Feb

04

MAKALAH RUMPUT LAUT-PENGERTIAN RUMPUT LAUT-MACAM RUMPUT LAUT

Posted by : Slamet Abdullah | On : February 4, 2012


rumput laut

I.PENDAHULUAN

1.1LATAR BELAKANG

. Rumput laut dikenal dengan nama seaweed merupakan bagian dari tanaman laut. Rumput laut dimanfaatkan sebagai bahan mentah, seperti agar – agar, karaginan dan algin. Pada produk makanan, karaginan berfungsi sebagai stabilator (pengatur keseimbangan), thickener (bahan pengental), pembentuk gel, pengemulsi,dll (Yasita dan Intan, 2008).

Rumput laut merupakan salah satu sumber devisa negara dan sumber pendapatan bagi masyarakat pesisir. Selain dapat digunakan langsung sebagai bahan makanan, beberapa hasil olahan rumput laut seperti agar-agar, carrageenan dan alginat merupakan senyawa yang cukup penting dalam industri. Indonesia di samping mengekspor rumput laut juga mengimpor hasil-hasil olahannya yang dari tahun ke tahun semakin meningkat jumlahnya. Sampai saat ini industri pengolahan di Indonesia yaitu agar-agar masih secara tradisional dan semi industri, sedangkan untuk carrageenan dan alganit belum diolah di dalam negeri.Guna meningkatkan nilai tambah dari rumput laut dan mengurangi impor akan hasil-hasil olahannya, pengolahan di dalam negeri perlu dikembangkan. Disini diuraikan beberapa proses pengolahan rumput laut serta manfaat dari hasil-hasil olahannya (Istini et al,1985).

1.2RUMUSAN MASALAH

-Apa saja manfaat dari rumput laut?

-Bagaimana cara mengolah agar – agar?

-Bagaimana cara mengesktrak agar – agar kertas?

-Bagaimana cara mengolah karaginan?

-Bagaimana cara mengolah alginat?

II.ISI

2.1 MANFAAT DARI RUMPUT LAUT

2.1.1 Jenis-jenis rumput laut komersil

Rumput laut dibagi dalam empat kelas yaitu : Chlorophyceae (ganggang hijau), Rhodophyceae (ganggang merah), Cyanophyceae (ganggang biru), Phaeophyceae (ganggang coklat).

Dari keempat kelas tersebut hanya dua kelas yang banyak digunakan sebagai bahan mentah industri, yaitu :

  • Rhodophyceae (ganggang biasa) yang antara lain terdiri dari :
    1. Gracilaria, Gelidium sebagai penghasil agar-agar
    2. Chondrus, Eucheuma, Gigartina sebagai penghasil karaginan.
    3. Fulcellaria sebagai penghasil fulceran.
  • Phaeophyceae (ganggang coklat) yang antara lain terdiri dari : Ascephyllum, Laminaria, Macrocystis sebagai penghasil alginat.

2.1.2. Kegunaan rumput laut dan hasil olahannya

Rumput laut telah lama digunakan sebagai makanan maupun obat-obatan di negeri Jepang, Cina, Eropa maupun Amerika. Diantaranya sebagai nori, kombu, puding atau dalam bentuk hidangan lainnya seperti sop, saus dan dalam bentuk mentah sebagai sayuran. Adapun pemanfaatan rumput laut sebagai makanan karena mempunyai gizi yang cukup tinggi yang sebagian besar terletak pada karbohidrat di samping lemak dan protein yang terdapat di dalamnya. Hasil analisa dari sebagian jenis rumput laut yang berasal dari daerah Sulawesi Selatan dan Bali dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 3. Hasil analisa rumput laut

Jenis analisa

E. spinosum
(Bali)%

E. spinosum
(Sul Sel)%

E. spinosum
(Bali)%

G. gigas
(Bali)%

Kadar air

12,90

11,80

13,90

12,90

Protein (Crude protein)

5,12

9,20

2,69

7,30

Lemak

0,13

0,16

0,37

0,09

Karbohidrat

13,38

10,64

5,70

4,94

Serat kasar

1,39

1,73

0,95

2,50

Abu

14,21

4,79

17,09

12,54

Mineral:Ca

52,85 ppm

69,25 ppm

22,39 ppm

29,925 ppm

Fe

0,108 ppm

0,326 ppm

0,121 ppm

0,701 ppm

Cu

0,768 ppm

1,869 ppm

2,736 ppm

3,581 ppm

Pb

=

0,015 ppm

0,040 ppm

0,190 ppm

Vitamin B1 (Thiamin)

0,21 mg/100g

0,10 mg/100g

0,14 mg/100g

0,019 mg/100g

Vitamin B2 (Riboflacin)

2,26 mg/100g

8,45 mg/100g

2,7 mg/100g

4,00 mg/100g

Vitamin C

43 mg/100g

41 mg/100g

12 mg/100g

12 mg/100g

Carrageenan

65,75%

67,51%

61,52%

=

Agar

=

=

=

47,34%

Sumber : hasil analisa di FTDC

Di samping digunakan sebagai makanan, rumput laut juga dapat digunakan sebagai penghasil alginat, agar-agar, carrageenan, fulceran, pupuk, makanan ternak dan Yodium. Beberapa hasil olahan rumput laut yang bernilai ekonomis yaitu :

  1. Alginat, digunakan pada industri :
    • farmasi sebagai emulsifier, stabilizer, suspended agent dalam pembuatan tablet, kapsul;
    • kosmetik : sebagai pengemulsi dalam pembuatan cream, lotion dan saus.
    • makanan : sebagai stabilizer, additive atau
    • bahan tambahan dalam industri tekstil, kertas, keramik, fotografi dan lain-lain ;
  2. Agar-agar, banyak digunakan pada industri/bidang :
    • makanan : sebagai stabilizer, emulsifier, thickener
    • mikrobiological : sebagai cultur media
    • kosmetik : sebagai pengemulsi dalam pembuatan lotion, cream dan salep.
    • lainnya digunakan sebagai additive dalam industri kertas, tekstil.

Karaginan, biasanya diproduksi dalam bentuk garam Na, K, Ca yang dibedakan dua macam yaitu Kappa karaginan dan lota karaginan berasal dari Eucheuma cottonii dan Eucheuma striatum. Iota kagarinan berasal dari Eucheuma spinosum. Kedua jenis karaginan tersebut dapat berfungsi sebagai stabilizer, thickener, emulsifer, gelling agent, pengental.

Pemakaian karaginan diperkirakan 80% digunakan di bidang industri makanan, farmasi dan kosmetik. Pada industri makanan sebagai stabilizer, thickener, gelling agent, additive atau komponen tambahan dalam pembuatan coklat, milk, pudding, instant milk, makanan kaleng dan bakery.

Untuk industri non food antara lain pada industri :

  • farmasi : sebagai suspensi, emulsi, stabilizer dalam pembuatan pasta gigi, obat-obatan, mineral oil.
  • Industri-industri lain : misalnya pada industri keramik, cat dan lain-lain.(Istini et al, 1985)

2.2. PENGOLAHAN AGAR.

Agar-agar merupakan senyawa ester asam sulfat dari senyawa galaktan, tidak larut dalam air dingin, tetapi larut dalam air panas dengan membentuk gel. Rumus bangun agar-agar :

Rumus molekul : (C12H14O5(OH)4)n

Beberapa sifat dari agar-agar :

  • Pada suhu 25°C dengan kemurnian tinggi tidak larut dalam air dingin tetapi larut dalam air panas.
  • Pada suhu 32–39°C berbentuk padat dan mencair pada suhu 60–97°C pada konsetrasi 1,5%.
  • Dalam keadaan kering agar-agar sangat stabil, pada suhu tinggi dan pH rendah agar-agar mengalami degradasi.
  • Viskositas agar-agar pada suhu 45°C, pH # 4,5–9 dengan konsentrasi larutan 1% adalah 2–10 cp.

Sebelum dilakukan proses pengolahan, untuk mendapatkan bahan baku yang bersih perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut : Rumput laut hasil pemetikan dari alam dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel seperti pasir, karang, garam dan kotoran lainnya. Setelah bersih dicuci dengan iar tawar sampai berwarna putih kemudian dikeringkan. Pencucian dan pengeringan dilakukan beberapa kali sampai diperoleh rumput laut kering yang bersih dan putih. Pengeringan dilakukan dengan penjemuran sinar matahari. Hasil pengeringan rumput laut mempunyai kandungan air berkisar 15–25%.

2.2.1. Pengolahan secara tradisionil di Pameungpeuk Garut

Pada pengolahan secara tradisionil/sederhana diperlukan peralatan yang cukup sederharna yaitu :

  • drum besar (tangki pemasak) dengan volume 200 l;
  • tungku pemasak (kompor minyak);
  • loyang ( tempat penampung dan cetakan ) dengan ukuran 30×20×10 cm;
  • rak penyimpanan loyang;
  • alat tempat pengepres;
  • lembaran kain berukuran 30×20×10 cm;
  • tempat penjemuran / pengeringan.

Rumput laut yang akan diolah adalah jenis Gracilaria sp (agar merah) dan Hypnea sp (bulu kambing). Rumput laut yang sudah kering dan bersih (3Kg), sebelum dimasak dalam drum yang berisi air 150 1 ditambahkan asam sulfat encer 2 sendok dan asam cuka 2 sendok, diaduk sampai merata, selanjutnya dimasak. Dalam satu hari dapat dilakukan dua kali pemasakan (2×4 jam). Pemasakan dilakukan sampai mendidih dan rumput laut hancur serta larut menjadi suatu masa yang berbentuk bubur encer, kemudian dilakukan pemisahan antara larutan dan residu. Hasil pemisahan (larutan) dituangkan pada loyang kemudian didinginkan selama satu malam sampai membeku.

Agar yang sudah membeku dipotong dengan ketebalan 1 cm dan diletakkan diantara kain yang berukuran sama dengan cetakan/loyang, kemudian disusun dalam alat pengepres sampai ketinggian kira-kira 0,5 m dan dipres dengan cara memberi beban (batu) di atas tumpukan agar-agar. Hasil pengepresan berupa lembaran agar-agar tipis, kemudian dianginkan dan dijemur 1 sampai 2 hari hingga kering. Dalam 3 kg rumput laut kering dapat menghasilkan 780 gram agar-agar atau 78 lembar agar-agar dengan berat pelembar 10 gram.

Untuk menghasilkan agar-agar dalam bentuk batangan pada prinsipnya hampir sama dengan pengolahan agar-agar dalam bentuk lembaran, tapi tidak dilakukan pengepresan, hanya penyaringan biasa dan dicetak dengan ukuran 10×4×3 cm. Hasil cetakan didinginkan dan dibekukan semalam, kemudian dikeringkan dengan penjemuran di bawah sinar matahari.

2.2.2 Pengolahan secara semi tradisionil

Pada pengolahan secara semi tradisionil, rumput laut diolah menjadi agar-agar berbentuk bubuk ataupun bentuk lain yaitu agar batangan dan agar lembaran.

Adapun peralatan yang diperlukan yaitu :

  • alat pencuci;
  • tangki pemasak;
  • filter press (alat penyaring dan pengepres);
  • ruang pendingin (freezing room)
  • alat pengepres (kain);
  • alat cetakan;
  • alat penghancur/mesin pembuat bubuk;
  • bak perendam

Bahan yang digunakan antara lain :

  • rumput laut Gracilaria sp. Hypnea sp.
  • asam sulfat encer 10%
  • asam cuka 0,5%
  • kaporit.

Proses pengolahan :

  • Rumput laut yang telah melewati proses pembersihan awal dicuci lagi supaya lebih bersih. Pencucian dilakukan dalam drum-drum berisi air yang mengalir secara over flow atau pencucian dengan mengalirkan air tawar ke dalam drum berlubang arah horizontal yang berisi rumput laut. Drum berputar mengikuti porosnya.
  • Setelah dicuci bersih direndam dalam kaporit 0,25% selama 4–6 jam sambil diaduk, sehingga diperoleh rumput laut berwarna putih dan bersih. Setelah direndam dicuci kembali untuk menghilangkan bau kaporit, kamudian direndam dalam asam sulfat encer 10% sampai lunak.
  • Rumput laut hasil rendaman dengan asam sulfat dimasak dengan menambahkan air dalam suatu tangki pemasak. Pemanasan dilakukan sampai suhu operasi 90–100°C, pH = 5–6 (dalam suasana asam), dimana pH diatur dengan jalan menambahkan asam cuka 0,5%. Di samping untuk mempertahankan pH, asam cuka juga berfungsi sebagai stabilizer sehingga diperoleh tekstur molekul yang konsisten. Pemasakan dilakukan selama 4–8 jam sambil diaduk sampai merata.
  • Setelah rumput laut hancur semua, dilakukan pemisahan melalui penyaringan dengan filter press. Filtrat ditampung, kemudian didinginkan selama lebih kurang 7 jam (sampai membeku).
  • Hasil pembekuan dihancurkan dan dipress dengan menggunakan kain. Hasil pengepresan adalah agar-agar dalam bentuk lembaran dengan ukuran sekitar 40× 30 cm.
  • Lembaran agar-agar diangin-anginkan kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai kering. Lembaran agar-agar yang sudah kering dihancurkan dangan mesin penghancur sehingga berbentuk agar-agar dengan ukuran 5×5 mm. Agar-agar hancur dimasukkan ke mesin pembuat bubuk (mill) sehingga diperoleh agar-agar powder yang berwarna putih. Dapat ditambahkan vanili untuk menambah aroma. (Istini et al, 1985).

Menurut Darmawan et al, (2006) bagan proses pembuatan agar – agar dari rumput laut merah :

Adapun pengolahan agar menurut Sinuhaji (2006) dalam Utomo et al 1961 dalam Susanti (2003) sebagaiberikut :

2.3 EKSTRAKSI AGAR – AGAR KERTAS

Menurut Eukaresin (2004) dalam Sutomo et al (1991) , Proses mengesktraksi agar – agar kertas sebagai berikut :

2.4 PENGOLAHAN KARAGINAN

Karaginan merupakan polisakarida yang linier atau lurus, dan merupakan molekul galaktan dengan unit-unit utamanya adalah galaktosa. Karaginan merupakan getah rumput laut yang diekstraksi dengan air atau larutan. alkali dari spesies tertentu dari kelas Rhodophyceae (alga merah). Karaginan merupakan senyawa hidrokoloid yang terdiri dari ester kalium, natrium, magnesium dan kalsium sulfat. Karaginan merupakan molekul besar yang terdiri dari lebih 1.000 residu galaktosa. Oleh karena itu variasinya banyak sekali.Karaginan dibagi atas tiga kelompok utama yaitu : kappa, iota, dan lambda karaginan yang memiliki struktur yang jelas. Karaginan dapat diperoleh dari alga merah, salah satu jenisnya adalah dari kelompok Euchema sp.(Yasita dan Intan,2008).

Karaginan sampai saat ini belum diolah di Indonesia walaupun bahan baku yang dapat digunakan untuk membuat karaginan banyak terdapat di Indonesia antara lain Eucheuma spinosum. Karaginan adalah suatu campuran yang kompleks dari beberapa polisacharida. Lambda dan Kappa karaginan secara bersama-sama dapat diekstrak dari rumput laut jenis Chondrus crispus dan beberapa species dari Gigartina, sedangkan lota karaginan diekstrak dari Eucheuma spinsosum.(Istini et al,1985).

Rumus bangun dari karaginan : Beberapa sifat dari karaginan antara lain :

  • Dalam air dingin seluruh garam dari Lambda karaginan larut sedangkan Kappa dan lota karaginan hanya garam Natriumnya saja yang larut.
  • Lambda karaginan larut dalam air panas, Kappa dan lota karaginan larut pada temperatur 70°C ke atas.
  • Kappa, Lambda dan lota karaginan larut dalam susu panas, dalam susu dingin Kappa dan lota tidak larut, sedangkan Lambda karaginan membentuk dispersi.
  • Kappa karaginan membentuk gel dengan ion Kalium, lota karaginan dengan ion Calsium dan Lambda karaginan tidak membentuk gel.
  • Semua type karaginan stabil pada pH netral dan alkali, pada pH asam akan terhidrolisa.

Pengolahan pasca panen :

Pengolahan pasca panen atau pengolahan awal dilakukan untuk pembersihan/ menghilangkan pasir, garam dan kotoran – kotoran lain yang melekat dengan cara mencuci dengan air tawar (pencucian dilakukan dua sampai tiga kali). Hasil pencucian dikeringkan hingga diperoleh rumput laut yang bersih dengan kandungan air 10 – 25 %. Pengeringan dapat dilakukan dengan sinar matahari atau menggunakan alat pengering. Hasil pengeringan dapat langsung diproses atau dapat juga digunakan untuk kebutuhan ekspor rumput laut kering.

Alat-alat yang diperlukan :

  • peralatan ekstraksi
  • peralatan pencucian
  • peralatan pemekatan (evaporator)
  • peralatan pemisah (filtrasi centrifuge)
  • tangki pengendapan (precipitator)
  • alat pengering (roll drum dryer)
  • Grinder (mill)
  • peralatan pengepakan.

Bahan-bahan yang diperlukan :

  • rumput laut jenis Eucheuma sp.
  • air
  • NaOH / Ca (OH)2
  • Isopropil alkohol
  • Carbon aktif.

Proses pengolahan karaginan :

  • Bahan baku pembuatan karaginan adalah rumput laut Eucheuma sp. yang telah mengalami pengolahan awal (pencucian dan pengeringan). Rumput laut dalam bentuk kering merupakan stock untuk kebutuhan ekspor atau keperluan pengolahan dengan kadar air berkisar antara 15 – 25%.
  • Rumput laut yang sudah bersih dan kering sebelum diolah perlu dilakukan pencucian lagi. Pencucian dengan air tawar dapat dilakukan dengan drum berputar yang berlubang dan kedalamnya disemprotkan air sehingga kotoran-kotoran akan lepas.
  • Rumput laut yang telah mengalami pencucian tadi dibuat alkalis dengan menambahkan suatu basa berupa larutan NaOH, Ca(OH)2 atau KOH, sehingga pH mencapai sekitar 9 – 9,6.
  • Setelah dibuat alkalis dilakukan ekstraksi dengan air dalam suatu tangki dengan perbandingan di mana jumlah air 20 kali berat rumput laut yang akan diekstraksi. Ekstraksi dilakukan selama 2 – 24 jam pada suhu 90 – 95°C. Supaya sempurna ekstraksi dilakukan selama satu hari (24 jam).
  • Dari hasil ekstraksi dipisahkan antara larutan (ekstrak) dan residu (kotoran-kotoran yang terdiri dari rumput laut yang tidak larut).

Pemisahan dilakukan dengan penyaringan yang menggunakan filter aid. Filtrat yang keluar berupa larutan yang mengandung 1% karaginan, dan residunya di buang.

  • Larutan yang mengandung 1% karaginan dipekatkan menjadi 3% dengan jalan menguapkan airnya dalam suatu Evaporator pada suhu 100°C dan tekanan 1 atmospher.
  • Larutan hasil pemekatan ditambah dengan larutan centrifuge, larutan direcovery dan kedalamnya ditambahkan carbon aktif untuk menghilangkan warna dai larutan. Larutan dan carbon aktif dipisahkan dengan filtrasi. Larutan hasil filtrasi digunakan kembali untuk proses pembentukan endapan karaginan.
  • Serat karaginan yang terbentuk sebagai endapan kemudian dikeringkan dalam suatu drum dryer pada suhu 250°C.

Serat karaginan yang sudah kering dihancurkan dengan alat penghancur (mill) sehingga diperoleh karaginan powder.
Karaginan powder ini siap untuk dikemas dalam drum plastik atau dalam kantong-kantong polyethylene.(Istini et al, 1985).

 

Pembuatan karaginan ini menggunakan metode ekstraksi dimana pengertian ekstraksi adalah metode pemisahan suatu komponen solute (cair) dari campurannya menggunakan sejumlah massa solven sebagai tenaga pemisah. Proses ekstraksi terdiri dari tiga langkah besar, yaitu proses pencampuran, proses pembentukan fasa setimbang, dan proses pemisahan fasa setimbang. Solven merupakan faktor terpenting dalam proses ekstraksi, sehingga pemilihan solven merupakan faktor penting. Solven ini harus saling melarutkan terhadap salah satu komponen murninya, sehingga diperoleh dua fasa rafinat. Proses ekstraksi dapat berjalan dengan baik bila pelarut ideal harus memenuhi syarat-syarat yaitu selektivitasnya tinggi, memiliki perbedaan titik didih dengan solute cukup besar, bersifat inert, perbedaan density cukup besar, tidak beracun, tidak bereaksi secara kimia dengan solute maupun diluen, viskositasnya kecil, tidak bersifat korosif, tidak mudah terbakar, murah dan mudah didapat. Beberapa faktor yang berpengaruh dalam proses ekstraksi adalah temperatur, waktu kontak, perbandingan solute, faktor ukuran partikel, pengadukan dan waktu dekantas.

Prosedur Pembuatan Karaginan

Rumput laut (Euchema cottoni) direndam dalam air tawar selama 12 – 24 jam, kemudian dibilas dan ditiriskan .Rumput laut (Euchema cottoni) direndam kembali dalam air kapur selama ± 2 – 3 jam. Rumput laut (Euchema cottoni) dicuci kembali dan dibilas menggunakan air sampai bersih. Euchema cottoni dikeringkan dalam oven suhu 80oC selama 4 jam. Euchema cottoni diblender menjadi butiran kecil dan dilakukan pengayakan. Euchema cottoni yang diekstraksi lolos saringan 90 mesh. Timbang Euchema cottoni 200 gr, masukkan dalam ekstraktor, Mengekstraksi pada suhu 90 – 95 oC menggunakan larutan NaOH dengan konsentrasi tertentu selama 2 jam. dengan perbandingan pelarut dan bahan baku 20 ml : 1 gr. Hasilnya disaring dan filtratnya ditambahkan HCl hingga pH-nya netral (pH 7). Proses pemutihan (bleaching) bila diperlukan. Filtrat yang pH-nya sudah netral ditambahkan pengendap dengan perbandingan tertentu dan diaduk-aduk kemudian dibiarkan selama 15 menit. Endapan disaring kemudian dikeringkan, lalu hasilnya ditimbang. (Yasita dan Intan,2008).

Gambar 1. Rangkaian Alat Pembuatan Karaginan

Menurut Iptek.net (2011), Cara Pembuatan Karagina sebagai berikut :

Pengolahan rumput taut menjadi karaginan dilakukan dengan ekstraksi panas dalam suasana basa. Tahap-tahap proses pengolahan karaginan secara umum terdiri dari pencucian, perebusan/ekstradisi, penyaringan, pengendapan filtrat dengan al kohol, pengeringan dan penepungan.

Pencucian

Rumput laut yang akan diekstraksi dicuci dan dibersihkan dengan air untuk menghilangkan pasir, garam, kapur, karang, potongan tali dan rumput laut jenis lainnya yang tidak diinginkan.

Ekstraksi :

Rumput laut yang telah bersih kemudian direbus/diekstraksi dalam air dengan volume 40 – 50 kali berat rumput laut kering, pH air ekstraksi diatur dengan menggunakan larutan NaOH sehingga diperoleh pH 8 – 9. Perebusan pertama dilakukan selama 30 – 60 menit pada suhu 90 – 95°C. Rumput laut kemudian dihancurkan sehingga berbentuk bubur rumput laut. Ekstraksi kedua dilakukan selama 2 sampai beberapa jam tergantung jenis rumput Taut yang diekstraksi. Menurut Marine Colloid Inc untuk rumput laut jenis Eucheuma cottonii dilakukan selama 18 jam, sedangkan untu jenis Eucheuma spinosum dilakukan selama 3 jam.

Penyaringan :

Setelah proses ekstraksi selesai bubur rumput laut ditambah dengan filter aid (celite atau tanah diatomae) dengan konsentrasi 3-4%. Penyaringan dilakukan dengan filter press, dalam keadaan panas sehingga memudahkan penyaringan. Filtrat hasil penyaringan kemudian ditambah dengan 0,05% NaC untuk memudahkan proses pengendapan.

Pengendapan :

Pengendapan karaginan dilakukan dengan cara menuangkan filtrat ke dalam isopropyl alkohol sambil diaduk-aduk selama 15 menit, sehingga terbentuk seratserat karaginan. Perbandingan filtrat dan isopropyl alkohol yang digunakan adalah 1 : 2. Serat-serat karaginan yang diperoleh kemudian direndam kembali dengan isoprpyl alkohol selama 30 menit sehingga diperoleh serat karaginan yang lebih kaku.

Pengeringan dan Penepungan :

Serat-serat karaginan kemudian dikeringkan di dalam oven dengan suhu 60°C sampai kering, kemudian digiling sehingga diperoleh tepung karaginan.

2.5 PENGOLAHAN ALGINAT

Alginat diekstrak dari rumput laut coklat (Phaeophyceae), misalnya Laminaria dan Sargassum. Asam alginat adalah suatu polisacharida yang terdiri dari D-mannuronic acid dan L-guluronic acid yang merupakan asam-asam karbosiklik (R-COOH) dengan perbandingan mannuronic acid/guluronic acid antara 0,3–2,35.

Alginat biasanya digunakan dalam bentuk garam misalnya garam Sodium, Calsium, Potasium dan Amonium dan juga dalam bentuk ester seperti Propylene glycol alginat. Sodium alginat komersil mempunyai berat molekul antara 32.000–200.000 dengan derajat polimer 180 – 930. Asam alginat dan garam Calciumnya sangat sedikit larut dalam air, sedangkan garam Sodium, Potasium dan Amonium serta Propylene esternya larut dalam air panas dan air dingin.

Proses pengolahan :

  • Sebelum diolah rumput laut dibersihkan dari kotoran-kotoran seperti pasir dan pecahan-pecahan batu karang. Pencucian dilakukan dengan menyemprotkan air. Supaya bisa disimpan agak lama, rumput laut perlu dikeringkan. Pengeringan dapat menggunakan sinar matahari atau alat-alat pengering misalnya drum dryer, kemudian disimpan dalam gudang. Bila kontinuitasnya terjamin, rumput laut dapat langsung diolah tanpa dikeringkan dahulu.
  • Rumput laut kering dari gudang penyimpanan sebelum diolah lebih lanjut dicuci kembali dangan air untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang mungkin terikut selama penyim-panan dan transportasi.
  • Untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang larut dalam alkali, rumput laut direndam dalam larutan 0,5% NaOH pada 50–60°C selama 30 menit.
  • Kemudian direndam dalam 0,5% HCL pada temperatur ruang selama 30 menit untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang larut dalam asam dan juga untuk merubah garam-garam alginat dalam rumput laut menjadi asam alginat.
  • Setelah dicuci dengan air panas 45°C selama 30–60 menit, rumput laut dipotong-potong untuk kemudian diekstraksi.
  • Ekstraksi dilakukan pada 60–70°C selama 60 menit dengan larutan Na2CO3 12–13%. Untuk mempermudah pemisahan larutan alginat dengan residu, biasanya ditambahkan air sebanyak empat kali volumenya.
  • Larutan alginat dipisahkan dari residu dengan floating tank, kemudian untuk memisahkan kotoran-kotoran yang terikut larutan dimasukkan kedalam pemisah centrifugal.
  • Larutan dibersihkan dalam Bleaching tank dengan menambahkan larutan 12% NaOH e sebanyak 1/10 volume larutan.
  • Pembentukan gel asam alginat dilakukan dengan menambahkan larutan 10% H2SO4 sebanyak 1/10 volume larutan alginat dan dimasukkan bersama-sama kedalam tangki coagulasi.
  • Gel asam alginat dipisahkan dari larutan dengan filtrasi atau pemisah Centrifugal.
  • Asam alginat dirubah menjadi sodium alginat dengan menambahkan bubuk Na2CO3 dan metyl alkohol.
  • Sodium alginat kemudian dipisahkan dari larutan dengan filtrasi. Metyl alkohol dalam filtrat dapat diambil kembali dengan distilasi.Sodium alginat dikeringkan dan dihaluskan menjadi bubuk 80–100 mesh

III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

- Rumput laut telah lama digunakan sebagai makanan maupun obat-obatan di negeri Jepang, Cina, Eropa maupun Amerika. Diantaranya sebagai nori, kombu, puding atau dalam bentuk hidangan lainnya seperti sop, saus dan dalam bentuk mentah sebagai sayuran

- Alginat, digunakan pada industri :

    • farmasi sebagai emulsifier, stabilizer, suspended agent dalam pembuatan tablet, kapsul;
    • kosmetik : sebagai pengemulsi dalam pembuatan cream, lotion dan saus.
    • makanan : sebagai stabilizer, additive atau
    • bahan tambahan dalam industri tekstil, kertas, keramik, fotografi dan lain-lain ;

-Agar-agar, banyak digunakan pada industri/bidang :

    • makanan : sebagai stabilizer, emulsifier, thickener
    • mikrobiological : sebagai cultur media
    • kosmetik : sebagai pengemulsi dalam pembuatan lotion, cream dan
    • salep.

- Karaginan, biasanya diproduksi dalam bentuk garam Na, K, Ca yang dibedakan dua macam yaitu Kappa karaginan dan lota karaginan

3.2 SARAN

Sebaiknya dalam pengambilan data primer dan sekundernya lebih diperkuat dengan cara mendapat langsung asli jurnal, literatur pembanding diperbanyak lagi agar mengetahui perbandingannya lebih luas. Semoga makalah ini bermanfaat untuk masa sekarang dan seterusnya.

DAFTAR PUSTAKA

Darmawan,Muhammad., Syamdidi dan E.Hastarini.2006.Pengolahan Bakto Agar dari Rumput Laut Merah (Rhodymenia ciliata)dengan Pra Perlakuan Alkali.Jurnal Pacapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 1. No. 1

Iptek.2011. Pembuatan Karaginan. http://iptek.net/2011/category/pembuatan-karaginan.html

Istini,Sri., A.Zatnika dan Suhaimi.1985. Manfaat Rumput Laut dan Pengolahannya.Seafarming workshop report:Bandar lampung.

Kuraesin, Euis.2004.Penambahan Bahan Alternatif Dalam Pembuatan Agar – Agar Kertas. Program Studi Teknologi Hasil Perikanan.Fakultas Perikana dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor:Bogor.

Sinuhaji, Kornalius.2006. Pemanfaatan Agar – Agar Dari Rumput Laut Gelidium sp sebagai Pengental Pada Pembuatan Selai Terung Belanda (Chypomandra betacia Sendt).Program Studi Teknologi Hasil Perikanan.Fakultas Perikana dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor:Bogor.

Yasita,Dian dan Intan Dewi R.2008. OPTIMASI PROSES EKSTRAKSI PADA PEMBUATAN KARAGINAN DARI RUMPUT LAUT EUCHEUMA COTTONI UNTUK MENCAPAI FOODGRADE.Jurusan Teknik Kimia.Fakultas Teknik.Universitas Diponegoro:Semarang.

Comment (1)

  1. URL said on 21-07-2012

    … [Trackback]…

    [...] Read More: blog.ub.ac.id/abdullahelg10/2012/02/04/makalah-rumput-laut-pengertian-rumput-laut-macam-rumput-laut/ [...]…

Leave a Reply