids

2854

3514

854

369

428

74

T. castaneum

3

219

111

5

S. oryzae

20

4

C. ferrugineus

28

155

8

7

32

2

R. dominica

2

2

1

7

Keterangan P adalah Pitfall trap, Y adalah Yellow Sticky trap, B adalah Bait trap, F adalah Feromon.

 

Populasi serangga lebih banyak ditemukan sebelum diadakan fumigasi dan spraying daripada setelah kegiatan fumigasi (Tabel 3). Hal ini dikarenakan adanya bahan aktif yang digunakan pada saat fumigasi dan spraying sehingga serangga yang ada di dalam gudang penyimpanan beras mati. Setelah fumigasi dan spraying tidak ditemukan serangga yang menempel pada perangkap, namun setelah selang waktu 30 hari mulai ditemukan serangga yang menempel pada perangkap. Hal ini dapat dikatakan bahwa efektifitas bahan aktif pada fumigasi hanya bertahan dalam waktu yang singkat.

Serangga yang ditemukan pada waktu sebelum fumigasi menggunakan pitfall trap, yellow sticky trap, bait trap dan feromon antara lain Psocids, T. castaneum, C. ferrugineus, R. Dominica, dan S. oryzae paling dominan ditemukan pada perangkap Yellow sticky trap.

Pada pengamatan serangga setelah fumigasi, jumlah serangga yang ditemukan pada perangkap lebh sedikit. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh bahan aktif yang digunakan untuk fumigasi dan spraying pada gudang tersebut dapat memutus siklus hidup serangga sehingga menurunkan populasi serangga hama gudang. Disamping itu jenis serangga hama gudang yang ditemukan juga lebih sedikit dibandingkan sebelum fumigasi dan spraying.

 

4.3 Pembahasan

4.3.1 Pengenalan Lingkungan BULOG

  1. Lokasi Gudang.

Lokasi gudang Gudang Bulog Bence pada bagian selatan berbatasan langsung dengan Jalan Raya Blitar – Malang, sebelah barat berbatasan dengan pemukiman warga, sebelah utara berbatasan langsung dengan lahan persawahan dan sebelah timur berbatasan langsung dengan lahan kosong serta batas desa Garum dan Talun.

Menurut prosedur lokasi gudang BULOG adalah terpisah dari bangunan lain disekitar, keadaan lingkungan bukan merupakan semak-semak belukar yang menjadi sarang tikus dan dapat mempertinggi kelembaban. Diusahakan sedikit mungkin terkena sinar matahari untuk memperkecil kelembaban, namun diusahakan pula tidak terlalu kuat sebab sinar yang terlalu kuat dapat merusak bahan yang disimpan (Anonymousa, 2009).

Untuk lokasi gudang BULOG Bence sudah baik ditinjau dari kerangka bangunan, dinding, lantai, pintu, atap dan ventilasi udara. Namun perlu diperhatikan lagi untuk lokasi gudang yang terletak disebelah utara yang berbatasan dengan lahan persawahan karena sewaktu-waktu apabila musim panen tiba, akan banyak serangan hama-hama sawah terutama serangan hama tikus.

  1. Lorong Tumpukan

Berdasarkan hasil pengamatan pada gudang BULOG Bence untuk pembuatan lorong-lorong tumpukan sudah baik dan sesuai prosedur. Pengukuran lorong yang terdapat pada gudang BULOG Bence ada lorong pokok atau utama, lorong stapel, lorong silang dan lorong kebakaran. Lorong pokok memiliki lebar 150cm, lorong silang memiliki lebar 100cm dan lorong stapel memiliki lebar 50cm dan lorong kebakaran memiliki lebar 75cm.

Menurut prosedur pengelolaan pada gudang BULOG menyebutkan bahwa untuk kelancaran kegiatan keluar masuk barang dalam gudang dan perpindahan udara di dalam gudang maka harus dibuat lorong-lorong diantara tumpukan brang di dalam gudang. Lorong tersebut berfungsi untuk mempermudah perawatan barang simpan, pengaaturan kebersihan didalam gudang dan penyelamatan barang apabila terjadi kebakaran gudang. Jenis dan lorong yang ada didalam gudang meliputi : lorong pokok dengan lebar minimal 150cm, lorong silang lebar minimal 100cm, lorong stapel atau tumpukan dengan lebar minimal 50cm dan lorong kebakarn minimal 75cm (Anonymousa, 2009).

  1. Perlengkapan Gudang

Berdasarkan hasil pengamatan perlengkapan yang ada di gudang BULOG Bence, terdapat kelengkapan gudang yang sesuai dengan prosedur pada BULOG. Perlengkapan gudang tersebut meliputi alat timbang, flounder (alas), alat pemadam kebakaran, alat pengambil sampel beras, alat P3K, alat kebersihan, alat pengukur suhu dan papan-papan penulisan aturan dan larangan pada gudang. Serta perlengkapan lainnya yaitu kantor, pagar, gardu atau pos keamanan, kamar mandi, rumah dinas kepala gudang, alat-alat penarangan listrik, mushola, dapur, rumah kuli dan rumah gudang penyimpan alat-alat gudang.

Menurut prosedur perlengkapan gudang meliputi alat timbang, alas bahan simpan (flounder), alat P3K, alat pemadam  kebakaaran, dan alat kebersihan. Perlengkapan gudang yang lain yaitu pagar, gardu, kamar mandi, rumah kepala gudang serta perlengkapan penerangan atau listrik (Anonymousa, 2009).

4.3.2 Pengadaan Beras Pada BULOG

Kegiatan pengadaan beras di gudang BULOG Bence sudah baik karena sudah dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah dibuat oleh Perum BULOG.

Pada pelaksanaan pengadaan beras pada prosedur BULOG yaitu setiap kegiatan penerimaan barang di gudang harus dilengkapi dengan dokumen tertulis yang disampaikan dahulu sebelum barang tiba di gudang, sebagai bahan pertimbangan dan pencocokan data kualitas dan kuantitas barang. Dokumen tersebut terdiri dari Surat Perintah Terima Barang, Surat Perintah Pemeriksaan Kualitas, Surat Jalan dari mitra kerja (Anonymousa, 2009).

 

4.3.3 Pemeriksaan Awal Beras Masuk

Berdasarkan hasil kegiataan magang di gudang BULOG Bence tentang pemeriksaan awal beras masuk ke gudang meliputi :

  1. Kadar Air

Pada prosedur pemeriksaan pada BULOG standar kadar air maksimal beras adalah 14% dengan menggunakan alat yang disebut Grain Moisture Tester, pemeriksaan tersebut dilakukan minimal tiga kali ulangan (Anonymousc, 2010)

Berdasarkan pernyataan tersebut, pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas pada gudang BULOG Bence pada umumnya sudah sesuai dengan prosedur, namun terkadang terjadi penyimpangan dalam memeriksa kadar air. Hal tersebut dikarenakan beras yang kadar airnya lebih dari 14% dapat masuk kedalam gudang. Hal ini dapat mengakibatkan serangan hama pasca panen menjadi lebih tinggi dan kemungkinan terjadi kerusakan barang akan semakin cepat.

  1. Derajat Sosoh

Pada prosedur pemeriksaan awal beras masuk pada BULOG, pemeriksaan derajat sosoh menggunakan sampel beras kemudian dilakukan pemeriksaan secara visual dengan alat bantu kaca pembesar atau dengan pembanding derajat sosoh dari produksi setempat (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan literatur tersebut maka pemeriksaan terhadap derajat sosoh di gudang BULOG Bence sudah baik dan seusai dengan prosedur namun masih ada kekurangan dalam hal pembanding derajat sosoh dari produksi setempat.

  1. Butir Menir, Butir Patah (broken) dan Butir Utuh

Pada prosedur BULOG pemeriksaan keutuhan butir yaitu menggunakan ayakan menir dengan diameter 1,80 mm dengan lubang penampung dibawahnya, kemudian diambil dan ditimbang prosentase butir menir tersebut. Untuk pemeriksaan butir patah yaitu dari sisa yang tidak lolos dari ayakan atau yang tersangkut di lubang ayakan menir kemudian dimasukkan kedalam ayakan broken dan ditimbang prosentase butir oatah tersebut. Standar butir menir pda BULOG adalah maksimal 2% dari berat sampel dan butir broken 20% dari berat sampel (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan literatur tersebut pemeriksaan butir menir, butir broken dan butir utuh pihak gudang BULOG Bence perlu dilakukan pengawasan terhadap butir menir dan butir patah karena masih banyak yang belum sesuai dengan prosedur sehingga kualitas beras masih dipertanyakan, karena semakin butir yang hancur maka dapat menimbulkan hama minor pasca panen.

  1. Benda Lain, Dedak Sekam, Hama Penyakit

Pada prosedur BULOG untuk mengecek benda lain dedak sekam dan hama penyakit adalah bahan diperiksa dari contoh primer beras, kemudian pemeriksaan dilakukan secara visual (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan literatur tersebut maka pemeriksaan benda lain, dedak sekam, hama penyakit telah sesuai dengan prosedur. Namun dalam beberapa pengadaan beras masih terdapat 7 hama pasca panen pada sampel beras dan beras masih terdapat beberapa butir yang masih menjadi gabah dan belum begitu kering. Hal tersebut harus dihindari karena hama pasca panen dapat berkembang biak dan menyerang beras yang disimpan dalam gudang.

 

  1. Bau

Pada prosedur BULOG untuk pemeriksaan bau pada beras dilakukan dengan menggunakan indera penciuman dan dengan menggunakan sampel pembanding beras yang sudah sesuai standar (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan literatur tersebut maka pemeriksaan bau pada beras di gudang Bence sudah sesuai dengan prosedur namun dalam hal pembandingan dengan sampel yang sudah standar masih perlu diterakan lagi secara terus-menerus.

  1. Bahan Kimia

Pada prosedur BULOG untuk pemeriksan bahan kimia dilakukan menggunakan cara visual atau menggunalan panca indera manusia (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan literatur tersebut maka pemeriksaan bahan kimia di gudang Bence sudah memenuhi dan sesuai dengan prosedur, namun masih perlu dilakukan pemeriksaan dengan teliti baik pada beras maupun pada karung beras masing-masing.

 

4.3.4 Pengelolaan Tumpukan Beras di Gudang

Pengelolaan tumpukan beras yang dilakukan di gudang BULOG selama magang kerja yaitu sistem tumpukan kunci lima, penumpukan dengan menggunakan sistem kunci lima adalah penyusunan karung-karung pada tumpukan dengan posisi tiga karung disusun sejajar dan dua karung disusun berurutan pada lapisan pertama, pada lapisan kedua susunan dengan posisi sebaliknya dan seterusnya sampai lapisan teratas (Anonymousa, 2009).

 

 

 

 

 

 

 

Berikut adalah contoh gambar dari posisi tumpukan kunci lima :

 

 

 

 

 

 

(a)

Gambar  1.  Tumpukan Kunci Lima pada Penataan Stapel di Gudang BULOG. (a) Merupakan lapisan pertama tumpukan kunci lima, (b) merupakan lapisan kedua tumpukan kunci lima.

 

(b)

 

 

Berdasarkan dari literatur BULOG diatas maka sistem penumpukan beras pada gudang BULOG Bence sudah baik dikarenakan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan oleh BULOG.

  1. Pencatatan Jumlah Tumpukan

Pencatatan jumlah tumpukan beras yaitu menggunakan kartu tumpukan yang merupakan kartu berisikan catatan persediaan fisik barang pada tumpukan beras. Kartu tersebut terdiri dari pencatatan bukti timbangan, penerimaan barang serta pelaksanaan perawatan seperti fumigasi dan spraying (Anonymousa, 2009).

Berdasarkan kegiatan magang pada gudang BULOG Bence mk dapat diketahui bahwa pelaksanaan pencatatan jumlah tumpukan sudah diaksanakan dengan baik, karena telah sesuai dengan prosedur yang telh ditetapkan oleh pihak BULOG.

  1. Pemeriksaan Suhu dan Kelembaban

Pemeriksaan suhu dan kelembaban yang dilakukan di gudang BULOG Bence untuk menjaga umur simpan beras. Suhu dan kelembaban sangat berpengaruh terhadap penyimpanan beras. Suhu yang sangat tinggi pada gudang dapat menyebabkan penyusutan berat beras, sedngkan suhu yang rendah mengakibatkan kelembaban menjadi tinggi sehingga dapat menimbulkan tingkat serangan hama yang lebih tinggi.

 

  1. Monitoring Hama

Monitoring hama dilakukan minimal setiap 15 hari sekali yang dilakukan oleh kepala gudang atau petugas yang ditunjuk untuk melakukan monitoring. Apabila terdapat hama yang merayap dan berterbangan maka dilakukan perhitungan jumlah populasinya untuk menentukan langkah selanjutnya. Berikut ini merupakan pengamatan umum populasi hama gudang :

  1. Bila terdapat serangga dalam jumlah kecil pada beberapa permukaan karung, berarti tingkat serangan hama ringan.
  2. Bila terdapat serangga dalam jumlah lebih banyak yang terlihat pada permukaan karung, berarti tingkat serangan hama sedang.
  3. Bila terdapat serangga dalam jumlah besar dan berterbangan serta merayap di sekitar stapel berarti tingkat serangan hama berat.
  4. Bila terdapat serangga yang sangat banyak pada sekitar stapel dan suaranya berisik dari dalam karung berarti tingkat serangan hama sangat berat (Anonymousa, 2009).

Monitoring hama pada gudang BULOG Bence telah sesuai dengan prosedur dan selain itu Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT) disana telah dijalankan dengan baik sehingga jarang sekali ditemui serangan-serangan hama gudang dalam kategori berat dan sangat berat. Namun perlu untuk dikembangkan dan dipertahankan serta dilakukan beberapa inovasi dalam melakukan pengelolaannya.

  1.  Fumigasi dan Spraying

Pelaksanaan fumigasi meliputi :

  1. Melakukan penutupan sungkup, plastik sungkup harus menutupi seluruh stapel dan dipastikan tidak ada kebocoran.
  2. Menggunakan alat pelindung diri sebelum mengaplikasikan.
  3. Menaruh wadah tablet di seluruh titik-titik fumigan yang telah direncanakan.
  4. Menaruh butiran fumigan atau tablet dan diletakkan pada wadah yang telah dipersiapkan dan secara merata dibawah flounder.
  5. Melakukan spraying pada dinding dan teras gudang.
  6. Menutup pintu gudang dan diberi tanda peringatan tentang adanya kegiatan fumigasi.
  7. Menutup gudang selama 7 hari.

Berdasarkan prosedur fumigasi yang ditetapkan BULOG, diketahui bahwa pelaksanaan fumigasi pada gudang BULOG telah sesuai dengan prosedur, hanya saja perlu diperhatikan dalam hal dosis penggunaan fumigan yang berlebihan serta para petugas juga perlu menggunakan alat pelindung diri yang mampu melindungi diri dari fumigan berbahaya.

  1. Sanitasi

Pelaksanaan sanitasi kebersihan gudang dari kotoran insektisida karena dapat membahayakan produk simpanan, kebersihan gudang harus diperhatikan guna menekan jumlah populasi hama gudang. Kebersihan komoditas yang disimpan dengan memisahkan barang yang rusak dengan barang yang baik, kebersihan di sekitar gudang untuk menekan kelembaban relatif yang merupakan sarang hama. Pengaturan vegetasi tanaman tidak boleh ada semak-semak karena dapat menjadi sarang tikus, pengaturan aerasi dengan penggunaan ventilasi (Anonymousa, 2009).

Pelaksanaan sanitasi pada gudang BULOG Bence telah sesuai dengan prosedur sanitasi pada peraturan BULOG pusat. Sehingga gudang BULOG Bence merupakan gudang teladan dan menjadi panutan selama 3 tahun terakhir  terhadap gudang-gudang lainnya yang ada di Jawa Timur. Namun perlu diperhatikan terhadap peletakan vegetasi yang ada disekitar gudang, karena banyak sekali penataan yang kurang sesuai dengan penempatannya, dan dikhawatirkan akan menjadi sarang hama gudang yang potensial untuk berinvestasi.

  1. Perbaikan Kualitas Beras dan Pengelolaan Beras Turun Mutu

Kegiatan pengolahan untuk memperbaiki kualitas beras dari kemampuan fisiknya supaya komoditas tetap pada standar mutu. Apabila barang mengalami kerusakan maka terdapat alternatif penyelesaian seperti pengelolaan kembali, pemusnahan barang dan penjualan beras turun mutu yang diatur pada peraturan yang berlaku (Anonymousa, 2009).

Berdasarkan kegiatan magang yang telah dilaksanakan pada gudang BULOG Bence perbaikan dan pengellaan beras turun mutu sudah baik dan sesuai prosedur peraturan BULOG yang berlaku sehingga kenampakan fisik beras tetap terjamin.

  1. Pemeriksaan Akhir

Pemeriksaan sebelum beras didistribusikan dimulai terhadap kualitas fisik barang yang akan diserahkan, meliputi kondisi beras, sablon karung dan jahitan (Anonymousc, 2010).

Berdasarkan kegiatan magang kerja pada saat pemeriksaan akhir beras yaitu telah sesuai dengan prosedur. Pada kegiatan magang telah dilakukan pemeriksaan yang meliputi kondisi karung dan jahitan. Apabila jahitan yang tidak kuat maka akan menimbulkan kebocoran dan akan mengurangi berat beras. Beras sebelum disalurkan ke masyarakat dilakukan proses pembersihan pada kondisi fisik beras dengan cara melakukan blowering yaitu penyaringan beras pada mesin blower untuk menghilangkan abu sekam dan dedak yang ada didalam karung beras. Pada kondisi barang yang terdapat lubang kecil bekas gerekan hama juga akan disortir, karena beras tersebut sudah dapat dipastikan mengalami kerusakan.

4.3.5 Pengiriman Raskin dan Operasi Pasar

Pelaksanaan raskin yang bertujuan untuk memperkuat ketahanan pangan rumah tangga terutama rumah tangga miskin. Pada awalnya disebut dengan program Operasi Pasar Khusus (OPK), kemudian diubah menjadi raskin pada tahun 2002. Raskin diperluas fungsinya tidak lagi menjadi program darurat (social safety net) melainkan sebagai bagian dari program perlindungan sosial masyarakat. Melalui sebuah kajian ilmiah, penamaan raskin menjadi nama program diharapkan akan menjadi lebih tepat sasaran dan mencapai tujuan raskin (Anonymousc, 2010).

Pelaksanaan pengiriman raskin pada kegiatan magang telah berjalan dengan baik, sesuai dengan prosedur dan pengiriman juga sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan oleh setiap wilayah, sehingga tidak terjadi masalah dari segi kuantitasnya. Namun masih sering terjadi permasalahan pada pembayaran iuran dana raskin yang terkadang terlambat tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan, sehingga menghambat proses pengiriman beras.

4.3.6 Adminitrasi Gudang

Adminitrasi pada Perum BULOG dimaksudkan dapat memberikan data dan informasi yang benar dan akurat untuk mempermudah pembuatan perencanaan pelaksanaan operasional serta pelaksanaan pengawasan dan pengendalian. Setiap barang yang ditimbang 100%, dokumen penerimaan yang dibuat adalah Bukti Timbang Penerimaan Barang, untuk setiap barang dan kemasan sebagai bukti penimbangan barang yang diterima serta rekapitulasi Penerimaan Barang (GD1M), yang merupakan rekapan dari Bukti Timbang Penerimaan Barang. Buku Penimbunan (GD2M). Dokumen ini dibuat setiap hari berdasarkan dokumen Rekapitulasi Pengeluaran Barang (GD1K) dan atau Dokumen Berita Acara Kekurangan atau Kelebihan dan bukti-bukti lain yang menyebabkan jumlah persediaan barang (Anonymousa, 2009).

Berdasarkan literatur BULOG tersebut dapat diketahui bahwa adminitrasi gudang yang dilkaukan pada gudang BULOG Bence telah sesuai dengan prosedur yang ditetapkan dengan baik. Namun terkadang seringkali terkendala dengan mitra kerja yang terkadang jarang mengirimkan barang akibat langkanya musim panen.

 

4.3.7 Serangga yang Ditemukan pada Perangkap yang Dipasang pada Stapel Beras di Gudang Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung.

Berdasarkan hasil pengamatan hama gudang pada Gudang Bence Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung menggunakan perangkap Pitfall Trap, Yellow Sticky Trap, Bait Trap dan Feromon, ditemukan beberapa jenis hama gudang pada komoditas beras yang disimpan.

Sitophilus oryzae L. (Coleoptera:Curculionidae)

Merupakan serangga kecil yang berwarna kecoklatan dengan panjang 3-4 mm dan menyerang pada butiran yang disimpan (gandum, jagung, beras, dll). Serangga ini mempunyaiciri yang khas yaitu mempunyai moncong (snout). Dalam fase larva ataupun dewasa memakan butiran. Larva serangga ini berkembang didalam butiran. S. oryzae mengalami metamorfosis sempurna dengan perkembangan telur hingga imago selama 35 hari didaerah tropis. Suhu yang sesuai untuk berkembangnya hama ini yaitu pada suhu 25-27oC dan kelembaban 70% (Rees, 2004).

Cryptolestes ferrugineus (Stephens) (Coleoptera: Cucujidae)

Merupakan salah satu hama sekunder pada beras.  C. ferrugineus  menyerang butir beras yang telah rusak, pecah atau diserang jamur (Munro, 1996). C. ferrugineus merupakan  serangga  yang  paling  mendominasi  pada  gudang  beras  Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung sebelum dilakukan fumigasi gudang. Serangga ini berbentuk pipih (gepeng) dengan panjang tubuh 1,5-2,5 mm dan berwarna  coklat  kemerahan.  Mengalami  metamorfosis  sempurna  dan  imago meletakkan telur diantara butiran beras (Rees, 2004).

Tribolium castaneum (Herbst) (Coleoptera: Tenebrionidae )

Serangga  ini  merupakan  serangga  yang  memakan  bahan  yang  sudah  rusak. Menyerang  tepung,  dan  gejala  kerusakan  yang  diakibatkan  yaitu  tepung  menjadi apek,  kotor  dan  menggumpal.  Serangga  T.  castaneum  mengalami  metamorphosis sempurna, dan kumbang betina dapat menghasilkan telur sabanyak 11 butir pada suhu 32,5oC (Suparjo, 2010).

Rhyzopertha dominica (Fabricious) (Coleoptera: Bostrichidae)

Sering  dikenal  sebagai  kumbang  bubuk  gabah.  Termasuk  hama  primer dan“internal  feeder”.  Ciri  khusus  imago  R.dominicaa  dalah  pronotum  seperti  helm yang menutupi kepalanya dan mulut menghadap ke bawah dengan rahang yang kuat. Imago berwarna cokelat tua / hitam, panjang ± 3 mm (Rees, 2004).

 

 

 

 

V.                KESIMPULAN dan SARAN

 

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan kegiatan magang kerja di GBB Bence, Perum Bulog Sub-Divre Tulungagung mulai dari tanggal 07 Juli sampai dengan 07 Oktober 2014 dapat disimpulkan:

  1. Manajemen pengelolaan beras di GBB Bence secara keseluruhan sudah baik dan memenuhi Standar Operasional Prosedur yang telah ditetapkan oleh Perum BULOG.
  2. Pengelolaan Hama yang ada di GBB Bence sudah baik dan telah memenuhi Standar Operasional Prosedur yang telah ditetapkan oleh Perum BULOG.
  3. Pada pemasangan perangkap telah ditemukan beberapa spesies serangga antara lain: Psocids, Sitophilus oryzae, Criptolestes ferrugineus, Rhyzopertha dominica, dan Tribolium castaneum.

5.2 Saran

Beberapa saran yang dapat dikemukakan antara lain, yaitu:

  1. Sebaiknya untuk kegiatan spraying, tidak dilakukan setiap 1 bulan sekali. Namun dilakukan setiap 2 atau 3 bulan sekali, supaya kelembaban pada suatu gudang tetap stabil. Karena apabila kelembaban pada suatu gudang meningkat dapat menyebabkan terjadinya ledakan populasi hama gudang.
  2. Untuk kegiatan fumigasi sebaiknya dilakukan jika serangan hama gudang sudah melebihi batas ambang ekonomi, supaya tidak terjadi pengebalan atau resistensi hama gudang terhadap bahan-bahan fumigasi.
  3. Dapat dilakukan pemasangan perangkap untuk lebih memudahkan monitoring populasi serangga hama di dalam gudang.
  4. Lebih memantapkan penerapan Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT) untuk mengatasi hama di dalam gudang beras.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amrullah. 2004. Pedoman Kearsipan Perum Bulog. Jakarta: Tim Perum Bulog 2011.

 

Anggara, A. dan Sudarmaji. 2009. Hama Pacsa Panen Padi dan Pengendaliannya. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. http://www.litbang.deptan.go.id. (online). Diunduh pada tanggal 10 Mei 2014.

 

Anonymous a, 2009. Peraturan Pergudangan di Lingkungan Perum Bulog . Divisi Persediaan dan Perawatan Direktorat Pelayanan Publik. 133 hal.

 

Anonymous b, 2010. Profil BULOG. http://www.bulog.co.id/sejarah_v2.php. Diakses pada tanggal 10 November 2014.

 

Anonymous c, 2010. Pedoman Umum dan Standar Operasional Prosedur Pengadaan Gabah / Beras Dalam Negeri Perum BULOG. P.136.

 

Damardjati, D. S., 1988. Struktur Kandungan Gizi Beras. Bogor: Balitbang Pertanian

 

Munro, J.W., 1966. Pests of Storage Product. Hutchinsou of London. 234 pp.

 

Pitaloka, A. L., L. Santoso, dan R. Rahardian., 2012. Gambaran Beberapa Faktor Fisik Penyimpanan Beras, Identifikasi Dan Upaya Pengendalian Serangga Hama Gudang (Studi di Gudang BULOG 103 Demak  Sub BULOG Wilayah 1 Semarang). Jurnal Kesehatan Masyarakat. http://ejournals1.undip.ac.id. (online). Diunduh pada tanggal 10 Mei 2014.

 

Priyambodo, B., 2007. Manajemen Industri. Edisi Pertama. Cetakan Pertama. Yogyakarta: Global Pustaka Utama. Halaman 350 hal.

 

Rees, D. 2004. Insect of Stored Products. CSIRO Publishing. New York. p. 192.

 

Reza, H., 2004. Penerapan Standar Pada Pengolahan dan Mutu Beras. Prosiding. Lokakarya Nasional. Institut Pertanian Bogor. Hal. 12-13.

 

Saripudin, E. 2010. Tata Cara Penyimpanan, Pengemasan Maupun Pelabelan Gabah Atau Beras Secara Baik dan Benar. http://penatanian.blogspot.com /2010/09/tata-cara-penyimpanan-pengemasan-maupun.html. Diunduh pada tanggal 10 Mei 2014.

 

Siddik, M. dan Halid, H., 1983. Sistem Penyimpanan dan Perawatan Kualitas Bahan Pangan di Bidang Urusan Logistik. Risalah Seminar Nasional Pengawetan Makanan Dengan Iradiasi 6-8 Juni 1983. Pusat Penelitian dan Pengembangan Urusan Logistik BULOG, Jakarta

 

Suharno, 2005. Perlindungan Tanaman. Diktat STPP. UNS Press. Surakarta. 114 hal.

 

Suparjo.  2010.  Hama  Penting  Pasca  Panen. (Online).(http://suparjo_zainalzyiq.

wordpress.com/). Diakses tanggal 10 November 2014.

 

Syarif, R., 2012. Teknologi Penyimpanan Pangan. Arcan, Jakarta.

 

Waries, A., 2006. Teknologi Penggilingan Padi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Winarno, F.G., 2006. Hama Gudang dan Teknik Pemberantasannya. Edisi Revisi. M-BRIO PRESS, Bogor. 201 hal.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

Lampiran 1.

Tabel 4. Kegiatan Magang Kerja di GBB Bence, Perum BULOG  Sub-Divisi Regional Tulungagung

No.

Hari/Tanggal

Waktu

Kegiatan

1

Senin/7 Juli 2014 08.00 – 16.00 Briefing, pengenalan staf dan petugas lainnya, pengenalan area gudang, penegnalan alat-alat gudang serta kegiatan administrasi.

2

Selasa/8 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pembelajaran adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan

3

Rabu/9 Juli 2014

LIBUR PEMILU PRESIDEN 2014

4

Kamis/10 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan.

5

Jum’at/11 Juli 2014

Izin Mengikuti monitoring dan evaluasi PKM di FH UB dan sudah mengganti di hari lain (Sabtu/ 12 Juli 2014).

6

Senin/14 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin

7

Selasa/15 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, pemasangan perangkap hama pada gudang.

8

Rabu/16 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

9

Kamis/17 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap..

10

Jum’at/18 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

11

Senin/21 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

12

Selasa/22  Juli 2014 08.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

13

Rabu/23  Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

14

Kamis/24 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

15

Jum’at/25 Juli 2014 08.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Operasi Pasar Khusus selama bulan Ramadhan. Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap, Pelepasan perangkap hama, pemasangan sungkup pada stapel untuk dilakukan fumigasi.

16

28 Juli – 1 Agst 2014

Libur hari Raya Idul Fitri 1435 H.

17

Senin/4 Agst 2014 07.00 – 16.00 Kegiatan Halal bihalal staff di kantor pusat BULOG Jl. Ki-Mangunsarkoro No. 12 Tulungagung.

18

Selasa/5 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelepasan Sungkup pada stapel, pengamatan hama pada stapel setelah fumigasi. Pemasangan perangkap hama di gudang setelah difumigasi.

19

Rabu/6 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

20

Kamis/7 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

21

Jum’at/8 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

22

Senin/11 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

23

Selasa/12 Agst 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

24

Rabu/13 Agst 2014

07.00 – 16.00

Mengikuti Kegiatan pengambilan dana raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

25

Kamis/14 Agst 2014

07.00 – 16.00

Mengikuti Kegiatan pengambilan dana raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

26

Jum’at/15 Agst 2014  07.00 – 16.00 Mengikuti Kegiatan pengambilan dana raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

 

 

 

 

 

 

27

Senin 18 Agst 2014 07.00 – 16.00 Mengikuti Kegiatan pengambilan dana raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

28

Selasa – Kamis/19-21 Agst 2014

Izin Tidak Masuk Kerja dikarenakan mengikuti kegiatan karantina PKM di FTP UB.

29

Jum’at/22Agst 2014

07.00 – 16.00-

Mengikuti Kegiatan pengambilan dana raskin, Pengamatan hama pada perangkap

30

Senin – Jum’at/25-29 Agst 2014

Izin Tidak Masuk Kerja dikarenakan mengkuti Kegiatan PKM ke 27 di Universitas Diponegoro Semarang.

31

Senin/1 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

32

Selasa/2 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

33

Rabu/3 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

34

Kamis/4 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Pengamatan hama pada perangkap.

35

Jum’at/5 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pengamatan hama pada perangkap.

36

Senin/8 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

37

Selasa/9 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

38

Rabu/10 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap, supervisi, diskusi dengan pembimbing lapang.

 

39

Kamis/11 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

40

Jum’at/12 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

41

Senin/15 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

42

Selasa/16 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

43

Rabu/17 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

44

Kamis/18 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

45

Jum’at/19 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

46

Senin/22 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

47

Selasa/23 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

48

Rabu/24 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

49

Kamis/25 Sept 2014 07.00 – 17.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

 

50

Jum’at/26 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

51

Sabtu/27 Sept 2014 07.00 – 13.00 Kegiatan Kerja Bakti Bersama melakukan sanitasi di tiap-tiap gudang.

52

Senin/29 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

53

Selasa/30 Sept 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

54

Rabu/1 Okt 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Mengikuti Kegiatan Raskin, Pengamatan hama pada perangkap.

55

Kamis/2 Okt 2014 07.00 – 17.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Pengamatan hama pada perangkap.

56

Jum’at/3 Okt 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Pengamatan hama pada perangkap.

57

Senin/6 Okt 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Pengamatan hama pada perangkap.

58

Senin/7 Okt 2014 07.00 – 16.00 Pelayanan Kegiatan adminitrasi gudang, Pengamatan hama pada perangkap, pelepasan perangkap pada hama, acara perpisahan bersama kepala gudang dan staf.
Total jam kerja 472

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 2. Gambar Dokumentasi Kegiatan Selama Magang Kerja di Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung.

 

 

(a)                                                                            (b)

 

(c)                                                                    (d)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(a)                                                                      (b)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(c)                                                                      (d)

 

Gambar  2. Beberapa Form atau Surat yang Digunakan oleh Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. (a)Form uji kualitas beras di Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung pada saat pengadaan beras. (b) surat pengiriman barang raskin, (c) surat BAST (Berita Acara Serah Terima) perjanjian kontrak raskin, (d) surat jalan untuk mengantarkan barang raskin ke daerah yang dituju.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(a)                                                                  (b)

 

(a)                                                             (b)

 

 

 

 

 

(c)                                                                  (d)

(c)                                                                        (d)

 

 

 

 

 

(e)                                                                (f)

 

Gambar  3. Pelaksanaan Fumigasi dan Spraying. (a) Pelaksanaan penyungkupan beras di gudang sebelum dilaksanakan fumigasi, (b) peletakan tablet fumigan didalam sungkup, (c) bahan aktif alumunium fosfida 56% untuk fumigasi, (d) persiapan alat dan pelaksanaan spraying didaam gudang, (e) nama dagang bahan aktif yang digunakan untuk fumigasi, (f) bahan aktif insektisida untuk spraying.

 

(e)                                                                  (f)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(a)                                                                     (b)

 

 

 

 

 

 

 

 

(c)                                                               (d)

Gambar 4. Perbaikan Kualitas Beras di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung.(a) Beras yang rusak kualitasnya dibersihkan dan dipoles dengan mesin serta dimasukkan kedalam karung, (b) Proses penjahitan kembali setelah beras dipoles, (c) beras ditimbang sesuai dengan berat bersih pada kemasan yaitu 15 Kg, (d) proses pemeriksaan beras setelah diproses dengan mesin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(a)                                                                        (b)

 

 

 

 

 

 

 

 

(c)                                                              (d)

Gambar  5. Kegiatan Pemeriksaan Awal Beras Masuk di Gudang Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung. (a) Petugas PPK memeriksa keadaan awal beras didalam kendaraan sebelum dimasukkan kedalam gudang, 4 hal yang diperiksa (bau, hama dan penyakit, bahan kimia dan keutuhan beras), (b) Petugas PPK memeriksa keadaan butir beras yang diamati sesuai kualitas beras (butir patah, butir menir dan derajat sosoh), (c) para kuli angkut menata beras setela diperiksa dan dinilai kelayakannya untuk disimpan digudang, (d) banner yang berisikan tentang aturan pemeriksaan kualitas beras.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(a)                                                        (b)

 

 

 

 

 

 

 

(c)                                                  (d)

 

 

 

 

 

 

Gambar  7. Beberapa Alat-alat yang Digunakan pada Pemeriksaan Beras Awal Sebelum Masuk Gudang dan Alat-alat Perbaikan Kualitas Beras.   pada Gudang. (a) Mesin Jahit Karung, (b) Timbangan Digital, (c) Grain Mouisture Tester, (d) Mesin Penghilang Debu, (e) Timbangan Barang.

 

 

(e)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

(b)                                                      (b)

 

(c)                                         (d)

(a)                                                                       (b)                                                               (c)                                                                                 (d)

 

 

 

 

 

 

(e)

 

 

 

Lampiran 3.  Denah Gudang BULOG Besar Bence Sub Divisi Regional Tulungagung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

(1)   Pos Satpam / Keamanan                     (9) Gudang Unit 6

(2)   Bulog Mart                                          (10) Gudang Unit 7

(3)   Tempat Parkir Karyawan                    (11) Gudang Unit 8

(4)   Gudang Unit 1                                                (12) Rumdis Kepala Gudang

(5)   Gudang Unit 2                                                (13) Kantor

(6)   Gudang Unit 3                                                (14) Mushola

(7)   Gudang Unit 4                                                (15) Gudang Barang

(8)

Gambar  10. Denah Gudang BULOG Baru Bence Perum BULOG Sub Divisi Regional Tulungagung.

Gudang Unit 5                                                (16) Rumah Kuli

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on MANAJEMEN STOK BERAS DI GUDANG PERUSAHAAN UMUM BULOG SUB DIVISI REGIONAL TULUNGAGUNG

TUGAS PRAKTIKUM PENGANTAR USAHA PERTANIAN “Sejarah Lahan, Transek dan Profil Petani ” Oleh: Kelompok 8 Febri Dwi Mulyanto 115040207111001 Farah Nabila 115040207111036 Hadi Suwitnyo 115040213111020 Hadi Susilo 115040213111030 Fitri Wahyuni 115040213111050 PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

PROFIL PETANI

Nama                           :  Sulis Setyawati

Umur                           : 27 tahun

Pekerjaan                     : Ibu Rumah Tangga

Luas Lahan                 : 3000m2

Penghasilan                 : 12 juta/3000m2

Komoditas                  : Jagung

Biaya Pegolahan         : 3 juta/3000m2

SEJARAH LAHAN

Lahan seluas 3000mini dibeli sejak 30 tahun yang lalu, dan sejak lahan tersebut belum menjadi milik ibu Sulis lahan tersebut ditanami komoditas jagung. Dan saat lahan tersebut menjadi milik ibu sulis, lahan tersebut ditanami komoditas yang sama yaitu jagung. Hingga saat ini lahan tersebut tetap ditanami jagung. Dan hasil produksi yang diperoleh dari jagung tidak menentu  tergantung musim.

TRANSEK

Pada lahan seluas 3000m2 hanya ditanami jagng secara monokultur selama 30 tahun hingga sekarang, dan tidak pernah dilakukan rotasi tanaman ataupun polikultur.

 

Transek lahan

Sejarah Pertanian Jagung

Jagung (Zea mays L.) yang masih satu keluarga dengan gandum dan padi merupakan tanaman asli benua Amerika.Selama ribuan tahun,tanaman ini menjadi makanan pokok suku indian si Amerika.Christopher Colombus merupakan orang yang berjasa menyebarkan jagung keseluruh dunia.Setelah menemukan benu Amerika secara tidak sengaja pada tahun 1492,saat kembali kenegara asalnya,Spanyol,Colombus membawa tanaman jagung dan beberapa tanaman asli lainnya dari benua tersebut,seperti cabai dan tomat. Sejak itulah tanaman jagung menyebar keseluruh penjuru dunia dan di budidayakan oleh para petani dibanyak negara.

Di Indonesia,jagung pertama kali datang pada abad 17,dibawa oleh bangsa portugis.Sejak kedatangannya,tanaman ini menjadi tanaman pangan utama kedua setelah padi yang ditanam hampir oleh petani nusantara.Bagi petani yang mengalami kegagalan panen padi karena hama,menanam jagung menjadi alternatif untuk mendapatkan keuntungan atau minimal menutup kerugian.

Lama kelamaan,jagung menjadi terkenal dan semakin di gemari orang,bahkan pulau madura jagung menjadi makanan pokok masyarakat setempat.Nilai ekonomis jagung pun meningkat tajam sehingga menanam jagung tidak lagi hanya menjadi alternatif pengganti padi,tetapi sudah menjadi pilihan utama bagi banyak petani Indonesia.Di beberapa daerah,bertanam jagung bahkan lebih menguntungkan daripada menanam padi.Daerah sentra penghasil jagung di Indonesia antara lain Jawa timur,Jawa tengah,Jawa Barat,Madura,Nusa Tenggara Timur,Lampung,dan sulawesi.

Tanaman jagung relatif lebih mudah dibudidayakan,gampang perawatannya,serta sangat cocok dengan kondisi iklim dan cuaca di Indonesia.Awalnya,benih yang digunakan para petani open polineted (OP)yang merupakan benih hasil persilangan terbuka dua galur murni atau lebih yang terjadi dengan bantuan angin atau serangga.Benih OP biasanya diambil dari biji jagung hasil panen musim tanam sebelumnya.Sifat dari induk benih OP ini masih ada sampai dengan keturunan kelima.

Seiring bergulirnya waktu,perkembangan budidaya jagung di Indonesia mengalami kemajuan pesat.Salah satu nya adalah penggunaan benih jagung hibrida,disamping benih OP yang telah lama digunakan.Namun,berbeda dengan benih OP,benih jagung hibrida berasal dari persilangan yang dilakukan oleh manusia sehingga memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan benih OP.

Keunggulan benih jagung hibrida antara lain tahan terhadap jenis penyakit tertentu,masa panennya lebih cepat,dan kualitas dan kuantitas produksinya lebih baik.Bahkan,ada jagung hibrida yang bisa mengeluarkan tongkol jagung kembar sehingga hasil panen berlipat ganda.Sayangnya,benih jagung hibrida hanya bisa ditanam satu musim tanam karena turunannya tidak lagi memiliki sifat unggul dari sang induk.

Sejak munculnya benih jagung hibrida,makin banyak varietas-varietas jagung yang diciptakan dengan berbagai macam keunggulan.Keadaan tersebut memudahkan para petani untuk memilih varietas jagung yang akan ditanam.Penanaman tersebut disesuaikan dengan kondisi lingkungan lahan tanam yang ada.

Saat ini,selain untuk konsumsi manusia,jagung juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak unggas seperti ayam,bebek,dan ternak ruminansia seperti sapi,domba serta babi.Bahkan dinegara-negara maju,sari pati jagung diolah menjadi gula rendah kalori dan ampasnya diolah menjadi alkohol dan monosodium glutamat.

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on TUGAS PRAKTIKUM PENGANTAR USAHA PERTANIAN “Sejarah Lahan, Transek dan Profil Petani ” Oleh: Kelompok 8 Febri Dwi Mulyanto 115040207111001 Farah Nabila 115040207111036 Hadi Suwitnyo 115040213111020 Hadi Susilo 115040213111030 Fitri Wahyuni 115040213111050 PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

TUGAS TERSTRUKTUR KEWIRAUSAHAAN “ Sebagai Pengganti Ujian Tengah Semester Ganjil’’ Disusun Oleh : KELAS G / S NAMA KELOMPOK : 1. ANISSA AFISUNANI 115040201111011 2. FAKHRIZAL KRESHNA Y. 115040201111261 3. GETHAR WINDI APRILIA 115040200111053 4. GHASSANI ANGGIAH 115040200111082 5. HADI SUSILO 115040213111030 Dosen : Bpk. Fery Abdul Choliq, SP. MSc. PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

KATA PENGANTAR

Puji Syukur Kehadirat Alloh SWT, Yang telah memberikan anugerah kepada  kami, sehingga kami dapat menyusun tugas makalah Kewirausahaan sebagai tugas Pengganti Ujian Tengah Semester Ganjil. Tidak lupa Kami  juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Fery Abdul Cholic selaku pengajar mata kuliah Kewirausahaan, yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk penyusunan makalah ini. Didalam makalah ini kami mewancarai seorang pengusaha yang telah sukses dibidang pertanian dalam menjalankan usahanya. Makalah ini disusun supaya pembaca dapat lebih memahami tentang kewirausahaan. Tentang bagaimana memulai sebuah usaha, karakter atau sifat yang harus dimiliki seorang wirausaha dan juga seorang wirausaha yang dapat dijadikan panutan. Penulias menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan baik isinya maupun struktur penulisannya. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan guna perbaikan di kemudian hari. Demikian semoga makalah ini dapat memberikan manfaat umumnya bagi pembaca  dan khususnya bagi penulis sendiri.

Hormat Kami

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Wirausaha merupakan suatu proses atau cara untuk melakukan suatu usaha yang bertujuan untuk mendapatkan hasil atau keuntungan yang diharapkan dengan cara memproduksi, menjual atau menyewakan suatu produkk barang atau jasa.
Dalam menjalankan suatu usaha (wirausaha) seorang pelaku usaha harus memiliki :
1. Skill (kemampuan)

Seorang pelaku usaha harus memiliki skil (kemampuan) untuk berwirausaha karna tanpa skil (kemampuan) seorang pelaku usaha tidak akan mungkin bisa berwirausaha. Jadi skill (kemampuan) adalah modal utama yang harus dimiliki dalam berwirausaha.
2. Tekad (kemauan)

Apabilaseorang pelaku usaha telah mempunyai skill (kemampuan) tapi tanpa ada tekad (kemauan yang kuat) untuk berwirausaha maka skill (kemampuan) berwirausaha itu akan sia-sia karena tidak dapat tersalurkan. Jadi pada dasarnya skill dan tekad itu harus dimiliki oleh seorang pelaku wirausaha

3. Modal

Modal merupakan aspek yang sangat menunjag dalam hal memulai dan menjalankan suatu usaha disamping mempunyai skill dan tekad.

4. Target dan Tujuan

Seorang pelaku usaha apabila ingin menjalankan suatu usaha maka harus bisa menentukan targer dan tujuan pemasarannya. Karena apabila target dan tujuan tidak direncanakan maka usaha yang dijalankan tidak mungkin dapat bertahan lama.

5. Tempat

Tempat berwirausaha merupakan aspek yang harus dimiliki bila ingin menjalankan wirausaha. Karena tempat juga sangat menunjang dalam hal wirausaha dan bisa menjadikan suatu bahan pertimbangan oleh konsumen mengenai wirausaha yang sedang dijalankan.

Metode Pembahasan

Dalam hal ini penulis menggunakan:

  1. Metode Naratif

Sebagaimana ditunjukan oleh judulnya, pembahasan ini bertujuan untuk memberikan suatu cerita dari narasumber tentang suatu usaha yang sedang dijalankan samapi mencapai kesuksesan.

 

  1.  Survai

Proses yang dilakukan melalui wawancara, mengumpulkan data-data dan keterangan dari seorang narasumber yang ada hubungannya dengan usaha yang sedang dijalankan.

Tujuan

Sebagai contoh yang bisa ditiru apabila ingin menjalankan suatu usaha.

Untuk memenuhi tugas kedua mata kuliah Kewirausahaan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

PROFIL PENGUSAHA

Nama                          : Bpk. Nur Aziz

Tempat / Tgl lahir     : Malang, 14 Desember 1978

Pendidikan                 : MAN Batu (SLTA)

Pekerjaan                   : Pengusaha Bunga Potong

Pada masa dewasa ini, tanaman tidak hanya dijual buahnya saja, namun keindahan dari bunganya pun dapat dijual. Karena kemajuan zaman, masyarakat tidak hanya memandang sebuah tanaman dari sisi agronomisnya saja namun juga dari segi estetika. Maka dari itu, sudah banyak dijumpai pengusaha-pengusaha bunga potong yang dapat dibilang sukses dalam bidangnya.

Salah satu pengusaha sukses bunga potong yaitu Bapak Nur Aziz, beliau merintis usahanya sudah sekitar tahun 2005 dan sekarang penghasilan yang didapat cukup lumayan. Pak Aziz sekitar berumur 35 tahun dan membuka toko bunga potong di daerah Bumiaji, Batu. Beliau lebih spesifik pada bunga potong untuk bunga mawar dan bunga peacock.

Meskipun beliau hanya lulusan dari Sekolah Menengah Pertama (SMA), beliau memiliki pemikiran-pemikiran yang kreatif untuk mengembangkan usahanya tersebut. Salah satunya yaitu membuat blog di internet untuk pemesanan bunga potong. Karena adanya layanan pesan antar tersebut, Pak Aziz dapat menjual bunga potongnya ke berbagai daerah yaitu Surabaya, Semarang, Jakarta, Solo, Bali, Sulawesi dan Kalimantan. Pengiriman terjauh yang pernah Pak Aziz terima yaitu sampai ke negara Vietnam.

Bibit-bibit dari bunga potong Pak Aziz memang didatangkan impor dari Belanda, namun untuk pembudidayaannya Pak Aziz lakukan sendiri dengan bekerja sama dengan petani-petani bunga di sekitar rumahnya.

Keuntungan yang didapat untuk penjualan semua bunga potong sekitar 150 juta perbulan dan untuk bunga mawar sendiri sekitar 40 juta sampai 45 juta perbulan. Pak Aziz juga menjual lagi bibit-bibit bunga potongnya dengan harga 2500 rupiah satu bibit. Untuk bunga peacock, Pak Aziz menjualnya dengan harga 10 ribu rupiah satu ikat.

Melihat keuntungan tersebut, pasti akan banyak pesaing nantinya.maka dari itu Pak Aziz memiliki beberapa metode-metode atau kiat-kiat untuk menjadi wirausahawan yang sukses. Berikut penjelasan selanjutnya.

Berikut Sifat-Sifat Yang Telah Diterapkan Oleh  Seorang Wirausahawan Bapak Nur Aziz :

  1. 1.      Mau Kerja Keras dan Cerdas

Sikap kerja keras sert berpikiran cerdas harus dimiliki oleh seorang wirausahawan. Unsur disiplin memainkan peranan penting. Sebab bagaimana orang mau kerja keras jika sifat disiplin tidak ada.

  1. 2.      Bekerjasama Dengan Orang Lain

Seorang Wirausahawan mudah bergaul, disenangi oleh masyarakat. Dia tidak suka fitnah, sok hebat, arogan, tidak suka menyikut dan menggunting dalam lipatan.

  1. 3.      Penampilan Yang Baik

Bukan berarti penampilan muka yang elok tetapi lebih disarankan dan ditekankan pada penampilan perilaku yang jujur dan bersahaja.

  1. 4.      Yakin

Keyakinan ini diimplementasikan dalam tindakan sehari-hari, melangkah pasti, tekun, sabar, tidak ragu-ragu. Stiap hari otaknya berputar membuat rencana dan perhitungan alternatif.

  1. 5.      Pandai Membuat Keputusan

Jika anda dihadapkanpada alternatif, harus memilih, maka buatlah pertimbangan yang matang. Kumpulkan berbagai informasi, boleh minta pendapat orang lain, setelah itu ambil keputusan yang terbaik.

  1. 6.      Mau Menambah Ilmu Pengetahuan

Pendidikan baik formal maupun non formal akan sangat membantu seseorang menemukan dan mengembangkan jiwa serta operasional wirausaha. Akan tetapi, hal yang paling penting disini adalah adanya tambahan ilmu pengetahuan atau teori.

  1. 7.      Ambisi Untuk Maju

Seorang wirausahawan dituntut untuk  pantang menyerah. Dan harus punya semangat tinggi, mau berjuang untuk maju. Orang yang gigih dalam menghadapi pekerjaan dan tantangan biasanya banyak yang berhasil dalam menghadapi kehidupan.

 

 

  1. 8.      Pandai Berkomunikasi

Berarti pandai mengorganisasi buah pemikiran kedalam bentuk ucapn-ucapan yang jelas, menggunakan tutur kata yang santun dan enak didengar, mampu menarik perhatian orang lain. Komunikasi yang baik, diikuti dengan perilaku yang santun dan jujur, konsisten dalam pembicaraan akan sangat membantu seseorang mengembangkan karir dimasa yang akan datang.

Beberapa saran-saran kepada calon pengusaha yang dinasehatkan oleh Bapak Nur Aziz adalah sebagai berikut :

Kiat – Kiat Menjadi  Pengusaha Sukses

Sebelum belajar bagaimana menjadi pengusaha sukses, maka perlu juga diketahui bahwa cara cepat menjadi pengusaha sukses belum tentu bisa diterapkan, tetapi paling tidak sukses secara perlahan-lahan, dapat ditempuh ketika seseorang memiliki kemauan yang kuat. Berikut adalah berbagai menjadi pengusaha sukses yang tentunya dapat dijadikan sebagai inspirasi untuk menuju kesuksesan:

  1. 1.    Awali Dengan Impian dan Imajinasi

Sebelum manusia bisa mendarat di bulan, tak pernah ada yang berfikir bahwa hal itu adalah sebuah kenyataan. Ide mendarat di bulan pada awalnya adalah sebuah mimpi indah yang tak akan pernah terwujud. Namun impian dan imajinasi itu akhirnya berubah menjadi kenyataan ketika seseorang telah membuktikannya dengan pendaratan manusia pertama kali ke bulan. Yang perlu diingat adalah segala sesuatu keberhasilan itu bermula dari impian dan keyakinan dengan didorong oleh kerja keras untuk mewujudkannya. Jika anda mempunyai impian untuk menjadi seorang pengusaha yang sukses dan punya niat untuk mewujudkannya, maka segeralah bangun dari mimpi anda. Bekerja keraslah untuk segera merubah mimpi anda itu menjadi kenyataan. Hanya seorang pemimpi yang mampu menciptakan dan membuat sebuah terobosan dalam produk, jasa ataupun ide yang bisa sukses. Mereka tidak mengenal kata tidak bisa atau tidak mampu.

  1. 2.    Kenali Impian Anda

Semua kemudahan dari fasilitas yang kita gunakan saat ini dulunya hanyalah sebuah impian dari orang-orang yang telah menemukan dan menciptakannya. Orang-orang ini mengenali mimpi mereka dan percaya bahwa mimpi-mimpi ini bisa diwujudkan.

“Orang dengan ide baru adalah orang aneh sampai ide tersebut berhasil”. Demikian sebuah ungkapan. Dan orang-orang yang sekarang wujud impiannya sedang kita gunakan, telah rela dianggap aneh dan bahkan dianggap gila.

Karena barangkali bagi mereka, hidup mengejar impian dan menjadi orang seperti yang mereka sendiri inginkan, jauh lebih mulia dan bahagia daripada menjadi orang dan menjalani kehidupan seperti yang orang lain harapkan dan tentukan.

  1. 3.    Mempunyai Pengetahuan Dasar-dasar Bisnis

Tanpa adanya pengetahuan dasar-dasar bisnis hanya akan membuat usaha anda seperti sebuah kelinci percobaan. Kemungkinan besar hanya akan banyak mengalami kegagalan. Tidak akan ada sukses tanpa sebuah pengetahuan. Yang terbaik adalah belajar sambil bekerja. Bekerja dengan orang lain dulu sebelum anda menjadi pebisnis sangat membantu anda menyerap ilmu dan pengalaman dan siap sukses.

  1. 4.    Tidak Suka Menunda

Seperti kata pepatah: “Time is money! Oleh karena janganlah suka menunda-nunda suatu pekerjaan. Lakukanlah saat ini, sekarang juga selagi ada kesempatan. Menunda suatu pekerjaan berarti adalah suatu kerugian yang akan membuat anda menyesal.

  1. 5.     Ambil Langkah Pertama

Banyak impian hanyalah tinggal impian jika tidak ada tindakan yang diambil untuk membuat impian tersebut terwujud.

Langkah pertama yang paling tepat untuk memulai adalah dengan mengumpulkan informasi yang cukup untuk membuka jalan ke arah impian kita. Namun di era informasi saat ini, sangat mudah untuk terjebak dalam informasi yang salah. Bahkan tidak jarang tersesat dalam belantara informasi.

Terlebih sebagai manuasia kita mudah sekali tergoda pada hal-hal yang kelihatannya serba mudah dan instan. Karena itu motto kami adalah “Internet Bagaikan Hutan Belantara Yang Tanpa Batas Jadi Pastikan Anda Menginvestasikan Waktu Dan Energi Anda Hanya Pada Yang Memberikan Nilai Kembalian Yang Paling Tinggi Untuk Anda”.

  1. 6.    Bersedia Belajar

Saat ini banyak sekali orang yang menjadi penganggur berpindidikan. Kenapa? Karena pendidikan saja tidak cukup. Selain berpendidikan kita juga harus memiliki ketrampilan. Telah sangat banyak contoh di dunia ini dimana orang justru menjadi sukses bukan karena pendidikannya tapi karena ketrampilannya.

Karena itu jangan sungkan untuk belajar ketrampilan-ketrampilan baru yang akan semakin mendekatkan anda dengan impian anda. Mungkin tidak akan ada tepuk tangan, pakaian toga atau sertifikat ketika anda telah menguasai ketrampilan bisnis anda. Tapi semua orang tahu, dalam bisnis indikator sukses bukan nilai akademis, tapi nilai saldo.

Namun demikian, jangan jadikan uang sebagai tujuan utama. Karena ketika kita semakin layak untuk menjadi sukses, uang akan mengikuti dengan sendirinya.

  1. 7.    Ciptakan Sebuah Sistem

Agar mudah mengevaluasi perkembangan bisnis anda. Ciptakan sebuah sistem. Standard Operating Procedure (SOP). Prosedur mengoperasikan televisi paling sederhana misalnya; sambungkan TV ke sumber listrik, tekan tombol power. Jika televisi tidak menyala berarti kemungkinan masalah hanya dua, kalau bukan pada sumber listriknya yang kosong berarti power TV tersebut yang rusak.

Hampir semua intansi dan korporasi besar memiliki SOP untuk mengatur bisnis mereka. SOPlah yang membuat KFC, McDonald, Pizza Hut, Coca-Cola, Pepsi cita rasanya tetap sama di belahan dunia manapun dia dijual.

Di eCerdas, WFD System adalah SOP yang dibuat agar jerih payah yang telah dilakukan untuk megembangkan jaringan tidak perlu lagi dilakukan berulang-ulang.

  1. 8.    Kembangkan Jaringan

Bisnis tanpa jaringan hanya menjadi bisnis lokal. Dan tidak ada bisnis yang sukses besar tanpa membangun jaringan. Ada orang yang sukses karena jaringan bisnis restorannya, jaringan bisnis real estatenya, jaringan bisnis baksonya dan lain-lain.

Ketika bisnis online hadir, membangun jaringan menjadi lebih mudah. Tidak perlu tanah, gedung dan karyawan. Mengawasinyapun menjadi lebih mudah, tidak perlu pergi-pergi ke luar kota, tidak perlu menstok barang, dijalankan tanpa terikat waktu dan tempat.

Saat ini, siapa yang paling luas dan berkualitas jaringan yang dimilikinya, maka akan semakin sukses dia. Membangun jaringan yang tidak sekedar luas tapi juga berkualiatas adalah salah satu ketrampilan yang paling dibanggakan dan diandalkan oleh entreprenuer manapun.

  1. 9.    Pengorbanan

Investasi adalah bahasa lain dari pengorbanan. Dimana saat berinvestasi kita rela berkorban untuk tidak membelajakan uang yang kita miliki saat ini demi harapan akan perkembangan hasilnya di masa depan. Demikian juga dalam investasi waktu dan energi.

Tapi sayangnya, sangat jarang orang yang rela berkorban, orang yang bersedia menunda kesenangannya saat ini demi kesenangan yang jauh lebih besar di hari esok hanya karena terbayang-bayang akan resikonya.

Padahal jika pengorbanan itu memang dibutuhkan dalam meraih impiannya, maka kita akan menjalankannya dengan suka cita. Halangan apapun adalah tantangan untuk menjadi lebih kuat, lebih cerdas, lebih berpengalaman dan tentunya untuk menjadi lebih sukses.

  1. 10.    Mau Belajar Dari Pengalaman Orang Lain

Pepatah mengatakan: “Pengalaman adalah guru yang terbaik. Seorang calon pengusaha yang sukses mau mengambil pengalaman dari orang lain dan dari dirinya sendiri. Apapun pengalaman seseorang itu baik kesuksesan atau kegagalan harus dijadikan suatu pelajaran yang berharga sebagai panduan dia dalam memulai usaha atau mengembangkan usahanya.

  1. 11.    Bersedia Menerima kritikan dan Nasehat Dari Orang Lain

Sebagian orang menganggap bahwa kritikan yang ditujukan kepadanya itu adalah sebagai sebuah penghambat bagi kelangsungan usahanya. Akan tetapi bagi orang yang berfikir normal akan menjadikan kritikan atau bahkan nasehat dari orang lain itu sebagai gurunya yang membimbing dia ke arah sukses. Menerima kritikan berarti menyadari bahwa kita mempunyai kekurangan. Dengan mengetahui kekurangan yang ada pada kita maka kita bisa memperbaiki kekurangan itu. Berterimakasihlah kepada orang yang mau menegur dan mengkritik kita.

  1. 12.    Konsisten

Ada saat dalam menjalankan bisnis seakan-akan mendadak menjadi buntu. Cahaya gairah yang tadinya terang-benderang tiba-tiba meredup. Baik karena suatu alasan atau bahkan tidak diketahui alasannya kenapa.

Banyak calon-calon bintang berguguran pada fase ini, ketika komitmen mereka diuji, ketika daya tahan fisik dan mentalnya diuji, mereka kalah. Sehingga mereka tidak layak melihat impian mereka menjadi nyata. Yang paling menyedihkan kebanyakan mundur justru ketika impian telah tinggal sejangkauan lagi. “Saat paling gelap di malam hari adalah saat menjelang fajar”, demikian sebuah ungkapan bijak.

Jika langkah anda mulai tersandung, ingatlah kembali impian anda. Bayangkan bagaimana kesengsaraan yang akan anda alami jika impian anda tidak tercapai.

 

  1. 13.    Impian Menjadi Nyata

Kini semua perjuangan yang dilakukan untuk meraih impian telah tercapai. Jika ada tetes air mata dan luka di masa lalu, kini menjadi kenangan dan kisah yang manis dan menjadi motivator bagi generasi bintang berikutnya.

Betapa bahagianya menjadi orang seperti yang kita inginkan. Betapa bahagianya dapat menjalani kehidupan sesusai dengan pilihan sendiri. Betapa bahagianya mengetahui bahwa kebahagiaan ini buah dari perjuangan sendiri. Dan yang paling membahagiakan adalah sekarang kita dapat membagi kebahagiaan ini kepada keluarga, orang-orang yang kita cintai, sahabat dan lingkungan kita…

Dan sekarang kita juga sadar bahwa ketika kita bermimpi meraih bintang, dan kita benar-benar telah berjuang untuk mewujudkannya, walau mungkin nanti bintang itu tidak teraih, tapi kita tidak akan sekedar mendapatkan lumpur.

 

 

 
 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

Kesimpulan

Pada masa dewasa ini, tanaman tidak hanya dijual buahnya saja, namun keindahan dari bunganya pun dapat dijual. Karena kemajuan zaman, masyarakat tidak hanya memandang sebuah tanaman dari sisi agronomisnya saja namun juga dari segi estetika. Salah satu pengusaha sukses bunga potong yaitu Bapak Nur Aziz, beliau merintis usahanya sudah sekitar tahun 2005 dan sekarang penghasilan yang didapat cukup lumayan. Pak Aziz sekitar berumur 35 tahun dan membuka toko bunga potong di daerah Bumiaji, Batu. Beliau lebih spesifik pada bunga potong untuk bunga mawar dan bunga peacock. Keuntungan yang didapat untuk penjualan semua bunga potong sekitar 150 juta perbulan dan untuk bunga mawar sendiri sekitar 40 juta sampai 45 juta perbulan. Pak Aziz juga menjual lagi bibit-bibit bunga potongnya dengan harga 2500 rupiah satu bibit. Untuk bunga peacock, Pak Aziz menjualnya dengan harga 10 ribu rupiah satu ikat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DOKUMENTASI

 

 

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on TUGAS TERSTRUKTUR KEWIRAUSAHAAN “ Sebagai Pengganti Ujian Tengah Semester Ganjil’’ Disusun Oleh : KELAS G / S NAMA KELOMPOK : 1. ANISSA AFISUNANI 115040201111011 2. FAKHRIZAL KRESHNA Y. 115040201111261 3. GETHAR WINDI APRILIA 115040200111053 4. GHASSANI ANGGIAH 115040200111082 5. HADI SUSILO 115040213111030 Dosen : Bpk. Fery Abdul Choliq, SP. MSc. PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013

BUSINESS PLAN SIAM UB (Siomay Bayam Unik dan Bergizi) UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI MALANG 2013

Nama Kelompok:

RIZKY MAULIDINA 115040200111024
GETHAR WINDI APRILIA 115040200111053
FERRY SINGGIH P. 115040200111056
FI`LIYAH 115040200111076
GHASSANI ANGGIAH .P 115040200111082
FAJAR RIZKI ILLAHI 115040200111118
FARHADZ FADHILLAH S 115040200111126
FATKUN NI`MAH 115040200111136
FAURIZAL ARIF 115040200111138
FARID RISKY NORIS S 115040201111003
ANISA AFISUNANI 115040201111011
Freta Kirana Balladona 115040201111018
CYNTIA YOLANDA APRISCIA 115040201111027
Akbar Hidayatullah Zaini 115040201111031
SUWANTI 115040201111033
AKBAR SAITAMA 115040201111037
RACHMATIKA LAUCHUL MACHFIDHA 115040201111040
FANGGA RATAMA CAMADA 115040201111074
Fitri Kusuma Wati 115040201111099
FARID MUFTI ARDIYANTO 115040201111104
Fefri Nurlaili Agustin 115040201111105
FITRI AMANIYAH 115040201111124
FEBRINA DWI P 115040201111140
HAKIIM KURNIAWAN HIDAYAT 115040201111160
FIRNADO GINTING 115040201111164
FIRDAUS AULIYA RAHMAH 115040201111179
FEBRI MUKTI PRAMADHANI 115040201111190
GADANG CAHYA BIMA 115040201111207
GUINDAHNAWANINGTYAS SELGIS APRILIA 115040201111247
Fahrizal Kreshna Yudichandra 115040201111261
FARID ZAMRONI 115040201111288
FRETTY VIVIN VALENTIAH 115040201111321
FITA FITRIATUL WAHIDAH 115040201111336
Faranisa AV 115040201111343
FEBRI DWI MULYANTO 115040207111001
FARAH NABILA 115040207111036
Hadi Suwitnyo 115040213111020
Hadi Susilo 115040213111030
GIRI LASMONO 115040213111031
Fitri Wahyuni 115040213111050

 

KATA PENGANTAR

Allhamdullilah puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah  SWT, yang telah memberikan segala nikmat kepada kita semua. Mudah- mudahan kita termasuk orang- orang yang diridhoi-Nya.Amiin.

Shalawat serta salam  selalu tercurah kepada junjungan kita semua yakni Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya dan kepada kita semua, mudah- mudahan kita semua termasuk orang- orang yang diberikan safaatnya. Amiin.

Mempunyai tubuh sehat adalah keinginan semua orang, namun pada kenyataannya banyak orang tidak bisa memilih makanan yang bergizi dan sehat bagi tubuh. Karena itu kami berencana untuk membuat usaha di bidang makanan yaitu “SIAM UB (Siomay Bayam Unik dan Bergizi ”.Terlihat sekali peluang yang begitu baik dalam usaha makanan ini.Selain mengenyangkan perut, siomay bayam juga memiliki nilai gizi yang cukup tinggi. Sayur bayam  merupakan salah satu sayuran Indonesia yang banyak di minati semua kalangan karena gizi yang terkandung di dalamnya melimpah.

Mudah- mudahan dengan adanya usaha ini bisa membantu menjadikan masyarakat Indonesia lebih sehat dan mudah- mudahan usaha ini bisa maju dan menyerap tenaga kerja di  Indonesia sehingga membantu mengurangi pengangguran di Indonesia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 2.      PENDAHULUAN

 

 

2.1  Data Perusahaan

Dewasa ini menjadi wirausaha merupakan sebuah solusi yang paling efektif untuk mengurangi jumlah penganguran dan menciptakan lapangan pekerjaan.Wirausaha merupakan wujud nyata dari sebuah perubahan dalam menata kehididupan yang lebih baik.Di Indonesia tercatat masih tingginya angka pengangguran, padahal lahan pertanian menjadi salah satu kekayaan alam yang paling potensial dikembangkan.

Usaha  Segmen pasar yang dipilih dalam usaha ini adalah masyarakat menengah ke bawah. Karena segmen masyarakat menengah ke atas pada usaha ini sudah cukup banyak terutama di kota-kota besar sehingga pesaingnya lebih banyak dibandingkan dengan segmen pasar menengah ke bawah. Competitive advantage dalam usaha ini adalah differentiation maksudnya yaitu usaha ini merupakan usaha yang berbeda dari jenis usaha makanan lainnya karena fokus usaha ini adalah pada pengelolaan sayur mayur khsusnya bayam menjadi makanan dan minuman yang variatif dengan segmen pasar yang berbeda dari usaha yang sudah ada sehingga pesaing di usaha ini masih sedikit.

Dengan berlandasan beberapa hal tersebut dibentuklah sebuah usaha kecil menengah (UKM) yang kami berinama “CV. Mitra Bayam Nusantara”.Berikut adalah data perusahaan kami.

Nama perusahaan        : CV. Mitra Bayam Nusantara

Lokasi perusahaan       : Perumahan New Villa Bukit Sengkaling. C7.10, Malang

Produk utama              : SIAM UB (Siomay Bayam Unik Bermutu)

Produk sampingan      : DBD (Dawet Bayam Durja), Eskrim Bayam, Nugget Bayam, DOYAN (Donat Bayam Nikmat)

Berdiri                         : Desember 2013

Total pekerja               : 38 Orang

 

 

2.2Visi Misi

Dalam mencapai kesuksesan berwirausaha CV. Mitra Bayam Nusantara memiliki visi berikut.

Visi:

  1. Menciptakan menu makanan baru yang sehat dan bergizi
  2. Meningkatkan taraf hidup masyarakat

Dalam upaya mewujudkan tujuan yang ingin dicapai dalam visi perusahaan, CV. Mitra Bayam Nusantara memiliki misi sebagai berikut

Misi:

  1. Menyajikan menu sayur dan buah dengan tata cara penyajian yang menarik, enak, dan sehat  baik berupa makanan atau minuman
  2. Membuka lapangan pekrjaan dan mendorong msyrakat untuk berwirausaha.
  3. Pemasaran

 

 

1 

 

 

  1. 4.      Profil Perusahaan

4.1.1        Berdirinya Perusahaan

CV. Mitra Bayam Nusantara merupakan suatu tempat makan yang didesain bernuansa kafe akan tetapi sederhana. Warung sehat menjual minuman dan makanan khas Nusantara.  Makanan dan minuman disajikan dengan tata cara penyajian yang menarik. Tata cara penyajian diperhatikan mulai dari tempat makan seperti piring daun pisang, yang didesain unik dan menuncjukan kekayaan Indonesia, selain itu CV. Mitra Bayam Nusantara berorientasi juga pada pasara swalayan kecil yang menyediakan produk-produk olahan bayam yang sudah dalam bentuk makanan olahan setengah jadi dan bias dinikmati dikediaman konsumen.

Hal ini semuanya berguna untuk mendukung penyajian makanan dan minuman agar menarik untuk dimakan seperti susunan makanan, ataupun bentuk sayur dan buah yang dibentuk agar menarik.Namun juga dengan tidak melupakan rasa dan kualitas makanan dan minuman yang disediakan. Sayuranyang disediakan adalah sayuran yang dikembangkan dengan tidak menggunakan zat-zat kimiawi seperti pupuk atau pembasmi hama. Sayur dan buah dikembangkan dengan menggunakan pupuk alami juga pembasmi hama alami termasuk juga memperhatikan pengelolaan tanah agar nutrisi di dalam tanah tidak habis dengan menanam tanaman dengan jenis berbeda.

Perusahaan ini berdiri pada bulan Desember 2013, yang beralamatkan di Perumahan New Villa Bukit Sengkaling C7. 10. Landasan lokasi perusaahaan berdiri di wilayah tersebut, dimana wilayah Kec. Dau dan sekitarnya khususnya wilayah Perumahan Oma Campus masih minim tersedianya warung makan, café, dan sejenisnya serta swalayan yang menjual makanan olahan siap saji. Selain itu masyarakat yang mendiami daerah tersebut tergolong masyarakat yang memiliki jam kerja padat dengan demikian kesempatan utnuk menyedikan makanan bergizi masih minim. Sehingga, dalam jangkaun memperoleh keuuntungan dalam pemasaran dapat tercapai dari perusahaan ini.

4.1.2        Gambaran Produk

Produk yang dipasarkan oleh CV. Mitra Bayam Nusantara merupakan produk makan yang berasal dari bayam.Olahan makanan berupaka makanan khas Nusantara yang mencirikan kekayaan kuliner Indonesia.Produk utama dari perusahaan ini SIAM UB (Siomay Bayam Unik Bermutu) dimana siomay merupakan makanan khas Indoensia yang banyak diminati masyarakat Indonesia. CV. Mitra Bayam Nusantara, mengelola siomay berbeda dengan siomay umumnya. Siomay yang dibuat mengutamakan bayam sebagai bahan utama yang memiliki banyak kandungan gizi.Siomay yang terlihat hijau dengan berbagai variasi seperti siomay bayam tahu, siomay bayam kol, siomay bayam pangsit, serta berbagai variasi lainnya, yang menjadi salah satu daya tarik sendiri bagi konsumen.

 

4.2  Manajemen Organisasi

deskripsi

4.2.1        Struktur Organisasi

Keterangan: SV (Supervisor)

Gambar. Bagan Struktur Organisasi CV. Mitra Bayam Nusantara

4.2.2        Job Description

Dalam struktur keorganisasian CV. Mitra Bayam Nusantara, setiap fungsioner kerja memiliki wewenang sebagai berikut.

  1. Direksi: Dessy dan Deny sebagai badan pengawasan berjalannya kegiatan wirausaha yang berfungsi melindungi dan menjamin kebenaran hukum perusahaan.
  2. Direktur utama: Febri Dwi M, sebagai koordinator keorganisasian yang berfungsi sebagai motor penggerak perusahaan.
  3. Direktur pelaksana: Akbar Saitama, sebagai ketua pelaksana kerja dilapangan yang mengkoordinasikan kegiatan seluruh fungsi organisasi.
  4. Direktur personalia: Akbar Hidayatullah Z, sebagai ketua pelaksana dalam seleksi ketenaga kerjaan, menjamin serta menjaga hak-hak bagi tenaga kerja.
  5. Direktur keuangan: Fi’illyah, menjadi bagian dalam upaya menjaga keuangan dan keberlangsungan perusahaan.
  6. Menejer tenaga kerja: Hadi Susilo, penyedia dan pencari serta menjamin keselarasan hak sesuai dengan posisi ketenaga kerjaan. Dalam Divisi ketenga kerjaan dibagi atas bidang perlengkapan dan pengawasan.Bidang perlengkapan Gadang (supervisor) tenaga ahli yang membawahi penyediaan sarana dan prasana bagi pekerja, dimana dalam bidang ini memiliki anggota yaitu gema dan hakim. Sedangkan bidang pengawasan, Farid M (Supervisor) yang membawahi penjaminan hak serta mengawasi kewajiban pekerjaan setiap pekerja, dalam bidang ini memiliki anggota Fahrizal dan Getar.
  7. Menejer produksi: Fitri Kusuma, bertugas daam menjalankan proses produksi makanan olahan bayam, dengan supervisor Cintya, serta anggota Firda, Fitri W, Ghasani, Fajar.
  8. Menejer pemasaran: Farid Zamroni, bersama Farah (supervisor), serta Faranisa, Hadi SW, dan suwanty sebagai anggota yang bertugas sebagai pengerak keuangan dengan memasarkan hasil makanan olahan bayam.
  9. Menejer publikasi: Fatkun N, dangan Farhadz (supervisor), Febri M, Fernado sebagai anggota bertugas dalam proses pengenalan hasil produksi berupa iklan, logo, beserta keperluan publikasi lainnya.
  10. Menejer accounting: Frety V, Faurizal (supervisor), anggota Fita dan Annisa bertugas dalam merinci data keuangan baik pengeluran dan pemasukan perusahaaan.
  11. Menejer administrasi: Fefri, Freta (supervisor), Fitri A dan Febrina bertugas dalam pencatat seluruh kegiatan dan ketenaga kerjaaan dalam perusahaan.
  12. Menejer gudang: Fangga, Farid N (supervisor), Guindah dan Ferry sebagai pengelolaan penyimpanan hasil produksi sebelum dipasarkan.

 

4.3  Manajemen Pemasaran

4.3.1        Gambaran Umum Pasar (Stp)dibuat pertahapnya

Malang merupakan daerah penghasil sayuran yang cukup besar, hanya saja Malang selain daerah agribisnis juga sebagai daerah pariwisata, pendidikan, dan industry. Dilihat dari segi pariwisata banyak peluang pemasaran seperti menjadikan makankhas olahan bayam sebagai makan yang bias dinikmati wisatawan di tempat wisata. Selain itu kawasan pendidikan, Malang terkenal dengan berbagai Universitas besar yang kebanyakan pendatang atau anak kos. SIAM UB dalam Universitas Brawijaya menjadi salah satu icon utama, setiap mahasiswa memiliki akun dalam SIAM UB “Sistem Informasi Akademik Mahasiswa Universitas Brawijaya”, sehingga ketika pemasaran dilakukan akan membuat mahasiswa penasaran akan SIAM UB “Siomay Bayam Unik Bermutu”.

Kawasan industri dimalang banyak menelan waktu pekerja sehingga membuat pekerja sering sekali memilih makan cepat saji.Makanan cepat saji yang tersedia di berbagai pusat perbelanjaan sering kali mengabaikan mutu serta gizi. Sehingga bias dijadikan peluang bisnis memasarkan makanan olahan bayam pada masyrakat pekerja. Ditempat produksi wilayah Perumahaan New Villa Bukit Sengkaling (Oma Campus), Kec.Dau, banyak sekali masyarakat yang tinggal diwilayah tersebut merupakan pekerja atau masyarakat karir. Dimana masyarakat karir biasanya terbengkalai akan makanan dan minuma. Sehingga peluang untuk memberikan pengenalan makanan olahan serta pemasaran diwilayah produksi sangat besar.

4.3.2        Strategi Pemasaran Perusahaan Dan Pesaing (7p+Swot)jelasin pertahap

Beberapa strategi promosi yang dilakukan pada pemasaran produk dari CV. Mitra Bayam Nusantara, yaitu :

  1. Pemesanan makanan berat SIAM UB untuk makan di tempat selama satu bulan awal gratis minuman DBD.
  2. Penyebaran brosur dan leaflet di sekolah-sekolah, kampus dan factory outlet
  3. Pemasangan papan nama yang besar dengan nama ‘Mitra Bayam Nusantara’ yang besar dan berwarna cerah
  4. Promosi tak langsung diharapkan melalui penyebaran dari mulut ke mulut, khususnya melalui rekan-rekan dari pekerja.
  5. Pemasaran dengan paket makan dalam menu. Dimana paket tersebut dalam menu disebut Paket UB “Paket Untung Bayamp”

 

4.4  Proses Produksi ( masuk 5.2 di format baru)

Tambah penjelasan

4.4.1        Alat Dan Bahan (masuk 5.7)

Dalam proses awal perusahaan membutuhkan peralatan yang cukup besar dimana keperluan alat sebagai berikut.

Alat:

  1. Kompor gas
  2. Tabung gas
  3. Baskom
  4. Blender
  5. Panci
  6. Wajan
  7. Sendok
  8. Pisau

Dalam prsoes produksi makan SIAM UB yang telah dicoba untuk menghasilkan makan siomay dengan beberapa pariasi dibutuhkan bahan sebagai berikut.Cantumkan bahannya saja

  1. Bayam 5 ikat                                             Rp. 2000,-
  2. Usus 1 kg                                                  Rp. 5000,-
  3. Terigu 1 kg                                                Rp. 6000,-
  4. Kanji 1 kg                                                 Rp. 5000,-
  5. Bawang putih ¼ kg                                   Rp. 2000,-
  6. Daun bawang                                            Rp. 250,-
  7. Seledri                                                       Rp. 250,-
  8. Garam                                                       Rp. 500,-
  9. Tahu pong 30 buah                                   Rp. 5000,-
  10. Kacang tanag ¼ kg                                   Rp. 2500,-
  11. Gula merah                                                Rp. 500,-
  12. Kulit pangsit ¼ kg                                    Rp. 2000,-
  13. Kubis 1 kg                                                 Rp. 2000,-
  14. Bumbu-bumbuan                                      Rp. 1000,-+

Rp. 34.000,-

Dari bahan diatas hasil yang diapatkan dalam proses produksi SIAM UB “Siomay Bayam Unik Bermutu” sebagai berikut.

  1. Siomay bulat 50 buah
  2. Siomay tahu 30 buah
  3. Siomay pangsit 30 buah
  4. Siomay kubis 20 buah.

Dalam penjualan perbuah setiap item dijuan dengan harga Rp. 750,- sehingga didapat hasil keuntungan sebagai berikut.

  1. Hasil produksi 130 buah @Rp. 750,-       Rp. 97.500,-
  2. Pengeluaran bahan                                    Rp. 34.000,-_

Rp. 63.500,-

Berdasarkan hasil tersebut dapat diketahuai persentase keuntungan dari penjualan SIAM UB sebagai berikut.

 

% Keuntunggan          = Untung x 100%

Modal

% Keuntunggan          =Rp. 63.500,- x 100% = 186,76 %

Rp. 34.000-

 

 

4.4.2        Alur Proses Produksi

 

Gambar. Proses Produksi

Aktivitas yang dilakukan meliputi proses mencari sayuran bayam serta bahan makanan dan minuman lainnya, proses memasak, dan proses penyajian. Sayur didapat dari petani yang menanam tanamannya secara alami.Petani seperti ini terdapat di lembang juga di sekitar Malang.Sehubungan tempat penjualan adalah di Malang, sehingga tempat penghasil bahan utama tidak begitu jauh dari tempat penjualan. Proses memasak makanan dilakukan dengan dua cara yaitu makanan dimasak terlebih dahulu dan makanan baru dimasak saat dipesan. Terakhir, proses penyajian adalah menyajikan hasil masakan berupa makanan atau minuman dengan wadah penyaji secara sederhana kepada pelanggan.

 

4.4.3        Penjelasan (Dari Alur Proses Produksi)dibikin bagan

Secara umum alur produksi sudah dijelaskan diatas. Naumun, proses memasak dalam produksi dilakuan dengan cara sebagai berikut.

  1. Semua bahan yang akan dipakai dijamin kehigienisannya.
  2. Bayam dan usus diblender setelah setengah halus masukan bawang putih 5 siung, garam secukupnya lalu diblender hingga merata.
  3. Masukan bahan yang telah diblender salam baskom, campur dengan sedikit air hangat, terigu, dan kanji serat irisan daun bawang dan seledri. buat hingga kalis.
  4. Siapkan panci pengukus.
  5. Pariasi pertama yaitu tahu pong diisi adonan siomay.
  6. Pariasi kedua kulit pangsit diisi adonan siomay.
  7. Pariasi ketiga kubis direbus, stelah setanha halus digulung bersamaan pemberia adonan siomay.
  8. Pariasi keempat siasa adonan sediki dikeraskan dengan penambahan kanji lalu dibuat bulatan seperti bakso dengan ditambahi tahu putih pada isiannya.
  9. Setelah siap dikukus.
  10. Untuk saus kacang. Kacang yang teah disangrai diblender bersama gula merah, garam secukupnya,cabai, kencur, bawang putih 3 siung.
  11. Hasil blender ditambah air dan dimasukan dalam panci dan ditambahi daun jeruk serta daun salam.

Setelah dua proses yaitu pencarian bahan dan pemasakan proses penyajian dilakuakan dengan cara tradisional. SIAM UB yang telah jadi

 

4.5  Manajemen Keuangan

Sumber Dana, Permintaan, Penawaran, Rencana Penjualan Dan Pangsa Pasar, Inventaris Kantor, Kapasitas Produksi, Tanah Dan Bangunan, Pemasangan Sarana Penunjang (Ex : Listrik, Air, Tlp, Dll), Mesin Dan Peralatan, Bahan Baku Dan Bahan Pelengkap, Tenaga Kerja. , Biaya Umum (Pemeliharan Mesin, Dll) Analisis Biaya Tetap, Analisis Biaya Tidak Tetap, Analisis Keuntungan.


 

 

3. RENCANA DESAIN DAN PENGEMBANGAN

 

 

3.1 Tujuan Usaha Jangka Panjang

 

3.2 Evaluasi Risiko

 

3.3 Pengendalian Persediaan

Produk SIAM UB merupakan produk yang sangat tepat dan nikmat jika disajikan dalam kondisi hangat dan fresh, untuk mengatur persediaan agar tetap pada kondisi fresh kami membuat stok SIAM UB yang masih belum dimasak (dalam bentuk adonan jadi), jadi proses pemasakan dilakukan jika ada pesanan sesuai permintaan. Tempat penyimpanan SIAM UB pun akan dibuat sedemikian rupa agar produk tetap terjaga dengan baik, mulai dari kebersihan, suhu, dan kerapian. Kami akan menggunakan wadah khas jawa yang biasa disebut “bakul” atau “wakul”, dimana wadah tersebut terbuat dari bamboo sehingga bisa menjaga kealamian dan kebersihan produk.

 

3.4 Pasokan dan Distribusi

Perusahaan kami memiliki 38 anggota yang sangat bermutu dan berijiwa agribisnis sehingga kami mampu menyediakan pasokan produk yang kami buat. Produk kami sangat efisien dan cepat proses produksinya sehingga untuk tetap menjaga pasokan produk, kami mengerhakan seluruh anggota untuk selalu menjaga pasokan SIAM UB. Untuk pendistribusian yang kami lakukan yaitu dengan langkah awal yaitu promosi dengan berbagai promo paket, pelayanan yang nyaman dan cepat, harga terjangkau, dan rasa yang menggugah selera, ketika sudah mendapatkan banyak pelanggan kami akan mengembangkan usaha kami dengan sistem distribusi “Delivery Order” untuk pemesanan produk yang sudah matang, dan sistem distribusi kea gen-agen untuk pemesanan produk mentah.

 

 

LAMPIRAN

 

 

  1. 1.      Logo Perusahaan

 

 

  1. 2.    Brosur

 

 

 

 

  1. 3.                  Pamflet

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DOKUMENTASI

 

 

 

(a)

 

 

 

Keterangan

a)

Categories: Uncategorized | Comments Off on BUSINESS PLAN SIAM UB (Siomay Bayam Unik dan Bergizi) UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI MALANG 2013

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MANAJEMEN KESUBURAN TANAH “Pengaruh Pemberian Urea dan Serbuk Gergaji terhadap Jumlah Cacing Tanah (Pontoscolex corethrurus) Pada Lahan Agroforestri Kopi”

Disusun Oleh : Kelas G2/ Asisten : Arman Firmansyah

UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS PERTANIAN PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI MALANG 2013

Nama Anggota kelompok:

Fahrizal KreshnaYudichandra (Co) 115040201111261

Farid Mufti Ardiyanto 115040201111104

FitriAmaniyah 115040201111124

Fita Fitriatul Wahidah 115040201111336

Febri Dwi Mulyanto 115040207111001

Farah Nabila 115040207111036

Hadi Suwitnyo 115040213111020

Hadi Susilo 115040213111030

Fefri Nurlaili Agustin 115040201111105

FitriWahyuni 115040213111050

Faranissa Anggi Vivedru 115040201111343

Fretty Vivin Valentiah 115040201111321

Farid Zamroni 115040201111288

Fitri Kusuma Wati 115040201111099

Febrina Dwi Pangesti 115040201111140

Firnado Ginting 115040201111164

Gadang Cahya Bima 115040201111207

Febri Mukti P. 115040201111190

Firdaus Auliya R. 115040201111179

Guindahnawaningtyas S.A. 115040201111247

DAFTAR ISI

BAB I. 5

PENDAHULUAN.. 5

1.1        Latar Belakang. 5

1.2        Tujuan. 6

1.3        Hipotesis. 6

BAB II. 7

TINJAUAN PUSTAKA.. 7

2.1 Kesuburan Tanah. 7

2.2 Prinsip Pengolahan Tanah yang Baik. 8

2.3 Tinjauan Tiap Topik. 10

2.3.1 Cacing Tanah Pontoscolex corethrurus. 10

gambar 1. 10

2.3.2 Pemberian Serbuk Gergaji pada Media Tanam.. 12

2.3.3 Keterkaitan Urea dengan Cacing Tanah. 12

2.3.4 Pengaruh Alih Fungsi Lahan terhadap Populasi Cacing Tanah Pontoscolex corethrurus  13

BAB III METODOLOGI. 15

3.1        Waktu dan Tempat. 15

3.1.1         Waktu. 15

3.1.2         Tempat 15

3.3.1         Alat dan Bahan. 17

3.3.2         Analisa Dasar. 17

3.3.3         Denah Pot Percobaan. 18

3.3.4         Metode Analisis N total, P, K, C-Organik, dan pH.. 18

BAB 4. 24

PEMBAHASAN.. 24

4.1.       Hasil 24

4.1.1.        Grafik tinggi tanaman jagung. 24

4.1.2.        Grafik jumlah daun. 24

4.1.3.        Grafik intensitas kerusakan. 25

4.1.4.        Grafik jumlah cacing. 25

4.2.1.        Tinggi Tanaman, Jumlah Daun, Intensitas Kerusakan, Jumlah Cacing. 25

4.2.2.        Hasil Uji Laboratorium.. 31

BAB 5. 34

PENUTUP. 34

5.1.       Kesimpulan. 34

5.2.       Saran. 36

DAFTAR PUSTAKA.. 37

LAMPIRAN.. 38

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Tanah merupakan faktor terpenting dalam tumbuhnya tanaman dalam suatu sistem pertanaman, pertumbuhan suatu jenis dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya ialah tersedianya unsur hara, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro. Tanah sebagai medium pertumbuhan tanaman berfungsi pula sebagai pemasok unsur hara, dan tanah secara alami memiliki tingkat ketahanan yang sangat beragam sebagai medium tumbuh tanaman.

Pupuk adalah bahan yang diberikan kedalam tanah atau tanaman untuk memenuhi kebutuhan unsur hara bagi tanaman dan dapat berfungsi untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Kesuburan tanah ditentukan oleh keadaan fisika, kimia dan biologi tanah. Keadaan fisika tanah meliputi kedalaman efektif, tekstur, struktur, kelembaban dan tata udara tanah. Keadaan kimia tanah meliputi reaksi tanah (pH tanah), KTK, kejenuhan basa, bahan organik, banyaknya unsur hara, cadangan unsur hara dan ketersediaan terhadap pertumbuhan tanaman. Sedangkan biologi tanah antara lain meliputi aktivitas mikrobia perombak bahan organik dalam proses humifikasi dan pengikatan nitrogen udara.

Kesuburan tanah merupakan mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Ada akar yang berfungsi menyerap air dan larutan hara, dan ada yang berfungsi sebagai penjangkar tanaman. Kesuburan habitat akar dapat bersifat hakiki dari bagian tubuh tanah yang bersangkutan, dan/atau diimbas (induced) oleh keadaan bagian lain tubuh tanah dan/atau diciptakan oleh pengaruh anasir lain dari lahan, yaitu bentuk muka lahan, iklim dan musim. Karena bukan sifat melainkan mutu maka kesuburan tanah tidak dapat diukur atau diamati, akan tetapi hanya dapat ditaksir (assessed). Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menghasilkan bahan tanaman yang dipanen. 

1.2  Tujuan

–          Untuk Mengetahui Kesuburan Tanah

–          Untuk Mengetahui Prinsip Pengelolaan Tanah yang Baik

–          Untuk Mengetahui Hasil Rancangan Percobaan yang dilakukan dengan menggunakan perlakuan Kontrol.

1.3  Hipotesis

Perlakuan tanah dengan penambahan serbuk kayu dapat meningkatkan penambahan populasi cacing Pontoscolex corethrurus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Kesuburan Tanah

Kesuburan tanah adalah Suatu keadaan tanah dimana tata air, udara dan unsur hara dalam keadaan cukup seimbang dan tersedia sesuai kebutuhan tanaman, baik fisik, kimia dan biologi tanah.

Menurut (Sutejo.M.M, 2003) Kesuburan tanah adalah kondisi suatu tanah yg mampu menyediakan unsur hara essensial untuk tanaman tanpa efek racun dari hara yang ada.

Tanah yang subur adalah tanah yang mempunyai profil yang dalam (kedalaman yang sangat dalam) melebihi 150 cm, strukturnya gembur remah, pH 6-6,5, mempunyai aktivitas jasad renik yang tinggi (maksimum). Kandungan unsur haranya yang tersedia bagi tanaman adalah cukup dan tidak terdapat pembatas-pembatas tanah untuk pertumbuhan tanaman

Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung sejumlah faktor pembentuk tanah yang merajai di lokasi tersebut, yaitu: bahan induk, iklim, relief, organisme, atau waktu. Tanah merupakan fokus utama dalam pembahasan ilmu kesuburan tanah, sedangkan kinerja tanaman merupakan indikator utama mutu kesuburan tanah.

Kesuburan tanah merupakan mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh interaksi sejumlah sifat fisika, kimia dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Ada akar yang berfungsi menyerap air dan larutan hara, dan ada yang berfungsi sebagai penjangkar tanaman. Kesuburan habitat akar dapat bersifat hakiki dari bagian tubuh tanah yang bersangkutan, dan/atau diimbas (induced) oleh keadaan bagian lain tubuh tanah dan/atau diciptakan oleh pengaruh anasir lain dari lahan, yaitu bentuk muka lahan, iklim dan musim. Karena bukan sifat melainkan mutu maka kesuburan tanah tidak dapat diukur atau diamati, akan tetapi hanya dapat ditaksir (assessed).

Penaksirannya dapat didasarkan atas sifat-sifat dan kelakuan fisik, kimia dan biologi tanah yang terukur, yang terkorlasikan dengan keragaan (performance) tanaman menurut pengalaman atau hasil penelitian sebelumnya. Kesuburan tanah dapat juga ditaksir secara langsung berdasarkan keadaan tanaman yang teramati (bioessay). Hanya dengan cara penaksiran yang pertama dapat diketahui sebab-sebab yang menentukan kesuburan tanah. Dengan cara penaksiran kedua hanya dapat diungkapkan tanaggapan tanaman terhadap keadaan tanah yang dihadapinya.

Kesuburan tanah merupakan kemampuan tanah menghasilkan bahan tanaman yang dipanen. Maka disebut pula daya menghasilkan bahan panen atau produktivitas. Ungkapan akhir kesuburan tanah ialah hasil panen, yang diukur dengan bobot bahan kering yang dipungut per satuan luas (biasanya hektar) dan per satuan waktu. Dengan menggunakan tahun sebagai satuan waktu untuk perhitungan hasilpanen, dapat dicakup akibat variasi keadaan habitat akar tanaman karena musim (Tejoyuwono, 2006).

 

2.2 Prinsip Pengolahan Tanah yang Baik

Pengolahan tanah bertujuan untuk menyediakan lahan agar siap bagi kehidupan tanaman dengan meningkatkan kondisi fisik tanah karena tanah merupakan faktor lingkungan yang mempunyai hubungan timbal balik dengan tanaman yang tumbuh padanya. Menurut Herawati (2013), pengolahan tanah adalah setiap kegiatan mekanik yang dilakukan terhadap tanah dengan tujuan untuk memudahkan penanaman, menciptakan keadaan tanah yang gembur bagi pertumbuhan dan perkembangan akar tanaman sekaligus merupakan upaya pemberantasan gulma. Dalam kaitannya dengan konservasi tanah dan air, pengolahan tanah hendaknya dilakukan seperlunya saja. Untuk tanah yang berlereng curam pengolahan tanah sebaiknya diminimumkan, bahkan ditiadakan.

Kegiatan pengolahan tanah biasa atau konvensional (dengan cara mencangkul atau membajak tanah dua kali dan diikuti dengan menghaluskan bongkahan tanah satu atau dua kali sebelum bertanam) lebih banyak bertujuan untuk memberantas gulma. Jika gulma dapat diatasi misalnya dengan penggunaan mulsa atau penggunaan herbisida, maka pengolahan tanah dapat dikurangi atau malah ditiadakan. Keunggulan dari tanaman tahunan adalah bahwa hampir semuanya tanaman ini tidak memerlukan pengolahan tanah. Hal ini dimungkinkan karena setelah tajuknya berkembang menaungi permukaan tanah pertumbuhan gulma akan sangat berkurang.

Olah tanah konservasi adalah suatu sistem pengolahan tanah dengan tetap mempertahankan setidaknya 30% sisa tanaman menutup permukaan tanah. Olah tanah konservasi dilakukan dengan cara:

  1. Pengolahan tanah dalam bentuk larikan memotong lereng atau dengan mencangkul sepanjang larikan untuk memudahkan penanaman.
  2. Tanpa olah tanah adalah sistem di mana permukaan tanah hanya dibersihkan dari gulma baik secara manual maupun dengan menggunakan herbisida.

Sesudah pembersihan, tanaman langsung ditugalkan. Jika penugalan sulit dilakukan, dapat digunakan cangkul untuk memudahkan penanaman. Keuntungan olah tanah konservasi adalah sebgai berikut :

  1. Menghemat tenaga kerja dan biaya
  2. Memperbaiki struktur tanah melalui peningkatan pori makro. Proses ini terjadi karena dengan tanpa olah tanah, fauna (hewan) tanah seperti cacing menjadi lebih aktif (Herawati, 2013).

Faktor lingkungan tanah meliputi:

  1. Faktor fisik (air, udara, struktur tanah serta suhu)
  2. Faktor kimiawi (kemampuan tanah dalam menyediakan nutrisi)
  3. Faktor biologis (makro/mikro flora dan makro/mikro fauna).

Pelaksanaan pengolahan tanah pada prinsipnya adalah tindakan pembalikan, pemotongan, penghancuran, dan perataan tanah. Struktur tanah yang semula padat diubah menjadi gembur, sehingga sesuai bagi perkecambahan benih dan perkembangan akar tanaman. Bagi lahan basah sasaran yang ingin dicapai adalah lumpur halus, yang sesuai bagi perkecambahan benh dan perkembangan akar tanaman. Alat pengolahan tanah mulai yang tradisional sampai modern (mekanisasi).

Berdasarkan tingkat intensifitasnya ada beberapa pengolahan tanah yaitu :

  1. Pengolahan tanah O (Zero Tillage) sering disebut Tanpa Olah Tanah (TOT). Penaburan benih kedelai pada lahan sawah bekas padi tanpa pengolahan tanah terlebih dulu, untuk memanfaatkan kelembaban tanah.
  2. Pengolahan tanah minimum (Mimimum Tillage). Bagian tanah yang diloah hanya pada calon zona perakaran dengan kelembaban dan suhu yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
  3. Pengolahan tanah optimum (Optimum Tillage). Pengolahan hanya dilakukan pada lajur tanaman saja (sistem Reynoso untuk tanaman tebu).
  4. Pengolahan tanah maksimum (Maximum Tillage). Pengolahan secara intensif seluruh areal pertanahan menjadi gembur dan permukaan tanah rata. Makin minim (tidak intensif) cara pengolahan tanah, akan makin mampu menangkal erosi.

Dengan demikian makin mendukung kelestarian kesuburan tanah disamping lebih menghemat biaya dan waktu. Menurut Pawitra (2010) bahwa tujuan pengolahan tanah adalah sebagai berikut :

  1. Pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik karena adanya pengolahan tanah memungkinkan peredaran air, udara dan suhu didalam tanah menjadi lebih baik.
  2.  Meningkatkan sifat-sifat fisik tanah, menjamin memperbaiki struktur danporositas tanah sehingga antara pemasukan air dan pengeluarannyamenjadi seimbang, berarti cepat basah dan optimal yang berarti akan menjamin aktifitas biologi akan menjadi optimal pula.

2.3 Tinjauan Tiap Topik

2.3.1 Cacing Tanah Pontoscolex corethrurus

gambar 1

(Wikimedia, 2013)

Pontoscolex corethrurus merupakan jenis cacing penggali tanah (tipe endogeik) dan merupakan salah satu spesies eksotis. Berdasarkan hasil penelitian di Sumberjaya, Lampung (Dewi. et al.,2006), Pontoscolex corethrurus merupakan salah satu dari 5  spesies cacing tanah yang banyak ditemukan setelah adanya alih guna  lahan hutan menjadi kebun kopi. Dari beberapa hasil penelitian terungkap bahwa Pontoscolex corethrurus memiliki sebaran yang cukup luas di Indonesia.  Cacing ini dapat dijumpai di tanah pertanian, belukar dan lapangan yang ditumbuhi rumput – rumputan (Suin, 2003).

Ciri-ciri cacing tanah Pontoscolex corethrurus adalah sebagai berikut:

  1. Tanda – tanda eksternal

Panjang tubuh 55 – 105 mm, diameter 3,5 – 4,0 mm, jumlah segmen 190 – 209. Warnanya keputih-putihan dengan sedikit kecoklatan. Prostomium dan segmen satu ditarik ke dalam. Seta 4 pasang pada tiap  segmen, dari tipe lumbrisin, seta bagian anterior letak masing – masing pasangannya berdekatan, pada segmen X  dan XI  mulai menjauh, seta bagian ventral tersusun bergantian mendekat – menjauh,  seta bagian posterior lebih besar sehingga lebih jelas kelihatannya. Clitellium pada segmen XV atau XVI sampai segmen dorsal menebal mulai seta b, masih terlihat jelas segmen – segmennya, warnanya kekuningan. Lubang spermateka 3 pasang dan terletak pada 6/7 sampai 8/9 pada seta c. Lubang kelamin jantan pada seta 20/21 atau di belakangnya, di daerah clitellum.

  1. Tanda – tanda internal

Seta 5/6 – 10/11 tebal dan kuat, terutama bagian anteriornya. Spermateka seperti silinder yang ujungnya membesar. Vesika seminalis sangat panjang. Jantung terakhir pada segemen XI. Mempunyai 3 pasang ‘chylesaccus’ pada segmen VII – IX. Megnefridia 1 pasang pada tiap – tiap segmennya.

2.3.2 Pemberian Serbuk Gergaji pada Media Tanam

Media tempat hidup cacing bermacam-macam diantaranya sampah organic, serbuk gergaji, jerami, dan lain-lain. Cacing akan menghasilkan kascing yang banyak mengandung unsure hara apabila menggunakan bahan organic yang tepat. Kerja sama cacing tanah dengan mikroorganisme member dampak proses penguraian yang berjalan dengan baik (Sinha, 2009).

Keunggulan menggunakan serbuk gergaji sebagai media tanam yaitu :

  • Banyak tersedia, karena serbuk gergaji merupakan produk sampingan dari industri pengolahan kayu non kertas.
  • Mudah dibentuk, hanya dengan menambahkan sedikit air maka media serbuk gergaji mampu menyimpan air dalam jumlah banyak.
  • Dapat menyimpan zat hara seperti halnya tanah.
  • Memiliki porositas yang cukup tinggi namun bisa diatur kepadatannya hingga mencapai tingkat porositas dengan mengatur rasio pemberian air.

Serbuk gergaji digunakan sebagai tambahan lapisan bahan organic di atas permukaan substrat sehingga dapat menjadi tempat berlindung bagi cacing tanah (Pontoscolex corethrurus) dari suhu tinggi, disebut juga bedding. Menurut Munroe (2004) bedding yang baik memiliki daya serap yang tinggi terhadap air sehingga dapat menjaga kelembaban, mampu menjaga sirkulasi oksigen, memiliki kandungan protein rendah dan rasio C/N yang tinggi. Pada umumnya cacing tanah lebih menyukai bahan organik berukuran kasar dengan kandungan lignin rendah daripada bahan organik berukuran halus dengan kandungan lignin tinggi.

2.3.3 Keterkaitan Urea dengan Cacing Tanah

Pemberian pupuk urea dapat menambah kandungan unsure nitrogen dalam tanah. Nitrogen digunakan oleh cacing tanah untuk membentuk jaringan tubuh sehingga semakin tinggi N dalam bahan organik tanah akan meningkatkan biomasa cacing tanah (Elvi, 2008).

Organ ekskresi terpenting dari cacing tanah adalah nephridia yang berperan sebagai saringan akumulasi ginjal karena terdapat urea dan ammonia dalam jumlah yang besar. Setidaknya terdapat dua nephridia dalam masing-masing segmen. Nephridia memiliki tiga fungsi dalam ekskresi yaitu filtrasi, reabsorbsi, dan transformasi kimia (Nonna, 2003).

2.3.4 Pengaruh Alih Fungsi Lahan terhadap Populasi Cacing Tanah Pontoscolex corethrurus

Alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian biasanya akan menurunkan keragaman jenis cacing tanah tetapi tidak demikian dengan penelitian Dewi  et al. (2006) di Sumberjaya, Lampung. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa diversitas (jumlah spesies) dan kelimpahan cacing tanah (ekor m-2) pada lahan agroforestri berbasis kopi lebih tinggi dari pada di hutan alami karena masuknya beberapa spesies eksotik seperti  Pontoscolex corethrurusNematogenea panamaensis, Dichogaster saliens  yang semuanya merupakan cacing penggali tanah (ecosystem engineers).  Pontoscolex corethrurus merupakan jenis cacing penggali tanah yang berasal dari Brazilia yang tahan hidup pada kondisi lingkungan yang beragam mulai dari lahan terdegradasi (padang lalang), lahan kopi monokultur, agroforestri  berbasis kopi hingga hutan alami yang telah terganggu. Pada hutan alami yang belum mengalami banyak gangguan manusia, Pontoscolex corethrurus tidak dijumpai.  Masuknya cacing eksotis ke dalam lahan pertanian diduga melalui pupuk, bibit tanaman, peralatan pertanian dan dari aktivitas pertanian lainnya.

Walaupun kerapatan populasi (kelimpahan) cacing tanah pada lahan agroforestri lebih besar dari pada di lahan hutan namun ukuran tubuh cacing lebih kecil, sehingga hal tersebut tidak diikuti oleh peningkatan jumlah pori makro tanah (Hairiah et al., 2004; Dewi et al., 2007). Kecilnya ukuran tubuh cacing penggali tanah diduga menyebabkan kecilnya ukuran liang yang ditinggalkan sehingga peranan dalam meningkatkan porositas tanah di lahan agroforestri juga menjadi lebih rendah.

 


BAB III
METODOLOGI

3.1              Waktu dan Tempat

3.1.1    Waktu

Pengambilan sampel tanah dilakukan pada tanggal 29 September 2013. Untuk penggrindingan sampel tanah dilakukan pada 3 Oktober 2013. Persiapan media tanam dilakukan pada tanggal 17 Oktober 2013. Penanaman dilakukan pada tanggal 31 Oktober 2013. Pengamatan tanaman dilakukan seminggu sekali selama 7 minggu yaitu mulai pada tanggal 5 November 2013 sampai tanggal 17 Desember 2013. Dengan parameter pengamatannya adalah tinggi tanaman, jumlah daun dan intensitas kerusakan pada setiap perlakuan dan ulangan.

3.1.2    Tempat

Pengambilan sampel kami lakukan di Desa Tulungrejo Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang. Pengamatan tanaman yang diamati berada di Plot Erosi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya.

3.2              Kondisi Umum Wilayah

Secara geografis Desa Tulungrejo terletak pada posisi 7°21′-7°31′ Lintang Selatan dan 110°10′-111°40′ Bujur Timur. Topografi ketinggian desa ini adalah berupa daratan sedang yaitu sekitar 156 m di atas permukaan air laut.

Secara administratif, Desa Tulungrejo terletak di wilayah Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan Hutan Kecamatan Wonosalam Kabupaten Jombang. Di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Waturejo. Di sisi Selatan berbatasan dengan Desa Sumberagung/Kaumrejo Kecamatan Ngantang, sedangkan di sisi Timur berbatasan dengan Hutan Kecamatan Pujon.

 

 

 

 

gambar 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Peta Desa Tulungrejo

 

3.3  Metode Penelitian

3.3.1    Alat dan Bahan

Alat dan Bahan

Fungsi

Alat

Cangkul mengambil tanah
Karung wadah tanah
Polibag wadah percobaan
mesin penggrinding menghaluskan tanah
Ayakan memisah tanah kasar dan halus
alat tulis mencatat pengamatan
Ember wadah tanah sebelum dilakukan penggridingan

Bahan

Tanah media tanam
pupuk anorganik urea sebagai perlakuan
Cacing Sebagai objek pengamatan
Air untuk irigasi tanaman
Jagung sebagai objek pengamatan

 

3.3.2    Analisa Dasar

Jenis analisa

Nilai

Metode

N

 Kjeldhal

P

 Bray 1

K

 NH4OAC

C-Organik

 Walkey& Black

pH

 pH meter

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3.3    Denah Pot Percobaan

gambar 3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3.3.4    Metode Analisis N total, P, K, C-Organik, dan pH

a)      AnalisispH

 

 

b) AnalisisN total

 


 

c)Analisis P Total

 


 

d) Analisis K Total

 

 


 

 

e) Analisis C-Organik


 

f). AnalisaPerlakuan

            Percobaan yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh pupuk N terhadap populasi cacing dan pertumbuhan tanaman jagung pada jenis tanah andisol dilaksanakan di kecamatan Ngantang Kabupaten Malang yang dilakukan pada bulan Oktober sampai awal Desember. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok yang terdiri atas tiga perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan pertama yaitu control, Perlakuan kedua menggunakan serbuk kayu ukuran kasar dan Perlakuan ketiga dengan serbuk kayu ukuran kasar dan urea. Masing masing perlakuan ditempatkan pada polybag percobaan dan diberi masing-masing empat ekor cacing ke dalam polybag. Kemudian pada tanggal 19 Desember 2013 dilakukan analisis Lab untuk mengukur N total, K, P dan pH serta populasi cacing pada polibag.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB 4

PEMBAHASAN

 

4.1.   Hasil

4.1.1.      Grafik tinggi tanaman jagung

 

 

4.1.2.      Grafik jumlah daun

 

 

4.1.3.      Grafik intensitas kerusakan

 

 

4.1.4.      Grafik jumlah cacing

 

 

4.2.   Pembahasan

4.2.1.      Tinggi Tanaman, Jumlah Daun, Intensitas Kerusakan, Jumlah Cacing

Pada praktikum Manajemen Kesuburan Tanah ini, media tanam yakni tanah yang berasal dari Desa Ngantang , tanah ini merupakan tanah dari suatu lahan alih fungsi lahan yang awalnya berupa hutan alami menjadi perkebunan kopi tetapi tetap dibawah naungan pohon sengon.

Untuk total tanah yang kita ambil sebesar 110 kg untuk 9 sampel tanah dan uji lab. 9 sampel tersebut masing-masing mempunyai berat tanah sebesar 10 kg. Pada 9 sampel tersebut kita memberi 3 perlakuan, jadi ada 3 perlakuan dan 3 ulangan di masing-masing perlakuan.

Pemberian perlakuan dilakukan pada tanggal 29 Oktober 2013. Untuk perlakuan ke-1 adalah tanah yang diberi 4 cacing tanah jenis endogenic di masing-masing ulangan (kontrol), kemudian untuk perlakuan ke-2 adalah pemberian cacing tanah jenis endogenic juga sejumlah 4 ekor di masing-masing ulangan dan ditambah kayu gergaji, dan untuk perlakuan ke-3 adalah penambahan cacing tanah jenis yang sama sejumlah 4 ekor dan ditambah kayu gergaji+pupuk urea di masing-masing ulangan.

Menurut analisis data hasil pengamatan yang dilakukan mulai tanggal 05 November 2013 menunjukkan bahwa tinggi tanaman memiliki hasil yang berbeda-beda, untuk perlakuan ke-1 ulangan 1 (G2 1.1) tinggi tanaman sebesar 3,7 cm . ualangan 2 (G2 1.2) sebesar 11,3 cm dan ulangan 3 (G2 1.3) sebesar 7 cm, jadi untuk perlakuan ke-1 ini rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 05 November 2013 adalah 7,33 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 di masing-masing ulangan adalah 2 helai dengan Intensitas penyakit masih 0 artinya masih belum ada kerusakan yang disebabkan oleh hama atau faktor yang lain.

Untuk perlakuan ke-2 ada sedikit perbedaan dengan perlakuan ke-1. Bisa dilihat untuk  ulangan 1 (G2 2.1) tinggi tanaman sebesar 6 cm ulangan 2 (G2 2.2) sebesar 8 cm dan ulangan 3 (G2 2.3) sebesar 8,6 cm, jadi untuk perlakuan ke-2 ini rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 05 November 2013 adalah 7,53 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 ulangan 1 (G2 2.1) adalah 1 helai dan ulangan 2 dan 3 masing-masing 2 helai dengan Intensitas penyakit masih 0 artinya masih belum ada kerusakan yang disebabkan oleh hama atau faktor yang lain.

Selanjutnya untuk perlakuan ke-3 ulangan 1 (G2 3.1) tinggi tanaman sebesar 8 cm. Ulangan 2 (G2 3.2) sebesar 9 cm dan ulangan 3 (G2 3.3) sebesar 9,3 cm, jadi untuk perlakuan ke-3 ini rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 05 November 2013 adalah 8,76 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 di masing-masing ulangan adalah 2 helai dengan Intensitas penyakit masih 0 sama seperti perlakuan 1 dan 2. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk pengamatan pada tanggal 05 November 2013 ini hasil tinggi tanaman yang paling tinggi adalah pada perlakuan ke-3.

Untuk pengamatan pada tanggal 12 November 2013, menunjukkan bahwa tinggi tanaman rata-rata naik, untuk perlakuan ke-1 ulangan 1 (G2 1.1) tinggi tanaman sebesar 18 cm . ualangan 2 (G2 1.2) sebesar 23,5 cm dan ulangan 3 (G2 1.3) sebesar 22,67 cm, jadi untuk rata-rata tinggi tanaman perlakuan ke-1 pada tanggal 12 November 2013 adalah 21,39 cm. Sedangkan untuk jumlah daun perlakuan ke-1 di masing-masing ulangan adalah 4 helai dengan Intensitas penyakit masih 0. Untuk perlakuan ke-2 rata-rata tinggi tanaman pada tanggal 12 November 2013 adalah 18,21 cm. Sedangkan untuk perlakuan ke-3 rata-rata tinggi tanaman adalah 21,82 cm. jadi untuk tinggi tanaman jagung pada pengamatan minggu ke-2 ini tetap tertinggi adalah pada perlakuan ke-3.

Selanjutnya pada pengamatan tanggal 19 November 2013, didapatkan hasil tinggi tanaman pada perlakuan pertama dengan tiga ulangan (G2 1.1 ;G2 1.2 dan G2 1.3) adalah 26,3cm ; 30,3cm dan 29cm. Sedangkan pada perlakuan ke dua dengan tiga kali ulangan (G2 2.1 ; G2 2.2 dan G2 2.3) didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturut-turut adalah 19,3cm ; 30cm dan 29cm. Dan pada perlakuan ke tiga dengan tiga kali ulangan (G2 3.1 ; G2 3.2 dan G2 3.3) didapatkan hasil tinggi tanaman yang ditunjukkan dengan nilai secara berturut-turut adalah 31cm ; 29cm dan 29,3cm. Rata-rata tinggi tanaman dari perlakuan 1,2 dan 3 secara berturu-turut adalah 28,53cm ; 26.1cm dan 29,76cm. sedangkan untuk pengamatan jumlah daun yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa rata-rata jumlah daun adalah 4 sampai 5 helai.

Pengamatan pada tanggal 26 November 2013, menunjukkan hasil pada perlakuan 1 ulangan 1 (G2 1.1) tinggi tanaman yang ditunjukkan sebesar 26,67cm, pengamatan pada ualangan 2 (G2 1.2) tinggi tanaman yang didapatkan sebesar 38,67cm dan ulangan 3 (G2 1.3) didapatkan tinggi tanaman sebesar 32cm, dan rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan pada perlakuan pertama ini adalah 32,45cm. Untuk perlakuan ke 2 , pada ulangan 1 (G2 2.1) didapatkan tinggi tanaman 22,3cm , pengamatan pada ulangan ke 2 (G2 2.2) didapatkan hasil 35cm, dan pada ulangan ke 3 (G2 2.3) didapatkan 34,67cm. Rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan dari perlakuan ke 2 ini adalah 30,66. Pada perlakuan ke 3 ulangan pertama (G2 3.1) didapatkan hasil tinggi tanaman 33cm, ulangan ke 2 (G2 3.2) tinggi tanaman yang ditunjukkan adalah 33,3cm, dan pada ulangan ke 3 (G2 3.3) didapatkan hasil tinggi tanaman sebesar 36,67. Rata-rata yang ditunjukkan pada perlakuan ke 3 ini adalah 34,32cm. Hasil yang didapatkan untuk rata-rata jumlah daun pada perlakuan 1 sampai 3 didapatkan hasil secara berturut-turut adalah 15 helai daun.

Berbeda pada tanggal 03 Desember 2013, hasil pengamatan didapatkan hasil tinggi tanaman pada perlakuan pertama dengan tiga ulangan (G2 1.1 ;G2 1.2 dan G2 1.3) adalah 38,3cm ; 43cm dan 49,5cm. Sedangkan pada perlakuan ke dua dengan tiga kali ulangan (G2 2.1 ; G2 2.2 dan G2 2.3) didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturut-turut adalah 33cm ; 39,3cm dan 33,67cm. Dan pada perlakuan ke tiga dengan tiga kali ulangan (G2 3.1 ; G2 3.2 dan G2 3.3) didapatkan hasil tinggi tanaman yang ditunjukkan dengan nilai secara berturut-turut adalah 34,67cm ; 48,67cm dan 47,3cm. Rata-rata tinggi tanaman dari perlakuan 1,2 dan 3 secara berturu-turut adalah 43,6cm ; 35,32cm dan 43,55cm. Hasil pengamatan jumlah daun yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa rata-rata jumlah daun pada perlakuan 1 adalah 6 helai daun, pada perlakuan ke 2 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun sebanyak 6 helai daun , dan pada perlakuan ke 3 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun adalah 7 helai daun.

Pada pengamatan yang dilakukan pada tanggal 10 Desember 2013 didapatkan hasil tinggi tanaman pada perlakuan 1 ulangan 1 (G2 1.1) adalah 38,8cm. Pada ulangan ke 2 (G2 1.2) didapatkan hasil tinggi tanaman yaitu 47,3cm , dan ulangan ke 3 (G2 1.3)  didapatkan hasil tinggi tanaman adalah 53,4cm. Pada pengamatan perlakuan ke 2 didapatkan hasil dari ulangan pertama(G2 2.1) , ulangan ke 2 (G2 2.2) dan ulangan ke 3 (G2 2.3) didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturu-turut adalah 40,5cm ; 49cm ; dan 36,6cm. Sedangkan pada perlakuan ke 3 didapatkan data tinggi tanaman pada ulangan pertama (G2 3.1) adalah 40,3cm , pada ulangan ke 2 (G2 3.2) didapatkan hasil tinggi tanaman 47,8 dan pada ulangan ke 3 (G2 3.1) didapatkan hasil 50,3cm . Dimana rata-rata tinggi tanaman yang ditunjukkan dari tiap-tiap perlakuan secara berturut-turut dari perlakuan 1 sampai perlakuan 3 adalah 46,5cm ; 42,03cm ; 46,16cm. hasil dari pengamatan jumlah daun didapatkan hasil rata-rata jumlah daun dari 3 perlakuan didapatkan hasil bahwa perlakuan 1 dan perlakuan 2 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun sebanyak 6 helai, sedangkan rata-rata jumlah daun yang ditunjukkan pada perlakuan ke 3 adalah 7 helai daun.

Pengamatan terakhir dilakukan pada tanggal 17 Desember 2013, didapatkan hasil dari tinggi tanaman perlakuan 1 ulangan 1 (G2 1.1) adalah 39cm. hasil yang didapatkan dari ulangan ke 2 (G2 1.2) adalah 53,67cm, dan pada ulangan ke 3 (G2 1.3) didapatkan hasil tinggi tanaman sebesar 41,35cm. Pada perlakuan 2 ulangan ke 1 (G2 2.1) hasil tinggi tanaman yang didapatkan adalah 53cm, pada ulangan ke 2 (G2 2.2) didapatkan hasil 64,33cm dan pada ulangan ke 3 (G2 2.3) adalah 39,67cm. Sedangkan pada perlakuan ke 3 dari ulangan pertama hingga ulangan ke tiga didapatkan hasil tinggi tanaman secara berturut-turut ditunjukkan dengan nilai 49,67cm ; 44,33cm dan 52,75cm . Rata-rata tinggi tanaman yang ditunjukkan pada perlakuan pertama adalah 44,67cm. Rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan pada perlakuan ke 2 adalah 52,33cm. Dan rata-rata tinggi tanaman yang didapatkan pada perlakuan ke 3 adalah 48,92cm. Pada pengamatan jumlah daun dari tiap-tiap perlakuan didapatkan hasil pada perlakuan pertama adalah 3 helai daun. Pada perlakuan ke 2 didapatkan rata-rata jumlah daun sebanyak 1 helai , dan pada perlakuan ke 3 didapatkan hasil rata-rata jumlah daun sebanyak 3 helai daun.

Pada pengamatan minggu pertama hingga minggu akhir pengamatan tinggi tanaman selalu mengalami perubahan dimana setiap polybag memiliki tinggi yang berbeda beda ( bisa dilihat pada tabel/ grafik pengamatan) ini bisa terjadi karena adanya perawatan secara berkala disetiap minggunya,dan juga pemberian air yang selalu rutin meskipun musim hujan juga sedikit banyak mempengaruhi pertumbuhan jagung. Selain penyiraman faktor lain yang bisa menyebabkan perbedaan tinggi tanaman yaitu penambahan serbuk gergaji dan jumlah cacing pada setiap polybagnya, serbuk gergaji bisa menambah kesuburan bagi tanah dan menambah unsur hara pada tanah. Namun seresah dari serbuk gergaji ini membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk terdekomposisi. Pada minggu awal pertumbuhan jagung belum nampak adanya tanda-tanda kerusakan pada daun jagung, tinggi tanaman dipengaruhi oleh kandungan unsur hara yang terdapat pada media tanam, selain itu faktor seperti suhu,kelembaban  juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman jagung. Setiap polybag berisikan 3 benih jagung yang masinng-masing polybag mempunyai tinggi yang berbeda. Artinya bahwa setiap benih mempunyai kecepatan daya berkecambah yang berbeda antara benih satu dengan yang lainnya.

Dari interpretasi data diatas mulai tanggal 05 November sampai 17 Desember 2013, rata-rata untuk tinggi tanaman paling tinggi adalah perlakuan ke-3 yakni dengan penambahan cacing, serbuk gergaji dan penambahan urea, kemudian untuk perlakuan ke-1 dan ke-2 rata-rata tinggi tanaman tidak berbeda jauh, dan selanjutnya untuk jumlah cacing sendiri yang awalnya pada setiap ulangan baik pada perlakuan 1,2 dan 3 masing-masing 4 buah. Yang terjadi penambahan jumlah cacing adalah pada perlakuan 1 ulangan 2 (G21.2) yakni ada penambahan 2 buah cacing jadi total ada 6 cacing. Dan penambahan pada perlakuan 3 ulangan 2 (G2 3.2) sebanyak 3 buah jadi total 7 buah. Dari analisis pengamatan perbedaan tinggi tanaman jagung yang signifikan pada perlakuan ke-3 dikarenakan memang tanaman jagung yang merupakan salah satu jenis tanaman yang membutuhkan banyak unsur N pada perkembangannya, Urea yang diberikan pada perlakuan ke-3 nampaknya menajadi indicator perubahan tinggi tanaman ditambah dengan adanya cacing tanah dimana kotoran cacing tanah itu sendiri mengandung unsur N yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung.

4.2.2.      Hasil Uji Laboratorium

 

Dari data yang dihasilkan dari analisis laboratorium sebelum dilakukan penanaman didapatkan hasil perlakukan kontrol dengan PH sebesar 4,82 sedangkan PH sesudah pada perlakuaan kontrol yaitu 5,68 lebih tinggi dari sebelum adanya penanaman jagung dimulai, ini dapat diartikan bahwa kandungan bahan organik meningkat dalam tanah, seperti hasil pengamatan C – organik, kandungan C-organik sebelum dilakukan perlakuan 0,24 % sedangkan sesudah dilakukan perlakuan pada kontrol mengalami kenaikan menjadi 0,87 %. Hal ini dapat dilihat bahwa ada perbedaan kenaikan meskipun tidak signifikan, atau tidak berbeda nyata, namun ini bisa diartikan bahwa pemberian serbuk kayu dan penambahan cacing mampu meningkatkan kandungan pada setiap unsur meskipun serbuk kayu sulit terdekomposisi, cacing membantu meningkatkan kandungan unsur yang ada di dalam tanah. Data diatas menunjukkan serbuk kayu yang selama ini kurang dimanfaatkan bisa dimanfaatkan sebagai mulsa yang berguna untuk meningkatkan kesuburan tanah. Herren dan gemmil (1991) menyatakan bahwa serbuk kayu perhektar dapat menghasilkan unsur N, P, K masing-masing sebesar  103.4 , 15.2 dan 80.9. Pada penelitian lain serbuk kayu bisa meningkatkan hasil produksi pada tanaman jagung, namun dikarenakan penelitian kami tidak sampai pada panen jadi hasil ini didapat hanya sampai pada pertumbuhan jagung yang masih berada pada pertumbuhan muda.

Didalam percobaan ternyata banyak cacing yang hilang dikarenakan cacing keluar dari polibag dan jumlahnya juga berkurang, lalu serbuk kayu yang ditambahkan pada setiap polybag belum secara merata dicampurkan antara bagian atas dan bawah. Tetapi karena waktu percobaan kurang lama berpengaruh pada cacing dan serbuk kayu pada sifat-sifat fisika dan kimia tanah belum terlihat. Perbedaan terlihat antara analisis hasil PH dan C-organik antara perlakuan serbuk kayu dan serbuk kayu+urea, pada ph serbuk kayu 5,58 sedangkan serbuk kayu+urea sebesar 5,52. Sedagkan pada C-organik serbuk kayu didapat hasil 1,16 dan pada serbuk kayu+urea didapat data yaitu 1,34. Kandungan C-organik tinggi pada serbuk kayu + urea. Kandungan C-Organik yang didapat masuk ke dalam kategori rendah. Hal ini sesuai dengan pembagian nilai prosentase karbon atau C-organik tanah yang dikelompokkan dalam lima kategori berikut:

(1)   sangat rendah untuk C(%) <1,00,

(2) rendah untuk C(%) berkisar antara 1,00 s/d 2,00,

(3) sedang untuk C(%) berkisar antara 2,01 s/d 3,00

(4) tinggi untuk C(%) berkisar antara 3,01 s/d 5,00 dan

(5) sangat tinggi untuk C(%) lebih dari 5,00.

Dari data yang telah didapatkan, hasil C-organik antara kontrol, serbuk kayu dan serbuk kayu + urea diperoleh nilai < 10,5,  berarti ini mengindikasikan bahwa C-organik dalam tanah tersebut baik.

Sedangkan kandungan N,P,K dan C – organik yang didapatkan adalah pada N total kontrol didapatkan hasil 0,088%, nilai N total pada perlakuan serbuk kayu didapatkan hasil 0,034% dan pada perlakuan serbuk kayu ditambah dengan urea didapatkan hasil 0,030%, jadi data yang paling tinggi data N adalah yang Kontrol. Jika dibandingkan dengan N awal yang 0,0346% N total lebih tinggi pada pengamatan akhir, yaitu 0,088% pada kontrol, karena yang diamati pada awal hanya Kontrol saja. Sama seperti N, data P dan K juga tidak diamati data awal pada Serbuk Kayu atau serbuk kayu dan urea, jadi pada Kontrol didapatkan P awal 0,06, menjadi 0,41 dan K awal 0,093 menjadi 0,0163. Dari data dapat ditentukan bahwa dari data yang mengalami penurunan adalah, pada unsur P saja. Adanya perbedaan ini bisa terjadi dikarenakan akibat adanya bahan organik. Kemas (2005) menyatakan bahwa apabila peningkatan kadar bahan organik terjadi maka N, P, K dalam tanah juga akan meningkat. Salah satu penyebab bahan organik yang tinggi salah satunya akibat adanya aktivitas cacing yang mampu menyediakan kascing hal ini sesuai dengan pernyataan Mashur (2001) bahwa kascing merupakan sisa media hidup cacing tanah yang terdiri dari berbagai campuran, antara lain kotoran cacing dan sisa-sisa media dalam berbagai tingkat dekomposisi. Kascing sendiri dapat digunakan untuk pupuk organik karena mengandung hara makro dan mikro yang lengkap dan dalam jumlah yang sesuai bagi tanaman. Jumlah ketersediaan nsur N, P, K, Ca, Mg, S, Fe, Mn, Al, Na, Cu, Zn, BO dan Mo yang dikandungnya tergantung dari bahan yang digunakan. Kascing mengandung hara N, P dan K yang tinggi yang sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dimanfaatkan bagi pertumbuhan dan perkembangannya serta proses-proses dalam tanaman. Untuk data P yang menurun dapat diakibatkan karena pencucian yang diakibatkan oleh intetnsitas hujan yang tinggi


BAB 5

PENUTUP

5.1.   Kesimpulan

Dari data hasil pengamatan terakhir tanggal 17 Desember 2013, didapatkan hasil bahwa jumlah cacing bertambah. Hasil penambahan cacing didapat dari sample tiap perlakuan. Pada perlakuan ke 1 (sebagai kontrol) ulangan 2 (G21.2) dengan penambahan 4 ekor cacing jumlah cacing bertambah sebanyak 2 ekor menjadi 6 ekor dan pada perlakuan ke 3 ulangan 2 (G2 3.2) dengan penambahan 4 ekor cacing + serbuk gergaji + Pupuk Urea jumlah cacing bertambah sebanyak 3 ekor menjadi 7 ekor.

Penambahan cacing tanah paling banyak terdapat pada perlakuan ke dengan perlakuan penambahan 4 ekor cacing tanah + serbuk gergaji + Pupuk Urea pada ulangan 2 (G2 3.2). Hasil tersebut sesuai dengan literatur yang menjelaskan bahwa penambahan Pupuk Urea dapat meningkatkan jumlah cacing di dalam tanah namun kurang efektif menambah biomassa cacing tanah. Sehingga data hasil pengamatan terakhir yang didapat terdapat penambahan cacing tanah sebanyak 2 ekor namun bentuk cacingnya kecil-kecil. Penambahan serbuk gergaji tepat untuk menambah jumlah populasi cacing di dalam tanah karena cacing tanah lebih suka hidup di bahan organic seperti serbuk gergaji. Serbuk gergaji dijadikan tempat berlindung bagi cacing tanah (Pontoscolex corethrurus) dari suhu tinggi atau disebut juga bedding. Bedding yang tepat bagi cacing tanah adalah yang memiliki kandungan protein rendah karena cacing tanah menyukai bahan organik yang memiliki ukuran kasar dengan lignin rendah.

Untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung, terdapat pertambahan tinggi tanaman yang signifikan tiap minggunya. Dari data hasil pengamatan terakhir tanggal 17 Desember 2013, Rata-rata tinggi tanaman jagung berturut-turut dari perlakuan 1, 2, dan 3 adalah 44,67 cm, 52,33 cm, dan 48,92 cm. Rata-rata tinggi tanaman jagung paling tinggi ada pada perlakuan ke 2 dengan penambahan 4 ekor cacing + serbuk gergaji yang memiliki rata-rata tinggi tiap ulangan 52,33 cm. Perlakuan ke-2 pada akhir pengamatan memiliki rata-rata tinggi paling tinggi namun yang memiliki rata-rata tinggi tanaman paling tinggi tiap minggunya adalah tanaman pada perlakuan ke-3.

Data hasil pertumbuhan tanaman jagung juga sesuai dengan literatur. Tanaman jagung merupakan jenis tanaman yang membutuhkan banyak unsur N pada perkembangannya. Urea yang diberikan pada perlakuan ke-3 merupakan indikator perubahan tinggi tanaman ditambah dengan adanya cacing tanah dimana kotoran cacing tanah itu sendiri mengandung unsur N. Cacing tanah berperan dalam peningkatan aerasi tanah karena aktivitas cacing tanah dapat membuka pori-pori di dalam tanah. Cacing tanah juga berperan dalam proses dekomposisi bahan organik, dan penyampuran bahan organik di dalam tanah. Serbuk gergaji dengan bantuan cacing tanah (Pontoscolex corethrurus) akan lebih cepat terdekomposisi sehingga hasil dekomposisi lebih cepat diserap tanaman. Selain penamabahan bahan organic serbuk gergaji dan cacing tanah (Pontoscolex corethrurus), perawatan yang dilakukan seperti penyiraman dan pencabutan gulma juga membantu menjaga kelembaban tanah dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman jagung.

Pada perhitungan kadar N, P , dan K pada ketiga perlakuan, didapatkan hasil yang berbeda-beda. Kadar N total pada tanah kontrol sebesar 0,088 %, pada tanah yang diberi serbuk kayu sebesar 0,034 %, sementara pada tanah yang diberi serbuk kayu dan urea memiliki kadar N total sebesar 0,030 %. Selanjutnya perhitungan kadar P total pada tanah kontrol pada awalnya sebesar 0,06 ppm menjadi 0,41 ppm. Kadar K pada tanah kontrol 0,093 % menurun menjadi 0,0163 %. Penurunan ini disebabkan karena sedikitnya kandungan bahan organik yang terkandung pada masing-masing media tanam. Kandungan bahan organik yang rendah juga berpengaruh pada aktivitas cacing. Cacing akan cenderung mencari tempat tinggal yang memiliki bahan organik yang tinggi, sehingga proses dekomposisi, perbaikan sifat biologi tanah juga akan berjalan baik. Selain itu, penurunan kadar P dan K pada tanah kontrol juga diakibatkan karena adanya pencucian.

 

5.2.   Saran

Semoga praktikum lebih baik dan terstruktur. Jadwal pengamatan dan analisis laboratorium lebih terjadwal agar tidak terjadi miss antar praktikan. Pengumuman Presentasi dan format laporan lebih baik diumumkan lebih awal agar pengerjaan Laporan lebih terstruktur

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Ali Hanafiah,Kemas. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta

Dewi, S. W., Yanuwiyadi B., Suprayogo, D. dan Hairiah, K. 2007. Dapatkah sistem agroforestri mempertahankan  diversitas cacing tanah setelah alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian? AGRIVIT A , 28 (3) : 198-220.

Hairiah, K., Suprayogo, D., Widianto, Berlian, Suhara, E., Mardiastuning, A., Widodo, R. H., Prayogo, C. dan Rahayu, S., 2004. Alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian: ketebalan seresah, populasi cacing tanah dan makroporositas tanah. AGRIVITA, 26 (1): 68-80.

Herawati, D. 2013. Olah tanah konservasi (olah tanah minimum dan tanpa olah tanah). http://blog.ub.ac.id/hierra/2012/03/28/olah-tanah-konservasi-olah-tanah-minimum-dan- tanpa-olah-tanah/. Diakses tanggal 22 Desember 2013.

Letik, Elvi, S. 2008. Respon Cacing Tanah (Pontoscolex corethrurus) terhadap Penambahan Berbagai Kualitas dan Ukuran Bahan Organik. Jurusan Tanah Universitas Brawijaya. Malang.

Munroe, G. 2004. Manual of On-Farm Vermicomposting and Vermiculture. Organic Agriculture Center. Canada.

Pawitra, N. H. 2010. Penolahan tanah. http://www.scribd.com/doc/94641958 /pengolahan-tanah. Diakses tanggal 22 Desember 2013.

Royhanna, Nonna. 2003. Pengaruh Taraf Ampas Tahu dalam Media Serbuk Sabut Kelapa terhadap Panjang, Diameter Tubuh Cacing Tanah. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sinha, R. K. 2009. Earthworms Vermicompost: A Powerfull Crop Nutrient Over the Conventional Compost & Protective Soil Conditioner Against the Destructive Chemical Fertilizers for Food Safety and Security. Am-Euras. J. Agric. & Environ. Sci., Vol. 5, (01-55).

Suin, N. M. 2003. Ekologi Hewan Tanah. Bumi Aksara. Bandung.


LAMPIRAN

  1. 1.      Tabel hasil pengamatan
Tanggal Pengamatan Perlakuan Tinggi Tanaman Jumlah Daun Jumlah Cacing Intensitas Kerusakan
29 Oktober 2013 G2  1.1 4
G2  1.2 4
G2  1.3 4
G2  2.1 4
G2  2.2 4
G2  2.3 4
G2  3.1 4
G2  3.2 4
G2  3.3 4
05 November 2013 G2  1.1 3.7 cm 2 0
G2  1.2 11.3 cm 2 0
G2  1.3 7 cm 2 0
G2  2.1 6 cm 1 0
G2  2.2 8 cm 2 0
G2  2.3 8.6 cm 2 0
G2  3.1 8 cm 2 0
G2  3.2 9 cm 2 0
G2  3.3 9.3 cm 2 0
12 November 2013 G2  1.1 18 cm 4 0
G2  1.2 23.5 cm 4 0
G2  1.3 22.67 cm 4 0
G2  2.1 14.5 cm 3 0
G2  2.2 19.83 cm 4 0
G2  2.3 20.3 cm 3 0
G2  3.1 21.33 cm 4 1
G2  3.2 22.83 cm 4 1
G2  3.3 21.3 cm 3 0
19 November 2013 G2  1.1 26.3 cm 4 2
G2  1.2 30.3 cm 5 3
G2  1.3 29 cm 4 2
G2  2.1 19.3 cm 4 2
G2  2.2 30 cm 5 2
G2  2.3 29 cm 5 0
G2  3.1 31 cm 5 2
G2  3.2 29 cm 4 3
G2  3.3 29.3 cm 5 0
26 November 2013 G2  1.1 26.67 cm 4 2
G2  1.2 38.67 cm 6 3
G2  1.3 32 cm 5 2
G2  2.1 22.3 cm 4 3
G2  2.2 35 cm 6 2
G2  2.3 34.67 cm 5 0
G2  3.1 33 cm 5 2
G2  3.2 33.3 cm 5 3
G2  3.3 36.67 cm 5 0
03 Desember 2013 G2  1.1 38.3 cm 5 2
G2  1.2 43 cm 7 3
G2  1.3 49.5 cm 7 2
G2  2.1 33 cm 5 3
G2  2.2 39.3 cm 8 2
G2  2.3 33.67 cm 5 3
G2  3.1 34.67 cm 6 2
G2  3.2 48.67 cm 8 3
G2  3.3 47.3 cm 7 2
10 Desember 2013 G2  1.1 38.8 cm 5 3
G2  1.2 47.3 cm 7 4
G2  1.3 53.4 cm 5 3
G2  2.1 40.5 cm 7 3
G2  2.2 49 cm 6 2
G2  2.3 36.6 cm 6 3
G2  3.1 40.3 cm 6 2
G2  3.2 47.8 cm 7 3
G2  3.3 50.37 cm 8 4
17 Desember 2013 G2  1.1 39 cm 6 2
G2  1.2 53.67 cm 7 6
G2  1.3 41.35 cm 5 1
G2  2.1 53 cm 7 0
G2  2.2 64.33 cm 7 1
G2  2.3 39.67 cm 6 2
G2  3.1 49.67 cm 6 1
G2  3.2 44.33 cm 7 7
G2  3.3 52.75 cm 8 0

 

  1. Data Hektar Lapisan Olah

HLO          = KLO X BI X Ha

= 10 cm x 2,06 g/cm3 x 108 cm2

= 20,6 x 108g

= 20,6 x 105 kg

LUAS POLIBAG = 25 cm x 25 cm

= 625 cm2

KONVERSI/POLIBAG  = LuasPolibag x HLO

Luas 1 Ha

= 625 cm2 x 20,6 x 108 g

108 cm2

                                                        = 12875 g

= 12,875 kg

 

 

  1. Dokumentasi

Hasil Dokumentasi Tanggal 5 November 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Dokumentasi Tanggal  26 November 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hasil Dokumentasi Jalur Cacing

 

 

Dokumentasi Pada Tanggal 19 November 2013

Perlakuan 2.3

 

Perlakuan 3.2 33,.3.33.23

 

Perlakuan 3.1

 

Perlakuan 1.3

 

 

Perlakuan 2.1

 

Perlakuan 1.2

 

Perlakuan 1.1

 

Perlakuan 3.3

 

 

Perlakuan 2.2

 

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM MANAJEMEN KESUBURAN TANAH “Pengaruh Pemberian Urea dan Serbuk Gergaji terhadap Jumlah Cacing Tanah (Pontoscolex corethrurus) Pada Lahan Agroforestri Kopi”

TUGAS MANAJEMEN KESUBURAN TANAH

SOAL

  1. CARI DEFINISI TENTANG AMONIFIKASI, NITRIFIKASI DAN AMINISASI
  2. CARI TAHU TENTANG SIKLUS NITROGEN

JAWAB

  1. 1.       A. Proses Amonifikasi

Sebagian besar keberadaan N2 di dalam tanah dalam bentuk molekul anorganik. Organisme yang sudah mati diuraikan melalui proses hidrolisis yang menyebabkan protein terurai menjadi asam amino. Proses ini disebut deaminasi. Proses selanjutnya, asam amino yang sudah terbentuk dikonversi menjadi ammonia (NH3) dan proses ini disebut amonifikasi. Amonifikasi dibantu oleh beberapa mikroorganisme seperti bakteri dan jamur.

Amonia merupakan senyawa dalam bentuk gas, pada tanah yang kering mudah menguap, sebaliknya pada tanah yang lembab/basah ammonia terlarut dalam air dan membentuk ion ammonium (NH4+ ). Selanjutnya ion amonium dapat digunakan oleh bakteri dan tumbuhan untuk sintesa asam amino.Walaupun demikian, pemanfaatan nitrogen oleh kebanyakan tumbuhan umumnya dalam bentuk NO3karena NH4+ akan dioksidasi menjadi NO3 oleh bakteri nitrifikasi. Disamping itu ammonium/ammonia ini bersifat racun bagi tumbuhan dan dapat menghambat pembentukan ATP di kloroplas dan mitokondria.

Berbagai tanaman, binatang, dan mikroba dapat melakukan proses amonifikasi. Amonifikasi adalah proses yang mengubah N-organik menjadi N-ammonia. Bentuk senyawa N dalam jasad hidup dan sisa-sisa organik sebagian besar terdapat dalam bentuk amino penyusun protein. Senyawa N organik yang lain adalah khitin, peptidoglikan, asam nukleat, selain itu juga terdapat senyawa N-organik yang banyak dibuat dan digunakan sebagai pupuk yaitu urea.

Proses amonifikasi dari senyawa N-organik pada prinsipnya merupakan reaksi peruraian protein oleh mikroba. Secara umum proses perombakan protein dimulai dari peran ensim protease yang dihasilkan mikroba sehingga dihasilkan asam amino. Selanjutnya tergantung macam asam aminonya dan jenis mikroba yang berperan maka asam-asam amino akan dapat terdeaminasi melalui berbagai reaksi dengan hasil akhirnya nitrogen dibebaskan sebagai ammonia. Reaksi umumnya adalah sebagai berikut:

                  protease                          deaminasi

PROTEIN —————–  ASAM AMINO —————— NH3

Urea yang mengalami proses amonifikasi akan terhidrolisis oleh adanya ensim urease yang dihasilkan oleh mikroba tanah. Urea yang dimasukkan ke dalam tanah akan mengalami proses amonifikasi sebagai berikut:

                              urease

CO(NH2)2 + H2O ———————- 2 NH3 + CO2

Dalam keadaan asam dan netral amonia berada sebagai ion amonium. Sebagian amonia hasil amonifikasi dibebaskan sebagai gas NH3 ke atmosfer, sehingga lepas dari sistem tanah. Amonia dan bentuk nitrogen lain di eko-atmosfer dapat mengalami perubahan kimia dan fotokimia, sehingga dapat kembali ke litosfer dan hidrosfer bersama-sama air hujan. Ion amonium dapat diasimilasi tanaman dan mikroba, selanjutnya diubah menjadi asam amino atau senyawa N lain. Di dalam sel, ammonia direaksikan oleh glutamat atau glutamin sintase atau mengalami proses aminasi langsung dengan asam-ketokarboksilat sehingga berubah menjadi asam amino.

  1. B.     Proses Nitrifikasi

Nitrifikasi merupakan proses oksidasi ion amonium menjadi nitrat (NO3-). Proses ini dilakukan oleh bakteri autotrof yang termasuk ke dalam genus Nitrosomonas dan Nitrobacter. Nitrosomonas akan mengoksidasi ion ammonium menjadi nitrit (NO2-) dan selanjutnya Nitrobacter akan mengoksidasi nitrit (NO2-) menjadi nitrat (NO3-). Tumbuhan cenderung menggunakan nitrat (NO3-) sebagai sumber nitrogen untuk sintesa protein karena nitrat memiliki mobilitas yang lebih tinggi di dalam tanah dan lebih mudah terikat dengan akar tanaman daripada amonium. Meski sebenarnya ion amonium lebih efisien sebagai sumber nitrogen karena memerlukan lebih sedikit energi untuk sintesa protein, tetapi karena bermuatan positif maka lebih sulit dimanfaatkan karena sudah lebih dulu terikat oleh tanah lempung yang bermuatan negatif. Nitrifikasi adalah suatu proses oksidasi enzimatik yakni perubahan senyawa ammonium menjadi senyawa nitrat yang dilakukan oleh bakteri-bakteri tertentu. Proses ini berlangsug dalam dua tahap dan masing-masing dilakukan oleh grup bakteri yang berbeda. Tahap pertama adalah proses oksidasi ammonium menjadi nitrit yang dilaksanakan oleh bakteri Nitrosomonas dan tahap kedua adalah proses oksidasi enzimatik nitrit menjadi nitrat yang dilaksanakan oleh bakteri Nitrobakter (Damanik, dkk, 2011).

Ion ammonium dalam tanah dapat dioksidasi secara enzimatik oleh bakteri tanah, nitrit pertama menguntungkan dan nitrit selanjutnya. Bakteri itu dikelaskan sebagai autotrof karena mereka mendapatkan energinya dari oksidasi ammonium ion menjadi bahan organik. Proses ini dapat berakhir dengan nitrifikasi yang memiliki dua tahap utama. Tahap pertama menghasilkan perubahan ammonium menjadi nitrat oleh sekelompok spesifik tertentu dari autotrof bakteri (Nitrosomonas). Nitrit lalu dibentuk dan kemudain secara spontan dilanjutkan oleh grup kedua, Nitrobacter. Hasilnya, ketika NH4+ dilarutkan dalam tanah, biasanya dikonversikan secara cepat dalam NO3-. Oksidasi enzimatik melarutkan energy dan dapat ditunjukkan sangat sederhana dengan:
Step I NH4+ + 1 ½ O2 NO2- + 2 H+ + H2O + 275 kj energi
Step    II  NO2- + 1/2 O2 NO3- + 76 kj energy  
(Brady and Weil, 2008).
Bakteri nitrifikasi sangat sensitive terhadap lingkungan mereka, lebih dari heterotrof pada umumnya. Akibatnya kondisi tanah mempengaruhi vigor dari nitrifikasi yang membutuhkan perhatian tertentu. Diantaranya adalah (a) aerasi, sejak nitrifikasi dip roses oksidasi pada tiap prosedur, itu meningkatkan aerasi pada tanah per point, memperbesar jumlah ini (b) temperature, umumya untuk proses ini dibutuhkan antara 800 – 900 F. Pada 1250 F, nitrifikasi akan langsung berhenti (c) kelembaban, rataan hasil nitrifikasi dalam tanah dengan menandakan adanya kapasitas air, proses mulai melambat pada kondisi kelembaban yang sangat tinggi dan sangat rendah (d) kejenuhan basa. Nitrifikasi membutuhkan keadaan kejenuhan basa yang tinggi (e) pupuk (f) kadar C/N (Brady, 1974).
Besarnya jumlah pengaruh kimia dalam perubahan bentuk reduksi nitrogen dalam pupuk untuk bentuk oksidasi oleh mikroorganisme atau pembatas sikap dari enzim tanah. Objek dari produk diatur nitrifikasi dan menjaga nitrogen dalam bentuk ammonium. Dalam bentuk ini, nitrogen tidak tercuci segera atau diubah ke dalam bentuk gas yang lepas dari tanah. Hasil percobaan di lapangan dalam efisiensi nitrogen, dipengaruhi oleh inhibitor nitrifikasi yang menunjukkan hasil yang kecil dalam peningkatan dari satu dalam enam test. Beberapa insektisida juga menghambat nitrifikasi dalam lapangan (Jones, 1982).
Nitrifikasi adalah proses dimana ammonium (NH4+) yang dioksidasi ke nitrat (NO2-) dan kemudian menjadi nitrat (NO3-). Rataan nitrifikasi juga di pengaruhi oleh kelembaban tanah dan cenderung menjadi sangat lambat pada tanah kering, dimana air encer membatasi difusi dari NH4+ ke nitrifiers. Secara spontan nitrifikasi adalah proses keasaman dalam oksidasi dari NH4+ ke NO3- menghasilkan ion H+. Sedangkan ini juga sensitif untuk mengubah pH tanah tersebut, dalam tanah pertanian, nitrifikasi tak berarti dibawah pH 4,5. Tetapi rataan nitrifikasi cenderung menjadi lemah pada temperatur tanah hutan asam (Bardgett, 2008).
Dalam keadaan menguntungkan berlangsungnya kedua reaksi tersebut, transformasi dari amonium menjadi benuk nitrit berlangsung sangat cepat menyusul reaksi pertama, sehingga tidak sempat terjadi penimbunan nitrit. Hal ini sangat menguntungkan karena bentuk nitrit bersifat racun bagi tanaman, akibatnya bentuk nitrat cenderung diakumulasikan di dalam tanah. Sebagai catatan bahwa bentuk ion nitrit ini tidak umum terdapat di dalam tanah dalam jumlah yang banyak (Damanik, dkk, 2011).

  1. C.    Proses Aminisasi

Aminisasi merupakan proses perubahan protein dan senyawa serupa yang merupakan sebagian besar nitrogen dari tanah menjadi senyawa amino. Prosesnya dapat digambarkan sebagai berikut:

Protein → R–NH2 + CO2 + Energi

Proses aminisasi adalah : proses perubahan protein menjadi senyawa amino. Proses aminisasi dilakukan oleh mikroorganisme heterotrop, yang mempunyai banyak jenis. Setiap jenis bertanggung jawab hanya pada satu atau beberapa tahap reaksi dari sejumlah reaksi dekomposisi. Protein dan senyawa yang serupa, melalui pencernaan enzimatik yang dilakukan oleh mikroorganisme tadi akan hancur dan menjadi senyawa-senyawa amino seperti: protesa, pepton dan akhirnya amino.

 

Transformasi demikian dapat ditampilkan sebagai berikut:

 Protein    dan         +    Pencernaan ——->  Senyawa   +  CO2  +  E +  hasil lainnya

                senyawa serupa             enzimatik                         amino  komplek

Berbagai organisme tanah memerlukan energi (E) dari pencernaan demikian, dan juga menggunakan sebagian nitrogen. Bersamaan dengan dibebaskan CO2  maka   senyawa amino dansenyawa  lainnya terbentuk.

 

  1. 2.      DAUR NITROGEN

 

Nitrogen suatu gas inert yang sangat sulit diikat langsung oleh mahkluk hidup tingkat tinggi , di udara Nitrogen sepertinya tak terbatas jumlahnya karena jumlahnya 78 % paling besar diatara gas gas lainnya seperti oksigen, sulfur, carbon dan lainnya .Jumlahnya nitrogen yang 78 % itu dalam bentuk unsur bukan dalam senyawa.padahal mahkluk hidup memerlukan niterogen dalam suatu persenyawaan misalnya nitrat, asam amino, protein dan sangat penting untuk pertumbuhan. Jadi Nitrogen udara itu harus di proses sehingga bisa membentuk senyawa yang penting untuk dapat memenuhi kebutuhan mahkluk hidup.

  1. 3.      SIKLUS NITROGEN

Nitrogen dalam bentuk senyawa terdapat pada Nitrat , Protein , Asam amino , Lipoprotein dll yang semua itu penting dala metabolism. Dengan melihat kepentingannya itu , berarti tidak ada satupun mahkluk hidup yang tubuhnya tanpa kandungan unsur Nitrogen ini Terbukti selalu mahkluk hidup setelah di lakukan analisa Abu oleh Sachs , selalu ditemukan Nitrogen dalam skala besar ( sebagai unsur Makro) Nitrogen berfungsi sebagai pembentuk asam amino (NH2) merupakan persenyawaan pembentuk molekul protein. (yang tersusun atas unsur CHON yang membedakan dengan lemak dan karbohidrat kan hanya Nitrogennya) Selanjutnya protein sebagai faktor penting dalam pertumbuhan dll .

Ketika petir terbentuk diatmosfer menyebabkan nitrogen bersenyawa jadi nitrat. Nitrat itu disentuhkan ke bumi , sehingga semakin daerah itu banyak petir tentu banyak nitrat terbentuk disana Nitrat yang terbentuk di atmosfer tentu akan terbawa hujan sehingga terjadi perpindahan nitrat dari udara ke daratan yang menjadikan nitrogen dalam bentuk nitrat itu menjadi berguna Tumbuhan menyerap nitrat dari tanah untuk dijadikan protein lalu tumbuhan dimakan oleh kosumer senyawa nitrogen pindah ke tubuh hewan dan manusia Urin dan faeces sebagai Ekresta , bangkai hewan, dan tumbuhan mati , sisa kehidupan (ranting , daun tua) yang disebut Egesta akan diuraikan oleh pengurai jadi ammonium dan ammoniak. Amoniak hasil pembusukan itu oleh bakteri Nitrifikans akan dirombak jadi Nitrat melalui Nitrifikasi OK.

Nitrifikasi diperlukan bakteri ( NS,NC dan NB) Bakteri Nitrosomonas dan Nitrococcus Nitrobacter mengubah amoniak jadi nitrat yang berjalan secara aerob ( butuh aerasi ditanah oleh karenanya tanah harus digemburkan agar terbentuk banyak nitrat) proses berjalan dua kali yaitu nitritasi membentuk nitrit dan nitratasimembentuk nitrat

Nitrifikasi : nitritasi dan nitratasi

Amoniak NH3 dirubah menjadi nitrit HNO2 oleh NS dan NC disebut nitritasi lalu Nitrit diubah lagi Nitrat HNO3 oleh bakteri NB (Nitrobacter) Nitratasi

Kemudian nitrat diserap oleh tumbuhan. karena Nitrogen ditanah hanya bisa diserap dalam bentuk nitrat (Amoniak , Nitrit tidak bisa diserap )

Selain melalui petir juga melalui Fikasasi , Fikasasi itu berbeda dengan Nitrifikasi

Fikasasi itu pengikatan langsung Nitrogen di udara oleh mikroorganisme Fiksasi ( Rhizobium, Azotobacter , Clostridium pasteurianum , Nostoc , Anabaena )

Rhizobium bersimbiosis dengan kacang kacangan membentuk bintil akar yang sebenarnya bintil itu karena infeksi bakteri Rhizobium leguminosorum , yang berguna bagi kacang karena punya kemampuan membFIKSASI Nitrogen dari udara untuk dipersembahkan ke kacang dalam pertumbuhannya , sehingga petani nggak perlu lagi memberi pupuk (Urea atau NPK) karena ada free download nitrogendari udara hehe

Anabaena bersimbiosis dengan Paku air Azolla dan Pakis haji Cycas rumpii. azotobacter, Clostridium dan Nostoc soliter hidupnya Nitrogen juga bisa dari Air hujan , hujan asam ( Acid rain) , dari pupuk buatan Urea yang dilepaskan ke tanah

 

Nitrogen Tanah

Nitrogen adalah unsur hara yang paling dinamis di alam.

Keberadaannya di tanah sangat dipengaruhi oleh keseimbangan antara input dan outputnya dalam sistem tanah.Di alam, Nitrogen terdapat dalam bentuk senyawa organik seperti urea, protein, dan asam nukleat atau sebagai senyawa anorganik seperti ammonia, nitrit, dan nitra.Daur nitrogen adalah transfer nitrogen dari atmosfir ke dalam tanah.Selain air hujan yang membawa sejumlah nitrogen, penambahan nitrogen ke dalam tanah terjadi melalui proses fiksasi nitrogen. Fiksasi nitrogen secara biologis dapat dilakukan oleh bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan polong-polongan, bakteri Azotobacter dan Clostridium.

Selain itu ganggang hijau biru dalam air juga memiliki kemampuan memfiksasi nitrogen. Nitrat yang di hasilkan oleh fiksasi biologis digunakan oleh produsen (tumbuhan) diubah menjadi molekul protein. Selanjutnya jika tumbuhan atau hewan yang mengandung protein itu mati, mikroorganisme pengurai akan merombak protein itu menjadi menjadi gas amoniak (NH3) dan garam ammonium yang larut dalam air (NH4+) ( Demineralisasi )Proses ini disebut dengan amonifikasi. kemudian diteruskan ke proses Nitrifikasi oleh bakteri Nitrifikasn

Bakteri Nitrosomonas mengubah amoniak dan senyawa ammonium menjadi nitrat oleh Nitrobacter. Apabila oksigen dalam tanah terbatas, nitrat dengan cepat ditransformasikan menjadi gas nitrogen atau oksida nitrogen oleh proses yang disebut denitrifikasi.

 

 

 

 

 

 

 

Keseimbangan Nitrogen ini digambarkan pada Gambar

 

Jika kita kaitkan dengan kondisi musim penghujan , maka sebenarnya masih tersedia cukup Nitrogen bagi perkembangan tanaman karena Nitrogen yang telah terlepas atau mengalami volatilisasi (hilang di udara bebas) kembali terikat oleh adanya petir / kilat dan akan kembali ke tanah melalui pertolongan air hujan yang turun. Meskipun Nitrogen seringkali mengalami perubahan bentuk, tetapi sangatlah mudah bagi tanaman untuk menyerap unsur ini akibat adanya keseimbangan siklus Nitrogen tadi. Tanaman menyerap unsur Nitrogen dalam bentuk Ammonium (NH4+) dan Nitrat (NO3-). Keberadaan NH4+ ini sangat relatif bagi tanaman karena mudah mengalami perubahan bentuk menjadi Nitrat Nitrogen (NO3-) akibat proses nitrifikasi

Alternatif pemecahan masalah hilangnya unsur hara akibat pencucian ini adalah dengan memberikan pupuk yang berimbang

namun ada juga yang tanpa diberikan unsur hara makro maupun mikro lewat pupuk melalui slow release (penguraiannya dalam tanah lambat) tetap tersedia nutrisi tanaman tetap terjaga. Selain itu juga perlu diperhatikan keseimbangan siklus unsur hara di alam agar tetap terjaga kestabilannya sehingga mampu meningkatkan produksi tanaman.

Jadi sebelum dipahami gambar Daur nitrogen itu perlu pemahaman Dari mana saja Nitrogen ditanah ? OK

lewat hujan yang membawa material N dari udara *(NOx , HNO3 karena petir)

lewat sentuhan petir dari udara ( meskipun banyak orang yang mati kesamber petir tetapi daerahnya subur)

dari demineralisasi / penguraian oleh dekomposer bahan mati yang mengandung protein (CHON) dari Proses pengendapan akibat suatu tempat terkena erosi / pencucian pemberian pupuk buatan atau alami proses Fiksasi oleh organisme mikro yang handal punya kemampuan mengikat gas Inert N22 udara yang tidak dipunyai oleh organisme tumbuhan tingkat tinggi Nitrifikasi oleh bakteri nitrifikans yang luar biasa ( kalau Denitrifikasi justru mengembalikaan Nitrogen ke udara )

 

Oksidasi senyawa nitrit menjadi nitrat oleh bakteri nitrat. Prosesnya dinamakan nitratasi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA
Bardgett, R.D. 2008. The Biology of Soil : A community and Ecosystem Approach. Oxford University Press. London

Brady, N.C. 1984. The Nature and Properties of Soils. Mac Millan Publishing Company. New York.

Brady, N. C. 1974. The Nature and Properties of Soils. 8th Edition. Mac Millan Publishing CO.Inc. New York.

Brady, N. C and R.R. Weil .2008. The Nature and Properties of Soils. 40th Edition. Pearson Hall. New Jersey.

Damanik, M.M.B ; B.E. Hasibuan ; Fauzi ; Sarifuddin ; H. Hanum. 2011. Kesuburan Tanah dan Pemupukan. USU Press. Medan.

Foth, H.D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah. 6th Edition. Penerjemah : Soenartono Adisoemartono. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Jones, U.S. 1982. Fertilizers and Soil Fertility. Reston Publishing Company. Prentice-Hall Company. Virginia.

Suryadientina. 2009. Denitrifikasi. Diakses dari http://biogen.litbang.deptan.go.id. Pada tanggal 26 April 2011.

White, R.E. 1987. Introduction to The Principles and Practices of Soil Science. Blackwell Scientific Publications. Melbourne.

Williams, C.N ; J.O U 20 ; W.T.H. Peregrine. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropika. Penerjemah : S. Ronoprawiro. UGM Press. Yogyakarta

 

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on TUGAS MANAJEMEN KESUBURAN TANAH

TUGAS TUTORIAL TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBER DAYA LAHAN ANALISIS KASUS MENGGUNAKAN KAJIAN HUKUM PERTANIAN LOKASI PENGAMATAN DUSUN KEKEP, KEC TULUNGREJO, KABUPATEN BUMIAJI, BATU

TUGAS TUTORIAL

TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBER DAYA LAHAN

ANALISIS KASUS MENGGUNAKAN KAJIAN HUKUM PERTANIAN LOKASI PENGAMATAN DUSUN KEKEP, KEC TULUNGREJO, KABUPATEN BUMIAJI, BATU

 (Disusun untuk memenuhi tugas Kuliah TKSDL

Fakultas Pertanian – Universitas Brawijaya Malang)

 

 

Disusun oleh :

Hadi Susilo              115040213111030

Kelas G

 

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

FAKULTAS PERTANIAN

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

MALANG

2013

I. FAKTA

Lokasi pengamatan  dilakukan di Dusun Kekep, Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Pengamatan dilakukan pada plot 4 dengan komoditas yang dominan adalah wortel di mana plot dibagi atas 3 SPL:

Gambar 1. Plot 4 SPL 1

Gambar 2. Plot 4 SPL 2

Gambar 3. Plot 4 SPL 3

Gambar 4. Kondisi DAM

Gambar. Kondisi Umum Dusun Kekep: Kondisi DAS Mikro disekitar pemukiman (foto kiri) dan Kondisi di bagian hulu yang merupakan wilayah Perhutani (foto kanan atas)

Fakta diambil berdasarkan kondisi lapang saat pengamatan  terdiri atas data kepekaan tanah terhadap erosi dan longsor, data pengendalian erosi, data system usaha tani konservasi, dan data jenis komoditas tanaman.

Fakta-fakta tersebut adalah sebagai berikut:

  1. 1.    Data kepekaan tanah terhadap erosi dan longsor
    1. a.    Iklim

Gambar 5 Peta Prakiraan Curah Hujan Bulan Oktober 2013 Prov. Jatim.

Data yang kami peroleh menunjukan tingkat erosi yang cukup tinggi. Hal ini disebabkan oleh kelerengan yang cukup curam dan struktur tanah yang gembur serta masalah tutupan lahan. Didaerah plot 4  ini ada 4 jenis erosi yaitu:

  • Erosi percikan yang disebabkan oleh tidak adanya tutupan lahan sehingga air hujan yang langsung mengenai tanah menyebabkan erosi percik.
  • Erosi lembar, hal ini deisebabkan terkikisnya lapisan atas tanah sewaktu turunnya hujan akibat tanah didaerah ini tidak ada tanaman penutup lahan
  • Erosi alur, erosi ini terjadi pada saluran drainase air yang berada disamping bedengan
  • Longsor, terjadi pada lahan bagian bawah diatas sungai kurang lebih sepanjang 3 meter, hal ini disebabkan karena tutupan lahan berupa tanaman semusim yang hanya memiliki perakaran dangkal serta kemiringan lereng yang cukup curam.
  1. b.    Tanah

Jenis tanah pada Pos 4 tempat kelompok kami praktikum Teknologi Konservasi Sumber Daya Lahan yakni Humic Dystrudepts dengan komposisi sebagai berikut: pasir 65%, pasir halus 33%, debu 20%, liat 15%, bahan organik 4%, struktur 2%, dan permeabilitasnya 2%. Berikut ini juga akan dijelaskan spesifikasi dari masing-masing titik pengamatan di Pos 4:

Titik 1

No

Faktor Pembatas

Kelas Kemampuan Lahan

Data

Kode

Kelas

1

tekstur tanah

2

lereng

80%

l6

3

drainase

agak baik

d1

4

kedalaman efektif

dalam

k0

5

tingkat erosi

ringan

e1

6

batu/kerikil

tidak ada

b0

7

bahaya banjir

tidak pernah

o0

kelas kemampuan lahan
faktor pembatas
sub kelas kemampuan lahan

 

Titik 2

No

Faktor Pembatas

Kelas Kemampuan Lahan

Data

Kode

Kelas

1

tekstur tanah

lempung berpasir

t4

2

lereng

50%

l5

3

drainase

baik

d0

4

kedalaman efektif

dangkal

k2

5

tingkat erosi

sedang

e2

6

batu/kerikil

tidak ada

b0

7

bahaya banjir

tidak pernah

o0

kelas kemampuan lahan
faktor pembatas
sub kelas kemampuan lahan

 

Titik 3

No

Faktor Pembatas

Kelas Kemampuan Lahan

Data

Kode

Kelas

1

tekstur tanah

lempung berpasir

t4

2

lereng

25%

l3

3

drainase

baik

d0

4

kedalaman efektif

dangkal

k2

5

tingkat erosi

ringan

e1

6

batu/kerikil

tidak ada

b0

7

bahaya banjir

tidak pernah

o0

kelas kemampuan lahan
faktor pembatas
sub kelas kemampuan lahan

 

Bahan Induk

Secara umum tanah yang berkembang di Sub DAS Brantas Hulu yakni DAS di Dusun Kekep berasal dari bahan volkanik hasil gunung api, yang dipengaruhi oleh letusan Gunung Arjuno. Dan sebaran geologi yang dijumpai di kawasan tersebut berupa bahan-bahan volkan yang berupa breksi gunung api, tuf breksi, lava, tuf dan aglomerat.

c. Elevasi

Ketinggian dari Dusun Kekep Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji Kota Batu, Malang mempunyai ketinggian 1200 m dpl. Dan Desa Tulungrejo adalah salah satu desa yang terletak di lereng gunung Arjuno. Desa yang berhawa dingin ini berada di dalam wilayah kecamatan Bumiaji dan memiliki luas ± 761.435 Ha.

d. Lereng

Kondisi wilayah/lereng di Pos 4 tempat kami praktikum yakni sebagai berikut:

Titik

Kemiringan Lereng

Panjang Lereng

Beda Tinggi

Bentuk Lereng

1.

80%

> 300 meter

Bergunung

2.

50%

30 meter

> 300 meter

Bergunung

3.

25%

27,6 meter

50-300 meter

Berbukit

4.

13%

60 meter

10-50 meter

Bergelombang

 

e. Laju Erosi

Untuk mengukur laju erosi di Pos 4 dilakukan dengan menggunakan rainfall simulator pada lahan terbuka dan yang tertutup vegetasi. Namun pada saat mengukur laju erosi dengan menggunakan rainfall simulator di lahan yang tertutup vegetasi terjadi hujan sehingga tidak dilakukan pengukuran laju erosi pada lahan yang tertutup vegetasi. Jadi pengukuran laju erosi hanya dilakukan pada lahan yang terbuka saja dengan hasil 2800 ml = 2,8 liter dalam waktu 1 menit 2 detik. Jadi laju erosinya 0,045 liter/s.

f. Sedimentasi

Untuk mengukur besarnya sedimentasi di sungai dilakukan dengan menggunakan alat Secchi Disc. Hasil pengukurannya menunjukkan bahwa sedimentasi di sungai dari lurusnya lahan yang tertutup vegetasi lebih rendah daripada sedimentasi di sungai dari lurusnya lahan yang terbuka. Hal ini dibuktikan dengan adanya data :

  • Lahan Tertutup Vegetasi
Sungai Bagian

Panjang Tali Secchi Disc (cm)

Kedalaman Air Sungai (cm)

Pinggir kanan

12

18

Tengah

16

25

Pinggir kiri

3,5

15

  • Lahan Terbuka
Sungai Bagian

Panjang Tali Secchi Disc (cm)

Kedalaman Air Sungai (cm)

Pinggir kanan

4,5

14

Tengah

7,5

13

Pinggir kiri

6,5

15,5

Jadi, keberadaan sedimentasi di dalam air dapat diketahui dari kekeruhannya. Semakin keruh air berarti semakin tinggi konsentrasi sedimentasinya. Oleh karena itu, konsentrasi sedimen dapat didekati dari hasil pengukuran tingkat kekeruhan air. Metode cepat untuk mengukur kekeruhan di lapangan dapat dilakukan dengan menggunakan “Secchi Disc” atau piringan yang berwarna hitam-putih. “Secchi Disc” ini digunakan sebagai tanda batas pandangan mata pengamat ke dalam air, semakin keruh air, batas penglihatan mata semakin dangkal (artinya panjang tali Secchi Disc semakin pendek dan kedalaman air semakin dangkal).

 

 

  1. 2.    Data pengendalian erosi (identifikasi dan deliniasi daerah rawan longsor serta teknik pengendalian longsor)

Pengendalian erosi yang dilakukan pada daerah tersebut yaitu dengan  menggunakan cara mekanis. Hal ini dilakukan melalui pembuatan teras gulud pada lahan tanaman budidaya. Tujuan pembuat teras gulud ini adalah untuk mengurangi panjang lereng sehingga potensi terjadinya erosi dapat diminimalisir.

Data Pengendalian Erosi

Macam Erosi

Deskripsi Kondisi dan Upaya Pengendalian Erosi

Erosi Percikan
  • Terjadi pada titik pengamatan 2, 3 dan 4
  • Kondisi :
  1. Kemiringan lereng : 50% (titik 2), 25% (titik 3) dan 13% (titik 4).
  2. Potensi Erosi : 35%.
  3. Erosi yang terjadi sedang dengan ciri yang ditunjukkan tanah agak sedikit mengerut.
  • Ciri-ciri :
  1. Ada lubang-lubang kecil hasil air hujan.
  2. Biasanya terjadi di bedengan.
  • Upaya Pengendalian Erosi di lapang :

Pengaturan jarak tanam dan vegetasi yang ditanam di bedengan (seperti wortel atau kubis) tidak terlalu lebar.

Erosi Alur
  • Terjadi pada titik pengamatan 1, 2, 3, dan 4
  • Kondisi :
  1. Kemiringan lereng : 80% (titik 1), 50% (titik 2), 25% (titik 3) dan 13% (titik 4).
  2. Potensi Erosi : 15%
  • Ciri-ciri :

Alur-alur yang terbentuk oleh pengikisan amat jelas dan bentuknya relatif lurus di daerah yang berlereng dan berkelok.

  • Upaya Pengendalian Erosi di lapang :

Menanam semak dan tanaman tahunan yang memiliki perakaran yang kuat pada titik 1 dengan rapat agar tanah dapat dicengkram oleh tanaman tahunan dan semak tersebut sehingga dapat mencegah erosi ke bagian lahan di bawahnya. Sedangkan lahan bagian bawah tersebut, upaya pengendalian erosi alurnya dengan cara membuat guludan bentuk sisir yang searah dengan kontur dan di atas guludan tersebut ditanami tanaman wortel.

 

  1. 3.    Data sistem usaha tani konservasi (prinsip usaha tani konservasi, pengendalian longsor, komponen teknik sistem usaha tani konservasi)

Dalam sistem usaha tani konservasi di daerah tersebut dengan cara membiarkan rumput tumbuh di sekitar pematang lahan tanaman budidaya. Selain itu juga ada beberapa pohon besar yang tumbuh di pinggiran bedengan. Pohon besar atau tanaman tahunan diketahui memiliki perakaran yang dalam sehingga mampu menyangga tanah dari bahaya erosi. Konservasi tanah merupakan suatu tindakan atau perlakuan untuk mencegah kerusakan tanah atau memperbaiki lahan yang telah rusak. Metode konservasi tanah dibagi tiga teknik tindakan, yaitu : (a) metode vegetatif, (b) metode mekanik, dan (c) metode kimia. Konservasi tanah di Pos 4 dilakukan dengan metode mekanik salah satunya adalah pembuatan teras. Dan jenis teras yang digunakan sebagai tindakan konservasi di Pos 4 adalah teras bangku (bench terrace). Teras mempunyai fungsi mengurangi panjang lereng dan menahan air sehingga dapat mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan (runoff), serta meningkatkan infiltrasi yang selanjutnya mengurangi laju erosi. Teras bangku adalah bangunan teras yang dibuat sedemikian rupa sehingga bidang olah miring ke belakang (reverse back slope) dan dilengkapi dengan bangunan pelengkap lainnya untuk menampung dan mengalirkan air permukaan secara aman dan terkendali. Teras bangku juga merupakan serangkaian dataran yang dibangun sepanjang kontur pada interval yang sesuai. Bangunan ini dilengkapi dengan saluran pembuangan air (SPA).

  1. 4.    Data jenis komoditas tanaman (persyaratan fisiologis dan agronomis)

Dalam budidaya pertanian di lahan pegunungan sangat rawan terjadi longsor dan erosi, jenis tanaman yang akan dikembangkan dipilih sesuai dengan persyaratan tumbuh masing-masing jenis tanaman. Hal ini penting untuk optimasi pemanfaatan lahan, peningkatan produktifitas, efisiensi, dan keberlanjutan usahatani. Jenis komoditas yang diusahakan di plot 1 SPL 2 dan SPL 3 adalah wortel dan sedangkan di SPL 1 merupakan lahan kosong (bero) pada bagian atas. Penggunaan lahan di Pos 4, sebagian besar digunakan sebagai lahan penanaman tanaman semusim yang akan diambil hasil panennya setiap 3-4 bulan sekali. Dan jenis komoditas yang diusahakan di lahan bagian bawah adalah tanaman budidaya seperti wortel (titik pengamatan 3 dan 4), kubis yang ditumpangsarikan dengan bawang prei (titik pengamatan 2). Sedangkan lahan bagian atas (titik pegamatan 1) ditutupi oleh tumbuhan berupa pepohonan seperti pohon sengon dan semak. Diduga tingkat pengolahan lahan di Pos 4 (titik pengamatan 2, 3 dan 4) yang ditanami tanaman budidaya cukup tinggi, karena tanaman yang ditanam di lahan tersebut mayoritas adalah tanaman musiman dengan jarak waktu antara masa tanam hingga masa panen sekitar 3-4 bulan (panen bisa 3-4 kali dalam masa satu tahun).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II. FAKTA HUKUM:

Fakta hukum yang dapat dijumpai berdasarkan kondisi lapang tempat dilakukan pengamatan baik di lahan budidaya ataupun kualitas air yang diamati adalah sebagai berikut:

  1. 1.    Siapa (pelaku, saksi, dan korban) perusakan
    1. Berdasarkan pengamatan yang ada dilapang dapat dilihat penyebab kerusakan lahan akibat dari pengelolaan lahan secara intensif dan penggunan lereng yang memiliki derajat kemiringan cukup tinggi digunakan sebagai lahan pertanian yang dilakukan oleh petani masyarakat sekitar. Pelaku : Dari pengamatan yang ada dilapang dapat dilihat penyebab kerusakan lahan akibat dari pengelolaan lahan secara intensif dan penggunan lereng sebagai lahan pertanian yang dilakukan oleh petani masyarakat sekitar dan juga pihak Perhutani. Karena pada tahun 1963, masyarakat mulai menanam sayur-sayuran dan mulai ada yang menanam di kawasan hutan atas seijin pihak Jawatan Kehutanan (sekarang Perhutani).

Saksi : Petani yang melakukan perusakan pada lahan pertanian tersebut.

Korban : Masayarakat sekitar dusun kekep desa tulungrejo, kecamatan bumiaji, kota Batu, Malang.

  1. 2.    Apa (kerusakan atau akibat kerusakan)

Penggunaan alih fungsi dari lahan hutan menjadi lahan pertanian (deforestasi) yang mengakibatkan pada rusaknya lahan mulai dari tingkat kesuburan tanah maupun potensi erosi di daerah lereng karena  di daerah ini memiliki derajat kemiringan yang cukup tinggi dan tetap sebagai lahan pertanian semusim. Tanaman semusim yang digunakan didaerah ini adalah wortel yang memiliki perakaran dangkal sehingga tidak mampu menjaga tanah dari bahaya erosi pada saat musim hujan datang.

  1. 3.    Dimana (lokasi perusakan dan / atau perusakan yang diikuti dengan berbagai dampaknya)

pada pengamatan yang kami amati adalah POS 4, dusun kekep desa tulungrejo, kecamatan bumiaji, kota Batu, Malang.  Dapat dilihat dari tanah yang telah terdegradasi dibagian atas bukit dan banyaknya sedimentasi di area hulu sungai.

 

 

  1. 4.    Dengan apa (kerusakan dan / atau perusakan dapat terjadi)

Kerusakan yang terjadi akibat kurangnya penanaman tanaman tahunan di daerah pertanaman. Selain itu, pembabatan gulma yang intensif dan secara menyeluruh juga berpengaruh terhadap tingginya potensi erosi pada lahan. Hal ini ini ditambah dengan kondisi lereng yang curam dan juga jenis tanahnya yang berdebu. kurangnya penanaman tanaman tahunan, pembabatan tanaman gulma baik dilahan maupun di pinggir sungai sampai bersih. Budidaya tanaman dengan mengabaikan faktor-faktor konservasi umberdaya lahan. Tingkat kelerengan yang mencapai 50 hingga 60%.

  1. 5.    Mengapa (Kerusakan dan / atau persakan dapat terjadi)

Alih fungsi lahan dari hutan menjadi lahan pertanian tanaman musiman semakin mengurangi tanaman tahunan yang berguna sebagai penyanggah tanah dari bahaya erosi sehingga efek yang ditimbulkan kerusakan lahan akan semakin besar. Lahan di daerah ini seharusnya digunakan sebagai perkebunan rakyat, namun akibat persepsi petani, sekarang justru dijadikan lahan pertanian tanaman semusim. dengan berkurangnya tanaman tahunan yang berguna sebagai penyanggah tanah sehingga efek yang ditimbulkan kerusakan lahan akan semakin besar dan juga kurangnya pengetahuan petani mengenai budidaya dengan memperhatikan aspek konervasi sumberdaya lahan.

  1. 6.    Bagaimana (kronologi kerusakan dan / atau perusakan dapat terjadi

Pertama-tama dengan melakukan pembukaan lahan hutan dengan penebangan atau pembakaran yang mengurangi jumlah tutupan lahan, lalu tanah diolah dan ditanami tanaman yang tidak cocok dengan kemampuan lahan tersebut sehingga lama kelamaan terjadi degradasi. Begitu seterusnya sampai berpindah sampai ke lahan bawahnya.

  1. 7.    Bilamana (kerusakan dan / atau perusakan terjadi

Jika kerusakan lahan sudah terjadi dibutuhkan penanganan perbaikan lahan dengan membutuhkan teknologi konservasi lahan yang sesuai dengan kondisi aktual di lahan. Namun sebelum melakukan tindakan perbaikan perlunya kesadaran untuk merubah pola pikir masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan agar lahan dapat terus berproduksi secara berkelanjutan dan ekosistemnya menjadi sehat.

 

III. NORMA / TEORI HUKUM

Peraturan perundang-undangan terkait dengan pemanfaatan teknologi konservasi sumberdaya laha, yaitu diikuti dengan asas / teori hukumnya, antara lain:

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 / PERMENTAN / OT.140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan:

  1. 1.    Faktor kepekaan tanah terhadap erosi dan longsor;

Pengetahuan tentang faktor penentu kepekaan tanah terhadap longsor dan erosi akan memperkaya wawasan dan memperkuat landasan dari pengambil keputusan, penanggung jawab lapangan, teknisi, penyuluh dan organisasi kemasyarakatan dalam menyusun program dan melaksanakan teknik penanggulangan longsor dan erosi di daerah kewenangannya.

Longsor dan erosi adalah proses berpindahnya tanah atau batuan dari satu tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah akibat dorongan air, angin, atau gaya gravitasi. Proses tersebut melalui tiga tahapan, yaitu pelepasan, pengangkutan atau pergerakan, dan pengendapan. Perbedaan menonjol dari fenomena longsor dan erosi adalah volume tanah yang dipindahkan, waktu yang dibutuhkan, dan kerusakan yang ditimbulkan. Longsor memindahkan massa tanah dengan volume yang besar, adakalanya disertai oleh batuan dan pepohonan, dalam waktu yang relatif singkat, sedangkan erosi tanah adalah memindahkan partikel-partikel tanah dengan volume yang relatif lebih kecil pada setiap kali kejadian dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Dua bentuk longsor yang sering terjadi di daerah pegunungan adalah:

  • Guguran, yaitu pelepasan batuan atau tanah dari lereng curam dengan gaya bebas atau bergelinding dengan kecepatan tinggi sampai sangat tinggi (Gambar 1a). Bentuk longsor ini terjadi pada lereng yang sangat curam (>100%).
  • Peluncuran, yaitu pergerakan bagian atas tanah dalam volume besar akibat keruntuhan gesekan antara bongkahan bagian atas dan bagian bawah tanah (Gambar 1b). Bentuk longsor ini umumnya terjadi apabila terdapat bidang luncur pada kedalaman tertentu dan tanah bagian atas dari bidang luncur tersebut telah jenuh air.

 

 

Gambar 6. Bentuk longsor yang sering terjadi di Indonesia: a) guguran, dan b) peluncuran.

Sekitar 45% luas lahan di Indonesia berupa lahan pegunungan berlereng yang peka terhadap longsor dan erosi. Pegunungan dan perbukitan adalah hulu sungai yang mengalirkan air permukaan secara gravitasi melewati celah-celah lereng ke lahan yang letaknya lebih rendah. Keterkaitan antara daerah aliran sungai (DAS) hulu, tengah, dan hilir diilustrasikan pada Gambar 6. Keterkaitan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

  • Penggundulan hutan di DAS hulu atau zona tangkapan hujan akan mengurangi resapan air hujan, dan karena itu akan memperbesar aliran permukaan. Aliran permukaan adalah pemicu terjadinya longsor dan/atau erosi dengan mekanisme yang berbeda.
  • Budidaya pertanian pada DAS tengah atau zona konservasi yang tidak tepat akan memicu terjadinya longsor dan/atau erosi. Pengendalian aliran permukaan merupakan kunci utama. Pada daerah yang tidak rawan longsor, memperbesar resapan air dan sebagai konsekuensinya adalah memperkecil aliran permukaan merupakan pilihan utama. Sebaliknya, jika daerah tersebut rawan longsor, aliran permukaan perlu dialirkan sedemikian rupa sehingga tidak menjenuhi tanah dan tidak memberbesar erosi.
  • Air yang meresap ke dalam lapisan tanah di zona tangkapan hujan dan konservasi akan keluar berupa sumber-sumber air yang ditampung di badan-badan air seperti sungai, danau, dan waduk untuk pembangkit listrik, irigasi, air minum, dan penggelontoran kota.

Kedalaman atau solum, tekstur, dan struktur tanah menentukan besar kecilnya air limpasan permukaan dan laju penjenuhan tanah oleh air. Pada tanah bersolum dalam (>90 cm), struktur gembur, dan penutupan lahan rapat, sebagian besar air hujan terinfiltrasi ke dalam tanah dan hanya sebagian kecil yang menjadi air limpasan permukaan. Sebaliknya, pada tanah bersolum dangkal, struktur padat, dan penutupan lahan kurang rapat, hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi dan sebagian besar menjadi aliran permukaan.

Faktor lain yang menentukan kelongsoran tanah adalah ketahanan gesekan bidang luncur. Faktor yang menentukan ketahanan gesekan adalah:

  • gaya saling menahan di antara dua bidang yang bergeser,
  • mekanisme saling mengunci di antara partikel-partikel yang bergeser.

Untuk kasus pertama, partikel hanya menggeser di atas partikel yang lain dan tidak terjadi penambahan volume. Untuk kasus kedua, terjadi penambahan volume karena partikel yang bergeser mengatur kedudukannya sedemikian rupa, sehingga menyebabkan keruntuhan.

Ketahanan gesekan ditentukan oleh bentuk partikel. Pada partikel berbentuk lempengan seperti liat, penambahan air mempercepat keruntuhan. Sebaliknya pada partikel berbentuk butiran seperti kuarsa dan feldspar, penambahan air memperlambat keruntuhan.

Pegunungan dan perbukitan adalah hulu sungai yang mengalirkan air permukaan secara gravitasi melewati celah-celah lereng ke lahan yang letaknya lebih rendah. Keterkaitan antara daerah aliran sungai (DAS) hulu, tengah, dan hilir diilustrasikan pada Gambar 2. Keterkaitan tersebut dijelaskan sebagai berikut:

(1). Penggundulan hutan di DAS hulu atau zona tangkapan hujan akan mengurangi resapan air hujan, dan karena itu akan memperbesar aliran permukaan. Aliran permukaan adalah pemicu terjadinya longsor dan/atau erosi dengan mekanisme yang berbeda.

(2). Budidaya pertanian pada DAS tengah atau zona konservasi yang tidak tepat akan memicu terjadinya longsor dan/atau erosi. Pengendalian aliran permukaan merupakan kunci utama. Pada daerah yang tidak rawan longsor, memperbesar resapan air dan sebagai konsekuensinya adalah memperkecil aliran permukaan merupakan pilihan utama. Sebaliknya, jika daerah tersebut rawan longsor, aliran permukaan perlu dialirkan sedemikian rupa sehingga tidak menjenuhi tanah dan tidak memberbesar erosi.

(3). Air yang meresap ke dalam lapisan tanah di zona tangkapan hujan dan konservasi akan keluar berupa sumber-sumber air yang ditampung di badan-badan air seperti sungai, danau, dan waduk untuk pembangkit listrik, irigasi, air minum, dan penggelontoran kota.

 

Faktor yang mempengaruhi terjadinya longsor dan erosi adalah faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yang utama adalah iklim, sifat tanah, bahan induk, elevasi, dan lereng. Faktor manusia adalah semua tindakan manusia yang dapat mempercepat terjadinya erosi dan longsor. Faktor alam yang menyebabkan terjadinya longsor dan erosi diuraikan berikut ini.

1.1.    Iklim

Curah hujan adalah salah satu unsur iklim yang besar perannya terhadap kejadian longsor dan erosi. Air hujan yang terinfiltrasi ke dalam tanah dan menjenuhi tanah menentukan terjadinya longsor, sedangkan pada kejadian erosi, air limpasan permukaan adalah unsur utama penyebab terjadinya erosi.

Hujan dengan curahan dan intensitas yang tinggi, misalnya 50 mm dalam waktu singkat (<1 jam), lebih berpotensi menyebabkan erosi dibanding hujan dengan curahan  yang sama namun dalam waktu yang lebih lama (>1 jam). Namun curah hujan yang sama tetapi berlangsung lama (>6 jam) berpotensi menyebabkan longsor, karena pada kondisi tersebut  dapat  terjadi  penjenuhan  tanah  oleh  air  yang  meningkatkan massa   tanah.   Intensitas   hujan   menentukan   besar   kecilnya   erosi, sedangkan longsor ditentukan oleh kondisi jenuh tanah oleh air hujan dan keruntuhan  gesekan  bidang  luncur.  Curah  hujan  tahunan  >2000  mm terjadi pada sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini berpeluang besar menimbulkan erosi, apalagi di wilayah pegunungan yang lahannya didominasi oleh berbagai jenis tanah.

1.2      Tanah

Kedalaman atau solum, tekstur, dan struktur tanah menentukan besar kecilnya air limpasan permukaan dan laju penjenuhan tanah oleh air. Pada tanah bersolum dalam (>90 cm), struktur gembur, dan penutupan lahan rapat, sebagian besar air hujan terinfiltrasi ke dalam tanah dan hanya sebagian kecil yang menjadi air limpasan permukaan. Sebaliknya, pada tanah bersolum dangkal, struktur padat, dan penutupan lahan kurang rapat, hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi dan sebagian besar menjadi aliran permukaan (Gambar 7).

 

Hubungan antara struktur lapisan tanah dan penutupan lahan terhadap jumlah infiltrasi

Faktor lain yang menentukan kelongsoran tanah adalah ketahanan gesekan bidang luncur. Faktor yang menentukan ketahanan gesekan adalah: a) gaya saling menahan di antara dua bidang yang bergeser, dan b) mekanisme saling mengunci di antara partikel-partikel yang bergeser. Untuk kasus pertama, partikel hanya menggeser di atas partikel yang lain dan tidak terjadi penambahan volume. Untuk kasus kedua, terjadi penambahan volume karena partikel yang bergeser mengatur kedudukannya sedemikian rupa, sehingga menyebabkan keruntuhan.

Ketahanan gesekan ditentukan oleh bentuk partikel. Pada partikel berbentuk lempengan seperti liat, penambahan air mempercepat keruntuhan. Sebaliknya pada partikel berbentuk butiran seperti kuarsa dan feldspar, penambahan air memperlambat keruntuhan.

Bahan induk tanah

Sifat bahan induk tanah ditentukan oleh asal batuan dan komposisi mineralogi yang berpengaruh terhadap kepekaan erosi dan longsor. Di daerah pegunungan, bahan induk tanah didominasi oleh batuan kokoh dari batuan volkanik, sedimen, dan metamorfik. Tanah yang berbentuk dari batuan sedimen, terutama batu liat, batu liat berkapur atau marl dan batu kapur, relatif peka tehadap erosi dan longsor. Batuan volkanik umumnya tahan erosi dan longsor.

Salah satu ciri lahan peka longsor adalah adanya rekahan tanah selebar >2 cm dan dalam >50 cm yang terjadi pada musim kemarau. Tanah tersebut mempunyai sifat mengembang pada kondisi basah dan mengkerut   pada   kondisi   kering,   yang   disebabkan   oleh   tingginya kandungan  mineral  liat  tipe  2:1  seperti  yang  dijumpai  pada  tanah Grumusol (Vertisols). Pada kedalaman tertentu dari tanah podsolik atau Mediteran terdapat akumulasi liat (argilik) yang pada kondisi jenuh air dapat juga berfungsi sebagai bidang luncur pada kejadian longsor.

1.3 Elevasi

Elevasi adalah istilah lain dari ukuran ketinggian lokasi di atas permukaan laut. Lahan pegunungan berdasarkan elevasi dibedakan atas dataran medium (350-700 m dpl) dan dataran tinggi (>700 m dpl). Elevasi berhubungan erat dengan jenis komoditas yang sesuai untuk mempertahankan kelestarian lingkungan. Badan Pertanahan Nasional menetapkan lahan pada ketinggian di atas 1000 m dpl dan lereng >45% sebagai kawasan usaha terbatas, dan diutamakan sebagai kawasan hutan lindung. Sementara, Departemen Kehutanan menetapkan lahan dengan ketinggian >2000 m dpl dan/atau lereng >40% sebagai kawasan lindung.

 

1.4 Lereng

Lereng atau kemiringan lahan adalah salah satu faktor pemicu terjadinya erosi dan longsor di lahan pegunungan. Peluang terjadinya erosi dan longsor makin besar dengan makin curamnya lereng. Makin curam lereng makin besar pula volume dan kecepatan aliran permukaan yang berpotensi menyebabkan erosi. Selain kecuraman, panjang lereng juga menentukan besarnya longsor dan erosi. Makin panjang lereng, erosi yang terjadi makin besar. Pada lereng >40% longsor sering terjadi, terutama disebabkan oleh pengaruh gaya gravitasi. Kondisi wilayah/lereng dikelompokkan sebagai berikut :

Datar                      : lereng <3%, dengan beda tinggi <2 m.

Berombak             : lereng 3-8%, dengan beda tinggi 2-10 m.

Bergelombang     : lereng 8-15%, dengan beda tinggi 10-50 m.

Berbukit    : lereng 15-30%, dengan beda tinggi 50-300 m.

Bergunung           : lereng >30%, dengan beda tinggi >300 m.

Erosi dan longsor sering terjadi di wilayah berbukit dan bergunung, tertama pada tanah berpasir (Regosol atau Psamment), Andosol (Andisols),  tanah  dangkal  berbatu  (Litosol  atau  Entisols),  dan  tanah dangkal berkapur (Renzina atau Mollisols). Di wilayah bergelombang, intensitas erosi dan longsor agak berkurang, kecuali pada tanah Podsolik (Ultisols), Mediteran (Alfisols), dan Grumusol (Vertisols) yang terbentuk dari batuan induk batu liat, napal, dan batu kapur dengan kandungan liat 2:1 (Montmorilonit) tinggi, sehingga pengelolaan lahan yang disertai oleh tindakan  konservasi  sangat  diperlukan.  Dalam  sistem  budidaya  pada lahan berlereng >15% lebih diutamakan campuran tanaman semusim dengan tanaman tahunan atau sistem wanatani (agroforestry).

  1. 2.    Faktor Pengendali Erosi

Daerah rawan longsor harus dijadikan areal konservasi, sehingga bebas dari kegiatan pertanian, pembangunan perumahan dan infrastruktur. Apabila lahan digunakan untuk perumahan maka bahaya longsor akan meningkat, sehingga dapat mengancam keselamatan penduduk di daerah tersebut dan di sekitarnya. Penerapan teknik pengendalian longsor diarahkan ke daerah rawan longsor yang sudah terlanjur dijadikan lahan pertanian. Areal rawan longsor yang belum dibuka direkomendasikan untuk tetap dipertahankan dalam kondisi vegetasi permanen, seperti cagar alam, kawasan konservasi, dan hutan lindung.

Pengendalian longsor dapat direncanakan dan diimplementasikan melalui pendekatan mekanis (sipil teknis) dan vegetatif atau kombinasi keduanya. Pada kondisi yang sangat parah, pendekatan mekanis seringkali bersifat mutlak jika pendekatan vegetatif saja tidak cukup memadai untuk menanggulangi longsor.

  1. 3.    Faktor Sistem Usahatani Konservasi

Budidaya pertanian pada lahan pegunungan yang sesuai dengan kondisi alam seyogyanya menerapkan sistem usahatani (SUT) konservasi yang tepat. Pengertian SUT konservasi adalah sebagai berikut:

  • SUT pada hakekatnya adalah pemanfaatan sumberdaya lahan, yang dimiliki oleh petani (dikelola secara individual atau berkelompok) atau pengusaha melalui penanaman tanaman dan/atau pemelihara-an ternak dengan memperhatikan keterkaitan antar komoditas secara harmonis agar hasil yang diperoleh optimal.
  • Konservasi adalah upaya pengendalian erosi dari lahan pertanian berlereng secara vegetatif dan mekanis, jenis tanaman yang ditanam sebagai bagian dari teknik pengendalian erosi adalah elemen yang tidak terpisahkan dari SUT.
  • Teknik pengendalian erosi harus diterapkan, karena dampaknya menyangkut seluruh DAS, dan untuk keberlanjutan produktivitas SUT itu sendiri, jenis tanaman yang ditanam dan kombinasinya dapat berubah sesuai dengan permintaan pasar.
  • Sumberdaya lahan yang dimiliki oleh petani dan pengusaha dapat berupa lahan kering berlereng, lahan pekarangan, lahan sawah tadah hujan dalam satu ekosistem lahan kering berlereng atau kombinasi dengan lahan pekarangan, atau kombinasi dengan lahan sawah tadah hujan, atau kombinasi ketiga ekosistem.
  1. 4.    Faktor Jenis Komoditas Tanaman

Lahan pegunungan yang meliputi sekitar 45% daratan Indonesia dengan iklim dan jenis tanah yang berbeda mempunyai karakteristik lingkungan tumbuh tanaman yang heterogen. Lingkungan tumbuh demikian memenuhi persyaratan fisiologis bagi jenis-jenis tanaman tertentu.

Kelompok jenis tanaman berdasarkan persyaratan fisiologis harus memenuhi persyaratan agronomis yang diekspresikan dalam tingkat kesesuaian tanaman bagi berbagai karakteristik fisik dan kimia tanah. Jenis-jenis tanaman ini yang akan ditanam pada bidang olah lahan berlereng yang telah diteras dan di lahan pekarangan.

Tabel 4.Pengelompokan tanaman pangan menurut agroekosistem lahan pegunungan

Tabel 5. Pengelompokan tanaman sayuran menurut agroekosistem lahan pegungan

Tabel 6. Pengelompokan tanaman tahunan buah-buahan dan perkebunan berdasarkan agroekosistem lahan pegunungan

Tabel 7. Pengelompokan tanaman rempah dan obat menurut agroekosistem lahan pegunungan

IV. ANALISA HUKUM

Keterkaitan antara fakta / fakta hukum dengan peraturan perundang-undangan dan / atau teori hukum, antara lain:

Fakta lokasi budidaya pertanian pada lahan pegunungan dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 / PERMENTAN / OT.140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan dan / atau kearifan lokal budaya petani pada lahan pegunungan.

Kegiatan budidaya pertanian pada area konservasi yang tidak tepat akan memicu terjadinya longsor dan/atau erosi. Pengendalian aliran permukaan merupakan kunci utama. Pada daerah yang tidak rawan longsor, memperbesar resapan air dan sebagai konsekwensinya adalah memperkecil aliran permukaan merupakan pilihan utama. Sebaliknya, jika daerah tersebut rawan longsor, aliran permukaan perlu dialirkan sedemikian rupa sehingga tidak menjenuhi tanah dan tidak memperbesar  erosi Faktor yang mempengaruhi terjadinya longsor dan erosi adalah faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yang utama adalah iklim, sifat tanah, bahan induk, elevasi, dan lereng. Faktor manusia adalah semua tindakan manusia yang dapat mempercepat terjadinya erosi dan longsor.

Berdasarkan literatur (Juarti, 2004) disebutkan bahawa Banyaknya curah hujan rata-rata, yaitu 8,9 mm dan suhu rata-ratanya yaitu 18-24C. Struktur tanah di Desa Tulungrejo debu berpasir dan kandungan bahan organiknya rendah. Struktur tanah debu berpasir ini sangat mudah tererosi karena daya ikat antar partikelnya lemah. Selain struktur tanah tersebut, juga disebabkan oleh pola tanamnya yang searah dengan kemiringan lereng sehingga mempercepat laju erosi.

  • SPL 1

Dari SPL 1 yang diamati, tanah bertekstur sedang  hingga berlempung dan kedalaman efektif yang dalam  yaitu 80 cm, sedangkan lerengnya  sangat curam  sebesar 80%, drainase agak baik, batu/kerikil tidak ada, bahaya banjir tidak ada . Jika ditinjau dengan PERMENTAN bersangkutan, maka kondisi ini akan menimbulkan hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi  dan sebagian besar  menjadi aliran permukaan. Dengan lereng tersebut, kurang sesuai jika lahan ditanami dengan tanaman semusim karena kondisi lereng yang termasuk wilayah bergunung ini akan sering terjadi longsor dan erosi. Hal ini diperparah dengan kondisi lahan yang terbuka tidak ada tutupan sama sekali sehingga kemungkinan terjadinya lonhsor menjadi lebih besar. Kelas kemampuan lahannya yaitu masuk kelas VI dengan faktor pembatas berupa lereng dan erosi. Dalam sistem budidaya pada lahan dengan kelerengan sepserti ini (>15%) lebih diutamakan campuran tanaman semusim dengan tanaman tahunan atau sistem wanatani (agroforestry). Sehingga diperlukan pengelolaan dan upaya konservasi pada lahan tersebut.

  • SPL 2

Dari SPL 2 yang diamati, tanah bertekstur lempung berpsir dan kedalaman efektif yang dangkal yaitu 30 cm, sedangkan lerengnya  agak curam  sebesar 50%, drainase baik, batu/kerikil tidak ada, bahaya banjir tidak ada. Ditinjau dari PERMENTAN tersebut, maka kondisi ini akan mengakibatkan hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi  dan sebagian besar  menjadi aliran permukaan, sama dengan spl 1. Hanya saja, pada SPL ini aliran permukaan tidak sebesar di SPL 1 karena pada SPL ini sudah terdapat budidaya tanaman musiman yaitu wortel, sedangkan pada SPL 1 tidak ada komoditas yang dibudidayakan.  Sama halnya seperti pada SPL 1, pada SPL 2 ini  termasuk wilayah bergunung ini akan sering terjadi longsor dan erosi, jadi kurang sesuai jikapada  lahan dibudidayakan  tanaman semusim. Dari kondisi ini maka SPL 2 masuk ke dalam kelas kemampuan lahan kelas VI dengan faktor pembatas lereng. Pada kelerengan ini  lebih diutamakan budidaya campuran tanaman semusim dengan tanaman tahunan atau sistem wanatani (agroforestry). Sehingga perlu adanya pengelolaan dan upaya konservasi pada lahan yang bersangkutan.

  • SPL 3

Dari SPL 3 yang diamati, tanah bertekstur lempung berpasir dan kedalaman efektif yang dangkal yaitu 30 cm, sedangkan lerengnya  agak landai 25%, drainase baik, batu/kerikil tidak ada, bahaya banjir tidak ada. Dari kondisi ini menunjukkan bahwa telah tejadi erosi ringan. Pada daerah yang landai akan menjadi tempat terjadinya akumulasi hasil erosi dari daerah yang berada di atasnya. Dilihat dari kelerengannya, lahan ini termasuk ke dalam  lahan berombak. Kelas kemampuan lahannya mesuk ke kelas VIII dengan faktor pembatas tekstur. Kemungkinan terjadinya erosi mungkin tidak lebih besar dibandingkan dengan SPL yang lain, karena justru menjadi daerah penimbunan sedimen dari erosi pada SPL di atasnya. Ditinjau dari segi hukum, penggunaan lahan kurang sesuai. Seperti yang tertera pada Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 / PERMENTAN / OT. 140 / 10 / 2006 bahwa pada persyaratan agronomis, setelah persyaratan fisiologis telah dipenuhi dan jenis tanaman sudah dipilih, maka langkah berikutnya adalah memenuhi persyaratan agronomis lahan utntuk jenis tanaman tersebut. Lokasi sasaran bisa memenuhi persyaratan fisiologis tetapi belum tentu memenuhi persyaratan agronomis. Persyaaratan agronomis yang dimaksud adalah tingkat kesesuaian lahan bagi tanaman. Kondisi tekstur pada SPL ini kurang sesuai dengan persyaratan tumbuh tanaman wortel, selain itu, risiko terjadi erosi juga besar. Jadi penggunaan lahan ini kurang sesuai baik dari segi lingkungan maupun segi hukum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V. KESIMPULAN

 

Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis yang telah dilakukan pada SPL 1, 2, ataupun 3, ditemukan adanya ketidasesuaian Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 / PERMENTAN / OT. 140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan terhadap kondisi lokasi budidaya pertanian pada lahan pegunungan. Kondisi lahan kurang sesuai dengan pembudidayaan tanaman semusim (wortel). Penerapan teras gulud dianggap belum mampu untuk memenuhi kaidah konserasi yang benar karena di sebagian wilayah memiliki kelerengan yang agak curam sehingga dibutuhkan upaya konservasi untuk bisa mempertahankan konkdisi tanah supaya bisa mengurangi potensi erosi di lahan. Jenis komoditas yang ditanam akan sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan suatu lahan  untuk bisa menunjang pertumbuhan tanaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

VI. REKOMENDASI

 

Tindak lanjut, antara lain:

  1. Permasyarakatan serta penerapan secara teknis dan ketentuan hukum terkait dengan teknologi konservasi sumberdaya lahan, yang  meliputi:
  • Teknis, antara lain :
SPL Macam Rekomendasi Penggunaan Lahan Macam rekomendasi Konservasi Tanah secara Teknis Ketentuan Hukum berdasarkan konservasi secara teknis
1 Hutan lindung, hutan produksi, agroforestry tanaman tahunan dengan tanaman musiman dan rumput, lahan padangan Aplikasi teras bangku dengan cara memotong panjang lereng dan meratakan tanah di bagian bawahnya sehingga terjadi deretan bangunan yang terbentuk seperti tangga. Berdasarkan PERMENTAN 47/Permentan/OT.140/10/2006, disebutkan bahwa dengan kedalaman solum tanah <40 cm, 40-25 cm, atau >90 cm, padalereng  15-25 cm dapat dilakukan konservasi tanah secara mekanis dan vegetative yaitu teras bangku, budidaya lorong, pagar hidup, silvipastura, tanaman penutup tanah, rorak,  dan strip tanaman atau rumput dengan proporsi tanaman semusim maksimal 50% dan tanaman tahunan minimal 50%.  Pada lereng 25-40% konservasi yang bisa dilakukan adalah teras bangku, budidaya lorong, pagar hidup, dan tanaman penutup tanah. Pada kelerengan >40% konservasi yang dapat dilakukan adalah dengan teras individu dan teras kebun
2 Hutan lindung, hutan produksi, agroforestry tanaman tahunan dengan tanaman musiman dan rumput, lahan padangan Pembuatan teras bangku dengan kondisi miring ke dalam. Efektifitasnya akan meningkat jika ditanami dengan tanaman penguat di bibir dan tampingan teras.
3 Cagar alam, hutan lindung, agroforestry dengan penambahan pupuk organik Menanam tanaman atau membuat bangunan yang berfungsi untuk menahan material akibat erosi

 

  1. Penelitian dan pengkajian secara teknis dan ketentuan hukum terkait dengan teknologi konservasi sumberdaya lahan
  • Teknis, antara lain :

Karena besarnya variasi lingkungan lahan kering, maka teknologi yang diperlukan juga bervariasi sesuai kondisi setempat. Pada lahan dengan kemiringan lebih dari 15%, pembuatan teras (bangku, kredit, atau gulud) dengan penanaman rumput perlu dipertimbangkan. Pada pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang bertujuan optimal sebaiknya dikaitkan dengan beberapa upaya pokok antara lain : (a) pengolahan lahan yang berlandaskan kaidah konservasi tanah dan air dalam arti luas, (b) pendayagunaan sumberdaya air dan iklim secara optimal, (c) pengelolaan vegetasi hutan, pangan dan pakan, (d) pembinaan sumber daya manusia secara bijaksana, dan (e) pemilihan komoditi sesuai agroekologi.

Konservasi air dapat ditentukan melalui cara-cara yang dapat mengendalikan evaporasim transpirasi, dan aliran permukaan. Pada  lahan kering, teknik konservasi air yang penting meliputi : pengendalian aliran permukaan, penyadapan/pemanenan air, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah, pengolahan tanah minimum dan beberapa upaya pengelolaan air tanah. Pada hakekatnya beberapa tindakan konservasi tanah adalah merupakan tindakan konservasi air

  • Ketentuan hukum, antara lain:

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 47/Permentan/OT.140/10/2006 Bab 5 tentang teknologi budidaya pada system usaha tani konservasi

 

 

 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan teras gulud :

(1) Teras gulud cocok diterapkan pada lahan dengan kemiringan 10-40%, dapat juga pada lahan dengan kemiringan 40-60% namun relative kurang efektif.

(2) Pada tanah yang permeabilitasnya tinggi, guludan dapat dibuat menurut arah kontur. Pada tanah yang permeabilitasnya rendah, guludan dibuat miring terhadap kontur, tidak lebih dari 1% ke arah saluran pembuangan. Hal ini ditujukan agar air yang tidak segera terinfiltrasi ke dalam tanah dapat tersalurkan ke luar ladang dengan kecepatan rendah.

Efektivitas teras bangku sebagai pengendali erosi akan meningkat bila ditanami dengan tanaman penguat teras di bibir dan tampingan teras. Rumput dan legum pohon merupakan tanaman yang baik untuk digunakan sebagai penguat teras. Tanaman murbei sebagai tanaman penguat teras banyak ditanam di daerah pengembangan ulat sutra. Teras bangku adakalanya dapat diperkuat dengan batu yang disusun, khususnya pada tampingan. Model seperti ini banyak diterapkan di kawasan yang berbatu.

Beberapa rekomendasi yang juga perlu ditindak lanjuti bagi keberlanjutan keadaan lanskap disana antara lain sebagai berikut :

  1. Permasyarkatan serta penerapan secara teknis dan ketentuan hukum terkait dengan teknologi konservasi sumberdaya lahan, yang meliputi:
    1. Teknis, antara lain: menerapkan metode vegetative(membuat pertanaman lorong dan strip rumput, menanam tanaman penutup tanah, menggunakan mulsa, pengelompokan tanaman dalam suatu bentang alam, penyesuaian jenis tanaman dengan karakteristik wilayah serta penentuan pola tanam yang tepat) dan metode mekanis (pembuatan teras pada lahan dengan lereng curam, pembuatan guludan dan wind break, menyimpan air hujan serta membuat dam parit).
    2. Ketentuan hukum, antara lain: Peraturan Menteri Pertanian Nomon 47 / PERMENTAN / OT.140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan terhadap kondisi lokasi budidaya pertanian pada lahan pegunungan BAB III Pengendalian Longsor yang menyatakan bahwa daerah rawan longsor harus dijadikan areal konservasi, sehingga bebas dari kegiatan pertanian, pembangunan perumahan daninfrastruktur.Pengendalian longsor dapat direncanakan dan diimplementasikan melalui pendekatan mekanis (sipil teknis) dan vegetatif atau kombinasi keduanya. Pada kondisi yang sangat parah, pendekatan mekanisseringkali bersifat mutlak jika pendekatan vegetatif saja tidak cukupmemadai untuk menanggulangi longsor. Kemudian pada BAB IV Teknologi Budidaya Pada Sistem Usahatani Konservasi juga menyatakan bahwa  Teknik pengendalian erosi harus diterapkan, karena dampaknya menyangkut seluruh DAS, dan untuk berkelanjutan produktivitas SUT itu sendiri, jenis tanaman yang ditanam dan kombinasinya dapat berubah sesuai dengan permintaan pasar.
  2. Penelitian dan pengkajian secara teknis dan ketentuan hukum terkait dengan teknologi konservasi sumberdaya lahan
    1. Teknis, antara lain: diadakan survei yang berkaitan dengan penentuan keseuaian  dan kemampuan lahan yang cocok,  sifat fisika dan biologi tanah dapat diamati pada lahan secara langsung dengan peralatan yang sudah disiapkan. Mengenai sifat yangmenyangkut kimi seperti kadar c organik, kadar N total, Kadar P total, keterseidaan hara, kebutuhan unsur lahan dan tanaman sampai pada analisis tanah untuk menentukan rekomendasi pupuk yang  dibutuhkan pada lahan. Fungsi perencanaan di awal selain mencegah permasalahan pada lahan juga mencegah  serangan hama penayakit melalui penerpan  Pengendalian Hama Terpadu  (PHT) dengan melaksanakan pengendalian diserahkan pada ekosistem alaminya. Dimulai dari pengurangan dosis, waktu, aplikasi pestisida untuk menuju pertanian yang berlanjut secara ekologi, ekonomi, social. Teknis kajian penerapan pola tanam yang tumpang sari perlu diterapkan pada lahan, system wanatani atau agroforestri dapat dijadikan salah satu referensi pola penanaman pada lahan dengan pola pegunungan, dan hal-hal lain sebagai tambahan untuk konservasi.
    2. 2.  Ketentuan hukum, antara lain: Peraturan Menteri Pertanian Nomon 47 / PERMENTAN / OT.140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan terhadap kondisi lokasi budidaya pertanian pada lahan pegunungan BAB V Pengelompokan Jenis Tanaman Pada SUT Konservasi menjelaskan bahwa Dalam budidaya pertanian di lahan pegunungan yang tidak rawan longsor dan erosi, jenis tanaman yang akan dikembangkan dipilih sesuai dengan persyaratan tumbuh masing -masing jenis tanaman. Sesuai dengan peraturan tersebut harus diterapkan karena teknis sudah dijelaskan diatas maka pendekatan kepada petani dan masyrakat sekitar mengenai teknik konservasi lahan yang sudah disesuaikan dengan penggunaan lahan sekitar sebagai pertanian. Pengguna juga harus memahami apabila tidak menerapkan ketentuan yang sudah terdapat dalam peraturan yang dibuat untuk menjaga keberlangsungan lingkungan, kehidupan sosial ekonomi masyarakat yang harmonis dan timbal balik secara bertahap.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Juarti. 2004. Konservasi Lahan dan Air. Malang: Universitas Negeri Malang

Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 / PERMENTAN / OT. 140 / 10 / 2006 tentang Budidaya Pertanian Pada Lahan Pegunungan terhadap kondisi lokasi budidaya pertanian pada lahan pegunungan

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on TUGAS TUTORIAL TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBER DAYA LAHAN ANALISIS KASUS MENGGUNAKAN KAJIAN HUKUM PERTANIAN LOKASI PENGAMATAN DUSUN KEKEP, KEC TULUNGREJO, KABUPATEN BUMIAJI, BATU

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN “REKOMENDASI TINDAKAN KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN DI DUSUN KEKEP KOTA BATU (POS 3)”

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN

“REKOMENDASI TINDAKAN KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN DI DUSUN KEKEP KOTA BATU (POS 3)”

DISUSUN OLEH:

KELOMPOK: 4

KELAS: E

ASISTEN: MAS ENCO[E1] 

 

 

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2013

Judul               : Rekomendasi Tindakan Konservasi Sumberdaya Lahan di Dusun Kekep Kota Batu (Pos 3)

Penyusun         : Kelompok 4

Kelas               : E

 

Ketua Kelompok         : Bergas Redityo                                 115040201111251

Anggota Kelompok    : 1. Destalia Lanny Rachmawati         115040201111045

2. Devi Nur`aini Azizah                      115040201111215

3. Devi Febriana Putri                         115040201111227

4. Dery Pambudi                                 115040207111031

5. Binti Nur Aisah                               115040213111023

6. Devy Kumalasari                            115040213111026

7. Dara Muslimah D.                           115040201111301

8. Dewi Fatmosari                               115040213111001

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI. iii

DAFTAR TABEL.. v

DAFTAR GAMBAR.. vi

DAFTAR LAMPIRAN.. vii

1.       PENDAHULUAN.. 1

1.1        Latar Belakang. 1

1.2        Tujuan. 2

2.       KONDISI UMUM WILAYAH.. 3

3.       METODOLOGI. 5

3.1        Waktu dan Tempat 5

3.2        Alat dan Bahan. 5

3.2.1        Pengenalan Satuan Pengelolaan Konservasi Tanah dan Air 5

3.2.2        Pengenalan Jenis-Jenis Erosi Tanah. 5

3.2.3        Penetapan Faktor-Faktor Erosi Tanah. 5

3.2.4        Teknik Pemetaan untuk Perencanaan Konservasi Tanah dan Air Tingkat Detail 6

3.2.5        Simulasi Implemantasi Teknologi Konservasi Tanah dan Air 6

3.2.6        Pengenalan Dampak Erosi dalam DAS. 6

3.3        Alur Kerja. 6

3.3.1        Pengenalan Satuan Pengelolaan Konservasi Tanah dan Air 6

3.3.2        Pengenalan Jenis-Jenis Erosi Tanah. 8

3.3.3        Penetapan Faktor-Faktor Erosi Tanah. 9

3.3.4        Teknik Pemetaan Untuk Perencanaan Konservasi Tanah dan Air Tingkat Detail 11

3.3.5        Simulasi Implemantasi Teknologi Konservasi Tanah dan Air 12

3.3.6        Pengenalan Dampak Erosi dalam DAS. 12

4.       HASIL.. 14

4.1        Pembagian Satuan Pengelolaan Konservasi Sumberdaya Lahan. 14

a.     Satuan peta lahan 1. 14

b.          Satuan peta lahan 2. 14

c.     Satuan peta lahan 3. 15

4.2        Erosi 15

4.2.1        Jenis Erosi di Lahan. 16

4.2.2        Perhitungan nilai erosi (A) dan Edp. 17

5.       PEMBAHASAN.. 21

5.1        Penjelasan Kondisi Aktual Lahan. 21

1)          SPL 1. 21

2)          SPL 2. 21

3)          SPL 3. 21

5.2        Perencanaan Tindakan Konservasi yang direkomendasi 21

5.3        Analisis Kelebihan Tindakan Konservasi Yang Direkomendasikan. 23

5.3.1        Pengelolaan. 23

5.3.2        Perhitungan ekonomi 25

6.       KESIMPULAN.. 31

6.1        Kesimpulan. 31

DAFTAR PUSTAKA.. 33

LAMPIRAN.. 34

1)          Rincian Biaya Aktual 34

2)          Data Curah Hujan. 40

3)          Dokumentasi 41

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR TABEL

 

Tabel 1 data SPL 1. 14

Tabel 2 data SPL 2. 15

Tabel 3 data SPL 3. 15

Tabel 4 biaya variabel rekomendasi SPL 1. 26

Tabel 5 hasil penerimaan SPL 1. 26

Tabel 6 biaya variabel rekomendasi SPL 2. 28

Tabel 7 hasil penerimaan SPL 2. 28

Tabel 8 biaya variabel rekomendasi SPL 3. 29

Tabel 9 hasil penerimaan SPL 3. 29

Tabel 10 biaya tetap aktual 34

Tabel 11 biaya variabel aktual 35

Tabel 12 penerimaan aktual 35

Tabel 13 data curah hujan. 40

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

 

gambar 1 Peta lokasi pengamatan. 3

gambar 2 Lokasi pos 3. 4

gambar 3 erosi alur yang ditemukan di SPL 2. 17

gambar 4 erosi alur yang ditemukan di SPL 3. 17

gambar 5 erosi alur yang ditemukan di SPL 1. 17

gambar 6 rekomendasi SPL 1. 22

gambar 7 rekomendasi SPL 2. 22

gambar 8 rekomendasi SPL 3. 23

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

Rincian Biaya Aktual………………………………………………………………………………..34

Data Curah Hujan…………………………………………………………………………………….40

Dokumentasi……………………………………………………………………………………………41[E2]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


1.      PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Konservasi tanah merupakan suatu bentuk upaya dalam mencegah erosi tanah dan memperbaiki tanah yang sudah rusak oleh erosi. Hal ini terkait dengan penempatan setiap bidang tanah dengan memperlakukan atau menggunakan tanah tersebut sesuai dengan kemampuannya guna mencegah kerusakan tanah oleh erosi. Konservasi tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada  sebidang tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat tersebut dan tempat-tempat lain yang dialirinya. Berbagai tindakan konservasi tanah adalah juga tindakan konservasi air.

Sumber daya utama baik tanah maupun air mudah mengalami kerusakan atau degradasi. Dengan adanya kerusakan tersebut maka berdampak pada penurunan tingkat produktivitas. Faktor – faktor yang menyebabkan kerusakan tersebut antara lain : kehilangan unsur hara menyebabkan merosotnya kesuburan tanah, salinitas dan penjenuhan tanah oleh air, dan erosi yaitu hilangnya atau terkikisnya tanah dan bagian-bagian tanah dari suatu tempat yang diangkut oleh air ke tempat lain. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukannya suatu usaha untuk tetap menjaga kestabilan tanah dan air yaitu melalalui konservasi tanah dan air. Pada dasarnya usahatani konservasi merupakan suatu paket teknologi usahatani yang bertujuan meningkatkan produksi dan pendapatan petani, serta melestarikan sumberdaya tanah dan air pada DAS kritis (Saragih, 1996).

Metode yang kerap diterapkan petani pada konservasi pertanian antara lain metode vegetatif dan metode sipil teknis.Metoda vegetatif yaitu metoda konservasi dengan menanam berbagai jenis tanaman seperti tanaman penutup tanah, tanaman penguat teras, penanaman dalam strip, pergiliran tanaman serta penggunaan pupuk organik dan mulsa.

Pada praktikum lapang Teknologi konservasi sumberdaya lahan di desa Kekep ini mahasiswa dapat  melihat, mengamati, dan menganalisis kondisi aktual lahan pertanian di desa Kekep, sehingga mahasiswa dapat menentukan upaya perbaikan untuk lahan yang diamati. Pada Praktikum Konservasi sumberdaya lahan yang kami lakukan didesa Kekep kecamatan Bumiaji memiliki kelerengan lahan yang cukup curam pada setiap SPL nya dengan budidaya tanaman wortel, bawang prei dan brokoli. Oleh karena itu, dengan dilakukannya praktikum lapang ini , mahasiswa mampu untuk menganalisis penggunaan lahan di desa Kekep dan merekomendasikan penggunaan lahan yang sesuai serta aman bagi masyarakat sekitar dan menguntungkan secara ekonomis.

 

1.2  Tujuan

1)      Menentukan besarnya erosi di lahan pertanian desa Kekep Kecamatan Bumiaji.

2)      Menentukan rekomendasi tindakan KTA pada lahan pertanian yang diamati

3)      Menentukan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk melakukan tindakan konservasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

2.      KONDISI UMUM WILAYAH

 

Fieldtrip dilaksanakan di Dusun Kekep, Kota Batu. Pada lokasi pengamatan dibagi menjadi 4 pos. Pos yang menjadi obyek pengamatan Kelas E adalah pada pos 3. Pada pos 3 terdapat 3 titik pengamatan yaitu lereng atas, lereng tengah, dan lereng bawah. Pada lereng atas terdapat 3 jenis tutupan lahan yaitu  semak belukar, pepohonan serta tanaman cabai. Tingkat tutupan lahan kanopi dan  seresah pada lereng atas sedang, serta tingkat kerapatan juga sedang.

Tutupan lahan pada lereng tengah adalah wortel, brokoli, cabai, dan tomat. Tingkat tutupan lahan kanopi dan seresah pada lereng tengah  rendah serta tingkat kerapatan juga rendah. Sedangkan tutupan lahan pada lereng bawah adalah brokoli dan wortel dengan tingkat tutupan kanopi dan seresah rendah serta tingkat kerapatan juga rendah. Pada lereng bawah juga terdapat lahan kosong karena tanaman sudah dipanen.

Kelerengan pada lereng atas atau SPL 1 65% yang termasuk curam. Pada lereng tengah atau SPL 2 sebesar 35% yang termasuk agak curam. Sedangkan pada pada lereng bawah atau SPL 3 sebesar 37% yang tergolong agak curam.

gambar 1 Peta lokasi pengamatan

gambar 2 Lokasi pos 3

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

3.      METODOLOGI

 

3.1  Waktu dan Tempat

Kegiatan praktikum Teknologi Konservasi Sumberdaya Lahan dilaksanakan pada hari Minggu, 27 Oktober 2013 di Desa Kekep, Kecamatan Tulungrejo, Batu.

 

3.2  Alat dan Bahan

3.2.1        Pengenalan Satuan Pengelolaan Konservasi Tanah dan Air

3.2.1.1  Mengenal Peta di Lapangan

1)      Peta topografi              : untuk mengetahui keadaan topografi di lapang

2)      Foto udara                   : untuk mengetahui kondisi wilayah daerah

pengamatan

3)      Peta landform              : untuk mengetahui kondisi penggunaan lahan

4)      Peta tanah                    : untuk mengetahui sebaran jenis tanah

5)      Peta erosi                     : untuk mengetahui jenis erosi di lapang

6)      Peta rekomendasi[E3]    : sebagai rekomendasi dari penggunaan lahan

3.2.1.2  Menilai Suatu Lahan

1)      Satuan Peta Lahan      : untuk mengetahui kemampuan lahan

2)      Klinometer                  : untuk mengukur derajat kelerengan

3)      Form pengisian            : untuk tabulasi data

4)      Kertas dan alat tulis    : untuk mencatat hasil pengamatan

 

3.2.2        Pengenalan Jenis-Jenis Erosi Tanah

1)      Kertas dan alat tulis    : untuk mencatat hasil pengamatan

 

3.2.3        Penetapan Faktor-Faktor Erosi Tanah

1)      Kertas  dan alat tulis    : untuk mencatat hasil pengamatan

2)      Tabel Nomograf          : untuk mencatat nilai K dan lereng

3)      Kalkulator                   : untuk menghitung data hasil pengamatan

4)      Tali rafia                      : untuk membantu mengukur luasan lahan

5)      Bor                              : untuk mengambil sampel

6)      Ring                            : untuk mengambil sample tanah

7)      Meteran                       : untuk mengukur jarak pengamatan

8)      Klinometer                  : untuk mengukur derajat kelerengan

 

3.2.4        Teknik Pemetaan untuk Perencanaan Konservasi Tanah dan Air Tingkat Detail

1)      Kompas ukur                           : untuk mengukur derajat dari arah utara

2)      Meteran Ukur 100 meter         :  untuk mengukir jarak tiap titik

3)      Penggaris plastik ukuran 1 meter dan 30 cm  :  untuk mengukur sketsa

4)      Kertas milimeter ukuran A0    : untuk menggambar sketsa rekomendasi  dan actual.

5)      Busur derajat 360                    : menggambar sketsa di kertas A0

6)      Busur derajat 180                    :untuk menentukan derajat pada proses menggambar di sketsa

7)      Penggaris segitiga (siku) : untuk menggambar garis tegak lurus pada peta   

8)      Pensil 2B dan rautan   : menggambar sketsa actual dan rekomendasi

9)      Karet penghapus         : untuk menghapus gambar

10)  Kertas HVS                : untuk membuat sketsa peta

11)  Spidol warna (12 warna)         : untuk mewarnai peta

12)  Stabilo                         : untuk menebali garis pada peta

 

3.2.5        Simulasi Implemantasi Teknologi Konservasi Tanah dan Air

1)      Alat tulis                     :untuk mencatat hasil pengamatan

 

3.2.6        Pengenalan Dampak Erosi dalam DAS

1)      Alat tulis                     :untuk mencatat hasil pengamatan

 

3.3  Alur Kerja

3.3.1        Pengenalan Satuan Pengelolaan Konservasi Tanah dan Air

3.3.1.1  Mengenal Peta di Lapangan

Mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok diberi satu set peta (foto udara, landform, tanah, erosi dan rekomendasi) yang akan digunakan sebagai pegangan

Pengamatan lapangan (survei)

 

Masing-masing kelompok mengenali  batas SPL atau garis batas SPL di  lapangan dengan dibandingkan di peta

Checking titik di lapangan dengan di peta

 

 

Mengenal komponen satuan peta lahan (SPL)

 

Checking SPL di peta dengan kondisi di lapang

 

Memahami peta landform

 

Memahami peta tanah

Memahami peta tingkat erosi

Setelah itu dilakukan diskusi di depan semua kelompok

 

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi pertama mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok diberi satu set peta (foto udara, landform, tanah, erosi dan rekomendasi) yang akan digunakan sebagai pegangan dalam pengamatan kondisi di lapang. Kemudian masing-masing  kelompok  mengenali  batas  SPL  atau  garis  batas  SPL di lapangan dengan dibandingkan di peta. Setiap kelompok melakukan ploting posisi atau mengenal dan menentukan SPL. Setelah itu, mahasiswa melakukan checking legenda peta dengan kondisi lapangan dan memahami peta landform, peta tanah di lapangan peta tingkat erosi di lapangan yang kemudian dilakukan diskusi di depan semua kelompok.

 

 

3.1.4.2  Menilai Suatu Lahan

Mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelas  didampingi oleh satu fasilitator

 

Setiap  kelompok  menentukan  lokasi  fokus  beberapa   satuan  peta  lahan  yang  dapat  dilihat dilapangan dikaitkan dengan peta yang tersedia

Menghitung beberapa faktor yang mempengaruhi kelas  kemampuan  lahan

 

Melakukan  pengkelasan  pada  tabel  di  lembar  yang  telah disediakan

Merekomendasikan penggunaan lahan yang lebih baik (Sustainable).

 

Rekomendasi tindakan konservasi baik secara vegetatif maupun mekanis

 

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi pertama mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok menentukan  lokasi  fokus  beberapa   satuan  peta  lahan  yang  dapat  dilihat dilapangan dikaitkan dengan peta yang tersedia. Kemudian masing-masing  kelompokberbagi tugas untuk menghitung beberapa faktor yang mempengaruhi kelas  kemampuan  lahan  seperti  tekstur,  lereng,  drainase,  kedalaman  efektif,  tingkat  erosi, batuan/kerikil dan bahaya banjir. Setelah semua faktor didapatkan dilakukan pengkelasan pada tabel di lembar yang telah disediakan. Kemudian, setelah mendapatkan kelas kemampuan lahan, dilakukan diskusi antar kelompok untuk merekomendasikan penggunaan lahan yang lebih baik (Sustainable). Lalu, berdasarkan rekomendasi penggunaan lahan diskusikan rekomendasi tindakan konservasi baik secara vegetatif maupun mekanis.

3.3.2        Pengenalan Jenis-Jenis Erosi Tanah

Mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelas  didampingi oleh satu fasilitator

Melakukan pengamatan di lapangan dan memahami bentuk-bentuk erosi

 

Diskusi upaya  pencegahan  dari  fenomena  erosi tersebut

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi kedua mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok melakukan pengamatan di lapangan dan memahami bentuk-bentuk erosi. Kemudian diskusi antar kelompok tentang upaya pencegahan dari fenomena erosi tersebut.

 

3.3.3        Penetapan Faktor-Faktor Erosi Tanah

Mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelas didampingi oleh satu fasilitator

Perhitungan  indeks  erosivitas  dilakukan  dengan  menggunakan  data  curah  hujan

Menghitung  indeks  erodibilitas  tanah  dengan  menentukan beberapa faktor  yang mempengaruhi erodibilitas tanah

Masing-masing  kelompok  akan  mengukur  panjang  lereng  dengan  sebelumnya  menentukan mapping unit mikro yang paling dominan

Salah satu anggota dapat mengukur dengan berjalan  mengelilingi  panjang  lahan

 

Selanjutnya  setiap  kelompok  akan  menghitung  nilai  faktor  pengelolaan  dengan  cara  membagi kehilangan tanah dari lahan yang diberi perlakuan dengan kehilangan tanah dari petak baku.

 

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi ketiga mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok melakukan perhitungan indeks erosivitas dilakukan dengan menggunakan data curah hujan. Kemudian, setelah data curah hujan di ketahui dimasukkan dalam rumus perhitungan indeks erosivitas menurut Bols (1978), yaitu:

 

Keterangan :

Hb   = Rata-rata hujan bulanan (cm)

HH   = Rata-rata hari hujan

I24   = Hujan maksimum 24 jam dalam bulan tersebut (cm)

Rb   = Indeks Erosivitas

 

Setelah itu setiap kelompok akan menghitung indeks erodibilitas tanah dengan menentukan beberapa faktor yang mempengaruhi erodibilitas tanah yaitu persen pasir, debu dan liat, persen bahan organik, struktur tanah dan permeabilitas tanah. Perhitungan persen pasir, debu, liat dapat dilakukan dengan menggunakan metode feeling method, sedangkan persen bahan organik dapat diperkirakan dengan melihat tingkat bahan organik di lapangan. Struktur tanah dapat diketahui dengan mengambil agregat tanah utuh di lapangan. Sedangkan untuk permeabilitas dapat dihitung dengan menggunakan pipa paralon dari besi, kemudian dimasukkan dalam tanah lalu di beri air dan dihitung kecepatan air menjenuhkan tanah. Setelah semua faktor diketahui nilainya dapat dimasukkan dalam rumus perhitungan indeks erodibilitas tanah pada lembar yang telah disediakan dan juga menggunakan nomograf, kemudian hasilnya dibandingkan antara perhitungan dengan rumus dan dengan nomograf. Masing-masing kelompok akan mengukur panjang lereng dengan sebelumnya menentukan mapping unit mikro yang paling dominan, kemudian salah satu anggota dapat mengukur dengan berjalan mengelilingipanjang lahan tersebut yang sebelumnya telah diketahui berapa centimeter jarak satu jangka kaki yang akan mengukur panjang lereng tersebut. Faktor tanaman merupakan angka perbandingan erosi dari lahan yang ditanami sesuatu jenis tanaman dengan erosi pada plot kontrol. Setiap kelompok akan menentukan besarnya angka ini dengan melihat kemampuan tanaman untuk menutup tanah. Kemudian setiap kelompokakan menghitung nilai faktor pengelolaan dengan cara membagi kehilangan tanah dari lahan yang diberi perlakuan dengan kehilangan tanah dari petak baku.

 

3.3.4        Teknik Pemetaan Untuk Perencanaan Konservasi Tanah dan Air Tingkat Detail

a.      Pengukuran lahan

 

Menentukan titik ikat lahan (P0)

Menentukan posisi titik awal pengukuran p1

 

Menentukan posisi selanjutnya sampai seterusnya

Tiap titik dicatat jaraknya, diamati sekitarnya

catat hasil pengamatan

b.      Pemetaan unsur-unsur lahan di atas kertas

 

Siapkan semua peralatan termasuk millimeter blok(A0)

 

Tarik garis untuk membuat garis tepibuat garis untuk membuat

 

Rencanakan skala peta yang dibuat

 

Gambar sketsa actual dan rekomendasi

 

Warnai gambar sketsa tersebut

 

 

3.3.5        Simulasi Implemantasi Teknologi Konservasi Tanah dan Air

Pengamatan di lapangan

Pembuatan sket kondisi saat ini dan rekomendasi (secara vegetatif dan mekanis)

Diskusi kelompok

 

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi kelima mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok melakukan pengamatan di lapangan, kemudian membuat sket kondisi aktual beserta rekomendasi secara vegetatif dan mekanis. Teknik pengendalian erosi dengan menggunakan cara vegetatif yang harus diperhatikan adalah lebih kearah peranan tanaman dalam mengurangi erosi seperti tajuk tanaman, dan daun penutup tanah, ranting, dan akar tanaman. Sedangkan pengendalian erosi secara mekanik (teknik mekanik) adalah usaha pengawetan tanah untuk mengurangi banyaknya tanah yang hilang di daerah lahan pertanian, dengan cara-cara mekanis tertentu meliputipembuatan jalur-jalur bagi pengaliran air dari tempat-tempat tertentu ke tempat-tempat pembuangan (waste ways),pembuatan teras-teras atau sengkedan-sengkedan agar aliran air dapat terhambat, sehingga daya angkut atau daya merusak tanah berkurang. Kemudian pembuatan selokan dan parit ataupun rorak-rorak di tempat-tempat tertentu dan melakukan pengolahan tanah yang tepat, yaitu menurut arah kontur atau memotong arah kemiringan lereng juga merupakan teknik pengendalian secara mekanik yang sering dilakukan oleh petani. Setelah itu, dilanjutkan dengan diskusi kelompok.

3.3.6        Pengenalan Dampak Erosi dalam DAS

Mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelas didampingi oleh satu fasilitator

Semua kelompok mengamati erosi tebing sungai  dan tingkat kekeruhan air sungai

Mendiskusikan  dalam  kelompok  tentang  sebab  dan  akibat  terjadinya erosi tebing sungai  dan tingkat kekeruhan air sungaitersebut

Setiap  kelompok  melakukan  pengamatan  terhadap  sedimentasi  di  daerah  DAM  dan  Waduk

Mendiskusikan  dalam  kelompok  tentang  sebab  dan  akibat  terjadinya  pengendapan sedimen tersebut

Dari alur kerja tersebut dapat diuraikan bahwa materi keenam mahasiswa dalam satu kelas dibagi dalam 4 kelompok kecil dan masing-masing kelompok melakukan pengamatan di lapangan, kemudian semua kelompok mengamati erosi tebing sungai dan tingkat kekeruhan air sungai. Setelah itu, kelompok mendiskusikan mengapa terjadi hal yang demikian dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Lalu setiap kelompok melakukan pengamatan terhadap sedimentasi di daerah DAM dan Waduk, kemudian kelompok mendiskusikan tentang sebab dan akibat terjadinya pengendapan sedimen tersebut.

 

 

 

 

 

 


 

4.      HASIL

 

4.1  Pembagian Satuan Pengelolaan Konservasi Sumberdaya Lahan

  1. a.      Satuan peta lahan 1

faktor pembatas

Hasil pengamatan di lapang

kelas

Tekstur tanah

Liat berdebu

T1

Lereng

65% (Curam)

L5

Drainase

Agak baik

d1

Kedalaman efektif

Sedang

k1

Tingkat erosi

Berat

e3

Batu/kerikil

Tidak ada

b0

Bahaya banjir

Tidak pernah

o0

Klasifikasi kelas kemampuan lahan + faktor pembatas

VII

lereng

Macam rekomendasi penggunaan lahan

Agroforestri, yaitu Tanaman Sengon, kopi dan Cabai

Macam rekomendasi konservasi tanah secara vegetatif dan mekanis

Vegetatif = Agroforestri Multistrata

Mekanik = Teras Kebun, Saluran pembuangan dan bangunan terjunan untuk air

Tabel 1 data SPL 1[E4] 

b.      Satuan peta lahan 2

Faktor pembatas

Hasil pengamatan di lapang

Kelas

Tekstur tanah

Lempung berdebu

t3

Lereng

35% (Agak Curam)

L4

Drainase

Baik

d0

Kedalaman efektif

Sedang

K1

Tingkat erosi

Sedang

e2

Batu/kerikil

Tidak ada

b0

Bahaya banjir

Tidak Pernah

O0

Klasifikasi kelas kemampuan lahan + faktor pembatas

VI

Lereng

Macam rekomendasi penggunaan lahan

Penanaman secara Agroforestry, yaitu tanaman wortel (utama), kaliandra dan strip rumput gajah (tanaman pagar)

Macam rekomendasi konservasi tanah secara vegetatif dan mekanis

Vegetatif = Penanaman secara kontur

Mekanik = pembuatan teras gulud dan saluran pengendali air

Tabel 2 data SPL 2

  1. c.       Satuan peta lahan 3

faktor pembatas

Hasil pengamatan di lapang

kelas

Tekstur tanah

Lempung berdebu

t3

Lereng

37%, agak curam

L4

Drainase

Baik

d0

Kedalaman efektif

Dangkal

K2

Tingkat erosi

Sedang

e2

Batu/kerikil

Sedang

B1

Bahaya banjir

Tidak pernah

o0

Klasifikasi kelas kemampuan lahan + faktor pembatas

VI

Lereng

Macam rekomendasi penggunaan lahan

Penanaman secara Agroforestry, yaitu tanaman wortel (utama), kaliandra dan strip rumput gajah (tanaman pagar)

Macam rekomendasi konservasi tanah secara vegetatif dan mekanis

Vegetatif = Penanaman secara kontur

Mekanik = pembuatan teras gulud dan saluran pengendali air

Tabel 3 data SPL 3

 

4.2  Erosi

SPL erosi Longsor iklim tanah elevasi lereng

1

Berat Berat Tropis Liat berdebu Bergunung >65 % sangat curam

2

Sedang Sedang Tropis Lempung berdebu Bergunung 35-45% curam

3

Sedang Sedang Tropis Lempung berdebu Berbukit 15-30 % agak curam

 

Tabel diatas merupakan data aktual yang terdapat di lapang yang menunjukkan kepekaan tanah terhadap longsor cukup tinggi disebabkan oleh lereng yang agak curam sampai curam, elevasi berbukit sampai bergunung dan menurut ketiga jenis tanah adalah cenderung berdebu yang artinya agregat tidak mantap terhadap longsor dan kurang dapat menekan laju erosi.

 

4.2.1        Jenis Erosi di Lahan

SPL

Jenis-jenis erosi yang ditemukan di lahan

Identifikasi erosi di lapang

Upaya pengendalian erosi

1 Erosi alur Pada lahan dibuat alur-alur kecil di pinggiran bedengan sebagai tempat pipa menuju sungai
2 Erosi alur Pada lahan dibuat alur-alur kecil di pinggiran bedengan sebagai tempat pipa menuju sungai
3 Erosi alur Pada lahan dibuat alur-alur kecil di pinggiran bedengan sebagai tempat pipa menuju sungai

 

Data tabel diatas merupakan identifikasi dan pengendalian erosi di lahan yang diamati, dari identifikasi pada SPL 1 , SPL 2 dan SPL3 terdapat erosi alur dengan teknik pengendalian pembuatan alur di pinggiriran bedengan yang sebenarnya digunakan untuk pipa irigasi.

 

 

4.2.2        Perhitungan nilai erosi (A) dan Edp

A = R x K x L x S x C x P

Rb = 6,119 (Hb)1,21 (HH)-0,47(I24)0,53

= 6,119 (4,5)1,21 (6)-0,47(1,4)0,53

= 37,76 x 0,43 x 1,19

= 19,32 cm

SPL 1

100 K = 1,292 (2,1 M1,14(10-4)(12-a) + (b-2) 3,25 + (c-3) 2,5)

= 1,292 (2,1.85501,14(10-4)(12-4) + (2-2) 3,25 + (3-3) 2,5)

= 1,292 (51,02 + 0 + 0)

= 1,292 x 51,02

= 65,92

K  = 65,92 / 100

= 0,63[E5]

SPL 2

100 K = 1,292 (2,1 M1,14(10-4)(12-a) + (b-2) 3,25 + (c-3) 2,5)

= 1,292 (2,1.45051,14(10-4)(12-4) + (2-2) 3,25 + (2-3) 2,5)

= 1,292 (24,58 + 0 -2,5)

= 1,292 x 22,07

= 28,52

K  = 28,52 / 100

= 0,285

SPL 3

100 K = 1,292 (2,1 M1,14(10-4)(12-a) + (b-2) 3,25 + (c-3) 2,5)

= 1,292 (2,1.49501,14(10-4)(12-3) + (2-2) 3,25 + (1-3) 2,5)

= 1,292 (30,78 + 0 – 5)

= 1,292 x 25,78

= 33,31

K  = 33,31 / 100

= 0,33

L (PanjangLereng)

SPL 1 = 24,4 m

SPL 2 = 17,1 m

SPL 3 = 48 m

S (KemiringanLereng)

SPL 1 = 65 %

SPL 2 = 35 %

SPL 3 = 37 %

Faktor Topografi Panjang Lereng (L)dan Kemiringan Lahan (S)

 

LS SPL 1 =  (0,065+0,045.65+0,0065.652) = 30,46

LS SPL 2 =  (0,065+0,045.35+0,0065.352) = 9,59

LS SPL 3 =  (0,065+0,045.37+0,0065.372) = 15,7

C (FaktorTanaman)

SPL 1 = semak belukar dan pepohonan = 0,01

SPL 2 = wortel dan daun bawang = 0,7

SPL 3 = wortel (awal tanam) = 0,7

P (FaktorPengelolaan)

SPL 1 = Tanpa konservasi = 1

SPL 2 = Sayuran = 0,15

SPL 3 = Sayuran = 0,15

A pada SPL 1 = R x K x L x S x C x P

= 19,32 x 0,63 x 30,46 x 0,01 x 1

= 3,71 ton/ha/tahun (SangatBerat)

 

A pada SPL 2 = R x K x L x S x C x P

= 19,32 x 0,285 x 9,59 x 0,7 x 0,15

= 5,54 ton/ha/tahun

 

A pada SPL 3 = R x K x L x S x C x P

= 19,32 x 0,33 x 15,7 x 0,7 x 0,15

= 10,51 ton/ha/tahun

 

EDP  (Erosi yang Diperbolehkan)

Edp =

 

Edp SPL 1 =

=  0,75 ton/ha/tahun

Edp SPL 2 =

=  0,83 ton/ha/tahun

Edp SPL 3 =

=  0,83 ton/ha/tahun

 

 

 

 

 

 

 


 

5.      PEMBAHASAN

 

5.1  Penjelasan Kondisi Aktual Lahan

Daerah pengamatan berada di daerah Desa Kekep, Kecamatan Tulungrejo, Batu. Pengamatan dikhususkan pada pos 3. Pada pos 3 terdapat 3 satuan peta lahan (SPL). Berikut deskipsi tiap SPL:

1)      SPL 1

SPL pertama berada pada lereng atas. Kelerengan pada spl ini sebesar 65%. Kedalaman tanah termasuk sedang dengan drainase agak baik. Pada saat pengamatan, SPL 1 tidak ditanami. Jenis pengelolaan yang digunakan adalah teras bangku.

2)      SPL 2

SPL kedua berada pada lereng tengah. Pada lahan ini komoditas yang dibudidayakan adalah brokoli, wortel dan tomat. Kelerengan pada SPL ini adalah 19o dan termasuk ke dalam lereng yang agak curam. Teknik pengelolaan yang dipakai adalah teras guludan dan disamping SPL terdapat pipa-pipa irigasi. Pada tiap tepi lereng ditanami ubi jalar sebagai buffer.

3)      SPL 3

SPL ketiga berada pada lereng bawah dan berbatasan dengan sungai. Komoditas yang ditanami pada SPL ini adalah wortel. Beberapa teras sisir digunakan dengan kombinasi teras guludan. Pipa yang berasal dari SPL kedua masih terlihat pada SPL ini. Kelerengan pada SPL in sebesar 27o.

 

5.2  Perencanaan Tindakan Konservasi yang direkomendasi

Pada SPL 1 tindakan konservasi yang di rekomendasikan berupa sistem pertanaman agroforestry tanaman apel di tumpang sarikan dengan tanaman brokoli.

gambar 6 rekomendasi SPL 1

   Pada SPL 2 tindakan konservasi yang di rekomendasikan berupa pembuatan teras sisir  dan penanaman rumput gajah pada setiap pinggiran teras. Tanaman utama berupa wortel dan tanaman pinggir berupa tomat.

gambar 7 rekomendasi SPL 2

Pada SPL 3 tindakan konservasi yang di rekomendasikan berupa  pembuatan teras sisir  dan penanaman rumput gajah pada setiap pinggiran teras. Tanaman utama berupa cabai dan tanaman pinggir berupa kacang tanah.

gambar 8 rekomendasi SPL 3

 

5.3  Analisis Kelebihan Tindakan Konservasi Yang Direkomendasikan

5.3.1        Pengelolaan

a.      SPL 1

Pada SPl 1 kami rekomendasikan untuk dilakuakan penanaman tanaman apel dan tanaman brokoli secara Agroforestry. sistem agroforestry dipilih untuk meminimalisir bahaya erosi. hal ini sesuai dengan literatur yang menyebutkan bahwa agroforestry adalah salah satu solusi untuk mengatasi bahaya erosi akibat alih guna lahan yang semakin marak (Hairiah,2003). Selain itu, hal tersebut juga didasarkan pada hasil evaluasi kemampuan lahan yang didapatkan pada bab 4. Pada bab 4 direkomendasikan  bahwa SPL tersebut di gunakan sebagai hutan lindung, namun karena kita juga harus mempertimbangkan dari aspek ekonomian petani disana, maka kami rekomendasikan untuk bercocok tanam secara agroforestry.

Penanaman tanaman apel berguna untuk meminimalisir dampak dari erosi yang dikarenakan  tingkat kelerengan di SPL 1 yang cukup curam. Dengan menanam tanaman berkayu seperti apel maka kemampuan tanah untuk meminimalisir terjadinya erosi semakin tinggi. Sedangkan penanaman tanaman brokoli didasarkan karena tanaman brokoli merupakan tanaman yang sering ditanam di daerah tersebut, sehingga tanaman tersebut sangat mampu beradaptasi dengan lahan di SPL 1. Selain itu, tanaman brokoli juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian petani di lahan tersebut selama tanaman utama (apel) belum dapat diproduksi.

b.      SPL 2

Pada SPL 2 diberi rekomendasi pembuatan guludan dengan bentuk sisir dan juga penenaman tanaman pinggir berupa rumput gajah pada lahan tersebut pembuatan Guludan dengan bentuk sisir bertujuan untuk memperbesar daya tampung air yang mengalir dari bagian atas. Selain itu, pembuatan guludan sisir juga  bertujuan untuk memperbesar daya resap air terhadap bidang olah.

Penanaman rumput gajah pada pinggir SPL ialah bertujuan untuk menahan tanah yang terbawa selama erosi terjadi. “Semua jenis teras harus disertai dengan penanaman tanaman penguat teras, seperti rumput dan legum yang juga merupakan sumber pakan ternak” (P3HTA,1990). Penanaman rumput gajah hanya dilakukan pada pinggir SPL dan tidak dilakuakan pada setiapa pinggir guludan ialah bertujuan untuk memperlebar bidang olah yang  akan digunakan oleh petani sebagai area penanaman, sehingga luas area petani tidak terlalu berkurang dan pendapatannya masih relatif stabil.

Selain itu kami juga merekomendasikan untuk memilih tanaman wortel dan tanaman tomat sebagai jenis tanaman yang bisa dibudidayakan oleh petani di SPL 2.  Kami memilih tanaman wortel sebagai tanaman utama dikarenakan tanaman wortel merupakan tanaman yang sering di tanam oleh petani di lahan tersebut. Selain itu kami merekomendasikan tanaman tomat sebagai tanaman sela agar lahan tersebut memiliki biodiversitas yang tinggi serta dapat menambah pendapatan petani dari lahan tersebut.

c.       SPL 3

Pada SPL 3 dilakukan perlakuan hampir sama dengan SPL 2, hal tersebut dikarenakan tipe lahannya hampir sama. Namun pada SPL 3 diberi tambahan rekomendasi penanaman tanaman berkayu seperti tanaman bambu pada aerah SPL 3 yang berada di dekat daerah sungai. Penanaman tanaman berkayu seperti tanaman bambu ialah berfungsi untuk mengurangi tanah yang terbawa selama erosi terjadi, sehingga air sungai tidak semakin tercemar oleh endapan tanah yang terbawa selama erosi terjadi di lahan tersebut.

Pemilihan tanaman bambu untuk ditanam pada pinggiran sungai tersebut ialah dikarenakan tanaman bambu lebih cepat tumbuh daripada tanaman lain. Sehingga kecepatan perbaikan lahan di daerah tersebut dapat tercapai dalam waktu yang relatif singkat. Selain itu, bambu juga memiliki fungsi sebagai pengontrol erosi dengan mengatur presipitasi atau jatuhnya air hujan ke tanah.( Ismudiati,1998)

Selain rekomendasi diatas, kami juga memberikan rekomendasi tanaman yang akan di tanaman oleh petani di SPL 3. Rekomendasi tanaman yang akan ditanam di daerah tersebut ialah tanaman Cabai dan kacang tanah di tanam menggunakan cara budidaya tumpang sari. Tanaman cabai dijadikan tanaman utama dikarenakan memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan tanaman kacang tanah. Penanaman kacang tanah berfungsi sebagai tanaman pinggir untuk meminimalisir erosi, manambah pendapatan ekonomi petani dan juga digunakan untuk memperkaya biodiversitas di lahan tersebut.

5.3.2        Perhitungan ekonomi

Untuk tiap SPL, penetapan harga tetap sama dengan kondisi aktual. Hal ini dikarenakan data yang didapat merupakan kondisi aktual pada tempat pengamatan dan tidak perlu adanya perubahan sehingga didapatkan harga yang valid sesuai dengan kondisi lapang

a.      SPL 1

1)      Biaya variabel[E6]

No

Perincian

Satuan

Harga Satuan

( Rp )

Nilai

( Rp )

1

Bibit
apel

Batang

50.000

2.200.000

brokoli

gram

130.000/10gr

17.030

2

Pupuk
–          Urea

Gratis

0

–          ZA

1 bks

95.000/bks

95.000

–          BAS

1 bks

80.000/bks

80.000

3

Pestisida
–          Pestisida Curacron

1 botol

80.000/panen

80.000

4.

Biaya Tenaga Kerja
–        Pengolahan tanah 1 Orang

35.000

35.000

–        Penanaman 1 Orang

35.000

35.000

–        Pemupukan 2 Orang

35.000

70.000

–        Pemeliharaan 4 Orang

35.000

140.000

–        Pemberantasan HPT 2 Orang

35.000

70.000

–        Panen 3 Orang 2 laki-laki : 35.000

1 wanita : 25.000

95.000

Jumlah

Rp. 2.917.030

 

Tabel 4 biaya variabel rekomendasi SPL 1

2)      Penerimaan

No

Uraian

Jumlah (Rp)

1.

Produksi

Rp. 3.477.440

2.

Hasil Sampingan

Rp 1.550.000,00

Jumlah

Rp 5.027.440

Tabel 5 hasil penerimaan SPL 1

3)      Perhitungan pendapatan

  • Luas lahan : jarak tanam:
  • Apel:  ;produktivitas 10kg/tanaman
  • Brokoli : ; produktivitas 576g/tanaman
  • Total produksi x harga jual:
  • Apel: 440kg x Rp. 7000/kg = Rp. 3.080.000
  • Brokoli: 26,496kg x Rp 15.000/kg = Rp. 397.440

Varietas yang digunakan adalah apel anna dan brokoli sakata. Produktivitas untuk apel anna adalah 10kg/tanaman dan brokoli sakata adalah 576g/tanaman atau 0,576kg/tanaman. Nilai jual dipasaran untuk kedua komoditas ini adalah Rp.7000/kg untuk apel dan Rp. 15.000/kg (Arifin, 2009). Luasan lahan yang digunakan untuk tanaman brokoli memang lebih kecil dibandingkan tanaman apel. Hal ini dikarenakan tanaman brokoli akan ditanam diantara tanaman apel.

b.      SPL 2

1)      Biaya variabel

No

Perincian

Satuan

Harga Satuan

( Rp )

Nilai

( Rp )

1

Bibit
Tomat

gram

80.000/10g

56.000

Wortel

cup

50.000

50.000

2

Pupuk
–          Urea

Gratis

0

–          ZA

1 bks

95.000/bks

95.000

–          BAS

1 bks

80.000/bks

80.000

3

Pestisida
–          Pestisida Curacron

1 botol

80.000/panen

80.000

4.

Biaya Tenaga Kerja
–        Pengolahan tanah 1 Orang

35.000

35.000

–        Penanaman 1 Orang

35.000

35.000

–        Pemupukan 2 Orang

35.000

70.000

–        Pemeliharaan 4 Orang

35.000

140.000

–        Pemberantasan HPT 2 Orang

35.000

70.000

–        Panen 3 Orang 2 laki-laki : 35.000

1 wanita : 25.000

95.000

Jumlah

Rp. 806.000

 

Tabel 6 biaya variabel rekomendasi SPL 2

2)      Penerimaan

No

Uraian

Jumlah (Rp)

1.

Produksi

Rp. 2.577.000

2.

Hasil Sampingan

Rp 1.550.000,00

Jumlah

Rp. 4.127.000

Tabel 7 hasil penerimaan SPL 2

3)      Perhitungan pendapatan

  • Luas lahan : jarak tanam:
  • Tomat :  ;produktivitas 2 kg/tanaman
  • Wortel  : ; produktivitas 1,093g/tanaman
  • Total produksi x harga jual:
  • Tomat: 216 kg x Rp. 8.500/kg = Rp. 2.346.000
  • Wortel: 231 kg x Rp. 1.000/kg = Rp. 231.000

Varietas yang digunakan adalah tomat Brasta-G F1 sebagai tanaman pinggir. Sedangkan wortel yang digunakan adalah jenis wortel yang biasa digunakan oleh petani setempat. Nilai jual untuk kedua komoditas ini berkisar antara Rp. 8.500/kg untuk tomat dan Rp. 1.000/kg untuk wortel.

c.       SPL 3

1)      Biaya variabel

No

Perincian

Satuan

Harga Satuan

( Rp )

Nilai

( Rp )

1

Bibit
Kacang tanah

kg

35.000/kg

35.000

Cabai

g

80.000/10g

130.000

2

Pupuk
–          Urea

Gratis

0

–          ZA

1 bks

95.000/bks

95.000

–          BAS

1 bks

80.000/bks

80.000

3

Pestisida
–          Pestisida Curacron

1 botol

80.000/panen

80.000

4.

Biaya Tenaga Kerja
–        Pengolahan tanah 1 Orang

35.000

35.000

–        Penanaman 1 Orang

35.000

35.000

–        Pemupukan 2 Orang

35.000

70.000

–        Pemeliharaan 4 Orang

35.000

140.000

–        Pemberantasan HPT 2 Orang

35.000

70.000

–        Panen 3 Orang 2 laki-laki : 35.000

1 wanita : 25.000

95.000

Jumlah

Rp. 865.000

 

Tabel 8 biaya variabel rekomendasi SPL 3

2)      Penerimaan

No

Uraian

Jumlah (Rp)

1.

Produksi

Rp. 22.062.000

2.

Hasil Sampingan

Rp 1.550.000,00

Jumlah

Rp. 23.612.000

Tabel 9 hasil penerimaan SPL 3

3)      Perhitungan pendapatan

  • Luas lahan : jarak tanam:
  • Cabai :  ;produktivitas 1.5 kg/tanaman
  • Kacang tanah  : ; produktivitas 2 ton/ha
  • Total produksi x harga jual:
  • Cabai: 2199kg x Rp. 10.000/kg = Rp 21.990.000
  • Kacang tanah: 3,6 kg x Rp. 20.000/kg = Rp. 72.000

Pada SPL ini, digunakan cabai Proton F1 dan kacang tanah varietas bison. Tanaman utama adalah cabai dengan kombinasi kacang tanah sebagai tanaman pinggir. Nilai jual untuk kedua komoditas tersebut adalah Rp 10.000/kg untuk tanaman cabai dan Rp 20.000/kg untuk tanaman kacang tanah.

Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan keuntungan dari hasil rekomendasi adalah sebesar RP. 5.027.440 untuk SPL 1, Rp. 4.127.000 untuk SPL 2 dan Rp. 23.612.000 untuk SPL 3. Jika dibandingkan dengan kondisi aktual pendapatan petani (Rp 7.050.000) memang pendapatan rekomendasi SPL 1 dan 2 lebih rendah dan SPL 3 jauh lebih menguntungkan. Namun jika dilihat dengan skala waktu yang lebih lama maka hasil rekomendasi akan lebih menguntungkan. Hal ini dikarenakan tanaman apel merupakan tanaman tahunan dan tidak perlu diganti pada setelah panen sehingga pengeluaran tiap musim tanam dapat berkurang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


6.      KESIMPULAN[E7]

 

6.1  Kesimpulan

Berdasarkan data yang didapat dari hasil pengamatan, dapat disimpulkan bahwa secara ekologi rekomendasi yang digunakan memungkinkan adanya pengurangan longsor karena adanya tambahan berupa penanaman secara agroforesti dan penanaman tanaman buffer yaitu rumput gajah dan bambu. Sedangkan secara ekonomi, desain yang digunakan masing dikatakan menguntungkan dengan selisih perbedaan yang cukup jauh dari kondisi pendapatan aktual petani. Dan dari segi sosial, rekomendasi dapat diterima karena tanaman yang digunakan sebagian besar dikenal dan dibudidayakan oleh petani. Selain itu pengelolaan lahan juga tidak terlalu rumit dan tidak banyak diganti.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Hairiah.K, Sri Rahayu Utami, Bruno Verbist, Meine van Noordwijk, Mustofa Agung Sardjono.2003.Prospek Penelitian dan Pengembangan Agroforestry di Indonesia.World Agroforestry Centre (ICRAF).Bogor.

Ismudiati,S.1998.FUNGSI TANAMAN BAMBU DALAM LANSEKAP BERDASARKAN KARAKTER FISIK DAN VISUAL. IPB .Bogor.

P3HTA (Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air). 1990.Petunjuk teknis usaha tani konservasi daerah limpasan sungai.Dalam Sukmana et al. (Eds.). Badan Litbang Pertanian. Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

1)      Rincian Biaya Aktual

Perincian Biaya Usahatani(wortel)

a. Biaya Tetap :

No

Uraian

Jumlah (Unit)

Harga (Rp)

1. Tanah

¼ Ha

Rp. 283.333,-

¼ Ha

Rp. 183.333,-

2. Air

Rp. 45.000,-

3. Listrik

Rp. 50.000,-

4. Peralatan
Penyusutan

–        Cangkul

–        Sabit

1 bh

1 bh

Rp. 11.112

Rp. 6.369

 

 Perawatan

 

Perawatan Ternak Sapi

2 ekor

Rp. 50.000

 

Total Biaya Tetap

Rp. 629.147,-

 

Tabel 10 biaya tetap aktual

b. Biaya Variabel :

No

Perincian

Satuan

Harga Satuan

( Rp )

Nilai

( Rp )

1

Bibit

Cup

50.000

50.000

2

Pupuk
–          Urea

Gratis

0

–          ZA

1 bks

95.000/bks

95.000

–          BAS

1 bks

80.000/bks

80.000

3

Pestisida
–          Pestisida Curacron

1 botol

80.000/panen

80.000

4.

Biaya Tenaga Kerja
–        Pengolahan tanah 1 Orang

35.000

35.000

–        Penanaman 1 Orang

35.000

35.000

–        Pemupukan 2 Orang

35.000

70.000

–        Pemeliharaan 4 Orang

35.000

140.000

–        Pemberantasan HPT 2 Orang

35.000

70.000

–        Panen 3 Orang 2 laki-laki : 35.000

1 wanita : 25.000

95.000

Jumlah

Rp . 750.000,-

 

Tabel 11 biaya variabel aktual

c         Biaya Total

Total Biaya   = FC +VC

= Rp Rp. 629.147,- + Rp 750.000,-

=Rp 1.379.147,-

 

d        Penerimaan

No

Uraian

Jumlah (Rp)

1.

Produksi

Rp 5.500.000,00

2.

Hasil Sampingan

Rp 1.550.000,00

Jumlah

Rp 7.050.000,00

Tabel 12 penerimaan aktual

e         Keuntungan

Keuntungan = Penerimaan – Total biaya

= Rp 5.500.000,00 – Rp 1.379.147,-

= Rp 4.120.853,00

 

Perhitungan biaya penyusutan dari biaya tetap untuk dua kali masa tanam pada tahun terakir yang diuraikan pada tabel 1. adalah sebagai berikut.

  1. Penyusutan Cangkul

 

Sehingga, untuk biaya penyusutan dalam satu masa tanam adalah:

 

Jadi, untuk biaya penyusutan dari dua pacul untuk dua masa tanam adalah Rp. 11.112,00.

  1. Penyusutan Sabit

 

Sehingga, untuk biaya penyusutan dalam satu masa tanam adalah:

 

0.77

Jadi, untuk biaya penyusutan dari dua pacul untuk dua masa tanam adalah Rp. 6.369,00

 

  1. Penyusutan sewa lahan milik sendiri

 

 

 

Sehingga, untuk biaya penyusutan dalam satu masa tanam (4 bulan) adalah:

 

 

Jadi, untuk biaya penyusutan dari sewa lahan untuk dua masa tanam adalah Rp. 283.333,00

 

  1. Penyusutan sewa lahan sewa

 

 

 

Sehingga, untuk biaya penyusutan dalam satu masa tanam (4 bulan) adalah:

 

 

Jadi, untuk biaya penyusutan dari sewa lahan untuk dua masa tanam adalah Rp. 183.333,0

Analisis Kelayakan Usahatani

Berdasarkan perincian usahatani Bapak Supeno tersebut dapat dianalisis keuntungan usahatan dan R/C rationya untuk mengetahui kelayakan usahatani yang dijalani oleh Bapak Supeno. Berikut ini perhitungan keuntungan usahatani dan R/C ratio.

 

 

  1. 1.        Keuntungan

Keutungan yang diperoleh dari usahatani yang dijalankan oleh Bapak Supeno dapat dihitung dengan:

 

 

 

Sehingga, keutungan usahatani yang diterima oleh Bapak Supeno selama 1 tahun sebesar Rp 1.983.888,00.

  1. 2.    Break Even Point (BEP)

a)      Break Even Point (BEP) Rupiah

Break Event Point (BEP) Penerimaan

 

 

 

Dari hasil perhitungan BEP penerimaan maka dapat diketahui bahwa dalam memproduksi wortel akan mengalami titik impas (tidak rugi dan tidak untung) saat penerimaan Rp 706.906,742 dalam satu periode tanam.

Break Event Point (BEP) Harga

 

 

BEP (Rp)  = Rp 1.970,21

Dari hasil perhitungan BEP harga maka dapat diketahui bahwa dalam memproduksi wortel akan mengalami titik impas (tidak rugi dan tidak untung) apabila saat menjual produk wortel dengan harga Rp 1.970,21 dalam satu periode tanam.

b)     Break Even Point (BEP) Produksi atau Unit

 

 

 

Dari hasil perhitungan BEP unit maka dapat diketahui bahwa dalam memproduksi wortel akan mengalami titik impas (tidak rugi dan tidak untung) apabila saat memproduksi produk wortel sebanyak 97,86 kg dalam satu periode tanam.

  1. 3.    R/C Ratio

Untuk mengetahui kelayakan usaha yang dijalankan oleh Bapak Mahmud, maka dilakukan perhitungan r/c rationya.

 

 

3,98

Sehingga, nilai r/c ratio dari usahatani Bapak Mahmud adalah 3,98.

2)      Data Curah Hujan

 

Tabel 13 data curah hujan

 

 

3)

Dokumentasi


 [E1]TULIS AJA NAMAKU LANGSUNG ENCO RICARDY

 [E2]TOLONG SAMAKAN DENGAN DAFTAR YANG LAIN DALAM PEMBUATANNYA . .

 [E3]APA SEMUA PETA INI DIPAKE DALAM FIELDTRIP?

TULIS PETA YANG DI PAKE SAJA . .

 [E4]TARUH DI BAWAH TABEL DENGAN POSISI DI TENGAH

 [E5]ADA SATUANNYA TIDAK?

 [E6]INI BIAYA AKTUAL APA REKOMENDASI?

 

TOLONG MASUKKAN SEMUA BIAYA YAITU BIAYA AKTUAL DAN REKOMENDASI LALU DIBAHAS DARI DUA BIAYA TERSEBUT

 [E7]TAMBAH LAGI KESIMPULANNYA, KALO MENERUTKU KESIMPULANNYA MASIH KURANG . .

 

JIKA SUDAH DI PERBAHARUI BISA DIKUMPULKAN KE AKU . .

 

TOLONG DI CEK REDAKSIONAL ATAU PENULISAN KATANYA JIKA ADA YANG SALAH DI BENARKAN . .

Categories: Uncategorized | Comments Off on LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN “REKOMENDASI TINDAKAN KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN DI DUSUN KEKEP KOTA BATU (POS 3)”

TUGAS TAKE HOME TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN “REKOMENDASI TINDAKAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DI DUSUN GADING KULON KECAMATAN DAU”

TUGAS TAKE HOME

TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN

“REKOMENDASI TINDAKAN KONSERVASI TANAH DAN AIR

DI DUSUN GADING KULON KECAMATAN DAU”

 

 

 

 

 

DISUSUN OLEH :

  1. Fretty Vivin Valentiah                      ( 115040201111321)
  2. Fitri Wahyuni                                                ( 115040213111050)
  3. Fita Fitriatul Wahidah                                   ( 115040201111336)
  4. Faranissa Anggi Vivedru                   ( 115040201111343)
  5. Febri Dwi Mulyanto                          ( 115040201111001)
  6. Giri Lasmono                                                (115040213111031)
  7. Farah Nabila                                                 (115040207111036)
  8. Hadi Suwitnyo                                  (115040213111020)
  9. Hadi Susilo                                       (115040213111030)
  10. Farid Zamroni                                   (115040201111288)

PROGRAM STUDY AGROEKOTEKNOLOGI

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014

DAFTAR ISI

 

DAFTAR ISI. 2

DAFTAR TABEL.. 2

DAFTAR GAMBAR.. 2

BAB I PENDAHULUAN.. 2

1.1    Latar Belakang. 2

1.2    Tujuan. 3

1.3    Sasaran Kegiatan. 3

BAB II KONDISI UMUM… 4

2.1    Karakteristik dan Permasalahan Usahatani Lokasi Sasaran dari Hasil Kegiatan. 4

2.2     Hasil Identifikasi Local Ecology Knowledge (LEK). 10

BAB III REKOMENDASI. 16

3.1    Rekomendasi Konservasi Penggunaan Lahan. 16

3.2    Rekomendasi Konservasi secara Vegetatif. 17

3.3    Rekomendasi Konservasi Kimia. 22

3.4    Rekomendasi Konservasi secara Mekanis. 23

3.5    Perbaikan Usahatani Petani dengan Penerapan Pertanian Konservasi 25

BAB IV Rencana Pengembangan Perencanaan untuk Dukungan Pemasaran Hasil Usahatani dan Kewirausahaan Petani 30

4.1    Pemasaran dan Panen Aktual Petani 30

4.2    Ide Pemasaran Hasil Usahatani dan Kewirausahaan Petani 30

DAFTAR PUSTAKA.. 32

LAMPIRAN.. 33

 

 

 

 

DAFTAR TABEL

 

Tabel 1. Status Keluarga. 8

Tabel 2. Penguasaan Lahan. 8

Tabel 3. Kalender Tanam.. 9

Tabel 4. Analisis Biaya dan Keuntungan. 11

Tabel 5. Pemasaran Hasil Pertanian. 11

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

 

Gambar 1. Transek Kondisi Aktual di Lahan …………………………………. …  7

Gambar 2. Sketsa Kondisi Aktual di Lahan ………………………………………..  7

Gambar 3. Tumpangsari Cabai dan Tomat …………………………………….….  14

Gambar 4. Erosi Massa ……………………………………………………………  18

Gambar 5. Landscape pengamatan …………………………………………………  20

Gambar 6. Skema yang menggambarkan zona hulu, punggung, dan kaki ………..  21

Gambar 7. Acuan Umum Proporsi Tanaman ……………………………… ……… 23

Gambar 8. Denah Rorak …………………………………………………………..  27

Gambar 9. Pengamatan NVS ………………………………………………………  28

Gambar 10. Sketsa Rekomendasi Mekanis ………………………………… ……..  29

Gambar 11. Nilai Indeks Erosi ……………………………………………………  30

Gambar 12. Tanaman Jagung yang Kekurangan Unsur Hara …………………….   30

Gambar 13. Pendapatan setelah Konservasi ……………………………………..     32

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kebijakan pembangunan pertanian selama Pelita I-V yang terlalu terpusat pada lahan sawah menyebabkan perhatian dan pengelolaan usaha tani di daerah aliran sungai (DAS) bahian hulu semakin tertinggal. Ketimpangan ini telah menimbulkan beberapa masalah antara lain kerusakan lahan dan lingkungan yang semakin luas, pengelolaan lahan yang tidak sesuai dengan kemampuannya serta produktivitas lahan yang rendah akibat terjadinya degradasi lahan (Siswomartono et al., 1990).

Masalah utama dalam usaha tani di lahan berlereng adalah terjadinya erosi tanah bila tidak disertai dengan tindakan konservasi. Erosi sangat merugikan produktivitas lahan karena dalam waktu relative singkat, tanah lapisan atas yang subur hilang. Sebagai contoh, tanah Latosol (Inceptisol) pada kemiringan lahan 14% di Citayam, Bogor yang ditanami tanaman semusim tanpa tindakan konservasi tanah mengalami kehilangan tanah setebal 2,50 cm/tahun dan penurunan produktivitas lahan setelah dua tahun. Jika tanah yang hilang setebal 10 cm, maka produksi dapat menurun lebih dari 50% meskipun dilakukan pemupukan lengkap (Suwarnjo, 1981). Kerusakan tanah karena hilangnya fungsi produksi dan hidrologi memerlukan proses rehabilitasi yang relatif lama.

Lahan miring di desa Gadingkulon kecamatan Dau kabupaten Malang kini sudah mulai melakukan konservasi sejak beberapa tahun lalu, tapi sayangnya system usaha tani konservasi ini perlu adanya pengoptimalan dari segi konservasi mekanik maupun vegetative. Prinsip usaha tani konservasi adalah pengendalian erosi tanah dan air secara efektif, serta peningkatan produktivitas tanah dan stabilitas lereng perbukitan.

Dengan melakukan perbaikan sistem usaha tani konservasi di desa Gading kulon kecamatan Dau kabupaten Malang diharapkan dapat mengendalikan erosi, mengawetkan lengas tanah dan meningkatkan produktivitas lahan. Upaya tersebut merupakan bagian dari suatu rencana konstruktif untuk memperbaiki pengelolaan tanah dan air.

 

1.2  Tujuan

a)      Mengetahui kondisi aktual di desa Gading kulon kecamatan Dau kabupaten Malang

b)      Mengidentifikasi permasalahan konservasi yang ada di desa Gadingkulon kecamatan Dau kabupaten Malang

c)      Membuat rekomendasi terhadap pengembangan usaha tani dengan cara perbaikan teknik konservasi baik secara mekanik maupun vegetatif

 

1.3  Sasaran Kegiatan

Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk perbaikan usaha tani para petani di kawasan lahan desa Gading kulon kecamatan Dau kabupaten Malang dengan cara memperbaiki teknik konservasi tanah dan air dari pendekatan penggunaan lahan yang serasi menurut kemampuannya artinya tidak terjadi penggunaan lahan melampaui batas atau di bawah kemampuannya.

 

 

BAB II

KONDISI UMUM

2.1  Karakteristik dan Permasalahan Usahatani Lokasi Sasaran dari Hasil Kegiatan

  1. Kajian Masalah Biofisik

Pada pengamatan di lahan terkait masalah biofisik yang ada yaitu penggunaan lahan, tutupan lahan, erosi, dan pengolahan. Kondisi aktual di lahan gambaran transek dan sketsa sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Transek Kondisi Aktual di Lahan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2. Sketsa Kondisi Aktual di Lahan

Berdasarkan pengamatan permasalahan yang tengah terjadi disana yaitu adanya erosi permukaan berupa erosi alur yang ditandai dengan adanya terbentuknya alur aliran air disekitar/disela-sela tanaman yang mengarah kebawah dan adanya sedimenntasi pada daerah sungai dan diperkuat dengan warna air disungai. Dengan topografi yang landai dan dibagian atas agak curam ditambah dengan curah hujan yang tinggi pada saat inni menyebabkan tingkat erosivitas disana cukup tinggi. Penggunaan lahan yang didominasi oleh tanaman semusim juga mempengaruhi terjadinya erosi berupa erosi percikan dikarenakan pengelolaan lingkungan yang intensif yaitu kegiatan petani disana yang rajin menyiangi rumput disekitar lahan. Permasalahan nyata yang dihadapi petani yaitu penyempitan sungai irigasi karena adanya sedimentasi serta penurunan tingkat kesuburan tanah karena adanya pencucuian hara didaerah yang lebih tinggi.

Jika ditinjau dari segi kualitas air, air yang ditemukan disana yaitu keruh yang disebabkan adanya sedimen yang terangkut. Keadaan disana juga diperparah lagi yaitu tidak adanya filter didaerah aliran irigasi jadi air langsung menuju area persawahan petani. Debit aliran air disana juga sangat tinggi keran kebanyakan air yang berasal dari dearah yang lebih tinggi langsung menuju ke sungai dan terjadi limpasan permukaan. Keadaan rata-rata disana yaitu memiliki tingkat run off yang tinggi sedangkan tingkat infiltrasi yang rendah, hal ini terjadi dalam skala luas karena mayoritas penggunaan lahan disana yaitu lahan persawahan yang tutupan lahannya berupa tanaman semusim yang berumur pendek dan berakar dangkal.

Tutupan lahan yang berupa tanaman semusim yaitu tanaman cabai dan tomat dibagian yang memiliki kelerengan yang landai dan agroforestry dibagian yang miliki kelerengan agak curam. Pada daerah yang ditanami tanaman semusim luasnya mencakup setengah samapai ¾ luas lahan secara keseluruhan. Tanaman yang dibudidayakan adalah tanaman cabai dan tomat, maka pemakaian mulsa  dan pembuatan bedengan pun dilakukan petania disana. Pembuatan bedengan disana sudah sesuai dengan aturan yang sebagai mana mestinya yaitu mengikuti arah kontur dan berlawanan dengan arah kelerengan, sehingga tingkat erosi dapat lebih ditekan. Pemakaian mulsa juga mengurangi tingkat erosivitas yang terjadi disana, karena dengan tingkat curah hujan yang tinggi, air hujan yang jatuh tidak langsung mengenai tanah melainkan mengenai mulsa terlebih dahulu dan terkurangi kecepatannya bila mengenai kanopi dari vegetasi dan sebagian mengalir merambat melalui batang secara vertikal.

Pada saat pengamatan kami tidak mengamati hama dikarenakan waktu pengamatan sudah siang sehingga tidak ada hama yang ditemukan.

  1. Kajian Masalah Sosial Ekonomi dan Pengetahuan Ekologi Lokal

Sejarah lahan dari Lahan pembuatan teras sudah ada sejak jaman dahuli, tidak pernah ada kegiatan konservasi tanah (sepengetahuan petani). Lahan pertanian tersebut dulunya ditanami wortel. Kemudian menjadi lahan pertanaman semusim (tomat) dan lahan pertanaman tumpang sari jeruk dan tanaman semusim (tomat/padi).

Dari hasil wawancara kepada petani tidak terdapat suatu permasalahan berupa modal, permasalahan yang dirasakan petani adalah jika terjadi gagal panen yang dikarenakan curah hujan yang tinggi dan iklim yang tidak menentu. Pengetahuan ekologi local petani bisa dikatakan baik karena petani sadar untuk menjaga lingkungan dengan tanaman pohon, namun petani tetap budidaya tanaman semusim secara monokultur karena petani ingin mendapatkan pendapatan yang tinggi. Jika dianalisis pendapatan petani dengan komoditas tomat adalah sebagai berikut:

Profil Petani Responden

  1. Nama                                 : Purnomo
  2. Umur                                 : 37 tahun
  3. Pendidikan                                    : SMP
  4. Pekerjaan Utama               : Petani
  5. Pekerjaan Sampingan        : Petani
  6. Jumlah Anggota keluarga : 3 Jiwa
  7. Keterangan anggota keluarga (dalam 1 Rumah tangga petani)

 

No

Nama

Hub.dg.KK

Umur

Penddk

Pekerjaan

Utama

Sampingan

1

Purnomo

Kepala keluarga

37

SMP

Petani

2

Sulastri

Istri

34

SMP

Buruh tani

3

Rudi

anak

7

SD

siswa

Tabel 1. Status Keluarga

 

  1. Penguasaan Lahan Garapan Pertanian

No

Keterangan

Jenis Lahan (Ha)

Jumlah

Sawah

Tegal/kebun

Pekarangan

1

Milik Orang Lain

–          Disewa.

–          Dibagi-hasilkan.

1 ha

4 juta/tahun

Jumlah

1 ha

4 juta/tahun

     Tabel 2. Penguasaan Lahan

 

  1. Usahatani (Kegiatan Bercocok Tanam)

 

  1. Komoditas             : Tomat
  2. Pola Tanam           : Monokultur
  3. Kegiatan Becocok tanam Musim Tanam Ke-2 pada Musim Kemarau

No

Waktu Tanam

Jenis Kegiatan

Uraian

1

Juni

Pemupukan dan Penanaman

Pupuk Kandang 40 karung/ha dengan harga Rp.8.000/karung dan biaya tenga kerja Rp.200.000

Bibit 7 pack/ha dengan harga Rp.85.000/pack dan biaya Tenaga Kerja Rp.422.400 mulai dari penyemaian benih hingga tanam.

2

1 Juli

Pemupukan

Pupuk Urea 300 kg/ha dengan harga Rp.3.000/kg

Pupuk SP36 200 kg/ha dengan harga Rp.2.000/kg

Pupuk KNO3 50 kg/ha dengan harga Rp.2.000/kg dan biaya tenaga kerja Rp.200.000

3

20 Juli

Pengompresan

Antracol 2 bungkus dengan harga Rp.91.000/bungkus dan biaya tenaga kerja Rp.300.000

4

30 Juli

Penyiangan

Biaya tenaga kerja sebesar Rp.100.000

                                                            Tabel 3. Kalender Tanam

 

  1. Cara Pengendalian/Pembersihan hama dan yang dilakukan petani :
  2. Menggunakan Pestisida kimia : Petani biasa menggunakan Antracol, Dektan selama 5 hari sekali
  3. Menggunakan Pestisida Organik :-

 

  1. Biaya, Penerimaan dan Keuntungan Usahatani per Tahun

 

No

Uraian

Jumlah (Unit)

Harga/Satuan (Rp)

Nilai (Rp)

I

Biaya Sarana Produksi

1

Bibit Tomat

35 pack

Rp.85.000

Rp.2.975.000

2

Pupuk

Pupuk Anorganik

Urea

SP36

KNO3

1,5 ton

1 ton

250 kg

Rp.3.000

Rp.2.000

Rp.2.000

Rp.4.500.000

Rp.2.000.000

Rp.500.000

Pupuk Kandang

200 karung

Rp.8.000

Rp.1.600.000

3

Obat-obatan

Antracol

10 bungkus

Rp.91.000

Rp.910.000

Dhitan

10 bungkus

Rp.90.000

Rp.900.000

4

Peti

182 peti

Rp.11.000

Rp.2.002.000

 

Total Biaya Saprodi

Rp.15.387.000

II

Biaya Tenaga Kerja

1

Olah Tanah (ternak+orang) (HOK)

20 orang

Rp.20.000 x 5 musim tanam

Rp.2.000.000

2

Penyemaian Benih (HOK)

1 orang

Rp.20.000 x 5 musim tanam

Rp.100.000

3

Pencabutan Benih (kg)

6 orang

Rp.4.000 x 5 musim tanam

Rp.120.000

4

Penanaman (are)

9 orang

Rp.4.500 x 5 musim tanam

Rp.202.500

5

Pemupukan (HOK)

2 orang

Rp.20.000 x 5 musim tanam

Rp.200.000

6

Penyiangan (HOK

1 orang

Rp.20.000 x 5 musim tanam

Rp.100.000

7

Penyemprotan (HOK)

3 orang

Rp.20.000 x 5 musim tanam

Rp.300.000

8

Sewa Lahan

1 ha

Rp.4.000.000/tahun

Rp.4.000.000

 

Total Biaya Tenaga Kerja

Rp.7.225.000

III

Produksi/Penerimaan

1

Penerimaan tomat

11.830 kg

Rp.6000/kg

Rp.70.980.000

IV

Total Biaya Usahatani

Rp.22.612.000

V

Pendapatan Usahatani

(keuntungan bersih)

Rp.48.368.000

VI

R/C ratio

3,2

 

Tabel 4. Analisis Biaya dan Keuntungan

Dari hasil tabulasi data biaya untuk kegiatan budidaya tanaman tomat secara monokultur pada lahan seluas 1 ha dengan sewa lahan sebesar Rp.4.000.000/tahun didapatkan nilai R/C rasio sebesar 3,2 dimana usahatani yang dijalankan efisien dan menguntungkan karena nilai R/C rasio nya > 1. Keseluruhan biaya yang diperlukan sebesar Rp.22.612.000 dan hasil penjualan sebesar Rp.70.980.000 sehingga petani mendapatkan keuntungan Rp.48.368.000/ tahun dengan 5x musim tanam. Petani mengaku jika terjadi gagal panen petani akan mengalami kerugian yang sangat besar, oleh karena itu rekomendasi yang kami berikan mulai dari rekomendasi kimia, mekanik, vegetative, penggunaan lahan, dan ide kewirausahaan diharapkan mampu memperbaiki kesejahteraan petani yang berkelanjutan.

 

  1. Pemasaran Hasil Pertanian

No

Uraian

Jumlah

Pemasaran

Unit

%

Lembaga Pemasaran

Tempat /Lokasi

1

Dikonsumsi Sendiri

2

Dijual

180 peti

100 %

Pasar Karangploso

Tabel 5. Pemasaran Hasil Pertanian

 

2.2  Hasil Identifikasi Local Ecology Knowledge (LEK)

  1. Analisis Pola Tanam dan Faktor-Faktor Erosi

Bapak Purnomo memliki lahan seluas 10.000 m2 , pada lahan tersebut  ditanami tanaman semusim yaitu padi, jagung serta  tanaman hortikultura seperti tomat dan cabai.  Bapak Purnomo selalu melakukan rotasi tanaman setiap kali menanam yaitu apabila dimusim penghujan beliau menanam tanaman padi dan dimusim kemarau beliau menanam tanaman jagung serta di musim musim yang tak menentu seperti sekarang ini beliau lebih fokus menanam tanaman hortikultura seperti tomat dan cabai. Beliau melakukan rotasi tanaman sesuai musim yang tepat, karena kendala yang beliau hadapi ialah faktor alam yaitu tidak menentunya musim. Beliau terkadang melakukan pola tanam tumpangsari tanaman tomat dengan cabai. Menurut keterangan beliau pola tanam tomat dan cabai dilihat dari segi ekonomi dapat memberikan keuntungan yang berlipat sebab disaat musim panen tiba dapat melakukan panen yang bersamaan. Dan menurut beliau Komoditas cabai dan tomat merupakan tanaman semusim yang baru dapat dipanen saat berumur 3 bulan setelah tanam.

 

Gambar 3. Tumpangsari Cabai dan Tomat

Cabai memiliki masa produktif selama kurang lebih 6 bulan. Berdasarkan dari pengalaman para petani, peningkatan jumlah tanaman tumpangsari ini membuat pertumbuhan tanaman menjadi lebih bagus dan meningkatkan hasil produksi masing-masing komoditas. Menurut literatur pola tanam tumpangsari tersebut masih termasuk tumpangsari inter cropping.  Keuntungan pola tanam tumpang sari inter cropping antara lain:

  1. Efisiensi tenaga lebih mudah dicapai karena persiapan tanam, pengerjaan tanah, pemeliharaan, pemupukan dan pemungutannya lebih mudah dimekanisir.
  2. Banyaknya tanaman per hektar mudah diawasi dengan mengatur jarak diantara dan didalam barisan
  3. Menghasilkan produksi lebih banyak untuk dijual ke pasar.
  4. Perhatian lebih dapat di curahkan untuk tiap jenis tanaman sehingga tanaman yang ditanam dapat dicocokkan dengan iklim, kesuburan dan tekstur tanah
  5. Resiko kegagalan panen berkurang bila dibandingkan dengan monokultur
  6. Kemungkinan merupakan bentuk yang memberikan produksi tertinggi karena penggunaan tanah dan sinar matahari lebih efisien
  7. Banyak kombinasi jenis-jenis tanaman dapat menciptakan stabilitas biologis terhadap serangan hama dan penyakit (Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM, 2009)

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi Erosi

Faktor-faktor tersebut dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor yang dapat dikendalikan manusia dan faktor yang tidak dapat dikendalikan manusia. Faktor yang dapat dikendalikan oleh manusia adalah tanaman sedangkan iklim dan topografi secara langsung tidak dapat dikendalikan oleh manusia dan untuk tanah dapat dikendalikan secara tidak langsung dengan pengolahan tertentu (Hakim dkk., 1986).

  1. Vegetasi

Keadaaan vegetasi disana sudah jelas bahwa bapak purnomo menanam tanaman dengan pola tanam tumpangsari tomat dan cabai. Dari keterangan beliau bahwa hanya terdapat erosi massa, alur dan percikan. Menurut keterangan dari literatur, berbedanya jenis tumbuhan penutup lahan yang ada di setiap daerah aliran sungai  menyebabkan berbedanya indeks erosi yang ditimbulkan. Indeks erosi yang paling tinggi terdapat pada kelas kemiringan lereng 3-8%,  besar indeks erosinya yaitu 0,3762. Jenis tumbuhan tutupan lahan yang ada adalah tomat, kopi dan kebun campuran; kelas kemiringan lereng 0-3% dengan kode tempat X besar indeks erosinya adalah 0,3397 dan jenis tumbuhan tutupan lahan yang ada adalah cabai, tomat, dan kebun campuran. Sedangkan indeks erosi yang paling rendah terdapat pada kelas kemiringan lereng 15-35% dengan indeks erosi adalah sebesar 0,0006 pada kode tempat dan tumbuhan tutupan lahan yang ada adalah hutan.

  1. Iklim

Menurut keterangan bapak Purnomo terjadinya iklim yang tidak menentu yaitu terkadang hujan dimusim kemarau dan kemarau dimusim penghujan, keadaan disanapun juga memepengaruhi perkembangan tanaman budidaya yang ditanam. Namun selain memepengaruhi tanaman yang ditanam juga dapat mempengaruhi erosi. Menurut literatur pada daerah tropis faktor iklim yang paling besar pengaruhnya terhadap laju erosi adalah hujan. Jumlah dan intensitas hujan diIndonesia umumnya lebih tingi dibandingkan dengan negara beriklim sedang. Besarnya curah hujan menentukan kekuatan dispersi, daya pengangkutan dan kerusakan terhadap tanah. Intensitas dan besarnya curah hujan menentukan kekuatan dispersi terhadap tanah. Jumlah curah hujan rata-rata yang tinggi tidak menyebabkan erosi jika intensitasnya rendah, demikian pula intensitas hujan yang tinggi tidak akan menyebabkan erosi bila terjadi dalam waktu yang singkat karena tidak tersedianya air dalam jumlah besar untuk menghanyutkan tanah. Sebaliknya jika jumlah dan intensitasnya tinggi akan mengakibatkan erosi yang besar. (Arsyad, 1989).

  1. Topografi

Pada keadaaan aktual topografi disana memang keadaannya miring dan lahannya terbentuk terasering sehingga kata bapak Purnomo kemiringan lahan juga dapat menyebabkan erosi. Menurut literatur kemiringan dan panjang lereng adalah dua faktor yang menentukan karakteristik topografi suatu daerah aliran sungai. Kedua faktor tersebut penting untuk terjadinya erosi karena faktor-faktor tersebut menentukan besarnya kecepatan dan volume air larian (Asdak, 1995). Unsur lain yang berpengaruh adalah konfigurasi, keseragaman dan arah lereng (Arsyad, 1989).Panjang lereng dihitung mulai dari titik pangkal aliran permukaan sampai suatu titik dimana air masuk ke dalam saluran atau sungai, atau dimana kemiringan lereng berkurang sedemikian rupa sehingga kecepatan aliran air berubah. Air yang mengalir di permukaan tanah akan terkumpul di ujung lereng. Dengan demikian berarti lebih banyak air yang mengalir dan semakin besar kecepatannya di bagian bawah lereng dari pada bagian atas.

  1. Pendugaan Erosi dan Edp

Sifat fisik tanah ini membahas tentang erosi. Erosi dapat terjadi apabila didukung oleh beberapa faktor antara lain tingkat kemiringan tanah, tekstur tanah, jenis vegetasi, kandungan air, garis kontur, kelerengan, bentuk lahan serta kecukupan haranya. menurut (Hardjoamidjojo, 1993) erosi merupakan peristiwa terangkutnya atau berpindahnya tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami berupa air atau angin. Dari hasil pengamatan fisik tanah di lahan pertanian Desa gading kulon kec. Dau, Kab. Malang diketahui persentasi rata-rata kemiringan tanah dengan menggunakan klinometer sebesar 30 %. Kemiringan ini memungkinkan dapat terjadi erosi karena keadaan tanah yang gembur serta jenis tanaman yang ditanam adalah tanaman semusim yaitu berupa tanaman sayur-sayuran, seperti tomat, cabai, serta jagung. Tanaman semusim tersebut tidak cukup kuat untuk menahan erosi, disamping itu sekarang sedang terjadi musim hujan yang secara terus menerus yang bisa menyebabkan agregat tanah semakin hancur karena pukulan air hujan dan kikisan air limpasan permukaan. Dan dari pengamatan pada kegiatan survey yang telah dilakukan, jelas terlihat bahwa telah terjadi erosi alur, erosi percikan serta erosi masa, erosi masa terjadi ditepi sungai.namun tidak terlalu besar dan tidak terlalu berdampak bagi lahan tersebut, dampak yang terjadi langsung ke air sungainya yang bisa mengalami kekeruhan. Tidak semua lahan sekitar yang berpotensi terjadinya erosi karena masih terlihat ada yang berpotensi sebagai agroforestry yang dapat menahan terjadinya erosi. Tekstur tanah yang ada disana remah dan jenis vegetasi yang ada dilahan agroforestry yaitu bosia dan rumput gajah, pada tanaman semusim terdapat tanaman cabai dan tomat. Untuk kecukupan hara disana sepertinya kurang memenuhi kebutuhan pada masing-masing tanaman ini bisa diperlihatkan pada tanaman jagung yang kekurangan unsur N, dan P.

 

 

 

Gambar 4. Erosi Massa

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

REKOMENDASI

3.1  Rekomendasi Konservasi Penggunaan Lahan

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada desa Gading Kulon , macam penggunaan lahannya antara lain hutan terganggu, agroforestri, pertanaman monokultur, dan sungai. Sedangkan tutupan lahannya berupa rumput gajah yang dinaungi pohon bosia, tanaman jagung yang telah mengalami masa panen, tanaman tomat, tanaman cabai, pisang, dan pohon kelapa. Dengan penutup lahan yang demikian, biodiversitas landscape yang diamati tergolong sedang. Dengan kelerengan yang cenderung datar, budidaya yang diterapkan oleh petani sekitar sebenarnya telah baik, namun saja kurangnya tata letak bagi sistem tanamnya. Misalnya saja bagi daerah tepi aliran sungai yang seharusnya ditanami tanaman tahunan ataupun bisa juga digantikan dengan tanaman filter, namun pada kenyataannya dilapang, yang digunakan adalah tanaman semusim yang tidak memiliki perakaran yang dalam dan tidak mampu menahan sedimen yang ikut terbawa aliran air pada saat hujan, sehingga sungai menjadi keruh akibat adanya sedimen yang mengendap didaerah aliran sungai sekitar lahan tersebut.

Ditinjau  kelerengannya, sistem pertanaman yang baik untuk menyangga ataupun sebagai filter, sebaiknya dengan menanami tanaman budidaya pada bagian atas, atau biasa disebut dengan kawasan budidaya, kemudian menanami tanaman pengendali limpasan. Pengendali limpasan dimaksudkan untuk mengurangi limpasan permukaan yang akan terjadi jika tanah mengalami perusakan akibat adanya erodibilitas. Lantai tanah yang tertutup vegetasi dan seresah merupakan cara yang efektif untuk mengurangi limpasan dan melindungi permukaan tanah dari faktor-faktor yang dapat merusak tanah. Sedangkan untuk mengurangi erosivitas, dapat dilakukan dengan cara menanami tanaman tahunan dengan tanaman budidaya, agroforestri. Dengan begitu, maka akan didapati tajuk berlapis yang kemudian akan dapat mengurangi dampak penghancuran tanah yang terjadi akibat hantaman air hujan yang dapat merusak struktur tanah. Selain menanami tanaman guna mencegah dan mengurangi limpasan, hutan tanaman dan hutan lindung juga penting untuk memperbaiki neraca air, diantaranya dapat meningkatkan intersepsi, meningkatkan kapasitas infiltrasi, meningkatkan kapasitas tanah  menahan air, dan meningkatkan kapasitas perkolasi. Batang tanaman menjadi penahan erosi air hujan dengan cara merembeskan aliran dari tajuk melewati batang menuju permukaan tanah sehingga energi kinetiknya berkurang. Batang juga berfungsi memecah dan menahan laju aliran permukaan. Beberapa jenis tanaman yang ditanam dengan jarak rapat, batangnya mampu membentuk pagar sehingga memecah aliran permukaan. Partikel tanah yang ikut bersama aliran permukaan akan mengendap dibawah batang dan lama kelamaan akan membentuk bidang penahan aliran permukaan yang lebnih stabil. Keuntungan menggunakan sistem vegetatif ini adalah keumdahan penerapannya. Selain itu, fungsi tanaman hutan pada tepi sungai juga mampu menyimpan air dan meredam debit pada saat musim penghujan dan menyediakan air secara terkendali pada musim kemarau. Keempat hal tersebut dapat dilakukan sebagai upaya untuk mengelola landscape pertanian agar dapat meminimalisir terjadinya erosi.

Rekomendasi diatas merupakan salah satu contoh konservasi tanah secara vegetatif yang memanfaatkan tanaman atau vegetasi maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi, penghambat aliran permukaan, peningkatan kandungan lengas tanah, serta perbaikan sifat-sifat tanah, baik sifat fisik, kimia, maupun biologi (Agus et al., 1999).  Berdasarkan deskripsi diatas, rekomendasi penggunaan lahan bagi landscape pertanian di desa Gadingkulon, sebaiknya dengan agroforestri dengan jenis tanaman yang beragam dan tajuk berlapis, pertanaman tumpangsari, tanaman penutup tanah atau vegetasi yang rapat guna melindungi permukaan tanah, serta hutan tanaman dan hutan lindung sebagai filter dan buffer disepanjang tepian sungai dsehingga dapat mengurangi jumlah sedimen yang masuk ke sungai.

3.2  Rekomendasi Konservasi secara Vegetatif

Konservasi tanah adalah penempatan tiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah dan memperlakukannnya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlakukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Teknik konservasi tanah di Indonesia diarahkan pada tiga prinsip utama yaitu perlindungan tanah terhadap pukulan butir-butir hujan, meningkatkan kapasitas infiltrasi tanah seperti pemberian bahan organik atau dengan cara meningkatkan  penyimpanan air, dan mengurangi laju aliran permukaan sehingga menghambat material tanah dan hara terhanyut (Agus et al., 1999).Konservasi tanah terbagi atas 3 yaitu secara vegetative, mekanis dan kimia yang pada prinsipnya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mengendalikan laju erosi, namun efektifitas, persyaratan dan kelayakan untuk diterapkan sangat berbeda.

Teknik konservasi secara vegetatif adalah setiap pemanfaatan tumbuhan/tanaman maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi, penghambat laju aliran permukaan, peningkatan kandungan lengas tanah, serta perbaikan sifat sifat tanah, baik fisik, kimia maupun biologi. Fungsi tumbuhan dalam metode ini untuk : a) melindungi tanah dari daya perusak butir-butir hujan, b) melindungi tanah dari aliran permukaan, dan c) memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan penahanan air yang akan mempengaruhi besarnya aliran permukaan. Termasuk dalam metode vegetatif ini diantaranya; budidaya tanaman semusim (jagung, kacang tanah, dan lain-lain) secara musiman atau tanaman permanen, penanaman dalam strip cropping, pergiliran tanaman, sistem pertanian hutan (agro forestry), pemanfaatan sisa tanaman (Wudianto, R., 1989).

Gambar 5. Landscape pengamatan

Sesuai dengan pengertian dari konservasi vegetatif yang merupakan pemanfaatan tanaman/vegetasi maupun sisa-sisa tanaman sebagai media pelindung tanah dari erosi serta perbaikan sifat sifat tanah. Pada lokasi pengamatan yang terletak di Desa Gading Kulon, Dau – Malang sistem penanamannya sudah searah dengan kontur dengan menggunakan teras bangku. Teras bangku ialah bangunan konservasi tanah adan air yang dibuat dengan penggalian dan pengurungan tanah, membentuk banguna berupa bidang olah, guludan, dan saluran air yang mengikuti kontur yang berfungsi utnuk mengurangi panjang lereng dan menahan air, sehingga mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan, dan memungkinkan penyerapan air oleh tanah. Dengan demikian erosi berkurang (Yuliarta et al., 2002).

 

Gambar 6. Skema yang menggambarkan zona hulu, punggung, dan kaki

Pada daerah pengamatan yang dilakukan di Desa Gading Kulon sudah menerapkan sistem kontur dengan menggunakan teras bangku. Pada lereng paling atas (zona hulu) ialah lahan yang memiliki land use agroforestry tanaman sengon dan bamboo serta ada pisang dan rumput gajah. Lalu pada lereng tengah (zona punggung atau luncuran) memiliki land use berupa sawah dan penanaman tanaman semusim dengan menggunakan penanaman menurut kontur, sedangkan pada bagian lereng bawah merupakan penggunaan lahan tegalan dengan komoditas tanaman jagung yang juga dengan penanaman menurut kontur atau berupa teras bangku. Pada lahan dengan kemiringan antara 15-30% diperlukan adanya teras bangku untuk meningkatkan resapan air, mengendalikan erosi dan aliran permukaan. Namun adanya teras bangku pada daerah yang memiliki kemiringan lahan sebesar 30% belum efektif mengatasi permasalahan erosi pada daerah tersebut. Apalagi pada bagian lereng tengah yang digunakan untuk pertanaman tanaman semusim (tomat, jagung, cabe) secara monokultur. Teknik konservasi yang sudah dilakukan hanya berupa teknik konservasi mekanik sedangkan dalam prakteknya konservasi mekanis dalam pengendalian erosi harus selalu diikuti oleh cara vegetatif, yaitu penggunaan tumbuhan/tanaman dan sisa-sisa tanaman/tumbuhan (misalnya mulsa dan pupuk hijau), serta penerapan pola tanam yang dapat menutup permukaan tanah sepanjang tahun.

Salah satu cara vegetatif yang dapat dilakukan ialah dengan menggunakan NVS (Natural Vegetative Strip) atau dengan menggunakan grass strip yang dapat berfungsi mengurangi aliran permukaan. Penelitian yang dilakukan oleh Suhardjo et al. (1997), Abdurachman et al. (1982), dan Abujamin (1978), membuktikan bahwa untuk untuk lahan dengan kereng dibawah 20% sistem ini sangat efektif menahan partikel tanah yang tererosi dan menahan aliran permukaan. Tetapi apabila lahan mempunya lereng diatas 20% dibutuhkan tindakan konservasi lainnya seperti teras bangku dan alley cropping. Pada saat penggunaan grass strip, rumput yang ditanam sebaiknya dipilih dari jenis yang berdaun vertikal sehingga tidak menghalangi kebutuhan sinar matahari bagi tanaman pokok, tidak membutuhkan ruangan untuk oertumbuhan vegetatifnya, mempunya perakaran kuat dan dalam, cepat tumbuh, tidak menjadi pesaing terhadap kebutuhan hara tanaman pokok dan mampu memperbaiki sifat tanah.

Penanaman rumput pada berbagai tempat terbuka sangat penting dalam membantu mengendalikan erosi dan aliran permukaan di lahan pertanian. Tempat-tempat terbuka tersebut antara lain saluran pembuangan air (SPA), rorak, jalan dan bidang lereng dari lahan pertanian. Penanaman rumput pada SPA atau dinamakan sabagai SPA yang diperkuat dengan rumput (grassed waterways) penting untuk mengamankan SPA, sehingga lahan pertanian dapat lebih stabil. Teknik ini baik untuk lahan yang lerengnya < 30%. Jika air buangannya mengalir terus dan kecepatannya melebihi 1,5 m detik-1, maka dasar salurannya perlu diperkuat dengan semen. Untuk mengurangi kekuatan aliran air, maka SPA yang diperkuat dengan rumput tersebut di beberapa tempat dengan jarak yang teratur ditambah dengan terjunan air (drop spillways). Rumput yang sesuai untuk teknik ini adalah Bahia grass (Paspalum notatum) atau rumput kerpet (Axonopus affinis). Tempat-tempat yang terus menerus ternaungi atau tanahnya terlalu berbatu tidak cocok untuk teknik SPA dengan rumput ini (FFTC, 1995).

Penguatan lereng dengan menanam rumput merupakan teknik untuk melindungi dan menstabilkan lereng (vegetative slideslope stabilization) dari suatu lahan pertaniaa. Penanaman rumput ini juga mengurangi biaya pemeliharaan lereng dan menambah keindahan dari bentang alam. Jenis rumput yang ditanam sebaiknya yang dapat tumbuh rapat dan berakar dalam. Kalau keadaannya memungkinkan dapat ditanam tanaman yang berbunga. Pada waktu penanaman rumput tersebut perlu dipupuk karena tanahnya berasal dari lapisan bawah yang umumnya miskin unsur-unsur hara (FFTC, 1995).

Penggunaan teras bangku yang dikombinasikan dengan teknik konservasi vegetatif secara grass strip di bibir teras hingga tampingan teras menghasilkan pengurangan tingkat erosi 30-50% dibandingkan bila strip rumput hanya ditanam di bibir teras saja. Menurut Suhardjo et al. (1997), pada tanah Inceptisols dengan curah hujan 1.441,8 mm/musim yanam maupun Entisols dengan curah hujan 1.625,5 mm/musim tanam, strip rumput yang ditanam di bibir teras saja ternyara masih menghasilkan erosi yang tinggi yaitu 20t/ha/musim tanam.

Berdasarkan literatur pada lahan yang memiliki kemiringan lereng sebesar 30% harus  memiliki proporsi tanaman yang ideal pada lahan agroforestry antara tanaman tahunan dan semusim yang ideal seperti pada gambar 2. Secara umum proporsi tanaman tahunan makin banyak pada lereng yang semakin curam demikian juga sebaliknya. Tanaman semusim memerlukan pengolahan tanah dan pemeliharaan tanaman yang lebih intensif dibandingkan tanaman tahunan. Pananaman tanaman tahunan tidak memerlukan pengolahan tanah secara intensif. Perakaran yang dalam dan penutupan tanah yang rapat mampu melindungi tanah dari erosi.

 

Gambar 7. Acuan umum proporsi tanaman pada kemiringan lahan yang berbeda (P3HTA), 1987

Tanaman tahunan yang dipilih sebaiknya dari jenis yang dapat memberikan nilai tambah bagi petani berupa hasil buah maupun kayunya. Selain dapat menghasilkan keuntungan dengan lebih cepat dan lebih besar.

3.3  Rekomendasi Konservasi Kimia

Kondisi lahan berdasarkan pengamatan mengalami degradasi baik dari biofisik, kimia maupun biologi. Penggunaan lahan sebagai sawah dengan tutupan lahan tomat, cabai dan padi dengan sistem tanam monokultur. Potensi vegetasi yang berada di lahan masih belum bisa mempertahankan kondisi yang ideal bagi pertumbuhan tanamann secara alami karena mengalai erosi alur bahkan erosi masa (longsor). Sehingga banyak unsur hara yang tercuci melalui aliran erosi. Kondisii seperti ini jika dibiarkan terus-menerus akan mengalami kualitas sumberdaya lahan semakin menurun maka perlu adanya konservasi baik secara vegetativ, mekanis dan kimia.

Konservasi secara kimia bertujuan untuk menambahkan bahan organik baik dari pupuk kandang maupun mengembalikan sisa panen ke dalam tanah, menambah biodiversitas tanaman dan pengaturan pola tanam. Menurut Hardjowigeno (2003), peningkatan ini dapat memperbaiki struktur tanah, porositas, penambahan unsur N, P, S, unsure mikro lain dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air serta peningkatan kapasitas tukar kation. Selain itu juga bisa menambahkan mulsa sebagai mengurani erosi percikan dan evaporasi karena dengan adanya mulsa aktivitas mikroba tanah akan meningkat dan berperan sebagai dekomposisi bahan organik (seresah) Siregar dan Pratiwi (1999) menyatakan bahwa dengan adanya mulsa, aktivitas mikroba tanah akan meningkat dan berperan dalam dekomposisi bahan organik/serasah.

Hasil dekomposisi selain kaya akan unsure hara, secara fisik juga berperan sebagai respon yang dapat menyerap dan memegang massa air dalam jumlah besar sehingga penyimpanan air dalam tanah menjadi lebih efisien dan menekan aliran permukaan. Peningkatan bahan organic meskipun dalam jumlah yang kecil namun dapat memperbaiki sifat tanah. Sehingga dengan adanya konservasi tersebut bisa menambah unsur hara yang lebih komplek untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

3.4  Rekomendasi Konservasi secara Mekanis

DESKRIPSI

Pada umumnya di lokasi pengamatan dilahan tomat yang kami amati didesa gading kulon kecamatan dau kabupaten malang, untuk pengolahan lahannya masih menggunakan sistem pengolahan tradisional yaitu dengan menggunakan jasa hewan ternak sapi. Oleh karena itu rekomendasi yang bisa dijalankan  dengan konservasi secara mekanis yaitu dengan pembuatan

PERBAIKAN TERAS BANGKU

Seperti halnya teras gulud, teras bangku berguna untuk menurunkan laju aliran permukaan dan menahan erosi. Teras bangku dibuat dengan jalan memotong lereng dan meratakan tanah di bidang olah sehingga terjadi suatu deretan berbentuk tangga. Di lahan yang kami amati, sudah menggunakan teras bangku namun perlu adaanya perbaikan lagi agar sistem irigasi bisa berjalan dengan baik.

Persyaratan Teras Bangku

Kemiringan lahan 10 – 40% (di tingkat petani ditemukan teras bangku pada lahan yang jauh lebih curam; sampai 100%).

Solum tanah > 60 cm. Tanah stabil, tidak mudah longsor.

Ketersediaan tenaga kerja cukup untuk pembuatan dan pemeliharaan teras.

Persyaratan Teras Bangku

Teras bangku dapat dibuat dengan interval vertikal 0,5 sampai 1 m.

Pembuatan teras dimulai dari lereng atas dan terus ke lereng bawah untuk menghindarkan kerusakan teras yang sedang dibuat oleh air aliran permukaan bila terjadi hujan.

Tanah bagian atas digali dan ditimbun ke bagian lereng bawah sehingga terbentuk bidang olah baru. Tampingan teras dibuat miring; membentuk sudut 200% (63 ) dengan bidang horizontal. Kalau tanah stabil tampingan teras bisa dibuat  lebih curam (sampai 300% atau 71 ).

Kemiringan bidang olah berkisar 0 sampai 3 % mengarah ke saluran teras.

Guludan (bibir teras) dan bidang tampingan teras ditanami dengan tanaman berakar rapat, cepat tumbuh, dan menutup tanah dengan sempurna. Untuk petani yang memiliki ternak ruminansia dapat ditanami rumput pakan ternak. Contoh tanaman yang dapat ditanam pada guludan dan bibir teras adalah Paspalum notatum, Brachiaria brizanta, Brachiaria decumbens, atau Vetiveria zizanioides. Guludan teras dapat juga ditanami dengan salah satu tanaman legum pohon atau perdu seperti Gliricidia, lamtoro, turi, stylo, dan lain-lain. Tanaman leguminose (kacangkacangan) menguntungkan karena menyumbangkan N.

Sebagai kelengkapan teras perlu dibuat saluran teras, saluran pengelak, saluran pembuangan air serta terjunan. Ukuran saluran teras: lebar 15-25 cm, dalam 20-25 cm.

Untuk mengurangi erosi dan meningkatkan infiltrasi, rorak bisa dibuat di dalam saluran teras atau saluran pengelak.

Air aliran permukaan perlu diarahkan ke SPA yang aman (berumput dan dilengkapi dengan bangunan terjunan air).

Keluarkan sedimen dari dalam saluran dan dari rorak secara berkala, terutama pada musim hujan.

Sulam tanaman tampingan dan bibir teras yang mati.

Pangkas rumput yang tumbuh pada saluran, tampingan dan bibir teras.

Keuntungan Teras Bangku:

Bidang olah teras yang datar lebih mudah ditanami daripada lahan asli yang berlereng curam.

Kalau bangunan teras cukup baik akan sangat efektif dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan.

Meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah.

Masalah Teras Bangku:

Memerlukan banyak tenaga kerja untuk pembuatannya.

Pada bidang olah teras sering tersingkap lapisan bawah tanah (subsoil) yang umumnya kurang subur terutama pada tahun-tahun pertama sesudah pembuatan teras.

 

REKOMENDASI RORAK

 

Kelompok kami merekomendasikan penggunaak Rorak karena rorak terdiri dari lubang-lubang buntu dengan ukuran tertentu yang dibuat pada bidang olah dan sejajar dengan garis kontur. Fungsi rorak untuk lahan tomat dan cabai adalah untuk menjebak dan meresapkan air ke dalam tanah serta menampung sedimen-sedimen dari bidang olah, sehingga tanaman tomat dan cabai dapat tumbuh secara optimal. Pembuatan rorak dapat dikombinasikan dengan mulsa vertikal untuk memperoleh kompos.

Gambar 8. Denah Rorak

Rorak adalah bangunan konservasi tanah dan air yang  relatif mudah diuat. Adanya rorak akan menjebak aliran permukaan dan memberikan kesempatan kepada air hujan untuk terinfiltrasi ke dalam tanah. Dengan demikian rorak akan menurunkan aliran permukaan yang keluar dari persil lahan secara signifikan.

 

3.5  Perbaikan Usahatani Petani dengan Penerapan Pertanian Konservasi

Pada umumnya, petani di dataran tinggi Di Daerah dawu ini telah membuat bedengan atau guludan searah lereng pada bidang-bidang teras. Namun, sangat disayangkan bahwa teras bangku tersebut umumnya miring ke luar, sehingga erosi atau longsor masih mungkin terjadi. Selain itu, pada bagian ujung luar teras (talud) tidak ditanami tanaman penguat teras dan permukaan tanah pada tampingan teras juga terbuka atau bersih tidak ada tanaman. Hanya ada satu baris tanaman NVS yang ditanam di pinggir teras tanaman padi dan itupun hanya sekitar 2 meter.

Hanya ada satu baris sekitar 2 meter NVS yang ditanam dipinggir terasering

Gambar 9. Pengamatan NVS

Untuk meningkatkan efektivitas teras yang dibuat, perlu ditanami tanaman penguat teras pada bibir dan tampingan teras. Rumput Bede (Brachiaria decumbens) dan Rumput Bahia (Paspalum notatum) merupakan contoh dari tanaman penguat teras yang terbukti efektif mengurangi tingkat erosi pada lahan yang curam. Dengan dilakukannya penanaman tanaman penguat teras tersebut, juga akan didapat nilai tambah lainnya dari teras yang dibuat, yaitu sebagai sumber pakan ternak dan bahan organik tanah. Pengembangan  teras juga dapat dikombinasikan dengan pembangunan rorak untuk memperbesar peresapan air ke dalam tanah dan menampung tanah yang tererosi, serta pembangunan saluran teras yang berada tepat di atas guludan. Saluran teras dibuat agar air yang mengalir dari bidang olah dapat dialirkan secara aman ke SPA (saluran pembuangan air).

Gambar 10. Sketsa Rekomendasi Mekanis

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rejekiningrum dan Haryati (2002) menggunakan rorak dengan ukuran lebar 0,7 – 1 m, panjang 3 meter dan kedalaman 0,75 m di perkebunan rambutan seluas 1600 m2 di Kecamatan Ungaran, Kabupaten Semarang. Rorak dibuat sebanyak 6 baris dari atas ke bawah dengan jarak 5 – 10 m dalam barisan dan 10 meter antar barisan dengan posisi zig zag. Tanah bekas galian diangkat ke atas dan dibuat guludan dengan tinggi 20 cm dan lebar 30 cm pada ujung rorak bagian bawah serta pinggir kiri dan kanan. Penelitian ini menemukan bahwa rorak mampu menurunkan aliran permukaan sebesar 51% sehingga dapat menurunkan proses degradasi lahan. Pembuatan rorak secara toposekuen dapat mendistribusikan air secara lebih merata dalam satu hamparan.

Ketika di lokasi tersebut telah mengoptimalkan penggunaan terasering, rorak, saluran pembuangan air dan tanaman penguat teras maka dapat dipastikan akan terjadi penurunan nilai indeks erosi di daerah tersebut. Hasil penelitian Abdullah Abas Id (2003) di daerah curam wilayah DI Yogyakarta “dengan teknik konservasi yang dilakukan oleh petani sekitar diantaranya dengan teras bentuk tampingan miring, rorak, saluran pebuang air dan tanaman penguat teras serta perubahan pola tanam telah menurunkan nilai inderosi (Tabel 2).”

Gambar 11. Nilai Indeks Erosi

Selain mengoptimalkan perbaikan teras seperti yang dijelaskan di atas, petani direkomendasikan untuk melakukan penambahan bahan organik berupa pupuk kandang sebab terlihat beberapa tanaman disana masih ada yang kekurangan unsur hara selain itu hasil wawancara dengan petani penggunaan pupuk kandang di lahan mereka masih dalam takaran sedikit, sehingga ketika proses leaching yang mungkin terjadi di lahan akan menyebabkan tanaman tidak tumbuh baik sebab kekurangan unsur hara. Dan itu jelas akan menurunkan usahatani mereka.

Tanaman jagung yang kekurangan unsur hara

Gambar 12. Tanaman Jagung yang Kekurangan Unsur Hara

Menurut Abdullah Abas Id (2003) dijelaskan bahwa “dalam kurun waktu 3-6 tahun, penyempurnaan teras yang diikuti rehabilitasi lahan dengan pemberian pupuk kandang 5-10 t/ha dan pergiliran tanaman mampu memperbaiki kondisi tanah. Kadar C-Organik meningkat sangat nyata sehingga KTK tanah serta kandungan K dan Mg meningkat. Peningkatan bahan rganic tanah dapat memperbaiki daya pegang tanah terhadap pupuk sehingga tanah kritis berangsur-angsur mendekati ke kondisi normal dan produktif. Dengan memelihara ternak sapi, kambing atau domba petani dapat memberikan pupuk kandang dengan takaran agak tinggi sehingga memperbaiki kondisi tanah. Oleh karena itu, keberadaan ternak dilahan tersebut mempunyai kaitan yang erat dengan upaya pengendalian erosi tanah karena petani harus menanam hijauan pakan teras lahannya. Untuk itu menurut penelitian yang dilakukan Abdullah Abas Id (2003) menyatakan “pendapatan usaha tani setelah mengikuti anjuran teknik uasahatani konservasi menunjukkan peningkatan yang bervariasi dari 28% sampai 190% (tabel 4).”

Gambar 13. Pendapatan setelah Konservasi

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

Rencana Pengembangan Perencanaan untuk Dukungan Pemasaran Hasil Usahatani dan Kewirausahaan Petani

4.1 Pemasaran dan Panen Aktual Petani

Pada hasil wawancara kepada petani di dusun Mulyorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang dengan petani responden bernama Bapak Purnomo yang mengatakan bahwa pemsaran yang dilakukan untuk komoditas tomat yaitu langsung menjual ke pasar Karangploso dengan harga Rp.6.000/kg, dimana dalam satu peti terdapat 65 kg tomat. Jika diakumulasikan selama 1 tahun dengan biaya sewa lahan Rp.4.000.000 dan biaya total sebesar Rp.22.000.000, dimana terdapat 5 kali panen yang menghasilkan penerimaan sebesar Rp.70.980.000 akan menghasilkan keuntungan sekitar Rp.48.000.000. Jika terjadi gagal panen, petani akan mengalami kerugian yang sangat besar. Oleh karena itu petani membutuhkan pekerjaan sampingan untuk menambah pendapatannya.

Menurut Bapak Purnomo tidak terdapat suatu masalah dalam pemasaran karena pasar sudah tersedia dan harga yang menentukan adalah Bapak Purnomo sendiri. Petani mangaku bahwa untuk melakukan kegiatan pasca panen tidak memiliki waktu yang cukup dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya, jadi ketika panen produk sayuran langsung dipasarkan ke pasar dalam kondisi segar. Hal tersebut merupakan suatu faktor yang menyebabkan pendapatan petani rendah selain petani mengalami gagal panen. Tindakan pasca panen perlu dilakukan untuk meningkatkan nilai jual suatu produk pertanian, karena produk pertanian memiliki karakteristik mudah rusak dan tidak tahan lama. Oleh karena itu perlu adanya pendekatan agar petani mau dan mampu untuk melakukan kegiatan pasca panen guna meningkatkan pendapatan petani dan mensejahterakan kehidupan petani.

4.2  Ide Pemasaran Hasil Usahatani dan Kewirausahaan Petani

Baberapa faktor yang dapat mempengaruhi kewirausahaan pertanian adalah organisasi, psikologis/ kognitif, pendidikan, ekonomi, karakteristik pribadi, finansial, sosial dan peraturan yang berlaku. Hal ini karena, faktor-faktor tersebut diduga kuat mempengaruhi penciptaan lapangan kerja dan kesinambungan kinerja usaha pertanian. Menurut Ronning dan Ljunggren (2007), faktor psikologis/kognitif adalah yang paling penting. Selain itu, faktor pendidikan selalu berpotensi memainkan peran penting dalam kegiatan kewirausahaan pertanian. Lingkungan peraturan dan kebijakan yang kondusif merupakan prasyarat yang diperlukan untuk meningkatkan kapasitas kewirausahaan koperasi pertanian. Begitu juga dengan faktor sosial, ekonomi, dan budaya (Dodd dan Gotsis, 2007).

Dari permasalahan yang ada yaitu petani tidak memiliki waktu untuk  berwirausaha, pendidikan petani yang kurang, serta modal untuk melakukan usaha juga kurang, dibutuhkan sebuah ide yang bisa mengatasi masalah tersebut. Dari hasil wawancara dan analisis yang dilakukan, terdapat beberapa ide yang direkomendasikan untuk petani tomat pada Desa Mulyorejo Kecamatan Dau Kabupaten Malang seperti dengan pendekatan oleh Kelompok Tani yang ada di daerah tersebut, pinjaman modal oleh lembaga keuangan maupun pemerintah, dan penyediaan alat-alat untuk melakukan wirausaha berupa pembuatan saos tomat. Ide tersebut memerlukan bantuan dari berbagai pihak seperti pihak penyuluh, pihak penyedia modal, dan pihak pengusaha untuk membantu petani. Pendekatan yang dilakukan oleh pihak penyuluh diharapkan mampu membangkitkan semangat petani dan meningkatan kemampuan petani untuk melakukan wirausaha, peminjaman modal akan menunjang kebutuhan petani untuk melakukan usaha, serta pinjaman alat-alat juga akan membantu petani agar lebih mudah menjalankan usahanya. Pengusaha yang menyadiakan alat-alat akan mendapatkan imbal jasa berupa produk yang segar dari petani berupa saos tomat yang bisa dipasarkan dengan harga yang lebih tinggi lagi dengan memberi label. Selain ide wirausaha, juga diperlukan ide kegiatan pasca panen seperti saat panen buah tomat dilakukan penyortiran berdasarkan ukuran dan kualitas buah tomatnya, sehingga petani bisa menentukan harga berdasarkan ukuran dan kualitas buah tomat. Pembungkusan buah tomat menggunakan peti juga dirasa kurang efisien dan higienis, jika kelompok usahatani mampu bekerjasama dengan perusahaan besar, maka ide untuk pembungkusan buah tomat yaitu dengan membungkus pada foam yang ditutup dengan kertas warapping yang bisa menjaga kualitas buah tomat dalam jangka waktu yang lama.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Agus, F., A. Abdurachman, A. Rachman, S. H. Tala’ahu, A. Dariah, B.R. Prawiradiputra, B. Hafif dan S. Wiganda. 1999. Teknik Konservasi Tanah dan Air. Sekretariat Tim Pengendali Bantuan Penghijauan dan Reboisasi Pusat. Jakarta

Arsyad, Sitanala. 1989. Konservasi Tanah dan Air. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Asdak, Chay. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. UGM Press. Yogyakarta.

FFTC. 1995. Soil Conservation Handbook. Chinese Edition. Food and Fertilizer Technology Center (FFTC) for The Asian and Pacific Region. Taipei. Taiwan

Suhardjo, M.,  A, Abas Idjudin, dan Maswar. 1997. Evaluasi beberapa macam strip rumput dalam usaha pengendalian erosi pada lahan kiering berteras di lereng perbukitan kritis D. I. Yogyakarta. Hlm 143-150 dalam Prosidling Seminar Rekayasa Trknologi Sistem DAS Kawasan Perbukitan Kritis Yogyakarta (YUADP Komponen-8). Badan Penelitian dan Pemgembangan Pertanian.

P3HTA, 1987. Penelitian Terapan Pertanian Lahan Kering dan Konservasi. UACP-FSR. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, 2009,  http://cybex.deptan.go.id Jl. Harsono RM No.3 Pasar Minggu Jakarta Selatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN

 

TUGAS

NAMA

NIM

Kajian masalah biofisik

Giri Lasmono

115040213111031

Kajian masalah sosial ekonomi dan pengetahuan ekologi local

Febri Dwi Mulyanto

115040201111001

Analisis pola tanam dan faktor-faktor erosi

Hadi Susilo

115040213111030

Pendugaan erosi dan Edp

Fretty Vivin Valentiah

115040201111321

Rekomendasi penggunaan lahan

Faranissa Anggi Vivedru

115040201111343

Rekomendasi konservasi tanah secara vegetative

Farah Nabila

115040207111036

Rekomendasi kimia

Hadi Suwitnyo

115040213111020

Rekomendasi konservasi secara mekanis

Farid Zamroni

115040201111288

Perbaikan usahatani petani  dengan penerapan pertanian konservasi + Pendahuluan

Fita Fitriatul Wahidah

115040201111336

Ide pemasaran hasil usahatani dan kewirausahaan petani + Editor

Fitri Wahyuni

115040213111050

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on TUGAS TAKE HOME TEKNOLOGI KONSERVASI SUMBERDAYA LAHAN “REKOMENDASI TINDAKAN KONSERVASI TANAH DAN AIR DI DUSUN GADING KULON KECAMATAN DAU”

Makalah Teknologi Konservasi Sumber daya Lahan

METODE VEGETATIF

Pemanfaatan lahan yang tidak mengindahkan upaya pengawetan tanah, akan mengakibatkan menurunnya produktivitas lahan, bahkan dapat menimbulkan erosi. Apalagi jika lahan tersebut berada di sekitar aliran sungai (DAS).

Kerusakan daerah aliran sungai sangat erat hubungannya dengan kelestarian hutan di daerah hulu sebagai daerah tangkapan hujan.

Apabila hutan mengalami kerusakan, maka dapat dipastikan terjadi pada daerah aliran sungai. Untuk itu berusah tani didaerah DAS,harus di ikuti konservasi lahan.

Agar kelestarian sumber daya alam dan keserasian ekosistem dapat memberikan manfaat yang berkesinambungan maka pengelolaan DAS harus dilakukan sebaik mungkin,yang meliputi:

  • Pengelolaan sumber daya alam yang dapat diperbaharui.
  • Kelestarian dan keserasian ekosistem(lingkungan hidup)
  • Pemenuhan kebutuhan manusia yang berkelanjutan
  • Pengendalian hubungan timbale balik antara sumber daya alam dengan manusia.

Usaha pokok dalam pengawetan tanah dan air meliputi:

  1. pengelolaan lahan
    • sesuai kamampuan lahan.
    • Mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah.
    • Melindungi lahan dari ancaman erosi dengan menanam tanaman penutup tanah.
    • Penggunaan mulsa.
  2. pengeloalaan air
  • jumlah air yang memadai
  • kwalitas air
  • tersedia air sepanjang tahun.

 

3.pengelolaan vegetasi

pengelolaan vegetasi pada hutan tangkapan air maupun pemeliharaan vegetasi sepanjang aliran sungai, dapat ditempuh dengan cara:

  • penanaman dengan tanaman berakar serabut seperti bamboo yang sangat di anjurkan di pinggiran sungai, kemudian diikuti dengan rumput makanan ternak.
  • Penanaman tanaman semusim untuk lahan yang tidak memiliki kemiringan.
  • Pembuatan teras. Bila pada lahan tersebut terdapat kemiringan maka perlu di buat teras, dan pada lahan kemiringan 5-10% di bangun teras kredit , lahan berbukit dengan kemiringan 10-30% di buat teras bangku, dan lahan dengan kemiringan lebih dari 30% di buat teras individu.

4. usaha tani konservasi

Usaha tani konservasi adalah penanaman lahan dengan tanaman pangan serta tanaman yang berfungsi untuk mengurangi erosi(aliran permukaan) dan mempertahankan kesuburan tanah.

Prinsip usaha tani konservasi:

  • Mengurangi sekecil mungkin aliran air permukaan dan meresapkan airnya sebesar mungkin kedalam tanah.
  • Memperkecil pengaruh negative air hujan yang jatuh pada permuakaan tanah.
  • Memanfaatkan semaksimal sumber daya alam dengan memperhatikan kelestarian.

Cara usaha konservasi:

  • Metode vegetatif
  • Metode mekanik atau teknik sipil
  • Metode kimia.

 

Metode vegetatif adalah penggunaan tanaman atau tumbuhan dan sisa-sisanya untuk mengurangi daya rusak hujan yang jatuh, mengurangi jumlag dan daya rusak aliran permukaan dan erosi.

 

Fungsi dari metode vegetatif adalah:

  • Untuk melindungi tanah terhadap daya perusak butir- butir hujan yang jatuh.
  • Untuk Melindungi tanah terhadap daya perusak aliran air di atas permukaan tanah.
  • Untuk memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan penahan air yang langsung mempengaruhi besarnya aliran permukaan.

 

Teknologi pengendalian atau pencegahan erosi.

Usaha untuk mencegah dan atau mengendalikan erosi ,ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya erosi  seperti: faktor iklim, tanah, bentuk wilayah(misalnya kemiringan), vegetasi penutup tanah dan kegiatan manusia.

            Prinsip-prinsip dari usaha pengendalian erosi adalah:

  • Memperbesar resistensi permukaan tanah sehingga lapisan permukaan tanah tahan terhadap pengaruh tumbukan butir-butir air hujan.
  • Memperbesar kapasitas infiltrasi tanah, sehingga lajunay aliran permukaan dapat diredusir.
  • Memperbesar resistensi tanah sehingga daya rusak dan daya hanyut aliran permukaan terhadap partikel-partoekl tanah dapt diperkecil atau diredusir.

                                                  

Secara umum, tujuan penerapan teknologi konservasi adalah untuk meningkatkan produktivitas lahan secara maksimal, memperbaiki lahan yang rusak/kritis, dan melakukan upaya pencegahan kerusakan tanah akibat erosi. Beberapa teknologi yang telah dihasilkan oleh kelti KR2L adalah sebagai berikut:

1. Teknik pengendalian erosi

  • Metode sipil teknis (misal: teras, rorak)
  • Metode vegetatif (misal: strip rumput, alley cropping)

2. Teknik konservasi dan pengelolaan air

  • Teknik konservasi air (misal: parit buntu, check dam)
  • Teknik irigasi (misal: penelitian irigasi sprinkle, penelitian irigasi tetes, penelitian irigasi permukaan) .

 

Pada metode vegetatif yang berperan adalah tanaman, dimana tanaman-tanaman itu berperan untuk mengurangi erosi,yaitu dalam hal:

1.      batang, ranting dan daun-daunannya berperan mengahalangi tumbukan tumbukan langsung butir-butir hujan kepada permukaan tanah, dengan peranannya itu tercegahlah penghancuran agregat-agregat tanah.

2.      daun-daun penutup tanah serta akar-akar yang tersebar pada lapisan permukaan tanah berperan mengurangi kecepatan aliran permukaan(run off), sehingga daya kikis, daya angkutan air pada permukaan tanah dapat direduksi, diperkecil ataupun diperlamban.

3.      daun-daunan serta ranting-ranting tanaman yang jatuh akan menutupi permukaan tanah,peranannya sebagai pemulsa tanah yang dapat mengurangi kecepatan alairan permukaan serta melindungi permukaan tanah terhadap daya kikis air.

4.      akar-akar tanaman memperbesar kapasitas infiltrasi tanah,tunjangan dalam meningkatkan aktivitas biota tanah yang akan memperbaiki porositas, stabilitas agregat serta sifat kimia tanah.

5.      akar-akar tanaman berperan dalam pengambilan atau pengisapan air bagi keperluan tumbuhnya tanaman yang selanjutnya sebagian diuapkan (evaporasi) melalui daun-daunannya ke udara.

Peranan tanaman dalam metode vegetatif mempunyai Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam usaha pengendalian erosi dan atau pengawetan tanah yaitu:

  • Penghutanaan kembali dan penghijauan
    1. Penghutanan kembali atau reboisasi

Tanah-tanah yang gundul akibat perusakan hutan dan tanaman keras lainnya, harus di perbaiki dan dipulihkan kelestariannya, jalan yang dapat di tempuh adalah dengan reboisasi atau penghutanan kembali.reboisasi adalah penghutanan kembali tanah-tanah yang gundul dengan ditanami tanama-tanaman keras.

Terdapat dua cara dalam mencegah reboisasi adalah cara banjar harian dan cara tumpang sari.Cara banjar harian, petani menerima upah untuk penanaman dan pemeliharaan tanaman reboisasi. Sedangkan cara tumpang sari , petani mendapat kesempatan untuk menanam palawija selama beberapa musim di antara tanaman reboisasi.

    1. Penghijauan

Penghijauan adalah penanaman tanah-tanah rakyat dan tanah-tanah lainnya seperti tanah desa, tanah bebas(negara) tanah bekas perkebuanan yang umumnya telah mengalami kerusakan-kerusakan, baik yang ada di daratan tinggi maupun daerah aliran sungai yang kesemuanya berada di luar kawasan hutan, dengan berbagai pohon=pohonan terpilih dan atua rumput-ruputan dengan maksud untuk pengwetan tanah (pencegahan  erosi) dan dapat memberikan tambahan pendapatan bagi para petani atua pemilik tanah yang bersangkutan.

 

  • Penanaman secara garis kontur

Penanaman secara garis kontur sangat diperlikan dan harus di perhatikan kalau keadaan mempunyai kemiringan, jadi penanaman secara garis kontur ialah penanaman tanaman yang searah atau sejajar dengan garis kontur atau dengan secara menyilang lereng tanah, bukan menjurus searah dari atas kebawah lereng. Dengan demikian maka tindakan –tindakan untuk mengolah tanah seperti membajak, menggaru, menyiapkan bedengan-bedengan, pembibitan dan pembuatan bedengan atau larikan tanaman haruslah sejajar dengan garis kontur tersebut (contour cropping system).

 

  • Penanaman tanaman penutup tanah

Tanaman-tanaman penutup permukaan tanah berperan untuk melindungi permukaan tanah dari daya dispersi dan daya penghancur oleh utir-butir hujan.Selain itu berperan pula dalam hal memperlambat aliran permukaan serat melindungi tanah permukaan dari daya kikis aliran permukaan. Tanaman penutup permukaan besar pula samabungannya dalam memperkaya bahan-bahan organik tanah serta memperbesar porositas tanah.

Tanaman penutup tanah yang rendah dalam wujud pertumbuhan dapat terdiri atas jenis-jenis:tanaman alternanthera amoena voss atau bayam krema,ageratu conizoides L atau babadotan, rasim atau sintrong,bulu lutung, calincing dll.

 

  • Penanaman tanaman dalam larikan (strip cropping)

Cara yang efektif dalam pengendalian erosi atau pengawetan tanah yaitu membuat larikan –larikan secukupnya, pada lariakn –lariakn pertama yang searah dengan garis kontur itu dipahami rumput-rumputan atau tanaman pupuk hijau.

Strip cropping adalah untuk memperlambat lajunya aliran permukaan, larikan-larikan tanaman penutup tanah dimaaksudkan pula untuk melindungi lariakn-larikan tanaman palawiaj dari aliran permukaan tersebut.

 

 

  • Penggiliran tanaman (crop ratation)

Penggiliran tanaman adalah suatu sistem bercocok tanam pada sebidang tanah yang terdiri dari beberapa macam tanam yang di tanam secara berturut-turut pada waktu tertentu, setelah masa panennya kembali lagi pada tanaman semula.

Manfaat penanaman secara demikian yaitu selain untuk mengurangi keberlangsunagan erosi, juga untuk :

  1. meningkatkan produksi pertanian dan atau pendapatan petani per satuan luas dalam suatu kurun waktu.
  2. meratakan pemanfaatan tanah-tanah yang kosong
  3. memperkaya variasi menu petani
  4. memperkecil risiko kegagalan panen
  5. memperbaiki kesuburan tanah
  6. mengurangi biaya pengoalahan tanah
  7. memelihara keseimbangan biologis.

Beberapa bentuk dalam penggiliran tanaman seperti:

  • sequental planting atau penanaman tanaman secara beruntun,dalam hal ini menanam atau menumbuhkan tanaman berikutnay sesegera mungkin setelah tanaman terdahulu di panen.
  • Mixed cropping atau melakukan pertanaman tanaman campuran, dua jenis tanaman atau lebih tanpa mengabaikan tanaman pupuk hijan atau tanaman penutup permukaan di tanam sserentak pada waktu yang sama.
  • Inter cropping dapat pula di sebut tumpang sari berbeda umur.
  • Inter culture, dalam hal in misalanya tanaman semusim atau tanaman yang berumur pendek di tanam di antara tanaman tahunan.seperti: kacang tanah di tanam di antara tanaman pepaya, kacang-kacangan di tanam diantara pohon jeruk dan lain sebagainya.

 

  • Penggunaan serasah(mulching)

Mulching ataun pemulsaan yaitu menutupi permukaan tanah dengan serasah atau sisa-sisa tanaman benar-benar berkemampuan mencegah berlangsungnay erosi, dikarenakan pemulsaan akan melindungi tanah permukaan dari daya timpa butir-butir huajn, dan melindungi tanah permukaan tersebut dari daya aliran air di permuakaan.

Pemulasaan tanah dapat pula mempertahankan kelembaban dan suhu tanah, sehingga dapat memperbaiki pengambilan zat hara oleh akar tanaman. Serasah atau sisa-sisa tanaman yang melapuk akan memperkaya bahan organik dalam tanah,dengan demikian sifat fisik dan tanah dapat di perbaiki pula.

 

Faktor-faktor pembentukan tanah

Proses pembentukan tanah di Daerah Aliran Sungai Babon dicerminkan  oleh pengaruh faktor-faktor iklim, topografi, bahan induk, organisme, dan waktu, sehingga karakter tanah dipengaruhi oleh interaksi kelima faktor tersebut. Pengaruh faktor iklim ditandai oleh curah hujan tahunan rata-rata relatif tinggi, yakni 2.202 mm (Semarang) dan 2.770 mm (Ungaran). Tipe iklim daerah ini tergolong agak basah hingga basah (Schmidt dan Ferguson), dengan demikian dapat dikategorikan ke dalam regin lengas tanah udik.

Topografi  daerah ini bervariasi, yakni datar, berombak, bergelombang, berbukit dan bergunung. Wilayah datar menempati lereng bawah di bagian utara, wilayah berombak dan bergelombang terletak pada bagian lereng tengah, dan wilayah berbukit dan bergunung meliputi lereng atas di lokasi bagian selatan. Bahan induk pembentuk  tanah di wilayah lereng bawah berupa batuan sedimen resen yang tersusun dari lempung, lanau dan pasir yang tidak padu. Di wilayah lereng tengah dan lereng atas batuan induk penghasil bahan induk tanah berupa batuan beku dan batuan sedimen sub-resen terdiri dari andesit, yakni sebagai breksi andesit harblende augit.

Pembentukan tanah di lahan bawahan pada beberapa bagian terjadi dalam lingkungan basah (jenuh air). Oleh karena selalu jenuh air, maka proses reduksi dan oksidasi menjadi dominan, sehingga menyebabkan tanah-tanah berwarna kelabu, sedang di bagian wilayah peralihan fluktuasi muka air tanah menyebabkan proses reduksi dan oksidasi berlangsung secara bergantian yang dicirikan dengan adanya karatan (mottcing) berwarna kuning hingga merah.

Pada lahan atasan, terutama di wilayah topografi berbukit dan bergunung tingkat perkembangan tanah bervariasi dari lemah hingga kuat, akibatnya solum tanah juga bervariasi mulai dari sangat dangkal (< 25 cm) sampai dengan sangat dalam (> 120 cm) .

Klasifikasi tanah

Klasifikasi tanah di daerah ini disusun berdasarkan pada data sekunder dan pengamatan serta pengukuran di lapangan melalui profil tanah, pemboran tanah, pengamatan kondisi lingkungan, yang dilengkapi data hasil analisis laboratorium dari contoh tanah pewakil.

Pengamatan dan pengukuran mencakup sifat fisik tanah, yakni : warna, tekstur, struktur, konsistensi, drainase, bahan induk, dan lain-lain; sifat kimia tanah, yakni : pH, kadar bahan organik, kadar kapur, N-Total, P tersedia, K tersedia, kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa, kejenuhan Al, dan lain-lain. Berdasarkan terminologi tersebut tanah-tanah di daerah ini terdiri dari lima jenis tanah yakni Alluvial, Kambisol, Regosol, Latosal, dan Litosal.

Erosi tanah

Perkembangan bentuk-bentuk erosi tanah, seperti erosi lembar (sheet erosion), erosi alur (rill erosion), dan erosi parit (gully erosion) di masa mendatang sangat tergantung pada tingkat bahaya erosi tanah. Di samping itu, perencanaan konservasi tanah memerlukan data tentang tingkat bahaya erosi tanah. Bahaya erosi tanah adalah keadaan yang memungkinkan bahwa erosi tanah akan segera terjadi dalam waktu yang relatif dekat, atau dalam hal apabila erosi tanah telah terjadi di suatu daerah, maka bahaya erosi tanah adalah tingkat erosi tanah yang akan terjadi di masa mendatang.

Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi tanah adalah iklim, topografi tanah, vegetasi, dan tindakan manusia terhadap lahan. Faktor-faktor erosi tanah yang sifatnya relatif permanen, yakni iklim, topografi, dan tanah menentukan besar erosi potensial dan apabila faktor-faktor tersebut ditambah dua faktor lainnya yakni vegetasi dan tindakan manusia terhadap lahan menentukan bahaya erosi aktual. Bentuk-bentuk erosi di daerah survei terutama erosi lembar dan erosi alur pada wilayah lereng tengah, sedang pada lereng atas dijumpai bentuk erosi parit.

TBE (Tingkat Bahaya Erosi) adalah perkiraan jumlah tanah yang hilang maksimum yang akan terjadi pada suatu lahan, bila pengelolaan tanaman dan tindakan konservasi tanah tidak mengalami perubahan. Penentuan TBE pada setiap unit lahan didasarkan pada perkiraan jumlah tanah hilang maksimum (A) dan tebal solum dari unit lahan yang bersangkutan.

Mengingat bahwa dalam menentukan TBE diperlukan data laju erosi dan data tebal solum pada setiap bentuk lahan, maka dilakukan pengamatan di lapangan terhadap tanah, topografi, penggunaan lahan, jenis tanaman dan pola tanam serta tindakan konservasi tanah yang diterapkan.

Selanjutnya dari peta kemampuan lahan dan peta tanah, serta pengamatan di lapangan, maka ketebalan solum tanah di wilayah DAS Babon dapat diketahui.

Tabel Kedalaman Solum Tanah

Ketebalan Solum Tanah Keterangan
> 90 Dalam
60 – 90 Sedang
30 – 60 Dangkal
< 30 Sangat dangkal

 

Sumber : BRLKT (1991)

Untuk selanjutnya tingkat bahaya erosi (TBE) yang ditentukan dari tingkat laju erosi (A) dan tebal solum tanah dinyatakan sebagai berikut :

Tabel Pembagian Klas Tingkat Bahaya Erosi

No Tebal Solum (Cm) Tingkat Laju Erosi (ton/ha/th)
I   (< 15) II (15-60) III (60-180) IV (180-480) V (> 480)
1 Dalam ( > 90) SR R S B SB
2 Sedang (60 – 90) R S B SB SB
3 Dangkal (30 – 60) S B SB SB SB
4 Sangat dangkal (< 30) B SB SB SB SB

 

Konservasi sumberdaya lahan atau konservasi tanah ialah upaya manusia  untuk mempertahankan,meningkatkan, mengembalikan atau merehabilitasi daya guna lahan (tanah) sesuai dengan peruntukkannya.

Dalam pelaksanaan usaha konservasi tanah perlu mempertimbangkan hal-hal berikut : bentuk-bentuk kerusakan tanah, kemampuan lahan, tataguna lahan yang rasional, daya guna atau produktivitas lahan yang optimal dan latar belakang sosial ekonomi penduduk.

 

Categories: Uncategorized | Comments Off on Makalah Teknologi Konservasi Sumber daya Lahan